Derai Sunyi menampilkan diri sebagai novel yang sarat dengan beban pesan tentang perlakuan majikan kepada seorang pembantu. Asma Nadia telah menggarap persoalan ini dengan cukup baik. Ada kematangan emosi pengarang dalam mengendalikan dendam. Tak ada tuturan atau ragaan tentang bagaimana luapan amarah. Pengarang hanya mengungkapkan keterguncangan. (Abd. Rozak Zaidan dalam Pengantar)
Kehadiran Asma sangat fenomenal dan akan memperkuat kehadiran novel-novel dakwah yang eksistensinya sangat nyata. Kita harus memberi ruang ekspresi pada karya-karyanya. (Ahmad Tohari)
Asma Nadia yang saya kenal adalah wanita manis dengan sejuta pesona intelektual dan energi. Cerita terakhir yang dibuatnya ini penuh dengan nilai-nilai Islam yang memang dibutuhkan. Kita memiliki Ayu Utami dan Dewi Lestari dengan karya mereka, maka akan semakin lengkap rasanya dengan kehadiran Asma Nadia. (Marrisa Haque Fawzi)
Asma Nadia yang saya kenal di bengkel sastra, telah berhasil merangkum dan menyatukan cinta, ketakutan, dan kengerian dalam novel ini. Saya percaya, pada saat yang akan datang dia akan setia pada sastra serius karena dia dekat dengan-Nya, sebagaimana dia serius dalam berdoa kepada-Nya. (Titis Basino P.I)
Kepandaian Asma yang lain adalah cara dia menahan arus cerita. (Taufik Ikram Jamil)
Asma Nadia Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991) Home FAX: +622177820859 email: asma.nadia@gmail.com
Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008)
Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009)
Writing Workshop: - Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011 - Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011 - Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia. - Giving a creative writing workshop for Indonesian’s students in Tokyo, Fukuoka, Nagoya, Kyoto (November 2009). - Giving writing workshop in Manchester; Indonesia Permanent Mission in Geneve; Indonesian Embassy in Rome, and for Indonesian students in Berlin (2009) - Held a writing workshop with Caroline Phillips, a Germany writer, in World Book Day 2008
Performance: - Performing two poems for educational dvd (Indonesian Language Center) 2011. - Public reading: (poem) in welcoming Palestine’s writers in Seoul, 2006; - Public reading short story in Geneve 2009, Performing monologue in Mizan Publishing Anniversary 2008, Ode Kampung Gathering in Rumah Dunia, etc.
Awards and honors: 1. Istana Kedua (The Second Palace), the best Islamic Indonesia novel, 2008 2. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005. 3. PREH (A Waiting), play writing published by The Jakarta Art Council, honored as the best script in Indonesian’s Women Playwrights 2005 4. Mizan Award for the best fiction writer in 20 Years Mizan (one of Indonesian’s biggest publishers) 5. Asma Nadia profile was put as one of the 100 distinguished women publishers, writers and researchers in Indonesia, compiled by well-known literary critic Korrie Layun Rampan, 2001. 7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mother’s Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001 9. Dialog Dua Layar (Two Screen’s Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002 10. 101 Dating, a novel, won the Adikarya IKAPI Award, 2005 11. The most influential writer 2010, awarded by Republika News Paper 14. BISA Award for helping Indonesia Migrants Workers who wants to be writers (held by Be Indonesia Smart and Active Hongkong) 15. Super Woman MAG Award 2010 16. One of ten most mompreneurship 2010, by Parents Guide Magazine
Summary of translations of work into other languages: 1. Abang Apa Salahku (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 2. Di dunia ada surga (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 3. Anggun (published by PTS Millennia SDN.BHD 2010) 4. Cinta di hujung sejadah (published by PTS Millennia SDN.BHD 2011) 5. Ammanige Haj Bayake (Emak Longs to Take The hajj), NAVAKARNATAKA PUBLICATIONS PVT. LTD, 2010 (in south indian language/Kannada)
I like this book. I think mba Asma got an award for this one as well. Sadly the story is still relevant today. About housemaid abuse that still happens today and now i think it is even worse because Indonesian women works as domestic help abroad as well so now they face abuse both at home and abroad.
I do feel though that the second storyline could be developed more. Feels like we're given all this background info about the young police officer and is left hanging. So, is he interested in the sister? Could've been tied up better I think.
Definitely a must read for anyone interested in women's causes.
Namanya Sri, Sri Ayuni. Kembang desa, bungsu dari tiga bersaudara. Ayah dan kakak laki-lakinya meninggal dunia tertabrak kereta. Kakak perempuannyalah yang kemudian mengambil alih tugas mencari nafkah dengan membuka warung nasi. Sri kemudian pergi ke Jakarta untuk menjadi pembantu, untuk mewujudkan cita-citanya memberangkatkan ibunya pergi haji. Ia diterima bekerja di sebuah rumah besar, dimana pemilik rumahnya adalah nyonya cantik berwajah sabar. Apakah Sri bahagia di Jakarta ? Ternyata tidak. Sri berulangkali disiksa oleh nyonya cantik itu dan juga anak perempuannya hanya karena kesalahan kecil. Sampai akhirnya Sri meninggal dunia.
Sementara itu di kampung, ibunda Sri selalu cemas setiap hari memikirkan anaknya yang tidak kunjung memberikan kabar. Sampai iapun akhirnya meninggal dunia. Sepeninggal ibunya, kakak perempuan Sri mendapatkan kabar dari bekas pembantu yang bekerja di rumah itu. Sehingga iapun memutuskan untuk pergi ke Jakarta, mencari tahu penyebab kematian adiknya dan juga untuk membalaskan dendam kepada pelakunya. Berhasilkah ia ?
Bagian tengah buku ini, adalah kisah flashback tentang Iman Arif, seorang komisaris polisi yang mengusut kematian Sri. Iman Arif kecil selalu diejek oleh teman2nya karena tidak memiliki ayah. Saat ia tahu hal itu, Iman langsung kabur dari rumah, dan menyebabkan ibunya meninggal dunia. Setelah itu, Iman baru tahu kalau orang yang selama ini dianggap ibunya ternyata hanya ibu angkatnya. Seorang wanita yang hidup sendirian, yang rela merawat Iman, yang telah dibuang oleh orangtuanya sejak bayi.
Cerita yang cukup menyentuh. Tetapi saya cukup terganggu dengan flashback mengenai Iman Arif, yang menurut saya andaipun tidak ada juga tidak akan mengganggu keseluruhan cerita. Karena kemunculannya dalam pengusutan kematian Sri juga tidak banyak.
aku pinjem dari seorang teman. ceritanya tentang seorang pembantu yang disiksa majikannya sampae meninggal. dan kakak dari pembantu tersebut balas dendam dengan cara menakut-nakuti seisi rumah dan berpura-pura menjadi hantu si pembantu. novel ini menngambarkan wajah para pembantu kita yang kerap disiksa oleh majikannya. entah itu di luar negeri atau di dalam negeri sendiri. dan itu nyata terjadi. pesan dari novel ini : lawan penindasan dan ketidakadilan..!!!
satu kata yang bisa saya sampaikan tentang buku ini "mengharukan". saya sangat tersentuh banget ama buku ini n ini adalah satu-satunya buku yang bikin saya menangis dari bab awal sampai akhir dan tetap membuat saya betah untuk membacanya sampai habis....sukses besar buat asma nadia untuk derai sunyi nya....
Ini adalah satu novel Indonesia yang pertama saya baca saat masih SMP. Ceritanya membekas, tragis, emosional, menyentuh, dan juga (sedikit) mistis.
Dalam setting domestik, konteks sosial yang disajikan meliputi masalah urbanisasi, lapangan pekerjaan, hubungan saudara, hingga kekerasan. Cerita yang dipaparkan menyadarkan bahwa persoalan di ranah domestik dapat menjadi lebih pelik dari konflik publik dan konsekuensinya bisa lebih besar karena minimnya pengawasan terhadap permasalahan dalam sebuah rumah.
Cerita ini dieksekusi dengan baik, sebagaimana karya Asma Nadia yang lain. Dengan napas Islami, novel ini layak dibaca oleh siswa SMA sampai mereka yang lebih dewasa dari segi usia maupun bacaan.
Cerita tentang seorang gadis yang menjadi korban kekerasan terhadap PRT. Sedih, tapi cerita khas mbak Asma Nadia memang tetap bisa mengajak saya terus menyimak.