Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Worst Enemy of Science?: Essays in Memory of Paul Feyerabend

Rate this book
This stimulating collection is devoted to the life and work of the most flamboyant of twentieth-century philosophers, Paul Feyerabend. Feyerabend's radical epistemological claims, and his stunning argument that there is no such thing as scientific method, were highly influential during his life and have only gained attention since his death in 1994. The essays that make up this volume, written by some of today's most respected philosophers of science, many of whom knew Feyerabend as students and colleagues, cover the diverse themes in his extensive body of work and present a personal account of this fascinating thinker.

192 pages, Hardcover

First published January 1, 2000

50 people want to read

About the author

John Preston

7 books3 followers
John Preston is a Senior Lecturer in Philosophy at the University of Reading. He writes on the philosophy of science and the mind.

Librarian Note: There is more than one author in the GoodReads database with this name. See this thread for more information.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (25%)
4 stars
4 (50%)
3 stars
1 (12%)
2 stars
1 (12%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
Want to read
July 5, 2010
Keunikan Feyerabend baik di sisi pemikiran dan pola hidupnya yang eksentrik kerap dianggap sebagai anarkhis. Padahal dengan menggunakan konsep incommensurability yang menjadi salah satu konsep kunci epistemologi-nya, sebutan "anything goes" lebih tepat bagi epistemologi pluralismenya. Baginya, pelabelan sebagai anarkhis hanya dilakukan oleh rasionalis kacamatakuda (rationalist who insisted on strict adherence to rules). Anything Goes bagi Feyerabend merupakan bagian dari membuat ilmu pengetahuan itu semakin maju. Gonzalo Munevar menyebutkan dalam pengantarnya sebagai, "to keep science strong, then, we must allow the pursuit of unusual ideas".

Anything goes juga berarti memayungi dinamika perubahan dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Feyerabend menolak teori ilmu pengetahuan karena baginya, "knowledge, a complex part of human life, was always changing, as if should." Termasuk yang ditolak oleh Feyerabend adalah relativisme karena relativisme itu sendiri merupakan sebuah teori ilmu pengetahuan. Gambaran itu bisa ditangkap dari cerita Munevar yang mengenang pertemuannya dengan Feyerabend pada tahun 1975. Saat ditemui Feyerebend dan ditanya apa yang akan disampaikannya dalam seminar itu dan ia menjawab hanya datang untuk duduk mendengarkan, Feyerabend menukas, "jika ingin ikut dalam diskusi ini anda harus menyampaikan sesuatu." Munevar membalas, "All my ideas are very bizarre," Feyerabend membaliknya dengan jawaban, "Par for the course", sambil ia membuka agendanya "When will you be discussing them?"

Dialog itu menggambarkan sikap pribadi filosof ekstentrik ini yang dituliskan dalam Obituary untuk Feyerabend oleh Paul Hoyningen-Huene,"Two things always impressed me a lot about Feyerabend. First of all, he was never conceited. Although he loved both the theater and opera (and as a matter of fact was an actor of sorts himself), he never showed off his enormous reading capacity, his knowledge, his international success, or his intelligence. lie seemed to be incorruptible by these things. (Feyerabend often criticized Popper for changing because of his success). For Feyerabend, academic pretensions were loathsome. He dismissed, even rejected, praise of his originality without coquetry. Second, he bore the fate of a wounded war veteran with astonishing calmness, given his paralyzed legs and the terrible pains he endured since the age of twenty-one."

Kisah kakinya yang cacat akibat pernah tertembak saat bertugas sebagai prajurit Austria pada PD II yang membawa banyak kisah dibelakangan hidup Feyerabend. Banyak pihak yang punya pengalaman menerima pembatalan ceramah oleh Feyerabend pada menit-menit terakhir tanpa mengabarkan sebab yang jelas, ternyata hal itu dikarenakan sakit akibat cidera itu. Untuk opera itu sendiri, Feyerabend yang tinggal lama di Wina pernah berinteraksi dengan Bertolt Brecht yang pernah menawari dirinya untuk menjadi asisten produksi di Berlin, namun tawaran itu ditolak oleh Feyerabend. Mentor-mentor yang pernah dekat dan kemudian menjadi kolega dalam kajian mengenai epistemologi. Nama-nama seperti Wittgenstein, hingga Poper, Lakatos, dan Kuhn. Nama-nama yang dikenalnya bukan hanya secara akademik tetapi juga secara personal. Bila dengan Poper Feyerabend banyak mengkritik pemikiran mengenai falsifikasi, hubungan Feyerabend dengan Lakatos justru sangat akrab. Lakatos merupakan salah satu teman dekat Feyerabend. Korespondensi keduanya diterbitkan dalam sebuah buku berbahasa Italia. Lakatos menyebut sahabatnya itu dalam kalimat, “Paul everybody loves you, you have no character". Gambaran Lakatos untuk pribadi Feyerabend yang ironik, sangat humoris, dan selalu mampu memprovokasi dengan gayanya yang ramah.

Kehidupan personal Feyerabend memang tidak terpisahkan dari pandangan dan posisi epistemologisnya. Gunzalo Munevar dalam pengantarnya mengatakan, Feyerabend berfikir dan menulis dengan semangat yang sama dengan apa yang dijalaninya dalam keseharian hidupnya. Bisa jadi karir akademis yang diawalinya dari astronomi dan opera saat masih tinggal di Wina lah yang menelurkan ide, “To keep science strong, then, we must allow the pursuit of unusual ideas. This means that even non-Western cultures may have important contributions to make to some areas of science. So Feyerabend urged two things: that we do not torce science into a philosophical straight jacket (empiricism) and that we do not use the success of science in the West to put down non-Western cultures.” Kalimat di pengantar yang membuat saya merasa isi buku ini bukan melulu sebuah ide tentang filsafat pengetahuan tetapi juga sebuah dialog dalam khasanah pengetahuan dunia yang lahir dari seorang filusuf yang masa kecilnya dihabiskan di ibukota positivisme.

Singkat kata, ini bukan review, ini provokasi so-toy saya untuk terus membaca buku ini :D
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.