Mutiara yang copy writer dan Zona yang art director bekerja di perusahaan periklanan yang sama di Jakarta. Keduanya saling naksir, tapi sama-sama sok jaim. Mutia selalu bete menghadapi Zona yang selengekan, sementara Zona sering gondok dengan sikap Mutia yang dianggapnya superjutek.
Menjelang akhir tahun 2004, LSM tempat Zona menjadi anggota gerakan pelestarian alam menugasinya menyelidiki suatu proyek yang sedang berlangsung di Taman Nasional Gunung Leuser, NAD. Zona pergi ke Banda Aceh, tapi sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju Leuser, datang musibah mahahebat tsunami. Zona lenyap tanpa kabar, tanpa jejak.
Mutia menanggalkan ke-jaim-annya dan nekat berangkat ke Banda Aceh yang porak-poranda. Ia bahkan mengais-ngais tumpukan jenazah demi menemukan Zona. Ketegaran Mutia menumbuhkan simpati Dr. Sakti, ahli bedah muda yang rela putus dengan pacarnya demi menjadi "relawan abadi" bagi para korban tsunami. Tepat di pusat bencana, Dr. Sakti berjuang membunuh rasa kasmarannya terhadap Mutia dan justru ikut membantu mencari Zona.
Apa yang sebenarnya telah menimpa Zona? Masih selamatkah dia? Ataukah Zona sudah tewas juga? Sampai kapan Mutia akan bertahan mencarinya?
Romantis dan menyentuh. Zona Tsunami membuktikan bahwa kisah yang berlatar belakang peristiwa pahit---gempa bumi dan tsunami di NAD---tidak membuat penulisnya tenggelam dalam kecengengan. Gaya berceritanya lincah dan mengalir, dengan humor segar yang sering muncul pada saat-saat yang tak terduga. - Najwa Shihab, jurnalis televisi
Ga nyesel deh baca Trilogi Zona ini, buku 1nya sampe nunggu lama, dicariin sama Ijul. Ceritanya ga bisa ditebak endingnya.
Mutiara, si copy writer benci tapi cinta sama Zona Dwiputra. Blom sempet bilang cinta, Zona harus ke Aceh dan nyatakan terkena tsunami disana. Mutia yang sebenernya cinta sama Zona akhirnya ke Aceh untuk mencari Zona.
Dalam pencarian itu, tergambar jelas dalam buku ini bagaimana Aceh kala itu. Sampe ikutan sedih membayangkan ceritanya. Mutia akhirnya bertemu dengan Ari yang ternyata saudara kembar Zona juga Sakti, si dokter cakep yang juga membantu korban tsunami.
Pencarian Zona memang ga gampang ternyata, dan Zona lebih memilih untuk menutupi keberadaannya, sampai akhirnya Zona menyadari kesalahannya namun semuanya merubah keputusan Mutia.
Awalnya agak tersendat baca nih buku, tapi sampe tengah ngebut deh bacanya sampe akhir. Diceritakan dengan banyak sudut pandang (dari berbagai tokohnya) tapi dibedakan dengan bab-bab juga font yang berbeda, sehingga kita ga dibuat pusing, ini yang cerita siapa.
Walau endingnya menurut saya agak mengecewakan saya, tapi saya suka ceritanya, saya suka cara Dewie Sekar menyampaikan ekspresi hingga kedalaman hati para tokohnya.
I love this book, gak nyangka dengan latar belakang cerita tsunami di Banda Aceh, ada cerita romantis yang bagus banget, tentang kesetiaan, rasa peduli kepada sesama, persahabatan, keluarga dan tentunya cinta. Aku jatuh cinta dengan gaya penulisannya, yang bergantian dari satu tokoh ke tokoh yang lain, tidak ada yang berlebihan. Dan sepertinya akan mulai mencari novel penulis yang lain ^^
Dan membaca novel ini halaman demi halaman, membuat aku terbawa dengan perasaaan si tokoh, terutama Mutiara, wah salut banget dengan Mutia (lebih keren dipanggil Mutia dey sesuai kata Zona), wow ternyata cintanya yang begitu besar bisa membawa kenekatan yang luar biasa untuk mencari Zona, bisa membayangkan sendiri keadaan Banda Aceh pasca gempa dan tsunami seperti apa. Kesedihan yang mendalam, tapi dia harus melihat sendiri kondisi orang yang sangat dia cintai. Tapi benar-benar dibuat jengkel banget sama Zona, uhhhhhhh kenapa harus menghilang sey? Dan hanya meninggalkan sepucuk surat, malah minta Mutia melupakanmu (kamu benar2 pria bodoh, Zona) ^^ Dan akhirnya Mutiara pun lelah menanti dan ada Dokter Sakti yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya.
Walau endingnya kurang begitu suka, tapi itulah mungkin yang terbaik untuk Mutiara dan Zona, dan para pria yang mencintai Mutiara =)
akhir" nhe a sedikit males baca" novel tapi liet this book kayaknya a pengen bac coz temen sekamar kayaknya berminat bangt bca nya...cerita tentang 2 orang yang memendam perasaan...sampai akhirnya si zona pergi ke aceh...
Awalnya tertarik baca krn banyak yg bilang bagus. Bagus sih.. Tapiiiii aku g suka endingnya. Menurutku ini ending yg terlalu kejam. Dan sorry.. Aku g sanggup merasakan klo jd zona. Ini terlalu berat. Awalnya aku jatuh cinta sama mutia. Tp berakhir dgn aku kecewa dg mutia. Harusnya jika berjuang itu sampai akhir, sampai titik darah penghabisan. Kurasa akhirnya dia berpikir logis. Mana mau dia sama zona yg keadaannya "spt itu". Klo ada yg lbh baik, why not? Spt yg dia bilang : "aku cuma orang biasa".. Oh god i hate her😞. Sori kak, aku kasi bintang 2. Krn aku g suka yg endingnya begini banget 🙏
Sampai halaman 150, reading experience masih asyik. Butuh keberanian untuk menggunakan tsunami sebagai jangkar bercerita. Sayangnya lambat laun terasa seperti membaca drama monolog. Dialog yang bergulir antar tokohnya tak menggigit. Dialog dan cerita para tokoh laki-laki tak ubahnya datang dari perempuan yang sedang menyaru. Makin ke belakang terasa semakin garing. Nama stasiun TV dan universitas Mutia bikin mengernyit. Duh universitas sleman? Overall, saya tetap excited bertemu novel ini dan penasaran dengan lanjutan kisah Zona.
Gw kasih rating 3 dah untuk detail ceritanya per orang. Tapi endingnya tuh sumpah ngeselin. Kenapa Mutia harus sama sakti. Ngapain dia capek2 nyari Zona kalau dia gak cinta samanya. Sori mbak Dewie, knapa harus buat karakter Zona menyedihkan gitu yah.
Gw nyesel baca endingnya. Sia2 juga aq baca segitu panjangnya untuk ending yang gak enak hanya Untuk buat sekuel? Wow
awalnya bosen sih bacanya, sampe mikir untuk dnf aja. tapi pas di bagian muti jadi relawan, jadi pengen baca lebih lagi. tbh, lebih tertarik sama kisah relawannya muti daripada si zona😂😂 endingnya juga sebenernya ak bingung... kok bisa sama itu...
"Cinta adalah keberanian untuk memberi untuk menerima untuk mencari untuk berjuang untuk menghadapi kekalahan dan juga untuk kehilangan"
"Kamu percaya takdir, Mutia? Aku percaya. Kematian bisa datang kapan saja, di mana saja. Kalau aku membatalkan kepergianku hanya karena ketakutanmu, siapa bisa jamin bahwa besok pagi aku pasti tak akan mati di sini ditabrak truk sapi?"
"Saat ini, satu-satunya yang membuatku bertahan memang hanya harapan. Hanya harapanlah yang membuatku bisa bangun pada pagi hari, dan menendang jauh-jauh keinginan untuk mati."
"Bagiku, cinta adalah proses. Cinta butuh waktu untuk tumbuh, juga butuh waktu untuk menjaganya agar tetap tumbuh."
---
Omg :'''((((
Nggak tahu harus komentar apa untuk endingnya. Senang, ya. Tapi ... pastinya para pembaca menginginkan tidak seperti ini :')
Tapi sebelumnya, finallyyyyyyyy, setelah cukup lama mencari-cari buku ini dan menelantarkan seri ke-2 dan ke-3-nya di lemari dengan perasaan penasaran setengah mati, buku ini sampai di tanganku juga! (lagi-lagi thanks to Bang Ijul yang sudah bantu cari). Trilogi ini sudah sulit untuk dicari. Yang paling mengesalkan adalah aku mendapatkan buku ketiganya lebih dulu, kemudian buku kedua, barulah buku kesatu ini :')
Dari semua buku Mbak Wie yang ada di lemari, aku memilih membaca ini dulu. Dan, tentu saja ini pengalaman pertamaku membaca novelnya. What can I say? Saya jatuh cinta dengan cara penulisannya! Sederhana, seru, dan ngocol! Ada saja selipan humor mengocok perut yang bahkan hadir di scene-scene mengharukan. Menyenangkan sekali :)
Secara keseluruhan, tentu aku suka ceritanya, juga tokoh-tokohnya yang menyenangkan. Rasa sesak muncul berkali-kali. Belum lagi, pendeskripsian suasana tsunami dan pascatsunami yang membuatku merinding. Tapi, aku memang merasa kurang dengan scene interaksi Zona dan Mutia. Coba saja interaksi mereka diperbanyak, aku akan sangat suka. Walau begitu, aku cukup terhibur dengan interaksi-interaksi yang lain. Really, kepikiran gitu, ya, Mbak Wie nulis dengan gaya bahasa konyol gitu!
Untuk ending, hmm... rasanya ingin protes. Tapi, ya, apa daya? But I'm still like it very much :) hanya saja, aku ini tipe pembaca yang tidak menyukai jika tokoh utama pria memiliki ending indah lain bukan dengan tokoh utama wanita. Aku masih bisa menyukai novel ini, karena tak masalah jika tokoh utama wanita yang akhirnya punya ending indah dengan tokoh lelaki lain (hehehe like so egois, ya?). Yang aku takutkan hanya ... aku nggak sanggup baca Zona @ Last :')
But, kita baca seri keduanya dulu, Perang Bintang!
sebenarnya ini buku udah lama bgt terbit, cuman baru sempet beli bulan 8 kemarin waktu promo 1 paket yg berisi ketiga serial ini sekaligus.
kesannya: damn! i love this books...akhir cerita yang ga disangka-sangka sih dan sangat menyebalkan kenapa akhirnya begitu. :| tapi emang dewi sekar keren, keren buat alur ceritanya. esmosi yang diaduk-aduk kayak lagi ngaduk gula namun juga dikemas dengan penulisannya yang sangat bagus. Juga walopun ceritanya sedih tapi tetep disuguhi sama humor itu kenapa esmosi bisa naik turun. tinggal ngatur waktu dulu untuk baca buku selanjutnya karena emang lagi butuh banyak waktu :D
nah mengenai ceritanya: ada dua orang yang bernama Zona dan Mutia. Zona merupakan lelaki blasteran yang banyak membuat para gadis tergila-gila, namun tidak bagi Mutia. Karena di awal pertemuan Zona memberi kesan yang buruk terhadap Mutia hingga Mutia benci sekali kepada Zona. Dan tiap hari mereka berdua perang mulut dan saling mencaci, namun soal pekerjaan mereka serius dan profesional. Karena inilah, perlahan tapi pasti oleh proses, diam-diam Mutia jadi jatuh cinta terhadap Zona. Demikian juga Zona, namun Zona ga yakin sama dirinya sendiri kalo Mutia itu suka kepadanya.
Tibalah waktu, Zona diberi tugas untuk melakukan investigasi ke Gunung Leuser di Aceh (ujung pulau sumatra). Di hari Minggu pagi jam 5 Zona masih sempat menghubungi Mutia yang membuat Mutia kesal karna tidurnya diganggu, hingga pada akhirnya Mutia mencabut kabel telponnya dan mematikan hapenya seharian penuh.
Ternyata kejadian naas pun terjadi pada Zona, Aceh dilanda gempa bumi hingga menghasilkan Tsunami yang maha dahsyat dan Zona merupakan salah satu korban Tsunami tersebut. Mutia baru mengetahui kabar ini ketika hari Senin dia masuk kantor dan melihat perubahan suasana kantor yang aneh. Temen-temen kantor Zona berusaha mencari nomor kontak keluarganya namun tidak dapat ditemukan hingga akhirnya Mutia ke rumah Zona untuk mencari nomor itu dan dia menemukan sesuatu di kamar Zona yang menjadi bukti atas keraguannya selama ini.
Jadiiiii bagaimana kah kisah selanjutnya? Apakah yang ditemukan oleh Mutia, dan bagaimana nasib Zona? Kepada siapakah akhirnya Mutia membuat keputusan yang berhubungan dengan hidupnya? Nah teman-teman silahkan baca sendiri ya :)
Hal pertama yang saya tekankan terlebih dahulu bahwa buku pertama ini malah saya baca setelah buku kedua dan ketiga selesai. Bodoh, memang. Tapi mau bagaimana lagi coba? Saya baru mendapatkannya setelah sekian waktu keluar masuk toko buku bekas, grup-grup jual beli buku dan akhirnya saya dapatkan dengan harga 200 % bandrol harga yang dibeli oleh orang yang menjual buku ini kepada saya. Tapi tidak munafik, meskipun saya rugi, tapi saya masih untung, kenapa? Kapan-kapan akan saya jelaskan. Haha~
Mungkin ini seri pertama, alasan yang dapat saya ambil demikian, jadi ketika saya menaruh ekspektasi banyak, ternyata saya malah merasa berlebih. Ada sedikit jengah di awal saya membaca buku ini, tapi karena saya tertarik dengan latar belakang musibah di Aceh itu, saya tak sungkan terus melahapnya, pasalnya bapak saya pernah ke sana setelah gempa dan tsunami itu terjadi, membantu Oom saya melaksanakan proyek pembangunan perumahan-perumahan, jadi sedikit banyak saya mendapat cerita seperti apa keadaan di sana dari beliau. Saya terenyuh, saudara-saudara kita banyak yang meninggal, hilang.
Terkadang saya merasa Zona berlebihan, seperti kata Ari, tapi bagaimana pun juga dia perlu menata diri dan mind-set-nya setelah musibah melandanya, tak urung dia menolak untuk bertemu dengan perempuan yang dicintai dan mencintainya juga... :)
Bodohnya, karena saya sudah membaca Zona @ Last jauh sebelum membaca buku ini, jadi saya tahu seperti apa ending laki-laki ini dan Mutia, perempuan itu. Tapi saya masih suka seperti apa interaksi perempuan itu dengan Dokter bedah muda bernama Sakti yang juga menjadi relawan itu. Ah cinta.. dapat melanda siapa saja, siap ataupun tidak siap. :)
Jika saya menilai buku kedua dan ketiga sangat lugas, saya menilai buku pertama ini sedikit kurang dari kedua yang lainnya. Ah, bagaimana pun kan khas metropop... Tapi saya tetap suka penulisan Mbak Dewie Sekar. Saya tunggu comebacknya, Mbak! :)
Akhirnya dapat kesempatan juga untuk me-review novel ini. Mbak Wie sih jangan ditanya yah. She's always be one of my favourite author. Dan seperti biasa, cerita yang mbak Wie bawakan selalu ngalir dan nggak sadar aja sudah mau selesai bacanya. Dialog-dialog antara Zona dan Mutia di novel ini membuatku senyum-senyum geli sendiri. Yang menyentuh saat mbak Wie mengangkat tema tsunami Aceh kedalam cerita ini seolah kembali menarik diri aku ke beberapa tahun lalu saat berita tsunami Aceh menggemparkan Indonesia bahkan negara-negara luar. Tapi nggak melulu sedih, part-part lucunya tetap ada. Novel ini juga mengenalkan kita pada Ari, saudara kembar Zona dan dokter Sakti yang jatuh cinta pada Mutia. Sayangnya tokoh Mutia yang tadinya mendapat nilai plus-plus dimataku malah jatuh diending cerita walau sebenarnya nggak sepenuhnya karena kesalahan Mutia tapi Zona-nya juga yang keras kepalanya nggak habis-habis. Tapiiiiii tetap saja aku nggak suka caranya Mutia. Nah, buat yang penasaran wajib banget dibaca. Enak kok ceritanya :)
Buku ini mengingatkan gue, bahwa sesuatu yang sudah kita niatkan dan rencanakan sebelumnya, bisa saja berubah karena campur tangan takdir. Dan ini juga berlaku untuk masalah cinta... Apa yang kamu percayai baik untuk dirimu, belum tentu sebenarnya adalah yang terbaik. Mungkin saja masih ada jalan lain yang lebih baik daripada jalan yang kamu pilih. Dan dibutuhkan keberanian besar untuk melepaskan apa yang selama ini sudah kita jalani dan memilih jalan lain yang terbentang di hadapan kita.
Keberanian. Itulah yang gue suka dari Mutiara, tokoh utama dalam buku ini. Dia adalah seorang wanita yang tegar. Tegar saat mengetahui perasaannya pada Zona mungkin tak akan tersampaikan, tegar saat berada di Aceh untuk mencari Zona yang hilang akibat tsunami, tegar saat Zona berusaha menjauh karena cacat yang dideritanya, dan tegar saat memutuskan memilih Sakti karena menyadari cintanya pada Zona hanya akan membuatnya menderita.
baca buku ini karena gratis bokkk di perpustakaan. pertama kali baca buku ini sumpah suka banget sama kharakter si zona . oh men nih cowok nyebelin tapi uhhhh kayaknya sexy gitu ya .
kedua konfliknya oh men cerita sedih pasca tsunami . duhh nih cowok emang gila . di saat kondisi super menyedihkan gitu. bisa gitu ya nyantai gitu. duhhh kalau aku mah nggak tahu . minta keluar negeri kali ya atau malah ke mars . diem di mars .
ketiga nih suka vocabularynya , gila anak muda banget , simple tapi ngena di aku dan satu lagi suka sama penulisnya deh pokoknya.
keempat settingnya , duhhh lagi , lagi , lagi , lagi , agi kok ya jogja lagi . kan bikin galau teruss.
Gw sukaaa banget buku ini... Sebenernya siy ceritanya biasa ajah... tentang "kisah cinta" cewe ma cowo yang dua2nya sama2 gengsian, keras kepala, punya ego yang sama2 tinggi, dsb....
Gaya bahasanya ringan banget 'n asik buat di ikutin... Ceritanya "menyentuh" tapi ga cengeng... (kaya si penulisnya sengaja ga mau bikin yang baca jadi terlalu sedih2 amat)
trus cara komunikasi ari n zona lewat telepati di buku ini jg lucu tuuh... kok kepikiran yaah?? heheee
cuma endingnya.. gw kurang setuju tuuh... hiiikkzz... tp yaah seperti kata mbak dewie sekarnya sendiri... fiksi is fiksi... mo diapain lagi..?? :)
Sebenernya ketinggalan bgt karna baru skrg baca buku ini! Yaa elah kmana aja neng?#TepokJidat. Udaa curi* baca sinopsis ke-3 Trilogi Zona, curang kann jadi tau kalo di buku pertama endingnya Mutia ngga bkalan sama Zona. Tapi tetep... Bener* bikin SURPRISE, ngga nyangka bgt kalo endingnya bakal kayak gitu. Jadi ini toh sebabnya ada kelanjutan kisah hidup Zona.
Ceritanya menciptakan emosi yg beragam sesuai POV setiap tokoh yg begitu jelas disampaikan&tidak membingungkan, diselingi dengan beberapa humor yg bkin cekikikan&meringis sendiri.:D
Lanjut sekarang baca Trilogi Kedua Zona #Perang Bintang :)
Aku kira di cerita ini si Mutiara bakalan kembali ke pelukan Zona. Ternyata, Si penulis membuat cinta baru tanpa menghadirkan sebuah pikiran penghianatan.
Satu kantor dengan seseorang yang menjengkelkan itu bikin frustasi, apalagi awal dari pertemuan di kantor memberi kesan yang buruk. Tapi setelah berjalan waktu ia tahu kalau ternyata itu cara Zona untuk mendekati Mutiara. Sampai kejadian Tsunami terjadi Mutiara sedih dan tak tahu harus berbuat apalagi. Dicarinya Zona sampai kelalahan, tapi kesedihan yang didapat. Banyak pikiran yang membuatnya bingung sampai si Dokter mencoba membuatnya senang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
sadissss! cerita dalam buku ini sungguh2 tragis. seorang Zona Dwiputra yg memiliki perasaan terhadap Mutiara Khairunisa, harus membuang semua harapannya tatkala tsunami telah menggores wajahnya & merenggut tangan kanannya (sok mendramatisir). tinggalah dokter Sakti (namanya sakti loch!) yg harus berjuang mati-matian membunuh rasa kasmarannya pada Mutia yg sedang mengevakuasi mayat2 di Aceh demi mencari Zona. akhir dari cerita ini sangat tragis: Mutia & Sakti get MARRIED!!! lalu, bagaimana dgn Zona yg sangat mencintai Mutia???? wajib baca!!!!
Aku harus bilang ini novel keren. Udah agak lama beli ini, pas lagi ada bazaar buku murah. (maklum, derita pelajar tak berpenghasilan yang jadi novel junkie) ga bisa bilang kalau novel ini ngga keren. kenyataan bahwa ari sama zona itu well...aku ga bisa bilang...SPOILER ALERT!!! :D keliatannya Dewie udah bener2 nyiapin ini, sampe ke nama-namanya. Mutiara, Pearl., udah cukup bikin aku terpesona. Well, aku memang selalu terpesona sama penulis yang bener-bener nyiapin semuanya sampe ke nama.
Sejujurnya saya sempat mewek saat awal membaca cerita ini. Teringat pada masa-masa tsunami dan ingat pada seseorang-yang-belum-terdengar-kabarnya-hingga-kini.
Dari segi cerita, sebenernya ceritanya luamayan bagus. Dewie Sekar mampu menulis cerita berlatar tsunami tanpa terdengar cengeng atau menyedihkan. Malah bikin saya ngakak khususnya di bagian panggilan Sakti untuk para saingannya yaitu Kadal #1 dan Kadal #2. Tapi sayangnya terlalu banyak sudut pandang yang digunakan penulis yang masing-masing hanya dibedakan oleh fonts yang digunakan. Ada sudut pandang Mutia, Zona, Sakti, bahkan Ari.
awalnya menyesakkan bagaimana dampak tsunami bagi warga aceh, flashback mengenai berita-berita yang tayang setelah bencana tsunami.
emosi naik-turun membaca sikap Zona yang lebih memilih bersembunyi dari Mutia mengenai keadaannya, berharap orang-orang mengerti mengenai pilihan yang diambilnya, dan segalanya akan berjalan baik nantinya.
Dokter Sakti, awalnya gak terlalu fokus sama karakter ini, tapi ketulusannya dalam membantu Mutia menemukan Zona, sangat menarik simpati.
ending yang tidak terduga, suka dengan cara penulis mengajak emosi pembaca naik-turun.
karna labelnya udah metropop makanya pengen baca... bagus, walo bahasanya agak lebay... makin ke belakang makin ga bisa ditaruh tu buku,, walo endingnya ga sesuai keinginan... ga nglegain, hiks!! DAN TERNYATA ada lanjutannya.. Perang Bintang ama Zona @ Last, kalo ntu buku ga ada di perpus masa iya ngrogoh kocek buat beli buku, bulan ini udah overbudget... tapi rasa penasaran ini makin mejadi, huhuh... what will happen wif zona?
Mutiara dan Zona saling suka. Tapi, biasa. Jaim. Hingga akhirnya, Zona tiba-tiba menghilang di Aceh dan Mutia pun nekat untuk mencarinya kesana. Disana dia bertemu dengan dr. Sakti yang membantunya mencari Zona.
Gak tau ya. Mungkin karena emang udah capek waktu baca buku di IRF kemarin. Atau memang ceritanya ga menarik di mata aku. Baca skimming. Ending ketebak. Jadi, ya menurut saya lebih baik sekuel yang berikutnya.
Seorang wanita yang mencari laki-laki yang dicintai di tengah-tengah korban tsunami di Aceh. Namun ia harus mendapati kenyataan bahwa laki-laki tsb tidak ingin dijumpainya karena malu akan dirinya yang kini menjadi cacat. Di tengah keputus asaannya, wanita itu justru bertemu dengan seorang dokter yang mencintai dia dan mau menuggunya hingga ia bisa melupakan bayang2 kekasihnya yang hilang..
Saya belum pernah membaca karya Dewie Sekar sebelumnya, ini pengalaman pertama saya membaca novelnya. Dan lalu... I love this book! hehe. Yang paling menarik menurut saya adalah gaya font yang dibuat berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang tokohnya. Itu memberikan sensasi tersendiri saat membacanya. Ya walau endingnya ga sesuai sama bayangan saya, tapi novel ini tetep jadi novel favorit :)
Cukup bagus. Sebagai pioner lini metropop, buku ini menghadirkan jalinan cerita yang berbobot dan tidak hanya sekedar cerita wanita urban semata. Namun, saya jatuh cinta pada karakter Zona yang sayangnya porsi yang diceritakan mengenai dia justru malah sangat sedikit. Kontradiktif dengan judulnya--Zona at Tsunami, rupanya tidak menjadikan Zona sebagai pusat cerita.
Awal membaca saya kira saya baca novel yang chicklit banget, tapi penulis berhasil membuat saya ga berhenti baca.
Ceritanya mengalir tapi ga bosenin. Agak kecewa dengan karakter Zona setelah kejadian tsunami, tapi kita memang ga akan gampang nebak psikologis orang tentang apa saja yang pernah dilaluinya. Lumayan suka endingnya, jadi tergoda untuk baca lanjutannya.
awalnya kurang tertarik dengan covernya, tapi setelah baca buku ini keseluruhan,, hmm.. this brilliant piece of work! suka banget..love it. bahasanya ringan tetep menyusung tema percintaan. perempuan yg rela mencari kekasihnya di tengah kemelut bencana tsunami,sedih... lucu(diawal2 cerita)
Hmm, agak gak ikhlas sih dengan ending-nya (meskipun sebelumnya udah baca spoiler). Tapi penjelasan Mutia tentang masa lalu Zona ada benarnya juga. Yah, sedikit lebih ikhlaslah setelah mendengar alasan Mutia itu.
Ceritanya okey. Latar belakang tsunami aceh selalu berhasil membuat saya terharu. Tapi saya nggak suka dengan gaya penulisannya yang pakai numbering di tengah2 paragraf. Atau kalimat yang di-bold untuk mengugkapkan apa yang ada di pikiran tokohnya. Dan saya nggak suka endingnya.