Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

Rate this book
Anjing mungil rebah di jalan.
Serdadu itu menembaknya dengan senapan otomatis.
Kameraku nyaris terlepas. Aku benar-benar kaget.
Baru saja kulihat ia berlari-lari kecil, mengendus-endus pasir, lalu menengok sekelilingnya seperti bingung.

Serdadu itu berdiri di ujung jalan sana, tidak jauh dari anjing yang sekarat dan ia bersikap seolah-olah tak melakukan apa pun yang telah mengguncang jiwa seseorang dan memusnahkan jiwa yang lain.



Seekor Anjing Mati di Bala Murghab adalah koleksi cerpen Linda Christanty yang beberapa di antaranya telah dipublikasikan di media nasional seperti harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jurnal Prosa, serta dimuat di beberapa situs internet. Tulisan-tulisannya tajam, mengetengahkan konflik politik, agama, dan gender; mengantarkan dirinya menerima penghargaan bergengsi Human Rights Award for Best Essay pada tahun 1998 atas esainya yang berjudul “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste” serta penghargaan Khatulistiwa Literary Award di tahun 2004 atas koleksi cerpennya: Kuda Terbang Maria Pinto. Karya Linda yang berjudul Rahasia Selma juga menjadi prosa terbaik Khatulistiwa Literary Award 2010. Sementara buku esainya Dari Jawa Menuju Atjeh menerima Penghargaan Prosa Pusat Bahasa 2010 Kementerian Pendidikan Nasional.

128 pages, Paperback

First published June 1, 2012

7 people are currently reading
142 people want to read

About the author

Linda Christanty

34 books81 followers
Linda Christanty adalah sastrawan-cum-wartawan kelahiran Bangka. Pada 1998, tulisannya berjudul “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste” meraih penghargaan esei terbaik hak asasi manusia. Kumpulan cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004. Dia sempat bekerja sebagai redaktur majalah kajian media dan jurnalisme Pantau (2000-2003), kemudian menulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Sejak akhir 2005, dia memimpin kantor feature Pantau Aceh di Banda Aceh.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (15%)
4 stars
49 (34%)
3 stars
59 (40%)
2 stars
12 (8%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 37 reviews
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
July 16, 2020
Seekor Anjing Mati di Bala Murghab adalah buku kedua Linda Christanty yang saya baca setelah Rahasia Selma. Setelah membaca Rahasia Selma, aku semakin tertarik ingin membaca buku Linda yang lain. Kuda Terbang Mario Pinto belum berhasil ku seret ke dalam koleksi buku ku, tak kutemukan dimana-mana. Tapi jangan menyangka aku akan menyerah, dengan waktu aku yakin akan menemukannya...*apa sih kamu*

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab masuk ke dalam long list Khatulistiwa Literary Award 2012. Berita di Goodreads ini membuat aku terbirit-birit ke toko buku untuk membeli buku ini. Kebetulan sekali info ini aku ketahui pada tanggal 5 Oktober 2012 , hari lahir TNI dan sekaligus hari lahirku...ehm.

Niat sudah ada malam sebelumnya untuk memberikan kado buku untuk diriku sendiri pada hari ulang tahunku seperti biasa setiap tahun. Perburuan 10 buku pada long list dilaksanakan, dengan catatan beberapa telah dimiliki, ada yang diniatkan tidak dibeli karena pengalaman membaca buku karya sebelum-sebelumnya kurang sesuai selera dan berdasarkan rating di GR kurang menjanjikan.

Sepertinya rugi jika belum membaca buku-buku nominasi dan pengumuman pemenang sudah dilakukan. Menyenangkan kalau sudah membaca buku dan menyukainya kemudian mengunggulkan, kemudian menang, perasaanya gimana gitu. Halah serasa yang menang diri sendiri...

Kembali ke SAMdBM, mulanya aku bertanya - tanya Bala Murghab itu apa ya....ternyata sebuah tempat di Afghanistan. Tempat dimana peperangan adalah aktivitas sehari-hari. Bagaimana ya menggambarkan tulisan Linda, diceritakan spertinya secara ringan tapi membuat kita mengetahui ada pesan dan simbol yang disampaikan apakah politik, hak asasi manusia, keluarga, kemanusiaan, romantika keluarga, kenangan dan lainnya. Beberapa diantaranya bahkan membuat aku tertawa geli, ungkapan dan metapora yang membuat geli diantaranya:
- Pertemuan Atlantik
..orang Turki ini sepuluh tahun lebih tua dari Afrika.Tapi diusia yang sama-sama tua, siapa yang lebih muda tidak terlalu penting lagi. keduanya terlihat seperti tiang-tiang lapuk...:)

...aku sempat membaca surat elektronik dari Hardi, abangku. Setelah Arini istrinya meninggalkan rumah selama lima bulan dan tinggal dengan seseorang lelaki, Arini pulang dalam keadaan hamil dua bulan dan ingin membina rumah tangga lagi dengannya. Hardi sudah dua kali menikah. Dengan istri pertamanya, Tuti, dia tidak punya anak. ......Ku balas surat abangku, "terima permintaan Arini dan besarkan anak itu. Anggap saja rezeki. Kadang-kadang rezeki bisa datang dari siapa saja". ....haha

- Kisah Cinta
Suatu kali seorang teman mengajaknya main film. Dia diminta jadi serigala jadi-jadian. Dia Diminta melolong seperti serigala. Tapi film itu tidak selesai. Temannya meninggal dunia, karena serangan jantung. Istri almarhum mencurigai semua perempuan teman suaminya. Rekaman lolongan itu dihapus sang istri , karena dianggap dampak aksi main mata suami dibelakangnya. Perempuan itu menganggap tiap artis harus tidur dengan sutradara agar mendapat peran.
Tapi untuk mendapat peran serigala melolong,siapapun tidak harus membayar dengan tidur atau setengah tidur. Lagipula jarang orang seperti dirinya bersedia mengisi suara binatang dalam film. Wajahnya kebetulan mirip artis Angel Lelga tidak tampil di layar. Benar-benar mubazir. Peran tersebut tidak akan mendongkrak kariernya sebagai artis. Kini dia tidak punya bukti lagi bahwa dia pernah main film gara-gara rekaman tersebut dimusnahkan pencemburu buta...xixixi

Diantara kumpulan cerpen ini, favorit ku Catatan Tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi, Kisah Cinta, Ketika Makan Kepiting, Perpisahan, SAMdBM, Pertemuan Atlantik, Zakaria....ah ternyata semua bagus, walaupun ada juga yang agak bingung seperti Sihir Musim Dingin, tapi pemilihan katanya tetap bagus. Aneh ya,bingung maksudnya tapi enak dibacanya...hehehehehe

Buku ini bisa jadi peraih KLA 2012...
Profile Image for lita.
440 reviews65 followers
June 20, 2012
Belahan jiwa bisa ditemukan di mana saja, bahkan ketika kalian tidak sedang mencarinya.... (hal. 8)
Profile Image for Rahman.
163 reviews22 followers
April 8, 2024
Judul-judul favoritku:
1. Ketika Makan Kepiting
2. Jack dan Bidadari
3. Seekor Anjing Mati di Bala Murghab
4. Zakaria
Profile Image for Esdoubleu.
9 reviews5 followers
July 27, 2012
Seekor anjing mati di Bala Murghab. Demikian judul antologi ini, dan barangkali seketika itu juga pertanyaan itu muncul: memang kenapa dengan seekor anjing yang mati di Bala Murghab? Apakah anjing itu milik seseorang dan seseorang itu sangat menyayanginya? Atau anjing ini ternyata metafora untuk hal-hal yang lain? Di manakah Bala Murghab itu?

Bala Murghab, seperti juga Gilbatar-nya Avianti Armand (dalam antologi Kereta Tidur), adalah desa yang sungguhan ada. Terletak di Afganistan, sebuah negara yang tahun 2010 lalu jatuh ke dalam konflik peperangan, desa ini juga menjadi salah satu basis militer AS (koreksi jika saya salah). Karena itu, dalam ceritanya, Linda menuturkan bagaimana seorang prajurit menembak seekor anjing, dan bagaimana tokoh utamanya, seorang yang barangkali juru kamera dengan banyak tanggungan, ditempatkan dalam konflik psikologis; tentu masih dengan gayanya yang khas: anti-dogmatis. Linda tidak menghadirkan begitu banyak cerita yang melatari si tokoh utama itu, tidak pula menghadirkan bagaimana seseorang seharusnya bertindak; seekor anjing kesayangan seorang anak lelaki bernama Alef telah ditembak mati, dan dunia tidak berhenti untuk Alef atau siapapun untuk turut bersimpati.. Ini kenyataan hidup, dan Linda tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya kecuali hanya dengan menuturkannya dengan gaya pengamatannya yang khas seorang jurnalis.

Dari Afganistan kita dibawa mengarungi beberapa belahan dunia lainnya; Jepang, Jerman, Maroko.. dan barangkali mungkin Aceh dan beberapa daerah lain di Indonesia, seperti melalui cerita Zakaria dengan azimat kucingnya, juga catatan tentang Luta, seorang manusia yang berusia 350 tahun. Yang patut dicatat tentang Catatan Tentang Luta ini, adalah keluwesan Linda bermain-main di perbatasan fiksi-non fiksi. Cerita pendek terakhir ini memang lebih terkesan sebagai sebuah artikel dibandingkan fiksi; dan meski pada akhirnya saya menemukan diri saya bertanya-tanya apakah Luta itu sungguhan ada, saya juga sadar; tidak penting apakah cerita itu berdasarkan data aktual atau tidak.

Meski Linda banyak menempelkan twist dan perasaan 'sendiri' dan mungkin pada tingkatan tertentu 'terasing', seringkali Linda tidak menutup cerita dengan suatu konklusi yang pasti. Anehnya, cerita-cerita Linda memang tidak membutuhkan konklusi itu, dan sedikit-banyak, saya rasa, itulah yang membuat saya ketagihan dan ingin membaca lagi dan lagi, sebab di setiap pengalaman membaca itu, saya menemukan banyak kemungkinan alur cerita yang terbuka itu. Sata catatan pengecualian barangkali, ada pada cerita Perpisahan. Seorang lelaki bernama Hans dan seorang tokoh tak bernama bertemu di Jerman, dilatari cuaca dingin dan nostalgia. Benar-benar pengalaman yang membuatmu tak ingin sendiri, di dunia yang luas ini. Saya tak akan berbagi kesimpulan cerita itu di sini, tapi saya bisa menceritakan sedikit: buat saya, tak ada cerita tentang perpisahan yang semanis dan sekaligus segetir itu. Perpisahan, ternyata tak lebih dari segumpalan masa lalu yang tercekat di suatu tempat dan lalu membeku di sana.

Dibandingkan Rahasia Selma atau Kuda Terbang Maria Pinto, kumcer di sini menurut saya kalah kelas. Tapi ini berasal dari pendapat seorang yang melankolis, yang lebih menyukai kisah-kisah tragis dan romantis, dibanding satire atau cerita-cerita tentang konflik politik. Bila Anda menyukai Linda Christanty seperti saya, Anda pasti masih akan tetap menemukan penawar bagi kerinduan terhadap karya-karya fiksi yang berkualitas melalui antologi ini.
Profile Image for Astri.
27 reviews4 followers
January 27, 2025
Makam Keempat. Cerpen yang terletak paling akhir dalam buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty itu tak bisa saya lupakan sampai kini, dua tahun sejak pertama kali saya menemukan buku itu di salah satu sudut pameran buku di Jakarta. Kisahnya yang berlapis-lapis tanpa kesan bertele-tele telah membuat saya terpesona.

6 Juni 2012, saya membeli buku terbaru karya Linda Christanty, sebuah kumpulan cerpen berjudul Seekor Anjing Mati di Bala Murghab. Sejak Linda mengumumkan lewat akun Twitter dan Facebook tentang tanggal terbit buku itu, saya telah memberikan lingkaran merah pada kalender di ingatan saya. Tak sulit, apalagi tanggalnya sama dengan ulang tahun saya. Nyatanya baru seminggu sesudahnya saya sempat ke toko buku untuk membelinya.

Malamnya saya mulai membaca, tapi mata hanya sanggup bertahan sampai dua cerita pertama, Ketika Makan Kepiting dan Zakaria. Esoknya, ketika perjalanan KRL Bogor-Jakarta kacau balau, saya tuntas membaca sepuluh kisah dalam buku itu selama hampir tiga jam ketika terjebak di dalam kereta.

Membaca tulisan Linda di buku ini membuat saya merasa seperti sedang mendengar lagu-lagu milik Kings of Convenience. Tak mengumbar nada tinggi, tapi sering menggali kenangan begitu dalam. Melakukan inventarisasi apa saja yang ada di sana, lalu menjadikannya cerita. Terasa halus tapi terus menempel di ingatan.

Cerpen Perpisahan adalah contohnya. Linda menghadirkan perih tokoh Aku secara diam-diam, lewat lintasan ingatan tokoh Hans yang mengenang masa menjelang ibunya meninggal. Ibu Hans sudah tahu perpisahan pasti terjadi, dan dia memilih “sengaja menjauh dari siapa pun yang mengenalnya, yang pernah mesra. Sengaja mencipta jarak yang kelak akan terus memanjang ketika perpisahan itu benar-benar datang.” (halaman 59). Pada bagian itulah saya terhenti sejenak. Bukankah kadang kita pun seperti itu ? Merentang jarak supaya tak kaget dan limbung ketika perpisahan itu tiba di depan mata.

Beberapa cerpen lain yang juga istimewa adalah Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, Karunia dari Laut, Ketika Makan Kepiting, dan Sihir Musim Dingin. Seekor Anjing Mati di Bala Murghab adalah cara pandang Linda atas Afghanistan. Seekor anjing ditembak tentara, lalu dari situlah Linda merangkai kisahnya tentang pergolakan di Afghanistan, dan tentang berbagai alasan mengapa banyak orang terjebak atau terpaksa datang ke sana. Sedangkan lewat cerita Ketika Makan Kepiting, Linda menunjukkan bahwa kenangan masa kecil tak boleh diabaikan, bahkan jika kenangan itu tentang perjuangan untuk menikmati makanan kesukaan.

Seperti layaknya album musik, buku ini juga berwarna. Ada cerita yang istimewa, ada pula yang membuat kening berkerut karena saya bingung apa maksudnya, contohnya pada cerita Pertemuan Atlantik dan Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi.

Meskipun demikian, secara keseluruhan buku ini enak dibaca dan layak dikoleksi. Saya tidak akan heran seandainya buku ini mengantarkan Linda Christanty mendapatkan Khatulistiwa Literary Award untuk ketiga kalinya.

-Depok, 8 Juni 2012. 03.00-05.00 WIB-


Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
October 30, 2015
Untung...satu kata: untung saja gw nggak kapok untuk membaca karya Linda Christanty setelah membaca Rahasia Selma: Kumpulan Cerita yg bener-bener memalak otak gw. Buku ini brilian!!!!! Banyak cerpen-cerpen yg bisa gw nikmati tanpa membuat kening gw layaknya sawah setelah dibajak.

Banyak cerpen yg bikin emosi gw naik turun, daya khayal gw ngalor ngidul dan twist-twist yg meski nampak nggak tuntas, tapi bikin gw menghela napas lega endingnya demikian. Seperti cerpen Zakaria yg awalnya ngomongin azimat tulang kucing bermata merah, yg sanggup membuat pemiliknya kasat mata,. Lalu ada Karunia Dari Laut yg memberikan sedikit gambaran kehidupan keluarga mantan tapol. Favorit gw Pertemuan Atlantik mampu membuat gw termenung dengan banyaknya "sentilan" yg meski udah sering dengar, masih aja bikin meringis gimanaaa gitu.

Di negerinya, warna kulit pernah menentukan status sosial dan masa depan seseorang. Gelap, budak. Terang, tuan.
....
Perempuan-perempuan berkulit coklat tiap hari mengolesi tubuh mereka dengan krim pemutih kulit dan perempuan-perempuan berkulit putih melumuri tubuh mereka dengan krim pencoklat kulit demi kecantikan. Perbedaan ternyata lebih menguntungkan perdagangan


Belum lagi cerpen yg menjadi judul kumcer ini, Seekor Anjing Mati di Bala Murghab tentang kejenuhan seorang fotografer perang yg merasa terjebak di daerah konflik. Dan kisah pamungkasnya Catatan Tentang Luta, Manusia Yang Hidup Abadi yg sedikit banyak berbicara tentang adat istiadat suku Dayak. Ini seumpama ada buku lengkapnya, gw mau mau mau banget baca.

Buku ini membuat gw terkesan dan buku ini memang mengesankan. Gw nggak terlalu ambil pusing tentang gender dalam tiap cerpen (yg entah kenapa, tiap baca kumcer, hal ini yg biasanya paling awal gw coba kenali). Layak bila kumcer ini mendapatkan award yg berderet. Jadi makin penasaran sama Kuda Terbang Maria Pinto
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
July 6, 2014
setelah cukup menyukai antologi kuda terbang, membaca buku ini kok saya benar2 gagal paham ya. pdhl bacanya sdh per-lahan2. satu per satu. tetap saja... dari 10 cerpen hanya zakaria, kisah cinta, & bala murghab yang kusukai dan mampu kumengerti maknanya. :|
109 reviews
March 24, 2025
Kumcer kedua Linda yang kubaca, dan entah kenapa, getir atau janggal yang tertinggal tidak semembekas Kuda Terbang Maria Pinto. Walaupun begitu, rasa itu tetap ada.

Dengan diksi yang lugas khas tulisan seorang jurnalis, Linda tetap mampu membuatku mampu dengan jelas membayangkan "daerah konflik" dengan segala carut marutnya yang membuat dinamika kehidupan manusia bergerak naik-turun. Tidak menye-menye dan tanpa ba-bi-bu. Cerita-cerita di dalamnya membuatku berpikir kembali tentang sejarah-sejarah yang sengaja dilupakan, arti keluarga, pola kekerasan yang mengakar, dan refleksi atas hubungan manusia dan makhluk-makhluk lain di sekitarnya. Beberapa kesukaanku adalah "Ketika Makan Kepiting," "Karunia dari Laut," dan "Perpisahan".

Aku teringat pernah menulis ulasan tiga cerpen Linda, termasuk "Perpisahan," di sini: https://tatkala.co/2022/08/10/linda-c.... Setelah membacanya kembali, fakta bahwa kehidupan senantiasa mengemban kesedihan sehingga dengan mudahnya ia tercermin dalam fiksi, masih nyata adanya. Dan Linda mampu menuliskannya dengan begitu baik.

Terima kasih yang spesial untuk Sidhi yang menghibahkan buku ini untukku.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 22, 2017
Cerpen utama kumcer ini, meski bercerita tentang matinya seekor anjing yang ditembak serdadu, namun patut dimaknai sebagai metafora tentang perihal yang lebih luas yang dapat terjadi di daerah konflik. Latar Bala Murghab, sebuah kota di Afganistan, yang diambil penulis sebagai latar cerita begitu jelas tergambar kegetiran dan kemurungannya.
Profile Image for Ade Faulina.
57 reviews32 followers
July 2, 2017
cerita-ceritanya sedikit serius. Tapi cukup bagus kok.. :)
Profile Image for Sadam Faisal.
125 reviews19 followers
October 15, 2017
Padahal bacanya udah pelan-pelan tapi tetep aja otak ini ga mampu buat memahami & mencerna cerita-cerita di buku ini.
Profile Image for Gloria Fransisca Katharina.
207 reviews6 followers
August 2, 2019
Buku ini membawa saya pada pembelajaran pentingnya seorang penulis memperhatikan detil di sekitarnya. Gaya menulis Linda sangat humanis karena kemampuan dia menarasikan hal detil.
7 reviews
September 2, 2019
Judul favorit saya adalah Catatan tentang Luta; Manusia yang hidup abadi. Buku ini merupakan judul kedua dari Linda Christanty setelah Rahasia Selma yang saya baca.
Profile Image for Tyas Hanina.
3 reviews
October 21, 2019
Suka sama gaya menulisnya! Enak dibaca, saya baca buku ini dalam sekali duduk.
Profile Image for Wahid Kurniawan.
206 reviews3 followers
July 18, 2020
Kendati nggak se-wah dua kumcer sebelumnya, tapi buku ini tetap jadi favorit. Aku suka sekali sama cerpen Zakaria.
Profile Image for Jusmalia Oktaviani.
Author 4 books4 followers
September 26, 2015
Ini adalah kedua kali saya membaca kumpulan cerita pendek Linda. Dan saya menyadari bahwa membaca yang kali kedua ini lebih mengena pada saya. Saya bahkan berusaha melambatkan bacaan saya, kata demi kata. Saya merasa rugi jika saya membacanya dengan cepat, tapi saya kehilangan makna yang ingin disampaikan penulisnya.

Banyak yang merasa gagal paham membaca kumcer ini, mungkin karena memang diperlukan pengetahuan sejarah dan wawasan yang cukup untuk 'nyambung' dalam cerita-ceritanya. Linda, sebagai seorang jurnalis, saya rasa berupaya menyajikan kisah kemanusiaan yang ia dapat dalam bentuk cerita pendek. Beberapa cerita memang didasarkan pada konflik kemanusiaan yang benar-benar ada, seperti Aceh dan GAM, perang di Afghanistan, pemberontakan PKI, serta masa kekuasaan Soeharto. Semua ceritanya memikat, namun favorit saya ada dua, yakni cerpen 'Seekor Anjing Mati di Bala Murghab' dan 'Jack dan Bidadari'. '

Untuk cerpen pertama, saya menyukainya karena mengetuk rasa kemanusiaan kita. Seekor anjing mati ditembak tentara, tanpa alasan jelas, dia hanya ingin menembak saja. Setelah menembak, dia malah meminta sang jurnalis untuk memotretnya. Sementara sang anak pemilik anjing tidak mampu berbuat apa-apa. Disitulah perang dan konflik menghapuskan sisi humanis manusia. Harga nyawa manusia saja murah, apalagi seekor anjing di tanah konflik Afghanistan.

Cerpen 'Jack dan Bidadari' sebenarnya sederhana saja, cerita tentang KDRT yang dialami oleh pihak pria. Yang menganiayanya tak lain adalah Bidadari, pasangannya. Cerita ini saya sukai karena cukup unik, mengangkat sisi lain KDRT, yang bisa dialami siapa saja, termasuk oleh pria yang selama ini biasanya adalah pelaku KDRT.

Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
April 20, 2015
Beberapa waktu lalu saya membaca artikel tentang penulis di BBC Indonesia dan menemukan bahwa darah menulisnya diturunkan dari sang kakek yang suka menyuruhnya menuliskan segala sesuatu dalam diari bersampul merah, lalu kita menemukan sang kakek di cerpen Karunia dari Laut. Dikisahkan kakek adalah pejuang pemberani dan beraliran kiri dan sempat dibuang oleh pemerintah ke sebuah pulau.

Aroma pemberontakan tercium dengan baik di beberapa cerpen, diantaranya: Zakaria, dia disuruh langsung kakaknya untuk melakukan perdagangan ganja, padahal abang iparnya sendiri adalah kepala polisi. Lain halnya dalam Ketika Makan Kepiting, di sini tokoh digambarkan sebagai sosok yang terpingirkan karena dominasi ayah tiri, saudara tiri, hingga nenek tirinya. Si tokoh pun tidak memiliki hubungan yang baik dengan si ibu, ia justru sering menentang ibu hanya untuk melawan perintahnya. Lagi-lagi saya teringat artikel BBC Indonesia.

Kesedihan adalah hal lain yang juga jelas terlukis. Kisah cinta yang tak selesai, ending yang tak berujung. Semuanya jadi satu dalam Perpisahan, mengambil setting di Jerman.

Cerpen Seekor Anjing Mati di Bala Murghab pun ber-setting di luar negeri, kisah tokoh berprofesi sebagai jurnalis di Afganistan, negeri berselimutkan kesedihan dan kematian.

Menyukai hampir semua cerpen dalam kumcer ini, cerpen terakhir seperti dekat dengan kisah di tanah kelahiran saya. Di sini kami menyebut harimau yang mampu mengendarai dengan "inyiak".
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
July 29, 2014
puah, lagi-lagi tulisan mbak Linda Christanty membius saya!
saya jatuh cinta pada beberapa cerita pendek yang ia sajikan dalam kumpulan cerita ketiganya ini. sebuah cerita pendek berjudul Seekor Anjing Mati di Bala Murghab--yang juga dijadikan judul untuk buku ini--memberikan kesan nikmat ketika dibaca. kelezatan cerita ini hampir sama rasanya ketika saya membaca cerita lain karya penulis dalam bukunya terdahulu "Rahasia Selma" (GPU, 2010). sayang cerita pendek pembukanya, Ketika Makan Kepiting, belum saya rasakan kenikmatannya senikmat makan kepiting saus tiram.
Kisah Cinta juga menyita perhatian saya, meski cerita ini merupakan salah satu cerita yang ringan dan mudah dikunyah, tapi saya tetap dapat merasakan cerita ini disajikan dengan pas.
lalu ada Jack dan Bidadari yang dua tahun lalu terpilih sebagai salah satu cerita pendek pilihan Kompas. yang ini juga jadi favorit saya.
rasanya ingin sekali saya menulis semenarik mbak Linda. tulisannya gurih dan renyah sekali saat dibaca. komposisi kata dan bumbu ceritanya betul-betul pas dan lidah saya kian klop. betul-betul lezat.
kini, saya sedang mencari buku kumpulan cerita pertamanya. kalau tidak salah judulnya Kuda Terbang Maria Pinto. huh... andai saya sudah mengenal tulisan mbak Linda sejak dulu. saya merasa sedikit terlambat mengenal karya-karya penulis bagus.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
January 28, 2015
Sehabis membaca buku ini, saya bertanya mengapa Linda Christanty tidak seterkenal, punya jutaan follower, dan terkenal laiknya penulis lain? Padahal tulisannya (minimal dari beberapa buku yang saya baca) bukan tulisan biasa, atau dalam kata lain bagus? Dan saya menemukan jawabannya. Adalah produktivitas. Sepertinya Linda tidak buru-buru bikin buku baru. (Sdangkan banyak penulis cerpen yang setahun bisa ngeluarin 2 kumcer). Linda diam-diam, tidak buru-buru, sekali keluar nyabet penghargaan. Akibatnya publik tidak banyak mengenalnya. Tapi pembaca setianya selalu menunggu karya-karyanya.

Setiap membaca cerpen Linda, harus punya kesadaran penuh. Ini bukan cerita yang biasa. Harus punya kesadaran dan mengingat cerita dari awal. Kesadaran, karena saya membaca Rahasia Selma asal-asalan akibtanya hanya menikmati bahasa tidak ceritanya. Sebaliknya untuk memasang daya ingat yang cukup kuat, karena cerita Linda seperti naik mobil. Terus melaju, dan Linda sedang duduk di pinggir jendela memotret dan menceritakan kepada pembaca.

Sepertinya setting dalam cerita ini, memilih daerah-daerah yang "tidak lazim". Ada Aceh, ada daerah Andalusia, dll. Tetapi Kuda Terbang Mario Pinto tetap jadi idolaku.
Profile Image for Mardian Sagian.
90 reviews18 followers
March 26, 2015
membaca buku ini haruslah ketika kamu benar-benar dalam situasi ingin membaca, dalam artian santai, ditemani camilan dan secangkir teh hangat atau kopi. jangan ketika pikiran terbelah-belah dan membaca menjadi alternatif pelarian sementara. jangan seperti saya, membaca tapi sesekali fokus hinggap ke tugas kantor yang minta disentuh, alhasil kadang gagal memahami isi dari cerpen-cerpen (meski tidak semuanya).

karena apa, karena linda memiliki daya tarik yang ganjil mengenai bahasa yang digunakan. entahlah, sukar mendeskripsikannya. magis, tidak juga. seperti meniti jembatan tipis dan halus dan rapuh, kita harus hati-hati, konsentrasi. sekali saja teralihkan, ambyarlah sampai ke tujuan dan memetik maksud ceritanya. atau mungkin ini kesimpulan saya saja: sebagian cerpen kadang tak menyelesaikan apa-apa dan terlalu biasa. dan di situ, saya menganggap sebagai kelebihan cerita yang tak mulu harus dipaksakan dengan twist yang menghentak. ending dalam cerpen-cerpen ini mengejutkan dengan cara yang, sekali lagi; ganjil, tidak dipaksakan, dan terlalu menganga.
Profile Image for Pandasurya.
177 reviews117 followers
December 6, 2012
Cerpen terbaik dan paling favorit di buku ini:
Catatan Tentang Luta, Manusia yang Hidup Abadi
Salah satu cerpen terbaik yang pernah saya baca.


MANUSIA abadi hanya punya satu persoalan, yaitu kesepian abadi. Memiliki sahabat amat penting untuk menjalani hidup sampai akhir zaman. Sebagian besar manusia abadi, menurut Luta, mengasingkan diri dari keramaian dan menjalani hidup hanya dengan bertapa. Luta tidak seperti itu. Dia senang bertemu orang-orang di berbagai tempat dan membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka.

***

Di negara saya pengertian aktivis atau pejuang sekarang sama dengan pegawai. Mereka digaji.

***

Belahan jiwa bisa ditemukan di mana saja, bahkan ketika kalian tidak sedang mencarinya.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
January 7, 2014
ini buku terakhir yang aku baca di 2013. sebenarnya tidak diniatkan terakhir, namun ternyata sesudah membacanya di bulan nopember, aku tak sanggup membaca apa-pun lagi. kesibukan menyita waktuku.

buku ini bahkan sempat kubawa berkeliling gunung dan laut di awal nopember, dan kubawa pulang lagi dengan hanya menyelesaikan satu cerpennya. bukti bahwa perjalanan lebih membiusku daripada buku. mungkin bukan perjalanannya, tapi, ah. apa pun itu, sesuatu pengalih perhatian yang amat besar.

tapi usai mendengar debat linda usai penyelenggaraan acara salah satu event tahunan di dunia sastra, aku tergerak untuk meraihnya lagi. rasanya tak patut jika membuka dan tak menyelesaikannya.

dan pagi akhir november itu, sebelum kamu menjemputku di stasiun kotamu, buku ini selesai.

Profile Image for Mourina Putri.
60 reviews25 followers
December 26, 2020
"Menghilangkan kenangan terhadap seseorang tidak lebih sulit ketimbang menghilangkan kenangan tentang orang tersebut yang justru hadir dalam bentuk-bentuk ganjil dan ahistoris", favorit saya adalah Sihir Musim Dingin.
Profile Image for Iwan.
15 reviews6 followers
July 21, 2012
Sebulan yang lalu ia menonton film kartun di televisi, film yang mengesankan. Seorang pangeran disulap menjadi seekor kucing oleh kakek sihir yang mengincar putri raja. Bagian akhir film itu menampilkan sebuah kalimat di layar televisi. BARANGSIAPA RELA MENCIUM KUCING YANG MUNCUL DI MONITOR TELEVISI ANDA, MAKA ANDA TELAH MENYELAMATKAN SEORANG PANGERAN. Serta merta dengan penuh haru, ia mencium layar televisi.
seperti mengunjungi pameran fotografi kemanusiaan, dengan sedikit sapuan debu debu intan :D
Profile Image for Yusardi Reska.
10 reviews1 follower
July 24, 2012
Walau dengan gaya bahasa yang berat dan agak susah mengikuti jalan pikiran mbak Linda, disamping penokohan yang kuat,ada khas gaya bercerita mbak Linda dimana kita dipaksa ikut mloncati ide ditengah cerita yang sedikit agak membuat saya ter distraksi dengan alur yang dibuat. Namun akhirnya buku ini khatam juga. Banyak metafora yang memancing daya imaji kita akan realitas kehidupan. Kadang mebuat kita mngernyitkan dahi,kadang membuat kita menggali lebih dalam akan memori2 tokoh yang dibangun.

"Ibu menambah perbendaharaan nasihat: peternak babi serakus babi" hal. 29
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
March 9, 2015
Ini adalah kali pertama saya membaca karya Linda Christanty, penulis yang saya kira satu 'genk' dengan Eka Kurniawan. Hahaha. OK, abaikan.

Bukan buku yang bisa dibilang ringan ternyata. Rasanya kayak baca buku sejarah in a fun ways. Jelas bukan buku yang tepat buat pembaca yang sekadar mencari hiburan. Ceritanya berbobot dan sarat makna. Butuh dibaca berulang-ulang supaya bisa menikmati isinya.

Maret ini, penulis menelurkan buku baru lagi terbitan KPG. Penasaran pengin baca juga.
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
June 13, 2012
Hehehe. Langsung selesai sekali duduk. Salah satu ciri khas Mbak Linda adalah jalan cerita yang meloncat-loncat. Seperti membaca pikiran orang yang diceritakan secara live.

Linda tetap setia mengangkat isu politik di Kumcernya yang satu ini. 2 cerpen terakhir seperti laporan jurnalisme. Dan memang begitulah gaya penceritaan Mbak Linda ^_^
Profile Image for Femmy.
Author 34 books539 followers
December 3, 2012
Tampaknya aku benar-benar harus berhenti membaca kumpulan cerpen, terutama yang berbau sastra. Aku tertarik pada buku ini karena dinominasikan untuk Khatulistiwa Literary Award, tetapi tak ada satu pun cerpen dalam buku ini yang bisa kunikmati. Mungkin seleraku berbeda dengan para juri KLA. Biarlah aku membaca novel KLA saja.
Profile Image for Citra Mardiati.
38 reviews6 followers
December 11, 2012
Di dalam antologinya mbak Linda kali ini banyak cerita yang bersetting di luar negeri, tetapi tetap masih mengangkat tema-tema sosial. Ini nih yang buat saya makin penasaran dengan karya-karya mbak Linda, jadinya kita diajak untuk lebih membuka mata dan peduli dengan sekitar (>o<)b
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
June 25, 2015
Sumpah, banyak dari cerpen-cerpen di buku ini tidak saya mengerti jalan ceritanya. Entahlah, buku ini sama sekali tidak berkesan untuk saya dan sangat membosankan. Saya lega akhirnya sudah menyelesaikan buku ini.
Displaying 1 - 30 of 37 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.