70 years after the author wrote it, this book is still relevant. The Islamic character as it exists today has changed relatively little since Shakib's time. Unjust and selfish Muslim leadership, degenerated ulama with selfish aims of protecting their own lives instead of correcting the errors of their kings and heads, the ultra moderns and the ultra-conservatives. The Muslim world still awaits redemption at all levels, ruler and ruled, young and old, rich and poor. First published in the 1930s, this is a response to a letter Shaykh Muhammad Bisyooni Umran of Indonesia requesting the author to explain the causes of Muslim weakness at the present and the causes of the strength of the Europeans and the Japanese, the factors behind their glorious empires and sovereignty, their power and wealth. His response, written in a state of great agitation became one of the masterpieces of eloquence and a proof of his wisdom.
Syeikh Syakib Arslan, asal Syria, menulis buku ini pada tahun 1929 lagi - menjawab soalan seorang Syeikh berasal dari Sambas Indonesia, mengapa umat Islam tertinggal di belakang bangsa lain pada waktu itu?
Kedua-dua mereka dihubungkan oleh majalah al-Manar yang diredaksikan oleh Syeikh Rashid Ridha. Ini berlaku hampir 100 tahun yang lalu. Ketika Khilafah Uthmaniyah di Turki telah lima tahun berakhir. Buku ini menunjukkan keprihatinan para ulama' terhadap mundurnya umat.
Pada waktu itu kesatuan negara-negara Arab telah punah, dan setiap inci tanah air dirobek-robek dan dibahagikan oleh para penjajah. Satu tamparan hebat kepada peradaban Islam yang sedang melalui zaman suram.
Apa yang menginsafkan diri saya sebagai pembaca kecil, sebab-sebab yang dinyatakan oleh Syeikh Syakib Arslan itu sebenarnya masih lagi mencengkam kita pada hari ini - walaupun kian ramai orang Islam mula menyedari punca permasalahan dan bertindak mengatasinya. Antaranya adalah sikap enggan berkorban jiwa dan harta, sikap putus asa, serta sikap pesimis dan berasa hina diri.
Dalam buku ini juga dibincangkan secara ringkas mengenai peradaban Islam dan sejarah peradaban lain dalam hal maju mundur sesebuah peradaban, juga mengenai saling meminjam ilmu pengetahuan antaranya. Sejauh manakah boleh dikatakan sesebuah peradaban itu menjadi maju ataupun mundur disebabkan agama? Buku ini memberikan pandangan yang menarik berdasar fakta-fakta sejarah.
Buku ini telah berjaya mencerahkan saya mengenai peri pentingnya memahami konsep qada dan qadar yang tepat, serta membangkitkan semula 'ghirah' sebagai seorang Muslim dalam menghadapi kelesuan jiwa menghadapi ketertinggalan kita hari ini.
Selain itu, saya kian yakin dengan aliran pendidikan yang mementingkan ilmu mengenai ketamadunan, sejarahnya dan perbandingannya, supaya kita dapat benar-benar kenal setiap tusukan jarum-jarum halus beracun yang masih ada dalam badan peradaban Islam. Hanya dengan mengenali jarum-jarum halus beracun (yang berbeza dengan jarum-jarum akupunktur yang dapat menyembuhkan) maka kita dapat mengeluarkannya dan membersihkan semula racun-racun yang sedang menyakiti sekujur badan peradaban ini.
Buku yang hadir lebih dari 80 tahun ini masih relevan untuk kita baca dan ambil pedoman darinya. Syeikh Amir Syakib Arslan, anak kelahiran Lubnan ini yang mekar sebagai politikus dan ahli sejaraj yang terkemuka menjawab persoalan mengenai punca kemunduran Umat Islam hari ini, antaranya ialah Pengkhianatan umat islam sendiri terhadap agama mereka (kerana berpihak kepada penjajah dalam kempen menentang Uthmaniyyah), perpecahan orang islam sendiri kepada dua kelompok (yang satu ultra modern dan satu lagi terlalu conservative) dan keengganan umat islam sendiri untuk menyumbang harta dalam perjuangan jihad sedang ketika itu umat islam yang berjumlah hampir satu billion jika dikumpulkan sumbangan harta mereka, tentu dapat membantu mengalahkan jumlah yahudi yang hanya berjumlah kurang 30 juta orang).
Buku ini sebenarnya adalah tulisan beliau sebagai menjawab surat dari Sheikh Muhammad Bisyooni Umran dari Indonesia, yang diterima di tahun 1928. Sheikh Umran ingin tahu apakah penyebab kemunduran umat Islam, khususnya bagi umat Islam di Tanah Jawa dan Tanah Melayu.
Sometimes people find themselves in such a mess that the only consolation seems to be to relive the past. In fact so impotent are Muslims now that even their glorious past is relived through orientalist works. Thus we find hundreds of books on Muslim achievements of the so-called academic and objective bent, written by Muslims and non-Muslims, as if even the Muslim mind were colonised. Hundreds of books also flood libraries on Islamic laws and principles, ideals and beauty, without considering whether these principles can be put into practice at a time when Muslims are in the worst situation — humiliated and subjugated despite the enormous amounts of wealth flooding their cities.
Saya harus membaca buku ini untuk menemukan jawaban atas kemerosotan ummat islam terlebih ummat ini sibuk berperang sesama muslim. bagi mereka yang membuat senjata peperangan diantara muslim menjadi tempat adu canggih senjata mereka dan juga mengambil keuntungan dari kebodohan ummat ini. mereka makin lama makin canggih dan semakin maju sebaliknya muslim makin terpuruk kedalam jurang kehancurannya.