Aku senantiasa mencarimu. Di balik arakan awan-awan di langit. Di antara bunyi gemersik angin. Meski aku tahu kamu tidak ada di sana.
Aku tetap mencarimu. Menelusuri jalanan kota hingga sudut-sudut gangnya. Mencarimu di tempat bus sering berhenti. Aku tetap mencarimu meski aku tahu kamu tidak akan ke sana.
Aku belum berhenti mencarimu. Di dalam doa-doa yang senantiasa terucap. Di antara kalimat tanya yang ku sampaikan kepada orang-orang. Di dalam harapan yang tumbuh di dalam keyakinan dan keimanan.
Buku ke-8 masgun dengan judul yang "beda" dari biasanya. Jujur awalnya agak maju mundur buat baca buku ini, karena mengira akan membahas seputar romansa percintaan saja 🤔
Tapi ternyata setelah lembaran bukunya bertambah, aku merasa buku ini mengajak kita untuk meluaskan pandangan tentang cinta dari berbagai sudut pandang. Seperti bagaimana memaknai cinta antara hamba dan penciptaNya, cinta kepada diri sendiri, cinta antar pasangan, cinta orang tua kepada anak dan bentuk cinta lainnya.
Buku ini juga seperti kawan akrab yang menasihati diri untuk berpikir realistis tentang cinta. Tentang bagaimana membuat keputusan bersama dengan hati yang saling lapang. Tentang pilihan-pilihan yang kita ambil sepaket dengan konsekuensinya. Tentang mempersiapkan diri untuk belajar melepas sesuatu yang memang belum pasti menjadi takdir. Tentang bagaimana merancang masa depan dengan memperjuangkannya dengan baik. Tiap kalimat dalam buku ini terasa sangat relate karena lekat dengan proses kehidupan yang berjalan. Jadi nggak heran sepanjang membaca buku ini aku mengangguk-angguk setuju dengan penulis 😊
“Selamat menjalani sebuah proses pencarian. Kata temanku itu, ‘Yang mencarilah yang akan menemukan.’ Bila kamu memilih menunggu, kata temanku yang lain, ‘Menunggu adalah membiarkan dirimu untuk ditemukan.’” (hlmn. 144)
“Masing-masing kita nanti adalah jawaban atas doa orang lain. Jadilah jawaban terbaik untuk ia yang mendoakan kita sebagaimana kita mengharapkan terkabulnya doa-doa kita.” (hlmn. 152)
Lalu bagian spesial di dalam buku ini, ada beberapa halaman yang berisi kolom jurnal untuk refleksi diri dan bisa kita jadikan pegangan ketika momentnya tiba nanti. Jadi buku ini cocok banget buat kamu yang sedang ada di dalam fase mempersiapkan hubungan yang lebih serius, kado pernikahan ataupun sekedar kado kepada teman yang sedang galau 🤭
Judul: Mencintaimu sampai kau mau Penulis: Kurniawan Gunadi Penerbit: Bentang Dimensi: 83 prosa (epub), cetakan pertama Maret 2023, edisi digital ipusnas ISBN: 9786231860606
Siap hanyut dalam kalimat puitis, romantis, dan reflektif? Terutama untuk kamu yang sedang berjuang mencintai seseorang dengan cara yang Allah suka, atau memenangkan cintamu hingga surga, buku ini cocok banget!
Meski pendek tulisannya, tapi gaungnya lama bila kamu tergugah. Itulah pengalaman pribadiku sendiri. Kali pertama baca buku ini di Desember 2024, dan baru kutamatkan September 2025 ini. Why? Faktor pertama, ketidaknyamanan alih digital ke format epub di ipusnas. Aku terganggu sekali dengan font serta mode halaman yang aneh (per prosa, bukan halaman. Scrolling ke bawah, bukan swipe). Kedua, tulisan reflektif ini 'ngena' banget untukku. Jadi, saat mau mulai pinjam lagi, harus siap fisik dan hati agar kata yang meresap jadi kekuatan. Memang itu karakter penulis, makanya saya suka karyanya.
Ada satu tulisan berjudul "Menanti tulisanmu" yang aku tahu itu tulisan lama di tumblr penulis, sebab pernah dikirimkan seseorang sebagai motivasi untukku menulis. Makanya, buku ini cukup berkesan bagiku. Namun tidak kuberi bintang sempurna, sebab teknis di ipusnas. Mungkin kalau aku baca buku fisiknya, akan kuberi 5 bintang.
Cocok untuk yang suka diksi puitis, padat, reflektif, dan romantis ala kurniawan gunadi.
Untuk pertamakalinya baca karya Mas Gun. Gaya bahasanya puitis dan ada cita rasa islaminya —walau porsi sastranya tetap lebih kuat.
Buku ini tipe bacaan ringan yang baiknya jangan dilahap sekali duduk walaupun itu bisa. Jangan juga dibaca dalam keadaan pikiran sibuk, karena penulis memang sedang mengutarakan banyak sesuatu dari hatinya. Banyak tulisan yang dalam, yang baru aku pahami maknanya dan baru bisa meresapinya ketika aku baca ulang dengan mengkondisikan hati untuk lebih fokus.
Bisa disimpulkan, isi dari buku ini adalah tentang cinta dari prespektif laki-laki. Dari sudut pandang laki-laki sebagai dirinya sendiri, sudut pandang laki-laki sebagai ayah, sudut pandang laki-laki yang memosisikan dirinya sebagai perempuan dalam rangka mempelajari cara seorang perempuan menanggapi sebuah perasaan (sebut itu "suka" kalau tak yakin dapat diartikan) cinta.
Tapi jujur suka sekali dengan bagaimana Mas Gun begitu bisa mendefinisikan hal-hal membingungkan tentang perasaan suka, tentang harus berlapang dada atas sesuatu yang ingin kita pegang erat namun tidak bisa, dan tentang cinta yang memang luas pemaknaannya. Mungkin buku ini cocok, buat siapapun yang ingin menutrisi hati dengan hal-hal yang ia sukai.
Menaruh segenap hormat kepada siapa saja yang bersabar untuk tidak mudah bilang suka karena merasa belum cukup mampu bertanggung jawab atas perasaannya itu. Karena benar, "Orang berlomba-lomba ingin memiliki, tetapi lupa bahwa setiap kepemilikan menimbulkan tanggung jawab. Tanggung jawab ke Tuhan, tentu saja." (Hal. 87)
Macam biasa tulisan Mas Gun memang berjaya memberi kesan kepada saya. Saya suka dengan refleksi- refleksi yang penulis bawakan.
Cuma saya rasa buku kali ini lebih banyak menyentuh seputar isu-isu sebelum bertemu jodoh. Jadi agak kurang relate di situ. Tetapi overall sangat tenang dan insightfull untuk dibaca.
oh ya buku kali ini, ada ruang untuk kita menjawab persoalan yang penulis bawakan. Macam jurnal giteww.
Antara fav quote saya dari buku ini "Kerana hidup adalah sekumpulan ujian. Hidup adalah belajar tentang menjalani keikhlasan. Kita mungkin berharap sesuatu yang sedang kita damba hari ini. KIta mungkin menghindari sesuatu yang kita benci hari ini"
Terima kasih Masgun sudah menuliskan buku ini. Bukunya sungguh sangat gemas HEHEHEHE sukses bikin senyum senyum sendiri! Cocok dibaca untuk membangkitkan kupu-kupu dalam perut karena sudah lama nggak jatuh cinta sedalam itu.
Duh Masgunnn bagaimana bisa dirimu menuliskan semua hal yang selama ini cukup kutahan dalam-dalam di hatiku sajaaa?! 😂😂😂
Setiap bagian tulisan membuat aku terus recall memori orang-orang, entah sama ortu, sama teman, sama crush jaman dulu... Jadi flashback dan semakin mensyukuri diriku hari ini, bersyukur ternyata kisah cinta yang apalah dulu itu, Allah izinkan hadir untuk memberi banyak pelajaran yang berharga.
kangen banget baca tulisan yang hangat kayak gini. gabisa cepet-cepet. tapi untuk dinikmati tetep bisa enak banget. dibaca ulang lagi juga aman banget. malah bisa nemu hikmah dan insight baru. temen self-talk dan deep-talk yang men(y)enangkan :) highly recommend