Jump to ratings and reviews
Rate this book

Zaman Edan

Rate this book
Poems reflecting the moral in Surakarta in late 19th century.

176 pages, Paperback

First published January 1, 1998

9 people are currently reading
128 people want to read

About the author

R.Ng. Ranggawarsita

7 books9 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (32%)
4 stars
16 (21%)
3 stars
24 (32%)
2 stars
6 (8%)
1 star
3 (4%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Probo Darono Yakti.
84 reviews5 followers
May 17, 2018
Ronggowarsito merupakan filsuf kenamaan Jawa. Ia adalah seorang keturunan berdarah biru, tepatnya Pakubuwono IV dari Surakarta. Sebenarnya Ronggowarsito (III) ini adalah gelar yang diberikan mula-mula pada kakeknya (I), kemudian ayahnya (II) yang merupakan cucu Yasadipura II dari Demak. Nama aslinya ialah Bagus Burham, seorang yang dikenal cerdas dalam memahami ilmu kebatinan dan penghobi sastra sejak kecil.

Bagus dididik di lingkungan Kraton Surakarta sebagai kerabat dalem dari Susuhunan yang berkuasa pada masa itu. Ia sendiri diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya. Melalui Tanujaya inilah Burham mendapatkan inspirasi tentang cerita-cerita mitos ala Jawa yang sejak dulu diturunkan turun temurun. Sebagaimana Tanujaya sendiri ini adalah seorang yang menguasai ilmu yang membuatnya mampu melihat makhluk halus. Suatu hari kakeknya yang merupakan pujangga Kraton hendak mendapuk Bagus Burham menjadi penggantinya, sehingga tercetus ide untuk menyekolahkan di pesantren Tegalsari milik Kiai Kasan Besari.

Kiai Kasan Besari ini sendiri tidak jauh dari pengaruh Kraton Surakarta, karena dirinya merupakan menantu dari Pakubuwono IV. Setelah menjalani pendidikan, Burham justru bertransformasi menjadi seorang yang nakal. Sebagaimana ia lebih memilih untuk meninggalkan kelas. Singkat cerita ia kemudian tidak betah dan memutuskan untuk meninggalkan Tegalsari bersama Tanujaya yang ikut dibawanya serta. Setelah mengalami pergolakan hingga dicari oleh Kiai Kasan Besari yang sempat salah paham karena memarahi salah satu santrinya tersebut, Bagus Burham kembali dan menyadari pentingnya menyelesaikan pendidikannya.

Setelah menempuh proses yang panjang, ia kembali dengan ilmu yang mumpuni dan didapuk menjadi wakil dari Kiai Kasan Besari untuk menyebarkan ilmunya di Kraton Surakarta. Ia kemudian menikah dengan Putri Bupati Kadiri yang sempat dijumpainya di Madiun. Setelah itu, ia diangkat menjadi Carik Kadipaten Anom dan resmi menjadi pujangga kerajaan menggantikan kakeknya Ronggowarsito I yang telah berpulang.

Setelah mengalami sejumlah suksesi, Kraton Surakarta kemudian menghambat karya-karya Ronggowarsito. Bertahun-tahun pengalamannya menjadi pujangga, ia masih dalam posisi Carik. Tidak kunjung diangkat menjadi seorang Tumenggung. Hal ini merupakan suatu kewajaran, karena karya-karnya dianggap mengkritik pedas apa yang selama ini dijalankan oleh Sunan yang berkuasa. Ia sendiri lebih sering turun ke masyarakat untuk turut merasakan penderitaan apa yang dialami oleh masyarakat yang hidupnya semakin melarat. Di samping Kraton Surakarta yang terus saja intens berhubungan baik dengan Pemerintahan Hindia Belanda.

Di penghujung hidupnya, Ronggowarsito menjadi seorang yang mampu memprediksi masa depan. Terkhusus hari kematiannya. Di setiap tahapan ia mencatat apa yang akan terjadi menjadi pertanda kurang berapa tahun, bulan, minggu, atau hari. Prediksi itu ternyata terbukti. Sabdajati tulisannya, tepat meramalkan 24 Desember 1873 sebagai hari kematiannya. Meskipun misterius penyebab kematiannya, Ronggowarsito menampakkan suatu hal yang tidak mungkin ada di nalar manusia modern saat ini. Bahkan dapat dikatakan tulisannya mengenai Zaman Edan saat ini bisa dibuktikan di era kini:

image: Ronggowarsito
Profile Image for Dharwiyanti.
49 reviews49 followers
March 6, 2009
males ripyu euuy...
kenapa tertarik? krn rumah keluarga di Solo ada di Jl.Ronggowarsito.. hahah..
Profile Image for Primadi Muhammad.
72 reviews
December 3, 2025
7/10 ★★★

(secara spesifik ini adalah review "Zaman Edan" diterjemahkan oleh Ahmad Norma, diterbitkan oleh Narasi pada 2017)

Berisi lima puisi Ronggowarsito; Kalatidha, Sabda Jati, Sabdatama, Jaka Lodhang, dan Wedharaga; dan biografi singkat penulis puisi-yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dengan beberapa bait masih mempertahankan estetika penulis asli, dan bait lain berusaha memberikan konteks isi puisi.

Review puisi Ronggowarsito sendiri dalam bahasa jawanya, saya tidak mampu memahami bahasa Jawa kawi kuno Surakarta yang, menurut saya, ada keserupaan dengan bahasa Jawa ngapak kontemporer.

Mengenai isi saya bergantung pada terjemahan Ahmad Norma dan referensi lain melalui internet, serta sedikit kemampuan bahasa Jawa kawi saya yang amburadul; hasilnya nilai-nilai adat budaya Jawa dan Islam seperti rendah hati, sopan santun, dan prihatin kental melekat pada tiap puisi (atau Serat sebagian sejarawan menyebut).

Saya teringat dengan Letters to Young Poet-nya Rilke pada Wedharaga (Pedoman Diri) yang membahas mengenai ambisi pemuda bergejolak seakan mampu menaklukkan dunia seorang diri, namun di sisi lain sebenarnya gelisah dengan apa yang akan dilakukannya di masa depan.

Aku bertanya kepadamu
cah bagus berapa usiamu
dijawab sudah tiga puluh tahun
si tua tersenyum sambil berkata
pantas belum bisa menerima

Ususmu masih terlalu kecil
ibarat sebesar batang padi
kalau sudah setengah abad lebih
sudah besar dan panjang ususmu nanti
segala kepandaian akan terwadahi

Mustahil jika kau lupa
tersebut dalam kitab Niti Sastra
ada perumpamaan yang berbunyi
seperti tempayan kurang isi
selalu bergoncang bila disandang
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.