"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.” -Ibuk-
Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.
Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.
ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi nafas bagi kehidupan.
Penulis lahir di Batu 2 Desember 1974. Lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika ini bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Ia selanjutnya merambah karir di New York City selama 10 tahun. Pencinta yoga, sastra. dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 dengan posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai anak seorang sopir di Kota Batu ke New York City. Buku pertamanya Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didekasikan untuk Kota Batu. Iwan saat ini tinggal di Batu, Jawa Timur.
Jujur, saya pertama kali tertarik membaca buku ini setelah mengetahui bahwa "Ibuk" masuk ke dalam nominasi 10 buku terbaik tahun 2012. Merasa kering dengan buku Indonesia yang bisa memuaskan kerinduan saya akan kepuasan sastra, saya memutuskan untuk mencoba membaca buku ini. Setidaknya kalau buku ini sudah masuk ke dalam nominasi tersebut, berarti buku ini jauh lebih bagus daripada buku-buku lain. Atau paling tidak, ia memiliki hal yang menonjol.
Dari judulnya, "Ibuk" yang ditulis menggunakan aksen "k" di belakangnya, saya membayangkan sebuah kejujuran yang sederhana dalam tulisannya. Kesederhanaan yang berarti dan membentuk sebuah tulisan yang bermakna. Tidak banyak kata-kata indah dan metafor di dalamnya, tetapi tetap bisa membentuk sebuah karya yang menarik. Harapan saya itu ternyata terpenuhi di dua bab pertama. Membaca dua bab di awal buku tersebut telah menggiring benak saya akan ekspektasi kesederhanaan dan kejujuran lugas layaknya Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa. Banyak sekali dialek "Malangan" yang dituliskan di situ, membuat buku ini menjadi sangat membumi, jauh dari pretensi-pretensi pamer yang biasanya ditunjukkan oleh pengarang-pengarang saat ini.
Akan tetapi, suasana lugas dan sederhana itu menjadi rusak ketika sebuah kutipan dalam bahasa Inggris mulai dimasukkan setiap beberapa bab sekali. Terus terang, kutipan berbahasa Inggris itu terasa seperti sebuah usaha untuk membuat sang pengarang terlihat "keren dan pintar". Jujur saja, kutipan-kutipan itu justru merusak suasana kesederhanaan yang sudah terbangun. Rasanya tidak nyaman membaca cerita tentang sebuah keluarga yang sederhana dan berjuang keras agar anak-anak mereka bisa bersekolah dan tidak mengalami nasib seperti kedua orang tua mereka lalu tiba-tiba melompat sesaat ke dalam kutipan berbahasa Inggris. Pasti tidak terlintas di benak Tinah dan Hasyim untuk tiba-tiba berbicara dalam bahasa Inggris, di tengah dialog-dialog Malangan mereka.
Iwan Setyawan, yang ternyata mengarang sebuah buku lainnya sebelum buku ini, ternyata berusaha membuat referensi intertekstual dengan buku otobiografinya. Bagi saya, referensi intertekstual ini terkesan memaksa dan justru membuat "Ibuk" kehilangan fokusnya di paruh kedua buku. Paruh kedua ini lebih banyak bercerita tentang kehidupan dan kesuksesan Bayek, anak lelaki satu-satunya. Tidak ada lagi pengisahan kehidupan Tinah, tidak ada lagi dinamika kehidupan keluarga Tinah-Hasyim. Semuanya terfokus pada Bayek. Setelah mengetahui bahwa Bayek adalah Iwan sendiri, saya justru mendapati adanya pemikiran kenarsisan sang pengarang, yang berusaha memasukkan ceritanya sendiri -yang seharusnya sudah mendapat tempatnya sendiri di buku yang lain. Ah, tapi hal ini mungkin tidak valid. Bukankah seharusnya setiap buku ditilik dari sudut pandang "The Author is Dead"?
Sayang sekali, premis menarik yang dimiliki buku ini sejak awal, tentang kesederhanaan dan perjuangan Tinah, tidak dieksekusi dengan baik. Kalau saya boleh menyalahkan, Iwan Setyawan terlalu narsis disini dengan berusaha menunjukkan kepintarannya melalui kutipan-kutipan Dostoyevsky, Gandhi, dan lain-lain serta memindahkan fokus dari Tinah ke Bayek. Ingat mas Iwan, buku ini judulnya "Ibuk" dan bukan "Ibuk dan Bayek".
Perasaan saya baca buku ini sama persis dengan perasaan saya ketika nonton leg 2 semifinal liga champions: Barca vs Bayern semalem. Tau Barca pasti kalah, tapi tetep nonton karena pengen tau Barca bakal berjuang sekeras apa, sekaligus memberi dukungan moral kepada Kakanda Tito Vilanova *naon sih, pi*. Ga ada ekspektasi. Yang ada malah perkiraan negatif terhadap hasilnya. *apa banget deh sok nyambung-nyambungin* :/
Berangkat dari ketiadaan harapan, seperti hasil pertandingan itu, saya ga bisa dibilang kecewa sama Barca dan buku Ibuk. Saya cuma menyesali, kenapa Barca langsung down to earth begitu ada gol si Robben (wajar sih itu mah), dan saya juga menyesali kenapa ada begitu banyak Bayek di buku yang berjudul Ibuk ini (yang ini agak tak wajar). Kan kesannya jadi salah judul. Harusnya judulnya bukan Ibuk, tapi Ibuk dan Bayek. Karena yang saya tangkep, porsi Bayek dalam cerita ini nyaris sama banyaknya dengan porsi Ibuk, kalo ga bisa dibilang lebih banyak. Andai saya ngga tau bahwa Bayek ini adalah si penulis sendiri, mungkin ga masalah. Saya akan nganggep Bayek adalah protagonis baik hati yang ingin membalas kebaikan orang tuanya. Tapi karena saya tau Bayek ini adalah mas Iwan Setyawan, saya jadi nganggepnya mas Iwan ini narsis sekali ya. Hehehehe... maap ya mas, saya nuduh :P. Ini kan judulnya Ibuk ya, jadi saya kira fokusnya bakalan di Ibuk. Kalaupun mau cerita tentang anak-anaknya, ya jangan Bayek aja. Anaknya Ibuk kan ada lima. Walaupun mungkin yang paling sukses Bayek, tapi saya percaya, di mata Ibuk semua anaknya spesial dan punya kisah sama banyaknya dalam kehidupan Ibuk. Kenapa cuma Bayek yang diceritain di kisah ini? Bayek yang kuliah dengan penuh perjuangan di Bogor, Bayek yang udah sukses dapet kerjaan keren di Amerika, Bayek yang selalu mengirimkan uang kepada keluarganya, kehidupan Bayek di Manhattan yang biasa berjalan-jalan sambil mendengarkan lagu dari iPhonenya, yang nyewa apartemennya di SoHo... *mulai mulai* sampe Bayek balik lagi ke Batu, lalu nulis buku lalu interview sana sini. Too much Bayek in Ibuk’s book. Lagian sebenernya Bayek kan udah punya buku sendiri. Ya kan Yek, ya? Masih kurang mungkin rupanya. Mungkin. *kemudian ijazah disita kampus*
Mungkin emang ciri khasnya mas Iwan Setyawan menulis cerita dengan sederhana. Sederhana dalam pengertian sangat minim drama. Ga bertele-tele. Terlalu ga bertele-tele sebenernya. Mozaik kisah Ibuk dari mulai putus sekolah sampai akhirnya menikah dengan Bapak dan perjuangannya membesarkan anak terasa terlalu pendek buat saya *lolobana Bayek siih*. Terlalu sederhana. Jadi ga dapet emosinya. Baru aja mulai membangun emosi masa-masa jatuh cinta Ibuk sama bapak, eh part itu udahan. Tau-tau punya anak aja. Baru mulai membangun emosi perjuangan Ibuk ngebesarin kelima anaknya, eh bagian itu udahan juga. Tau-tau anaknya pada sukses aja. Saya sebenernya suka-suka aja sama cerita dengan plot cepet, tapi bukannya minim konflik kayak gini juga. Dan kesan saya tetep ga berbeda jadinya sama buku pertama mas Iwan. Bagaikan membaca diary yang ditulis setaun sekali. Lempeng. Banyak kisah yang bisa diceritain sebenernya, tapi dimampatkan dalam beberapa lembar aja. Sekadar buat pengingat, kalo taun ini tuh saya nikah, taun ini saya punya anak, taun ini anak saya sekolah, taun ini anak saya ke luar negeri, taun ini anak saya nikah, taun ini........ udah ah, kepanjangan. Tapi dramanya? Nyaris ga ada. Kalaupun ada cerita tentang beberapa dari banyak perjuangan Ibuk, ya itu tadi. Kisahnya terlalu pendek, jadi emosi belom dapet ujug-ujug udah pindah cerita aja *eh apa berlaku buat saya doang ya yang empatinya mulai tumpul? :(*
Saya sedikit kaget dengan beberapa perubahan mendadak di buku ini. Salah satunya adalah pergantian sudut pandangnya. Pertama-tama cerita pake sudut pandang orang ketiga, tapi di tengah ujug-ujug jadi orang pertama, lalu pindah lagi jadi orang ketiga. Ini bisa disebut multiple POV ga sih? Agak menganggu, tapi masih oke-oke aja buat saya. Saya masih bisa ngikutin karena pergantian sudut pandangnya juga dipisahin tiap bab. Perubahan lain yang lebih bikin ga nyaman sebenernya ada di perubahan suasananya. Cerita diawali dengan ketidakmampuan Ibuk melanjutkan sekolah, kisah cintanya yang lugu dan sederhana, kehidupan yang apa adanya, perjuangan susah payah menyekolahkan anak-anak, lalu perlahan-lahan cerita berfokus di kehidupan Bayek setelah sukses di Amerika, ngomong cas cis cus pake bahasa inggris (lagi-lagi tanpa ada terjemahannya) *lu aja lemah bahasa itumah, pi*, dikelilingi segala sesuatu yang mahal-branded-dan-sangat-Amerika, baca buku-buku berat. Shock!! Saya sebenernya menikmati suasana sederhana yang dibangun kisah Ibuk dari awal cerita, tapi terus dikagetin dengan hedonisme Amerika anaknya di tengah cerita. Wajar mungkin, bahwa seseorang yang bergerak from zero to hero pengen melampiaskan apa yang dulu dia ga punya, membalas semua kebaikan keluarganya. Tapi jujur aja, saya masih ngerasa ga nyaman dengan cara penulis mengungkapkan sisi “hai-aku-telah-sukses”nya. Kurang halus buat saya.
Nangis baca ini? Engga juga. Cuma sedikit terharu. Terutama di bagian akhir. Kisah tentang orang tua emang selalu bikin haru kan? Tapi sayangnya, kisah haru tentang orang tua ini ngga dapet jatah yang cukup banyak di buku ini dan ga sampe bikin saya nangis gugulitikan. Abis banyaknya kisah mas Iwan aka Bayek sih #dijelasin. Gimana pun, saya salut sama Ibuk yang ga lulus SD, dan Bapak yang ga lulus SMP namun punya keinginan sekuat itu, dan usaha sekeras itu biar kelima anaknya bisa sekolah setinggi mungkin. Andai Ibuk terus dipertahankan jadi tokoh sentral, mungkin bintangnya bisa lebih dari ini. Dua bintang. Dan dua-duanya buat Ibuk. :)
Regards, Upi, yang ngetik review ini di leptop Toshiba Intel Centrino Duo. *pi pi, leptop lu udah layak masuk museum geologi pi*
Jujur, baru pertama kali ini saya baca tulisan Iwan Setyawan. Seolah berjalan lurus, itu komen saya. Tapi penulis selalu menyisipkan kata – kata sarat makna dan motivasi, mungkin ini yang menurut saya sebagai pembaca. Buku ini tidak terlalu banyak konflik tapi anehnya bisa menggugah emosi. Mungkin tanpa sadar, hal ini karena kita dekat dengan kehidupan yang seperti itu.
Awalnya sempet jengah dengan bab awal buku ini, yang mengisahkan kisah percintaan antara orang tua penulis. Tetapi, untung Iwan masih berhasil membuat saya bertahan untuk melanjutkan kisah lanjutan buku ini. Dan memang benar, kisah percintaan itu hanya sebagai pengantar saja. bagaimana seorang perempuan berusia 17 tahun yang putus sekolah sudah mulai dicarikan jodoh karena dinilai sudah cukup usia nikah. Hingga akhirnya perempuan ini bertemu dan menaruh hati kepada kenek angkot. Dan pernikahan mereka pun diawali dengan sebuah pertanyaan Sim (kenek angkot) kepada Tinah “Nah kamu mau ngga hidup susah sama aku, kita hidup…” *lanjut sendiri dengan baca bukunya ya
Iwan sungguh menuliskan novel ini dengan bahasa yang sederhana ku pikir, sesederhana kehidupan orang tuanya yang dengan gigih memperbaiki nasib. Sim (bapak) dan Tinah (ibuk) mempunyai 5 orang anak : Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Dalam kondisi yang susah pun, ibuk bertekad bahwa kelima anaknya harus sekolah, jangan sampai seperti dia, lulus SD pun tidak.
“Sampai saat ini, aku masih terngiang kata-kata Ibuk kepada Mbak Isa. Cintanya melahirkan tekad untuk kehidupan yang lebih baik, untuk anak-anaknya. Agar anak-anaknya tidak melalui jalan hidup yang sama dengan jalan hidup yang telah ia lalui dahulu.”
Itulah tekad seorang ibuk untuk anak-anaknya. Sementara pekerjaan bapak pun tidak semulus yang dibayangkan. Setelah menikah bapak menjadi sopir angkot. Dengan hasil yang pas-pasan, dan tidak jarang harus meminjam uang. Tapi ibuk tidak pernah menyerah. Selalu irit dalam mengelola keuangan, bagaimana biar kebutuhan sekolah anak – anak nya terpenuhi. Bahkan terkadang, kondisi yang parah adalah ketika angkot bapak mogok, dan membutuhkan uang yang lebih untuk memperbaikinya. Bisa membayangkan kondisi itu?
“Mungkin, anak-anak ini melihat kesungguhan hati orangtua mereka yang telah berjuang tak kenal lelah untuk lima anaknya. Mungkin, anak-anak ini telah merasakan keringat bapaknya menetes di kulit mereka. Mungkin, cinta Ibuk telah memasuki darah mereka, lewat bubur beras merah dan sinar matanya yang syahdu…. Isa dan adik-adiknya ingin berjuang seperti mereka. Ingin memberikan cinta yang penuh kepada orangtuanya.”
Kehidupan yang sangat berat. tapi mereka selalu bergandeng tangan dalam mengatasinya. Tidak pernah berhenti berjuang. Sebuah pelajaran yang amat sarat makna dari sebuah keluarga yang tinggal di sebuah gang buntu. Tidakkah lantas ini mengingatkan kita pada ibu bapak kita di rumah, betapa besarnya perjuangan mereka untuk anak – anaknya, bahkan bisa saya pastikan bahwa setiap orang tua pasti akan rela hidup jauh lebih menderita asalkan kebutuhan anaknya bisa tercukupi.
Coba kita baca kutipan yang saya ambil dari buku berjudul “ibuk” ini :
“Malam itu, Bayek berjanji menulis sejarah keluarga buat keponakan-keponakannya. Agar mereka tidak terputus dengan sejarah keluarga, agar mereka tahu perjuangan kakek, nenek, dan ibu-bapak mereka. Agar mereka lebih menghargai hidup yang mereka lalui sekarang. Agar mereka lebih mencintai ibu, bapak, dan kakek-nenek mereka.”
Betapa Bayek memahami perjuangan ibu bapaknya. jatuh bangunnya orang tuanya untuk membawa kesuksesan anak – anaknya. Hingga mampu membawanya ke sebuah negara adidaya, New York, Amerika Serikat. Seorang anak yang terlahir dari gang buntu tapi bisa menembus kesusahan yang selalu menghampirinya.
Dari novel ini, tidakkah kita merasa seolah diingatkan dengan lebih keras untuk senantiasa menghormati mereka, cintai mereka, karena mereka layak mendapatkannya dari anak – anaknya? Bismillah mulailah introspeksi. Minta maaf untuk tingkah kita yang pernah membuat sesuatu yang tidak berkenan di hati mereka.
Sebenernya kalo disuruh ngereview buku ini bingung. Gimana, ya? Kayak baca diary orang, trus kenapa harus direview? Gitu.
Tapi siapa juga yang nyuruh si sayah ngereview?
Oia, kan suka ada Aki Hippo dari Hongkong yang males buka link. Hahahah. Selamat, yah. Aki jadi disebut terus :P *masih nyeri hate soalnya. Peureus, Jendral! Hahaha...*
Omong-omong... Siapa sih, yang nggak bangga sama ibunya sendiri? Sayah pikir semua orang pasti bangga akan ibunya, apapun keadaan dan pekerjaan ibunya.
Sayah sendiri dibesarkan oleh ibu yang nggak pernah melahirkan sayah, karena ibu yang melahirkan sayah sudah wafat ketika sayah berusia enam tahun. Suka duka mah banyak. Kayaknya semua orang punya cerita setipe, walau pasti beda-beda versi. Yang jelas, ibu sambung sayah adalah seorang ibu selalu berusaha melakukan yang terbaik yang beliau bisa untuk sayah dan adik-adiknya. Beliau juga banyak berkorban untuk sayah, walau sayah bukan anak kandungnya. Dan sayah sangat menyayangi beliau, seperti halnya sayah menyayangi ibu yang melahirkan sayah.
Dari baca ibuk, ini, sayah berpikir satu hal. Semua ibu mungkin memang seperti ditakdirkan buat berjuang yang terbaik untuk anaknya. Apapun pasti ingin dilakukan oleh ibu, dengan harapan anaknya mendapatkan yang terbaik yang bisa didapatnya. Bener, ga, sih?
Eh, tapi gini. Sayah agak tercengang ketika sayah ikutan ngumpul para pengantar anak-anak PAUD tempat Zaidan (anak kedua saya) bersekolah. Salah satunya karena cerita pembantu (yang tampaknya udah kayak ibu sendiri buat anak-anak majikannya) yang selama ini selalu nganterin anak majikannya yang sekelas sama Zaidan.
Si ibu anak ini tuh PNS. Katanya sibuk banget, sih, sampai nggak punya waktu banget lah buat nemenin anaknya di hari pertama sekolah. Tapi si pembantu ini komplen ke majikannya. Dia bilang, "Teh, hari pertama sekolah anak mah usahain dateng atuh, temenin." Lalu terjadilah. Si ibu ini nemenin anak pertamanya bersekolah di hari pertama, di TK.
Pulang dari sekolah si anak, si ibu ini ngomel-ngomel dan menyatakan tidak mau lagi menemani anak-anak lainnya di hari pertama mereka bersekolah. "Si mamah A mah katanya mending ripuh sama kerjaan, cenah. Ini mah rewel, dia bilang mau pipis, jadi nggak bisa karena anaknya nggak mau ditinggal pisan," dumel si pembantu, menirukan ucapan majikannya.
Huft. Sedih banget dengernya. Itu kan anaknya sendiri. Kok bisa, ya, sampai terucap begitu?
Sedikit cerita aja, sejak awal tahun 2015 sayah minta keringanan dari kantor untuk bisa bekerja di rumah, karena sayah perlu mendampingi kedua anak sayah. Si kecil nggak mau sekolah diantar eyangnya. Akhirnya sayah yang nganterin dan nemenin sampai dia pulang. Sayah ngalamin ikut belajar di kelas selama tiga bulan pertama, karena dia nggak mau pisah dengan sayah walau sayah ngintip dari jendela. Tapi semua itu terbayar karena dia sekarang sudah mulai semangat sekolah dan ikut semua kegiatan sekolah dengan semangat, walau suaranya belum bisa keluar. Paling nggak, itu salah satu yang bisa sayah lakukan dalam menjalani peran sayah sebagai ibu.
Jadi, balik ke cerita ibuk, sayah pikir Ibuk sama seperti ibu sayah, ibu mertua sayah, nenek sayah, tante-tante sayah yang selalu berusaha melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk anaknya, walaupun ada konsekuensi yang mengiringi. Inspiratif!
Buku ini sukses bikin baper lagi. Hahahaha.... sebal!
Sebenarnya di awal cerita, kisahnya menarik. Menceritakan perjuangan seorang Ibu, yang tidak memiliki bekal apapun. Hanya sekedar tekad untuk keluarganya. Ketangguhan Ibu dan kegigihan seorang Bapak. Bagaimana hidup tidak melulu antara kaya dan miskin.
Tetapi semakin lama cerita mengalir, jadi tak jelas menurut saya. Seperti sudut pandangnya, dari awal yang sudah menggunakan sudut padang orang ketiga, nanti dipertengahan akan berubah jadi sudut orang pertama dan akan kembali lagi. Ada juga cerita yang menggantung, ketika sosok Ibuk menceritakan kepada Bayek, saat Bapaknya bekerja sebagai supir seorang China, cerita dibiarkan menggantung tanpa ada akhirnya. Atau juga semakin dalam membaca, cerita ini me jadi tidak fokus, terlalu banyak yang dilibatkan dan ditumpahkan. Tetapi saya akui, di plot-plot tertentu Ibuk bisa membuat saya terlarut dalam kesedihan keluarga ini.
* Banyak orang tega membunuh hati nurani dengan tangan mereka sendiri * Kadang perpisahan bisa membuat mata kita menjadi segar lewat air mata, hati menjadi peka lewat gelombang besar yang menerpa, dan menumbuhkan cinta yang lebih besar lewat orang-orang yang menyentuh hidup kita. * Kebahagiaan akan terasa lebih manis, lewat sebuah perjuangan yang sepenuh hati * It's only work and you always take things personally. You need to grow up dude! * Bukankah keindahan hidup seringkali ditemukan dalam pilu? * Seperti sepatumu ini nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tidak sempurna. Tapi kamu mesti kuat! buatlah pijakanmu kuat.
"Ibuk," siapapun yang melihat covernya sekilas akan mudah saja menebak novel ini akan bertema tentang kisah ibunda. Dengan melihat kesuksesan 9S10A, tulisan penulis sebelumnya, tak heran novel ini pun berjibun peminat semenjak awal terbit. Saya termasuk salah satu pembaca yang menunggu. Apa lagi yang bisa disajikan oleh Iwan Setyawan setelah 9S10A dengan sukses menjadi national bestseller.
Di awal-awal bagian "Ibuk," saya sedikit kaget dengan gaya penulisan Iwan Setyawan. "Tidakkah ini terlalu sederhana?" Mungkin penulis sengaja ingin menitikberatkan kisah sang ibunda dengan cara penyampaian yang sederhana agar tak mengurangi makna. Diawali dengan kisah seorang Tinah kecil menjalani masa mudanya, bagian ini ditampilkan sebagai pondasi untuk chapter-chapter berikutnya. Kisah ini berlanjut hingga Tinah dewasa dan berkeluarga, hingga menjadi seorang ibuk. Meskipun begitu, buku ini tak melulu tentang kisah ibuk, namun juga tentu saja tentang kisah hidup penulis yang diceritakan dari sudut pandang luar, dan memberi kata ganti pada namanya sendiri dengan "Bayek" hingga ke halaman akhir. Saya rasa penulis ingin mengatakan secara objektif bahwa Bayek adalah dirinya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Dalam hal ini seorang Iwan Setyawan bukan bagian dari kisah, namun hanya sebagai penulis. Sering kali saya merasa geli dan kesal dengan tokoh Bayek. Meski begitu, tokoh Bayek diceritakan dengan sangat jujur dan apa adanya.
Saya baru menemukan gaya penulisan penulis kembali di halaman 72. Penulis baru "menampakkan" perannya sekaligus menjawab pertanyaan pembaca dimana tokoh Iwan dalam kisah ini sebenarnya. Quote-quote pemisah chapter sangat pas dengan tema masing-masing bagian kisah. Tepat untuk diberikan sebagai penyegaran sekaligus bentuk afirmasi sekali lagi pada pembaca agar benar-benar mengambil nilai moral dari masing-masing chapter. Melihat tema dan kisah buku ini, sudah jelas akan banyak pembaca yang mewek pada saat membacanya. Keharuan yang disajikan penulis bukan suatu keharuan yang pura-pura, namun benar-benar nyata. Saya yang termasuk "lelet" dalam hal sedih-sedihan ini terpaksa mengalah kalah pada part akhir tentang bapak. *yes, you won, Om!* :)
Tentulah tak lengkap bila saya tak membandingkan "Ibuk," dengan "9 Summers 10 Autumns". Secara pribadi saya prefer pada 9S10A, karena lebih menonjol pada keindahan bentuk tulisan. Namun, nilai kejujuran dan kesederhanaan dalam "Ibuk," pun tak bisa diabaikan. Penulis menyajikan dua hal yang berbeda, meski masih dalam satu koridor tema cerita yang sama.
Dalam "Ibuk," ada pesan kesederhanaan yang memanggil untuk ditangkap, ada keharuan yang disajikan sebagai pembelajaran, ada kejujuran dalam berkisah dan ada keberanian besar untuk menuliskan kembali kisah yang tak pernah mudah untuk diungkapkan. Penulis menghargai kesenangan menulis dengan cara yang berbeda.
Seperti pembaca yang lain, saya akan bertanya kembali. "Apa yang bisa disajikan Iwan Setyawan setelah ini?"
Cerita dengan tema sederhana yang dikemas dengan apik dan menyentuh hati pembaca termasuk saya. Selalu ada bagian yang bisa saya kutip dan resapi tiap babnya. Cuma, buku ini kurang maksimal dalam menonjolkan sosok Ibuk yang saya kira adalah karakter utama saat pertama kali membaca judulnya.
“Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat sebuah rumah indah.”
“Hidup memang menantang. Hidup kadang melempar, kadang menampar. Tapi hidup terlalu megah untuk diakhiri oleh diri sendiri. Bukankah keindahan hidup seringkali ditemukan dalam pilu?”
4/5 🌟 untuk buku karya penulis Iwan Setyawan ini. Mungkin di luar sana banyak yang memberikan rating teralalu rendah untuk buku ini, tapi bagiku buku ini menarik.
Di awal membaca, aku tidak menyangka bahwa buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata penulisnya. Aku benar-benar tidak tahu sama sekali. Sampai tiba di pertengahan menuju akhir aku baru tahu bahwa buku ini ditulis berdasarkan kisah hidup si penulis.
Saat baca di bab awal, tentang kisah hidup Ibuk ketika muda, lebih tepatnya saat bertemu dengan Bapak dan akhirnya memutuskan untuk menikah.. Aku mencoba menebak-nebak, mungkin hidup ibu akan susah karena beliau menikah dengan seorang playboy pasar yang mungkin tidak bertanggung jawab dengan hidup istri dan anak-anaknya. Ternyata aku salah. Karena aku berpikir ini hanya karya fiksi. Siapa sangka apa yang tertulis di sini adalah kisah nyata.
Melalui buku ini, penulis mencoba memberi gambaran tentang kehidupan keluarganya yang tidak mudah. Bagaimana lika-liku perjuangan kedua orang tuanya dalam membesarkan ke-5 anaknya agar bisa hidup jauh lebih baik dari orang tuanya.
Biarpun kehidupan meraka susah, mèreka tidak putus asa dengan keadaan mereka. Satu sama lain saling menguatkan dan mendukung. Bapak, yang digambarkan sebagai playboy ternyata bertanggung jawab dan bekerja keras untuk kelurganya.
Tidak mudah bagi mereka untuk melalui biduk rumah tangga dengan 5 orang anak, dengan ekonomi yang bisa dibilang memprihatinkan. Tapi tekad Ibuk, dan juga semangat Bapak, mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang sukses.
Semacam sedang membaca buku diary seseorang. Ada kalanya ikut sedih dan menangis saat tiba dibagian yang menyedihkan. Jujur saja, emosiku terbawa arus kisah kehidupan keluarga Ibuk. Buku ini mampu mengajakku untuk ikut menelurusi jalan kehidupan keluarga mereka.
Tiba di akhir buku, rasanya ingin sekali aku memeluk tokoh Ibuk dan memberikan penghargaan betapa bangganya aku bisa mengenal sosoknya walau hanya melalaui tulisan. Betapa Ibuk wanita perkasa yang memandang setiap kesulitan bukanlah suatu hal yang buruk. Aku juga sampai mencari tahu tentang penulis melalui youtube. Rasanya... aku seperti menjadi bagian dari keluarga mereka..
Judul: Ibuk Penulis: Iwan Setyawan Penerbit: @bukugpu Dimensi: 295 hlm, cetakan ketiga (cover baru) Mei 2016 ISBN: 9786020329987
Berawal dari kisah pandangan pertama antara Tinah dan Hasyim, kenek angkot dan playboy pasar, di Pasar Batu. Hingga akhirnya mereka menikah dan dikaruniai lima anak. Tanpa neko-neko, mereka menerima hidup apa adanya. Berjuang menjadi Ibuk dan Bapak.
Hidup menjadi sedemikian sulit, seiring bertambahnya usia anak dan jenjang pendidikan mereka. Namun ibuk menerima dengan tabah. Disiasatinya segala cara dengan satu tekad. Anaknya harus sekolah tinggi, jangan seperti dia, yang SD pun tidak lulus. Hingga perjuangan membawa hasil yang manis. Lewat anak lanangnya, kehidupan perekonomian mereka mulai berputar ke atas.
Gaya bahasa penulis jauh lebih menyentuh dibanding novel sebelumnya (9S10A). Cerita sederhana, namun jauh lebih matang dan meresap. Meski menuju ending, agak nampak kurang fokus, sebab mengabur antara tokoh ibuk dan yang diceritakan. Seakan kurang klimaks.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
"Cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati." (H.15)
"Ya, seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat! Buatlah pijakanmu kuat." (H.60)
"Kadang perpisahan bisa membuat mata kita menjadi segar lewat air mata, hati menjadi peka lewat gelombang besar yang menerpa, dan menumbuhkan cinta yang lebih besar lewat orang-orang yang menyentuh hidup kita. Hidup semakin luas." (H.107)
"The higher your position is, the higher your responsibility you have!" (H.189)
ceritanya ringan dan sederhana, alurnya cepat, melompati waktu demi waktu. saya suka bagaimana penulis menyebutnya, 'Ibuk'. tapi sebagaimana reviewer lain berkomentar, dari tengah ke belakang agak dominan sosok Bayek, anak ke-3 Ibuk.
awalnya saya kira novel ini bisa saya libas cepat karena kesederhanaannya. tata letaknya juga membuat mata nyaman, jadi terasa cepat juga bacanya. tapi mulai ke tengah, saya mulai bosan, sebab saya pikir, 'saya tidak butuh Manhattan'. saya pingin tahu Ibuk. menurut saya novel ini masih bisa berpotensi lebih mengacak-ngacak emosi lagi, terlebih bagi para penyuka drama kehidupan seperti saya, haha. ibarat masakan, novel ini seperti sayur..lodeh, atau..capcay barangkali. sayurnya banyak, tapi agak kurang penyedap. novel ini, yang bisa diangkat dan diunderline banyak, tapi karena temponya cepat jadi melompat-lompat sebelum benar-benar meresap dan yah, katakanlah seperti anti-klimaks.
tapi, yaa, tapiii, tetap emosional. tetap. bisa jadi karena topik yang diangkat adalah tentang keluarga, jadi rasanya hangat, karena gimanapun ceritanya selalu ada jalan untuk serasa relate. ada part yang membuat haru dan memancing tangis juga, kok. lalu saya jadi berkesimpulan, ah, ya, memang novel ini bukan fiksi yang kaya 'rempah'. bukan cerita yang seperti itu, jadi ya ini sudah apa adanya dan sudah sangat okee! seakan-akan tujuannya memang hanya ingin bercerita saja. jadi sudut pandang yang digunakan juga bukan orang ketiga serba tahu (menurut saya, haha). soalnya masih kurang greget menampilkan sosok Ibuk, sebab ternyata tokoh utama di novel ini adalah salah satu anak Ibuk. saya terus maklum, oke, baiklah.
tips, bacanya jangan buru-buru, nanti kamu ga dapet apa-apa. selamat menyelami kedalaman makna, dan, jangan lupa pulang :)
Jangan 5 deh bintangnya 6 ya. Jujur sebenernya ini cerita sederhana ketebak dari awal sampe akhir tapi tiap baca halaman demi halaman membuat saya ikut hanyut dan tanpa sadar nangis sesenggukan. Mereka keluarga hebat Ibuk, Bapak, Isa, Nani, Bayek, Rini, Mira. Bertahan dan berjuang ah inspiratif sekali. Mother of five tanpa kenal lelah.
Ibuk, buku yang mampu membawa angan saya mengembara jauh ke kampung halaman menjumpai sosok perempuan yang paling berjasa dalam hidupku, ibu. Buku yang menceritakan perjuangangan dan kegigihan seorang ibuk dalam membesarkan kelima anaknya. Cerita berawal dari seorang gadis desa yang polos dan lugu, Tinah, yang menikah dengan seorang kenek angkot, Sim. Awal menikah mereka menumpang hidup di tempat kakak angkat Sim, Buah cinta merek mulai lahir satu persatu, Isa, Nani, Bayek, Rini, dan Mira. Saathamil anak keempat, Mira, mereka membangun sebuah rumah kecil dan sederhana di gang buntu. Dari rumah inilah kehangatan dan perjuangan dimulai. Tinah, yang dipanggil ibuk oleh anak-anaknya, bertekad, semua anaknya harus sekolah yang tinggi untuk mendapatkan kehidupan yang layak, agar mereka tidak menderita seperti hidupnya sekarang. Ibuk yang selalu sabar menghadapi rengekan Bayek yang minta sepatu baru dan buku baru. Ibuk yang dengan ulet menawar belanjaan di tukang sayur untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk membelikan sepatu nani yang sudah jebol. Ibuk yang selalu berhemat, menyisihkan sebagian uang belanjaan untuk membayar uang SPP anak-anaknya.
Semuanya diceritakan dengan bahasa yang sederhana dan seolah membawa kita hadir di sana. Cobaan terberat datang ketika Sim, yang sudah beralih profesi menjadi sopir angkot membeli angkot tua dari hasil tabungan mereka. Angkot tua yang sering mogok, uang narik angkot yang habis untuk perbaikan angkot, uang SPP anak-anak yang sudah nunggak, semua masalah itu tak membuat ibuk menyerah menyekolahkan anak-anaknya. Sampai akhirnya bayek, anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga berhasil kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang bagus di jakarta dan membantu meringankan biaya sekolah adik2nya. Bayek akhirnya menerima tawaran bekerja di New York u tuk mewujudkan misinya. Selama 10tahun di New York, Bayek berhasil mewujudkan missinya, membantu biaya sekolah dan pernikahan saudara2nya, bahkan bisa membantu saudara2nya membangun rumah.
Bagian paling mengharukan dalam buku ini adalah ketika Bapak meninggal dunia. saya sampai meneteskan airmata membaca bagian ini. Ternyata sosok bapak sangat melekat di hati mereka. Bapak yang sangat mereka cintai dan sayangi akhirnya harus meninggalkan mereka semua. sayangnya masalah dalam buku ini diceritakan hanya sekilas saja, tidak terlalu mendeyail, secara keseluruhan isi ceritanya menarik dan dikemas dalam bahasa sederhana dan mudah dipahami.
"Malam itu, Bayek berjanji menulis sejarah keluarga buat keponakan-keponakannya. Agar mereka tidak terputus dengan sejarah keluarga, agar mereka tahu perjuangan kakek, nenek, dan ibu-bapak mereka. Agar mereka lebih menghargai hidup yang mereka lalui sekarang. Agar mereka lebih mencintai ibu, bapak, dan kakek-nenek mereka."
Tepat itulah isi dari buku ini, sebuah kisah tentang perjalanan sebuah keluarga serta perjuangannya, yang telah membuatku menghargai kehidupan yang aku miliki sekarang sekaligus mencintai orangtuaku. Kisah ini dimulai dari seorang perempuan bernama Tinah, gadis yang bahkan tidak sempat menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar, yang saat berusia 17 tahun sudah didorong untuk menikah. Sehari-hari, Tinah membantu Mbok Pah menjaga kiosnya di Pasar Batu; dan di tempat itulah ia dipertemukan dengan jodoh hidupnya: seorang kenek angkot yang biasa dipanggil Sim, lelaki yang terkenal sebagai playboy pasar. Meskipun Tinah mempunyai kesempatan untuk memperoleh lelaki yang lebih mapan daripada Sim, ia teguh dengan pilihannya dan memutuskan bahwa ia rela hidup susah bersama dengan lelaki pilihannya.
Setelah menikah, awal perjalanan mereka baru dimulai. Tinah melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Isa. Sejak hari itu Sim menjadi Bapak, dan Tinah menjadi Ibuk. Sekitar satu tahun kemudian lahirlah anak kedua yang diberi nama Nani. Anak ketiga mereka adalah seorang anak laki-laki yang telah ditunggu-tunggu oleh Sim; anak itu diberi nama Bayek. Setelah kelahiran Bayek, keluarga Bapak membangun sebuah rumah kecil yang sederhana untuk menampung mereka semua. Rumah kecil mereka pun bertambah ramai dengan kehadiran Rini, disusul oleh Mira yang menjadi anak bungsu di keluarga mereka. Lima orang telah terlahir dari rahim Ibuk, dan kini Ibuk dan Bapak harus berjuang untuk menghidupi kelima anak mereka. Ibuk pun bertekad bahwa anak-anaknya harus bersekolah, agar tidak menjadi seperti dirinya yang bahkan lulus SD saja tidak....
Ya akhirnya selesai juga baca buku ini Dan ini termasuk rekor utk baca buku tercepat hehehhehe
Ok bukunya bagus menceritakan tentang perjuangan orang tua yakni bapak dan ibu untuk menghidupi keluarganya. Ibu dan bapak yang rela bekerja keras demi kelangsungan hidup mereka. Seorang ibu yang mempunyai tekad bahwa anak-anaknya harus dapat sekolah tinggi dan menjadi anak-anak yang pintar. Hanya dengan usaha dan doa yang dapat menghantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Itulah Isa,Nani,Bayek, RIni dan Mira mereka anak-anak yang sangat beruntung memiliki orangtua yang sangat mendukung mereka dalam segala hal baik jasmani dan rohani. Sehingga mereka juga banyak belajar dari perjuangan bapak dan ibu dalam menjalani hidup. Selain itu dengan sikap saling mendukung yang diterpakan diantara mereka sehingga mereka semakin erat dalam kekeluargaan. Sikap dan prinsip yang dimiliki anak-anakny dalam membantu kelangsungan hidup keluarga juga patut diacungkan jempol.....
Buku ini sangat bagus dibaca untuk semua kalangan umur. Kiranya banyak anak-anak zaman sekarang yang terpacu dengan cerita ini untuk giat dalam berusaha dalam menggapai cita-cita dan membanggakan kedua orang tua mereka.
Buku ini bercerita tentang sebuah keluarga sederhana yang tinggal di bawah kaki gunung Panderman, Batu. Keluarga yang sehari-hari menyambung hidup dari hasil kepala keluarga yang bekerja sebagai sopir angkot ini mengalami banyak sekali masa-masa sulit. Mulai dari ketika orangtua mereka membangun rumah, membeli angkot, menyekolahkan kelima anaknya hingga tamat jenjang SMA dan kuliah, hingga akhirnya kelima orang anak mereka menjadi orang yang lebih baik dengan penghasilan yang lebih baik pula. Sebenernya buku ini lebih menceritakan perjalanan hidup salah seorang anak dalam keluarga tersebut, karena ialah pembuat novel ini. Perjuangannya hingga bisa kuliah dan lulus sebagai lulusan terbaik di Fakultas statistika IPB, hingga bisa bekerja di New York dan membantu keluarganya membangun kembali kehidupan yang lebih baik. Bukunya bagus. banyak motivasi, semangat dan perjuangan. Bahasanya juga ringan dan enak dicerna. Tapi judulnya sepertinya agak kurang pas. Mengingat ceritanya lebih banyak tentang keluarga secara keseluruhan, dan tentang penulis secara lebih mendalam. Selebihnya, buku ini baik untuk dibaca dan dijadikan penyemangat :D
Jujur saya kecewa dengan novel ini. Sebagai pengarang best seller dengan bukunya 9 Summers 10 Autumns, saya merasa terlalu berekspektasi tinggi. Awal-awal bab buku ini jujur membuat saya bosan, tapi setelah ceritanya membahas tentang Bayek, rasa bosan saya sedikit demi sedikit hilang.
Aneh memang saya merasa bosan membaca pas bagian cerita Ibuk padahal judul bukunya sendiri ibuk,
Yang mengganggu di buku ini adalah tidak adanya catatan kaki untuk istilah-istilah dalam bahasa jawa(* I guess) yang tidak saya mengerti. Karena jujur saya memang bukan orang jawa.
Saya sudahi review saya yang berantakan, terima kasihsudah membaca :)
p.s : sebenarnya ratingnya 2.5 tapi karena saya tidak tega memberi 2 bintang, maka saya beri 3 bintang buat buku ini. Sekali lagi, saya lebih suka 9 Summers 10 Autumns daripada buku ini
tajuk sudah jelas Ibuk, maka harusnya penulis menulis seluruhnya tentang Ibuk itu sendiri dari awal hingga keakhirnya. tiada klimaks mahupun konfliks.
srhingga penghabisan, jelas yg cuba dipamer penulis adalah tentang kisah hidupnya dr kecil hingga saat dia bisa menulis buku ini.
kisarannya tentang ibu bukan? penulis harus bisa asing ceritanya tentang dia di negara asing. seolah terlalu menunjuk apa yg dialami selama hidupnya.
samada penulis tersalah memilih tajuk, atau penulis tersalah jalan cerita, atau penulis terlalu benar menayang tentang perjalananya sedari kecil hingga sampai ia mampu menulis buku ini. terlalu sama penceritaan buku dengan biodata dibelakang muka. harapnya penulis jgn trlalu harap pembaca suka mengetahui kisahnya terlalu terus.
kami mahu membaca novel, bukan kisah hidup mahupun memoir!
Sudah lama berhasrat membaca buku ini karena judulnya menarik, teaser di cover belakang juga sip. Tapi ternyata jauh api dari panggang, ya ga jauh-jauh banget sih. Di bab-bab awal saya masih yakin jalan ceritanya akan greng banget. Karakter kuat, jalan cerita bagus, gaya bahasa menarik. Tapi saat hampir klimaks di tengah-tengah buku, doh, seperti lagi enak nguap tiba-tiba ada nyamuk mampir ke tenggorokan. KZL. Di pertengahan cerita, karakter utama, si ibuk, tiba-tiba tidak lagi jadi yang sentral. Tenggelam dengan cerita tokoh-tokoh lain yang sebelumnya 'hanya' pelengkap. Rasanya seperti nostalgia dengan sinetron Tersanjung yang ganti pemeran utama dari Adam Jordan ke Ari Wibowo. huuft. Anw, saya tetap suka sudut pandang yang dipakai penulis untuk menghidupkan karakter ibuk. :)
Akhirnya bisa juga baca Ibuk yang sudah lama menjadi wishlist saya. Jujur saya sedikit kecewa setelah membaca beberapa bab novel ini, karena walaupun ceritanya bagus tetapi ternyata tidak semengharukan seperti yang saya duga sebelumnya (ceritanya mengharukan tetapi diksinya tidak membuatku terharu). Karena itulah saya membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.
Terima kasih untuk Abduraafi Andrian yang telah mengadakan kuis diskon 70% Toko Buku Scoop ditwitter, dan alhamdullilah saya adalah salah satu pemenangnya.
Pertama melihat buku ini di salah satu rak toko buku langsung tertarik karena judulnya, "Ibuk" bukan Ibu. Kata "ibuk" seolah langsung menghipnotis untuk melihat lebih lanjut, apalagi disampul terdapat embel - embel best seller atau apa ya, ekspetasi saya adalah sebuah buku yang benar - benar mengharukan dan menginspirasi. Ternyata saya kurang tepat hehe, walau ya memang ada point-point mengharukan dan menginspirasi tetapi hanya sekian persen saja. Rasanya seperti terlalu bertele-tele, bahkan adik saya ketika nimbrung melihat dan membaca di awal-awal langsung ditinggal karena menurut dia terlalu bertele-tele.
Benar-benar menginspirasi, buku ini menunjukkan bahwa apa pun yang diprioritaskan pasti dapat tercapai. Banyak orang-orang yang sebenarnya lebih mampu secara finansial, tapi menyerah begitu saja ketika berhubungan dengan pendidikan anaknya. Tanpa disadari bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk mengubah nasib. Semoga bisa menjadi ibu yang hebat seperti sosok ibuk, seorang wanita tangguh dengan prinsip yang luar biasa.
Sebenarnya, ada banyak ibu hebat di luar sana yang berjuang lebih berat, lebih berdarah-darah agar anak-anaknya bisa survive..
kelebihan Iwan Setyawan adalah, dia bisa sampai ke NYC, dia bisa menulis novel. saya suka gaya bahasanya, singkat, padat, tidak bertele-tele. Cocok untuk cerita yang diambil dari kisah nyata.
Secara teknis saya kurang begitu suka. Tetapi, membaca buku ini rasanya seperti berada di dalam rumah; aman dan hangat. Dan, entah bagaimana, buku ini mudah sekali terkoneksi dengan saya. One of inspirational journey of reading.
Ini karya Iwan Setyawan yang pertama saya baca. Tuturannya lugas, tak bertele-tele. Lekas saya baca. Tapi, saya merasa Iwan belum benar-benar menggali emosi karakter-karakternya. Overall, 3,5 bintang! :)
tentang cinta dan kebersamaan sebuah keluarga yang bernahkodakan seorang ibuk si perkasa dan bapak si pejuang, yang terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, mendobrak atap kemiskinan tanpa kehilangan kehangatan. tentang perjuangan merantau jauh di negeri orang, diliputi rindu dan kesendirian, demi menyongsong kehidupan baru dan mengubah nasib menjadi lebih baik untuk yang di rumah. tentang betapa cinta keluarga dapat memberi dan menyumbang napas yang amat panjang dalam menempuh perjalanan yang tak mudah. perjuangan, keuletan, keberanian.
cerita ini begituuuu sederhana, dibalut diksi yang nggak muluk-muluk tapi pas porsinya, dan berhasil bikin aku tenggelam ke dalam kisah. pertama-tama, buku ini tipeku bgt. hangat dan mengharukan. memang sempat ada pertanyaan kenapa buku yang berjudul "ibuk" ini bukannya membahas sosok ibu, tapi malah banting stir fokus bercerita mengenai satu anak laki-lakinya? namun, seiring aku terus baca, pertanyaan itu terlupakan karena aku hanyut ke dalam cerita. bahkan aku baru ngeuh kalo ada inkonsistensi sudut pandang ketika baca review, yang berarti hal ini nggak bikin masalah/ketidaknyamanan yg berarti buatku selama baca. oh, ada juga kejanggalan yang kurasakan soal kenapa Bayek tiba-tiba sekali belok karir jadi penulis—terkesan begitu tiba-tiba karena sebelumnya nggak diperlihatkan kegemarannya dengan tulis-menulis. aku akui beberapa bagian memang terasa dipotong dan sekadar disebutkan tanpa elaborasi yg menurutku bisa menambah kedalaman cerita.
jujur aku NAAAANGIS sekali baca ini. aku memang cengeng kalau udah menyangkut keluarga. separuh tangisanku mengenai kisah keluarga si ibuk, separuhnya lagi menangisi diri sendiri. mungkin buku ini memang tepat untuk keadaanku sekarang yang baru terbentur kegagalan dan sedang demotivasi, karena kisah di dalamnya bikin aku merasa terinspirasi dan berdaya—tentu setelah adanya bisikan getir yang menyayangkan kenapa aku ga memiliki daya juang yang luar biasa seperti tokoh-tokoh ini. sebuah pengalaman membaca yang cukup reflektif dan katarsis.
plus, kutipan yg satu ini semakin direnungkan semakin menancap dalam di benak: "Seperti sepatumu, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat." ❤️🩹
Saya kasih bintang 5 krn saya suka bukunya. Awalnya agak ragu beli setelah menemukan beberapa pembaca yg membuat review bahwa bukunya mengecewakan. Tapi saya bersyukur akhirnya menguatkan hati buat beli dan baca 😂😂😂
Pada bagian awal buku menceritakan soal sosok ibu dari kecil hingga akhirnya memiliki anak. Bagian tengah isinya memang sebagian besar tentang anaknya ibu yg ketiga yaitu bayek. Tapi dari sini kita bs belajar bahwa pendidikan (yg ibuk sudah perjuangkan) membawa perubahan berarti dalam hidup seseorang. Penulis ingin menegaskan bahwa pendidikan sangat-sangat menjadikan hidup seseorang bagai bumi dengan langit dibandingkan dengan yg tidak berpendidikan. Tidak..saya tidak merasa si penulis narsis... kisah hidupnya memang luar biasa... dan bener2 inspiratif... bs keluar dari lingkaran kemiskinan itu butuh perjuangan dan pengorbanan lahir batin, dan bayek berhasil. Dan keberhasilan bayek.. adalah keberhasilan ibuk... Bagian akhir buku tentang bapak juga merupakan bagian menguras air mata... terima kasih buat penulis yg telah menuliskan kisah hidupnya... Semoga banyak yg bs menjadikannya inspirasi