Lahir di Batusangkar, Sumatera Barat, 10 Februari 1975. Karya pertamanya, sebuah puisi, dimuat di majalah anak Ananda saat kelas 6 SD. Sejak 1989, menulis di Singgalang, Haluan, Semangat, Canang, Republika, Riau Pos, Anita Cemerlang, Hai dan Gadis. Sejak SMA juga menulis untuk Inthilaq, Ishlah, Sakinah, Permata, Tabloid Fikri, Sabili, Annida, dan Ummi. Terpilih menjadi salah satu Penulis Terbaik versi Annida pada 1998. Cerita pendeknya “Datuk Rajo Malano” masuk dalam Cerpen Terbaik 10 Tahun Annida Berkarya dan diterbitkan dalam buku “Merajut Cahaya” (2001). Cerpennya “Dijemput Malam” terpilih menjadi salah satu karya terbaik dalam Lomba Cipta Cerpen Festival Kreativitas Pemuda 2003 dan dibukukan dalam buku “Yang Dibalut Lumut” (2003).
Buku-bukunya yang sudah terbit: Peace Maker F-3000 (2001); Konspirasi (2001); Anugerah Terindah (2002); Prasasti (2004); Lonely Joe (2004); Rendezvous (2007), dan ? (2011).
Pernah bekerja sebagai redaktur Annida (2001-2003), editor Penerbit Mizan (2003-2007), managing editor Penerbit Grafindo (2007-2009), Communication Specialist Dompet Dhuafa Republika (2009-2011), dan Indonesian Editor di situs video streaming Viki.com (2011-2013). Telah menyunting setidaknya 300-an naskah buku yang diterbitkan berbagai penerbit mayor di Indonesia seperti Penerbit Mizan, Penerbit Dastan, Penerbit Grafindo, Penerbit Grasindo, dan beberapa penerbit lainnya.
Sejak 2007 sampai sekarang menulis naskah skenario untuk program televisi seperti The Coffee Bean Show (Trans TV), Camera Cafe (Metro TV), Lajang (ANTV), Abdel-Temon (TPI), Stasiun Cinta (TransTV), Kontrakan Tiga Pintu (TransTV), Aku Terima Nikahnya (NET-TV) dan Tukang Ojek Pengkolan (RCTI). Satu naskah skenario film panjangnya dalam tahap pra-produksi dan akan dirilis tahun 2020.
Buku ini ini bagus banget. Drama keluarga Syamsul dan Halimah, yang terpecah karena Syamsul menikah lagi. Setelah sekian tahun berlalu, Syamsul jatuh sakit karena menyesali perbuatannya, lalu meminta Halimah menjenguknya.
Yang membuat buku ini sangat menarik bagi saya adalah plot paralel yang dijalin dengan sangat apik. Plot masa lalu menuturkan sejarah perpecahan keluarga ini, sedangkan pada masa kini menguraikan pergulatan batin Halimah antara menjenguk suaminya atau tidak.
Plot masa lalu bukan berupa flashback yang menjadi bagian plot masa kini, dan sebaliknya plot masa kini bukan bingkai untuk plot masa lalu. Keduanya merupakan plot utuh yang berdiri sendiri. Namun, dalam kemandiriannya, kedua plot ini dijalin dengan begitu piawai, sehingga terjadi efek saling menguatkan di antara keduanya, yang membangun suspense dan tanda tanya.
Saat membaca kejadian masa kini, saya bertanya-tanya apa yang terjadi di masa lalu, sehingga keadaan keluarga Halimah menjadi seperti ini. Pertanyaan itu pun diungkap jawabannya sedikit demi sedikit melalui plot paralelnya, menggoda saya untuk membaca lebih jauh. Demikian pula, dengan semakin memahami peristiwa apa saja yang harus dihadapi Halimah di masa lalu, saya pun diajak menebak-nebak apa yang akan dilakukan Halimah di masa kini.
Satu hal lagi yang menjadi keunggulan buku ini adalah setting Minang-nya yang kuat. Uraian tentang adat Minang diselipkan ke dalam cerita dengan halus sehingga saya tidak bosan membacanya, malah senang bisa mengenal budaya tersebut lewat novel ini.
Sungguh layak buku ini masuk nominasi lima besar novel dewasa untuk menerima Penghargaan Pena dari FLP.