Jump to ratings and reviews
Rate this book

Senja di Chao Phraya

Rate this book
Senja di Chao Phraya mengisahkan perjalanan cinta antara Laras, janda beranak dua yang bermukim di Jogja, dengan Osken, lelaki lajang berdarah campuran Kazakhstan dan Irlandia yang lahir di Amerika. Meskipun keduanya sudah memasuki usia tengah baya namun jalinan kisah cinta mereka penuh kelok dan liku, tidak jauh berbeda dengan yang dialami para remaja.

Sebagai janda beranak dua pada awalnya Laras tidak menginginkan bersuami lagi. Dalam perjalanan kerjanya ke Bangkok, Thailand, perempuan Jawa ini bertemu dengan lelaki lajang bermata hijau dengan senyum sedikit menyeringai yang memesonanya. Lelaki itu, Osken, hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Ketika bertemu Laras, ia merasa menemukan oase di tengah kegersangan hidupnya.

Namun, Laras terlalu takut untuk menerima Osken ke dalam hidupnya meskipun ia sangat mencintainya. Kisah jatuh-bangunnya cinta mereka berawal di Bangkok, Thailand dan Berakhir di Washington, D.C., Amerika.

324 pages, Paperback

First published June 4, 2012

23 people want to read

About the author

Endah Raharjo

10 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
3 (50%)
3 stars
3 (50%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 29, 2012
Akhirnya saya mengkhatamkan buku ini. Sejak awal buku ini muncul di Goodreads, saya sudah tertarik dengan judulnya. Well, juga covernya, yang mengundang rasa penasaran tentang Senja di Chao Phraya.

Larasati adalah seorang wanita berusia 44 tahun yang memiliki pekerjaan sebagai seorang antropolog. Ia janda beranak dua, Mega dan Angka yang sudah remaja. Pekerjaan Laras sebagai Antropolog sering mengharuskan dia pergi ke luar negeri, kali ini ia mendapatkan kontrak kerja dengan sebuah lembaga penelitian di Bangkok selama hampir setahun dari 2008-2009.

Suatu hari ia bertemu dengan Osken O’Shea, seorang sosiolog berumur 50-an keturunan Kazakhstan dan Irlandia. Pertemuan mereka berawal di restoran, sampai secara tidak sengaja bertemu lagi di boat yang akan melintasi Sungai Chao Phraya. Semenjak itu mereka sering bertemu bersama dan dari obrolan-obrolan ringan mereka, mulai terpercik benih-benih cinta. Pernah sekali Laras mencoba mengelak dari perasaan itu tepat ketika mereka akan pergi kencan, tapi ternyata sia-sia, sekuat apapun Laras mencoba menghindar, takdir mempertemukan mereka kembali. Dan rasa cinta itu makin kuat.

Pun setelah Laras kembali ke Jogja, rumah tempatnya berteduh dan tempat dua mata hatinya berada, rasa rindu sering mengentak dada Laras untuk kembali menemui Osken. Tapi pelan-pelan Laras sadar masa depan cintanya dengan Osken terancam berjalan tidak mudah. Apa kata orang tua kalau ia akan menikahi seorang bule? Perbedaan ras, perbedaan adat, perbedaan budaya, terutama lagi perbedaan agama yang jelas jelas ada. Serta kebiasaan yang berbeda, anak-anaknya yang telah 5 tahun ini terbiasa hidup bersandar hanya dengan Laras seorang, maukah mereka membuka kesempatan bagi Osken untuk masuk ke keluarga mereka?

Mampukah Laras mempertahankan cintanya? Atau ia harus memilih Osken atau orang-orang terkasihnya?

Pada dasarnya ide cerita di buku ini bisa kita temukan di banyak novel romance (atau bahkan di kehidupan nyata itu sendiri) seorang wanita Indonesia jatuh cinta dengan lelaki bule. Yang membedakan adalah bagaimana Penulis menceritakan kisah ini dengan kerumitan hidup si Laras. Ia Janda beranak dua.

“Menjadi janda juga serba saah. Bila memilih sendiri, para istri akan mencurigainya sementara para suami sembunyi-sembunyi mengganggunya. Bila memutuskan berpacaran, orang-orang akan menuduhnya gatal. Bila berniat menikah lagi, tak sedikit yang menudingnya tega menelantarkan anak-anaknya dan melupakan suaminya. Suami yang telah tahunan terkubur di perut bumi dan tak mungkin bangkit lagi.”-Hal.199


Miris ya? Mereka itu kan juga manusia, butuh kebutuhan batin maupun fisik seperti halnya yang masih memiliki pasangan. Mereka butuh tempat bercerita, berkeluh kesah, bersandar, menangis dan banyak hal lainnya yang tidak bisa sembarangan dipinta kepada orang lain.

Secara garis besar, saya suka ide buku ini hanya saja alurnya.. cukup.. lambat, dan sedikit memusingkan karena maju mundur maju mundur, tapi dalam kapasitas mengenang. Saya baru menemukan ketegangan ketika masuk di Bab Merapi mulai meletus, akhir tahun 2011. Bab 32 dari total 55 bab. Osken yang memutuskan berkunjung ke Jogja mulai mengenal orang tua dan anak anak Laras, dan sedikit demi sedikit pertentangan mulai terjadi. Nah sebelum bab itu, rasanya percintaan mereka biasa-biasa aja. Iya sih, memang ada kekhawatiran Laras yang sudah sejak jauh hari dimunculkan, tapi tetep gregetnya kurang. :D

Lalu konflik kemanusiaan yang bertebaran di buku ini. Tak hanya di Bangkok, yang manjadi sebagian besar latar cerita, tapi di Jogja saat terjadi erupsi Merapi juga dikisahkan sedikit tentang korban-korban benacana alam ini. Lalu Osken yang juga sering mengurusi misi kemanusiaan membuka pengetahuan saya akan negara-negara dunia ketiga lainnya yang kondisi rakyatnya masih memprihatinkan, terutama wanita dan anak-anak.

Untuk tokoh yang saya suka dari cerita ini? Saya suka Osken daripada Laras. Hihi, mungkin karena Laras lebih sering galau ya daripada Osken (ya iyakali, Laras kan cewek, lebih sensitif. :D). Osken adalah tipe lelaki yang pantang menyerah, ketika ia sayang dengan seorang wanita ia benar-benar memberikan semuanya untuk wanita itu (dalam hal ini Laras, tentu saja), waktu, perhatian, kasih sayang, anything. Osken juga tipe lelaki langka (saya harus mengakui ini saudara-saudara), Ia tipe lelaki yang sangat menghormati wanita, semua wanita. Suatu sikap yang saya rasa makin sulit kita temukan saat ini, karena banyak laki-laki yang tidak menghargai wanita sebagai manusia.

Singkat kata, semua yang ada di buku ini cukup untuk membuat saya memberikan tiga bintang bagi buku ini. :)

Satu quote yang saya suka di buku ini :

Ini hidupku, aku punya hak untuk bahagia dengan caraku.


Sedikit tentang Penulis :

Latar belakang Endah Raharjo adalah arsitek dan pernah belajar mengenai Urban Studies and Planning. Studinya diselesaikan pada tahun 1987. Tapi selama ini ia tidak pernah serius berkarya sebagai artistek. Semua proyek yang ia kerjakan sejak tahun 1988, berhubungan dengan kepenulisan.
Anda bisa membaca proses penulisan buku ini di kompasiana

Atau Anda juga bisa menikmati tulisan tulisan Endah lainnya di endah raharjo Blogspot

Silakan berkunjung :)
Profile Image for Boen Mada.
8 reviews1 follower
April 8, 2013
wah betul-betul seorang arsitek yang pandai menulis novel. keren, mb endah!
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.