Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sekolah itu Candu

Rate this book
"HARAP MAKLUM, sekali lagi, terutama dalam rangka membuat orang tersenyum dan tertawa itulah maksud utama buku kecil ini disajikan ke hadapan anda semua. Kalau ada banyak di antara pembaca nanti yang menyelewengkan, sengaja atau tidak sengaja, maksud utama itu --misalnya saja anda lantas berkerut dahi sambil mengangguk-angguk dan berkhayal bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia pendidikan kita, lantas anda berencana melakukan sesuatu untuk merombaknya habis-habisan-- maka itu menjadi tanggungjawab anda sendiri. Tetapi, kalau ternyata banyak atau semua pembaca buku kecil ini lantas melakukan penyelewengan yang serupa... nah, mungkin kita memang perlu melakukan sesuatu dan bertanggungjawab bersama. Yang jelas, semua isi tersurat maupun tersirat buku kecil ini menjadi tanggungjawab yang empunya tulisan sendiri, termasuk atas penyelewengan kalau isi dan makna buku kecil ini ternyata tidak mampu memenuhi tujuan utamanya: membuat anda tersenyum dan tertawa!" Toto Rahardjo, penyunting

139 pages, Paperback

First published November 1, 1998

370 people are currently reading
5858 people want to read

About the author

Roem Topatimasang

22 books35 followers
ROEM TOPATIMASANG, sempat menjadi mahasiswa di IKIP Bandung (1976-1980), itupun lebih banyak dihabiskannya ikut diskusi di luar ruang kuliah dan unjuk-rasa di jalanan, sampai masuk tahanan militer (1978-1979) dan akhirnya dipecat sebagai mahasiswa karena nekad menjabat sebagai Ketua Presidium Dewan Mahasiswa yang resmi dinyatakan sebagai ‘organisasi terlarang’ saat itu oleh kebijakan depolitisasi kampus (Normalisasi Kehidupan Kampus, NKK). Setelah aktif sebagai relawan di banyak organisasi non-pemerintah (ORNOP) di Jakarta dan Bandung (1983-1988), dan setelah melakukan serangkaian eksperimen pendidikan politik kritis di beberapa pedesaan Jawa Barat dan Tengah (1988-1989), dia ‘mengasingkan diri’ di bagian timur Indonesia --Timor, Papua, Maluku (1990-1996). Di sana, dia lebih memusatkan kegiatannya pada pengorganisasian masyarakat lokal melalui program-program pendidikan kerakyatan (popular education), sambil tetap terlibat dalam rangkaian proses-proses pengorganisasian rakyat di pedalaman Sumatera Utara, Sarawak, Semenanjung Malaysia, Thailand Utara, Cambodia, dan Vietnam.

Sampai sekarang, masih aktif memproduksi video dokumenter dan esei-esei visual untuk pendidikan masyarakat dan advokasi kebijakan, khusunya di tingkat lokal kabupaten dan desa. Selain itu, merintis dan mengembangkan kampus-kampus ‘Sekolah Rakyat’ di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Kesibukan lainnya adalah sebagai fasilitator pada program-program pelatihan, redaktur Jurnal Wacana, serta menyunting dan menulis buku-buku terbitan INSISTPress Yogyakarta.

Roem Topatimasang juga dikenal sebagai: penulis, penerjemah, dan penyunting buku-buku sosial transformatif.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
418 (43%)
4 stars
261 (27%)
3 stars
163 (17%)
2 stars
52 (5%)
1 star
62 (6%)
Displaying 1 - 30 of 91 reviews
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
June 14, 2010
masih pantaskah sekolah mengakui dirinya sebagai pemeran tunggal dalam mencerdaskan seseorang?

kalimat inilah yang pertama kali menyapa pembaca 'sekolah itu candu'. sepenggal pertanyaan yang mengundang gagasan awal isi keseluruhan buku yang tercantum pada pembatas buku na. dan... memang demikianlah keseluruhan kumpulan tulisan yang ada. mengingatkan pembaca pada hakikat sekolah yang sebenar na.

berawal dari kisah sukardal di tahun 2222 yang menenukan naskah terlarang tentang sekolah. pembaca diajak mengenal sekolah dari masa awal na hingga praktik yang berlangsung saat ini. sekolah yang berasal dari schola (latin) yang bearti waktu luang, orang tua yang menitipkan anak mereka untuk mengisi waktu luang yang semakin lama berkembang dengan klasifikasi berdasarkan tingkatan dan materi sehingga akhir na membentuk sistem kurikulum. yang awal na tidak ada hal-hal bauk, sekarang semua na serba dibuat baku.

tak hanya sekolah yang menyeragamkan, sekolah juga mulai dibisniskan. pendidikan bukan lagi upaya mencerdaskan tapi merupakan salah satu aset untuk mencari dan mengeruk keuntungan semata. dana pendidikan yang diselewengkan, kapasitas lulusan yang tidak sesuai dengan pasar, pelatihan dan kursus yang menjamur sebagai persiapan bagi mereka yang akan dan ingin bekerja. kalau memang sekolah menyiapan lulusan na untuk menghadapi dunia kerja, mengapa masih marak kursus dan pelatihan yang diadakan sebelum seseorang memasuki dunia kerja? bukankah ini bukti bahwa sekolah dan sistem pendidikan yang ada tidak membatu mempersiakan lulusan na sesuai dengan permintaan pasar kerja.

bukan hanya sistem, sarana dan prasarana na pun dibentuk untuk memisahkan pelajar dari lingkungan sekitar, akar budaya na. mereka diajar untuk belajar dan mengabaikan kepentingan dan keadaan sekitar.

pelajar dan mahasiswa dipisahkan dari persoalan masyarakat yang sebenarnya. mereka hanya belajar, belajar dan belajar.... padahal ketidakadilan terus berlangsung... mereka mengejar ijazah sementara rakyat megap-megap cari sesuap nasi (hlm.60)

apakah sungguh sistem pendidikan saat ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan? apakah pola pikiran masyarakat yang mengagungkan pendidikan masih dapat dipertahankan? apakah memperoleh pendidikan itu harus dibuktikan dengan ijazah???

untuk tau semua na, marilah kita bertanya kepada sukardal. petani yang bersekolah di sawah untuk mendapatkan panenan na. bukan... IJAZAH.
Profile Image for Hesa Kaswanda.
21 reviews21 followers
August 29, 2012
Satu dari sedikit buku yang dapat membuat mata saya tergenang air mata. Agak aneh memang melihat bagaimana penulis membuka buku ini, namun ketika lembar-lembar selanjutnya dibalik, kita akan benar-benar melihat realita yang ada dalam sistem pendidikan kita, yang aka membuat siapa saja yang membacanya menjadi miris. Juga menghadirkan bongkahan harapan yang didapat dari para murid dan para pengajar dipelosok Indonesia.

Kita akan diajak untuk mendalam makna filosofis sekolah, lalu kita akan dibenturkan dengan realita keadaan sekolah di Indonesia, setelah itu akan dipaparkan semangat menggebu para penggiat pendidikan yang akan membuka mata kita semua. Membuat kita semua tanpa sadar bergumam, "Pendidikan Indonesia belum mati,"

Roem Topatimasang tuntas menyampaikan kritik membangun bagi sistem pendidikan di Indonesia.
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews40 followers
December 13, 2020
"Sungguh, saya tidak paham mengapa menjadi petani dan hidup di desa dianggap sesuatu yang perlu dihindari, bahkan disesali?" Pernyataan ini terujar dari seorang anak muda di sana. Dia juga tamatan SD Bulu-Bulu, bahkan sempat melanjutkan sekolah ke Kota Makassar dan menyelesaikan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan Teknik Elektro. Sekarang, dia kembali ke Tompobulu, menjalani hidup sebagai petani, sesuatu yang nyaris tak ada hubungannya sama sekali dengan-bahkan cenderung ditampik dan ditiadakan oleh-semua yang pernah dipelajarinya di sekolah, sejak SD sampai STM.


Ada sebuah sekolah bernama Sekolah Tinggi Wiraswasta di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur. Sejak awal didirikan, mereka secara sadar dan sengaja menyatakan pada mahasiswanya bahwa tidak akan ada ijazah maupun gelar akademis yang diberikan selepas menempuh pendidikan. Tujuan belajarnya hanya satu: mampu berkarya. Tiga tahun setelah didirikan (1979-1981) sekolah ini bubar. Tidak populer. Tidak ada peminat, tidak ada lembaga yang mendukung, yayasan induk pengelolanya pun sudah 'hidup enggan, mati tak mau'.

Sekolah menjelma menjadi pengertian yang stereotip. Dibebani sejuta keharusan dan sederet pembatasan yang mempersempit ruang gerak. Telanjur dianggap sebagai wahana terbaik untuk melestarikan nilai-nilai. Padahal, jika dilihat lagi, semakin ke sini hanya sebagai alat saja. Dikemas dengan slogan-slogan cantik. Terjangkit demam 'serbapembaharuan'. Tidak heran jika isu yang berputar-putar adalah bagaimana menyesuaikan perangkat teknis sekolah dengan kemajuan teknologi. Sekolah pun juga tidak milik rakyat jelata atau kaum yang terlunta-lunta. Nama 'Sekolah Rakyat' dihapuskan. Sekolah kini menjadi alat kekuatan raksasa -berlabel industri 4.0, globalisasi- yang merampok sumber daya komunal.

Buku ini ditulis dengan jenaka sekaligus penuh amarah. Perencana pendidikan lebih banyak berbasa basi "Yang baik akan diterima sepenuh hati, yang belum baik akan dipertimbangkan kembali lebih dahulu." Penuturan kisah SD di Mantigola, perkampungan tertua Orang Bajo di kepulauan Wakatobi sungguh memukau. Saya menjadi semakin sepakat jika sekolah tak perlu mengubah segalanya. Jika sekolah tak mampu memecahkan persoalan yang sudah menghantui berpuluh-puluh tahun, apa gunanya?

Buku ini dibeli pada cetakan ke-6 dengan data yang sudah dimutakhirkan. Bab 11 'Sekolah Sepi Peminat' sudah menggunakan data tahun 2019, yang mana menjadi semakin relevan. Buku ini saya rekomendasikan pada kamu yang resah dengan sistem pendidikan di Indonesia.
Profile Image for Didiet.
21 reviews
January 5, 2009
abis baca nih buku, kita jadi geleng2,..:p
bener juga..! Indonesia selama ini terlalu didoktrin dengan sistem pembelajaran yg kaku, yg mengharuskan para pencari ilmu dinegara kita hanya menerima pakem yg itu2 saja sehingga mengakibatkan mereka terbelenggu dengan sistem lingkaran setan para "pemburu dollar" berkedok pendidikan.

Banyak sekolah2 mahal yg pada akhirnya hanya mencetak lulusan agar "cepat balik modal", dengan mengesampingkan etika profesi. Dilain pihak, subsidi untuk pendidikan di Indonesia yg katanya menganut azas "seluruh bangsa Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yg layak" nyatanya, banyak subsidi anggaran pendidikan yg disunat dan tidak tepat sasaran.

Btw, itu cuma pendapat gw aja,..:p
boleh kan orang berpendapat beda,..
Profile Image for Benz.
Author 20 books104 followers
May 15, 2018
aku membacanya versi epub sehingga habis (tak tebal mana jika versi epub). buku ini telah dibaca lama, tetapi tak ingat tahun bila. Roem Topatimasang adalah nama penting, jika kita hendak membincangkan tentang pendidikan kritis atau Mazhab Freire versi Nusantara (Malaysia, Indonesia dan sekitarnya).

ada dalam bab sekolah tenda (khemah), beliau berkisahkan tentang seorang bernama Jane yang sering membantu anak-anak para pelarian mangsa perang Palestin. kata Jane lebih kurang, anak-anak di tenda nampaknya lebih bersifat curiga dengan orang lain, dihasut untuk berperang, nak syahid dsbnya. bukankah di usia mereka, sepatutnya mereka ini belajar, bermain, membaca Gibran, bahkan menonton fantasi E.T.nya Spielberg, sampai akhirnya biarlah mereka sendiri yang akan memutuskan nanti apakah akan terlibat langsung atau tidak dalam urusan perlawanan nasional mereka.

ada anak yang dibiarkan serabutan berfikir tentang permasalahan orang tua mereka, bagaimana menghidupi rumah mereka, bagi Jane, itu bukan pekerjaan si anak. si anak harus sekolah tanpa mempedulikan semua itu. mereka harus menjadi kanak-kanak riang ria.

ada suatu kata-kata di akhir bab yang memaksa kita untuk merenungkan,
Tiba-tiba kami semua jadi dewasa,
Tiba-tiba kami semua jadi lelaki,
Tiba-tiba kami semua jadi wanita.

dalam bab Sekolah Anak-anak Laut, Topatimasang mempersembahkan kepada kita tentang catatannya berupa kisah anak-anak yang tinggal di laut. selalunya, ada bas sekolah yang akan mengutip anak-anak ke dalam perut bas dan menghantar ke sekolah. tetapi untuk kes anak-anak laut, mereka sendiri yang pergi mengambil dan membawa guru mereka dari daratan ke tempat mereka untuk mengajar mereka! dan jika terlewat, mereka akan didenda menangkap ikan! dan mereka sangat gembira dengan hukuman itu!

adakah ini 'sekolah' yang sebenarnya? bukan sekadar sederetan teori tanpa makna?
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
January 4, 2023
Kegiatan bersekolah (belajar), di awal sejarahnya di zaman Yunani kuno, merupakan kegiatan yang dilakukan orang dewasa di waktu senggang dengan cara mendatangi orang-orang cerdik-pandai dan menanyakan hal-hal yang membingungkan kepada mereka. Dalam perkembangannya, orang-orang dewasa itu mengajak serta putra-putri mereka, yang membuat cara mendidik menjadi bergeser.

"Maka, sejak itulah, telah beralih sebagian dari fungsi 'scola materna' (pengasuhan ibu sampai usia tertentu) menjadi 'scola in loco parentis' (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu)." - h. 7

Kebiasaan tersebut lambat laun menjadi sebuah keteraturan tersendiri, yang dalam perkembangannya kemudian "cara mendidik" tersebut "dilembagakan". Di perkembangan lebih lanjut lah baru kegiatan bersekolah (belajar) gak sekadar dilembagakan, tapi juga "diseragamkan" isi pengajarannya.

Dengan memahami konteks sejarah tentang bersekolah (belajar) ini kita bisa mempertanyakan konteks yang lebih luas, seperti mengapa "makna" pendidikan semakin lama semakin dipersempit menjadi sebatas belajar di sekolah? Makna yang mengharuskan kegiatan belajar dilakukan di sebuah gedung, berlandaskan teori, berdasarkan kurikulum, dan menghasilkan luaran (output) tertentu.

Makna sempit yang pada akhirnya menggiring proses peningkatan kualitas pendidikan terbatas dengan cara mengadaptasi sistem pendidikan (di negara) tertentu yang menghasilkan luaran (output) paling bagus. Atau memaknai perkembangan (progress) hanya dengan menggunakan pendekatan kuantitatif (growth), seperti memperbanyak media ajar mutakhir. Pendekatan-pendekatan yang tanpa disadari mengabaikan filosofi pendidikan itu sendiri.
Profile Image for Anjar Priandoyo.
312 reviews16 followers
November 5, 2018
This is a strange book that is written in 1980s, published in 1998, getting popular in 2000s in Jogjakarta -a city known for many universities- why it took so long of more than 20 years to publish this book? Some of the example that used in this book is no longer accurate, even to the 1998 standard, when the book is published. It is actually a collection of essay and it is very short. I do not understand why it becomes very popular. Maybe because of its provocative title, maybe because it is assumed a local version of Pedagogy of the Oppressed by Paulo Freire (1968). The writer has a teaching education background from one of the state university, therefore he familiar with Bloom's taxonomy and also familiar with western books. I don't know who read this kind of book, a leftist? or an almost drop out university student that got an enlightenment that education is not important. But as the author mention, this book is only for entertainment, not an ideology or philosophy of education book that should be taken seriously.

One more thing, the greek origin of school words is not actually accurate, the author mention that it means leisure (waktu luang), the origin of "school" words should be traced through latin then old english
1 review
Read
March 23, 2012
selama ini kita salah akan memahami hakekat sekolah, buku ini mencerahkan kit5a tentang nilai - nilai dari sekolah...
yang tidak sekedar berseragam dan di gedung yang dengan fasilitasnya justru membatasi kreatifitas sianak didik.
mayoritas dari kita pasti sangat sempit dan dangkal memandang sekolah itu apa?
mudah2an semakin banyak orang membaca buku ini akan mengembalikan hakekat danmengembalikan roh dari sekolah itu...
tidsk sesempit pmikiran masyarakat pada umumnya.
saya menyarankan untuk mendiskusikan tentang sekolah itu dengan melibatkan banyak pihak>>>
dan menyadarkan semuua insan pendidikan bahwa menuntut ilmu itu wajib, menyampaikan ilmu juga wajib sehingga dengan kesadaran itulah yang bisa mengembalikan pendidikan sesuai dengan hakekatnya...
bukan sekolah dijadikan ajang mencari rupiah bagi si pengajar dan ajang menjadi jurang pemisah antara simskin dan sikaya, yang mana sikaya pastilah PINTAR dan SI MISKIN PASTILAH BODOH dan tertinggal....

SALAM MERRDEKA!!!!!!
Profile Image for Faisal.
11 reviews2 followers
October 24, 2008
Sama dengan Doni sudah lama baca buku ini,bahkan lupa kapan tapi sangat melekat di ingatan tentang belajar dari pengalaman langsung! memang agak provokatif mengugat sistem pendidikan yang ada saat ini karena kencenderungannya yang justru tidak mendidk melainkan sekedar mengejar nilai dan prestise
Profile Image for Lukman Lukman.
Author 10 books2 followers
October 17, 2013
Sukardal. tokoh utama dalam buku ini. ia hidup di tahun 2222. Secara mengejutkan ia menemukan naskah kuno super rahasia di perpustakaan bawah tanah lantai minus 20. ternyata naskah kuno itu mengenai sekolah. ya, sekolah. ternyata menyimpan banyak kepiluan.
lucu...bikin mangut-mangut sendiri jika membacanya.
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
July 8, 2007
buku wajib baca waktu di organisasi mahasiswa.
ringan tapi menggigit sistem pendidikan indonesia yang lemah visi. meski sudah lama...isi buku tetap menarik dibaca.berisi tentang ide-ide dan pengalaman roem taopatimasang sebagai aktivis pendidikan.
Profile Image for Andy.
29 reviews24 followers
September 1, 2007
ini buku pertama tentang kritik pendidikan yang saya baca. bukunya tipis, judulnya profokatif dan akhirnya memang isinya juga demikian. asik. membangun visi-visi dasar bagi saya lebih memahami tentang sekolah dan pendidikan.
16 reviews1 follower
June 28, 2008
Buku ne kubaca sudah lama banget, dan tentu saja ediasi yang lama (soalnya kalo gak salah sekarang ada edisi baru dengan tambahan beberapa topik baru).

Lumayan provokatif.., paling tidak bisa membuka pikiran kita tentang esensi sesuatu yang dinamakan pendidikan..
Profile Image for dyah.
6 reviews5 followers
January 24, 2008
Buku ini ku baca saat awal q masuk kuliah. ternyata sekolah itu....
1 review3 followers
March 25, 2009
Memberikan saya pemahaman atas makna pendidikan yang benar
Profile Image for Nafi'uddin.
5 reviews2 followers
June 24, 2009
buku bagus, sayang sekali aku membaca buku ini waktu kelas 2 MA, ketika lagi suntuk2nya sekolah...hmmm
Profile Image for Almahira.
8 reviews2 followers
July 1, 2009
Lebih seperti kumpulan esai kalau menurutku.
Agak berat cara penyampaian bahasanya, but it's ok! Bukunya keren buatku dan bikin aku punya kesan yang bagus soal sekolah dan anak muda.
Profile Image for Rita.
53 reviews6 followers
October 12, 2007
Belajar bisa di mana aja.. tidak perlu harus sekolah, hehe... Hati-hati bisa nyandu..! :)
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
January 15, 2025
Buku kecil ini adalah kritik tajam terhadap sistem pendidikan formal yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya jalan lurus menuju keberhasilan. Penulis menyentil berbagai persoalan dalam dunia pendidikan, seperti sistem yang cenderung mematikan kreativitas, mengabaikan potensi individu, dan mendewakan ijazah sebagai parameter kesuksesan.

Roem menggunakan pendekatan yang reflektif dan berbasiskan data untuk menunjukkan bagaimana sekolah telah menjadi institusi yang terlalu terpusat pada kepentingan sistem, alih-alih fokus pada kebutuhan pembelajar. Ia menyebut sekolah sebagai “candu” karena membuat masyarakat bergantung pada sistem pendidikan formal tanpa mempertanyakan apakah itu benar-benar relevan dengan kehidupan nyata.

Buku ini mengajak kita berpikir kritis tentang esensi pendidikan. Roem mengusulkan pendidikan yang lebih kontekstual, berbasis kebutuhan lokal, dan tidak hanya berorientasi pada pasar kerja. Gaya bahasa yang lugas, disertai dengan anekdot dan kritik sosial, membuat buku ini tidak hanya informatif, tetapi juga relevan dibaca hingga saat ini meskipun pertama kali ditulis sejak 1998.

“Literasi bukan hanya sekadar membaca teks, melainkan pula diartikan sebagai kemampuan membaca keadaan sekitar.”
Profile Image for Saad Fajrul.
120 reviews2 followers
April 19, 2018
Sudah saatnya kita kembali melihat pendidikan bukan hanya melalui wujudnya sebagai sekolah, namun lebih ke arah bagaimana pendidikan itu ada. Apa itu pendidikan, kenapa harus ada, kenapa manusia harus menempuhnya, dan manfaat apa yang diberikan olehnya baik dalam jangka pendek, menengah, dan jauh. Kita mungkin sudah terlalu lama silau oleh gemerlapnya nilai rapor, ijazah, nama sekolah, gedung bagus, serta penyejuk ruangan. Tampaknya semua itu membuat kita melupakan arti dari keberadaan pendidikan itu sendiri.

Buku yang luar biasa.
Profile Image for Deny Permana.
19 reviews1 follower
December 20, 2020
Begitu banyak hal yang mencerminkan di dalam buku ini tentang kesalahpahaman kita tentang pendidikan. Khususnya membahas sekolah formal. Seringkali kita menganggap orang yang tidak bersekolah itu sebagai yang moralnya jelek, tidak punya kemampuan, akan sulit mencari pekerjaan. Tapi mengapa skrg banyak sekali pengangguran yang terdidik pula? Punya gelar s1 bahkan s3 tp sulit mendapatkan pekerjaan. Judul buku "Sekolah itu Candu", memang tepat adanya. Buku ini banyak sekali mengulas beberapa anggapan umum yg patut untuk dipertanyakan ulang. Seperti sekolah itu melahirkan manusia bermoral, berpengetahuan dan berketerampilan (hlm. 134).

Namun kita lihat berapa banyak orang berpendidikan tinggi itu menghancurkan tatanan kehidupan manusia di bumi, lingkungan hidup hancur, pembunuhan sesama manusia masih sering terjadi, kelaparan dan kemiskinan masih terjadi, kelebihan makan bahkan menjadi tren yang terus meningkat. Lalu banyak yang bergelar titel tinggi rakus akan harta dan korupsi tak terselesaikan di Indonesia, Lantas apakah sekolah ini masih berfungsi sebagai sekolah bagaimana mestinya tadi, bermoral, berpengetahuan dan berketerampilan?

Banyak sekali hal yang menarik untuk direnungkan oleh diri kita sendiri dari buku ini, untuk itu mari kita bersama buka pikiran kita, sekolah itu harus yang memanusiakan manusia, jangan menjadi candu yang berbahaya, atau malah jadi "Pabrik itu bernama Sekolah"
Profile Image for Achmad Soefandi.
70 reviews4 followers
March 13, 2015
Sekolah menjadi satu satunya lembaga untuk mendapatkan pengetahuan itu cuma mitos, ya begitulah kira kira yang saya tangkap dari buku ini.

Buku ini sebenanrnya berasal dari catatan catatan penulis sewaktu menjadi mahasiswa yang dijadikan satu dan akhirnya diterbitkan. Oleh karena itu bahasa yang digunakan sangat mudah dan terkadang sewaktu membacanya kita akan tertawa sendiri, karena banyak sekali bahasa satir yang dibumbui dengan humor.

Salah satu bab yang cukup menarik dalam buku ini berjudul seragam, dalam bab ini selain berisi sindiran sindiran, juga menceritakan cerita cinta penulis, hal inilah yang membuat buku ini menarik. Selain menggunakan bahasa yang muda dicerna buku ini juga melibatkan langsung pengalaman penulis yang terkadang membuat pembacanya meringis, berfikir dan merasa resah dengan lembaga sekolah yang makin kehilangan esensinya.
Profile Image for Lita Nala Fadhila.
5 reviews1 follower
March 15, 2015
Ini buku bacaan wajib bagi orang yang tertarik dan mencintai dunia pendidikan. Meskipun termasuk bacaan "berat" karena penulisnya berbicara kepada pembaca mengenai hakekat pendidikan, tapi gaya tulisannya ringan, mudah dipahami dan ada unsur humornya. Substansinya semi filsafat tapi serasa membaca tulisan ngaconya Raditya Dika. n
Ngaco yang menginspirasi..
Profile Image for Sudi.
76 reviews7 followers
October 6, 2007
Wow, asik banget baca buku ini. Tapi gara-gara itu jadi ketularan males kuliah...
Displaying 1 - 30 of 91 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.