Coloured Lights is the first collection of short stories from the winner of the Caine Prize for African Writing 2000, and it includes the winning story The Museum.
Leila Aboulela grew up in Khartoum, Sudan where she attended the Khartoum American School and Sister School. She graduated from Khartoum University in 1985 with a degree in Economics and was awarded her Masters degree in statistics from the London School of Economics. She lived for many years in Aberdeen where she wrote most of her works while looking after her family; she currently lives and lectures in Abu Dhabi.
She was awarded the Caine Prize for African Writing in 2000 for her short story The Museum and her novel The Translator was nominated for the Orange Prize in 2002, and was chosen as a Notable Book of the Year by the New York Times in 2006.
i really feel grateful for my friend jennifer ismat who introduced me to this amazing Sudanese writer .. i loved the book .. all the stories .. and i can guarantee that she did well in reflecting the conflicts inside the Muslim immigrant smoothly ,, i loved the touch of the Sudanese culture that she put in some of the stories .
Ini pertama kalinya saya membaca buku Leila Aboulela. Maka ekspektasi saya tidak tersetting sejak awal, hanya saya terpesona dengan cover yang manis dan sebuah tanpa Pemenang CANE PRIZE 2000 membuat saya yakin dan memboyong dari tumpukan obral. Ditambah puji-pujian di halaman pertama, mantablah saya.
Cerpen pertama adalah Lampu Warna-warni yang juga dijadikan judul dalam buku ini. Cerpen ini manis sekali, saya langsung membayangkan cerpen-cerpen di Majalah Femina. Lampu-lampu kota di London dan seorang kondektur berwajah India, membuat 'tokoh aku' terbawa ingatannya pada Taha, kakaknya yang meninggal sehari sebelum hari pernikahan. Kenangan membuat perjalanannya menjadi lebih sedih. Tetapi bukan hanya itu saja, ada pergolakan budaya dalam cerpen manis ini. Aku merasa terasing di tempat ini, di mana kegelapan alam datang secara tidak wajar pada jam 4 sore namun orang-orang tetap sibuk ke sana kemari dengan urusan masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa (hal.10) sebagai tanda ada pergesekan budaya dalam diri si aku, yang berdarah timur tengah. Atau penulis juga menyebutkan sosok perempuan yang berpendidikan: Ibuku, seorang wanita beriman, meratap dan menangis namun tidak menuangkan debu ke atas kepalanya atau merobek-robek pakaiannya seperti yang dilakukan para wanita tidak terpelajar (hal.16)
Cerpen Oleh-oleh menurutku juga seru. Problem pria Sudan yang menikahi wanita Barat, sangat terasa. Yassir menikahi Emma, yang ditentang oleh ibunya. Bahkan ibunya tidak berkenan memanggil nama Emma. Hanya dipanggil "Istrimu, siapa namanya?". Emma juga enggan bersilaturahim ke rumah Yassir. karena takut Malaria, dll. Suatu kali, Yassir pulang ke negaranya, dan Emma meminta oleh-oleh. Ya, di sinilah pergulatan emosi Yassir dan dilema.
dan cerpen Tamu adalah favorit saya. Bagaimana pergulatan seorang dokter bernama Amina di tengah kondisi masyarakat Sudan yang miskin dan tidak cukup fasilitas kesehatannya.Salah satu pasien anak bernama Hassan begitu dekat dengannya. Suatu kali dia mengantar Hassan ke rumah. Dan mampir. Dia membawa oleh2, makanan dan baju untuk Hassan. Keluarga Hassan miskin dan bisa ditebak banyak anak. Namun sebagai balasan keluarga Hassan balik berkunjung ke rumah Amina. Namun sayangnya bertepatan dengan kedatangan calon suami dan mertuanya. dan itu membuat tidak enak Amina. Keluarga Hassan datang membawa bingkisan yang isinya luar biasa. Di cerpen ini sangat terlihat manusiawi sekali. Orang berbalas kunjung, dan orang miskin selalu merasa inferior dan harus membawa aneka oleh2 berharga ketika berkunjung ke rumah orang yang dihormati.
Aku merasakan simbolisasi Burung Unta sangat menarik. Dibenturkan dengan budaya barat-timur. DIkisahkan adalah banyak orang dari Sudan ramai-ramai imigrasi ke Barat (Inggris) karena negaranya miskin, tidak layak huni, dan kisruh peranga saudara. tapi sayangnya, setelah imigrasi banyak yang tidak balik. Ini adalah dua bulan setelah aku dari Sudan, dan semuanya berawal dari semula. Saat di bandara dia bertemu dengan laki-laki yang dijuluku Si Burung Unta. Si burung unta juga punya istri asal negaranya yang diposisikan di rumah saja. Dan endingnya: Aku ingat mengapa istri si Burung Unta rasanya tidak asing bagiku. Dia adalah aku dalam versi yang lebih muda (hal.74)
Cerita Pemuda dari Kedai Kebab menceritakan tema yang sangat sensitif, terlebih setting di Inggris. Dina (Ibu Mesir-Ayah Skotlaandia) dan Kassim (Ibu Skotlandia-Ayah Maroko) berhubungan yang bermula sebuah penggalangan dana untuk Kosovo. Tapi kondisi kelaurganya berbeda. Kassim muslim sangat ketat, namun malu-malu dalam menjalankan syariat islam. Sebaliknya Dina, meski ibunya muslim, tapi sangat jauh dari dunia islam. Ibu Dina merasa dikucilkan keluarga besarnya di Mesir, karena menikahi lelaki Skotlandia. Dan tidak dibagi warisan. Maka ketika suatu siang, Dina melihat Kassim shalat ada ketakutan dan sekaligus ketengangan religius yang dirasakan Dina. ragu-ragu di dalam kesejukan spiritual yang ditawarkan Kassim dengan rumah orangtuanya yang kosong dan tanpa arah(hal.92)
Makan Siang Selasa bagi Nadia yang muslim di sekolahnya adalah risoto ayam, pai daging babi, terung tumbuk, kentang rebus, salad tomat dan kacang, kue serta yoghurt buah. Sedang ibu kantinnya Bu Hickson tahu tentang larangan daging babi bagi Nadia. Tapi siang itu Bu Hickson tidak hadir karena sakit. Dan Nadia dihadapkan pada kegamangan, antara mencoba pai babi atau seperti biasa. Nadia makan pai babi, dan sepulangnya Nadia sakit.
kalau di cerpen Pulanglah Sendiri, kembali dikisahkan Nadia yang sudah beranjak dewasa dan mulai berkenalan dangan perbedaan orang Timur-Tengah dan Barat dalam memandang pergaulan wanita. Di negara asal Ibunya Lateefa, Mesir, wanita tidak boleh membiarkan kakinya telanjang. Bahkan tidak diperkenankan nonton fim di bioskop. sedangkan di barat semuanya diperbolehkan. Kehormatan seorang gadis itu seperti batang korek api, apabila sudah patah sudah disambung kembali (hal.106)
Cerpen MUSEUM adalah favorit saya yang lain. Cerpen ini mengisahkan Shadia yang sedang mengambil master stastistika di Aberdeen. Di sana dia bertemu dengan Bryan, memakai tindik dan berambut gondrong namun pintar. Shadia awalnya sangat takut dan sungkan dengan Bryan, karena Anting-anting itulah yang membuatnya takut, juga rambut lurus panjangnya yang diikat dengan karet gelang. Shadian belum pernah melihat lelaki dengan anting-anting dan punya rambut sepanjang itu. (hal.124). Tapi justru Bryan membawa kegamangan sendiri, bukan persoala cinta, karena Shadia sudah dijodohkan dngan Fareed. Tapi pandangan orang Barat terhadap Afrika selalu berasal dari dunia ketiga. Bahkan keluarga Shadia lebih kaya dan terhormat daripada keluarga Bryan yang tukang kayu dan penjual gula-gula, serta kunjungan di museum Afrika bersama Bryan membuatnya sadar bahwa pandangan barat selama ini keliru. Di musuem menampikan kebohongan. Sudan-Afrika bukan hutan berisi belantara dan antelop, tapi manusia yang hidup, kaya, mercedes, punya 7Ups, dan perabot dari emas.Tjakeps!
Seorang lelaki muslim asli Sudan, Hamid menikahi Ruqayyah, asli Skotlandia yang sudah muslim dan menjanda dengan dua anak kulit putih Robin dan Sarah. Hamid membutuhkan visa dan Ruqayyah membutuhkan sosok suami yang mampu melindungi dan dua anak dari suami terdahulunya. Tapi ternyata Hamid tidak sebaik dan seislami Ruqayyah. Hamid suka minum alkohol dan pilih kasih pada anaknya, jadinya hanya MAJED anak kandungnya saja yang dikasihi Hamid. Simple tapi seru.
Ketiga cerita sisanya, Cerita Lama Cerita Baru, Hari-hari Berputar, dan Permadani Radia masih memakai gaya manis. Menurutku biasa saja, enak dibaca.
Selepas membaca, saya merasakan gelora berapi-api dari penulis yang ingin Sudan, negaranya dan Afrika dikenal Barat tidak hanya sebagai negara 'somewhere', dunia ketiga, atau kemiskinan saja. Di sana ada manusia dengan kehidupan yang sama atau bahkan lebih mulia. Dan posisi wanita muslim di tengah kehidupan muslim SUdan dan budaya Barat adalah hal seksi. Benturan budaya selalu menghasilkan patahan yang indah untuk diceritakan. Aku suka, pengen ke buku yang satunya The Translator. Suka!
Ini pertama kalinya aku membaca karya Leila Aboulela meski karya novelnya The Translator sdh berkali-kali masuk radar bacaku, sayang blm berjodoh. Lampu warna-warni ini kumcer yg sebagian besar menceritakan kisah-kisah imigran muslim Sudan (Negara Afrika asal Aboulela), di negara barat, terutama Inggris. Mengingat apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini di Manchester dan London, cerita-cerita di buku ini menjadi sebuah catatan kaki penuh makna dalam memberikan sisi manusiawi mereka. Tidak, ini tentu saja bukan kisah bernuansa politis atau apapun. Kisah-kisah ini 'hanyalah' penggambaran culture shocked yang memperluas empati.
Cerpen favoritku, Tamu, yang benar-benar menggetok (dan sedikit mencibir) rasa kedermawanan kita. Lalu ada juga cerpen Museum yang memperlihatkan bagaimana prasangka orang timur pada budaya barat, dan bagaimana orang barat menikmati keprimitivan budaya timur. Cerpen Kekasih terasa miris karena perubahan dan kemajuan melebarkan perbedaan antara kekasih, lebih dari jarak itu sendiri, sementara Majeed dan Pemuda dari Kedai Kebab berkisah tentang kisah cinta yang disatukan dari perbedaan. Tokoh Nadia muncul dalam dua cerpen, Makan Siang Selasa dan Pulanglah Sendiri. Dua tema berbeda tentang perbedaan budaya yang diangkat secara apik dan jujur.
Like all the best short story writers Aboulela takes you somewhere specific and sketches in great characters within a few lines. Learnt a lot about Sudan and Islam. Would read more. The stories I liked best are the ones I read in one bite while wide awake. A lesson there. So The Museum, Majed and Baby Love.
Ciri khas tulisan Leila Aboulela adalah kehalusannya, meski topik yang diangkat termasuk berat, perbenturan budaya. Mungkin sama seperti cara Divakaruni bercerita tentang perbenturan budaya imigran India di Amerika. Cerita-cerita dalam buku ini mengisahkan perjuangan para imigran muslim dari Sudan di Inggris, juga orang-orang Inggris yang mengalami persentuhan dengan Islam dan berhubungan dengan para imigran tersebut.
Pergulatan batin para imigran ini tergambar dengan begitu jelas melalui dialog-dialog dalam hati yang dilakukan para tokohnya. Ada rasa minder dan tak berharga di hadapan orang-orang kulit putih (Kalau kau menutup rambutmu di London, mereka akan mengira aku yang memaksamu melakukan itu. Mereka tak akan percaya kaulah yang menginginkannya.), rasa sedih karena terpaksa menjadi bagian dari kelompok intelektual Sudan yang meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Namun ada juga rasa bangga dan keangkuhan karena menganggap diri mereka lebih mulia dibandingkan orang-orang kulit putih yang dingin, tak berbudaya dan tak beragama.
Sisi menarik yang diungkapkan Leila dalam kisah-kisahnya adalah betapa orang Islam sering kali melupakan ajaran agama dan jati dirinya ketika berada jauh dari kampung halaman yang begitu mendukung ritual keagamaan mereka. Malah orang-orang asing yang kerap mengingatkan mereka untuk kembali mengingat Islam, seperti dalam cerpen Museum.
Di antara keindahan dan kehalusan kata-kata yang dirangkai Leila, cerita-cerita dalam buku ini membuat saya berpikir, benarkah saya sudah memeluk Islam atas kesadaran sendiri dan bukan sekadar melanjutkan agama orangtua? Bisakah saya bertahan andai saya berada di negeri yang suara adzan pun tak pernah terdengar sepanjang tahun?
Saya teringat percakapan dengan teman saya bertahun-tahun lalu. Dia Islam, tapi tak pernah shalat, puasa, maupun ritual keagamaan lainnya. Percakapan kami sebenarnya hanya dimulai dengan bercanda. Saya bilang, kalau tarawih saya sengaja jalan kaki ke masjid, supaya pahalanya banyak. Karena setiap langkah dihitung sebagai pahala. Teman saya menukas, "Kok kayak anak TK aja, shalat cuma buat ngejar pahala, ngejar nilai!"
Saya terenyak. Ucapan teman saya hanya sepintas lalu, dan mungkin tidak serius, tapi cukup membuat saya malu. Karena dia benar. Seharusnya saya shalat bukan demi mendapatkan imbalan, tapi karena saya butuh 'bertemu' Allah. Dan ironisnya, yang mengingatkan saya justru orang yang saya anggap tak kenal agama.
Itu sebabnya saya selalu yakin bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja, apa pun wujud dan bentuk luarnya. Saya percaya itu, sampai kapan pun.
No doubt Aboulela is a a good writer, she knows how to put simple feelings into words. Her themes are precise rotating around the experience of exile and immigration. Aboulela's works can be considered as autobiographical. There is much of reality and simplicity depictions in her text, may be as a modern writer she puts the imagination a side and decides to write only what she sees and feels, and personally I think that quiet enough to be a writer.
The originality in the coloured lights come with different corners that depict the experiences of Muslim migrants. How they deal with situations of "otherness", isolation, and how they struggle to fit in and have some sense of belonging. I believe that aboulela endovoured to shift us to a new stage beyond the stagnant discourse of post-colonial literature, she presents the marginalized modern characters still effected by the experience of colonialism, not fighting colonialism, not reclaiming his writes but trying to live through and find a fresh peaceful discourse with "the Other'.
New author for me and id definitely read more. Some really enjoyable insights into what it means to be a Sudanese woman with connections in the UK and beyond. My favourites were: Colored Lights, Souvenirs and Make your own way home. The last 2 stories are odd in that they don't seem to fit with others.
ok this is my first of leila,s book after a long journey of searching for her books so i was having a great expectations for this one , you can,t denail that leila is a great writter with a very good way of butting it in paper , which actully made me very confused all the stories where well written but some of them were pointless , made me just looking to the end saying whaaaat !!! . some of the stories were just great extreemly different with ending that made say wow . i liked to stories but i was disspointed with the rest , i hope the rest of her books i bought would be better .
Pada awalnya saya merasa buku ini lumayam membosankan karena agak kurang "bersih" terjemahannya. setidaknya sampai cerpen ketiga, penerjemahannya terasa kurang matang. Tetapi semakin saya baca, semakin saya tenggelam dengan kehidupan para imigran Sudan.
Sebenarnya saya agak bosan juga sih dengan cerita cerita orang Islam di Eropa dimana saat ini menjadi semacam cerita mainstream dengan berbagai hashtag proud islam bla bla bla. Tapi buku ini lebih "adem-adem melankolis" daripada yang saya harapkan dan semakin saya baca, semakin saya merasakan kerinduan yang puitis penulisnya akan kampung halamannya. Kadang saya menangkap kesan kesombongan dalam cerita imigran negara berkembang ke negara maju. Semacam itulah.
Saya beri 4 bintang karena buku ini adalah satu dari sedikit buku yang membuat saya tertarik membaca dalam versi bahasa aslinya, karena saya memiliki harapan untuk dibuai dengan lebih lagi :3
I felt like this was the Sudanese version of "Interpreter of Maladies." A lot of the same issues relating to immigration, displacement, inter-racial relationships, etc. I guess what was different was the emphasis on the role of Islam amidst all of that. The stories were not as well-developed as they could have been. But, I did enjoy "Visitors" and "Tuesday Lunch". Tuesday Lunch was about an 8 year old girl whose mother made sure to tell all of the teachers/staff at her school that she doesn't eat pork--but one day, when the main lunch lady was absent, the girl is tempted to ask the substitute for the pork option b/c she's curious about what it tastes like. Within an hour, she throws up her entire meal in the class and is sent home. It was a bit more light-hearted than the other stories.
Dapet buku ini dari DERI ARDIA as a birthday present! Di sinopsisnya, buku ini menceritakan tentang imigran Muslim di Inggris; pertentangan budaya dan perjuangan spiritual, dan juga hubungan antara orang dari budaya dan keyakinan yang berbeda. Kata salah satu reviewer (The Sunday Herald), Leila Aboulela menunjukkan ragam kemungkinan dalam menjalani hidup di Dunia Barat dengan latar belakang pengetahuan dan cara berpikir nonbarat yang berbeda. DERIII kamu nulis di ucapannya kamu gak tau aku suka buku apaa, ih bohong ah, ini bukunya menarik dan intriguing banget koook buat aku. TERHARUUUU! Kamu thoughtfull banget deh. Lagipula, gak masalah buku atau barang atau ucapan atau apapun yang dikasih. Aku terbersit di pikiran kamu aja aku udah seneng banget koook kyuwww :''))
Coloured lights , it is a short stories collection .In the Beginning of the book she wrote about her brother death at the day of his wedding , the cause of his death was the coloured lights. All the stories characters are Muslims, the stories talk about how Muslims live in the west . I really liked the stories , but i mostly liked coloured lights and vistors . I like the way Liela Aboulela write a novels they are very emotional and her way of writing always reflect the Muslim world and Arab culture.
Tiga belas cerita pendek karya Leila Aboulela yang terangkum dalam buku berjudul 'Coloured Lights' ini sebagian besar mengisahkan persinggungan sosial, budaya, hingga religi yang dialami oleh imigran Muslim dari Afrika (terutama Sudan, negara asal penulis) selama berada di tanah Britania Raya.
Kisah-kisah yang ditampilkan memang terasa begitu dekat dan sering terjadi sehari-hari sehingga seakan-akan konflik yang ingin ditampilkan tidak begitu terasa sehingga cerita sedikit terkesan hambar dan membosankan. Tetapi mungkin saja hal itu memang cara penulis untuk menyampaikannya.
Picking up this little book, I thought I would enjoy best The Museum, the short story that won the inaugural Caine Prize for African writing. But I liked the ostrich much better. The short stories are precise and unpretending. Recently shortlisted for the commonwealth best book in the UK for her book, Lyrics Alley, Leila is probably becoming one of the few most outstanding writers with an African origin. Too bad most of these are based abroad.
Apart from the last two stories, which have a touch of magical realism, this collection of short story focuses on cultural encounters and otherness on a social and ethnic levels. The writer's style is beautifully easy but at times too direct. My favorite titles include, The Museum, Visitors, The Ostrich and Souvenirs.
This is an interesting book made up of short stories about immigrants and their struggles. It's definitely worth a read as there are several insights, including that of a man falling in love with an immigrant and the problems he then has to face.
just same as Divakaruni but this one is more pop and more touche. She put details in every story that made us realized int the end of the story, inserted moral of the story through words lead us. i liked Aboulela's way of story telling, smooth, pop and warm. :)
A series of stories that although short, speak to Leila's fascinating range of literary ability. Her writing style not only shows talent but pushes the reader's imagination into embodying each character in every story.
This short story collection is my introduction to Leila Aboulela. "The Museum" is a searingly beautiful story about privilege and point of view and my favorite of the lot.
This short story collection is my introduction to Leila Aboulela. "The Museum" is a searingly beautiful story about privilege and point of view and my favorite of the lot.