Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lupus #8

Ih, Syereeem!

Rate this book
Belakangan ini, Lupus lagi parno-parnonya karena baru nonton film horor. Sampai-sampai, dia mau tidur sama Mami aja!

Nah ceritanya, si Lupus mau nganterin Lulu ke rumah temannya demi uang gopek. Tapi ternyata rumahnya di tengah kuburan! Hiiii… Lupus jadi makin ketakutan gara-gara temen Lulu itu ternyata Drakuli yang nyimpen gigi manusia.

Nah lho, hati-hati, Pus. Jangan sampai gigi kamu jadi koleksi selanjutnya. Hihihi…

123 pages, Paperback

First published July 1, 1990

Loading...
Loading...

About the author

Hilman Hariwijaya

113 books219 followers
JAGO NGOCOL SE-INDONESIA
Lahir di Jakarta, tanggal 25 Agustus, bintangnya Virgo, bo! Hilman yang turunan Jasun alias Jawa-Sunda ini punya papa tentara berpangkat kolonel. Mulai ngarang sejak ABG, dengan membuat serial Lupus di majalah HAI yang berhasil mengangat namanya. Ia juga pernah juara ngarang di majalah yang sama. Pernah kuliah di UNAS jurusan Sastra Inggris.

Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya merupakan fenomena dalam dunia penerbitan Indonesia. Lupus#1: Tangkaplah Daku Kau Kujitak, terbit Desember 1986, cetakan pertamanya sebanyak 5.000 eksemplar habis dalam waktu kurang dari satu minggu. Hilman menulis puluhan judul yang meliputi seri Lupus, Lupus ABG, Lupus Kecil, Lupus Milenia, Olga, Lulu, Keluarga Hantu, Vanya, Vladd, Dua Pelangi dan beberapa judul lepas. Beberapa karyanya ditulis bersama Boim,Gusur dan satu bernama Zara Zettira. Tiras total penjualan bukunya mencapai jutaan eksemplar!Jumlah yang luar biasa untuk ukuran Indonesia,mengingat tiras \"normal\" buku lain rata-rata 3.000-5.000 eksemplar,dan itu pun tidak habis terjual dalam waktu satu tahun.

Kisah Lupus menggambarkan gaya hidup remaja. Sarat dengan humor orisinal, terutama unik dalam gaya bahasa dan pilihan kata yang seenaknya. Tapi justru dengan gaya bahasa seperti itulah yang pernah dianggap merusak bahasa Indonesia-Lupus menjadi produk yang khas,disukai dan diakrabi para remaja.

Seri Lupus sudah difilmkan, baik di layar lebar maupun dalam bentuk sinetron. Sedangkan seri Lulu, Olga, Vanya dan Vladd serta beberapa cerita lepas lainnya telah disinetronkan.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
153 (15%)
4 stars
253 (26%)
3 stars
446 (45%)
2 stars
98 (10%)
1 star
20 (2%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for ukuklele.
466 reviews21 followers
December 10, 2024
Di buku ini ada 10 cerita:

1. Drakuli
2. Ih, Syereeem!
3. "Lupluplupusing ya, Lu?"
4. Kelasku Istanaku
5. Emangnya Kita Gak Boleh Protes?
6. Kelas yang Hilang
7. Woro-woro Malioboro
8. Salikha
9. Gila Betul!
10. Kenalin: Olga!

Meski begitu, ada beberapa judul yang sebenarnya satu cerita. Misalkan, cerita 1 & 2 tentang Drakuli, teman Lulu, yang ayahnya punya usaha sewa kuburan. Cerita 4, 5, & 6 tentang kelas Lupus dkk yang kena gusur pihak sekolah karena akan dibuat menjadi pelataran parkir. Cerita 8 & 9 tentang hubungan teman Lupus, Gito, dengan seorang mbak-mbak karyawan Department Store bernama Salikha. Kalau cerita-cerita yang masih sehubungan itu digabung jadi satu judul saja, mungkin terlalu panjang buat sasaran pembaca yang remaja dan berekspektasi mengonsumsi yang ringan-ringan saja.

Cerita favorit saya dalam buku ini adalah tentang Drakuli. Humornya paling kena dibandingkan dengan cerita-cerita sesudahnya. Malah, bisa dibilang, humornya jenis dark humor yang bermain dengan tema-tema gelap seperti kematian.

Contohnya yang ada di halaman 16-17 ini:

Mulanya, kalo ada yang meninggal dan mau dikubur di tanahnya Pak Gali, suka ngasih uang ala kadarnya aja untuk perawatan. Sekarang, setelah Pak Gali belajar ilmu dagang dikit-dikit dari anaknya, ia mulai menggunakan tarif khusus. Malahan kalo ada orang sakit parah dan naga-naganya bakal "isdet", Pak Gali menawarkan pembayaran dengan sistem uang muka. Down payment. "Kalo nggak, nanti keburu diserobot orang. Wah, ntar nggak kebagian kuburan kan repot," alasan Pak Gali.

"Kalo mau yang murah juga ada kok," tawar Pak Gali lagi, "tapi sewanya ya tetap harus kontan, nggak bisa kredit."

Lagian kalo bayarnya kredit, menurut Pak Gali, anggota badan yang dikubur juga dikredit. Mula-mula tangannya, lalu kakinya, dan seterusnya dan seterusnya. Hihihi.


Lelucon paling sip dalam cerita ini yaitu ketika ibu Drakuli yang sudah meninggal tetap membantu perekonomian keluarga dengan menumbuhkan singkong di atas kuburannya, hihihi.

Cerita ini juga sebenarnya merupakan potret sosial, karena mengangkat tentang kehidupan keluarga penggali kubur yang ternyata memprihatinkan. Pemasukannya bergantung pada kematian orang yang hendak dikubur di situ. Tapi kan rada-rada aneh, ya, mengharapkan orang mati demi mendapat nafkah? Tapi begitulah kisah Drakuli. Karena belakangan belum ada orang yang mati lagi, ayahnya belum bisa memberi dia duit bayaran sekolah. Padahal Drakuli sudah menunggak berbulan-bulan. Akibatnya dia jadi malu sekolah. Padahal dia siswa cerdas yang bisa membantu Lulu dalam ulangan Kimia. Karena itulah, Lulu mengajak Lupus ke pekuburan tempat tinggal Drakuli untuk membujuk temannya itu agar masuk sekolah lagi--malam-malam pula, ih, syereeem!

Beberapa cerita lainnya juga diam-diam menyuarakan isu sosial. Cerita tentang penggusuran kelas Lupus, misalnya, secara tidak langsung menyerupai kritik terhadap pejabat yang sewenang-wenang menyingkirkan wong cilik demi kepentingan pribadi. Ada pula cerita tentang Salikha mengungkit sosok pekerja "kerah biru" yang dalam impitan sistem shift berusaha supaya bisa terus mengembangkan diri. Hubungan Salikha dengan Gito yang masih SMA (walaupun cuma lebih muda satu tahun) dan punya mobil sedikitnya menunjukkan kesenjangan antarkelas yang berbeda.

Terlepas dari muatan tersebut, sayang sekali saya merasa cerita-cerita selebihnya itu garing dengan akhiran yang menggantung, enggak jelas, atau enggak "penuh". Bahkan cerita terakhir tampaknya sekadar endorsement untuk karya seri terbaru penulis, Olga.

Selain itu, dalam edisi yang saya baca ini, ada banyak typo. Bahkan halaman 63 atau akhir cerita 4 terpotong dan langsung lanjut ke cerita berikutnya.

Edisi yang saya baca ini cetakan kesepuluh, Maret 2004, yang terdapat di aplikasi Ipusnas. Yang ada di Goodreads hanya edisi Paperback terbitan 1990 dan 2008. Karena kover yang terbitan 2008 sama dengan yang 2004, jadi enggak apa-apalah, saya enggak perlu menambahkan lagi edisi yang satunya itu (dan lagian malas, hehehe).

Setelah membaca buku ini, saya menemukan lelucon dan ilustrasi yang terasa familier. Tampaknya saya sudah pernah membaca buku ini, tapi dulu sekali ketika saya masih kecil sekitar tahun '90-an ke atas--sebelum Ipusnas ada--sehingga tentunya dalam edisi Paperback--pastinya sih punya sepupu yang gemar mengoleksi buku-buku Lupus.

Walaupun pertama kali cetak pada 1990, sebagian referensi dalam buku ini merujuk pada 1988, yaitu film Santet, film Twins, serta artis-artis seperti Jason Donovan, Millie Vanilli, dan Debbie Gibson, yang merilis karyanya pada sekitar waktu itu. Ada adegan menarik dalam latar waktu ini, yaitu ketika Lupus dan Gito mengerjakan tugas bareng dengan menggunakan mesin tik masing-masing berikut buku-buku referensi. Wah, seandainya Lupus dan Gito remaja jaman now, tentu yang mereka pakai itu laptop atau notebook sedangkan untuk referensi tinggal googling. Ini satu mutu lainnya yang saya senangi dari Lupus judul-judul awal; rasanya seperti menaiki mesin waktu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dani Noviandi.
229 reviews16 followers
August 3, 2012
Syereeeemmm...

Saya baca versi ebook nih, guna memenuhi tantangan pribadi. Ya, namanya juga Lupus, lumayan bisa bikin ngakak, minimal senyum-senyum lah, tapi tetep aja lucu. Judul buku ini terinspirasi dari cerita tentang Drakuli, teman Lulu yang jago kimia. Drakuli ini tinggal di tanah pekuburan, sebabnya, sang ayah adalah pemilik tanah yang disewakan untuk dijadikan makam. Nah, unsur seramnya ini yaitu ketika Lupus diminta Lulu untuk mengantarkan ke rumah Drakuli guna memberikan surat dari sekolah. Lupus yang mau gara-gara disogok uang jajan pun akhirnya terpaksa menuruti keinginan Lulu, walaupun gosip tentang tangan buntung yang mengetuk pintu masih hangat-hangatnya beredar di kompleks Lupus.

Cerita di buku ini tidak hanya seputar Drakuli. Maka dari itu saya berpendapat bahwa ini merupakan cerpen dari Lupus. Dan memang tipikal Hilman (yang saya tangkap dari buku-buku Lupus yang telah saya baca), tidak menyajikan suatu buku dengan jalan cerita dengan hanya satu tema, tapi berbeda-beda tema dan cerita di setiap judulnya. Ada cerita tentang kelas Lupus yang sangat indah (katanya), yang tidak bisa dipertahankan lebih lanjut gara-gara kepsek keukeuh mengadakan penggusuran demi pengadaan dan pembesaran lahan parkir sekolah. Ada juga cerita tentang perjalanan Lupus cs ke Yogya dalam rangka mengisi liburan sekolah, rencana untuk menginap di rumah kawannya Anto akhirnya harus buyar secara sia-sia.

Yang istimewa dari buku ini, Lupus bertemu dengan salah satu karakter ciptaan Hilman juga yang akhirnya dibuat buku sendiri. Mungkin mudah ditebak ya, clue-nya adalah: dia seorang penyiar radio. Namun sayang, kebersamaan dan pertemuan Lupus dengan tokoh ini hanya sebentar dan terkesan mengambang. Bisa dibayangkan kocak dan gilanya kalau dua tokoh ini benar-benar dikolaborasikan di dalam sebuah cerita.

Akhirnya, bagi para pecinta Lupus. Buku ini mungkin bisa menjadi hiburan di kala bulan puasa seperti ini. Dengan lawakan jaman dulu yang walaupun agak garing dan maksa, tapi tetap bisa membuat senyum. Juga mengingatkan ke jaman dahulu kala, dimana teknologi belum seperti sekarang, sehingga menulis pun harus menggunakan mesin tik, serta kenalan pun harus dengan surat-suratan. Satu hal lagi, mungkin agak bingung dengan nilai tukar di buku ini, dimana limapuluh perak masih laku disini, sehingga butuh penyesuaian apabila nantinya akan diterbitkan ulang.

So, saya beri rate 4 dari 5 bintang untuk buku ini, saya rekomendasikan untuk kalian yang mencari bacaan yang amat sangat ringan dan ingin bernostalgia.
Profile Image for Cindy.
27 reviews
August 23, 2023
Ini adalah buku pertama dari seri Lupus yang saya baca. Saya baca sewaktu masih di bangku kelas 4 atau 5 SD. Saya masih ingat sekali pengalaman itu. Saya menemukan buku ini di perpustakaan sekolah ketika saya sedang mencari-cari buku horor untuk saya baca setelah Coraline. Iya, saya sejak kecil penasaran sekali dengan yang horor-horor.

Saya temukan buku ini (atau mungkin buku ini yg menemukan saya? haha), dari judulnya "Ih, Syereeem!" membuat saya berpikir kalau inilah buku horor selanjutnya yang mesti saya baca. Belum lagi cover bukunya hitam-putih dengan gambar yang wajah orang menganga dengan mata melotot ketakutan.

Saya baca tiap halamannya, mencari bagian mana horornya. Alih-alih saya malah seringkali dibuat nyengir dengan cerita Lupus. Apalagi di bagian lagu "bangun tidur" yang diplesetkan. Untuk saya yang saat itu masih SD, ada bagian cerita yang tidak saya mengerti oleh karena sebagian besar ceritanya soal remaja di ibukota dengan istilah-istilah gaul jaman itu. Tapi buku ini berkesan sekali untuk saya.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books199 followers
July 6, 2020
Ketinggalan era hampir 3 dekade, kisah di buku ini sangat awal 90an dengan NKOTB dan stasiun radio yang masih jaya-jayanya. Kelemahannya, karena ini fiksi populer yang humornya sangat tergantung pada kekinian di eranya, kisahnya mungkin kurang terasa lucu bila dibaca di tahun 2020. Apalagi untuk remaja dan anak muda yg lahir awal 2000, lucunya mungkin bahkan kurang relate banget. Tapi jangan remehkan serial ini. Lupus pernah terjual jutaan eksemplar di tahun 80-90an, bahkan sempat dibuatkan serial TVnya (yang juga sangat sukses sampai dibikin versi Lupus MIlenium--yang sayangnya malah gagal). Lupus juga turut membentuk masa muda dari generasi 90an lewat humor kocaknya yang segar. Walau jadul, saya sesekali masih ngikik baca celetukan-celetukan kecil yang nyelip di deskripsi atau narasi tulisannya. Dan entah kenapa, seri ini menarik saat cerita tentang kisah-kisah serem. Tapi, menurut pendapat saya, juaranya tetap seri Lupus kecil.
Profile Image for Herto Bastian Abul.
67 reviews
January 29, 2026
Lupus: Ih Syerem was a phenomenal read when I was a kid. Back then, my older brothers and sisters were all into it, and the book felt funny, light, and wildly entertaining.

Rereading it now as an adult, the humor still works—even though some parts feel dated—yet what stood out more was how Lupus subtly functioned as social and systemic criticism. One memorable story involves students protesting a school policy that sacrificed their classroom to expand a parking lot for the headmaster’s new car. What once felt like simple comedy now reads as quiet satire.

That said, the opening storyline about Lulu and her creepy friend, which aligns strongly with the title Ih Syerem, feels abruptly abandoned. It would have been more satisfying if that thread had continued throughout the book.

Still, Lupus remains an amusing reread—one that reveals more layers when revisited with older eyes.
15 reviews
October 13, 2025
3⭐
Akhirnya bisa membaca salah satu seri novel 80-an ini yang sering diceritain sama ibu. Ceritanya ringan, tentang sehari-hari anak-anak SMA, dan baca ini di 2025 bener bener terasa perbedaan zamannya. Dari segi cerita mudah dibaca dan lumayan lucu, tapi sayangnya beberapa jokes terasa terlalu dibuat buat dan jatuhnya agak cringe🙏 dan ada 1 cerita yang terasa kurang lengkap. Tapi secara keseluruhan cukup menghibur sebagai bacaan selingan setelah membaca novel-novel yang cukup berat.
Profile Image for Henry Ahmed.
2 reviews
August 5, 2017
Novel seri Lupus yg pertama kali saya baca. Isinya mengocok perut, humornya tetap lucu nan menghibur meski sudah tak relevan dengan perkembangan zaman. Akan tetapi, setidaknya novel (seri) ini memberikan suatu dokumentasi penting tentang gaya hidup remaja di era '90-an. Sampai saat ini, saya belum pernah menemukan novel yg humornya dapat menyaingi karya Hilman ini. Bravo!!
Profile Image for ifan.
47 reviews15 followers
July 1, 2020
yah, seiring berjalannya usia, sudah tidak bisa senikmat membacanya dulu ketika masih SD. jadi buat ngomongin alur cerita ataupun komedi yh udah ngga relevan aja buat dibahas, toh pada masanya lupus memang sudah mengasyikkan~
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
March 7, 2022
koplak. bacaan yang ringan dan segar di pagi hari. dulu pas gue baca seri lupus tu sampe ngakak kaga brenti-brenti, tapi sekarang gue ngerasa biasa aja. ada yang emang lucu banget, ada yang garing. tapi pas bagian kelas digusur, itu nyindir banget yaa hahahha
1 review
Read
October 8, 2019
Why?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ddnreads.
414 reviews6 followers
June 29, 2021
Tetep jadi favorite. Ketawa yg mendengus gituloh🤣
Heart warming, suka yg cerita2 ttg kelasnya.
Hubungan Lupus Lulu selalu nggemesin
Profile Image for Irwan.
Author 10 books124 followers
July 23, 2007
I think I also read this one among the other Lupus series. It was certainly not the best, but still funny and refreshing.
Profile Image for Mutiara.
17 reviews1 follower
Read
August 19, 2007
banyak banget seri lupus yang kebetulan semuanya sudah terbaca. kebodohan masa muda ku yang tak terlupakan ohoohohohohohohoohohoho
Profile Image for ratna.
42 reviews1 follower
June 18, 2008
baca ini kok garing yah rasanya :( ... apa gw yg udah terlalu tua???
Profile Image for Sache.
148 reviews
February 25, 2011
Kocak, tipikal pelajar banget ceritanya dan penuh pesan moral.
Tambahan, kasian banget harus ngerjain tugas pake mesin tik, pasti pegel banget!
Profile Image for Ayacchi.
743 reviews13 followers
July 5, 2020
Bayangkan kalau kamu punya teman yang tinggal di tengah kuburan, yang kelakuan dan mukanya nggak kalah aneh! Sudah pasti banyak yang judgemental. Tapi bukan Lulu namanya kalau takut dengan rumor!
Displaying 1 - 28 of 28 reviews