"Ayo, Joe!" seru Roy. Anjing herder itu menyalak kegirangan. Bulunya yang cokelat kehitaman berkilat. Gerak-geriknya melindungi majikannya dari bahaya.
Remaja Roy memang jadi pusat perhatian. Ke sekolah dengan sepeda balap dan anjing herder? Itu absurd. Sebuah objek sensasi. Lain waktu telinganya mendengar suara-suara centil, manja, genit, dan menggemaskan. Dia tahu itu untuknya. Dia memang keren. Badannya jangkung atletis. Tampan tapi tidak kolokan. Berbeda dari orang kebanyakan. Senyumnya memang memabukkan, bandel, dan khas berandal.
Remaja bandel ini paling gemar kemping, ke mana saja dia mau. Biasanya dia ber-liften bersama Joe ketika liburan sekolah. Ini memang akibat dari terlalu banyak membaca buku petualangan dan nonton film. Ketika kawan-kawan kecilnya gemar HC Andersen, Roy kecil malah membayangkan dirinya menjadi Tom Sawyer. Bahkan dia pernah bikin repot mamanya, ketika seluruh temboh rumah di kampungnya dicoreti inisial "Z". Rupanya dia sedang membayangkan dirinya menjadi Zoro.
Laki-laki artinya mempunyai keberanian. Mempunyai martabat. Itu artinya percaya pada kemanusiaan. Itu artinya mencintai tanpa cinta itu menjadi jangkar. Itu artinya berjuang untuk menang.
Alexander Panagoulis Joe, BSR 1, hal pertama
Alasan saya membaca buku ini dulu sebenarnya klise : saya jatuh cinta. Cinta monyet lah katanya, pada seseorang yang merekomendasikan. Seseorang yang aktif di pramuka, dan hobi kemping dan mendaki gunung. Ketika saya masih berseragam putih biru.
Masa SMP saya dihabiskan di Sidoarjo, kota kecil di selatan Surabaya, yang sekarang terkenal masker lumpurnya. Langganan Gadis, dan hobi membaca Lupus dan Olga. Sebelum tinggal di Sidoarjo, saya sempat tinggal setahun di Blitar, tempat saya memulai SMP dan berkenalan dengan si doi.
Dulu, pulang sepedaan bebarengan aja sudah rasanya gimana. Gak sampe aneh-aneh sih, begitu saja sudah cukup bikin hati bungah. Nggak ada kata cinta, hanya olok-olok teman sekelas.
Dan ketika kami berpisah karena saya pindah kota, komunikasi dilanjutkan dengan surat menyurat. Nah di salah satu suratnya ini, sesudah saya bercerita soal Lupus dan Olga, juga NKOTB kesayangan saya, dia menyebutkan buku Balada si Roy. Sebuah novel yang sesuai dengan anak laki-laki sepertinya, yang hobi dengerin Metallica dan Guns N Roses. Juga suka kemping dan naik gunung. Tentu dia nggak cerita soal hobi Roy godain cewek dan naik motor kebut-kebutan. Dan saya kaitkan kesukaannya itu sambil membayangkan dirinya beransel hiking ke gunung.
Tapi saya belum berniat untuk membeli buku itu. Seorang ABG centil seperti saya masih memikirkan koleksi pernak-pernik NKOTB atau model polo Shirt Osella terbaru buat bahan ngobrol dengan peer groupnya. Yang menganggap Olga sebagai standar kekerenan seorang cewek remaja.
Kemudian sewaktu SMA kelas 2 saya liburan di Bandung. Menginap di rumah salah satu teman SD saya di Margahayu. Di sini saya berkenalan dengan kakaknya teman saya, yang kuliah di fakultas Kehutanan, hobi naik gunung dengan ransel Jayagirinya di kamarnya, dan koleksi buku-buku Balada si Roy 1-5. Dan dia amat ganteng dan keren banget!! Saya numpang baca Balada si Roy selama menginap (apabila tidak pergi keluar) dan membayangkan si Roy ini mirip sekali dengan si kakak. Saat itulah saya memutuskan kalau punya pacar, musti yang suka jalan, karena menurut buku ini, tipe cowok seperti ini setia dan penyayang. Apalagi dengan kalimat-kalimat menggugah di dalamnya, yang pasti membuat cewek jatuh cinta. Bukan kata-kata romantis atau sayang, tapi kata-kata yang membangkitkan semangat. Cowok banget, istilahnya.
Maka ketika pulang ke Sidoarjo, saya membeli buku-buku ini langsung sampai jilid 5. Yang seri selanjutnya terbit belakangan namun saya selalu tunggu-tunggu terbitnya. Menunggu jilid 10 juga lama sekali.
Oh iya, bagaimana kabar si doi yang SMP tadi? Tentulah dia sudah SMA, dan kebetulan saya banyak melihat cowok2 keren di sekitar, jadilah dia terlupakan. Apalagi sejak saya pindah ke Jakarta untuk kuliah.. (padahal dia pindah ke Surabaya lho) saya benar-benar putus hubungan surat menyurat dengannya, karena kesibukan saya yang menggila.
Bertahun-tahun tak ketemu, (eh, sempat hanya telepon aja pas lebaran) tahu-tahu saya menemukannya di friendster. Cinta lama bersemi kembali, tentu enggak lah, hanya bunga-bunga masa muda belaka.
(end of nostalgia)
***
Lelaki dimiliki wanita, tapi dia juga dimiliki semua. Dia harus pergi, tapi juga harus pulang, karena ada yang dikasihi dan mengasihi. Ya, lelaki memang harus pergi, tapi juga harus pulang. Heri H Harris Epilog, BSR buku terakhir.
Dan saya berani bilang, bahwa buku ini mengubah jalan hidup saya. Mengubah saya jadi seorang remaja pendiam yang rajin belajar, menjadi dewasa oleh perjalanan. Berani mengambil keputusan untuk jauh, berani menerima tantangan yang tak kukira akan bisa kutaklukan. Berani untuk naik gunung, menjelajah, belajar ke alam, berpendapat dan bersuara. Berkelahi karena merasa benar. Walaupun saya bukan seorang lelaki.
Dan yang jelas, saya berusaha untuk menaklukan diri saya sendiri. Karena dalam dirilah berjuta ambisi dan impian terdapat, dan keputusan diri lah yang menentukan, akan terus dikejar, atau dilepaskan karena ada kepentingan yang lain. Bagaimana menerima keputusan-keputusan yang pernah saya ambil tanpa merasa menyesal.
Semua perjalanan adalah pembuktian diri. Ujian bagi kita sendiri apakah kita akan sanggup melaluinya atau terdampar di tengah jalan. Seperti yang dilalui Roy. Suatu saat kita akan sampai pada puncaknya namun kita juga harus pulang. Kembali dan memulai tantangan lainnya lagi.
***
Tidak sabar menunggu relaunchingnya bundel BSR lagi tgl 15 Mei di Rumah Dunia, Serang. Saya akan kesana dan ingin bertemu Gola Gong, Toto ST Radhik, dan Wedha. Siapa mau ikut??
Cerita bersambung Balada si Roy adalah salah satu yang saya tunggu ,selain Lupus, di majalah HAI. Walau banyak yang membandingkan keduanya, tapi memang kedunya sama-sama punya ciri tersendiri. Balada si Roy memang berkesan serius dan keras, karena ceritanya sendiri berkutat pada perjalanan-perjalanan Roy. Inilah yang menjadikan seri Balada si Roy menjadi bacaan wajib para backpacker Indonesia. Jaman belum ada tiket pesawat murah, bebas visa antar negara ASEAN ataupun buku-buku maupun milis tentang backpacker, Gola Gong sudah membuat cerita semacam itu. Tentang beberapa sisi negatif dari Roy yang oleh beberapa pembaca dianggap kekurangan, maka saya berpendapat itulah kelebihan cerita ini. Saya melihat Gola gong menulis Roy dengan melihat dan memotret kondisi remaja 80-an (mengalaminya sedikit sih he..he). Ada satu cerita tentang Joe (yg menjadi judulnya juga) yang cukup mengharukan. Dimana Roy yang suka berkelahi akhirnya kehilangan anjing teman satu-satunya akibat perkelahian dia. Selain itu, kutipan-kutipan sajak Toto S. Radik yang muncul di tiap awal bab membuat cerita-cerita perjalanan Roy menjadi lebih bermakna. Sayang koleksi saya berhenti di nomor 6, dan saya hanya sempat meminjam pada teman jilid terakhir (jilid 10 kalau tidak salah) dari cerita Balada si Roy ini. Dan saya suka akhir ceritanya....
Kisahnya tahun 80-an banget, tetapi ada banyak sekali pelajaran tentang bagaimana menjadi lelaki sejati (yang laku) di buku ini. Review lengkap silakan berkunjung ke http://dionyulianto.blogspot.com/2015...
Gadis skeptis agak kehilangan sedikit minat bacanya. Maka, dengan susah payah dia menyelesaikan buku sekuel dari Gol A Gong berjudul Balada si Roy. Buku pertama dan kedua dijadikan satu pada cetakan terbarunya. Ini menyenangkan, karena gadis skeptis tak harus menunggu buku lanjutan untuk mengetahui kisah. Seminggu lebih, Joe Avonturir berhasil ditamatkannya. Hampir tak banyak yang bisa diceritakan si gadis skeptis, kecuali permainannya dengan takdir dan jodoh. Dia sedang senang berjalan kesana-kemari, tanpa arah dan tujuan. Selalu disandangnya ransel, ya mirip dengan si bandel yang ada dalam buku ini. Gadis skeptis sedang bimbang, sama seperti Roy, dia pun gamang untuk pulang. Buku pertama dan kedua ini menceritakan kisah awal Roy. Dengan kehancuran yang luar biasa hebat pasca meninggalnya sang ayah, Roy harus memulai semua dari bawah lagi. Dalam kehidupan remajanya yang labil, tak jarang menemui konfik yang membuat remaja Roy harus bernafas lelah. Dalam kebimbangan, Roy menemukan cinta. Namun, menelan sendiri realita hidupnya yang berantakan, Roy harus memilih untuk pergi. Dia bawa serta cintanya bersama ransel dan jeans lusuhnya. Dia travelling mencari apa itu takdir, apa itu Tuhan, dan apa itu kesempatan. Perjalanan mengubah dirinya menjadi sekuat batu, hatinya sekeras baja dan kedewasaannya menjadi lebih meningkat. Tapi, permasalahan hidup semakin meningkat pula. Dalam gamangnya langkah untuk terus ke Timur atau kembali pulang, Roy berada dalam kesendirian.
di bumi kedap suara begini mau bilang apa? kata-kata terucap hampa atau sembunyi di balik kalbu ah, ingin aku tak acuh tapi kupingku malah jadi sakit aku meronta dalam kebisingan diri Rys Revolta
Sajak-sajak menghiasi hidup Roy. Kenangan akan kawan-kawannya juga seakan kian menghalangi langkah Roy untuk terus ke Timur. Tapi, sudah sejak awal Gol A Gong membuat set seolah-olah Roy akan benar-benar mengikuti jejak ayahnya sebagai avonturir. Tak ada yang tahu pasti kemana takdir yang dibuat Gol A Gong akan membawa Roy. Buku ini adalah jelmaan dari kisah Gol A Gong sendiri, menurut saya sih begitu. Ya, berarti setelah ini saya harus membaca lanjutannya. Buku 3 dan 4 yang memuat kisah perjalanan Roy lebih jauh lagi. Pulangkah? Sudah lelahkah? Atau, terus melajukah ia? [Ayu]
Roy yang membuat gue berhutang akan sawah dan tanah Banten. Yang sampe sekarang pun hutang naik motor sampe Anyer gak kesampean. Yang bikin gue waktu ke Bandung menengok ke Gelap Nyawang. Rekonsruksi dia bertarung beregu dengan berandal lain.
Roy, buku pertamanya lebih mahal karena lebih tebal. Grafis Cover edisi baru kalah gahar sama buku lama. Bikin gue pernah nyangkut di pantai Bandulu deket Anyer jaman masih sepi dari vila. Pas dateng badai...boro2 ndiriin tenda. Rekonstruksi tempat kematian Joe, anjingnya Roy, dengan main rugbi pake kelapa di tepi pantai, pagi-pagi pas hujan dan ombak besar menggerus pasir. Aaaahhhhh!!! Anyer 10 Maret nya Slank diputar di sana, saat anak Krakatau mengepulkan asap di ujung cakrawala selepas jingga menyapuh langit
Malam ini Kubernyanyi lepas isi hati Gelap ini Kuucap berjuta kata maki Malam ini Bersama bulan aku menari Gelap ini Ditepi pantai aku menangis
Roy duka nyala keturunan menak priyangan yang terdampar di tanah jawara. Kutipannya gak lepas dari Toto S.T Radik. (yang terakhir bikin pantun lucu soal Pilkada Banten). Ke Gunung ingin mengenang ayah, tinggalkan ibu dalam pasungan kenangan. Roy berandal yang sayang ibu.
Roy, wanita pertamanya lepas sepulang kelana pertamanya. Gue gak tau apa bisa Mansyur S. dengan lagu "Ani"-nya menjadi soundtrack? Secara Roy lebih ke Van Hallen gituuu...sementara gue cuma Slankers yang "Kampungan" saat itu.
Roy memang Wong Banten!
PS: Thx buat: 1. abang gue yang rajin menabung untuk beli buku ini secara lengkap. 2. Satu-satunya anggota N26 (Iconk the one and only. Met jadi juaragan kost Conk) dan simpatisannya, sukses selalu dan tetap kumpul!
Puisi Toto ST Radik ini gak ada di serial si Roy. Tapi karena salah satu jiwa dalam buku2 si Roy adalah puisi-puisi Toto ST Radik, maka gw posting puisi ini. One of my lifetime favorit poem.
Lelaki Yang Tak Menginginkan Sorga -Toto ST Radik-
lelaki itu bicara lagi mengenai kematian seperti penyair yang memuja cinta dan kesunyian
udara menjadi garing walau langit begitu deras menumpahkan hujan. pagi berubah ungu pekat dalam secangkir kopi yang diseduh tanpa gula
aku melihat sorga, katanya, tapi aku tak merindukannya
saat itu terdengar teriak gagak, suara yang ganjil di awal pagi yang kuyup. apakah waktu telah tiada? atau barangkali tuhan tengah alpa?
lelaki itu bicara lagi mengenai kematian seperti penyair yang memuja cinta dan kesunyian
aku melihat sorga, katanya, tapi aku tak menginginkannya
Agak telat mengikuti kisah Roy Boy Haris ini. Tapi sekalinya membaca, langsung merasuk ke dalam jiwa anak SMP saya. Langsung bercita-cita backpacking, menulis puisi, dan menjadi teman anak jalanan. Juga berpetualang mencari cinta. Walaupun ketika say membacanya di tahun-tahun belakangan ini, ada spirit yang hanya hidup di masa itu, dan tidak ikut berputar bersama waktu. Tapi tetap, Balada si Roy adalah salah satu bacaan klasik remaja Indonesia. Buku yang pertama ini akan menjadi awal yang menyenangkan.
Judul ini udah lewat lama banget di saya. dari kecil. Terus di pesantren sering lewat-lewat juga bukunya, tapi ga sempat kebaca. Dan baru kesampaian di saya di umur 26. Haha ternyata menarik juga nak Roy ini. Meskipun awalnya saya skeptis. 'Ah paling model2 Dilan atau Lupus, atau Boy". Ternyata ada yg beda dari Roy. Latar belakangnya, luka yang ia punya, dan lingkungan tempat ia berada.
Saya membayangkan diri membaca ini pada masa itu, pertengahan tahun 80-an, dan hidup bukan di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, tapi Serang. Bagaimanakah respon saya terhadap cerita kehidupan bocah bengal ini? Haha
Gol A Gong bisa menangkap kondisi sosial budaya di waktu itu melalui kehidupan para tokohnya, tapi tidak terasa menjerusmuskan, namun tidak juga terlalu di permukaan. Buat saya sih, itu ada sisi positifnya, jadi berasa dikasih liat hal yg sebaiknya dihindari tapi bukan dalam bentuk diceramahi. Makanya mungkin Roy ini hits sekali pada masanya. Ada selipan politik juga cuma mungkin tipis. haha terlalu beresiko mungkin bicara hal itu pada masanya.
Ada banyak hal yg bisa membuat kita tidak suka kepada Roy. Sikapnya, perlakuannya kepada orang-orang, kepada Ibunya, teman baiknya, dll. Mungkin cara pandangnya, ambisinya. Tapi di luar hal itu, setelah membaca ini saya merasa ingin hidup di masa di mana Roy berada, dan kalau bisa menjadi kawan dia bercerita. Pasti menyenangkan sekali.
Boring! Karakter Roy ini kaya campuran Lupus & Dylan. Tapi masih jauh lebih suka karakter Lupus & jauh lebih menikmati kisah Dylan.
Roy ini semacam badboy atau sebutan kasarnya anak2 sekarang pakboy, tapi versi nanggung! Alur ceritanya not bad sebenernya, hanya gue engga suka sama sekali dengan karakter Roy ini. Very humane, tapi lelaki tipe Roy di kehidupan nyata ini jadi salah satu yg paling gue ilfeel dan like yikes, the worst! (Is that because of a few of my personal experiences? Bisa jadi, lol).
It's so 90's. I like the fact that this book capture of young man should behave and act. But, I also hate how this book capture how young man should behave and act. The whole machoism and we-should-solve-this-problem-by-fighting is so tiring and exciting at the same time.
Selamat malam, saya mhs semester akhir yang tengah menempuh skripsi, sy mengkaji novel joe balada si roy, sy membutuhkan sinopsisnya. Mohon bantuannya untuk kelancaran skripsi saya. Terima kasih
menceritakan remaja yg agak culture shock maybe. dia dr bandung yg isiny ank ank keren hrs pondah ke serang, yg saat itu tuh msh kampung bgt. itu jg jd salah satu alasan kelakuannya makin menjadi.
Akhirnya saya dapat membaca novel yang begitu populer di dekade 80an ini. Yang paling tidak saya suka dari novel ini adalah bagaimana penulis mengagungkan karakter Roy begitu tinggi.
pertama kali mengenal ROY berpuluh tahun yang lalu, i was straightly madly deeply in love.. roy, bagiku, adalah sosok laki-laki sejati! (sejujurnya, aku adalah pembaca naif yang terhipnotis dengan jargon kejantanan ala lelaki yang digambarkan lewat sosok roy oleh gola gong). pokoknya, aku begitu jatuh cinta sampai sampai aku sudah menamai anak laki-laki ku yang belum kubuat dengan nama: ROY; atau paling tidak dengan plesetannya: RIO. :)
membuka kembali ROY adalah seperti menabung kerinduan akan jajanan depan sekolah sma dulu. ada dorongan rasa dari masa lalu yang begitu kuat menarik-narik dan menggoda. lalu mendadak saja, jajanan yang sama, penjual yang sama, harga yang beda pasti, dan rasa yang loh kok jadi tidak enak. ??
kalau dulu aku sempat heran kenapa para produser sinetron tidak pernah tertarik menserialkan ROY, mengingat LUPUS pernah mendulang sukses di tv dan film, sekarang aku malah bersyukur. ya ampun, apa yang bisa dipetik anak muda generasi penerusku dari seorang remaja gondrong yang kecanduan rokok, obat-obatan, ngebut, tinggal kelas, playboy dan tega meninggalkan ibunya demi kesombongannya sebagai laki laki?
apakah zaman yang sudah berubah? atau memang ROY hanya asik dinikmati ketika kita masih muda, senang hura-hura, dan tak perlu memikirkan hidup, cinta, pekerjaan dan uang?
atau barangkali ini kekecewaan karena aku tidak bisa menjadi seperti ROY?
apapun, yang pasti, aku sudah bertekad tidak akan menamai anak laki-laki yang sudah kubuat tapi belum jadi itu dengan nama: ROY. (apalagi setelah ROY marten terperosok narkoba). atau dengan plesetannya: RIO.
"Kalau aku berdiri di gunung kesunyian jiwaku, mendengar suara zaman, cemas rasaku mendengar bunyi yang palsu dan kecapi batinku putus, karena hanya bisa mengeluarkan lagu yang merdu, lagu angin pegunungan, lagu ombak di pantai danau tanah airku. Oh, tanah tumpah darahku, banyak suara yang keluar dari lembahmu sekarang, yang tidak kukenal, tidak kukenal, tidak dapat ditiru"..Sanusi pane. halaman 133
Buku ini mengisahkan tentang lika liku kehidupan seorang remaja yang bernama Roy yang terpaksa harus pindah ke Kota banten bersama ibunya ketika Ayahnya meninggal dari pendakian gunung. gara2 Roy mendekati si venus alias Ani yang merupakan bintang pujaan disekolah ia harus terpaksa kehilangan Anjing kesayangannya Joe.. pertentangan batin yang terjadi di dalam Roy, kisah sahabatnya yang meninggal, ia selalu dikelilingi wanita namun hatinya tetap terasa kosong hingga ia lari mencoba ke obat-obatan terlarang
Baca buku ini jadi kasihan sama kisah Roy.. Dia seperti tidak punya tujuan hidup dan hidupnya sangat hampa sekali. Gloomy banget abiz baca buku ini.. kata2 "sendiri.. sepi" sering terulang-ulang di buku ini sehingga menunjukkan Roy yang kesepian.. Pada akhirnya di buku kesatu ini ia memilih untuk melakukan Avonturir atau backpackers istilah kerennya. Pergi mengelilingi Indonesia disaat nilai mata pelajaran sekolahnya kebakaran dan terancam tidak naik kelas.
Roy.. royy betapa sedih melihat nasibmu.. tapi saya suka banget sama penggambaran objek2 wisata dan sejarah di balik kota Banten yang memiliki monumen perjuangan, dan sempat menjadi pusat dagang di Indonesia. well, buku ini saya berikan hmm 2,8 dari 5 bintang? :)
Roy Boy Haris baru saja pindah ke Serang. Di sini dia mengalami segalanya: cinta, persahabatan, dan permusuhan. Segalanya hancur ketika Joe, anjing pemberian almarhum ayahnya, mati dibunuh Dulah dan sekawanannya. Ditambah lagi Andi, teman satu gengnya, meninggal karena kecelakaan. Begitulah, dan Roy berubah menjadi bad boy. Menenggak narkoba dan kebut-kebutan di jalan.
--o--
Ya, inti cerita ini cuma begitu. No more. Simple dan, ya, seharusnya menghibur. Tapi dengan amat sangat kecewa aku terpaksa cuma kasih bintang minimal. Yap, one star only.
Hal pertama yang bikin aku kebingungan di sini adalah: apa benar si Roy mendadak berubah berandalan hanya karena matinya si Joe dan si Andi? Oh, hanya karena matinya si Joe lebih tepatnya, sehingga cerita ini dikasih judul Joe? Om Gola Gong pada awalnya cuma cerita kalau Joe mati, Andi juga meninggal, terus eh tiba-tiba si Roy ini jadi berandalan dan bilang kalau keberandalan si Roy ini karena kedua alasan di atas. Dia nggak melibatkan proses gimana si Roy jadi nakal. Hubungan sebab-akibat di sini kosong melompong. Ujug-ujug lan mak bedunduk. Jadi kenapa Roy mendadak nakal? Oke, awalnya dia emang udah bandel. Tapi tingkat kebandelannya yang tiba-tiba naik drastis ini yang agak “gimana”. Semua terlalu tiba-tiba, dan terlalu cepat.
Roy itu teman imajiner yang saya kenal waktu masih duduk di bangku SMP, ketika itu ia hanya muncul di majalah Hai...gara-gara roy saya selalu ingin menjadi avonturir ketika SMA dan Kuliah..namun tak pernah kesampaian.... setelah lulus kuliah....ternyata kesempatan membawa saya menjadi seorang avonturir....semangat avonturir Roy selalu saya ingat ketika saya melakukan perjalanan keliling Indonesia mulai tahun 2004 hingga sekarang pun masih.... Thanks Roy, saya bahkan mungkin telah melakukan lebih banyak perjalanan dari yang pernah kamu lakukan....mimpi saya adalah ketika menyelesaikan menyinggahi semua pulau di Indonesia (tinggal Pulau Irian sih), saya ingin berkelana ke Petra, Yordania...dan saya akan selalu ingat Roy
Akhirnyaaaa kesampean juga mencicipi kenakalan si Roy, tokoh legendaris andalan majalah Hai.
Hmmm yeaahhh gw emang ga mengalami masa2 kejayaan si Roy, tapi namanya tetap harum mewangi sp sekarang, dan gw msh tetep penasaran dengannya.
Ga sengaja nemu bukunya di toko buku (mmm lupa namanya..) di Plaza Tendean. Bukunya yg dah di re-launch sama Mizan, dipadetin jd 4 buku. Sayangnya cuma ada buku 1 doang.
Agak terganggu dengan bahasanya, ya mungkin itu gaya bahasa pada jamannya, tapi seru lah, model2 mas Boy cuma klo Roy gw ngerasa lebih real :)
mau lagi dong buunya yg lain.... hiks musti nyari dimana yaaa :(
Pertama baca, dipinjemin ma temen kerja. Agak2 telat sih, mengingat usiaku waktu itu dah 24. Haha. Padahal ini kan novel remaja. Tapi bagus juga. Ada banyak nilai moral yg bisa diambil dari kacamata seorang remaja Roy. Buku ini bisa mewarnai khasanah buku yang kubaca. Mengingat kebanyakan buku fiksiku cewek banget dan religius. But somehow, this book can be religious. Krn kita bisa menemukan Tuhan di mana pun kita berada. Lewat perjalanan kita pun bisa. Seperti Si Roy ini.
Pertama kali membaca buku ini saat saya masih duduk di kelas 2 SMU. Dan saya merasa sangat cocok dengan jiwa petualang dan keresahan si tokoh yang ingin melakukan banyak hal..
Ceritanya asyik dan menggugag. Kisah cinta, persahabatan, permusuhan dan tentang pengorbanan. Namun sayang saat ini saya baru membaca hingga BSR 2. Dan butuh waktu hingga setahun untuk mendapatkannya. Jika ada teman2 yang pernah membaca BSR berikutnya mohon berbagi cerita yaaa....
Saya belum terlalu akrab dengan karyanya Gola Gong. Tapi yang ini benar-benar menyegarkan. Menggambarkan realitas remaja masa kini dengan segala problematikanya yang hitam putih.
Banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah ini. Banyak pelajaran dan kata-kata yang menunjukkan jalan kebenaran. Selamat!
ini buku ini ingat masa2 sekolah tempo dulu sekitar aon 90'an apa lagi di selingi puisi inidah karya hary h. haris & toto st radik pada tiap bab nya yng isi nya sangat2 mengugah emosi kelaki-lakian ( jiwa muda ) pada sa'at itu . lalu kemana sekarang gola gong !.....
Inilah buku yg paling menginspirasi saya. Bagaimana tidak.. kehidupan ROY yang penuh kegelisahan merupakan hal yg jamak dirasakaan remaja usia tanggung seperti saya ini. Buku ini tidak memberikan semua jawaban akan pertanyaan saya namun mampu memberi arti lebih kepada hidup saya.
"Ah! Kalau kita sekarang ketakutan oleh sebab-akibat yang mengerikan itu, tentang kematian tadi, misalnya. Wah, sampai sekarang aku mungkin nggak pernah tahu siapa itu Gandhi, Tjut Nyak Dhien, dan banyak lagi orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya derni mewujudkan impian mereka."