Ketiganya berpusar bagai badai, terpusat pada satu Hailstorm. Bahkan sosok digdaya, Raja Deimos Amurdad, menerjang ke dalam pusaran badai lewat tawarannya yang terlalu menggiurkan untuk Kekuatan penakluk segala! Mereka yang menginginkan anugerah itu harus mengatasi tantangan maha dahsyat di tempat maha Reigner, alam kematian.
Semua berlomba mendapatkan kekuatan itu. Jika berhasil, mereka akan mempunyai senjata untuk menumbangkan Sang Raja Tunggal. Jika gagal, kematian menjadi hal yang tak terelakkan. Segala cara untuk mengumpulkan pasukan hebat ditempuh Hailstorm. Bahkan cara kotor. Menyandera keluarga kesatria veteran Lavinia, yang sesungguhnya ia tak ingin kembali mengangkat pedang.
Mungkinkah Lavinia berhasil menyelamatkan keluarganya? Atau... malah menjadi tumbal ambisi keluarga Hailstorm? Ini adalah kisah tentang Sang Badai dan Penunggangnya.
“Tak perlu mengenal Vandaria untuk membaca kisah ini. Namun, bisa dipastikan, Anda akan mengakhiri buku ini dengan rasa haus yang luar biasa terhadap kedahsyatan Vandaria. Buku yang sangat powerful. Dante’s Inferno in Vandaria style!” — Kris Antoni Hadiputra Nurwono, CEO & Co-Founder Toge Productions; Jakarta Chapter Coordinator of International Game Developer Association (IDGA)
“Seperti masuk dalam selimut ajaib, dan mendapati kisah seru sebelum tidur!” — Yudhi Herwibowo, Penulis Mata Air Air Mata Kumari, Untung Surapati, dan beberapa buku lainnya.
“Sekali lagi masuki dunia Vandaria melalui kisah pertualangan yang penuh misteri, intrik, dan pertarungan seru—yang siap menjerat pembaca untuk setia hingga halaman terakhirnya.... Hailstorm sungguh dahsyat!” — Harry K. Peterson, Penulis Trilogi Aggelos
Lavinia dan siluet iblis, masing-masing menghadap ke arah yang berbeda, ditambah dengan emblem keluarga Hailstorm yang sampai saat ini saya tidak tahu itu maknanya apa. Permainan warnanya keren, merah gelap, sangar.
Tapi selain itu, menurut saya tidak ada istimewanya. Not that it matters, saya tetap akan beli ini buku walau sampulnya menampilkan sang penulis streaking di Reigner (on the other hand, that would be awesome in and of itself, heuheuheuheu).
Cerita
Terus terang, pas pertama kali denger/baca/tahu premise nya, saya langsung membayangkan The Hunger Games. Yep, itulah kesan awal saya. Kini, setelah selesai membacanya, hal itu tidak sepenuhnya terbukti. Yah, memang ada sih kesan THG, cuma secara keseluruhan, Hailstorm lebih mendekati film Predators (2010) di mana sekelompok badasses harus bahu membahu agar bisa selamat dari tempat berbahaya. Dan terus terang, saya suka. I have a man crush on Adrien Broody, so yeah.
Ceritanya disajikan melalui sudut pandang Lavinia, sang protagonis utama. Penokohannya dan karakter-karakter lain sebenarnya berpotensi menarik, tapi sayangnya gagal total di mata saya (lihat bagian penulisan untuk penjelasan lebih lanjut). Lebih lanjut, kadang terasa terlalu banyak karakter sampingan yang bahkan tidak punya nama yang pada akhirnya membuat beberapa bagian menjadi membingungkan, terutama saat adegan pertempuran yang heboh.
Selain itu, yah, sudah bisa diduga bahwa akan banyak yang mati. Untungnya kisah ini berhasil menghindari klise the last pair standing seperti yang terjadi pada THG dan Predators. Mangstab!
Daaaan, sebagai pria berkeluarga, saya suka endingnya! Dunia boleh terbakar, tapi keluarga tetap yang paling utama. Kudos buat penulis yang menyadari hal ini meski beliau masih bujang (oy, lu beneran masih bujang, kan?) heuheuheu.
Penulisan
Penulisan Hailstorm sebenarnya cukup oke dalam arti secara garis besar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta minim salah ketik. Tapi terus terang, di sinilah bagian paling lemah dari novel ini:
Dialognya.
Saya tadi sudah bilang bahwa cerita Hailstorm rada mirip dengan cerita Predators. Bedanya cuma satu, para badasses di Predators bertingkah kayak badasses, sedangkan para badasses di Hailstorm bertingkah kayak tokoh opera, atau lebih parah lagi, tokoh sinetron.
Dalam kata lain, para tokoh di sini, bawel, cerewet, ngomong panjang lebar dan kadang-kadang unintentionally funny.
Dalam kata lain, saya tidak suka dialog di Hailstorm.
Contoh:
“Tuan-tuan dan nona-nona sekalian. Mereka yang sudah bersumpah darah di atas panji Hailstorm, mereka yang datang karena aroma uang, serta mereka yang dipanggil karena ini adalah satu-satunya kesempatan kalian meraih kebebasan. Sebentar lagi kalian akan menempuh misi penting yang berpotensi menciptakan erar baru bagi manusia.
“Lebih dari separuh belum mengetahui tujuan sebenarnya dari misi rahasia ini. Harus diakui, ini bukan keputusan yang bagus. Tapi, kami tidak benar-benar memiliki pilihan lain selain menyembunyikannya hingga waktunya tepat. Kalau tidak, kalian bisa membocorkannya. Jika sudah begitu kejadiannya … aku harus mendorong banyak pembunuhan untuk mengendalikan keadaan. Kalian tak menginginkan itu, bukan?
“Kalau tidak salah, Iridio sudah menyampaikan bahwa kalian bisa mundur kapan saja. Sekarang, kesempatan itu sudah habis. Karenanya, dapat kukatakan dengan tegas ke mana kalian akan dikirim. Uthe? Bukan. Isfaris? Bukan juga. Kalian akan melintasi gerbang dimensi, tuan-tuan. Menuju alam tempat Deimos bermukim … Reigner.”
Itu dialog Arius dari halaman 54, tiga paragraf berturut-turut tanpa jeda apa pun. Masalahnya, dia ngomong kayak gitu di depan hadirin yang nggak semuanya suka sama dia. Masalah lainnya, saya merasa bahwa Arius tuh seharusnya menimbulkan kesan bahwa dia tuh figur patriark yang keras. Well, guess what, tiga paragraf ini nunjukin kalo dia tuh patriark yang bawel dan seneng banget denger suara dia sendiri.
Mari kita bedah satu-satu:
“Mereka yang sudah bersumpah darah di atas panji Hailstorm, mereka yang datang karena aroma uang, serta mereka yang dipanggil karena ini adalah satu-satunya kesempatan kalian meraih kebebasan.”
Ini nggak penting, semua orang di yang mendengar ucapan Arius tersebut, termasuk pembaca, udah tau alasan kenapa mereka ada di situ. Dan bersumpah darah? Aroma uang? Puitis sekali.
Next:
“Harus diakui, ini bukan keputusan yang bagus. Tapi, kami tidak benar-benar memiliki pilihan lain selain menyembunyikannya hingga waktunya tepat.”
For Pete's sake Arius, lu tuh pimpinan, you are large and in charge, lu nggak perlu ngakuin apa pun! Itu cuma akan bikin lu tampak lemah dan nggak berdaya. Ngapain juga lu ngaku lu nggak punya pilihan?
Next:
“Kalau tidak, kalian bisa membocorkannya. Jika sudah begitu kejadiannya … aku harus mendorong banyak pembunuhan untuk mengendalikan keadaan. Kalian tak menginginkan itu, bukan?
“Kalau tidak salah, Iridio sudah menyampaikan bahwa kalian bisa mundur kapan saja. Sekarang, kesempatan itu sudah habis.”
Ini juga bertele-tele dan nggak perlu la wong sekarang mereka semua udah mau berangkat kok.
“Uthe? Bukan. Isfaris? Bukan juga.”
Pembaca acara Cepat Tepat/Cerdas Cermat atau acara kuis, itu kesan yang saya dapet dari dialog di atas. Not helping his image, at all.
Harap dicatat, Arius cuma karakter figuran dan sialnya, semua orang di Hailstorm ngomong bertele-tele kayak gitu. Gw kasih contoh lagi ya:
“Jauh sebelum ini kau mengatasi dua serangan gerombolan bandit yang berbeda. Menurut kesaksian warga, kelompok pertama terdiri atas dua puluh orang. Yang kedua lebih sedikit, tapi mereka lebih terlatih dan berpengalaman. Di hadapanmu, bandit-bandit yang seharusnya menakutkan ini berubah menjadi kumpulan ternak di tangan seorang penjagal. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia biasa.”
“Aku memanfaatkan medan pedesaan dan taktik serang lalu lari untuk melakukannya, bukan serangan frontal seperti tadi. Selain itu, meski mengenakan zirah dan membawa senjata, pada dasarnya mereka hanyalah sekumpulan rakyat jelata yang gemar menindas sesama. Sebagian besar dari mereka bahkan tak mampu memegang senjata dengan benar!”
Itu dari halaman 33. Dialog ini terlalu detail bertele-tele, boring, dan kerasa banget cuma untuk memperkuat kesan bahwa Lavinia itu badass. Tak hanya itu, isinya juga meragukan.
Coba kita bedah:
“Menurut kesaksian warga, kelompok pertama terdiri atas dua puluh orang. Yang kedua lebih sedikit, tapi mereka lebih terlatih dan berpengalaman.”
Baca tiga kata pertama: Menurut kesaksian warga. Pertama, mereka warga alias rakyat jelata. Kedua, jumlah orang diamati banyak. Emangnya mereka bisa bedain mana yang terlatih berpengalaman dan mana yang nggak?
Sebagai warga pengguna kendaraan umum di Jakarta, saya sudah terlalu sering melihat tawuran di kehidupan nyata. Dan sampai saat ini saya tidak bisa membedakan mana peserta tawuran yang udah lebih dari sepuluh kali ikut tawuran dan mana peserta tawuran yang baru pertama kali ikut tawuran. Kalo Anda pernah menyaksikan tawuran di kehidupan nyata, Anda pasti tahu saya ngomong apa. You’ll be too busy saving your own ass to notice each and every one of them.
Next, dialog unintentionally funny:
“Jadi kau mengalami depresi?”
“Ya,” keluh Iridio. “Kata-kataku saat pengarahan jadi terasa seperti kebohongan besar. Ini pertama kalinya aku menerima kehilangan setingkat ini pada unit yang kau pimpin. Rasanya benar-benar menyebalkan.”
Itu dari halaman 131. Saya terus terang agak berjengit pas baca pertanyaan Lavinia itu. Terasa kasar, nggak banget. Dan jawaban Iridio cuma memposisikan dia sebagai drama queen. “Oh my God, I’m so depressed, blablabla, look at me feeling all sad and emo.” Blah.
Next, dialog yang dimulai di ujung halaman 182 hingga ujung halaman 183 (males ngutipnya karena resensi ini udah kepanjangan) nggak ada penanda siapa yang ngomong apa. Granted, dialog itu cuma melibatkan dua orang, tapi tetap saja kepanjangan untuk ukuran dialog gundul tanpa penanda atau pemanis. Alhasil, dia berpotensi membingungkan dan terasa hambar aja gitu.
Saya bisa berpanjang lebar lebih jauh, tapi saya sudah menyampaikan poin saya dengan sangat jelas. Lanjut!
Lain-lain
Hailstorm memberikan bonus berupa pembatas buku dan ilustrasi. Kualitas ilustrasinya sendiri agak campur aduk. Saya suka ilustrasi Amurdad, lalat dan Mortongue, tapi di beberapa bagian mereka terasa agak kasar. Di bagian paling belakang juga terdapat kumpulan ilustrasi para tokoh yang lumayan menarik. Secara keseluruhan, mereka memberikan nilai tambah bagi Hailstorm.
Kesimpulan
Saya suka Hailstorm. Plotnya menarik, ada ilustrasinya, dan karakter-karakternya punya potensi yang kuat. Sayang, hampir tiap kali mereka buka mulut, hampir sesering itu pula saya jedotin kepala ke buku. Seandainya dialognya lebih bagus, Hailstorm nggak akan kesulitan dapet nilai 3,5 bintang. As it is, Hailstorm dapat 2,5 bintang, ditambah bonus ilustrasi dan lain-lain, naik jadi 2,75 bintang yang pada akhirnya saya bulatkan jadi 3 bintang.
Sebagai penutup, Hailstorm adalah sebuah karya yang baik, tapi bukan karya yang luar biasa. Terlepas dari segala keluhan saya, ini tetap merupakan debut yang sangat baik bagi penulisnya. Saya sangat yakin Hailstorm 2 (bila nanti memang ada) akan lebih baik dari yang pertama.
Hailstorm adalah novel keempat dalam seri Vandaria Saga. Mengesampingkan Kristalisasi yang merupakan kumcer, Hailstorm bisa dibilang merupakan buku pertama yang muncul mengikuti ‘matangnya’ hikayat seri Vandaria Saga sejauh ini. Aku enggak yakin gimana cara aku bisa ngejelasin (apalagi tanpa kedengeran gombal), tapi jujur saja, Hailstorm seakan menandai titik awal ‘jadi’-nya Vandaria Saga sebagai suatu shared universe. Konsep ceritanya lebih jelas, karakterisasinya lebih terbentuk; intinya, Hailstorm memiliki segala ciri yang menunjukkan ‘kematangan’ penyusunan hikayat (lore) Vandaria dibandingkan buku-buku sebelumnya.
Atau… mungkin juga itu ada hubungannya dengan faktor penulisnya juga kali ya?
Eniwei, sejak awal aku emang sudah pasti memperhatikan perkembangan novel-novel Vandaria Saga. Tapi sewaktu aku mendengar tentang Hailstorm, dan soal bagaimana ‘King Awesome’ Fachrul yang menulisnya, terus terang saja aku antusias.
Benar-benar antusias.
Soalnya, cukup langka untuk ukuran penulis Indonesia, sejauh yang aku tahu tentang dirinya, Fachrul punya genre tulisan yang agak berat di horor bernuansa Lovecraft. Nama Fachrul sebelumnya sudah kukenal lewat entri-entri cerpennya di ajang Fantasy Fiesta. Selama dua tahun berturut-turut, cerpennya sempat terpilih sebagai karya favorit dalam ajang ini. Jadi, ya, meski muda, dia bukan orang sembarangan. Dan bukannya aku sengaja bermaksud semakin memompa egonya atau apa, tulisan-tulisan Fachrul memang selalu menarik minatku. Jadinya, bisa kubayangkan kira-kira seperti apa jadinya bila ia menulis sesuatu dalam latar Vandaria.
Buat kebanyakan pembaca awam, Hailstorm merupakan satu lagi cerita horor buatan Fachrul, kali ini berlatar di semesta Vandaria. Tapi buat mereka yang sudah akrab dengan semesta Vandaria, Hailstorm agak istimewa karena merupakan semacam cerita ‘pendahuluan’ yang mengawali insiden Invasi Kegelapan di negeri Pandora—salah satu kejadian ‘besar’ yang telah ditetapkan dalam sejarah panjang yang Vandaria miliki.
Narasi dan struktur cerita Hailstorm lebih terarah dan jelas. Meski tak digali secara mendalam, para karakternya benar-benar menarik dan mereka sungguh-sungguh berkembang.
Hailstorm juga menjadi buku pertama dari rangkaian novel Kristal Merah, yang dalam seri Vandaria Saga akan mengetengahkan masa-masa awal berdirinya negeri Nirvana di bawah pemerintahan sang Raja Tunggal, di era kesetaraan antara manusia dan frameless. Beberapa novel Vandaria baru yang bakal muncul akan berlatar di masa ini juga. Tapi untuk sekarang mungkin sebaiknya aku melanjutkan pembahasan lebih ke soal novel satu ini saja.
Hailstorm berlatar sekitar dua abad sesudah kejatuhan negeri Edenion, yang ditandai dengan akhir berkuasanya kaum frameless atas manusia biasa. Perguliran kekuasaan ini tentu saja ditandai konflik, yang menariknya masih terus ada bahkan dua ratus tahun sesudah insiden ini terjadi (biasalah, rasisme).
Lalu ceritanya ada sebuah keluarga bangsawan bernama Hailstorm di negeri Blackmoon. Keluarga ini sejak awal pertama berdirinya memang mengusung ideologi permusuhan terhadap frameless. Meski peperangan antara kaum manusia dan frameless (dalam hal ini, antara negeri Nirvana dan negeri Edenion) telah lama usai, keluarga Hailstorm masih mencari-cari cara untuk bisa menandingi kelebihan kaum frameless dalam penggunaan sihir. Mereka terutama punya semacam paranoia sehubungan dengan kenyataan bahwa sang Raja Tunggal yang membawa Nirvana pada kemenangan dua ratus tahun sebelumnya pun adalah seorang frameless.
Hasilnya, setelah usaha keras dan teramat panjang, keluarga Hailstorm memperoleh sebuah cara untuk membuka Grand Ark, semacam portal keramat yang dapat menciptakan jalan ke alam-alam lain. Mereka kemudian mendapati bahwa mereka telah menemukan cara untuk mengakses alam Reigner (semacam ‘alam neraka’ gitu) yang di dalamnya konon bersemayam makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan yang bahkan menyamai kekuatan para Vanadis, Deimos.
Singkat cerita, inti cerita Hailstorm berkisah tentang ekspedisi sebuah pasukan perintis yang dicanangkan oleh keluarga Hailstorm ini ke alam penuh marabahaya tersebut. Yang menjadi fokus cerita adalah Lavinia, seorang mantan ksatria wanita ternama berusia pertengahan tiga puluh tahunan yang memiliki masa lalu suram, sekaligus hubungan agak buruk dengan keluarga Hailstorm. Dia, ceritanya, ‘dipaksa’ untuk mengikuti ekspedisi ini bersama sejumlah orang buangan/sewaan lain. Nasib anggota-anggota keluarga terdekat dengannya menjadi taruhan, karena mereka telah disandera orang-orang keluarga Hailstorm untuk menjamin keikutsertaannya ke Reigner.
Sejalan dengan gaya khas Fahcrul, nuansa cerita Hailstorm relatif gelap dan suram. Ceritanya cukup berat, jadi baiknya dibaca benar-benar oleh orang-orang usia remaja ke atas. Masa lalu suram para karakternya menambah bumbu horor di cerita ini, dengan bumbu-bumbu ekstra pertumpahan darah serta gore di mana-mana.
Narasi Fahcrul pada sebagian besar cerita lumayan enak dibaca. Gaya ceritanya lebih berupa perkembangan adegan yang berlangsung dengan cepat, lebih karena digerakkan dialog (adegan-adegan dialog yang dibuatnya nyaris selalu bagus), dengan deskripsi yang benar-benar minim.
Kecendrungan Fachrul untuk bermain di deskripsi cerita minim juga agak membuat narasinya tersendat di beberapa bagian sih. Mungkin karena faktor usia dan pengalaman hidup juga, meski para karakternya menarik dan kita memang dibuat ingin tahu tentang kelanjutan nasib mereka, narasi Fahcrul masih belum berhasil untuk membaca pembaca untuk ‘masuk’ ke dalam kepala mereka. Kita memahami sebab-akibat yang mendorong setiap tindakan mereka, tapi emosi mereka masih belum tersampaikan gitu. Ini suatu hal yang agak disayangkan, mengingat mereka ceritanya memasuki suatu alam ‘baru’ dan harus melalui banyak adegan pertarungan di dalamnya. Tapi mempertimbangkan konten ceritanya, kurasa, mungkin ini suatu hal yang patut disyukuri juga.
Intinya, kalian besar kemungkinan akan bisa terpikat oleh tema cerita Hailstorm secara umum. Tapi bila kalian tak terbiasa membaca runutan paragraf yang hanya berisi pemaparan deskripsi per adegan, mungkin kalian akan agak tersendat dalam membacanya.
Apa lagi yang belum kusebutkan ya?
Oh, soal ilustrasi. Meski Fachrul beberapa kali sempat mencekokiku dengan artwork Lavinia ciptaannya setiap kali aku emosian di web (F: "Have some Lavinia."| A: "..."), sebagian besar ilustrasi buku ini secara efektif dibuat oleh V. Weyland dari ATAMA studio. Keseluruhan ilustrasinya menarik dan enak dilihat mata. Apalagi pada desain sampulnya. Kekurangannya paling cuma… aku merasa renderan-nya masih bisa lebih baik lagi? Terutama pada gambar-gambar menjelang penutupan buku? Hahaha, aku kurang tahu banyak soal gambar-menggambar sih. Oh, aku sempat menemukan satu detil pada ilustrasi yang kurang konsisten dengan isi cerita. Tapi itu masalah minor. Di akhir buku, juga ada bonus ilustrasi konseptual dari Felix Adrianto, yang gambar-gambarnya rasanya sudah lumayan lama tak kulihat.
Sebelum aku lupa, Hailstorm adalah novel Vandaria Saga yang memiliki tamat cerita paling memuaskan sejauh ini. Tamatnya menurutku keren, bukan hanya karena bahagia-tapi-enggak-sepenuhnya-bahagia. Tapi karena juga nyambung dengan benar-benar baik dengan sejarah linimasa Vandaria yang telah ditetapkan sejauh ini.
Aku agak enggak enak mengatakan ini, meski aku merasa perlu. Tapi aku benar-benar berharap Hailstorm telah meningkatkan standar mutu yang dimiliki oleh novel-novel Vandaria Saga. It’s just… better. Karakter-karakternya lebih jelas. Dunianya lebih jelas. Segalanya lebih terfokus.
Oh ya, aku lupa bilang bahwa bahkan peta yang disajikan di buku ini cuma peta dari satu propinsi dari negara Blackmoon. Memang enggak berperan banyak dalam cerita. Tapi setidaknya memberi indikasi dunia secara lebih jelasnya itu kayak gimana.
Buat pembaca yang benar-benar awam, meski bagus, Hailstorm sebenarnya bukan awal yang bagus untuk mulai ‘memasuki’ semesta Vandaria. Tapi begitu kalian sudah memiliki cukup banyak informasi latar belakang tentang dunianya (baik dari newsletter bulanannya atau website-nya), membaca Hailstorm beneran bisa menjadi pengalaman menarik tersendiri.
Terpaksa ngasih 3 bintang, bener-bener bikin saya kesal bukan main. Kesal. Bener-bener kesal! *emotmarah* Tolong, tanyakan kenapa, maka saya akan menjawab.
....
(ga ada yang nanya, jadinya menjawab sendiri --> *lamedetected* OTL )
Pertama-tama, kutegaskan, buku ini bagus. Setelah 2 seri Vandaria yang kubaca sebelumnya amat sangat kurang memuaskan, buku ini kaya penyegar. Apalagi, seperti biasanya, buku ini dibeli karena saya kenal pengarangnya sebagai sesama penulis di kumcer yang sama. mwaahahaha~
Dibuka dengan prolog yang bagus. Selama ini, aku selalu pesimis baca buku berprolog. Apalagi untuk ukuran fikfan lokal, jarang aku menemukan prolog yang bagus dan menarik minat baca. Intinya, ya, prolog Hailstorm bagus.
Lanjut. Ceritanya menarik. Plot simpel. Tentang sekelompok orang masuk ke neraka minta kekuatan. Sudah, selesai. Dipadu juga dengan narasi bagus sesuai seleraku, yang ga bertele-tele atau berbunga-bunga, atau juga ga memakai istilah-istilah yang bikin alis mengangkat terus. TETAPI aku punya "tetapi", yang biarlah disampaikan di bawah saja. Overall, alur ceritanya sih ga jelek. Tapi memang, makin ke belakang, makin mbosenin dan monoton.
Kemudian, karakterisasi. Selain plot, ini juga keunggulan buku ini. Karakter Lavinia, Iridio, Merryweather, dsb, bahkan macam sampingan kaya Fleta, bisa membuatku bilang, "Keren." Sangat terasa keseriusan pengarang menggali karakter-karakternya secara mendalam dan serius. Nasib yang menimpa para karakternya pun membuktikan penulisnya bukan penulis yang "sayang" karakter. :)) Villainnya lumayan bad ass. Menurutku pribadi, keberanian...bukan, kurasa lebih tepatnya, kreatifitas penulis menjadikan frameless sebagai si villain (setelah di buku-buku sebelumnya frameless seakan diagung-agungkan "kekerenannya"), patut mendapat pujian.
Lalu soal ending. Gantung, ya. Tapi bukan gantung yang bikin aku gegulingan kesal. Gantung yang memuaskan. Hehe...
Nah, berikut ini ada keluhan-keluhan saya yang belum bisa disampaikan di atas. 1. Penggambaran dunianya repetisi. Udah tahu kok, Reigner penuh sama lalat raksasa dan bangkai bau busuk. Tapi penulis terus-terusan ngulang-ngulang lagi deskripsi tempat ini. 2. Beberapa kali, aku menemukan istilah-istilah yang membuat rancu. Misal, (lupa halaman berapa) Iridio menggunakan istilah "tahanan" untuk kelompoknya. Hurr... Perasaan, ga semua anggota kelompoknya itu tahanan kan? Sebaiknya menggunakan istilah yang lebih universal. :| 3. Ini pertanyaan. Kenapa para prajurit rekan Lavi itu bisa masuk Reigner? Apa ada penjelasannya yang aku lewatkan? Apa sistem masuk surga atau Reigner itu sama kek sistem kepercayaan di dunia nyata? Kalau ya, apa para prajurit itu punya banyak dosa gitu? :-? 4. Ilustrasi di belakang buku itu kok ga konsisten dengan ilustrasi di depan. Kalau mau jujur, aku lebih suka ilustrasi di depan. :P 5. Terakhir, aku mengeluh ke editornya. Gimana sih? Buku yang udah terbit di pasaran, bisa penuh typo begini? Beberapa kali nemu saltik tanda baca dan nama "Clement" jadi "Silvius". Lalu "Lavinia" jadi "Arius." *facepalm*
Kesimpulanku, buku ini butuh sedikit edit lagi yang lebih teliti. Beneran deh, nilai buku ini 3,5. Dan aku ga keberatan membulatkannya jadi 4 bintang. Masalah typo sebenarnya gak apa-apa, sepanjang gak ganggu kenikmatan baca. Tapii... seperti udah kujabarin di nomor 5, typonya bikin kesal. Mana letaknya di bagian-bagian akhir. Sangat disayangkan, imo. =___=
Akhir kata, buat King Fachrul, selamat atas terbitnya novel pertamanya! Karya-karyanya selanjutnya ditunggu :)
Baca Hailsetrum akhirnya selesai ^o^ *kibar2 bendera keduax* sayang kalah cepet sm oyabun
okee komentar saia~ *moga2 gak kepedesan ya*
overall saia nggak benci, nggak jelek, ide menarik, penulisan rapi dan saia bisa baca sampe akhir dengan lancar~
saia juga nggak ada masalah dengan ending
te-ta-pi *EAAA* here come the tetapi XD
keluhan pertama saia, semenjak mulai perjalanan di neraka entah kenapa bacanya capek dan strugling >.<
Mungkin pasarnya emang bukan saia, dalam artian bisa aja ada yg suka perjalanan berat, panjaaaaang, monoton, gore, berdarah2 Tapi kalo saia rasanya jadi arrr... buruan gih ^^ Tapi bagian2 itu masih terselamatkan dengan interaksi antar karakter yg menarik (Merryweather and Fleta steals the show!)
dan oh the best death scene belong to walau akan lebih bad ass kalo dia sadar dia ga bs survive dan dia KAMIKAZE >:) lebih baik mati meledak ngebawa musuh serta menyelamatkan teman2 nya drpd dimakan kan? :D
kematian yang keren bahkan diberikan scene dr PoV dia sendiri, malah menenggelamkan kematian yang 'hanya' diwitness oleh Lavi
I think he deserve a better death scene ^^ yg lebih dramatis lah Mereka bertiga lebih appealing ke saia drpd
Jangan salah bukannya saia benci mereka, tapi semenjak chapter 13 keatas kayaknya bintang acaranya pindah, mungkin krn semua tentang 2 karakter itu udah dibahas di bab2 awal ya, jadinya ngga ada info2 dan revelasi2 baru lg tentang mereka
Justru yang bikin capek di bab 13 keatas itu mereka berdua ~_~
Penlaian akhir kalo dikasih goodreads rating 3 dr 5 lah :)
It was good, tapi ya itu tadi di bab 13 keatas saia capek bacanya khususnya pas lavi mengulang berkali2
Saia ngerti sih itu trik lawan, tapi karena keseringan diulang jadinya repetisi ^^
Banyak orang yang sering mengatakan bahwa horor dan komedi adalah dua jenis cerita yang paling sulit ditulis dengan hasil yang memuaskan.
Aku pertama kali mengenal pengarang buku ini dari cerita pendeknya yang berjudul "Apollyon", yang ia tulis untuk lomba cerpen fantasi Fantasy Fiesta 2010. Cerita itu bernuansa horor, jenis yang jarang berhasil aku lihat diramu dengan baik oleh kebanyakan penulis lokal. . Tapi setelah membaca cerita itu, aku segera tahu bahwa King Awesome, aka Fachrul RUN, alias penulis Hailstorm ini, adalah salah satu dari beberapa jajaran penulis yang mampu menulis horor dengan amat baik.
Hailstorm adalah sebuah cerita petualangan berbasis survival di sebuah alam bernama Reigner, yang secara kasar adalah neraka dari dunianya Vandaria. (Berikut adalah sekilas Vandaria dari sudut pandangku sendiri, dan sengaja kututup karena rasanya terlalu OOT untuk review ini. Silahkan buka kalau tertarik membacanya.)
Cerita Hailstorm sendiri cukup unik: tentang sebuah keluarga bangsawan militer dengan nama keluarga “Hailstorm”, yang berhasil menciptakan “Grand Ark”; gerbang lintas dimensi untuk masuk ke sebuah alam bernama Reigner. Reigner sendiri -kalau aku tidak salah tangkap-, adalah alam nerakanya Vandaria, sehingga aku pun mulai bertanya-tanya, kenapa mereka nekat-nekatnya mau masuk ke alam Reigner padahal hanya orang tidak waras yang memilih masuk neraka, dan bukannya surga?
Karena dari dalam alam Reigner, mereka mendapat kontak dengan sesosok iblis kharismatik bernama Amurdad, yang tertarik dengan dunia manusia, dan berjanji untuk meminjamkan kekuatannya bangsanya (bangsa Deimos) asal mereka mau menuruti syaratnya, yaitu dengan membuktikan kekuatan bangsa manusia padanya. Ia ingin beberapa manusia masuk ke alamnya, dan bertahan hidup dalam sebuah survival game. Dan siapa pun yang berhasil bertahan hidup, (bahkan bila semuanya selamat), akan ia anugrahkan kekuatan Deimos padanya.
Siapapun yang pernah membaca cerita tentang seseorang yang perjanjian dengan iblis, pasti sudah tahu aturan main utamanya: Jangan Pernah Percaya Pada Iblis. Keluarga Hailstorm tidak bodoh, tapi proyek “kecil-kecilan” ini sudah sudah berjalan terlalu jauh, dan terlalu lama. Sulit untuk menyembunyikan keberadaan seorang tahanan frameless setengah gila yang sudah mereka siksa selama berbulan-bulan untuk diperbudak membuka Grand Ark kapan pun yang mereka mau, tanpa terendus oleh keluarga bangsawan lainnya, apalagi dengan sesama frameless. Maka perjalanan pun harus segera dimulai, dan mereka pun harus segera menyiapkan pesertanya. Berikut adalah daftar beberapa tokoh penting dan tidak terlalu penting dalam cerita ini:
- Iridio Hailstorm, putra kedua dari tiga bersaudara Hailstorm: pemuda berusia tiga puluh tahunan yang jauh lebih berbakat memimpin daripada kakak sulung maupun adik bungsunya. Ia ikut dalam misi ini sebab sang ayah menginginkan setidaknya salah satu dari penerusnya mendapatkan kekuatan Deimos, dan karena ia merasa ini saat yang tepat untuk kembali menjalin kontak dengan tokoh penting nomor dua:
- Lavinia, seorang wanita ahli pedang beranak satu yang adalah bekas prajurit Hailstorm sebelum ia terpaksa pensiun dini akibat kesehatan mental yang menurun drastis, semenjak peristiwa naas dalam salah satu misi peperangan melawan frameless. Ia dipaksa mengikuti acara “piknik” ini sebab keluarganya (adik dan anak lelakinya) disekap oleh sang kepala keluarga Hailstorm. Dalam perjalanan ini ia menjalin hubungan akrab dengan tokoh penting nomor tiga:
- Merryweather, seolah pemanah periang yang senang minum-minuman keras. Ia mantan pembunuh bayaran yang pensiun dini, dan menjalin hubungan baik dengan tokoh penting nomor empat:
- Fleta, pemanah lain yang ikut ke Reigner bersama suaminya, namun harus menghadapi kenyataan tragis yang menantinya di sana. Ia dan banyak tokoh lainnya, tidak akrab dengan tokoh penting nomor lima ini:
- Tsujikaze, seorang ahli pedang dari salah satu negeri di Vandaria yang mirip Jepang. Pria berambut panjang yang sombong namun memang tidak sekedar banyak omong, dan ia sekali bertengkar dengan tokoh penting nomor lima:
- Amir, pria tinggi besar yang adalah tahanan hukuman mati keluarga Hailstorm. Ia lebih sering bertindak dengan kapak raksasanya dibandingkan mengobrol basa-basi dengan anggota rombongan lainnya, (dan beberapa anggota lainnya akan mengalami nasib naas dalam waktu dekat, sehingga rasanya tidak perlu kusebut namanya satu-satu di sini (karena di ceritanya pun bahkan tidak ada)) ditambah satu tokoh lagi yang juga tokoh penting tapi sebenarnya bukan resmi anggota rombongan, sebab ia adalah:
- Reedra, ratu iblis yang konon memiliki kekuatan yang setara dengan Amurdad, namun semenjak berhasil Amurdad kalahkan, menjadi sosok iblis tanpa emosi yang kini menjadi pelayan pribadi Amurdad, dan disuruhnya menjadi pengantar anggota rombongan ke “titik gol” dari tantangan Amurdad ini. Wilayah kekuasaan lamanya adalah wahana permainan tantangan ini, dan sekarang dikuasai oleh seorang pria keturunan frameless bernama:
- Aurelio: sang antagonis utama, penyebab utama Lavinia mengalami gangguan kejiwaan, menguasai ilmu ilusi tingkat tinggi dan masih amat membenci Lavinia sebab ia dulu mati di tangannya, dan sekarang setelah ia hidup kembali di alam Reigner dan mendapatkan kekuatan tambahan, berniat dengan amat senang hati untuk “menghibur” rombongan Lavinia dalam perjalanannya.
Untuk sebuah novel fiksi fantasi lokal, Hailstorm memiliki sinar tersendiri di antara kawan-kawannya. Itu mungkin bukan jenis sinar yang akan membuat pembacanya “terbuai” maupun “terhanyut” oleh ceritanya, namun jelas jenis yang tidak akan mampu oleh sebagian besar pembacanya lupakan, walaupun mereka yang sudah sering membaca cerita tentang perjalanan orang-orang nekat yang sengaja masuk ke dalam neraka.
Akhir kata, biarkan saya mengucapkan selamat pada penulisnya, dan kabarkan semoga karya-karya anda akan tetap baik dan semakin baik, untuk melengkapi jajaran novel-novel fiksi fantasi yang sekarang sudah semakin banyak ada di Indonesia.
Awalnya gue jalan-jalan ke Gramedia cuma iseng doang. Terus kaget bukan main pas ngeliat ada buku merah ngejreng kayak bungkus beng-beng itu. Dan tahulah saya, ini adalah bukunya The King Awesome. Tanpa berpikir dua kali, langsung saya ambil dari rak. Kemudian saya jalan-jalan ke lantai komik. Lihat-lihat Kungfu Boy, Conan sama One Piece, belum ada yang baru. Dan akhirnya berjalan pulang. Akan tetapi *jreng-jreng* pas baru mau pulang saya kaget saat melihat buku super-keren yang mengalahkan bukunya bang Fachrul. Yaitu buku:
The Life and Times of Scrooge McDuck edisi koleksi.
GILAAAA!! Ini buku treasure banget. Saya udah punya sih 7 bukunya, tapi belum yang special chapter. Kayaknya kelewat waktu itu beli di obralan. Ceritanya keren banget loh. Tentang kisah perjalanan hidup tentang paman Gober, bebek terkaya di dunia. Mulai dari pertama kali nyemir sepatu demi mendapatkan keping beruntungan *yang dengan gokilnya ternyata dikasih sama sang musuh bebuyutan, Mimi Hitam* Sampai dengan alasan di balik sifat tamak dan rakusnya. Ternyata, di balik sifatnya yang galak, paman Gober sangat mulia loh. Bertolak belakang dengan apa yang kita kenal selama ini. Salut buat Don Rosa.
Oh ya, baru-baru ini juga saya dikejutkan oleh artikelnya Bang Ami, soal film Inception karya Christoper Nolan yang ternyata ide "mencuri mimpi" nya 'mirip' dengan buku ini. Dan pas saya lihat, ternyata benar. Di chapter special, gerombolan si berat memang berusaha mencuri mimpi gober buat kunci brankasnya.
Well, begitulah kira-kira review saya. Sekian dan terima kasih.
....
....
Eh? Gue tadi lagi ngreview Hailstorm ya? Kenapa malah jadi cerita ngaco begini? *ditendang sama si Fachrul*
Ehm. Tadinya sih gue mau simpen lagi tuh Hailstorm, dan ganti beli bukunya Paman Gober, tapi karena satu dan lain hal *harga bukunya mahal banget bo* jadi terpaksa bukunya si Fachrul yang di beli, hehehe.
Buku itu saya buka di kantor, dan dalam 5 detik saya langsung ngakak. Sumpah. Beneran. Karena di halaman ucapan terima kasih, Fachrul dengan tidak berperasaannya nulis gini:
Ucapan Terima Kasih
bla..bla.. bla..bla.. bla..bla..
Saya Sendiri - karena saya begitu awesome.
DANG!
Wkwkwkwkwkwwk!
Keren.
Memang sudah saatnya penulis fantasy bersikap narsis.
Selanjutnya saya baca prolog. Dan komentar saya: Bagus. Ceritanya bulet dan langsung to the point ke pokok permasalahan. Dan yang bikin saya salut karena si Irdio punya sifat "Sebenernya gue ga pengin masuk ke sana, tapi karena babe gue maksa, ya udehlah..."
Itu ide yang sangat brilian. Berbanding terbalik dengan salah satu buku yang lain yang justru bersifat "Aku adalah anak ayahku. Aku adalah anak yang berbakti. Aku akan meneruskan pekerjaan ayahku. Karena apa? Karena aku kan anak ayahku..." Untuk ukuran cerita fantasy (menurut gue sih), 'keterpaksaan' tokoh atau 'keterdesakan' tokoh dalam cerita jauh lebih penting buat ningkatin mood pembaca. Dan ambisi dari babe-babenya mereka dalam 'memaksa' si Irdio pun sangat masuk akal.
Jadi sekali lagi, menurut gue buku ini udah keren.
Bagaimana dengan bab 1 dan selanjutnya? Soal itu... ntar lagi aja ya, hehehe. Soalnya ini bos gue udah melotot dari kejauhan. Udah datang telat, keluar istirahat lama, pas datang malah baca novel lagi. Apa nggak digantung nanti gua?
Bersambung dulu reviewnya.
Catatan: The Life and Times of Scrooge McDuck edisi koleksi itu harganya Rp. 160.000. Pengin beli uy... T_T
[EDIT]
Fiuuuh! Akhirnya selesai juga baca buku ini. Dan secara garis besar, gue bisa bilang kalo buku ini keren. At least, better dari buku2 vandaria saga yang terbit sebelumnya.
Ada beberapa hal yang gue catat di sini:
1. Covernya bagus. Tapi mata saya lebih tertuju pada logo Vandaria Saga yang di atas covernya. Lebih keren yang ini dari yang dulu.
2. Ilustrasi karakternya lebih rapi. Nggak acak-acakan lagi. Nice. Dan pengenalan tokoh-tokohnya: singkat tapi langsung menunjukkan sifat. Keren lagi.
3. Ceritanya bulet. Plot mungkin bisa ditebak, tapi karakter2nya EDAN! Khas bikinan The King.
4. Adegan pertempurannya di beberapa tempat rada boring dan bikin jenuh mata. Tapi di beberapa bagian pas banget.
5. Endingnya lumayan. Tapi ditutup dengan kekonyolan Fachrul yang bikin gue ngakak setengah mati. Ternyata si Amurdad punya panggilan sayang: Amy! Wkwkwkwkwk
(Jangan-jangan bang Ami Raditya punya hubungan sodara sama Amurdad. @_@)
*BLETAK! Dilempar setrikaan sama bang Ami*
6. Kalimat ucapan terima kasih yang tak terlupakan dari The King Awesome. Score: 10/10.
Overall, cerita ini mantap banget. Mungkin ini adalah cerita novel Vandaria paling keren yang pernah saya baca selama ini. Bagaimana dengan pengarang-pengarang selanjutnya? Bisakah mengalahkan 'kegilaan' dan 'kekonyolan' bang Fachrul?
At least, do'a anak saya terkabul pada waktu mau baca buku ini:
[image error]
Zaky: "Bismillah... mudah-mudahan om Fachrul nulis ceritanya rame, Aamiin."
Sekedar pengumuman, nama anak saya Maulana Azfar Rudawan. Ada pun nama panggilannya adalah "Zaky". (yang mau protes soal nama panggilan, saya timpuk pake panci!)
Thats all folks. Saya akui, saya bukan repiuer yang baik, apalagi penulis yang baik. Tapi satu hal yang pasti, saya dan Zaky akan terus berdoa semoga dunia fiksi fantasi Indonesia semakin maju, berkembang, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Selamat sebelumnya saya ucapkan kepada sang penulis karena telah menghasilkan satu seri novel Vandaria yang sejauh ini paling dewasa dan paling menyenangkan untuk dibaca. Bukan bermaksud mengecilkan seri-seri lainnya, tapi semakin ke sini, semakin terasa utuh saja novel-novel seri Vandaria yang diterbitkan Gramedia. Dari segi pembangunan karakter, Hailstorm adalah yang paling apa adanya dan paling manusiawi. Tidak ada tokoh yang hitam sepenuhnya ataupun putih sepenuhnya. Sulit menebak siapa yang sebenarnya jahat dan siapa yang sebenarnya baik, karena memang begitulah kebanyakan manusia di dunia ini, tidak 100% putih tapi juga tidak 100% hitam, ada wilayah abu-abu di antara keduanya, dan Fachrul R.U.N berhasil mengeksplorasi wilayah abu-abu itu serta memadukannya dalam satu lagi kisah petualangan besar yang terjadi di semesta Vandaria.
Adalah wangsa Hailstorm, sebuah keluarga bangsawan penguasa di kerajaan Black Moon yang bertekad untuk mencari tambahan kekuatan dari alam lain. Setelah berhasil menyandera Orbis, seorang frameless kuat, mereka memaksanya untuk membuka Grand Ark, sebuah gerbang yang dapat menghubungkan antara Vandaria dengan alam para monster, Reigner. Ekspedisi pun dibentuk, lewat ancaman atau bujukan uang, akhirnya terkumpul puluhan orang yang terdiri atas prajurit bayaran, ahli pedang, budak-tawanan, prajurit, anggota kelompok rahasia, serta seorang pejuang wanita yang telah bertekad untuk tidak bertarung lagi—Lavinia. Kelompok ekspedisi menembus Reigner itu ditugaskan untuk menghadap Raja Deimos Amurdad demi mendapatkan kekuatan besar itu. Ekspedisi itu dipimpin sendiri oleh Iridio Hailstorm, putra sulung keluarga Hailstorm yang pemberani.
Pintu menuju alam kematian pun dibuka, dan dimulailah perjalanan maut menelusuri alam Reigner yang penuh monster dan deimos, dengan berbagai racun mematikan dan jebakan tak kasat mata. Satu per satu, pejuang itu tumbang. Mereka mendapati bahwa alam itu terlalu beraroma maut untuk dijelajahi. Musuh-musuh terlalu kuat, dan perpecahan demi perpecahan yang terjadi semakin menambah banyak korban tewas. Akhirnya, hanya mereka yang terkuat secara fisik dan mentalah yang akan berhasil keluar hidup-hidup dari Reigner, dengan membawa kekuatan dahsyat yang mungkin belum pernah dijumpai di bumi Vandaria sebelumnya. Namun, sebelum itu, kelompok itu juga harus menghadapi musuh tak kasat mata yang selalu mengintai, berupaya membalas dendam pada Lavinia di masa lalunya. Ekspedisi ini sendiri ibarat hukuman bagi para anggota ekspedisi yang rata-rata memiliki sejarah kelam di masa lalunya.
Dari segi cerita saja Hailstorm ini sudah luar biasa “out of the box”, apalagi dari sisi pembangunan karakternya. Salah satu kehebatan dari Hailstorm adalah tema perjalanan yang tidak biasa (yakni perjalanan ke Alam Kematian) dan karakter-karakternya. Penulis begitu piawai menciptakan tokoh-tokoh yang unik sekaligus tak terlupakan dalam Hailstorm, di mana setiap karakter memiliki sisi lain yang kemudian terbukti bisa dieksplorasi dengan baik. Saya paling suka dengan karakter Lavinia. Pejuang wanita ini begitu tangguh dalam bertarung, tapi jiwanya digerogoti oleh masa lalu nan kelam. Ada juga Iridio, satu-satunya anggota keluarga Hailstorm yang waras dan berani melawan monster apapun—tapi sayang ia tidak berani menentang perintah ayahnya saat mengirimkan ekspedisi bunuh diri ke Reigner ini. Di dalamnya, tidak melulu disajikan perang fisik, namun juga gejolak batin dari masing-masing anggota ekspedisi sehingga ceritanya benar-benar utuh. Saya suka sekali saat Iridio berkata:
“Dalam medan pertempuran, aku tidak bisa lagi memikirkan soal derajat. Karena mereka berada di bawah naunganku, aku harus memastikan mereka dapat bergerak dengan maksimal.” (hlm 131)
Membaca Hailstorm, tampak sekali betapa penulisnya telah begitu dewasa karena ia berhasil menyisipkan nilai-nilai kekeluargaan, kesetiakawanan, dan juga tanggung jawab melalui sebuah cerita fantasi petualangan. Dari awal, Hailstorm terlihat gelap karena mengambil setting di Reigner—Alam Kematian—namun sebenarnya novel ini menawarkan kehangatan kemanusiaan: rasa cinta sepasang suami istri, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, serta pengorbanan antar-sahabat. Lebih utama lagi, Hailstorm seolah menegaskan kembali bahwa keluarga adalah segalanya. Mungkin, satu-satunya kelemahan yang saya temukan adalah kurang detailnya (atau kurang kejamnya) deskripsi alam Reigner itu, juga nasib-nasib tragis sejumlah karakter yang sebetulnya bisa diselamatkan! *eh spoiler!
Nilai plus lain terletak pada alur ceritanya yang “hanya satu” sehingga pembaca dimudahkan untuk mengikuti alurnya. Alurnya simpel, tapi jelas dan runtut, yang kemudian diperkaya oleh si penulis dengan menggambarkan kondisi psikologis para anggota ekspedisi. Agar tidak membuatnya menjadi membosankan, penulis juga piawai menyelipkan adegan-adegan pertempuran di spot-spot tertentu sehingga pembaca tidak bosan. Satu lagi, typo alias salah ketik juga minim (Thanks Gramedia karena seri ini sudah ada editornya) di samping ilustrasi-ilustrasi di beberapa halamannya sangat membantu pembaca dalam mengimajinasikan cerita. Pun, pertempuran akhirnya, adegan pertarungannya begitu memuaskan! Saya mau nanya sedikit, Reigner itu plesetan dari “neraka” ya?
Satu lagi (dari tadi satu lagi satu lagi terus), sebagaimana seri-seri Vandaria lainnya, Hailstorm telah berhasil mengakrabi pembaca yang mungkin sebelumnya belum mengenal Vandaria. Entah bagaimana, siapapun bisa membaca secara acak seri-seri Vandaria, dan kemudian tiba-tiba langsung jatuh cinta dengan semesta rekaan nan unik namun menakjubkan ini. Membacanya, kita akan segera ikut mengkristal dalam alam ini, yang menjadikan benak begitu haus akan petualangan-petualangan selanjutnya. Karena alasan inilah para penulis dan creator dan illustrator dan kartu Vandaria Saga akan terus dinantikan karya-karyanya oleh para penggemar fiksi fantasi di Indonesia. Selamat, sekali lagi.
Review ini sesungguhnya merupakan konflik selera saja.
Kalo dari pribadi saya yang mau mencoba menilai buku ini berdasarkan pertimbangan macem-macem lainnya, mungkin bisa 4/5 nih hehehe tapi ...
Oke, 2 dari 5 bintang? It was OK. OK.
Saya ini orangnya enggak punya banyak duit, dan beli Hailstorm ini penuh pertimbangan, dan bahkan sampai ditraktir sama penulisnya daari 75ribu ke 60ribu! Oh sungguh tak tahu balas budi saya memberi 2 dari 5? LOL, balik lagi ya, ini masalah selera dan mungkin jadi sekedar komplain, curhat gaje.
Yang Saya Suka : 1. Tokoh. Ya, ya, Lavinia, Justina, Iridio, Amurdad, etc cukup menghibur, memorable. Amurdad yang unyu dan Reedra yang sekseh <3
2. Plot. Meskipun monoton, tapi masih mampu memikat baca sampai selese, itu keren. Saya suka ngebaca kisah orang-orang disiksa soalnya hwahahahaha!
3. Mampu memberikan sedikit gambaran tentang dunia Vandaria. Seputar Blackmoon, Hailstorm, Vanadis, Daemos, Grand Ark. Yah meskipun minim [atau saya yang lemot?]
Yang Saya Tidak Suka (selera) : 1. Narasi, Dialog. Dalam narasi yang rasanya buru-buru, pilihan kata yang penting pembaca ngerti, yang penting plot nyambung, ha! Bosen coy. Nothing really memorable. Narasi tentang dunia Reignernya juga ultra monoton kayak sekedar copy-paste dari bab sebelumnya, heaaa lalat, mayat, sula!
Dalam dialog yang oke keren, tapi, tapi juga kadang gimana yah ... errr memaksakan keren? cara penyampaian dari karakter-karakternya kayaknya masih terlalu sama, cuma dipelintir dikit-dikit.
2. ARTWORK VISUAL. Gambarlah maksudnya. Uhm. Bagi saya pribadi, selera. Gambarnya itu enggak penting. Enggak perlu! Nambah-nambah gambar macem-macem itu mahalin harga tauk! [orang pelit maklumi saja] Lagipula gambarnya enggak selaras, di bagian depan udah ada gambar-gambarnya dengan gaya tertentu, eh eh di belakang buku ada gambar lagi dengan gaya gambar yang beda lagi. Jadi enggak konsisten.
3. Ekspektasi. Hummm kirain bakal baca kisah yang matang. Tapi enggak. kurang matang. kayak sekedar selese. Setidaknya itu impresi yang saya tangkap.
4. Enggak ada yang baru ... old stuffs like of mercenaries, magic, sword, demon, god, hell ... Frameless? Errrrr, enggak terlalu menarik bagi saya.
Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya ada juga buku vandaria dengan bajingan sejati di dalamnya.
Dari segi cerita dan karakteristik, buku ini adalah nomor satu dalam peringkat pribadi saya.
Tokoh utamanya bermasalah, itu memang klise, tapi, dia bukan lantas EMO menyebalkan. Dan berapa banyak sih noval fikfan lokal dengan tokoh utama ibu-ibu beranak satu? Itu salah satu alasan saya suka buku ini. Banyak cewek - termasuk demon betina aneh, yeah - yang WOW. Konfliknya memang simpel dan tertebak, tapi karena penyelesaiannya oke, saya nggak akan bawel, deh. Apalagi saya memang lebih suka yang sederhana aja, yang penting JELAS dan RAPIH.
Lalu, tentang antagonis, saya senang karena di sini yang brengsek dalam artian minta ditendang bukanlah si penghuni neraka, tapi malah frameless.
Walau sejujurnya, buat saya, Amy itu kok imej sifatnya Lucifer-nya Shin MegaTen banged, yaaa...
ETA; Setelah baca, saya kok jadi tergoda taruhan yaa, bahwa mantannya Merryweather itu...
Baru saja Sang Musafir kembali ke “markas”-nya, duduk-duduk sambil mengemil roti kurma, datanglah rekannya sesama pejalan cakrawala. Kali ini, pria yang menjuluki dirinya “God Emperor of Awesome” ini malah menyampaikan tantangan.
“Sudah pernah ke nerakanya Vandaria?” ujar Fachraz, pejalan cakrawala itu.
“Reigner? Belum. Apa bedanya dengan di dunia-dunia lain? Bukankah itu alam kematian, negeri para pemihak kegelapan?”
“Yeah. Berani pergi ke sana? Ada petualangan awesome, lho! Sebagai penggemar kisah-kisah penuh aksi, plus nuansa dark fantasy, aku jamin kau pasti akan terbawa ketegangan sampai ketagihan, susah menaruh buku sampai begadang segala.”
Mata Sang Musafir berbinar. “Tentu saja aku berani, tunggu apa lagi? Jarang sekali ada novelis fantasi Indonesia yang merambah sampai ke dunia bawah.”
Maka, kedua pejalan cakrawala, Fachraz dan Sang Musafir menyusup sebagai prajurit keluarga Hailstorm. Lalu, bersama para jagoan ternama yang direkrut Hailstorm dengan menghalalkan segala cara, mereka berangkat ke Reigner.
Di antara para jagoan itu adalah: 1. Iridio Hailstorm: Sosok ambisius yang penuh percaya diri, mengira ia dapat meraih apapun juga dengan kekuatan, kekuasaan dan kekayaannya. Repotnya, ia sering dikecewakan dan malah menghalalkan segala cara untuk menebus kekecewaan itu. 2. Santorius Hailstorm: Pria yang memendam rasa iri dan dengki pada saudaranya yang lebih superior. Sepak terjangnya cenderung ditujukan untuk membuktikan diri bahwa ia cukup mampu jadi pemimpin marga bila Iridio tewas di Reigner. 3. Tsujikaze: Ronin (pendekar pengelana) dari Rho’vell yang ingin membuktikan diri sebagai pendekar terbaik di Vandaria, tak hanya di negeri asalnya sendiri. Sikapnya sering serampangan dan cenderung oportunis. 4. Amir Al-Tatum: Pria bertubuh sangat besar dari Isfaris ini adalah seorang pendekar frustrasi. Ia ingin mencari cara untuk mati yang sesempurna mungkin hingga ia selalu terjun dalam petualangan-petualangan berbahaya – yang lucunya selalu ia lalui dengan selamat. 5. Merryweather: Peran karakternya sebenarnya adalah comic relief dan pendamai. Sesuai namanya, ia bagai angin sejuk, cuaca cerah (merry weather) di tengah badai. Namun, di balik keceriaan gadis manis ini, ada rasa “tak berharga” yang selalu dipendamnya. Ia selalu menganggap dirinya sendiri hanya sekedar “alat pembunuh”, bukan manusia seutuhnya. Justru sikap periangnya jadi topeng, yang jadi perisainya menghadapi kebejatan dunia. 6. Edric dan Fleta: Suami-istri pendekar-pemanah piawai, yang menganggap misi keluarga Hailstorm ini sebagai kesempatan emas, pintu menuju kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak. 7. Lavinia: Wanita ksatria frustrasi yang terkenal dengan julukan “Pedang Cepat” ini perlahan-lahan sedang menyusun kembali puing-puing kehidupannya dengan bantuan anak dan adiknya. Lalu datang lagi si “badai”, menjebaknya dalam situasi serba-salah bak buah simalakama, dalam mission impossible ini. Pendirian Lavinia seteguh karang, tak tergoyahkan oleh apapun. Namun ia tetaplah manusia yang punya kelemahan. Walau demikian, ia harus tetap bertahan hidup agar dapat melindungi orang-orang yang dikasihinya. Selama ia masih bernapas, selalu ada harapan, sekecil apapun harapan itu.
Nah, sebab dan latar belakang misi ini sudah dijelaskan dalam sinopsis, yaitu tantangan Amurdad, Bapa Orang Murtad, si Raja Deimos, penguasa Reigner dengan hadiah kekuatan tak terbatas untuk menandingi Raja Tunggal (hey!). Makanya berangkatlah pasukan Hailstorm melanda Reigner.
Menapaki dunia penuh darah, api dan tubuh-tubuh hangus membusuk ini, Sang Musafir merasa nyawanya bisa melayang setiap saat. Bagaimana tidak, ini dunia yang sangat asing baginya, bahkan bagi keluarga Hailstorm dan orang Vandaria sekalipun. Segala kejutan mengintai dari segala sudut, termasuk serangan-serangan mendadak dari para “penduduk asli”.
Sang Musafir menepuk dahi. “Oh iya, aku ini ‘kan pejalan cakrawala, yang notabene adalah pembaca. Yah, kurasa kesempatanku hidup jauuuh lebih besar dari mereka ini.”
Fachraz mengangguk. “Yap. Lebih baik kita berfokus pada kedelapan jagoan tadi. Silakan berpenasaran dan bertebak-tebakan ria, siapa dari mereka yang paling cepat ‘tereliminasi’ dan siapa yang pada akhirnya bakal keluar dari Reigner hidup-hidup.”
“Hmm, Raz. Kalau boleh tahu, apa dan siapa saja yang kira-kira bakal kita hadapi di dunia kematian ini?”
Si “pemandu” menjelaskan, selain monster-monster Deimos yang brutal, ada beberapa tokoh antagonis yang makin mempertegang suasana. Di antaranya: 1. Amurdad: Raja dunia bawah, penguasa para Deimos. Ia sedang menyusun suatu rencana besar, dan kebetulan Keluarga Hailstorm juga berupaya untuk “mendekati” alam Reigner. Maka ia melontarkan tantangan, ujian, untuk menyeleksi dan menempa seorang calon duta-nya yang akan mengemban kekuatan tak terbatas. Barulah setelah itu tahap kedua rencananya bisa dimulai. 2. Reedra: Berperan sebagai “pemandu lokal” di Reigner, Deimos wanita ini layak mendapatkan Piala Oscar sebagai aktris yang sangat meyakinkan. 3. Aurelio Luvareth: Berhubung salah satu ujian para “peserta” adalah berhadapan dengan ketakutannya yang terdalam, nemesis dari masa lalu Lavinia inilah yang memberikan perlawanan terdahsyat. Hati-hati dengan kesumat arwah penasaran.
Salah satu nilai tambah dalam kisah ini adalah tokoh-tokohnya yang sangat “manusiawi”. Beberapa bahkan punya tendensi brutal, “gila”, hilang ingatan dan memiliki kelainan mental tertentu. Masing-masing tokoh punya kelemahan, masa lalu, ketakutan-ketakutan yang justru malah dimanfaatkan antek-antek Reigner sebagai batu ujian mereka yang terberat.
Jadi, survival game ini bukan hanya urusan adu kekuatan saja, tapi juga adalah perang urat saraf yang terus-menerus dan konstan. Makin teguh si peserta, jalan yang seperti mendaki gunung makin terjal dan batu ujiannya makin berat saja.
Akan tampak orang yang lulus uji adalah yang mampu mengangkat batu itu sampai di garis akhir, mengatasi lawan terberat yang adalah dirinya sendiri.
Dalam novel penuh aksi ini, kalaupun ada sepercik drama, itu tak jauh dari kehidupan Lavinia dan Merryweather. Pergolakan antara cinta dan prinsip, kehormatan dan rasa tak berharga, hingga menyangkut harapan melawan kenyataan.
Kalaupun ada twist, satu-satunya “bocoran” adalah: Saat situasi tampak tanpa harapan sama sekali, selama ada yang masih bernapas, selalu ada harapan dan peluang, sekecil apapun itu. Kuncinya adalah memperluas pemikiran (out-of-the-box) dan melakukan improvisasi.
Sisanya adalah ketegangan (suspens) dan alur logika yang membuat para pembaca makin penasaran dan menebak-nebak: - Akankah tokoh utama “dimatikan” atau “berkorban”? - Akankah hasil akhirnya jadi kegagalan total, dengan Amurdad menari-nari penuh kemenangan sambil menangis karena rencananya niscaya tertunda? - Siapa sajakah yang akan bertahan dalam The Hellstorm Game ini dan keluar dari Reigner dalam keadaan masih bernapas? Dan siapa yang mendapat “hadiah” dari panitia merangkap juri, Mr. Amurtad? (Ralat: Amurdad). - Dan banyak variasi tebakan lainnya. Silakan baca sampai tuntas, lihatlah segala teka-tekinya terpecahkan satu demi satu.
Di akhir segala akhir, Fachraz mengantar Sang Musafir beristirahat sejenak sambil minum meadar di Rumah Minum Beautram del Porto, mengurai segala ketegangan sepanjang perjalanan tadi.
“Bagaimana, bung? Mau coba lagi ke Reigner?” ujar Fachraz menggoda.
“Cukup baca ‘Hailstorm’ saja, kurasa,” jawab Sang Musafir. “Tanpa aksi, tantangan dan ketegangan ekstra, it’ll be boring like hell. Reigner jelas bukan tempat wisata atau real estate yang direkomendasikan di Vandaria.”
“Haha, bisa saja. Tapi serius, bagaimana kesimpulanmu setelah aksi gila-gilaan tadi?”
“Buat sebagian orang yang lebih suka memandang kisah-kisah fantasi dari sudut keindahan yang membuai perasaan, baik pemaparan, background dan rangkaian kata-katanya, Hailstorm mungkin bukan pemuas selera yang ideal. Namun bagi penyuka aksi, ketegangan yang kadarnya sekelas ‘Game of Thrones’ – George R. R. Martin, ‘Inferno’ – Dante Alighieri, dan game ‘Diablo’ keluaran Blizzard, bisa jadi mereka akan membaca tanpa bisa berhenti, lalu, cepat atau lambat, baca lagi untuk mencari-cari kali saja ada detail yang terlewat.”
Dan Sang Musafir bukan mengada-ada.
Kalaupun ada yang perlu dipoles lagi dalam “Hailstorm” ini, mungkin adalah penambahan daftar istilah di bagian akhir novel, beserta penjelasan seperlunya tentang hierarki para Deimos di alam Reigner. Hal ini akan lebih membantu para musafir yang baru pertamakali menginjakkan kaki di alam Vandaria, apalagi yang langsung ke akhiratnya, untuk lebih menyerap cerita ini dan makna ketakterbatasan Vandaria secara keseluruhan.
Kesimpulan akhir, “Vandaria Saga – Hailstorm” karya Fachrul R.U.N. adalah contoh yang sangat gamblang mengenai pihak-pihak tertentu yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan “kunci” menuju ketakterbatasan dan malah menerima lawan dari kekuatan itu, yaitu kekuatan serba keterbatasan yang diwakili oleh Deimos.
Dan inilah salah satu peristiwa dalam sejarah Hikayat Vandaria di Era Kristal Merah, persamaan derajat antara frameless dan manusia ini, yang juga menyambungkan benang merah dengan zaman selanjutnya, yaitu Era Invasi Kegelapan.
Seteguh gunung, segarang badai Dahsyat nan digdaya, bagai badai es melanda neraka
Fuuh, baca novel ini sebenarnya cepat. Cuma seminggu selesai. Walau tetap sebagai novel fantasi Indonesia tercepat yang aku baca adalah TM, 4 buku 4 hari. Hehe. Akhirnya bisa selesai novel dari seorang penulis yang sudah punya nama besar di dunia Fantasi Indonesia karena di ajang Fantasi Fiesta. Sebenarnya mungkin tampak sotaknya saja aku ini. Tapi, saya menulis review ini karena saya sangat mengapresiasi Mas Fachrul. Mari kita mulai dari cover. Sebenarnya sih dari Cover nggak mencerminkan bahwa itu Hailstorm sama sekali. Hail Storm, badai Es, seharusnya mah covernya biru-biru gimana gitu. Tapi, Covernya bernuansa merah. Ada seorang cewek berambut sebahu yang dibuat dengan gaya bishonen. Gambarnya sendiri menunjukkan sang cewek ini adalah cewek tangguh, dengan memakai perlengkapan baju perang. Bukan zirah, tapi lebih ke baju kulit yang saya taksir sebagai karakter utama. Lalu ada beberapa siluet monster di belakangnya, backgroundnya sendiri di dominasi warna merah. Seperti langit senja, tapi lebih merah lagi, merah pekat dan tampak banyak siluet pedang-pedang di tanah. Seperti bekas medan pertempuran. Sebenarnya memang memikat, tapi kurang sinkron sama judul. Hehe, tapi setelah baca sinopsisnya pasti merasa bahwa cover itu sudah mewakili kisah kok. Buka halaman awal. Oke, say thanks. Semua cukup dimaklumi tapi... Saya sendiri - karena saya begitu awesome. Baca ini bagi saya bukanlah masalah narsis. Tapi, bagiku adalah jaminan mutu novel ini. Intinya, dia sebagai penulis menjanjikan sebuah kisah yang enak dibaca dan keren dalam novel ini. Baik, itu jadi sebuah jaminan buatku. Penulisnya awesome, tulisannya juga harus awesome. Lalu ada profil karakter. Beberapa karakter utama ditampilkan dengan ilustrasi. Sebenarnya setelah baca semua cerita aku kurang setuju si Arius ditampilkan dalam ilustrasi tokoh. Jujur dia tidak berperan banyak. Aku malah lebih berharap si Cangkang alias si Reedra ada dalam ilustrasi. Dia berperan banyak dalam cerita ini. Singkat kisahnya begini. Hailstorm adalah keluarga. Jadi kisah ini bukan menceritakan tentang bencana alam yang disebabkan oleh badai es. Di mana mereka menemukan sebuah cara masuk ke sebuah portal yang membimbing mereka ke sebuah alam pada iblis alias deimos. Di sana ada si Amurdad yang mau memberikan kekuatan jika manusia bisa melewati ujiannya. Nah, di sinilah mulai kisahnya, dimana Iridio anak dari Arius ditugaskan ke sana untuk hadapi ujian dan memperbolehkan merekrut orang-orang terbaik untuk ke sana. Iridio ini sebenarnya jadi anak, eh bukan ding. Lebih cocok disebut bawahan Ayahnya. Dia tidak ada hak untuk membantah. Intinya, “Kill yourself!” “Aye, sir!” XD Kemudian si Lavinia direkrut dengan sedikit paksaan dan beberapa orang lain. Untuk menghindari spoiler. Intinya konsep kisah begini sudah banyak ada. Di mana manusia yang haus kekuatan diberi ujian untuk mendapat kekuatan itu demi sebuah kemenangan mutlak atas apa yang dia inginkan. Oke, konsep itu sudah susah yang namanya bener-bener orisinal, tapi tetap saja jika diolah dengan baik bisa menarik kok. Lavinia si karakter utama yang merupakan heroine dalam kisah ini sangat beda dari heroine kebanyakan. Sungguh, tidak terbayang aku gadis cantik yang ada dicover itu adalah ibu-ibu umur 30 tahunan beranak satu. Dia bukan janda, soalnya dia punya accident child, alias tactically Janda. Intinya sih, ini beda. Beda banget dari kebanyakan kisah. Ini saja sudah bikin aku tertarik baca kisahnya. Tapi sedih juga, ga bisa naksir si Lavinia, nih. Well, plot si karakter ini mau ikutan ke misi bunuh diri. (ini disebut terus kok sepanjang kisah) karena sang anak dan adiknya ditawan. Jadi intinya dia ikut karena paksaan. Mari kita mulai hal-hal yang bikin kesandung baca novel ini. Di tengah-tengah kisah, sempat terjadi monoton. Yah, intinya tensi masih begitu statis. Tapi di 2/3 kisah sudah mulai naik lagi. Juga si Aurelio. Dari awal sampai akhir, sama mulu caranya. Pasukan kabut, ilusi, pasukan kabut, ilusi, deimos. Yah itu-itu saja. Jadi aku ga bisa expect more. Intinya kayak Saint Seiya, Pegasasu Ryu Sei Ken sampe akhir. XD Ilustrasi, aku sih merasa ilustrasinya bagus. Cuma kurang menunjukkan adegan-adegan yang pas untuk diilustrasikan. Aku berharap ada ilustrasi pertarungan antara Lavinia dengan Aurelio, juga saat si Reedra melakukan sihir petir. Sampai sekarang aku tidak tahu wujud Reedra padahal dia karakter paling aku sukai. Bahkan tidak aku lihat ilustrasi dari dampak penggunaan mana padahal itu sungguh membantu membayangkannya. Cuma ada ilustrasi tubuh Iridio dengan api biru. Just that... Intensitas selama perjalanan ini memang menunjukkan Fachrul bukanlah penulis sembarangan. Di mana dia bisa menulis dengan jelas suasana yang ada di alam deimos. Juga moral yang naik turun, situasi tegang bisa terasa sekali. Pembentukan settingnya juga baik. Bisa membuat aku membayangkan bagaimana alam di sana dan juga dampaknya pada pasukan kecil Iridio. Twist-twist yang tersajikan di dalam perjalanan menarik untuk diikuti, juga kebetulan-kebetulan ikatan antara kawan dan lawan.
Beberapa hal yang tergambar di sini adalah peperangan itu sangat membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya hanyalah penderitaan dan penderitaan itu yang membuat si Lavinia sampe-sampe... well you know. Cuma yang terbayang olehku saat si Lavinia tersadar. Dia bilang ini, “Sejak kapan gue bunting gini!” Hehehe. Nah, hal-hal keren dari novel ini. Pertama adalah karakterisasi seperti yang aku bilang di atas. Karakter Lavinia yang memang menunjukkan dirinya seorang prajurit, tapi tetap saja dirinya adalah seorang wanita dan seorang ibu dari anaknya. Iridio yang memang punya sifat kepemimpinan, tapi sebenarnya dia naksir sama Lavinia. Merryweather. Oke yang satu ini memang jadi karakter yang bisa bikin ketawa di dalam cerita ini. Walau begitu dia punya masa lalu kelam, tapi dia terus menunjukkan ceria. Meadarholic. Sebenarnya sepanjang kisah. Karakter yang aku suka berganti-ganti, dari Iridio, Kaze, Merry, Amir. Tapi sebenarnya setelah aku mengikuti cerita, karakter yang paling saya suka adalah... Deng deng deng Reedra. Si Cangkang Hampa. Aku paling simpati sama karakter ini. Sejak awal kisah dia tidak begitu menonjol, tapi pelan-pelan dia menunjukkan kalau dirinya berperan banyak, apa lagi di 2/3 kisah. Pelan-pelan aku juga mulai simpati sama karakter ini. Lagian karakternya sebenarnya tersembunyi, tapi bagaimanapun ternyata dia punya daya pikat yang berbeda. Walau tetap, bagiku karakter paling menonjol adalah Merryweather. Layaknya Karth di Ther Melian, dia jadi penyegar suasana, sebenarnya aku merasa memang Merryweather dan Karth memang cocok, mereka berdua sama-sama pembunuh, sama-sama mengutamakan misi dari apapun. Hehee, kalau mereka nikah aku kasih persetujuan deh. Banyak banget hal-hal keren yang bisa dinikmati dalam novel ini. Bukti kalau Mas Fachrul menggarap novel ini dengan sangat baik. Aku berikan 4 dari 5 bintang untuk novel ini. Jadi memang agak kesandung tapi aku tetap bisa berlari saat membacanya. Lumayan cepat. Bahasa yang sederhana, plot yang jelas walau linear, lalu setting yang terbangun dengan baik, tujuan kisahnya jelas, karakterisasi yang sangat kuat. Buat Mas Fachrul, karena novel ini, saya sangat tertarik baca novel-novel Vandaria lain. Semoga karya ini bisa jadi semakin diminati dan untuk Vandaria Saga semakin sukses dengan cerita-ceritanya. Salam
oke, kesan pertama saya setelah selesai baca buku ini adalah : Keren, seru, dan sederhana. Karakternya menarik, dan plotnya mudah diikuti. Dengan kata lain, sebagai pembaca, saya merasa sangat puas.
Tapi kalo kita tekan tombol mundur sampai saat si Fachrul bilang novelnya mau terbit dan menawari saya untuk beli, terus terang, saat itu saya merasa ragu, bahkan bertekad untuk hanya melirik ke rak buku di gramedia tanpa mau membelinya. Bukan karena saya anti kepada seri Vandaria Saga, karena saya juga pernah ikut lomba menulis Vandaria Saga, tapi karena selama ini saya lebih memilih seri fantasi luar negeri seperti karya George RR Martin dan RA Salvatore, atau Margaret Weis. Well, bukannya anti buatan dalam negeri man. Cuma, saya kurang suka dengan fantasi gaya game konsol Jepang yang selama ini kupikir telah menjadi landasan para penulis fantasi Indonesia.
Tapi karena saya (istilah jawanya "PEKEWUH") sama Fachrul, ya akhirnya dengan berat hati merogoh kocek dan membeli Hailstorm. Yah, idep-idep jadi penglaris teman lah.
Ngak kusangka, ternyata isinya jauh melebih ekspetasiku. Entah karena yang nulis si Fachrul, atau memang kuatnya landasan konsep Vandaria Saga, yang jelas saya enjoy banget baca Hailstorm. Walau plotnya sederhana, tapi para karakternya menarik dan unik. Yah, mungkin bagi yang sudah terlalu banyak baca buku memang rada-rada ada kelemahannya, tapi saya ngak peduli. Yang penting, it is enjoyable, dan saya menikmatinya sampai akhir.
Saya ngak akan menjelasin satu-satu, karena menurutku akan memberi spoiler bagi yang belum baca. Yang jelas, buku ini telah merubahku dalam memandang cerita fantasi buatan anak negeri. Karena Hailstorm ternyata ngak kalah bila ditandingkan dengan novel buatan penulis luar negeri seperti "The Black Magician Trilogy" nya Trudi Canavan sekalipun
Bermula dari ambisi keluarga Hailstorm selama ratusan tahun untuk mencari kekuatan demi menghadapi ancaman kekuasaan para frameless. Segala percobaan, langkah-langkah serta operasi berisiko tinggi telah ditempuh agar tercapainya visi keluarga.
Setitik harapan akan terwujudnya impian itu muncul sekembalinya beberapa kelompok prajurit Hailstorm dari Reigner dengan membawa informasi. Yang Abadi – Amurdad, dikabarkan berjanji memberikan berkah berupa kekuatan dan kekuasaan bagi siapa pun yang lulus dalam ujiannya.
Maka, dihimpunlah persiapan ekspedisi berbahaya ini. Diantaranya adalah dengan mengumpulkan prajurit berkualitas dan orang-orang yang memiliki kekuatan istimewa melintasi alam Reigner, yaitu alam kematian.
Disinilah semua akan dimulai …
Pertumpahan darah
Perseteruan
Pertempuran
Pembantaian
***
Saya benar-benar terkejut karena mampu menyelesaikan novel ini tanpa beban sama sekali. Rangkaian jalinan peristiwa dalam cerita menyuguhkan suatu ketegangan berkesinambungan, tapi tetap dengan lingkupan porsi yang tepat, tidak terkesan terlalu berlebih-lebihan. Ini yang menjadi aplause lebih untuk novel ini. Isinya penuh dengan suspense serta gejolak masa lalu masing-masing karakter dalam perjalanan ekspedisi mereka. Menyiratkan bahwa musuh terbesar dalam diri seseorang adalah kenangan pahit yang akan segera melahap habis segalanya bila rasa bersalah itu tidak sesegera mungkin dihambat.
Membaca prolog di awal membuat saya mulai berpikir bahwa Iridio akan menjadi karakter utama dalam buku Hailstorm. Jujur saya amat menyukai dan mengagumi sosok yang satu ini karena nilai-nilai kemanusiaan dan juga kesetiaan yang ditampakkan dalam pembangunan karakterisasinya. Sangat komplit sebagai peran utama.
Namun sampai di chapter lanjutan, saya dibuat agak terkejut dengan perubahan drastis Iridio. Dari orang yang terlihat begitu peduli pada nyawa prajurit dan kesatria, menjadi orang yang begitu santai memonopoli nyawa orang lain untuk sekedar menguji kemampuan. Hanya di saat itu, pun tetap tidak mengurangi kewibawaan serta jiwa kepemimpinan dalam diri Hailstorm muda ini secara keseluruhan.
Plot memang tidak mudah ditebak, tapi tidak ada kejutan berarti yang membuat saya merasa surprise ketika membaca hingga akhir. Tentang masa lalu Lavinia di lumbung, kematian Iridio selaku Hailstorm terakhir dalam misi, atau tentang Merryweather yang akhirnya menjadi relawan Avatar Amurdad di dunia manusia. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah, saya masih bisa menikmati novel ini sampai tuntas. Seperti kata-kata saya di awal, saya teramat menikmati ketegangan dan penggalian emosi dalam ceritanya.
Selain mudah dicerna, gaya bertutur khas penulis juga renyah dan sederhana. Kalau pun ada kosakata yang kurang dikenal khalayak, penulis mampu memberi penjelasan dengan cara-cara yang enak. Setting cerita juga sudah dieksplore dengan baik. Bagian Ending-nya pun pas, dan tidak ada masalah buat saya.
Edit: review yang 'serius'-nya sudah ada! Bisa di baca di sini.
(Tadinya saya mau langsung copy-paste aja dari blog, tapi blogger kadang tidak bersahabat dengan modem.) (Contoh: tadi pas update page, pasti ada tulisan An error occurred blablabla*lempar laptop*)
Review yang gak serius itu masih bisa dilihat di bawah ini.
(Astaga, Aul, kamu banyak banget sih tag spoiler-nya!) (Stop talking to yourself.) Rating-nya sih tetep 3.5 tapi gak dibulatkan. Karena... yah, silakan lihat review gak serius di atas, at your own risk.["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Jadi ceritanya ini... saya dulu sempat beli 3 novel di bazaar buku murah. Awalnya berharap Hailstorm ini didiskon dikit lah. Tapi ternyata belum didiskon sehingga saya mutuskan beli 3 novel itu dulu.
Tapi... sumpah gila! 3 novel itu tak ada yang selesai saya baca karena saya lebih penasaran sama Hailstorm karya King of Awesome aka Fachrul R.U.N yang sudah bolak-balik promosi di grup FB serta goodreads.
Oke... karena sudah resah dan gundah gulana akhirnya nekat juga saya beli ini buku meski harganya lumayan juga (Rp. 75.000,-). Nggak penting banget curhat saya? Memang X3.
Baiklah mari kita langsung saja ke intinya.
Kelebihan buku ini adalah : 1. Karakter utamanya yang tidak biasa. Yah... rata-rata penulis pasti bikin protagonisnya kalau nggak cowok muda ganteng ya cewek remaja cantik. Tapi di sini protagonisnya adalah... ibu satu anak dengan usia 36 tahun Saudara-saudara! Benar-benar sebuah gebrakan dalam jagat penulisan novel fantasi Indonesia! 2. Tokoh Lavinia, sang protagonis utama menunjukkan pada kita dua sisi seorang wanita yang berprofesi ganda sebagai seorang prajurit dan sebagai seorang ibu. Ia tegas dan tangguh sebagai prajurit, tapi juga memiliki kelembutan seorang ibu. 3. Tokoh Merryweather, pembunuh bayaran Keluarga Hailstorm ini benar-benar karakter yang bikin saya mau ketawa terus. Well... meadarholic, sarkastik, dan... pemburu janda. #Eh? 4. Tokoh Reedra... well mantan Ratu yang diperbudak, meninggalkan masa lalunya dengan menjadi sebuah 'Cangkang Kosong' tanpa emosi namun sesekali bisa menunjukkan sebuah emosi yang tidak disangka-sangka. Reedra menggambarkan dengan baik kondisi wanita yang jadi budak rampasan perang. 5. Iridio... adalah contoh pria ideal. Gentlemen, tulus, dan mau bertanggung jawab. Semoga bisa menjadi contoh bagi banyak pria 'bajingan' yang ada di sekitar kita. 6. Frameless akhirnya ada yang masuk Reygner! Hore!
Kekurangannya: 1. Typo di halaman 70 : mencegahkematian 2. Keanehan dialog di halaman 169. Sang penjaga berujar pada Iridio, "Tidak ada, pak!" Oke... mungkin saya yang salah atau bagimana... bukannya Iridio itu harusnya dipanggil Komandan atau Tuan Muda ya? Pak? Halooo??? Emangnya dia Pak Lurah :V? 3. Ilustrasi di halaman 62. Iridio sama adiknya hampir ga bisa dibedakan.
Overall: Buku ini melampaui ekspetasi saya selama ini. Fachrul R.U.N memang layak menyandang gelar King of Awesome dan saya jamin anda yang berniat membeli buku ini tidak akan menyesalinya!
Okay, I just bought this book last night and had the chance to read it this morning aaaand.. I just finished this 402 pages amazing story about Lavinia's journey to Reigner, the realm of Deimos!
What do I have to say about this book? I have to admit, after reading TAKDIR ELIR which was an exciting fantasy-game oriented somehow to me, and TABIR NALAR which was a mystery-murder intense plot as well.. when I read HAILSTORM, I found this book also has this particular atmosphere -- different than those two I've read. HAILSTORM deals with (for me) epic-ness, gruesome battles and images. I like it! It's like reading a Diablo game novel but the settings are like the Dante's Inferno game. Pretty cool!
I do love the complexity of the characters in this book. I mean, the characters are just dazzlingly rich with attitudes; from the traumatic ex-war general middle age woman, a royal son with attitude and gallantry, a friendly archer who is also a cruel assassin, the big bad brute and the annoying samurai guy, etc... they all have these, how to say this; EPIC-NESS!
I really do love the character, "Reedra". I can even sense the way she gesture, talk and behave. She is one of my favorite character on this book. LOVE REEDRA!!!
Btw, I also love the description of realm Reigner. Great drawings in the end. Overall, this book is different so far that any other Vandarian books I've read. They are all unique, such as this. And I have no regret at all to have bought this book and I do recommend this book for those who love tragedy, epic and journey to hell themed novel!
Sejujurnya, saya skeptis waktu pertama kali membaca buku ini. Saya tidak mau berharap banyak. Untungnya harapan yang cuma sedikit itu tidak dikhianati.
Dari segi penulisan, memang ada beberapa rududan yang agak mengganggu, tapi karena penceritaannya sendiri rapih, saya jadi tidak terlalu memusingkannya. Adapun, tema ceritanya juga cukup unik; perjalanan ke neraka, tapi tidak klise seperti Dante's Inferno atau Divine Comedy karya Dante Alighieri. Ini tentang orang-orang bodoh dan sial yang terjebak ke piknik ke neraka, dan diakhiri dengan ending yang sepintas cukup bahagia, tapi tetap menyiratkan bahwa yang pernah mencicipi neraka tidak akan pernah tenang seumur hidupnya.
Plotnya linier, tapi cocok untuk yang seperti ini. Menurut saya, karena sejak awal misi hanya satu, gaya ini cocok-cocok saja.
Karakteristik, saya harus akui inilah novel Vandaria pertama yang karakteristiknya menarik, dalam artian tidak datar atau sama semua - tidak seperti sebuah gambar yang di-copypaste. Dan sekalipun banyak karakter 'sakit jiwa' di sini, sekali lagi, situasi dan latar belakang mendukung semuanya.
harusnya saya ga baca novel ini dulu. krn saya sedang menulis romance, sementara si pengarang terkenal akan cerita2 dark fantasy.
Hailstorm ... bukan jenis narasi yang indah secara diksi. bukan jenis narasi yang memancing emosi tapi cukup bisa membuat orang membayangkan dunianya dan merasakan ada di sana. kalimat2nya lebih seperti pendeskripsian non-fiksi, bahkan saat karakternya berbicarapun begitu teknikal.
lucu juga bahwa saya lebih suka kondisi waktu berada di antara para pengguna pedang daripada kondisi heart warming keluarga, apalagi di dalam Reigner. barangkali memang F R.U.N jiwanya dark fantasy. sejauh ini saya suka cara penulis menggambarkan keputusan dan pertimbangan Lavinia.
baru 32% membaca cerita ini, dan masih belum yakin apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sini atau tidak. maksudku, apa tujuan penulis menulis cerita ini? apakah hanya untuk melampiaskan hasrat nerakawi yang bergejolak atau ada sebuah ide pribadi yang orisinal?
Ketika membaca prolog cerita ini, terus terang keningku jadi sering berkerut. Gaya penceritaan yang digunakan benar-benar terasa kaku. Belum lagi kelihatan banget usaha penulis untuk menyampaikan informasi tentang latar belakang misi yang akan diceritakan di bab-bab selanjutnya. Untuk menghindari penulisan informasi ini secara "telling", penulis berinisiatif untuk menyampaikannya lewat dialog para tokoh-tokohnya. Namun sayangnya hasilnya adalah dialog yang kaku dan tidak nyata, membuat kenikmatan membacaku berkurang drastis. Jujur prolog buku ini membuatku tergoda untuk berhenti membaca. Tapi aku bukan orang yang men-judge sebuah buku hanya dari beberapa bab awalnya saja, jadi aku kembali melanjutkan proses membacaku.
Dan ternyata benar saja. Penceritaan bab 1 mengalir dengan lancar, dan benar-benar enak untuk diikuti. Aku cukup mengenal gaya penulisan sang penulis, bagaimana penulis bisa menggiring pembacanya mengikuti ceritanya nyaris tanpa sadar bahwa mereka sedang membaca cerita, bukan mengalaminya sendiri. Dan pada bab inilah gaya penulisan tersebut benar-benar tercermin.
Sayangnya hal tersebut tidak lagi terlihat di bab-bab selanjutnya. Gaya penceritaan sang penulis memang masih rapi, namun tidak lagi seistimewa bab pertama tadi. Aku juga mulai menemukan kalimat-kalimat yang terasa lebih seperti terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Beberapa contohnya:
"Di sisi lain, kalian bahkan tidak bisa memanfaatkannya dengan penuh." (cannot utilize it fully? Kenapa nggak ditulis kalian bahkan tidak bisa memanfaatkannya secara maksimal?)
"Dan kau menyisihkan mereka dengan begitu dingin!" (and you set them aside coldly? Kenapa nggak ditulis Dan kau menebas mereka semua tanpa merasakan apa-apa?)
Juga ada beberapa kalimat yang tidak terbaca sebagai bahasa Indonesia, tapi tidak juga bahasa Inggris. Hanya... aneh saja.
"Jika sudah begitu kejadiannya... aku harus mendorong banyak pembunuhan untuk mengendalikan keadaan." (mendorong pembunuhan? Seriously? Aku nggak pernah nemu frase kayak gini sebelumnya)
Aku juga menemukan beberapa salah ketik, di antaranya:
"Ho? Kau? Punya akal sehat? Setelah langkah cerdas yang kugunakan untuk merekrutku?" Lavinia langsung memanfaatkan itu untuk menuding. (kaugunakan kali, bukan kugunakan)
"Kalau aku punya cukup nyali untuk melakukannya," tanggap Iridio sendu.
"Semoga aku dapat memilikinya." (semoga kau dapat memilikinya kali?)
Dan menurutku dialog Merryweather mengenai bagaimana pada masa awal penciptaan ada dua makhluk yang berkuasa, bla bla bla itu nggak perlu ditulis. Kelihatan banget itu adalah usaha penulis untuk memberikan informasi, tapi setengah mati menghindari "telling". Padahal Merryweather cukup bilang kalau "Vanadis menyegel Deimos di Reigner agar para Deimos tidak menghancurkan ciptaan para Vanadis. Jadi Reigner ini bukanlah alam kekuasaan para Vanadis. Ini adalah alam kekuasaan Deimos." dan seterusnya.
Beberapa detil di cerita ini juga harus diperbaiki. Contohnya ketika Iridio bertanya pada seorang penjaga apakah penjaga itu benar-benar tidak melihat siapa-siapa, si penjaga menjawab, "Tidak ada, pak!" Penggunaan panggilan "Pak" di sini kurang pas kalau diucapkan oleh seorang penjaga yang notabene adalah seorang prajurit. Masa prajurit manggil atasannya dengan "Pak"? Lebih pas kalau dia menjawab "Tidak ada, Jenderal/Kapten/apa pun pangkat Iridio di pasukan tersebut". Dan ini membuatku jadi ingin mengajukan pertanyaan berikutnya. Apa sih sebenernya pangkat Iridio di pasukan tersebut?
Lalu mengenai bau yang digambarkan terus-menerus mengganggu Lavinia dan prajurit lainnya, setahuku setelah beberapa lama mencium bau yang menusuk, hidung kita akan jadi terbiasa dan tidak lagi bisa mencium bau tersebut, seolah "mati rasa". Jadi kalau bau bangkai itu terus-menerus mengganggu para pasukan, seharusnya di satu titik bau itu tidak lagi akan tercium oleh mereka. Lain ceritanya kalau bau itu kadang-kadang ada, kadang tiada, jadi hidung para pasukan tidak punya kesempatan untuk terbiasa dengan bau tersebut.
Selanjutnya, mengenai bagaimana Eriale mengejek Reedra dengan berkata "Tuan Amurdad sudah berbaik hati menyingkirkan kasta Primare dan Secura untuk meningkatkan kemungkinan para manusia ini menyelesaikan ujian. Lalu kau malah mengasuh mereka habis-habisan!" Lah, bukannya kalau Reedra membantu para manusia, kemungkinan mereka menyelesaikan ujian akan meningkat, yang berarti sejalan dengan upaya Amurdad menyingkirkan kasta Primare dan Secura? Terus kenapa Eriale harus mencela hal ini? Nggak ngerti.
Terakhir, ada satu hal yang sangat tidak kusukai dari cerita ini. Ini murni hanya pendapatku, tapi aku merasa harus menyampaikan hal ini. Aku sangat-sangat tidak suka bagaimana Iridio dengan entengnya berkata "Ada rakyat jelata yang seenaknya memerkosamu saat kau sedang kehilangan akal. Benarkah itu?" Halooooo, perkosaan itu bukanlah sesuatu yang bisa diingat dengan gampang, tahu! Itu adalah sebuah kejahatan yang lukanya bisa membekas begitu dalam dan bisa menyebabkan trauma parah. Tega-teganya Iridio mengingatkan hal menyakitkan tersebut dengan begitu enteng. Padahal katanya dia mencintai Lavinia. Itu sama sekali bukan perkataan seseorang yang mencintai seorang wanita yang pernah menjadi korban perkosaan!
Setidaknya, seharusnya Iridio bisa memperhalus perkataannya jadi "Benarkah dulu ada orang yang menyerangmu saat kau sedang kehilangan akal?" Takut pembaca nggak ngerti kalau "menyerangmu" adalah bentuk halus dari "memerkosamu"? Pembaca nggak sebodoh itu kok.
Udah gitu, Iridio dengan seenaknya meneruskan, "Tak masalah sebenarnya. Dalam darahnya juga mengalir darahmu. Kurasa... dia akan bisa diterima sebagai putra Hailstorm, setelah aku menikahimu." What a selfish bastard. Udah seenaknya melukai perasaan Lavinia, dengan seenaknya juga mengatakan, "Ah, itu nggak penting. Yang penting lu nikah ama gua. Gimana?"
Kalau ini dimaksudkan sebagai "moment of truth" di mana Iridio mengakui perasaannya kepada Lavinia, seharusnya kata-kata Iridio setelahnya bisa dituliskan dengan lebih menyentuh, misalnya, "Apa pun yang pernah terjadi padamu, kamu adalah kamu. Dan aku menginginkanmu, dulu, kini, maupun nanti. Kalau kita berhasil melewati semua ini, sudikah kamu menikahiku?" atau semacam itulah. (dan Lavinia tetap bisa menjawab "Oke. Jelas sudah. Kau mengigau." :) )
Kalau boleh saran, mungkin akan sangat bagus kalau penulis memperbanyak membaca buku-buku romance :)
Secara keseluruhan, cerita ini ditulis dengan rapi, mudah diikuti, dan cukup nikmat dibaca. Poin plusnya yang lain adalah akhir ceritanya yang tidak tertebak olehku (walaupun aku berharap akhir ceritanya tidak harus seperti itu, tapi ya sudahlah :) )
*) Suka gaya bahasanya yang lugas: langsung, tidak banyak berbunga-bunga sehingga inti cerita dan adegan cepat tersampaikan. Dialognya banyak dan cerdas, pilihan kata-katanya bagus pula. Kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang. Beberapa humor terkait adegan yang diselipkan dalam narasi sukses bikin saya tersenyum. Kelemahannya, gaya seperti itu terkadang kurang menimbulkan efek dramatis karena terkesan "terlalu cepat". Buat saya pribadi hal itu nggak terlalu masalah karena saya sendiri tipe gaya bahasanya mirip kayak gitu, haha.
*) Terkesan dengan pemilihan tokoh utama Lavinia yang seorang "ibu-ibu" dengan masa lalu kelam. Status tersebut terus-terusan disebut sepanjang cerita bergulir sehingga pembaca nggak merasa bahwa Lavinia seorang gadis muda (soalnya ilustrasinya lebih menampilkan sosok Lavinia seperti gadis muda). Chara development-nya cukup bagus, walaupun pada akhirnya Lavinia mengatasi trauma dengan bantuan Amurdad dan bukannya berusaha melawan sendiri. Eksplorasi kekelaman Lavinia lumayan, tapi menurut saya penggambaran perasaan dia agak sedikit kurang emosional. Mungkin karena Lavinia prajurit ya, bukan wanita biasa. Yang jelas, latar belakang dan karakterisasi Lavinia adalah pilihan cerdas untuk tokoh utama yang tidak umum.
*) Suka banget gombal-gombal Iridio untuk Lavinia~<3. Jujur saya sempat ngarep mereka bakal bersama pada akhirnya. :)) Agak nggak nyangka juga Iridio mati bahkan sebelum mereka mencapai kuil, tapi ya sudahlah. #pukpukIridio
*) Karakter-karakter lainnya juga oke. Saya terutama suka karakterisasi Merryweather yang menjadi penggembira grup; sungguh well-developed dengan dialog-dialognya itu. Tokoh Aurelio sebagai antagonis juga cukup meninggalkan kesan mendalam. Dan saya jatuh respek sama katalis cerita, Reedra.
*) Konflik psikologis yang mewarnai sepanjang cerita patut diacungi jempol, baik yang disebabkan oleh ilusi Aurelio maupun tekanan mental akibat situasi yang menyebabkan perpecahan internal pasukan. Digambarkan dengan bagus sekali bagian itunya.
*) Alur keseluruhan terasa pas. Sejak awal sudah langsung ke inti cerita, nggak bertele-tele. Sempat agak mengangkat alis waktu rahasia masa lalu Lavinia dengan Aurelio sudah diungkapkan di halaman sebelum pertengahan--kirain bakal disembunyikan sampai agak akhir untuk mempertahankan rasa penasaran pembaca. Tapi ujung-ujungnya saya manggut-manggut karena memang begitulah seharusnya. Ceritanya bergulir dengan tempo yang konstan dan cukup bikin penasaran akan bagaimana akhirnya nanti sehingga saya terus membaca tanpa berhenti.
*) Secara agak subjektif saya suka ending-nya karena sesuai dengan yang saya harapkan sebagai seseorang yang cinta damai. Lagi pula, Lavinia deserves it ... banget. >_<
*) Sangat sangat sangat bersyukur karena pewajahan isi Hailstorm nggak bikin sakit mata. Font-nya nggak terlalu kecil, spasinya renggang, satu halaman nggak terlalu padat. Berkah banget buat saya!
*) Agak terganggu dengan kalimat-kalimat berpola kayak gini yang cukup banyak ditemukan di novel:
Beres membaca Hailstorm, hal pertama di kepala saya : 'KOK ABIS!? Gw mo baca lanjutannya nih! Ada kan!?'
Uhehe.
NOvel Vandaria, makin kesini makin telihat matang. Salut besar buat bung Fachrul, buku Hailstormnya benar-benar bisa menarik saya tenggelam ke dalam dunia Reigner. Pembawaan cerita tidak kaku, penokohan solid, sangat solid, lebih kuat dari novel-novel sebelumnya. Favorit saya adalah Tsujikaze, si samurai slenge'an, hehe. Karakternya yang negatif sinis, justru paling realistis dan menarik buat saya. Namun, keunggulan terbesar buku ini adalah kerealistisan cerita. Realistis, bukan settingnya nyata, tapi adanya AKSI-REAKSI di sini. Untuk tiap kejadian, selalu ada penyebabnya, dan untuk tiap kejadian, juga selalu ada akibat. seluruh event yang terjadi digunakan dan saling berkesinambungan, membentuk suatu kisah yang nyata, matang, dan solid. Juga yang saya suka adalah disini adalah realistis dimana hidup manusia gampang saja melayang sehabis mati, dan setelah matipun masih ada konsekuensinya. 'Death', kematian, benar-benar nyata di Hailstorm.
Plus, ilustrasi gaya realism dari bung Val, menambah nyata imajinasi saya dalam membaca Hailstorm. Ilustrasi yang paling saya suka adalah Lavinia dan Merryweather. Disini nggak tanggung-tanggung, darah dan luka terlihat BENAR. Terasa impact dari luka dan cacat itu seperti apa. Kedua, Ilustrasi Amurdad. Dituliskan bahwa Amurdad tak duduk di singgasana, hanya di puncak undakan. Ini konsep yang menurut saya KEREN BANGET. Deimos, yang bukan manusia, tentunya berkonsep beda. Konsep ini memberikan taste yang beda dari manusia, namun masih memperlihatkan bahwa Amurdad lebih tinggi kedudukannya dari manusia.
Kekurangannya? Yuk, mulai dari yang paling nggak penting!(SPOILER ALERT!): Tulisannya Merryweather terpotong tangan kanannya, kok di ilustrasi yang terpotong kiri? Ini jelas jelas error logic yang amat fatal!! Kedua, saya nggak suka dengan Amurdad yang pangkatnya jenderal, menjemput sendiri para tamu. Ini jelas-jelas menurunkan derajat!! Jenderal kok bertingkah seperti kurir. Harusnya dikirim saja deimos rendahan gitu, lalu Amurdad manyambut sambil menunggu bak sang penguasa. Terakhir, Lavinia agak terang-terangan ngomel soal trauma masa lalunya ke teman-teman seperjuangan. Ini jelas tidak logis! Trauma masa lalu yang sedalam itu kok di talangi sesepele itu, harusnya lebih real, lebih sedih atau desperate gitu.
Nggak penting semua kan? Hehehe. Satu kekurangan yang penting adalah ceritanya yang klise, agak mudah ditebak endingnya. Tapi nggak apa-apa, saya lumayan tertampar di bagian akhir kok, hehe.
Pokoknya, Ini adalah novel Vandaria paling bagus, so far yang sudah saya baca. Novel yang baik adalah yang nikmat dibaca, dan saya benar-benar menikmati mambacanya, ditarik dalam ke dunia Reigner. Novel ini bagaikan serial Demonata oleh Darren Shan, Vandarian Style!!
Ohya, Hailstorm ceritanya masih lanjut kan? Ya kan?
"Kenapa gak dari kemarin?! Redfang udah keluar, situ baru kelar baca Hailstorm?!?!?!" - suara di dalam pikiran
Yaaa, maaf atuh~ :P Saya kan tukang nimbun.
Anyway, beberapa kata-kata saya di review ini bisa ditemukan di review Hailstorm lain oleh reviewer lain, tapi mari saya sebutkan saja:
- Ceritanya simpel.
Bener2 basically adalah perjalanan menembus Reigner demi membereskan ujian dari penguasa Reigner setempat. Di satu sisi, cerita simpel yang diangkat di sini menyelamatkan novel ini dari tipikal fikfan lokal yang udah banyak banget ngebahasin tentang petualangan menyelamatkan dunia atau perang epik menyelamatkan dunia. Di sisi lain (iya, saya galau untuk poin ini) karena ceritanya simpel, jadinya ya udah cuma gitu doang alurnya. Berantem dilanjut berantem lain dan diseling flashback atau ngobrol dikit ala Saint Seiya jaman episode kuil zodiak itu. (Ada yang masih ingat arc Saint Seiya yg itu?) :))
- Karakternya mudah dibedakan dan masing-masing punya "screentime" sebanding dengan seberapa dominan perannya dalam cerita
Contoh bagus karakter yang "kaya" dari segi karakteristik sehingga mudah dibedakan satu sama lain, rawr.
Aku tahu sekarang dari mana itu awal mulanya muka orang di badan Aurelio itu! Aku tahu sekarang! :)) :)) Damn you, Rul! :))
*gw beneran tahu, btw*
*gw kenal penulisnya dari VGI, btw*
*gw gak bohong, btw*
*kenapa gw ngelantur ...*
*maap*
- Sebagai bagian dari Vandaria Saga, Hailstorm memperkenalkan Vandaria dengan cara yang lebih bersahabat untuk pembaca awam
Maaf membanding2kan, btw. Saya sudah pernah baca Ratu Seribu Tahun dan Takdir Elir (Masa Elir-nya belum tapi) untuk novel2 Vandaria lain selain Hailstorm ini (Kristalisasi tidak dihitung ya karena dia masuknya kumpulan cerpen).
Nah, jika membandingkan ketiganya, buat saya Hailstorm ini mungkin unsur Vandaria-nya paling kurang kentara, tapi merupakan awal yang baik buat newbie di dalam universe Vandaria. Tidak terlalu banyak sistem pemerintahan dan nama2 yang dikenalkan dalam satu buku. Dan konfliknya belum masuk ke konflik utama yang langsung pelik dan melibatkan banyak unsur universe Vandaria.
Tapi ... setelah selesai membaca, poin bagus dari novel ini bisa dibilang hanya yang saya sebutkan di atas. Yang lain yang tidak saya sebutkan bukan berarti jelek, btw. (Kenapa gw pake kata "btw" banyak banget?) Yang lain yang tidak saya sebutkan itu terasa biasa saja. Bahkan kalo ada review lain yang komentar kebanyakan perulangan kata "bau busuk" di suatu bagian cerita, saya bahkan tidak merasa terganggu dengan itu.
Hum, jadi karena begitu adanya, saya kasihnya 3 bintang saja dengan penilaian ikutan Goodreads. ("liked it" saja)
Oh iya. Kalo ada yg bilang ilustrasi di dalam ada yang salah, di bagian tangan sebelah mana yang hilang dari salah satu karakter, saya cek dan emang bener kebalik tangan mananya yang hilang. :P Tapi itu minor banget dari ilustrasi. Kalo gak bener2 diperhatiin juga bisa miss.
kesan pertama ketika kami membaca buku ini adalah sangat sarat dengan makna dan bisa menjadi bahan diskusi yang tak lekang oleh waktu.kami berusaha utk memaknai sepenggal kisah yg kami serap dari 402 halaman buku ini diantaranya berikut ini; 1. hailstorm mengajak kita utk memahami rumitnya memahami karakter individu manusia yg diwakili oleh lavinia,merryweather dkk.seperti yg dikatakan oleh Amurdad "....kalian benar2 sukar untuk ditebak...".maka penulis mengajak kita untuk menghargai sisi misterius dari manusia ini.terlepas dari banyaknya kekejaman yg dilakukan disepanjang cerita,ketika telah mencapai kedewasaan manusia mempunyai potensi bahkan utk membuat seorang penguasa dunia bawah menjadi iri. 2.meski kami mencatat kekerasan yg ditampilkan begitu spektakuler dan dibeberapa segmen tampak cukup mengerikan(kami sgt optimis akan disensor begitu bnyk adegan bila buku ini bisa di filmkan),kami mendapat adegan yg menyentuh di bagian akhir kisah ketika merryweather tanpa mementingkan dirinya rela utk berkorban begitu besar utk lavinia.sesungguhnya kami menangkap keindahan ketika egoisme lenyap dari seseorang ketika. cinta mulai mengambil peranan dalam kehidupan ini. 3. tentunya tidak lengkap bila kita tidak berhenti sejenak utk memberikan penghormatan pada iridio hailstorm yg terbakar dalam api cinta(hlm 322).bagaimana iridio menuju keabadian tanpa penyesalan setelah mengalahkan dirinya sendiri yg penuh dg ambisi dan kekhawatiran menuju pembebasan melalui cinta kasih yg tanpa pamrih.buat kami inilah puncak dari pencapaian manusia yg tertinggi yg membuat langit dan bumi terkagum kagum dengan potensi manusia.penulis dg sgt halus menempatkan nilai2 tertinggi manusia ditengah lautan darah. demikianlah kami sadar dg banyaknya ketidaktahuan kami dalam membuat review ini maka kami mohon maaf bila bnyk membuat kesalahan.kami sangat hormat dg penulis yg telah mencurahkan segenap daya dan upaya dlm membuat karya ini.semoga selalu diberikan kekuatan utk membuat cerita yg dapat kami ambil hikmahnya.
Greetings, gw salah seorang penggemar novel karangan lo, Hailstorm, sebagai bagian dari Vandaria Saga. First of all, gw sangat-sangat suka dengan konsep cerita yang lo suguhin di dalam Hailstorm. Terus terang, agak pesimis ketika beli novel lo pertama kali. Setelah baru aja selesai membaca Harta Vaeran (yang agak mengecewakan), gw sangat puas membaca novel karangan lo.
Karakter yang berbeda, tidak lagi mengisahkan tentang petualangan seorang anak muda, melainkan sekelompok orang-orang elit yang telah melewati berbagai penempaan diri, dan masih dapat dinikmati alurnya dengan seru, juga latar belakang masing-masing karakter yang tidak dangkal membuat gw membaca novel tanpa henti gitu aja. Tidak seorangpun dari karakter-karakter adalah orang yang benar-benar 'baik', which is also realistic.
Dan bagian yang terbaik dari novel ini adalah, endingnya yang disusun dengan baik sekali. Bukan good ending, bukan pula bad ending, hanya sebuah keputusan yang diambil oleh seorang wanita yang telah mengalami banyak rintangan dalam hidup. Tapi SANGAT memuaskan. I'll look forward for your next novel, if you are to continue down the path of literature.
Lastly, gw adalah salah satu orang yang bisa dapat kesempatan untuk ditandatangani novelnya oleh lo, Thank you very much. Know that I am a fan of your work. Best wishes.
Buku ini EPIK! Dan juga worth it banget dengan segala perjuangan di toko buku!!!!!!!Dan ini penghibur sementara karena kebosanan memunggu seri buku dari Jepang yang tercinta!(wkwkwkwkwkwkwkwkwk......)
4 jempol! (2 dari tangan dan 2 dari kaki!)Nanti dulu.....
Baca review lain aku baru sadar ketebalannya tuh dari mana.(lumayan tebal looh!) Kebanyakan dialog sok puitis! Masih mendingan tuh seri Domitor Leo yang tak tungguin secara sangat tak sabar! Dialognya pun nggak terlalu puitis, singkat dan jelas. (Bahkan adegan ngomong sama kaisar pun nggak terlalu flattering sama si karakter kaisarnya sama si protagonis) Yang dimaksud di tanda kurung itu ada di buku tiga. Cari aja Domitor Leo di Google hahaha.
Jadi..... Jempolnya jadi tiga.(Penulis, jempol satunya udah tak kasihin seri itu tuh. Sori yaaa)
Jempol itu buat: 1.Cover yang bagus dan judul yang lumayan 2.Plot yang menarik 3.Illustrasi yang bagus(Tapi aku akan lebih seneng lagi kalo yang gambar si Yohan Power, hahaha.)
Bagus lah, dan aku udah nggak sabar nungguin Tabir Nalar sama Sang Penantang Takdir.
Oke ini dia review saya untuk Hailstorm karya om Fachrul (FULL OF IMPORTANT SPOILER): Overall bagus, seru dan asyik, serasa ikut di dalam petualangannya. Walau begitu, saya melihat ada satu kesalahan yang sebenarnya sama sekali tidak penting dalam buku Hailstorm ini, yaitu: Di halaman 378, ada tulisan seperti ini : “Arius dapat merasakan Merryweather menghimpun mana, Untuk jaga-jaga, dia juga melakukan hal yang sama…” Disini jelas terlihat ada salah pengetikan, bukankah “Arius” disini seharusnya adalah “Lavinia”? Oke, itu saja kesalahan yang saya tangkap. Lalu untuk positifnya seperti diatas tadi, bagus, seru dan asyik. Saya merasa benar-benar ikut dalam grup Iridio dkk. menelusuri Reigner. Endingnya juga bagus, tapi sayang Iridio meledak, hiks… hiks…T.T Sekian review saya yang sederhana dan gak penting. Maaf kalau reviewnya gak mutu gini ya. (Baru pertama kali bikin review)
NB: Untuk yang belum baca bukunya, jangan baca review ini, ingat: FULL OF IMPORTANT SPOILER.
Sebuah kisah perjalanan satu kelompok prajurit menembus dimensi lain yang penuh dengan misteri. Perjalanan penuh resiko yang harus ditempuh demi ambisi, kekuasaan, dan kekuatan mutlak.
Dari segi cerita, buku ini sangat menarik. Alur cerita yang sesekali mundur ke masa lalu namun tidak membuat pembaca bingung. Cerita fantasy yang membawa pembaca menembus langit imajinasi tertinggi. Strong point dari buku ini adalah karakter-karakternya. Karakter-karakter di buku ini terasa benar-benar hidup. Tiap karakter memiliki konflik pribadi harus mereka hadapi, sementara mereka harus bertahan hidup di Reigner, alam kematian.
Secara keseluruhan, buku ini menyajikan sebuah kisah perjalanan yang dipenuhi dengan konflik dan pengorbanan yang dapat meluluhkan hati pembaca.
Sejak awal ngintip karya King yang satu ini sudah punya tebakan suatu saat pasti dia akan bisa membuat "seniornya" ketar-ketir
Mau bilang apa, sesuatu yang BIASA selalu menjadi TIDAK BIASA dibuatnya
Saat semua orang menjauhi neraka, yang ini malah menawarkan "perjalanan" ke neraka apapun alasannya.
Review? Itulah susahnya kalau jadi orang yang mengintip karya pertama lalu tidak langsung bikin repiu dengan alasan nunggu finalisasi cerita. Malah ngak sempet he he he
Nanti deh.
Yang pasti gini aja, kisah dalam buku ini penuh dengan hal yang tidak biasa.
keren banget hailstorm....pertama tau hailstorm waktu promo di gramedia matraman....penulis mengangkat perempuan sebagai tokoh utamanya...betul2 bikin semangat bacanya, ditunggu part 2 nya...and gamesnya ya... melihat dari jalannya bedah buku sepertinya penulis sangat menguasai sekali seluk beluk vandaria...saat berdialog dengan penulis tenryata penulis sudah membaca vandaria sejak SD...alur cerita hailstorm ok dan ga membosankan...semangat terus untuk berkarya
Character Development : 3 Dialogs : 3 Setting / World Building : 3 Illustration (Art Quality) : 4 Illustration (Contribution to Novel) : 2 Plot : 5
***** S P O I L E R W A R N I N G ****
An Archvillain / Archrival in the Making
Character Development Begitu banyak kesempatan untuk karakter-karakter ( Yang sangat potensial menjadi karakter yang memorable ) dalam novel Hailstorm ini untuk dapat memberikan dampak baik terhadap perasaan pembaca maupun terhadap dunia / orang-orang di sekeliling mereka. Tapi entah kenapa penulis kesulitan untuk mendapatkan "dampak" itu. Kita hanya bisa meraba bagaimana perasaan terhadap Lavinia terhadap kejadian maupun pelaku dalam kenangan masa lalu nya. Dengan berkali-kali menceritakan kejadian itu, malah berasa redundan, tetapi hal penting yang pembaca ingin tahu adalah? Seberapa sakit hati, dendam kesumat darah mendidih, pilu kekosongan dalam hati, pembaca hanya tahu dia benci, marah dan sepertinya sebal, namun karakter Lavinia yang harusnya dapat relate terhadap orang2 yang pernah di"sakiti" malah imho terasa kurang. Sebenarnya karakter-karakter lain pun seperti Merryweather maupun Iridio dapat juga digali agar pembaca dapat relate dengan perasaan mereka, tetapi barangkali alasannya karena keterbatasan halaman, tetapi tetap kurang bisa menunjukkannya, lebih banyak pembaca hanya didikte dengan kata-kata sifat bukan ditunjukkan/diceritakan kepada perasaan mereka.
Oh, ada lagi, menurut saya, karakter sentralnya agak kebanyakan, ya?
Dialog: Amurdad sang Raja Deimos, tidak terasa kharisma / kesangarannya. Fleta yang kehilangan suaminya, tidak terasa dendam / kerinduannya. Dan seringkali saya pribadi agak bingung dalam rentetan percakapan, siapa yang berbicara dengan siapa yang mana?
Setting / World Building: Adegan pertempuran: Saya tidak dapat men-pin point apanya, tetapi pertempuran di Reigner harusnya dapat lebih greget dan membuat pembaca memicingkan mata secara tak sadar. Dan adegan / kisah perjalanan di Reigner harusnya dapat disajikan secara lebih menarik dan out of this world, jujur saya agak bingung membayangkan bagaimana tempat setting mereka berkelahi, hutan rindang? hutan gersang? Ada daunnya? Sebesar apakah pohon-pohon disana? Bagaimana formasi bebatuan? Apakah sama dengan hutan di dunia ini? Apakah tanahnya berwarna coklat muda dan gembur atau semuanya hitam? Saya mengalami kesulitan dalam membayangkan medan tempur mereka, untunglah saya pernah bermain Elder Scroll Oblivion dimana saya dapat jadikan referensi medan tempur khayalan saya.
Lalu deskripsi mahluk-mahluk Deimos, juga lagi-lagi saya mengalami kesulitan dalam membayangkan mereka, jadi saya harus menghayal sendiri sambil menebak kesangaran Amurdad dengan sayap2nya yang gagah terentang lebar mengundang gentar (saya membayangkan Illidan + Kiljaeden dari World of Warcraft), imp yang cebol dengan bisul-bisul dan perut gendut dan mulut yang selalu mengeluarkan cairan menjijikan seperti nanah , Reedra yang cantik anggun tapi memiliki kekuatan dengan tubuh di selimuti exoskeleton (bayangan saya seperti Sarah Kerrigan dari Starcraft2 lalu saya tambahkan tanduk ala karakter Castanic di MMORPG TERA), dan beberapa yang lain bahkan saya tidak dapat membayangkan secara pas karena tidak ditemui deskripsi yang cukup membangkitkan "Theatre of Mind" saya. Oh, ada satu Deimos yang diberi nama Si Deimos, saya dapat membayangkan karena ada illustrasinya dan ada deskripsi yang cukup panjang juga mengenai mahluk ini.
Untuk keseluruhan World design, aku cukup suka, karena Reigner ini memang seharusnya bukan cuma sangar dan mematikan seperti bayangan kebanyakan orang soal "alam lain nan kekal menyeramkan bagi jiwa-jiwa terkutuk", tapi juga mengenai kejiwaan orang yang melewatinya. Sepertinya memang penulis membagi ada region-region khusus seperti ceruk penyiksaan, dll.
Illustration (secara art) : Cukup bagus dengan style manga/anime, dan saya cukup suka. Illustration (secara kontribusinya terhadap novel) : Usaha keras saya dalam membayangkan bagaimana setting dan ekspresi karakter dalam novel yang saya bangun dalam Theatre of mind saya dengan lelah malah di "hancur"kan seketika karena "pemaksaan" dan pen"dikte"-an adegan yang sama sekali tidak sama dengan apa yang saya bayangkan. Saya tidak tahu apakah karena ketidak-suaian style artist dengan intisari cerita, atau saya-nya saja yang arah khayalan visualnya salah dan tidak sesuai dengan yang diinginkan / diceritakan oleh sang penulis.
Plot: Nah! Ini dia secercah sinar dari celah-celah keperakkan awan mendung yang sepanjang novel ini saya alami. Dan bukan hanya secercah, tetapi juga sinar terang itu menembus keseluruhan awan gelap dan menyilaukan mata saya. PLOT-nya BAGUS! Kalo bahasa awam-nya para pembaca adalah: "Plotnya ngga standard!" Seperti judul review saya "An Archvillain in the making", atau "Pembuatan / terjadinya Tokoh penjahat / bebuyutan besar", kisah bagaimana Merryweather dan Lavinia di novel Hailstorm ini benar-benar bagus sebagai kisah bagaimana terjadinya / datangnya si "Raja Penjahat" dalam suatu kisah berbasis fantasy.
Sungguh landasan yang sangat bagus dan menjelaskan ke segala aspek apabila kisah Hailstorm, Merryweather ataupun Lavinia ini hendak dilanjutkan dalam era yang sama. Saya membayangkan apabila anak Lavinia, Silvius nanti berjuang melawan Merryweather / Justina yang dikontrol (atau malah memperoleh ambisi baru dan bisa mengontrol) si "Amy".
Plot twist-nya bagus dan memiliki ending yang tidak di-sangka-sangka tanpa ada pemaksaan dari senjata plot seperti deux ex machina atau dengan muncul tokoh dadakan yang menipu (membohongi) pembaca.
KESIMPULAN: Bagi saya, cerita dan plot adalah unsur terpenting, andaikan karakter dan setting dapat disajikan lebih "rajin" dan deskriptif saya rasa Hailstorm sangat potensial menjadi novel yang dapat disejajarkan dengan novel fantasy tingkat dunia manapun, namun untuk saat ini, saya cukup puas dengan plot-nya yang tidak standard dan ciamik!
Bagi pembaca novel umumnya akan sangat baik apabila masuk dalam koleksi anda dalam mengikuti perkembangan dunia Vandaria yang saya yakin akan semakin dahsyat dan epik. Bagi pembaca yang menggemari kisah fiksi fantasi, novel ini SANGAT SAYA REKOMENDASIKAN untuk anda baca dan nikmati perjalanan menuju ALAM REIGNER.
Apa itu Reigner? Neraka? Abyss? Hell? Bottomless Pit? Gehenna? Silahkan baca dan resapi kengerian melewati batas penderitaan jasmani di novel HAILSTORM!