Baca tulisan Sobron Aidit, apapun itu, selalu ninggalin satu kesan yang nggak bisa berubah sampai detik ini. Kesan kalau seakan-akan bisa dengar cerita yang dia tulis, langsung dari orangnya. Bahasanya kayak orang ngomong face-to-face.
Mulai dari cerita hidupnya di Tiongkok, jadi pencari suaka politik ke Perancis, suka-duka buka restoran di Perancis, diikuti intel selama liburan di Indonesia, semuanya. Salut, sih, sama konsistensi tulisannya.
I wish I could meet him, before he died.