Jump to ratings and reviews
Rate this book

Azab dan Sengsara

Rate this book
ISBN: 9789794071687

Kisah cinta abadi penuh duka antara Mariamin dan Aminuddin. Dua sejoli yang dipisahkan oleh harapan akan nasib baik di tanah rantau, ternyata membawa petaka yang memupus cinta Mariamin hingga ke lubang kematiannya.. Inilah pariodi yang paling gelap tentang stereotip kota dan desa.

163 pages, Paperback

First published January 1, 1927

42 people are currently reading
766 people want to read

About the author

Merari Siregar

5 books8 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
141 (22%)
4 stars
155 (25%)
3 stars
228 (37%)
2 stars
71 (11%)
1 star
21 (3%)
Displaying 1 - 30 of 74 reviews
Profile Image for Missy J.
629 reviews108 followers
July 5, 2022
Finally finished this. It took me longer than expected even though it was a short book. But probably its depressing subject matter in the times of coronavirus made it difficult to read quickly. This book was published in 1920 and is often referred to as the first Indonesian novel. Indonesia as a nation formed only 25 years later and Bahasa Indonesia as a language was not yet formally recognized, from my understanding. I find it amazing how people wrote in a language simply to convey a message without realizing what they were doing. Anyway, what drew me most to the book is the fact that the author belongs to the Batak tribe, like my family. I've never read a proper book by a Batak author. So, it's about time!

Azab and Sengsara, which means "punishment and misery," already hints at the depressing nature of the story, which is about a doomed love (a lamer Romeo and heartbroken Juliet). Amin'uddin and Mariam are "pariban". Ok, let me tell you something about the Batak tribe of North Sumatra. Unlike Javanese people, who don't have any surnames and often go through life with only one name, Batak people carry a clan name ("marga"), which is passed down from father to child. When Batak people meet each other for the first time, anywhere in Indonesia, one of the first question asked is always, "what's your marga?" When it comes to marriage, it is strictly forbidden for a Batak person to marry somebody of the same marga, no matter how distant your relation is. The same marga means you share the same ancestor. However, there's a flip side to the story! To keep relationships harmonious, especially towards the mother's side of the family, there's a relationship called "pariban" which is seen as ideal: a woman's son is encouraged to marry the daughter of his mother's brother (uncle). It has to be exactly this combination (not a woman's daughter or an uncle's son etc.). Pariban share the same grandparents and are actually cousins, but their margas are different, so this is totally acceptable. When a woman marries in the Batak culture, she leaves her family and becomes part of her husband's family. So, this pariban concept is to keep the woman's family happy and maintain close/good relationship.

So Amin'uddin and Mariam are pariban. They have known each other since they were little children and share a great love for each other. This love grows even more when Amin'uddin rescues Mariam when she fell into the river during a storm. She feels that her soul is indebted to him and thanks him for saving her life. In order to get married, Amin'uddin has to establish himself first so he can support them both. He goes to the fields of Deli (near Medan) where there's plenty of work. Mariam is left in the village of Sipirok, where she lives with her poor mother and younger sibling. She misses Amin'uddin. He writes to his parents that he wants to get married to Mariam. Things go horribly wrong despite the fact that they are "pariban".

I don't want to spoil the story, but in this book the author questions traditions, forced marriages and male-female relationships. I think similar to Layar Terkembang (which I just read prior to this), the author wanted to spread a conscious message via a literary work. He wants his readers to become more aware about marriage. For most Indonesians, marriage is just something one has to tick off during life. If one doesn't get married, one is looked down upon in society, even worse your parents will be viewed as failures. A parent may not die until he or she is sure that his or her child is married and taken care of. Siregar, however witnessed in his own life how a lot of human pain stemmed from this blind obeisance to tradition and society's expectation. Forced marriage led to miserable husbands and wives. Children grew up with an absent parent. Women got pregnant to trap men into marriage, hoping that a child would change their relationship. Some part of tradition must be viewed critically and true love must be respected. What Amin'uddin's father and Mariam's father did was truly disgusting. This novel was very critical of men, which I found impressive, given that this was written by a male author and published in 1920! I also liked how the author showed certain Batak cultural aspect and their obsession with legal justice. That was painful for me to read too. Overall, the author provides a balanced view: some traditions and society’s silly expectations can be discarded, whereas some other traditions, which align with our feelings and thoughts, can be respected and seen as a link to our ancestors.

"Mereka itu memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anaknya yang perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak kalau orang tua terlambat memperistrikan anaknya."
Profile Image for Henzi.
219 reviews24 followers
June 10, 2025
Azab dan Sengsara karya Merari Siregar bukan hanya novel pertama berbahasa Indonesia yang diterbitkan, tetapi juga merupakan cermin dari pergulatan sosial yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia di awal abad ke 20. Diterbitkan pada 1920, novel ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga kekuatan emosional yang mengguncang—sebuah kisah cinta yang dirampas oleh kekuasaan adat dan orang tua.

Cerita berpusat pada Aminu’ddin (Udin) dan Mariamin (Riam), sepasang kekasih yang sekaligus sepupuan langsung, namun keinginan mereka tidak direstui oleh orang tua Udin. Alasannya bukan karena cinta itu kurang tulus, melainkan karena (salah satunya) ayah Riam—Sutan Baringin—yang bermasalah sehingga menyebabkan Riam dianggap tidak pantas oleh keluarga Udin, khususnya ayahnya yang juga adalah kepala kampung. Penolakan ini menjadi titik awal dari rangkaian penderitaan yang harus dialami Mariamin.

Yang membuat novel ini begitu kuat adalah keberanian Merari Siregar untuk menyorot adat secara kritis. Ia tidak menulis dengan pendekatan lembut atau simbolik, melainkan langsung menyorot ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang dilanggengkan oleh tradisi.

Jadi begini, judul Azab dan Sengsara betul-betul sangat merepresentasikan isinya. Sutan Baringin, yang sedari kecil sudah dimanjakan oleh ibunya, hidup bergelimpangan harta dengan mudahnya tanpa perlu bekerja dengan keras. Ia kemudian menikah dengan Nuria, ibunya Mariamin, yang dijodohkan dengannya. Tapi aku tidak akan bahas Nuria, karena takutnya jadi panjang. Oleh karena ketamakan Sutan Baringin (& juga kebodohannya), ia jatuh miskin. Perempuan, dalam cerita ini, jelas menjadi korban utama: Mariamin bukan hanya sekadar turun kasta, tapi juga dihukum oleh masyarakat karena miskin, terlebih lagi dia perempuan. Azab yang dibikin oleh bapaknya mesti ditanggung olehnya, jadilah ia sengsara seumur hidup.

Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat; bila kita jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang karib itu menjauhkan dirinya.


Laki-laki, yang dibahas di sini ialah suku Batak yang tinggal di Tapanuli, digambarkan sangat kuat pengaruhnya (terhadap perempuan) pada saat itu. Meskipun, kepercayaan ini tak terbatas oleh ras mana pun dulunya.

Umpamanya seorang perempuan tiada akan menolak suaminya, yang meminta ampun akan kesalah-annya, meskipun bagaimana sekali besarnya dosa laki-laki itu kepada istrinya. Penanggungan perempuan yang sakit, aniaya suaminya yang bengis, dilupakannya, bila ia melihat suaminya meminta ampun di hadapannya.

Akan tetapi, tiada jarang kejadian seorang laki-laki memandang istri yang bersalah kepadanya sebagai musuh besar, meskipun perempuan itu berlutut dan membasahi kaki suaminya dengan air matanya akan meminta ampun atas kesalahan yang diperbuatnya dalam pikiran yang sesat itu.


Dengan ketiadaan pilihan untuk memilih, anak perempuan sudah lazim dijadikan alat tukar orang tuanya (tentu tak semua, tapi memang demikianlah sebagian besar kenyataannya) ketika mereka dewasa. Mereka akan dikawinkan, yang mana adalah suatu kewajiban anak bercerai dengan orang tua supaya tidak dianggap remeh. Sungguh nahas, perkataan orang tualah yang paling banyak berlaku dalam perkawinan, sementara anak hanya menurut saja. Emas kawin di tanah Batak—yang biasa disebut boli—banyaknya 200 sampai 400 rupiah (pada tahun buku ini ditulis nampaknya). Saya gak nemu berapa tepatnya kalau dikonversikan ke dalam duit pada tahun 2025 ini, perkiraanku di atas 50 juta rupiah. Boli ini dibayarkan kepada orang tua perempuan, namun sebagiannya memang digunakan untuk adat.

Tetapi sebagai keinginan Ibu, Ibu berusaha akan memperbaiki keadaan kita, tapi sampai kini suatu pun tak ada yang kuperoleh. Itulah sebabnya, maka Ibu ingin mempersuamikan anakku, karena si (sensor) itu tiada berorang tua lagi, hanyalah saudaranya yang ada. Jika anakku pandai mengambil hatinya, sampai ia sayang akan anakku, tentu ia memandang Bunda sebagai ibunya sendiri, dan adikmu itu pun diperbuatnya sebagai saudara kandungnya pula. Kalau demikian dapatlah kita kelak diam bersama-sama, karena gajinya pun besar, kata orang. Bukankah lebih baik kita meninggalkan luhak Sipirok ini, sawah setelempap atau lembu sebulu kepunyaan kita tak ada di sini. Itulah harapan Bunda. Dengan sepandai-pandaimulah membawakan dirimu kepada si (sensor). Dan anakku ingatlah perkawinan ini sajalah yang dapat menyudahkan sengsara kita yang bertimbun-timbun ini.


Merari menulis dengan gaya realis dan moralistik, kadang terdengar seperti memberi khotbah, penuh syair indah di sana-sini yang tak jarang aku skimming (maapkeun), tapi justru di situlah letak kekuatan khasnya. Ia tidak hanya ingin bercerita, tapi juga mengajak pembacanya berpikir. Gaya bahasanya mungkin terdengar kaku bagi pembaca modern, tapi jika kita lihat konteks zamannya, bahasa ini adalah jembatan awal menuju lahirnya sastra Indonesia modern. Dalam tulisan-tulisan Merari, kita menyaksikan kelahiran semangat pembebasan dari kungkungan norma dan takdir yang dipaksakan.

Sebagai pembaca masa kini, mungkin kita akan merasa frustrasi dengan pilihan-pilihan para tokohnya. Malah justru stres karena mereka hanya memilih untuk tunduk tak berkutik. Tapi itulah yang menjadi bukti bahwa novel ini berhasil menyentuh sisi terdalam kita—bahwa sistem yang tidak adil itu nyata, dan telah mencabik banyak hidup sejak lama. Azab dan Sengsara adalah pengingat bahwa cinta dan logika tak akan pernah cukup bila dunia masih dikuasai oleh kekuasaan tanpa nurani.

Membaca Azab dan Sengsara adalah seperti mendengar suara masa lalu yang belum sepenuhnya pergi. Ia bicara tentang luka, tentang sistem yang tidak adil, dan tentang harapan yang terpaksa padam. Dan meskipun cerita ini sudah berusia lebih dari seabad, nyatanya suara Mariamin masih bisa kita dengar hari ini—lewat perempuan-perempuan yang suaranya masih dipadamkan oleh adat, norma, atau kekuasaan yang serupa.
Profile Image for Kana Haya.
77 reviews1 follower
July 31, 2007
this is one of legend literature book here in Indonesia. its been a long time ago when I read the book. I only can remember a bit of the story. but i know that this is a nice story that makes us think about our live right now on earth, and then after we died.
Profile Image for Henry Manampiring.
Author 12 books1,233 followers
January 3, 2023
While the story is rather depressing, the message and teaching is amazingly timeless and still relevant even today. About parenting, about marriage for status.
25 reviews1 follower
November 6, 2019
Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang berakhir derita. Yang perempuan bernama Mariamin dan yang laki-laki bernama Mariamin dan yang laki-laki Aminuddin. Mereka berdua memang sudah mempunyai pertalian karena ayahnya Mariamin dan ibunya Aminuddin bersaudara. Saat Mariamin dan keluarganya masih kaya mereka termasuk ke dalam keluarga yang terpandang dan dihormati oleh warga sekampung dan oleh keluarga Aminuddin, namun setelah keluarganya jatuh miskin, keluarganya dikucilkan dipandang hina karena suatu masalah akibat ulah ayah Mariamin. Ayahnya kemudian meninggal setelah miskin karena sakit akibat menanggung malu dan menanggung kekalahannya.
Aminuddin adalah anak kepala kampung di Spiriok. Mereka termasuk dalam keluarga bangsawan yang mempunyai harta berlimpah dan dihormati oleh banyak orang. Mariamin dan Aminuddin sudah bersahabatan dari kecil, sehingga Aminuddin suka membantu keluarga Mariamin yang tinggal ibu, dan adiknya Mariamin dengan mengerjakan pekerjaan di sawahnya. Keduanya tumbuh dengan baik budinya serta tutur katanya, dan tumbuhlah cinta di antara keduanya. Aminuddin berjanji kepada Mariamin akan menikahinya ketika ia sudah berada di Deli, tempat ia akan bekerja agar bisa menikah dengan Mariamin meskipun sebenarnya harta keluarganya pun tidak akan habis bila digunakan untuk menikah.
Niat Aminuddin diutarakan ke ayah ibunya. Ibunya setuju dan merestui hubungan mereka karena Mariamin masih keluarganya dan dengan menikahi Aminuddin, ibunya bisa menolong kemiskinan keluarga itu. Akan tetapi, ayah Aminuddin tidak setuju, sehingga datanglah ayah dan ibu Aminuddin ke seorang dukun. Dukun itu mengatakan bahwa apabila pernikahan itu terjadi maka hal buruk akan terjadi. Ibunya kecewa degan kata-kata dukun itu, namun ayhnya sebaliknya, ia senang sekali dengan maksud dari untungnya itu.
Aminuddin saat sudah kerja di Deli, ia sering berkirim dan berbalas surat dengan Mariamin. Sampai suatu waktu, ia akhirnya mengirim berita ke kampung bahwa ia sudah siap untuk berumahtangga dengan wanita pujaannya tersebut. Saat ayah dan ibunya tiba di Medan, Aminu’ddin kaget sebab ayahnya membawa gadis lain dan sungguh perasaan Aminuddin sangat kecewa karena ia telah menanti-nantikan akan bertemu dengan Mariamin.
Aminuddin tak bisa menolak sebab saat itu ia terikat adat budaya yang harus selalu patuh pada keputusan orang tua. Akhirnya Aminu’ddin mengirim surat kepada Mariamin sambil memohon maaf karena ia terpaksa menikahi gadis lain meskipun tanpa cinta. Mendengar kabar terebut, Mariamin sangat sedih. Ia bahkan sempat sakit. Setahun berselang, ibu mariamin akhirnya menerima pinangan seorang laki-laki bernama Kasibun. Ia berharap pernikahan tersebut akan mengobati luka Mariamin. Akan tetapi apa yang diniatkan ibu Mariamin tidak terjadi. Selanjutnya, Kasibun membawa Mariamin ke Medan. Mereka mengalami hubungan suami siteri yang tidak harmonis, sebab Mariamin tidak ingin melakukan hubungan intim dengan suaminya. Alasannya, ternyata Karibun memiliki penyakit kelamin yang bisa menular. Mendapat penolakan tersebut, Kasibun kalap dan sering menyiksa isterinya, Mariamin.
Penderitaannya semakin bertambah sejak Aminu’ddin bertamu ke rumahnya suatu waktu. Melihat reaksi Mariamin yang tak biasa, Karibun pun membaca sesuatu yang lain dan kemudian cemburu. Semakin hari ia semakin sering menyiksa isterinya.
Pada akhirnya Mariamin tak sanggup lagi dan akhirnya melaporkan suaminya, Karibun, ke polisi. Akhirnya Karibun ditetapkan bersalah dan diwajibkan membayar denda serta melepaskan Mariamin tak lagi jadi isterinya. Mariamin akhirnya kembali ke desanya dan hidup menderita di sana. Ia sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia dalam derita.
Merari Siregar (lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wafat di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. Karyanya yang paling populer adalah Azab dan sengsara diterbitkan pada tahun 1920. Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan politik etis yang ditandai dengan berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat). Selain dikenal sebagai sastrawan, dalam kesehariannya ia bekerja sebagai guru. Profesinya sebagai guru sedikit banyak berpengaruh pada gaya bercerita dan karya sastranya, baik karya asli maupun saduran.
Selain sebagai pengarang, Merari juga dikenal sebagai penyadur. Karya sadurannya yang paling tersohor berjudul Si Jamin dan Si Johan dengan mengadaptasi "Jan Smees" buah karya Justus van Maurik. Judul "Jan Smees" ini terdapat dalam kumpulan cerpen Justus van Maurik yang berjudul Lift het Volk ‘Dan Kalangan Rakyat’ dengan subjudul Ainsterdamche Novel/en ‘Novel Amsterdam’ yang terbit tahun 1879.
Penggunaan bahasa lancar dan mudah dipahami serta rapi, ia tonjolkan dalam setiap karyanya untuk menarik pembaca. Di samping bahasa yang enak dibaca, Merari juga memberi nasihat, mengecam ketidakadilan, serta memberi pujian pada tindakan yang tidak menyalahi aturan ataupun norma yang berlaku dalam masyarakat. Tema dalam sebuah novel ini adalah “Kesengsaraan kedua anak manusia karena kasih tak sampai”.
Sedangkan amanat dalam novel ini adalah (1) Allah S.W.T menjadikan laki-laki dan perempuan dan mempersatukan mereka itu dengan maksud, supaya mereka itu berkasih-kasihan; si perempuan menyenangkan hati suaminya dan si suami menghiburkan hari istrinya. Maka seharusnyalah mereka sehidup semati, artinya; kesengsaraan sama di tanggung, kesenangan sama dirasa. Itulah kewajiban seorang suami istri. (2) Jika menjadi orang tua janganlah pernah sekali-kali menjodohkan anak kita dengan pilihan kita sendiri, biarlah sang anak memilih orang yang benar-benar bisa mengerti, menemani, mencintai dan menerima apa adanya serta menjadi teman baginya untuk sehidup dan semati, dan jangan pernah memandang materi suatu kaum, sebanarnya Tuhan itu Maha Kaya. (3). Mensyukuri dan manfaatkan sebaik mungkin harta atau rizki yang Allah berikan kepada kita, niscaya Dia akan menambahkannya dan janganlah memandang orang dari segi fisik atau kekayaannya, tetapi pandanglah dari segi ketaqwaannya. (4) Menolong sesama adalah kewajiban setiap insan, seberat apapun derita yang menimpa, kita harus selalu sabar, tegar, selalu berdoa, husnudzon kepada Sang Pencipta, dan tidak patah semangat karena setiap kebaikan atau pun keburukan yang kita perbuat, pasti akan mendapat balasan yang setimpal.
Alur dalam novel “Azab dan Sengsara” ini menggunakan alur campuran, yaitu alur maju dan alur mundur. Gaya penulisan novel ini adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia dan dicampuri oleh bahasa Melayu. Novel ini belum menggunakan EYD atau ejaan yang disempurnakan. Selain itu pada setiap awal bab pengarang menggunakan penggambaran-penggambaran baik itu mengenai alam yang menjadi latar cerita maupun penggambaran tentang tokoh-tokoh dengan menggunakan bahasa yang indah. Misalnya “ Maka angin itu pun bertambahlah sedikit kerasnya sehingga daun dan cabang-cabang kayu bergoyang-goyang perlahan-lahan sebagai menunjukkan kegirangannya, karena cahaya yang panas itu sudah bertukar dengan hawa yang sejuk dan nyaman rasanya.
Dalam roman ini, Merari menyisipkan nasihat-nasihat langsung kepada pembacanya. Nasihat ini tidak ada hubungannya dengan kisah tokohnya karena maksud pengarang menyusun buku itu sebetulnya untuk menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik kepada bangsanya. Seperti penuturannya berikut ini yang dikutip dari situs Laman Badan Bahasa, "Saya mengarang ceritera ini, dengan maksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Harap saya diperhatikan oleh pembaca. Hal-hal dan kejadian yang tersebut dalam buku ini meskipun seakan-akan tiada mungkin dalam pikiran pembaca. Adalah benar belaka, cuma waktunya kuatur, artinya dibuat berturut-turut supaya ceritera lebih nyata dan terang."
Secara keseluruhan, Azab dan Sengsara memiliki ciri-ciri seperti Angkatan 20-an pada umumnya. Selain diwarnai dengan menguatnya kesadaran individu dan menipisnya kesadaran adat, roman ini juga menonjolkan penggambaran alam dan pengungkapan perasaan. Pengungkapan perasaan itu, antara lain tercermin dalam penggunaan pantun dan syair.
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
June 14, 2012
Layaknya kisah Sitti Nurbaya.. Kisah kasih tak sampai dua sejoli ini pada akhirnya tak bisa berujung bahagia.. kisah kasih yang tak sampai antara Mariamin dan Aminu'ddin..(mungkin tren ceritanya seperti itu ya di tahun 1920-an)..

Cerita ini tentang..

Perkawinan memang suatu adat dan kebiasaan yang harus dilakukan tiap-tiap manusia, bila sudah sampai waktunya. Tuhan yang menjadikan segala yang ada, itulah yang mengaturkan yang demikian bagi kita yang mendiami bumi ini, karena la pun menjadikan seorang laki-laki dan seorang perempuan Adam dan Siti Hawa dan kedua manusia itu disuruhnya hidup bersama-sama, tolong-menolong, berkasih-kasihan sama sendirinya. Maka adat yang telah diaturkan itulah yang kita turut. Tapi menurut sebaiknya haruslah kita pikir lebih panjang, adakah perkawinan itu akan membawa kesenangan dan keuntungan bagi laki-laki dan perempuan kedua belah pihak. Dan tali pengikat perkawinan itu haruslah hendaknya kuat benar, supaya jangan acap kali kejadian perceraian atau talak..

Allah subhanahu wa taala menjadikan laki-laki dan perempuan dan mempersatukan mereka itu dengan maksud, supaya mereka itu berkasih kasihan; si perempuan menyenangkan hati suaminya dan si suami menghiburkan hati istrinya. Maka seharusnyalah mereka itu sehidup semati, artinya; sengsara sama ditanggung, kesenangan sama dirasa. Itulah kewajiban orang yang berlaki-istri. Maka perkawinan yang serupa itu adalah membawa bahagia kepadanya. Sebab itu seharusnya janganlah dilupakan akan ujudnya perkawinan yang diaturkan Tuhan itu. Janganlah ada lagi kita, yang memandang dia, sebagai perkara kecil dan mempergunakan aturan yang suci itu akan keperluan sendiri, sehingga kesudahannya pihak perempuan banyak yang jatuh terjerumus ke dalam ngarai, yang penuh dengan azab dan sengsara yang tiada berkesudahan!
Profile Image for Muhsin Ibnu Zuhri.
23 reviews
October 17, 2025
Roman berjudul Azab dan Sengsara ini bisa jadi penting dalam beberapa aspek. Pertama, roman ini ditulis tahun 1920 oleh Balai Pustaka, yang kemudian menjadi tonggak sastra Indonesia Modern. Begitulah kiranya menurut para pakar. Namun, menilik perkembangan sastra cerpen dan syair lewat koran sebelum tahun itu menunjukkan bahwa kehadiran roman ini tidak serta merta tanpa tujuan politik. Bisa jadi novel ini menjadi bukti awal bentuk kekhawatiran pemerintah kolonial untuk menanggulangi cerita-cerita berbahasa “melayu rendah” yang bermuatan pandangan soal kebebasan dan buruknya kolonial.

Kedua, roman ini ditulis oleh seorang sastrawan dari Sumatera, lebih tepatnya dari Sipirok. Pengambilan naskah dari sastrawan Sumatera (yang mana standar bahasa melayunya lebih kuat) bisa menjadi alasan kenapa Gerakan sastra modern Indonesia tahap awal berangkat dari Sumatera. Bila melihat sekilas ke tahun-tahun sebelumnya, perkembangan objek sastra banyak terdapat di Jawa seperti Semarang, Batavia, Bogor, Bandung, atau Surabaya. Entah dari orang Belanda peranakan, Tionghoa peranakan, atau bumiputera sendiri. Bukti lain bisa dilihat munculnya sastrawan Balai Pustaka setelah 1920 didominasi pengarang dari Sumatera.

Ketiga, roman ini juga menjadi satu tonggak awal kemunculan persepsi bahasa secara vertikal dalam ranah sastra. Bahwa bahasa melayu pasar atau melayu rendah tidak dianggap sebagai bahasa pendukung untuk karya yang sastrawi. Bisa jadi pandangan ini yang menciptakan kesepahaman kolektif masyarakat kita dalam melihat bahasa. Standar bahasa adalah bahasa yang formal dan benar. Contohnya begini. Kebanyakan pembelajaran bahasa baru di Indonesia didukung oleh standar formal yang kadang lepas dari teori linguistik umum. Alih-alih mengajari penguasaan bahasa yang aplikatif, bahasa Inggris masuk melewati jalur pemahaman gramatika yang rumit. Hal ini juga terjadi pada pembelajaran bahasa Indonesia dan juga Bahasa Arab. Mungkin pandangan kolektif ini bisa jadi bermula dari tahun 1920 ini. Sebagai dampak yang lebih ekstrem lagi bisa dilihat dari kacamata sosiolinguistiknya. Banyak masyarakat kita yang selalu menertawakan dialek yang berbeda, mencemooh cara penyampaian kata yang sedikit berbeda, atau bahkan menjadi polisi gramatika. Sikap ini adalah bentuk dampak dari pembangunan persepsi soal bahasa yang vertikal. Kita mungkin lupa bahwa inti dari bahasa adalah menyampaikan gagasan, bukan memperbagus mediumnya.

Keempat, tema roman ini condong menyoroti praktik adat yang dianggap keliru, terutama di Sumatera. Hal ini bagus tentu saja. Namun, menyoroti tiga pandangan sebelumnya membuat munculnya sebuah pandangan baru. Apakah novel yang menyoroti masalah adat adalah cara agar masyatakat tidak memikirkan penjajahnya. Bahkan di beberapa roman Balai Pustaka setelahnya, ada perkembangan bahwa tokoh-tokoh yang selalu ideal adalah tokoh yang berpandangan modern ala Belanda. Setidaknya itu pembuka sebelum masuk pada penggarapan Merari Siregar pada roman ini.

Roman ini diberi judul Azab dan Sengsara. Saya tidak tahu di mana letak azab yang ingin diwujudkan Merari Siregar. Kesemuanya hanya kesengsaraan yang dialami oleh Mariamin dan keluarganya. Jika membicarakan azab, setidaknya kita memiliki sebuah pola sebab akibat. Sayang sekali di sini pengarang hanya menunjukkan hitam putihnya tokoh. Tidak ada alasan yang kuat mengapa Mariamin mendapati sikap yang pasrah sebegitu rupa. Tidak ada alasan kenapa kehidupan yang sedemikian menyengsarakan diterima dengan kepasrahan yang absolut. Cara pandang hitam-putih seperti ini akhirnya mengacaukan pembacaan.

Merari Siregar tampak sekali memasukkan dirinya sebagai pencerita sekaligus pengendali mutlak akan tokoh-tokohnya. Misalnya saja saat Mariamin dan Aminudin tengah berdua sawah. Aminuddin berumur 11 tahun dan Mariamin berusia 8 tahun. Dialog yang mereka percakapkan tidak mencerminkan sama sekali bahwa mereka benar-benar ada di usianya. Saat Aminuddin bicara tentang dongeng seorang yang tidak pernah puas akan keadaannya dan menuntut malaikat Jibril agar meluluskan permohonannya, cara penyampaiannya amat dewasa seperti seorang pemuka agama. Begitu juga persepsi Mariamin di situ setelah mendengar dongeng tersebut amat sangat merendahkan. Mariamin bilang bahwa dia lebih suka sengsara di dunia daripada sengsara di akhirat. Hal ini yang menyebabkan tokoh Mariamin mati sebagai tokoh, ia sebagai medium saja bagi pengarang untuk merasakan sebuah kesengsaraan.

Lihat saja perlakuan Merari Siregar terhadap tokoh perempuan dan tokoh laki-laki. Pada tokoh Aminuddin ia menjabarkan bahwa kebimbangan hatinya tidak menciptakan konsekuensi apapun. Di sepanjang kisah Aminuddin ini terlampau sempurna sebagai lelaki. Hal ini adalah bentuk kemunafikan dari takdir manusia. Saat orang tuanya membawa gadis lain untuk dipersuntingkan padanya, dia menerima begitu saja atas adat kesopanan. Hanya itu saja kesalahannya. Selebihnya dia berlaku sebagai nabi. Tidak ada pendangan yang lebih dilematis ditunjukkan pengarang. Bagaimana dengan Mariamin? Dia lahir kaya lalu miskin. Kemudian dinikahkan hanya karena Aminuddin telah menikah. Dia kehilangan hak untuk memilih. Sekali lagi, Merari Siregar hanya melihat Mariamin sebagai medium saja.

Kemudian menciptakan akhir cerita dengan sebuah kematian adalah bentuk dari kementokan Mirerari untuk mengurai masalah sebenarnya. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa kehidupan di dunia ini penuh dengan kesengsaraan. Dengan terus bertahan dan tawakal seseorang akan mendapatkan kedamaiannya di akhirat kelak. Itu benar adanya. Tapi pengarang terlalu tega untuk menentukan nasib Mariamin mati tanpa sedikitpun memberikannya hak untuk berpikir sendiri.

Di luar itu, kesan positif dalam roman ini adalah tujuan kritik pada adat yang dirasa tidak sesuai dan sumber referensi utama standar bahasa Indonesia yang baik dan benar di zaman kolonial.
Profile Image for Nilasari.
11 reviews3 followers
February 5, 2013
apapun itu saya berhasil membacanya sampai selesai tanpa mencari-cari halaman terakhir.. kosa katanya sangat bagus dan saya kagumi, cerita-ceritanya yang berputar-putar saya juga nerimo apa adanya.. mungkin saya memang pembaca yang nerimo...kkk
azab dan sengsara, ya orang baik belum tentu juga hidupnya bahagia, tapi intinya biarlah sengsara di dunia asal tetap menjaga iman dan mendapat ketenangan di tempat yang lain..
23 reviews
February 22, 2012
ini novel pertama yg saya baca , bahasanya masih gaya angkatan 45 ,ceritanya tentang kisah hidup seorang di daerah sumatra sana yang hidupnya merana . Penderitaan bertubi2 yg dia terima selama hidup , endingnya tp agak gimana gitu . masa cuma mati.... di halaman paling belakang ada ilustrasi kuburannya tokoh utamanya . Lupa namanya siapa ,dah lama sih
Profile Image for Dhini.
96 reviews15 followers
October 24, 2008
cerita ini juga sama sedihnya ama si jamin - johan..., tapi yang ini ttg kehidupan perempuan bernama mariamin dan suaminya belakangan di ketahui punya penyakit kelamin.. hik..hik..(T_T)

Termasuk bacaan "wajib" pelajaran sastra Indonesia..
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 20, 2016
Roman klasik generasi pertama Balai Pustaka, mengangkat tema yang lazim pada zaman itu: kawin paksa. Merari Siregar menyampaikannya dengan gaya bahasa yang indah dan lugas, seolah-olah ia sedang bercerta di hadapan pembaca.
Profile Image for Nun.
48 reviews6 followers
December 26, 2008
aminu'ddin dan mariamin. kisah cinta memang tak selamanya diiringi kebahagiaan.
Profile Image for Halida.
214 reviews
January 31, 2012
Pola asuh, adat istiadat, kepercayaan mistik dan kehidupan singkat Mariamin, si tokoh sentral.
Profile Image for Cinciya.
4 reviews1 follower
October 3, 2007
buku yg gw pilih bwat tgs bhs.indonesia wktu SMP..

ga nyesel pilih buku ini..
Profile Image for Muhammad Ilhamsyah.
39 reviews5 followers
June 6, 2014
Hal yang paling kental dari roman klasik selain dari penggunaan Bahasa Melayu adalah deskripsi suasana alam yang benar-benar menggunggah. Hal itupun juga saya temui dalam novel ini, bahkan sejak novel ini dimulai. Penggambaran suasana senja kampung Sipirok yang tenteram begitu meneduhkan perasaan. Rasanya saya ikut terbawa ke dalam setting cerita. Duduk di pinggiran sawah yang membentang hijau sementara langit di atas bersaput jingga. Dihibur dengan cicit burung yang terbang pulang ke sarang, dan tak lama kemudian dipanggil untuk segera pulang oleh kumandang adzan maghrib yang bersahutan dari langgar ke langgar. Suasana langka yang sudah pasti sulit ditemui di kota besar, bahkan di Banjarmasin di tempat saya berdiam saat ini. Namun kalau direnungi betul-betul, deskripsi alam yang dituliskan oleh Merari Siregar sebenarnya tidak terlalu istimewa. Pun tidak terlalu detail sekaligus artistik seperti yang dituliskan Ahmad Tohari di Bekisar Merah. Walau begitu, penggunaan Bahasa Melayu-lah yang membuat paragraf deskripsi tersebut terdengar begitu membuai.
Membicarakan roman klasik, tentu tak bisa dilepaskan dari beberapa hal yang sepertinya menjadi pakem para penulis saat itu. Sebut saja kisah cinta tak sampai, kisah cinta berbumbu adat-istiadat atau status sosial, karakter tokoh yang santun dan religius, alur cerita tragis (you name it, kill the protagonist), dan tentu saja, penggunaan Bahasa Melayu.
Oh ya, sebelumnya cerita ini beralur maju-mundur-maju. Bagian pertama, menceritakan tentang perpisahan Mariamin dengan Aminu’ddin, yang juga menyinggung tentang kondisi keluarga Mariamin yang jatuh miskin dengan ibunya yang tengah sakit-sakitan. Bab selanjutnya, cerita mundur ke masa kecil Mariamin dan Aminu’ddin dimana Aminu’ddin pernah sangat berjasa menyelamatkan nyawa Mariamin yang terpeleset ke sungai yang tengah banjir. Bagian selanjutnya, masih berupa peristiwa di masa lampau, dimana diceritakan kondisi keluarga Mariamin yang masih kaya raya. Namun, karena ketamakan sang ayah, akhirnya mereka-pun jatuh miskin, sementara Sultan Baringin, ayah Mariamin, meninggal dunia. Jujur, bagian yang menceritakan tentang ayah Mariamin ini menurut saya adalah lowest point dari novel ini. Saya nyaris saya skipped this part, karena ceritanya terlalu panjang. Hampir 50 persen dari keseluruhan isi novel. Dan bagian terakhir adalah saat cinta Mariamin dan Aminu’ddin akhirnya benar-benar terhalang karena masing-masing dari mereka tak pernah bersatu.
Oke, kembali ke pakem roman klasik yang akan saya bahas satu-persatu.
Kisah cinta tak sampai. Jika membaca dari sinopsis di atas, sudah jelas bahwa cinta Mariamin dan Aminu’ddin akhirnya tidak dipersatukan. Adapun penyebabnya akan dibahas dalam pakem no 2.
Kisah cinta berbumbu adat-istiadat dan status sosial. Seperti yang saya tulis di sinopsis, status sosial menjadi faktor utama mengapa Aminu’ddin akhirnya gagal bersatu dengan Mariamin dalam biduk pernikahan. Tetapi, dalam novel ini juga disinggung norma adat lainnya (dalam hal ini adat Batak) dimana sepasang manusia yang bermarga sama juga tidak diperbolehkan untuk menikah. Selain itu, juga disinggung tentang sere atau boli, yaitu salah satu syarat perkawinan dalam adat Batak. Penulis novel ini sepertinya ingin mengeritik tentang budaya sere atau boli yang ia anggap justru memberatkan salah satu pihak (dalam hal ini pihak laki-laki) yang ingin menikah. Sere atau boli sendiri ialah emas kawin yang besarnya ditentukan oleh orangtua pihak wanita dan harus dipenuhi oleh pihak laki-laki. Dalam cerita ini disebutkan bahwa besar sere adalah 200 sampai 400 rupiah. Jumlah ini merupakan jumlah pertengahan karena ada pula pihak yang hanya bisa memenuhi kurang dari 200 atau lebih dari 400. Dalam adat saya sendiri, Banjar, budaya ini juga ada, dan masih dipraktekkan sampai sekarang. Bahkan jujuran (sere atau boli dalam adat Batak) ini menjadi titik awal apakah pernikahan jadi dilanjutkan atau tidak. Besar jujuran dalam adat Banjar sebenarnya ditentukan oleh masing-masing pihak, namun yang saya dengar, trend saat ini minimal adalah 20 juta (pandang jumlah ini dari kacamata rakyat biasa, bukan orang berduit. Hehe...). Dan jumlah ini ternyata bisa menyusut maupun bertambah, tergantung dari suku mana perempuan yang akan dinikahi tersebut berasal. Sejujurnya, saya-pun juga pihak yang kontra dengan adanya budaya seperti ini karena selain tidak diatur dalam agama (note it, jujuran itu bukan mas kawin. Jadi, pihak laki-laki juga tetap harus menyediakan mas kawin, tidak lepas tangan begitu saja), budaya seperti ini juga terkesan menukar pihak perempuan dengan uang, karena apabila pihak laki-laki tidak bisa memenuhi jumlah jujuran yang ditawarkan orangtua perempuan, maka pernikahan tidak akan dilangsungkan.
Karakter tokoh yang santun dan religius. Digambarkan dengan sangat sempurna oleh tokoh Mariamin yang begitu santun, murah hati, dan juga religius. Aminu’ddin pun tak kalah sempurna. Santun, taat beragama, pekerja keras, juga patuh pada orangtua bahkan dalam urusan pasangan hidup sekaligus. Hal ini sebenarnya merupakan gambaran konkret orang-orang jaman dulu yang masih tidak direcoki modernitas-modernitas yang setuju tidak setuju, telah mengikis moral bangsa Indonesia yang pada dasarnya merupakan manusia dengan rasa sosial yang tinggi, humanis, religius, ramah, pekerja keras, santun, dan berbagai sifat-sifat terpuji lainnya. Saya sendiri-pun merasakan sekali bagaimana berbedanya karakter orang-orang jaman saya kecil dulu (kalau baca buku PPKN atau Bahasa Indonesia pasti tahu bagaimana santunnya gambaran orang Indonesia) dengan orang-orang jaman sekarang yang lebih individualis dan apatis. Rasanya saya nyaris tak mendengar ada gotong royong yang dilakukan untuk membersihkan kampung atau membangun rumah.
Alur cerita yang tragis. Hal ini sudah bisa dibaca dari judul novel. Azab dan Sengsara. Tidak ada happy ending, as usual. Penulis dengan santainya membunuh karakter utama yang saat ini justru diharamkan dalam dunia ‘pernovelan’. Hehe.... Oh ya, satu hal yang saya kritisi dari judul novel adalah ketidakterkaitannya dengan isi yang, sebut saja, masa Mariamin si perempuan baik-baik itu dapat azab? Kalau sengsara sih iya. Dan selain azab yang menimpa ayah Mariamin, tidak ada lagi azab-azab lain yang terkait dengan tokoh utama dalam novel ini. hehehe....
Penggunaan Bahasa Melayu. Hal ini tak terlepas dari banyaknya penulis zaman tersebut yang berasal dari Sumatera, sebut saja Merari Siregar, HAMKA, Tulis Sutan Sati, dan Marah Roesli. Dibanding Sitti Nurbaya, Bahasa Melayu yang dipakai dalam Azab dan Sengsara lebih mudah difahami. Dan saya mencatat, hanya sedikit kosakata Bahasa Melayu yang (menurut saya) jarang dalam Bahasa Indonesia saat ini (kecuali dalam bahasa daerah). Seperti: Masygul (murung, susah), ruyup (mengantuk, hari yang beranjak malam), bengkalai (terlantar), ranggah (memetik buah dengan tongkat/sampai habis), Tuhan sarwa sekalian alam (Tuhan seru sekalian alam), lamun (namun), fiil (perbuatan), khizit, pokrol bambu (pembela perkara dalam pengadilan yang tidak menempuh pendidikan tinggi), garipir, kudung (terpotong pada ujungnya, kerudung), tiris (bocor), berabung, malap (cahaya yang tidak terang), pimping, salaian (para-para di atas dapur, alat untuk menyalakan tungku), juadah (penganan dari ketan), air kahwa (kopi), kerani (pegawai rendah), gamit (menyentuh dengan ujung jari), cambung (mangkuk cekung), setelempap (ukuran selebar telapak tangan), sebulu, bumiputra (pribumi), jaiz (boleh), bidai (jalinan bidai/bambu), dan bang (adzan). Selain itu, tentu saja penggunaan syair dan pantun juga merupakan ciri khas karya sastra berbahasa Melayu yang juga terdapat dalam novel ini meskipun tidak banyak seperti yang ada pada novel Sitti Nurbaya.
Saya fikir review saya kali ini sudah cukup panjang. Maka dari itu, ada baiknya saya akhiri sekarang karena dikhawatirkan ulasan saya untuk novel selanjutnya malah tidak jadi ditulis karena semua fikiran sudah terkuras untuk review Azab dan Sengsara. Hehe... Yang jelas, novel-novel Indonesia klasik amat baik untuk dikonsumsi semua golongan karena berisi nilai-nilai kebaikan yang saat ini sudah terkikis dan nyaris habis. Marilah kembali menjadi masyarakat Indonesia yang menjunjung norma, budaya, dan sikap ketimuran tanpa out of date terhadap perkembangan jaman modern. ^_^
Oh ya, sebelum kelupaan, ada satu kutipan favorit saya di novel ini yang berupa monolog cukup panjang.
"Pada waktu dahulu sudah tentu saya mendapat pemeliharaan yang senang, kalau saya sakit," kata perempuan itu dalam hatinya. "Akan tetapi sekarang, aduh, siapakah yang kuharapkan lagi? Seorang pun tak ada yang melihat saya, demikianlah rupanya manusia itu di dunia ini. Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat; bila kita jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang karib itu menjauhkan dirinya. Akan tetapi Allah pengiba, anakku sudah besar dan cakap memelihara saya pada waktu sakit. Cinta orang tua yang kusimpan baginya, dibalasnya dengan kasih sayang anak kepada orang tuanya. Demikianlah cinta Riam kepada saya. Kalau ia pergi ke ladang atau ke sawah, selamanya ia mencari pembawaan akan menyenangkan hatiku, meskipun yang dibawanya itu tiada seberapa harganya; seperti tadi cuma kol dan sayur-sayuran yang dibawa untuk saya, karena telah lama tak ada nafsuku makan. Sayur yang direbus anakku itu, tentu lebih sedap nanti kumakan, lebih sedap dari sup daging atau ayam waktu hari kesukaanku, sungguhpun tak enak dirasa lidahku nanti, akan tetapi lezat juga pada perasaan hatiku. Mariamin, Mariamin, doakanlah kepada Allah, biar saya lekas sembuh dan lama hidup, supaya saya dapat menyenangkan hidupmu dengan adikmu. Kalau tiada supaya saya dapat menyenangkan hidupmu dengan adikmu. Kalau tiada demikian, siapakah yang akan mencarikan nafkah untukmu berdua? Kalau induk ayam itu mati, siapakah lagi yang mengaiskan makanan untuk anaknya yang kecil-kecil itu? Bila hari hujan, sayap siapakah lagi tempat mereka berlindung, supaya jangan mati kedinginan?"
Profile Image for Faiz • فائز.
365 reviews3 followers
February 14, 2025
Novel Azab dan Sengsara, karya Merari Siregar ditanggapi sebagai pelopor kepada sastera moden Indonesia kerana bercirikan peralihan daripada hikayat kepada roman. Pencirian ini bukanlah hal yang baharu kerana sebahagian sarjana di Malaysia juga mempunyai tanggapan yang sama apabila menisbahkan Abdullah Munsyi sebagai “Bapa Kesusasteraan Moden”—Hikayat Abdullah yang dikarang oleh beliau tidak menggunapakai bentuk hikayat, sebaliknya satu cacatan yang bersifat realisme dan bebas daripada unsur mistik dan tahyul, dan inilah yang dianggap “moden”! Namun, andai boleh ditamsilkan, Azab dan Sengasara lebih persis kepada Hikayat Faridah Hanom, yakni novel Melayu pertama yang dikarang oleh Syeikh al-Hadi. Indonesia juga terlebih dahulu mencapai “kemodenan” kerana Hikayat Faridah Hanom diterbitkan (atau dicetak kali pertama dalam tulisan Jawi) pada tahun 1925, sedangkan Azab dan Sengsara adalah pada 1920.

Novel ini mengangkat dua tokoh utama iaitu Mariamin (seterusnya Riam) dan Aminu’ddin, berlatarbelakangkan Sipirok, Tanapuli Selatan, Sumatera Utara. Menurut pengarang, apa yang dikisahkan di dalam novel ini ialah satu rakaman kehidupan budaya dan adat orang Batak yang benar-benar berlaku, namun diubah suai agar sesuai untuk diceritakan. Membaca novel ini mengingatkan saya pada karya-karya HAMKA yang begitu lantang dan keras sekali mengkritik adat Minangkabau.

Antara beberapa pengetahuan baharu yang saya peroleh berkenaan budaya orang Batak melalui novel ini ialah:

• Mereka begitu kuat berpegang kepada tradisi.
• Perkahwinan di antara sepupu adalah digalakkan.
• Orang Batak menggunakan gelaran “Sutan”. Pada awalnya, gelaran ini digunakan oleh orang Minang, namun disebabkan kerencaman yang terhasil daripada penghijrahan, akhirnya gelaran ini turut meresap ke dalam orang Batak.
• Kebiasaannya, orang Batak mempunyai dua nama. Pertama, nama sebenar. Kedua, nama gelaran yang diperoleh apabila meningkat dewasa kelak, dan banyak lagi.

Meskipun bahasa yang digunakan dalam novel ini tidak begitu jauh berbeza dengan bahasa Melayu, masih ada beberapa perkataan yang membingungkan, misalnya “berperkara”. Keliru juga pada awalnya, namun melalui carian di internet dan membaca lanjut akan novel ini, barulah saya mengetahui berperkara itu ialah perselisihan yang melibatkan mahkamah. Dalam novel ini, perkataannya digunakan seperti berikut: “...dibukalah perkara Sutan Baringin dan Baginda Mulia itu” (h. 104) dan “Berapa besarnya kerugianmu, kalau perkara diperiksa oleh hakim.” (h. 105). Selain itu, istilah “pakrol bambu” juga ialah perkataan baharu buat saya, yang bermaksud orang (seakan-akan peguam tidak bertauliah) yang sering bertengkar dan berdebat.

Alur penceritaan novel ini menggunakan teknik imbas kembali. Hampir separuh novel menceritakan perihal masa lalu, barulah kemudian latar penceritaan kembali pada masa sekarang (real time). Novel ini juga menggunakan naratif daripada seorang penglipur lara (entah wujud entah tidak istilah naratif ini), bermaksud cerita disampaikan oleh seorang pencerita, bukannya pembaca membaca sendiri secara langsung; ada perantara.

Di akhir novel, mungkin sebahagian pembaca merasakan bahawa Aminu'ddin masihlah orang yang terhormat kerana memohon maaf dan menyatakan kekesalannya melalui surat, namun saya merasakan beliau ialah seorang yang jahat, kejam dan zalim. Tatkala Riam—seorang wanita lemah yang mengharapkan ihsan, yang setia menunggu dengan janji yang disimpul mati, Aminu’ddin telah gagal merancang dengan baik sehingga memungkinkan kecelakaan kepada Riam. Sikap Aminu’ddin yang pasrah dengan apa yang berlaku, tanpa berusaha dan berfikir dengan baik-baik, jelas menunjukkan kelemahan, kehinaan dan kerendahan peribadinya sebagai seorang lelaki.

Perkara lain yang mendorong kepada kisah tragis cinta Riam dan Aminu’ddin ialah kebodohan Baginda Di Atas (ayah Aminu’ddin) yang mempercayai ramalan dukun (datu). Perdukunan dianggap sebagai adat dan dijadikan kebenaran mutlak. Maka, seharusnya mereka yang berakal harus berani merombak kejahilan yang dijadikan adat agar tidak beroleh kecelakaan kelak.

Dalam novel ini ada juga mempersoalkan boli atau sere (dalam bahasa Melayu, disebut hantaran perkahwinan) seperti yang tercatat dalam halaman 141: “Aturan itu pun sangat memberatkan, sudah seharusnya dihapuskan, kalau susah, dientengkan. Banyaklah terjadi yang sedih-sedih disebabkan boli itu. Umpamanya, seorang anak muda yang tiada berada, haruskah ia tinggal bujang selama hidupnya, karena ia tiada mempunyai uang 200 rupiah di kantungnya?” Rupa-rupanya, perihal hantaran yang tidak masuk akal ini telah disinggung sejak 100 tahun yang dahulu.

Rumusan akhir daripada novel ini, Merari Siregar wajar ditanggapi sebagai pengarang indonesia yang terawal dalam mengkritik adat-adat yang berlaku melalui penulisan novel. Keberanian beliau dalam mempertikaikan perdukunan, mas kahwin yang membebankan dan adat yang terlalu mencengkam hingga mencelakakan, wajar dipuji.
Profile Image for nana.
71 reviews6 followers
May 15, 2023
Novel ini terbit pada Angkatan Balai Pustaka atau sekitaran 1920-an. Buku ini berkisah mengenai latar budaya yang terjadi pada masyarakat zaman itu−khususnya masyarakat Sipirok, Tapanuli. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh tempat kelahiran penulis.

Buku ini adalah semacam kritik yang dilayangkan oleh penulis terhadap adat dan kebiasaan orang-orang pada masa itu yang terlalu kuat adat dan tidak mengikuti zaman, sehingga menyebabkan kesengsaraan dan kepedihan yang tak berkesudahan−utamanya pada kaum perempuan.

Novel ini berkisah mengenai Mariamin dan Aminuddin, yang sejak kecil sudah bersahabat dan saling jatuh cinta. Mariamin dikisahkan sebagai seorang perempuan yang bersahaja, lemah lembut, dan paras eloknya. Mariamin adalah keturunan bangsawan, hanya saja karena ketamakan yang diperbuat oleh Sutan Baringin (ayahnya) akhirnya membawa kesengsaraan dan kemelaratan kepada keluarga Mariamin. Sementara Aminuddin adalah seorang yang pekerja keras, cerdas, dan laki-laki yang berbudi baik. Mariamin adalah salah seorang anak bangsawan yang terpandang dan terkenal di daerah tersebut.

Singkat cerita, keinginan Aminuddin untuk menikahi Mariamin yang dicintainya ternyata bertentangan oleh keinginan kedua orangtua mereka. Ayahnya ingin menikahi Aminuddin dengan orang yang terpandang, sebab apa jadinya anak sulungnya jika menikahi Mariamin yang miskin seantero Sipirok. Sehingga, kisah cita Aminuddin dan Mariamin pun harus kandas di tengah pertentangan restu dan juga adat.

Mariamin kemudian dinikahkan ibunya oleh Kasibuan−laki-laki yang asal usulnya tidak jelas dan tidak diketahui. Pernikahan ini diterima oleh Mariamin dengan rasa keterpaksaan, akibat ibunya yang gelisah karena anak gadisnya belum dipersunting, sehingga ia takut Mariamin akan jadi olok-olokan dan buah bibir masyarakat.

Sayang beribu sayang, pernikahan yang diharapkan akan membawa perubahan dan nasib baik justru menjadi buah mala petaka. Kasibuan tidak menyayangi Mariamin, terkena penyakit kelamin, dan juga kerap menyiksa Mariamin, hingga membuat Mariamin lari dan mengajukan perceraian.

Ada banyak nasihat-nasihat hidup yang dinarasikan oleh penulis dalam buku ini, sebagaimana gaya penulis angkatan Balai Pustaka yang sering menarasikan nashihat moril. Sepanjang cerita, ada kritik yang dilayangkan oleh penulis terkait budaya pernikahan paksa. Anak dipaksa harus menurut oleh pilihan orangtua karena adat dan juga narasi patuh dan taat. Jika menentang, berarti anak durhaka, dan bertentangan dengan kitab sehingga akan mendapat azab dan sengsara. Budaya Boli (mas kawin) juga tak luput dari kritik. Kisaran 200-400 perak (pada zaman itu) serta kerbau, lembu, dan perhiasan dianggap memberatkan pihak laki-laki. Seringnya perempuan jadi direndahkan akibat budaya tersebut, karena laki-laki merasa telah membeli perempuan. Sehingga, perempuan akhirnya harus patuh dan taat pada suami, menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi dan menyenangkan hati suami.

Pernikahan paksa bagi penulis sudah harus dihilangkan. Karena pernikahan harus dilandasi perasaan kasih dan cinta, serta pernikahan itu milik anak-anaknya, bukan orangtuanya. Ada narasi yang menyebutkan bahwa adat yang baik-baik harus dilestarikan, sedang yang buruk mustilah ditinggalkan. Pernyataan ini mengindetifikasikan bahwa pernikahan paksa seringnya membawa bencana dan merugikan pihak perempuan, karena perempuan akan menanggung beban dan kesusahan yang lebih berat dibandingkan laki-laki. Masih pula ditambah oleh praktik budaya patriarki yang kental, perempuan hanya dibebankan tanggung jawan melayani dan menyenangkan hati suami serta segala remeh-temeh dapur. Sedangkan laki-laki bisa melalangbuana dan berhak atas banyak hal serta hidup seorang perempuan.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini adalah bahasa Indonesia yang kemelayu-melayuan. Nilai plus dalam buku ini adalah, narasi dan pendeskripsian cerita yang rapih, runut, dan mudah untuk dimengerti. Sebab, seringnya novel yang terbit pada angkatan 20-an, sukar untuk dimengerti karena penggunaan bahasa yang sering kali sudah tidak relevan.

Selain itu, karakteristik khususnya lagi adalah novel ini masih menggunakan ptotagonist-sentris, di mana tokoh baik akan dijunjung setinggi-tingginya dan terkesan nampak tidak ada celah. Karakter-karakter yang dimunculkan juga dideskripsikan sebagai seorang yang taat pada agama, rajin sholat, dan patuh pada kedua orangtua dan adat (meskipun seringkalinya hal tersebut salah, tetapi tokoh tak punya pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri).

Untuk yang baru atau ingin mengeksplor buku-buku angkatan Balai Pustaka, novel ini layak sekali untuk dibaca. Aku sangat merekomendasikan buku ini.
Profile Image for Zacky Putra.
11 reviews
Want to read
December 5, 2019
Tokoh sentral dalam kisah cinta ini bernama Mariamin dan Aminu’ddin. Keduanya berkerabat dekat tetapi berbeda nasib. Aminu’ddin merupakan anak kepala kampong, seorang bangsawan yang kaya raya dan disegani banyak orang. Sementara itu Mariamin tumbuh di lingkungan keluarga yang miskin. Sejak kecil keduanya sudah berkenalan dan bermain bersama. Beranjak dewasa, Aminu’ddin dan Mariamin merasakan getaran cinta yang kuat. Aminu’ddin berjanji akan menikahi Mariamin. Niatnya ini diutarakan pada ibu dan ayahnya, Baginda Diatas. Sang ibu setuju sebab ia menganggap Mariamin masih keluarganya dan dengan menikahkannya dengan Aminu’ddin, ia bisa menolong kemiskinan gadis itu. Namun, pendapat berbeda datang dari ayah Aminu’ddin yakni Baginda Diatas. Ia diam-diam tidak menyetujui rencana Aminu’ddin sebab ia beranggapan pernikahan tersebut tidak pantas dan akan menurunkan derajat bangsawannya.


Untuk mewujudkan niatnya, akhirnya Aminu’ddin berangkat ke Medan untuk mencari kerja. Saat di Medan, ia masih rajin berkirim kabar dengan Mariamin. Sampai suatu waktu, ia akhirnya mengirim berita ke kampung bahwa ia sudah siap untuk berumahtangga dengan wanita pujaannya tersebut. Sayangnya, Baginda Diatas, ayah Aminu’ddin tidak setuju. Ia menyusun rencana agar isterinya tidak menyetujui keinginan Aminu’ddin. Caranya, ia membawa isterinya ke dukun sewaan dan pura-pura meramal jodoh terbaik untuk Aminu’ddin, anaknya. Sang dukun berkata bahwa jodoh Aminu’ddin bukanlah Mariamin melaikan seorang gadis bangsawan di desa mereka. Ibu Aminu’ddin pun percaya dan setuju berangkat ke Medan dengan membawa gadis bangsawan yang hendak dinikahkan dengan Aminu’ddin.

Saat mereka tiba di Medan, Aminu’ddin kaget sebab keputusan orangtuanya menjodohkan dengan gadis tersebut memukul jiwanya. Tapi ia tak bisa menolak sebab saat itu ia terikat adat busaya yang harus selalu patuh pada keputusan orang tua. Akhirnya Aminu’ddin mengirim surat kepada Mariamin sambil memohon maaf karena ia terpaksa menikahi gadis lain meskipun tanpa cinta. Mendengar kabar terebut, Mariamin sangat sedih. Ia bahkan sempat sakit. Setahun berselang, ibu mariamin akhirnya menerima pinangan seorang laki-laki bernama Kasibun. Ia berharap pernikahan tersebut akan mengobati luka Mariamin. Akan tetapi apa yang diniatkan ibu Mariamin tidak terjadi. Pernikahan tersebut malah menambah penderitaan lain bagi Mariamin. Sebab, ternyata Kasibun memiliki isteri yang diceraikannya dengan alasan ingin menikahi Mariamin.

Selanjutnya, Kasibun membawa Mariamin ke Medan. Mereka mengalami hubungan suami siteri yang compang sebab Mariamin tidak ingin melakukan hubungan intim dengan suaminya. Alasannya, ternyata Karibun memiliki penyakit kelamin yang bisa menular. Mendapat penolakan tersebut, Karibun kalap dan sering menyiksa isterinya, Mariamin. Penderitaannya semakin bertambah sejak Aminu’ddin bertamu ke rumahnya suatu waktu. Melihat reaksi Mariamin yang tak biasa, Karibun pun membaca sesuatu yang lain dan kemudian cemburu. Semakin hari ia semakin sering menyiksa isterinya.

Pada akhirnya Mariamin tak sanggup lagi dan akhirnya melaporkan suaminya, Karibun, ke polisi. Akhirnya Karibun ditetapkan bersalah dan diwajibkan membayar denda serta melepaskan Mariamin tak lagi jadi isterinya. Mariamin akhirnya kembali ke desanya dan hidup menderita di sana. Ia sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia dalam derita.

hubungan antara judul dengan isi novel tersebut berkesinambungan karena novel ini menceritakan bagaimana kahidupan percintaan seorang gadis yang pernikahannya tidak membawa pada hidup yang bahagia tetapi justru pada kesengsaraan

Bahasa yang digunakan masih khas Melayu, sehingga untuk generasi muda mungkin novel ini sedikit membosankan. Tapi bagi mereka yang gemar menyimak sejarah sastra, sinopsis novel yang satu ini tentu menarik disimak. Novel ini kabarnya merupakan novel sastra pertama di Indonesia terlepas dari tahun berapa Balai Pustaka didirikan.
23 reviews
November 6, 2019
Merari siregar lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada tanggal 13 Juli 1896. Merari adalah sastrawan Indonesia yang terkenal pada angkatan Balai Pustaka. Merari Siregar pernah bersekolah di Kweekschool Oost en West di Gunung Sahari, Jakarta. Pada tahun 1923, dia bersekolah di sekolah swasta yang didirikan oleh vereeniging tot van Oost en West, yang pada masa itu merupakan organisasi yang aktif memperakiekkan politik etis Belanda. Setelah lulus sekolah Merari Siregar bekerja sebagai guru bantu di Medan. Kemudian dia pindah ke Jakarta dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Terakhir dia pindah ke Kalianget, Madura, tempat ia bekerja di Opium end Zouregie sampai akhir hayatnya.
Novel Azab dan Sengsara karangannya merupakan roman yang pertama diterbitkan oleh Balai Pustaka. Azab dan Sengsara adalah sebuah novel tahun 1920 yang ditulis oleh Merari Siregar dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit besar di Indonesia kala itu. Novel ini mengisahkan sepasang kekasih, Aminuddin dan Mariamin, yang tidak dibolehkan menikah dan menderita. Novel ini dianggap sebagai novel modern pertama dalam bahasa Indonesia.
Azab dan Sengsara ditulis oleh Merari Siregar untuk "menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Novel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis, lalu dimodifikasi supaya lebih jelas. Novel ini diduga ditulis atau disunting agar memenuhi standar editorial Balai Pustaka.
Roman Azab dan Sengsara sendiri dianggap sebagai pemula dalam kehidupan prosa Indonesia Modern. Sebab roman ini merupakan roman yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka. Roman tersebut terbit saat Bangsa Indonesia mengalami penjajahan. Namun, jalan cerita di dalamnya tidak menyinggung masalah penjajahan sedikit pun. Melainkan membahas tentang adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat. Dimana roman Azab dan Sengsara merupakan penggambaran bagaimana adat istiadat dan budaya yang berlaku di kampung Sipirok.
Novel ini juga membuktikan bahwa karya sastra angkatan Balai Pustaka menggambarkan tema pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda. Seperti yang digambarkan pada roman tersebut berupa perbedaan persepsi antara Ayah Aminuddin (Baginda Atas) yang menginginkan menantu yang sederajat dengan keluarganya, sedangkan Aminuddin menginginkan pernikahan dengan wanita yang dicintainya, tanpa memandang harta dan kekuasaan. Pertentangan tersebut terjadi sebab golongan tua mempertahankan kebenaran adat yang ada, sedangkan golongan muda yang menganggap bahwa tidak semua adat benar dan membawa kebaikan.
Novel yang satu ini bisa dikategorikan novel klasik terbitan Balai Pustaka. Ia menandai zaman dimana sastra Indonesia masih didominasi penggunaan bahasa melayu yang kental. Adapun tema umum novel yang satu ini adalah kehidupan percintaan seorang gadis yang pernikahannya tidak membawa pada hidup yang bahagia tetapi justru pada kesengsaraan. Novel ini mengangkat konflik zaman dulu yang masih kental dengan adat istiadat. Kebanyakan mereka harus menurut dengan perjodohan orang tua. Bahasa yang digunakan masih Melayu klasik tetapi masih mudah dipahami. Sudut pandang digambarkan bergantian dari setiap tokoh. Alurnya sorot balik. Terutama saat menceritakan kehidupan ayah Mariamin. Cara penulisannya pun dibuat dari sudut pandang penulis hingga terkesan penulis langsung berbicara dengan pembaca.
19 reviews1 follower
Read
November 19, 2019
Novel ini merupakan novel Karya Merari Siregar yang terbit pada Angkatan Balai Pustaka atau Periode 1920-an. Dalam novel Angakatan Balaik Pustaka memiliki karakteristik-karaakteristik yang mencerminkan angkatan tersebut pada tiap-tiap karya sastranya.
Karakteristik yang pertama adalah sebagian besar mengambil tema pokok kawin paksa. Karakteristik ini terdapat dalam Novel Azab dan Sengsara tersebut, yaitu Mariamin yang terpaksa kawin dengan Kasibun walau tidak pernah mengenalnya dan tidak tahu asal usulnya. Mariamin terpaksa melakukan hal tersebut karena ia ingin berbakti kepada ibunya sebagai seorang anak dan tidak mau perawan lagi karena semakin lama umurnya juga semakin bertambah. Aminu’ddin juga bernasib sama dengan Mariamin. Ia terpaksa mau dijodohkan dengan wanita pilihana orang tuanya karena ia juga ingin berbakti sebagai seorang anak.
Karaktersitik sleanjutnya adalah roman yang diciptakan sesuai dengan kondisi masyarakat. Novel ini memang sesuai dengan realita masyarakat pada saat itu, yaitu zaman 1920-an dimana banyak pernikahan bukan atas dasar cinta, melainkan perjodohan. Selain itu, orang-orang zaman dahulu jika ingin menikah juga harus melihat latar belakang keluarga dan kelas sosialnya. Selain itu, zaman dahulu, masyarakat masih percaya dengan ramalan dukun.
Karakteristik ketiga adalah mengungkapkan pertentangan anatara golongan tua dan golongan muda.dalam Novel Azab dan Sengsara, diceritakan jika Aminu’ddin dan Mariamin (pemuda) sebenarnya tidak setuju dengan keputsan dari orang tua mereka yang akan menjodohkan mereka dengan pasangan yang dipilihkan (golongan tua). Namun, mereka terpaksa mengiyakannya karena ingin berbakti kepada orang tua mereka. Hal ini sesuai dengan karakteristik ketiga.
Keempat adalah karya yang muncul didominasi bentuk roman. Seperti halnya novel ini, yaitu berbentuk roman pula. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. Novel ini berbahasakan Melayu, seperti contohnya pada kutipan “semalam-malaman itu Sutan Baringin tiada pulang, dan istrinya tidur dengan kemasygulan” (halaman 55). Novel ini juga menggunakan bahasa daerah setempat, contohnya seperti “Marilah kita naik, Angkang!”(halaman 3). Angkang disini merupakan panggilan abang dari daerah Sipirok.
Karakteristik keenam adalah karya yang dihasilkan diharapkan bisa mendidik. Dalam novel ini, terdapat salah satu pesan moral yaitu, janganlah bersifat tamak dan rakus apalagi terhadap saudara sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Sutan Baringin. Ia tidak ingin membagikan harta warisan keluarga kepada saudaranya sendiri padahal saudaranya itu juga memiliki hak sebagai ahli waris. Akibat dari kelakuan Sutan Baringin tersebut, ia dan keluarganya jatuh miskin. Karakteristik terakhir adalah adanya nota rinkes. Seperti dalam novel ini, dari sudut tema, dan ide-ide masih belum bervariasi karena adanya batasan-batasan nota rinkes tadi.
20 reviews
December 5, 2019
Novel karya Merari siregar ini berkisah tentang kehidupan seorang wanita muda di kampung Sipirok. Dimana dikisahkan seorang wanita elok paras dan budinya bernama Mariamin sedang berkasih-kasihan dengan seorang lelaki bernama Aminuddin yang memiliki perangai yang baik pula. Hingga suatu hari Aminudin memutuskan untuk merantau ke Deli untuk memperoleh harta yang digunakannya untuk meminang Mariamin. Dibalik niat baik itu, Aminuddin tak tahu bila keputusannya akan menimbulkan sengsara diantara Aminuddin dan Mariamin.

Namun, tak disangka oleh Aminuddin, ayahnya membawa perempuan lain pilihan ayahnya. Pikir Ayah Aminuddin ialah menginginkan menantu yang terpandang juga, tentu dari kalangan yang sama dengan keluarga Aminuddin bukan Mariamin yang berasal dari keluarga tak mampu itu. Kembali kepada Mariamin yang mendengar kabar pernikahan Aminuddin dengan wanita lain pun membuat hancur hati Mariamin. Mariamin mencoba ikhlas dan tabah dengan apa yang sudah terjadi. Hingga setelah beberapa waktu Mariamin dipinang oleh seorang lelaki yang lebih tua darinya bernama Kasibun. Tanpa diketahui Mariamin, sebenarnya Kasibun memiliki perangai yang buruk dan kasar.

Mariamin harus menerima fakta bahwa suaminya memiliki penyakit yang menular. Penyakit tersebut pasti didapatkannya dari pergaulan kota yang bebas. Hingga Mariamin pun menolak untuk disetubuhi oleh Kasibun, sebab tak mau mendapatkan kesengsaraan diakhirnya. Namun, Kasibun tetap memaksa Mariamin melakukannya, dan Mariamin hanya bisa menolak dengan halus dan berakhir mendapatkan pukulan dan amarah dari Kasibun. Mariamin pun pergi ke polisi dan menggugat Kasibun. Dengan bukti yang ada pernikahan mereka pun kandas. Mariamin pun kembali ke negerinya. Sebab mendapat penderitaan yang bertubi-tubi Mariamin pun sakit-sakitan hingga ia meninggal dunia.

Roman Azab dan Sengsara merupakan cerita yang ada atau terjadi di suatu ruang lingkup masyarakat. Roman tersebut digambarkan terjadi di Negeri Sipirok. Pernikahan yang tidak direstui orang taua dan perjodohan merupakan realita yang terjadi hingga saat ini.

Dalam roman Azab dan Sengsara tentu memiliki nilai-nilai yang bisa dipetik, baik nilai moral, sosial, maupun budaya yang ada di dalam roman ini. Dalam roman tersebut nasihat terkadang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung atau disampaikan oleh tokoh-tokoh roman Azab dan Sengsara.

Dalam roman Azab dan Sengsara, pembaca dapat memperoleh pembelajaran yang bisa diteladani dan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Pembelajaran tersebut berupa bagaimana sikap dan tingkah laku yang seharusnya dimiliki seseorang dalam hidup bermasyarakat. Kemudian sikap seorang anak yang harus selalu berbakti kepada orang tuanya dan mencoba hidup mandiri, tanpa membawa-bawa harta dan kekuasaan milik orang tua. Serta bagaimana seorang manusia hendaknya selalu bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan dan menjauhkan diri dari segala sikap serakah dan tamak.
Profile Image for Nila Mahardika.
20 reviews
November 5, 2019
Pada masa 1920-an bangsa Indonesia masih berada dalam situasi tekungkung dalam sistem Kolonialisme penjajah dan adat istiadat yang masih begitu kental. Tidak semua orang bebas mengutarakan mendapat, menyampaikan kehendak maupun sekadar memeroleh hak yang adil dan seharusnya didapatkan. Seperti, pelayanan kesehatan dan pendidikan.
Namun, dalam novel ini, diceritakan bahwa hampir setiap hari Aminuddin dan Mariamin berangkat sekolah bersama. Pada masa itu tidak semua orang berhaka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Seperti yang disampaikan oleh Lestari dan Sulistyorini (2010 : 23) menuturkan bahwa politik etis dilakukan pemerintah Belanda dengan cara membangun sekolah-sekolah bafi golongan kaum Bumi Putra yaitu para kaum priyayi. Sehingga peristiwa sosial dalam novel tersebut selaras dengan realitas yang ada saat itu. Aminuddin dan Mariamin merupakan anak dari keluarga bangsawan, maka tidak heran apabila pada masa itu mereka sudah bisa mendapatkan pendidikan dan pembelajaran disaat anak-anak yang lain seusianya ikut bertempur di medan perang secara langsung dan juga ada yang menjadi pekerja paksa kkorban sistem kolonialisme masa itu.
Karakter lainnya dari roman dan novel 20-an yaitu terdapat peristiwa kawin paksa yang mana anak-anak itu harus menikah dengan wanita ataupun pria pilihan orangtua dengan mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Hal itu masih terjadi juga dalam roman Azab dan Sengsara ini ketika Aminuddin hendak melamar Mariamin namun Baginda Diatas tidak setuju sebab Mariamin dari keluarga miskin serta sejarah buruk sang Ayah yang dianggap memalukan serta meyakini prediksi dari seorang dukun tentang bala buruk yang dibawa MAriamin jika ia menikah dengan Aminuddin. Kejadian itu sangat menunjukkan jika strata sosial msyarakat, kedudukan, gelar, dan sejenisnya sangat diperhatikan dan menjadi bagian penting dalam penentuan jodoh menurut orangtua.
Selain itu sistem kepercayaan pada masa itu masih diliputi oleh keyakinan akan kekuatan yang aslnya di luar Sang Pencipta. Hal ini yang menciptakan perselisihan dan pertentangan antara Aminuddin dan Bagianda Diatas Ayah Aminuddin sangat berpegang teguh kekuatan berbau klenik sehingga ia begitu meyakini apa yang diucapkan oleh dukun itu. Hingga menyebabkan Aminuddin dan Mariamin tidak dapat bersatu.
Kisah Aminuddin dan Mariamin dalam cerita yang berjudul Azab dan Sengsara ini tergolong dalam jenis roman. Sesuai dengan pernyataan Siswanto (2013 : 128) menjelaskan bahwa roman menceritakan tokohnya mulai dari lahir sampai meninggal dengan cukup rinci tingkah laku tokoh, peristiwa, tempat dan waktu terjadinya.

20 reviews1 follower
November 11, 2019
Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar bertemakan tentang Kawin Paksa. Ketika perjodohan anak muda masih ditentukan oleh orang tua mereka. Cinta yang tak sampai antara kedua anak muda (Aminuddin dan Mariamin), karena rintangan orang tua. Mereka saling mencintai sejak di bangku sekolah, tetapi akhirnya masing-masing harus kawin dengan orang yang bukan pilihannya sendiri. Pihak pemuda (Aminuddin) terpaksa menerima gadis pilihan orang tuanya, yang akibatnya tak ada kebahagian dalam hidupnya. Pihak gadis (Mariamin) terpaksa kawin dengan orang yang tak dicintai, yang berakhir dengan penceraian dan Mariamin mati muda karena merana. Isi novel ini juga sudah tidak lagi menceritakan hal yang fantastis dan istanasentris, melainkan lukisan tentang hal-hal yang benar terjadi dalam masyarakat yang dimintakan perhatian kepada golongan orang tua tentang akibat kawin paksa dan masalah adat. Merari Siregar sendiri membuat novel ini karena ia menjumpai kepincangan-kepincangan, melihat keadaan suku bangsanya yang tidak sesuai dengan tuntunan zaman khususnya mengenai adat, misalnya kawin paksa yang terdapat dalam masyarakat lingkungannya. Hati kecilnya ingin mengubah cara pandang kurang baik khususnya orang-orang di daerah Sipirok, karena ia dilahirkan di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara pada tanggal 13 Juli 1896. Karya sastra yang muncul pada zaman Balai Pustaka ini juga masih terpengaruh oleh keadaan sekitar atau budaya di lingkungan masyarakat penulis. Akan tetapi isi dan bentuknya sudah modern. Pemodrenan ini dimungkinkan karena penulis bergaul dengan karya sastra barat, khususnya sastra belanda. Karena novel Azab dan Sengsara muncul ketika Belanda sedang melaksanakan politik etisnya. Hal itu terlihat dari kesadaran individu yang tercermin pada kemandirian tokoh-tokoh cerita. Tokoh-tokoh cerita ingin menentukan nasibnya sendiri tanpa ketergantungan pada lingkungan dan ikatan masyarakat. Kemandirian tokoh-tokoh itu dapat dilihat dalam novel Azab dan Sengsara seperti yang tampak pada tokoh utama Mariamin. Kesadaran tokoh utama Mariamin terlihat ketika ia memotong penderitaan yang menimpa dirinya akibat kawin paksa lewat pengajuan cerai.
30 reviews1 follower
November 5, 2019
Novel Azab dan sengsara merupakan novel yang diterbitkan pada periode balai pustaka. Pada novel ini menceritakan tetang kesengsaraan manusia yang bernama Aminudin yang tertimpa banyak kesengsaraan. Tema yang diangkat oleh sastrawan yang satu ini merupakan tema sosial yang dilihat dari segi kehidupan bersosial pada zaman itu.
Sesuai dengan karakteristik yang ada pada periode balai pustaka yang masih menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa pokok dalam segala hal. Serta masih menggunakan syair sebagai sara berkomunikasi dan juga masih menggunakan bahasa melayu yang asli.
Dalam beberapa novel dan roman yang terbit di periode balai pustaka seringnya menggunakan tema kawin paksa, akan tetapi sastrawan wanita yang satu ini cenderung memilih tema yang berbeda dari yang lainnya. Memang tidak dipungkiri apabila dia menggunakan tema yang lain, selagi masih bisa diterbitkan dan tidak menyalahi nota ringkes maka karya tersebut tidak memiliki masalah sama sekali.
Tema yang diangkat oleh sastrawan pada periode ini cenderung latah, sehingga sulit diidentifikasikan ciri khas bagi per individu sastrawan. Selin itu sastrawan yang ada seringnya menggunakan tema yang sama dalam hal membuat karya sastrwa, entah memang disengaja ataupun tidak mereka secara mayoritas menggunakan kawin paksa sebagai salah satu tema karya sastra yang banyak digunakan pada masa ini.
Pembahsan yang memiliki jalan yang sama serta klise sering membuat pembaca merasa bosan, serta bahasa yang tidak secara lugas disampikan juga merupakan salah satu hambatan yang dimiliki.jadi tidak semua orang akan menyukai sesuatu hal yang kuno terutama mengenai bacaan yang merupakan sumber dari kehidupan ini.
Serta presepsi yang dibangun dimasyarakat seringkali disalah sartikan oleh sebagaian orang. Seperti paham mengenai roman yang akan diceritakan dalam roman seharusnya sesuai dengan kehidupan dimasyarakat. Apabila kurang sesuai akan memiliki daya tarik yang kurang. Karena notabenya karakter masyarakat yang ada pada balai pustaka cenderung lebih mengutamakan sisi positif hasil dari karya tersebut.
Profile Image for Widodo Aji.
21 reviews2 followers
November 29, 2019
Azab dan Sengsara adalah karya sastra yang berupa roman adat dan psikologis. Roman ini ditulis oleh Merari Siregar dan diterbitkan pertama kalinya oleh Balai Pustaka pada tahun 1920. Roman ini dianggap sebagai roman pertama Indonesia. Roman Azab dan Sengsara karya Marari Siregar dianggap sebagai pemula dalam kehidupan prosa Indonesia Modern. Novel Azab dan Sengsara ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan Merari Siregar sejak masa kecil. Dalam novel ini Merari Siregar sering menyisipkan nasihat-nasihat langsung kepada pembacanya. Nasihat ini tidak ada hubungannya dengan kisah tokohnya karena maksud pengarang menyusun buku itu sebetulnya untuk menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik kepada bangsanya.
Novel ini mengangkat konflik-konflik pada zaman dahulu, yaitu tentang permasalahan adat yang masih kental. Contoh daripada permasalahan-permasalahan tersebut seperti adanya kawin paksa atau perjodohan secara sepihak, kemudian ada pertentangan antara golongan tua dan golongan muda. Salah satu contoh pada novel azab dan sengsara ini adalah orang tua Aminudin yang tidak menyetujui keputusan Aminudin untuk menikahi Mariamin karena perbedaan status sosial. Dalam novel ini juga, juga diceritakan bagaimana perjuangan tokoh Mariamin untuk membebaskan dirinya dari penderitaan kawin paksa. Kejadian tersebut dapat dilihat pada bagian cerita dari dalam novel tersebut disaat Mariamin berani untuk menggugat cerai suaminya agar ia terbebas dari penderitaan pernikahannya.
Adapun kesesuaian karakteristik dalam novel tersebut dengan karakteristik karya sastra periode 1920-an adalah membahas mengenai tema-tema yang berbau adat, seperti kawin paksa, status sosial, perbedaan bangsa, dan lainnya. Kemudian, adalah mengenai bahasa yang digunakan, yakni bahasa melayu klasik, namun masih dapat dipahami. Dalam novel tersebut juga menunjukkan ada pergantian sudut pandang tiap tokohnya. Cara penulisan dan penceritaannya pun, dibuat dari sudut pandang penulis sendiri sehingga terkesan penulis langsung berbicara dengan pembaca.
Profile Image for Muhammad.
72 reviews33 followers
November 2, 2012
Sebuah karya sastra dengan kisah tragis yang mirip dengan kisah Sitti Nurbaya. Jika Sitti Nurbaya merupakan sebuah hikayat dari ranah Minang, Azab dan Sengsara ini adalah sebuah hikayat dari ranah Batak—dapat kita tebak dari nama penulisnya dan kover buku ini. Kedua buku tersebut memiliki inti cerita yang tidak jauh berbeda, yaitu kisah kasih tak sampai antara dua insan manusia. Sepertinya kisah-kisah seperti itu sempat menjadi tren di masa itu karena kedua buku ini pertama kali terbit dengan rentang waktu yang tidak jauh berbeda (Azab dan Sengsara pada tahun 1920; Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai pada tahun 1922).

Buku ini secara garis besar bercerita tentang kisah kasih antara Mariamin—biasa disebut Riam dalam cerita—dan Aminuddin. Mereka adalah pemuda dan pemudi yang berasal dari kampung Sipirok yang termasuk ke dalam karesidenan Tapanuli. Cerita diawali Aminuddin yang berpamitan dengan Riam karena akan merantau mencari pekerjaan di Deli. Mendengar berita itu Riam menjadi sedih karena mereka akan segera berpisah. Tapi, Aminuddin berjanji jika sukses dalam pekerjaannya nanti dia akan mempersunting Riam. Meskipun rasa sedihnya tidak hilang, hal itu menimbulkan sebuah harapan yang besar di hati Riam. Dan selama perpisahan itu mereka saling bertukar kabar lewat surat. Hingga melalui surat ini pula Aminuddin memberi kabar pada Riam bahwa akan segera mempersuntingnya. Namun, keinginan Aminuddin tersebut tak direstui orangtuanya karena Riam adalah seorang gadis dari keluarga miskin. Hingga Aminuddin pun dijodohkan dengan gadis lain dari keluarga yang lebih tinggi derajatnya.

Seperti yang saya katakan di awal tadi, kisah ini memiliki inti yang sama dengan kisah Sitti Nurbaya. Bedanya jika Sitti Nurbaya dijodohkan dengan Datuk Meringgih karena keterpaksaan demi menyelamatkan orangtuanya—orangtuanya sendiri tidak setuju dengan perjodohan tersebut, di kisah ini justru Aminuddin dijodohkan karena perintah orangtuanya. Kisah asmara antara Riam-Aminuddin dan Sitti Nurbaya-Samsulbahri juga tidak jauh berbeda, mereka sama-sama sudah saling kenal dan bersahabat sejak kecil. Malah antara Riam dan Aminuddin ini memiliki hubungan kekerabatan. Mereka adalah saudara sepupu karena ibu Aminuddin adalah adik kandung Sutan Baringin—ayah Riam. Karena itulah Aminuddin memanggil ayah dan ibu Riam dengan sebutan tulang dan nantulang. Gara-gara ikatan kekerabatan inilah Riam dan Aminuddin sudah dekat dan bersahabat sejak kecil dan hubungan mereka lambat laun berkembang menjadi asmara seperti yang diceritakan di awal kisah ini.

Nah, yang menjadi penyebab utama kegagalan hubungan ini adalah kemalangan yang menimpa keluarga Riam. Pada awalnya keluarga Riam adalah keluarga yang kaya raya karena Sutan Baringin mewarisi harta yang melimpah dari moyangnya. Tapi, karena Sutan Baringin memiliki sifat yang tamak, maka keluarga itu jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang paling dalam. Kemalangan itu diceritakan dalam kisah ini melalui alur flashback. Karena itu alur cerita buku ini berjenis campuran. Adanya alur flashback ini terasa mengganggu. Apalagi yang dikisahkan dalam alur tersebut sampai menghabiskan empat bab! Padahal buku ini hanya memiliki sembilan bab. Jadi hampir separuh cerita buku ini kita diajak untuk ber-flashback ria! Hal ini membuat saya tidak “nyaman” ketika membaca buku ini. Bayangkan saja ketika Anda menonton anime atau film-film kartun Jepang di saat adegan sedang seru-serunya. Kemudian di tengah-tengah adegan itu salah seorang tokoh/karakternya menceritakan kisah masa lalunya. Nah, mengesalkan, kan? Itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Untungnya buku ini memiliki penampilan yang tidak kuno-kuno amat. Biasanya buku-buku sastra Balai Pustaka cetakan lama memiliki tampilan isi yang sedikit compang-camping—ukuran font kecil-kecil, line spacing sangat rapat, baris-barisnya pun terkadang banyak yang miring. Tapi, buku ini sudah memiliki tampilan isi yang rapi dan ukuran font yang cukup besar sehingga enak dibaca—mungkin karena buku yang saya baca ini sudah cetakan tahun 90-an. Selain itu, buku ini juga banyak memberikan petuah kehidupan dan pelajaran kebudayaan daerah layaknya karya sastra lama Indonesia lainnya.

Dalam buku ini secara khusus Merari Siregar mengkritik sistem perjodohan yang marak di waktu itu—seperti yang diceritakannya dalam buku ini. Menurutnya sistem perjodohan seperti itu membunuh hak setiap orang untuk memilih sendiri pasangannya. Lha yang menjalani sebuah pernikahan kan si anak, bukan si orangtua. Selain itu dia juga mengkritik salah satu adat Batak yang melarang seseorang untuk menikahi orang lain yang memiliki marga yang sama. Contohnya seperti ini: ada seorang lelaki bermarga Siregar, maka lelaki itu tidak boleh menikahi perempuan dari marga Siregar meski hubungan kekerabatan mereka sudah sangat jauh (artinya nenek moyang mereka yang hidup ratusan tahun lalu yang bersaudara). Sementara itu lelaki bermarga Siregar tadi boleh mengambil istri dari keluarga Harahap meski hubungan kekerabatan di antara mereka masih dekat. Misalnya masih satu nenek, yang artinya nenek si lelaki dari pihak ibu dan nenek si perempuan dari pihak ayah. Jadi mereka beda marga, tapi masih sedarah—yang ini malah diizinkan oleh adat. Menurut Merari Siregar aturan-aturan seperti ini harusnya diubah karena sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman di waktu itu. Dan lewat karyanya inilah dia menyuarakan kitik-kritiknya itu agar hak untuk bebas memilih pasangan bagi setiap insan dapat terwujud di negeri ini.

Karena kritik-kritik, petuah-petuah yang disampaikan, dan ulasan-ulasan tentang kebudayaan Batak yang disampaikan dalam buku ini, saya memberi rating yang lumayan untuk buku ini. Apalagi dengan jalan cerita buku ini tergolong klise. Dari buku ini pula saya jadi belajar dan sedikit memahami budaya Batak. Contohnya ya hal tentang perkawinan semarga tadi. Selain itu saya juga jadi tahu bahwa Tapanuli sebenarnya berasal dari frasa Tapian na Uli yang artinya tepian yang elok. Dan masih banyak lagi hal-hal lain tentang budaya Batak disampaikan di buku ini. Inilah yang saya sukai dan keuntungan dari membaca karya sastra lama Indonesia. Selain kita membaca sebuah hikayat, secara tidak langsung kita juga mempelajari budaya daerah negeri ini yang sangat beragam. Jadi, kenalilah negerimu lewat sastra.
Profile Image for Dian Nur Adha.
9 reviews
November 7, 2019
Novel azab dan sengsara ini menceritakan perbedaan sosial yang bertemakan kawin paksa. Pada saat novel Azab dan sengsara diterbitkan itu sudah masuk di era modern. Karena sudah masuk di era modern maka perjodohan dianggap aneh. Karena bukan jamannya siti nurbaya lagi. Dalam novel ini menceritakan bahwa wanita itu lemah. Padahal bagi masyakarat jaman dahulu, wanita yang bercerai dengan suaminya masih dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Entah mengapa hingga saat ini pun kedudukan janda sebagian masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Padahal era kini, banyak wanita mandiri yang mampu berjuang untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Sayangnya, banyak pula lelaki yang menyepelekan dari status seorang wanita yang sudah bercerai.Apalah bedanya dengan masa kini, bukankah manusia masih menggunakan materi sebagai tolak ukur derajat manusia itu sendiri. Betapa kaum pinggiran disepelekan oleh mereka yang berduit. Pernikahan pun masih banyak yang dilandasi oleh materi. Walaupun kini sudah tak jaman lagi menjodoh-jodohkan anak, tetapi umumnya anak orang kaya hanya akan disetujui pernikahannya oleh kedua orang jika calon menantunya adalah anak dari golongan yang sederajat.
Betapa adat istiadat yang baik perlu kita lestarikan karena itu merupakan warisan nenek moyang kita, tetapi jika dirasa kurang baik dan berfaedah sebaiknya perlu kita pikirkan kembali tentang adat istiadat tersebut.
Displaying 1 - 30 of 74 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.