Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa kecuali saputan mendung di wajahnya.
Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan, kau akan melihat kedua tangannya terkepal dan rahangnya mengeras karena amarah.
Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang yang disayang, dia masih bertahan dalam bisunya tapi air matanya tak sanggup ditahannya lagi.
Tetapi... coba tanyakan padanya, mengapa sudi dipecundangi cinta. Yakinlah, laki-laki itu pasti tertawa. Menertawakan pertanyaanmu yang dianggapnya bodoh, lalu berkata, “Kalau kau pernah mengecap cinta, kau tak akan pernah bertanya.”
Yah mungkin sudah terlalu banyak drama roman yang saya konsumsi sepanjang hidup dari yang picisan sampai tragedi. Membuat saya merasa tidak ada yang spesial dari buku ini. Bahkan tidak memerlukan waktu 24 jam. Awalnya, tertarik membaca karena judulnya, dengan harapan menemukan deskripsi bagaimana ketika pria patah hati karena wanita yang sangat dikasihinya. Sayangnya, deskripsi semacam itu tidak ada. Ya atau mungkin kenyataannya lelaki juga tidak akan pernah menunjukkan emosinya. Entahlah.
Buku ini juga masih terasa 'perempuan' toh penulisnya juga perempuan. Beberapa bagian terasa flashback tapi banyak bagian seperti fast forward seolah tergesa supaya semua tokoh mendapat porsi sama rata, jadinya malah kurang mendetail malah dalam cerita ada dialog yang diulang-ulang.
Ya tapi siapapun sekali dalam sesaat butuh bacaan ringan, bukan?
P.S. Oh ayolah cerita Perus dan Erdas akan jauuuuuuuhhhh lebih menarik untuk dibuatkan cerita sendiri. :p
perbedaan gender kadang menjadikan wanita merasa bahwa dirinya lebih pantas dibela saat kisah romansa dimulai. Tapi ternyata Laki-laki juga berhak akan itu..
Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa,kecuali saputangan di wajahnya.
Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan, kau akan melihat kedua tangannya terkepal dan rahangnya mengeras karena amarah.
Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang yang disayangi, dia masih bertahan dalam bisunya.
Tetapi coba tanyakan padanya, mengapa sudi dipecundangi cinta. Yakinlah laki-laki itu pasti akan tertawa. Mentertawakan pertanyaanmu yang dianggap bodoh, lalu berkata
"Kalau kau pernah mengecap cinta, kau tak akan pernah bertanya."
Buku ini menggambarkan bagaimana laki-laki berduka atas perpisahan, pengkhianatan, dan kehilangan. Sayang sekali penyampaiannya tidak membuat saya bersimpati.
"Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa, kecuali saputan mendung di wajahnya. Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan, kau akan melihat kedua tangannya terkepal dan rahangnya mengeras karena amarah. Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang yang disayang, dia masih bertahan dalam bisunya tapi air matanya tak sanggup ditahannya lagi. Tetapi... coba tanyakan padanya, mengapa sudi dipecundangi cinta. Yakinlah, laki-laki itu pasti tertawa. Menertawakan pertanyaanmu yang dianggapnya bodoh, lalu berkata, "Kalau pernah mengecap cinta, kau tak akan pernah bertanya.""
Kalimat-kalimat pada sampul belakang buku inilah yang menyihir saya untuk mulai membuka halaman demi halaman "When a Man Lost a Woman" karya Ita Sembiring. Berlatarkan negeri kincir angin, buku ini mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh (lelaki) yang dipecundangi cinta. Perus, tokoh utamanya, ditinggal pergi istri yang main gila dengan pria lain. Berbagai petualangannya bersama wanita lain gagal atau tidak jelas. Malah jatuh hati dengan sepupu sendiri. Boris ditinggal cerai istrinya yang juga ada affair dgn pria lebih muda, sedangkan sahabatnya, Jan Peter, ditipu habis-habisan oleh perempuan Bali yang selama ini dipercayanya. Secara keseluruhan, saya menikmati membaca buku ini. Mungkin sebagian besar karena pilihan katanya yang membuat saya nyaman berlama-lama membaca. Untuk cerita, sebenarnya ekspektasi saya membaca cerita-cerita yang menguras emosi dan menjadikan galau, tapi sampai akhir buku ternyata tidak terjadi. Cinta yang digambarkan di buku ini kurang menyentuh. Saya rasa karena semua tokohnya adalah tipikal orang barat (sekalipun beberapa di antaranya diceritakan berdarah Indonesia) yang bebas, sehingga sulit bagi saya memahami ‘cinta’ yang mereka rasakan. Apakah memang cinta sejati?
But then, this book is really worth your attention. A thumb up for Ita Sembiring!
Dari judul pasti sudah tertebak apa isi buku ini. Yup, kisah para lelaki yang jadi korban wanita. Saat semua heboh dengan pelecehan atau pengkhianatan terhadap perempuan, Ita Sembiring menyajikan kepedihan itu dengan korban para lelaki. Perus, Jan Peter dan Boris, mereka tokoh utama dari banyak tokoh-tokoh wanita yang "berkeliaran".
Jan Peter menjadi korban penipuan Rasti, wanita yang menjadi istri simpanan sekaligus orang kepercayaan mengelola usahanya di Indonesia. Boris, suami yang harus berusaha menahan diri melihat istrinya selingkuh demi putranya, Jim. Perus, pria dengan banyak wanita dihidupnya, silih berganti mencari pasangan yang dapat menerima dirinya sekaligus anak-anaknya.
Penulis berketurunan Medan ini menceritakan kisah-kisah sedih dengan mengambil sisi perempuan sebagai pengkhianat, tukang selingkuh dan matre. Kehidupan, percintaan dan pergaulan bebas dengan setting tempat di Belanda disuguhkan dengan ringan, bahkan saat konflik meruncing, cerita terasa biasa saja.
Sedikit masukan, buku ini perlu untuk diberi label dewasa.
Ternyata begitu toh kalo laki-laki berduka terhadap perpisahan, pengkhianatan dan kehilangan cinta wanita... Kisah Perus yang bercerai dengan istrinya, Boris yang diperdaya Purjil dan Jan Peter yang diperalat Rasti yang kebetulan senasip dalam hal wanita, mana para wanita disini ternyata saling terkait lagi, terutama Purjil dan Aguisa....( Jadi ingat film Love...tokohnya saling terhubung satu sama lain dengan kisah hidup yang berbeda ).
Sedikit tersenyum waktu, para lelaki ini berkeinginan untuk belibur disuatu tempat yang tidak ada wanitanya? Tahan gak siy mereka? hehehe...
Tapi hebatnya seorang Ita Sembiring bisa meng-explore perasaan para lelaki ini, yang notabene Ita seorang perempuan...
Cerita yang Not bad, dikala menunggu seorang lelaki yang ngajak nonton tapi molor...*halah...cape deee*
Settingnya bagus negeri Belanda yang serba bebas itu. Walaupun ga kebayang tempat2nya, tapi latar belakang budayanya bikin kita tercengang-cengang.
Dan di buku ini, membuktikan lg kalo dunia itu kecil dan dunia pertemanan itu dunia lingkaran setan. Alias ketemunya itu-itu lagi..
Serunya lg di akhir cerita, ada beberapa missing link yang terungkap...Dan seperti biasa, alurnya ngacak aja, kadang ke masa kini, ke masa lalu, dibikin bingung tapi keren sih..
Entahlah kenapa saya ga suka ya baca buku ini. Udah lama punya, tapi baru dibaca.
Saya merasa tokohnya kok byk banget yang diceritain, ga sentral gitu. Gaya penceritaan berpindah-pindah sih sebenernya saya ga masalah, tapi kok saya merasa buku ini di tulis oleh wanita tapi malah agak banyak menyudutkan wanita ya?
Apa ini karena settingnya di Belanda, negara bebas gitu? Jadi bebas segala-galanya? sorry to say, saya kurang suka buku ini dan hampir sebagian dibaca dengan skip reading :D
buku ini dikasih ama dian buat suami, dulu, when he lost a woman.. secara cerita sih agak membingungkan... kalo tujuannya menyadari when a man lost a woman, everything will be okay and the sun still shining, saya sih ga dapet motivasinya, hehehee.. tapi kalo tujuannya menikmati cerita sih kita cukup asik, ending yang ga ker=tebak :)
Pertama liat judul dan cover novel ini saya pikir ceritanya akan terasa menghanyutkan, tapi emang bener kata orang, jangan menilai buku dari sampulnya, ceritanya tidak sekuat dan sehebat judul dan covernya, agak membosankan, tapi bolehlah buat selingan.
Novel yang satu ini emang novel lama. Saya memang lebih suka novel lama;p. Dan saya juga gak sengaja nemu novel ini di perpus sekolah hihihi. Ceritanya keren, gak ketebak, ending nya saya suka. Pokonya keren deh!
sampul, judul, review, bagus. isinya? mengecewakan. meskipun bisa dibilang agak beda, tetep aja mengecewakan. berlebihan. terkesan jelek-jelekin perempuan.