Apakah pahlawan (seperti halnya pemimpin) itu dilahirkan atau diciptakan oleh kondisi yang ada di sekitarnya. Itulah yang menjadi bagian substansi tulisan yang dibuat seorang pemikir muda Islam dan juga kebetulan aktivis utama sebuah partai ini.
Muhammad Anis Matta adalah salah satu politikus Indonesia dari Partai Keadilan Sejahtera. Ia meraih gelar S1 di bidang Syariah Islam dari LIPIA pada tahun 1992. Pada tahun 2001, ia mengikuti pendidikan dari Lemhannas. Aktif sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera selama empat periode berturut-turut dari 1998-2013 dan juga Ketua Majelis Hikmah PP Muhammadiyah. Sejak 1 Februari 2013 hingga saat ini menjabat sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera.
Seperti yang ditulis dalam buku, kalau Pahlawan itu:
Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kamu, dan kita semua. Mereka bukan orang lain.
Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.
Tulisan-tulisan singkat Anis Matta yang sempat dipublikasikan di MAjalah Tarbawi ini menarik untuk dibaca. Simpel, tapi mengena. Anis Matta mengungkapkan banyak hal prinsip yang dipenuhi untuk menjadi pahlawan sesungguhnya. Luar biasa!
Brilliant, brilliant, brilliant. Penerbitan dan konten buku di saat yang tepat, saat bangsa ini membutuhkan tak sekedar inspirasi, tapi semangat musti dibangkitkan kembali.
Malu, malu, malu. Bahwa, ditunjukkan contoh-contoh kepahlawanan dari zaman sahabat di Arab sana sampai kisah yang masih hangat di bumi nusantara. Pahlawan tidak dilahirkan setiap masa. Hanya tertentu, tapi kita bisa memilih. Memilih diri kita untuk kemudian dijadikan pahlawan. Buku ini meracuni kita bahwa kesenangan dan kebahagiaan menjadi pemain jauh lebih besar daripada hanya sebagai penonton.
During high school days, this book has been become a "compulsory" literatute for those who started their "career" in the circle of tarbiyah movement's liqo. . I should admit that the Anis Matta's "motivational" words were flowing out smoothly in rhymes with justful life examples and quotes mostly from Rasulullah (May Peace be Upon Him) and Khulafaurrasyidin. . But since I have met the author in person and so many friends who were taught by this kind of book. Then I should learnt on putting myself in the periphery. For not involving too much in the praxis discourses within this books usage.
Sekarang-sekarang agak susah kalo mau nyari buku ini di toko buku, karena udah ga dicetak ulang katanya. Alhamdulillah ini juga pas banget pas nanya ke bang Irfan, pas ada.
Secara keseluruhan, saya suka buku ini. Banget. Dan menurut saya recommended buat semua orang yang rindu sosok pahlawan *tsaah*. Terdiri dari 76 chapter (kalo bisa dibilang chapter hehe), buku ini bisa kita nikmati secara berurutan (awal ke akhir) atau ngacak sesuka hati. Saya pribadi niatnya ga akan baca buku ini dalam waktu dekat. Tapi ga sengaja ngintip chapter 52 dan terjadilah semuanya. Hehe. Maksudnya, kalo kita baca dari awal-akhir, kita bisa ngerasain alurnya. Kalau baca tiap judul dengan acak, tetep enak juga. Soalnya sebenernya ini kan aslinya kumpulan artikel di majalah tarbawi :)
Khas banget tulisan Pak Anis Matta, ada sejarahnya, puitis (suka ada puisi2 gt), pilihan katanya ga ngerti lagi (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩ƪ) Kadang di satu chapter muter2 dulu awalnya, tp kalimat akhirnya lsg menjelaskan maksud (sy ngomong apa sih ini, hadeuh, pokonya gitu lah ya. Ada pesan dari setiap chapter) Kadang juga bikin saya mengernyit, teu ngarti sodara2 saking puitisnya hehe. Ohya, ini buku ke2 yang saya baca yg ada kata "sublim"nya tapi bukan dalam konteks fisika. Hehe. Kadang bikin penasaran buat searching-searching nama tokoh yang disebut disini, membangkitkan rasa pengen tahu lebih banyak. Sangat direkomendasikanlah buat semua orang kata saya mah (‾⌣‾)♉
***
Banyak yang buku ini bahas. Misalnya triad keduniawian (wanita, tahta, harta) dengan perspektif yang berbeda. Tapi kali ini saya mau ngutip 1 aja deh. :)
"Para pahlawan mukmin sejati bukanlah pemimpi di siang bolong, atau orang-orang yang berdoa dalam kekosongan dan ketidakberdayaan. Mereka adalah petani yang berdoa di tengah sawah, para pedagang yang berdoa di tengah pasar, para petarung yang berdoa di tengah kecamuk perang. Mereka mempunyai mimpi besar, tetapi pikiran mereka tercurahkan sepenuhnya pada kerja. Sekali-kali mereka menatap langit untuk menyegarkan ingatan pada misi mereka. Namun, setelah itu mereka menyeka keringat dan bekerja kembali" p36
Ketika pertama kali mengambil buku ini dari rak buku seorang teman, hanya terbesit dalam pikiran saya, "mengapa tidak mencoba lagi membaca tulisan-tulisannya Anis Matta?" Sebelum ini, saya hanya pernah membaca satu bukunya, Serial Cinta. Jika bahkan dalam Serial Cinta saja, Anis Matta menjabarkan cinta dalam karakter kuat, berdaya hidup, lembut serta menguatkan, dan bukannya lenyeh-lenyeh melemahkan. Maka dalam serial kepahlawanan ini, Anis Matta kembali menguatkan karakter-karakter tersebut yang senantiasa terhimpun dalam diri pahlawan-pahlawan.
Saya akan menyimpulkan topik besar kumpulan tulisan-tulisan ini sebagai, ruh dan jiwa dalam pribadi pahlawan; karakter-karakter yang senantiasa terhimpun dalam diri mereka; para sahabat pahlawan; orang yang berada di balik layar para pahlawan; serta faktor-faktor dunia yang bisa jadi menjadikan atau meruntuhkan nilai kepahlawanan.
Jika anda menantikan kedatangan pahlawan Indonesia muncul, maka izinkan saya mengutip dua paragraf terakhir di buku ini, "Mereka tidak pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah."
Luar biasa, dan selalu luar biasa rasanya ketika membaca karya tokoh-tokoh yang luar biasa. Buku ini mengajakku untuk memahami kosa kata-kosa kata baru kehidupan, tepat ketika aku mencoba mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sedang dan akan aku hadapi di dunia ini.
Untaian kata-kata yang indah memang "mempan" bagi sebagian orang, tapi ada kalanya pemilihan kata yang indah justru tidak mampu merasuki sebagian orang yang lain. Ironisnya, kebanyakan dari sebagian orang yang lain itu adalah pemuda, sasaran tepat buku ini.
Mungkin itu bukan masalah, karena toh pemuda yang memilih untuk membaca buku ini adalah pemuda yang memiliki ketertarikan tersendiri pada hal-hal yang dibahas dalam buku ini. Tidak apa-apa. Hikmah dapat ditemukan oleh orang-orang yang mencarinya, dan setiap orang akan mendapatkan hikmah sesuai kebutuhannya.
I've guest this book is one of the most inspiring me to be get and be better than before.
as you know, before I read this book, I'm not willing to be a leader in any field (at those case was at BEM) but after I read this books....
a Hero minded suddenly pops in my mind.... Why should I quite? if My hand can do something.... its a responsibility... What would I answer in AKheerat if ALlah ask me, Why was I quiet, just sit and see while the destructor of this religion still rely in my environment, while my environment still needs me?
and then this books which woke me up... from silence to any sound I can make.... from fear, to dare.....
"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan" - Al Ahzab : 22
Terlepas dari atribut organisasi politik lainnya, saya menilai sang penulis seperti layaknya seorang penulis. Saya bisa kasih buku ini 6 bintang :). Anis mengajak kita untuk melihat ke dalam diri kita sendiri.
Kita tidak sedang menunggu datangnya seorang super yang akan menyelamatkan umat muslim. Kita tidak sedang menunggu seorang pahlawan. The hero is already here. Karena itu bisa jadi saya, anda, atau kita semua disini. (aamiin)
krisis yang melanda Indonesia saat ini belum juga melahirkan pahlawan yang diidam-idamkan sebagaimana yang tertulis di buku ini... adanya orang yang dianggap pahlawan saat ini ternyata, seorang megalomania yang berbalutkan citra dan hanya tampak unggul karena dipoles sedemikian rupa oleh media...
kapan kah datang pahlawan Indonesia itu...?
jangan-jangan ada di antara kita pahlawan yang dicari2 tsb... jangan-jangan....
Very inspiring the reader to be a hero. Mr. Matta gave he's self opinion about a hero, a true and genuine one according to me. Not to mention he combine it very much with his belief (that is Islam) and without making it "exclusive". He also share his thought that a hero need not to be found, because it actually lies within ourselves.
Menjadi Pahlawan adalah kebanggaan. Prestasi yang membuat nama kita tetap dikenang oleh orang-orang dimasa kita hidup atau generasi berikutnya setelah kita mati.
Buku ini menggoda siapapun yang membacanya untuk menjadi Pahlawan yang dinanti itu. Pahlawan di seluruh bidang kehidupan tanpa membeda-bedakannya. Dengan motivasi yang benar, cara yang benar serta tujuan yang benar pula.
Tulisan-tulisan yang sudah saya ikuti lama di Tarbawi ini sangat berkesan. Tulisannya ringkas dan berisi. Kita percaya bahwa Bangsa Indonesia ini adalah bangsa besar yang layak berdiri tegap di hadapan bangsa lain. Semoga menginspirasi kita untuk mengambil bagian dalam proyek pembangunan bangsa sesuai bidang dan spesialisasi masing-masing.
Dengan ringan, pahlawan dapat menjelma satu hal yang mudah digapai. Ia bukan lagi sebuah mitos yang hidup di lingkungan zaman dahulu atau di lingkup kerajaan dan militer. Ia hidup di tiap individu Indonesia. Ia hanya perlu dihidupkan dengan semangat dan niat yang ikhlas. Selamat berjuang saudaraku..
Saya lumayan suka buku-buku Anis Matta walau kurang sreg dengan orangnya. Kok bisa ya? he he. Aneh juga saya pikir. Tapi tulisannya lumayan mencerahkan. Kalau bisa dipraktekkan banyak orang, termasuk penulisnya wah akan bagus sekali.
Ada banyak sekali potensi di negeri ini...juga bibit potensial untuk menjadi yang terbaik bagi bangsa, maka temukanlah mereka di sekitar kita, yang mau bekerja dan beramal untuk negeri ini tanpa pamrih...luar biasa...
Buku lama sih, tapi terasa menyegarkan kembali dibaca pada saat ini. Apalagi ketika teriakan-teriakan tentang kerinduan pada sosok pahlawan tengah hadir dalam kesimpangsiuran bangsa Indonesia.