"Agama Islam berbeda dengan agama lain, mempunyai beberapa aturan yang berkenaan dengan hukum-hukum kenegaraan dan pidana (uqubat), dan beberapa peraturan yang berhubungan dengan muamalah. Semua itu merupakan bagian-bagian yang tak dapat dipisahkan dari agama Islam itu sendiri." (M. Natsir)
Sebagai seorang politikus, negarawan, dan seorang da'i, M. Natsir banyak memberikan sumbangan pemikiran dan karya nyata bagi dunia Islam. Beliau bukan saja sebagai tokoh dan pemimpin untuk Islam di Indonesia ini, tetapi lebih luas dari itu, beliau adalah tokoh dan pemimpin Islam di seluruh dunia.
Perjuangan sosok bersahaja ini tidak berjalan begitu saja dengan mulus tanpa rintangan dan pengkhianatan. Berkali-kali beliau harus tersingkir dari dunia politik, dilarang bepergian ke luar negeri, bahkan harus berada dalam sel penjara demi memperjuangkan Islam sebagai ideologi negara ini. Ini terjadi pada masa penjajahan, pada masa Orde Lama, maupun pada masa Orde Baru.
Dalam buku ini, berbagai hasil pemikirannya tentang dakwah dituangkan dalam bentuk yang ilmiah, terinci, dan sistematis. Apa yang dicita-citakannya bagi kejayaan Islam di atas dunia ini dan bagaimana pola yang diterapkannya untuk mencapai apa yang dicita-citakannya itu, dapat Anda simak dalam buku ini.
Semangat kebangkitan bangsa yang digambarkan sebagai BALDATUN THOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUR, Negeri yang Adil, Makmur, Sentosa dan mendapat pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Siapa yang tak kenal Mohammad Natsir? Tokoh ini merupakan salah satu tokoh terbesar nusantara di era pergerakan nasional dan awal kemerdekaan Indonesia. Tokoh yang di era 1930-an sering beradu pemikiran dengan Soekarno ini merupakan tokoh Islamis yang begitu menginspirasi. Konsistensinya memperjuangkan negara Islam melalui Masyumi tentu sudah sering kita dengar. Kali ini saya akan mencoba sedikit mereview salah satu buku yang memuat pemikiran-pemikiran beliau. Buku tersebut berjudul “M. Natsir, Dakwah dan Pemikirannya”, tulisan Dr. Thohir Luth. Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press ini pertama kali terbit pada tahun 1999. Buku yang ada pada saya merupakan cetakan ke-2, tahun 2005. Saya sendiri baru membelinya bulan Agustus 2011 ini dengan harga miring saat TB. Gramedia sedang obral buku. Buku ini, sesuai judulnya memang lebih banyak berbicara tentang pemikiran M. Natsir di bidang dakwah Islam, baik ketika beliau memimpin Masyumi, maupun dan terlebih lagi setelah beliau meninggalkan panggung politik praktis dan berkonsentrasi di bidang dakwah melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang beliau dirikan. Untuk mengetahui fokus pembahasan buku ini dan sedikit pemikiran M. Natsir tentang dakwah Islam, mari kita menyimak kalimat-kalimat yang diuntaikan oleh penulis buku ini di bab Pendahuluan.
“Khusus dalam bidang dakwah Islam, M. Natsir adalah seorang yang tangguh yang mencoba menerobos dakwah Islam melalui tembok-tembok birokrasi dan juga melalui wilayah-wilayah yang terpencil dengan mengirimkan tenaga dai ke tempat-tempat tersebut. Proses reislamisasi dan islamisasi pada daerah-daerah tersebut sulit dibantah kenyataannya. Bahkan, pelosok-pelosok yang didatangi dari dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia merasa tersirami rahmat Islam dan akhirnya mendirikan berbagai sarana pendidikan dan dakwah Islamiyah. Melihat kenyataan-kenyataan tersebut, penulis sangat tertarik untuk mengkaji konsep dan isi dakwah Islam yang dilakukan oleh M. Natsir. Sudah tentu konsep-konsep dakwahnya tidak sesederhana dugaan sebagian orang, karena ia diakui sebagai orang yang tekun, terutama dalam lapangan dakwah. Penulis melihat konsep-konsep dan isi-isi dakwah yang dikembangkannya sangat menyatu dan kompak, tergalang secara padu melalui pemikiran dakwah Islam secara lisan, tertulis, dan perbuatan nyata. Konsep-konsep tersebut dikembangkan melalui organisasi yang didirikannya, yaitu Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Hal inilah yang menyebabkan M. Natsir sukses di panggung dakwah Islam. Oleh sebab itu, tidak salah kalau M. Natsir yang pernah gagal menggunakan organisasi politik dalam memperjuangkan Islam itu, kemudian menggunakan organisasi dakwah untuk memperjuangkan Islam. Tampaknya organisasi bagi M. Natsir merupakan alat yang strategis untuk mengajak umat berbuat kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan yang buruk. Bagi M. Natsir, risalah Islam melalui dakwah Islam menyatu dalam tiga bagian pokok. Pertama, menyempurnakan hubungan manusia dengan Khaliqnya, hablun minallah atau mu’amalah ma’a al-Khaliq. Kedua, menyempurnakan hubungan manusia dengan sesama manusia, hablun minan-nas atau mu’amalah ma’a al-khalqi. Ketiga, mengadakan keseimbangan (tawazun) antara kedua itu dan mengaktifkan kedua-duanya seiring dan sejalan. M. Natsir tampaknya menggunakan ketiga poin tersebut dalam pemikiran dakwah, sekaligus menggerakkannya melalui organisasi dakwah sebagai alatnya. Karenanya, bisa dipahami, mengapa dalam perjalanan hidupnya sangat korektif terhadap hal-hal yang menurut pandangannya merusak keseimbangan hidup sebagaimana disebutkan di atas. Beliau sangat peka dan tanggap terhadap setiap gejolak zaman yang cenderung melemahkan ajaran agama, kemudian mengantisipasinya dalam bentuk gerakan dakwah secara lisan, tulisan, maupun perbuatan nyata.” Secara khusus, buku ini juga menyebutkan tujuan dakwah menurut M. Natsir. Mengutip brosur serial Media Dakwah terbitan DDII yang terbit tahun 1975, penulis buku ini mengungkapkan tiga tujuan dakwah menurut M. Natsir. Berikut saya kutipkan tujuan dakwah menurut M. Natsir sesuai redaksi asli yang disebutkan oleh buku ini: 1. memanggil kita kepada syariat, untuk memecahkan persoalan hidup, baik persoalan hidup perseorangan atau persoalan berumah tangga, berjamaah-bermasyarakat, berbangsa-bersuku bangsa, bernegara, berantarnegara, 2. memanggil kita kepada fungsi hidup kita sebagai hamba Allah di atas dunia yang terbentang luas ini, berisikan manusia berbagai jenis, bermacam pola pendirian dan kepercayaannya, yakni fungsi sebagai syuhada ‘ala an-nas, menjadi pelopor dan pengawas bagi umat manusia, 3. memanggil kita kepada tujuan hidup kita yang hakiki, yakni menyembah Allah. Demikianlah, kita hidup mempunyai fungsi tujuan yang tertentu. Dari tujuan dakwah yang dikemukakan oleh M. Natsir di atas, sangat jelas beliau adalah dai dan pejuang Islam yang konsisten untuk meninggikan kalimatullah. Bagi beliau, sarana dan alat boleh berubah dan berganti, namun da’wah ilal haq, da’wah ilal Islam, akan terus bergerak dan hidup. Semangat seperti ini tentu harus menjadi inspirasi bagi pemuda-pemuda muslim masa kini. Konsistensi M. Natsir dalam menggeluti dakwah Islam sepanjang hayatnya tentu harus kita duplikasi pada diri kita, pemuda zaman ini. Terakhir, saya sarankan bagi siapa saja, terutama pemuda-pemuda muslim yang memiliki idealisme, untuk mengkaji buku ini. Tentu bukan untuk membenarkan 100% pemikiran M. Natsir, namun lebih dari itu, buku ini harus jadi bahan baku untuk terus mengasah ketajaman pikiran kita, untuk menimbang segala aktivitas kita selama ini secara jujur, dan –yang paling penting– mengambil semangat M. Natsir dalam dakwah Islam.
Apakah Anda Sependapat dengan beberapa hal di bawah ini ? 9 Formula Kebangkitan Bangsa, disarikan dari sikap, pandangan serta prinsip perjuangan dan pergerakan keluarga besar bulan bintang dari masa ke masa. 1.Anti Kultus Individu,menuju supremasi demokrasi yang adil dan bermartabat 2.Anti Disintegrasi Bangsa,memperjuangkan tegaknya kedaulatan NKRI 3.Anti Komunisme dan neo Komunisme,menjaga keutuhan jatidiri bangsa 4.Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menuju tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa 5.Anti Monopoli Ekonomi,menuju pemerataan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat 6.Anti Premanisme Hukum dan Mafia Peradilan,menjunjung tegaknya hukum dengan setegak – tegaknya. 7.Anti Pemurtadan dengan segala bentuknya menjunjung setinggi-tingginya kebebesan beragama dan berkeyakinan 8.Anti Miras, Narkoba dan Psiko Tropika,mengedepankan peran agama sebagai benteng moral bagi generasi anak bangsa 9.Anti Komersialiasi Pendidikan,mendorong pendidikan murah dan berkualitas yang berpihak pada masyarakat. 9 Formula ini bisa menjadi inspirasi bagi lahirnya kembali semangat kebangkitan bangsa yang digambarkan sebagai BALDATUN THOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUR, Negeri yang Adil, Makmur, Sentosa dan mendapat pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.