1989 Demonstrasi di kampus mereka di Bandung menyeret Kris dan Nara ke dalam nasib yang tidak pernah mereka bayangkan: dipecat rektor, diculik aparat, dipenjara lalu dibebaskan, tapi untuk dibuang ke negeri lain: Kris ke Jerman, Nara ke Amerika Serikat.
2003 Dibuang ke bagian lain dunia membuat Nara harus menerima kenyataan yang membalikkan nasib dan idealismenya. Sementara Kris terlunta di antara rasa bersalah dan prestasi gemilang. Ia pun dihadapkan pada pilihan pelik: terus mengusung idealisme atau melupakan masa lalu dan kembali ke tanah air...
Di luar masalah idealisme, muncul konflik lain yang memusingkan keduanya... cinta.
Tahun 1989, Universitas Tralala Trilili yang berlokasi di Bandung kedatangan tamu seorang purnawirawan jenderal TNI AD yang menjabat sebagai menteri dalam pemerintahan RI. Sebagian mahasiswa bersiap menolak kehadiran Pak Menteri dengan orasi dan happening art. Eeeh... demo itu berakhir rusuh dan aparat keamanan masuk ke dalam kampus, menciduk beberapa mahasiswa yang dianggap penggerak massa dalam membenci pemerintah. Dua di antara para terciduk itu adalah Kristunov, mahasiswa Geologi yang sudah lulus sidang skripsi dan Narayana yang masih di tahun ketiga.
Kris dan Nara disekap di sel yang bersebelahan pada sebuah rumah tahanan militer. Beberapa malam yang berselang dengan siang-siang penuh interogasi berlalu, dan tahu-tahu seorang tentara membuka pintu sel dan membawa mereka keluar. Di sana langkah berikut sudah disusun kawan-kawan dan simpatisan keduanya: membawa mereka ke Bandara Soekarno Hatta untuk langsung terbang meninggalkan Indonesia sebelum pelarian mereka diketahui pihak berwajib. Nara dapat tiket sekali jalan, paspor dan bekal hidup di Amerika Serikat, sedang Kris mendapat paket sama ke Belanda.
Sebelumnya, pembaca buku ini akan merasa membaca semacam kaleidoskop sejarah Indonesia sejak mulai bangkitnya Orde Baru di tahun 1960-an. Cerita ini didapat melalui kehidupan keluarga Kris yang terasing sejak ayahnya memprotes pembatalan pelatihan anggota TNI AU ke Uni Soviet pasca G 30 S. Ini mempengaruhi idealisme Kris dan pandangan sinisnya pada pemerintah Orba serta militerisme AD. Idealisme yang menjadikannya dipandang sebagai musuh di negaranya sendiri.
Kelihatannya alur cerita akan menuju pada kesulitan anak bangsa hidup dalam pengasingan. Menjalani pembuangan oleh negeri sendiri tanpa sempat menyampaikan pesan pada keluarga. Meninggalkan rekan seperjuangan yang menjalani hukuman tanpa keadilan. Melepas cita-cita mengabdikan ilmu membangun negeri...
Nyatanya tidak. Kalau mau jujur, melanjutkan membaca buku ini menyebalkan sekali buat saya, seorang mantan mahasiswa yang pernah (nonton) demo dan sedikit tahu ke mana akhirnya nasib membawa para mantan demonstran itu. Yang bikin sebal adalah... kok ya nasib Kris dan Nara di buku ini enak sekali!
Sekiranya saja hidup nyata bisa dipilih demikian, maka saya pasti dulu memilih jadi korlap demo, ada di depan barisan sambil teriak2 dan diliput tivi. Bukan cuma meliput di belakang dan mengomentari ceracau para korlap yang belum kursus vokal itu lalu pulang malam-malam menuliskan laporannya untuk harian berkertas samson yang kemudian dikutip oleh Time dan Newsweek. Toh sama-sama saja, nama kami yang ada di daftar redaksi juga dicatat intel Orba, sama seperti para korlap yang sebagian kini sudah manggung di DPR itu.
Bukan cuma Kris dan Nara yang bikin saya sebal. Tokoh Adon, sahabat Kris yang sadar punya kekayaan dari hasil kolusi ayahnya di kejaksaan, dulu memilih naik gunung daripada ikut demo. Anak pelaku KKN ini tidak mau sok idealis di kampus sementara di rumah ia terus disuapi uang ayahnya. Dan sampai akhir cerita, 2003, nampaknya tidak ada kemerosotan sama sekali pada keluarga Adon. Mungkin ayahnya belum masuk dalam pemeriksaan KPK.
Huh! Hidup memang tidak adil buat pembaca fiksi! :)
Jamal tergolong novelis produktif. Hanya dalam kurun waktu 3 tahun sejak novel pertamanya, Louisiana Louisiana (2003) diluncurkan, ia telah menghasilkan 3 buah novel berikutnya : Rakkaustarina, Fetussaga, dan yang paling anyar, Epigram (2006)
Dari covernya, saya menduga Epigram adalah novel yang bercerita seputar kehidupan di rig (anjungan minyak lepas pantai). Dugaan saya tak terlalu meleset, meski juga tak sepenuhnya tepat.
Epigram terdiri dari dua bagian kisah, masing-masing ber-setting tahun 1989 dan 2003.
Dibuka dengan kisah ber-setting 2003; menceritakan kehidupan Kristunov, tokoh utamanya, di rig Troll B di Laut Utara, 75 km dari pantai Norwegia. Kris adalah penyelia proses pengeboran di rig kawasan Ormen Lange, Norwegia. Bagaimana Kris yang orang Indonesia bisa terdampar di tengah laut Utara? Bagian itu dituturkan secara kilas balik empat belas tahun ke belakang : 1989.
Tahun 1989 Kris masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Di novel ini dengan isengnya Jamal memberi nama perguruan tinggi tersebut UTT, kependekan dari Universitas Tralala Trilili. Sebuah keisengan yang amat disayangkan kerena membuat novel yang seharusnya bisa lebih serius ini jadi terasa main-main. Saya juga heran, mengapa Jamal memilih nama yang konyol itu padahal akhirnya toh pembaca mengetahui juga perguruan tinggi sebenarnya yang dimaksud : ITB (Institut Teknologi Bandung).
Tahun 1989, masih lekat dalam ingatan kita mungkin, peristiwa demonstrasi mahasiswa ITB menolak kehadiran Menteri Dalam Negeri di kampus mereka. Kedatangan Mendagri yang kala itu dijabat oleh mantan jendral Rudini dianggap sebagai upaya kampanye yang bersangkutan untuk tetap mempertahankan pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Mahasiswa ITB keberatan kampus mereka diintervensi oleh militer. Maka, pecahlah aksi unjuk rasa, berujung pada pemecatan beberapa orang mahasiswa yang ditengarai sebagai pentolan penggerak massa.
Berangkat dari peristiwa tersebut, Jamal menyuguhkan drama kehidupan dua orang aktivis mahasiswa penuh gejolak darah muda dengan idealisme menjangkau awan. Novel yang diawali dengan paparan serius, mendadak sontak terasa lumer, meleleh, mencair, di episode flash back ini. Kelakar berserakan di sepanjang halamannya; terutama dialog para tokohnya, Kris dan Nara beserta komplotannya.
Barangkali ini upaya Jamal menghidupkan cerita sesuai konteks. Oleh karena konteksnya dunia anak muda (mahasiswa), maka dialog dan paparannya dibuat ringan-ringan saja, gaul, nyantai, dan cuek. Kesan "main-main" semakin menguat. Mungkin banyak juga pembaca yang malah merasa terhibur oleh humor-humornya.
Selain itu, pada bagian ini Jamal tiba-tiba juga jadi ceriwis dan nyinyir. Maksudnya mungkin ingin kritis pada penguasa otoriter, namun malah terjebak jadi seperti pamflet yang riuh-rendah oleh protes dan kecaman sembari tetap menyamarkan nama-nama tokoh penting yang terkait peristiwa ini, hanya disebutkan jabatannya saja. Mestinya, Jamal tak perlu khawatir dengan penyebutan nama-nama itu, sebab sekarang zamannya sudah beda. Iklim kebebasan kini relatif sudah jauh lebih kondusif ketimbang era Soeharto.
Berikutnya, unjuk rasa tersebut berbuntut ditangkapnya Kris dan Nara oleh aparat militer (tentara). Di dalam tahanan mereka mengalami siksaan fisik dan teror psikologis setiap hari sampai akhirnya datang juru selamat yang membantu mereka melarikan diri hingga ke luar negeri. Kris ke Eropa, sedangkan Nara ke Amerika Serikat.
Selanjutnya, soal Nara tak banyak diceritakan lagi. Singkatnya, ia selamat. Kris juga selamat, malah meraih sukses gemilang dalam studi dan karier di sebuah perusahaan minyak Norwegia. Kris sempat juga mengalami malam-malam dengan mimpi buruk masa ia ditahan. Pengalaman tak menyenangkan selama di tahanan itu menorehkan trauma psikologis yang mengarah pada pembelahan kepribadian dalam kadar yang ringan; dan Jamal menyelesaikannya juga dengan ringan : cukup dengan sedikit sentuhan berbau supranatural a la paranormal.
Oya, sudah barang tentu Jamal tak ketinggalan menyisipkan roman asmara kedua jagoan dengan karakter yang nyaris sempurna ini : miskin, bengal, pemberontak tapi pandai dan tampan pula. Tipikal cowok idaman yang hanya ada di novel atau film.
Epigram sesungguhnya sebuah novel serius (dan saya yakin pasti digarap dengan sangat serius. Menurut pengakuan Jamal, ia menyelesaikannya dalam waktu 5 bulan), hanya sayang sekali sempat sedikit tersandung di bab-bab "mahasiswa" yang cair tadi. Tapi tak mengapa. Dan jika yang dicari pembaca sebuah penghiburan, novel ini lumayan menghibur kok.
M. Fadjroel Rachman, Kolumnis, presenter TV, mantan aktivis.
Endorsment dari Fadjroel Rachman di sampul novel ini pasti akan membuat calon pembaca novel ini penasaran. Seberapa berbahayakah kandungan novel Epigram ini sehingga Jamal dijuluki penulis yang berbahaya ?
Dari ketiga novel sebelumnya (Louisiana-Luoisiana, 2003, Rakaustarina ,2004, Fetussaga,2005) tak terlihat indikasi bahwa Jamal adalah penulis yang berbahaya. Louisiana-Louisiana dan Rakkaustarina berbicara mengenai kisah cinta yang dibumbui oleh setting luar negeri dan konflik-konflik batin akibat benturan budaya pada kehidupan tokoh-tokohnya, Fetussaga menceritakan kisah jabang bayi yang mampu merasakan dan berkomunikasi dengan ‘alam lain’. Tak ada yang berbahaya, ketiga-tiganya menghibur sambil memberi wawasan pada pembacanya dalam hal kultur budaya lokal (Fetussaga) hingga lansdkap negara-negara Eropa (Louisiana-louisiana & Rakkaustarina), tak ketinggalan Jamal juga selalu memasukkan unsu-unsur seni, desain dan filosofi kehidupan dalam dialog-dialog para tokohnya.
Apakah novel keempatnya ini berbeda dengan ketiga novelnya terdahulu?
Dalam Epigram, Jamal berutur mengenai tokoh dua orang mahasiswa demonstran Kris dan Nara yang dibebaskan teman-temannya dari tahanan militer. Kris ke Eropa dan Nara ke Amerika. Cerita dimulai dari lokasi Kris bekerja pada tahun 2003, di rig raksasa tempat pengeboran gas dan minyak Troll West milik Norsk Hydro di Laut Norwegia. Secara tak terduga atasan Kris adalah seorang eksil asal Indonesia yang pada 1965 sedang menyelesaikan kuliahnya di Uni Soviet, gonjang-ganjing politik di tahun itu membuat dirinya tak bisa pulang dan menjadi seorang eksil di Eropa.
Ketika Kris menerima email dari sahabatnya Adun yang akan pergi berlibur ke Eropa dan meminta bertemu dengan Kris di Belanda. Ingatan Kris terlempar ke masa lalu. Cerita lalu kilas balik ke tahun 1989 pada saat menjelang demo menentang kehadiran seorang menteri mantan jenderal ke kampusnya. Kris yang dikenal sebagai demonstran sebetulnya sudah tak berminat terjun langsung ke lapangan karena ia merasa sudah terlalu tua dan baru saja menyelesaikan sidang sarjananya dan tinggal menunggu wisuda. Kehadiran Kris di lapangan hanya sebagai penggembira saja.
Demonstrasi menentang kehadiran menteri itu semakin memanas, aparat melesat masuk kedalam kampus. Kris tak bisa mengelak dari hajaran aparat. Untunglah Kris tak sampai ditangkap. Esoknya timbul desas-desus bahwa aparat akan melakukan penangkapan terhadap penggerak demo itu. Nama Kris yang sudah dikenal sebagai demonstran termasuk dalam daftar mahasiswa yang akan diciduk. Benar saja, Kris, Nara dan beberapa teman lainnya diculik oleh aparat dan dimasukkan kedalam penjara militer.
Di dalam penjara Kris dan Nara diinterogasi secara kontiniu, walau Kris mengelak bahwa dirinya bukan koordinator demo, aparat yang memeriksanya tak mempercayainya. Siksaan fisik dan mental harus dihadapi Kris dan Nara selama dalam tahanan. Hal ini nantinya akan mengakibatkan kepribadian Kris menjadi terpecah walau belum dalam tingkat yang mengkhawatirkan.
Kawan-kawan Kris tak tinggal diam, berkat seorang kawan yang memiliki hubungan langsung dengan petinggi militer Kris dan Nara berhasil dibebaskan melalui sebuah operasi rahasia. Agar Kris dan Nara tak tertangkap lagi mereka diterbangkan ke luar negeri. Nara ke Amerika, Kris ke Eropa. Awalnya mereka tak rela melarikan diri ke luar negeri sementara kawan-kawan lainnya masih dalam penjara, namun mereka tak bisa mengelak dan keduanya hidup sebagai pelarian di negara asing.
Keberuntungan berpihak pada Kris dan Nara. Karena perkenalannya dengan seseorang di pesawat yang bersimpati padanya Nara melanjutkan kuliah di Greensboro, Amerika serikat. Pada saat liburan di Boston Nara bertemu dengan Mira, putri seorang jenderal, sepupu temannya yang nantinya akan menguak misteri bagaimana mereka bisa dibebaskan dari penjara militer.
Sementara Kris yang mendarat di Amsterdam ditampung oleh mahasiswa Indonesia di sana, lalu oleh dubes RI di Belanda yang bersimpati padanya. Rencana kuliah di Belanda batal, seorang kawannya yang sedang kuliah di Bremen-Jerman mengajaknya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Bremen. Kris menerima ajakan kawannya itu hingga akhirnya Kris lulus master dengan gemilang dan bekerja di perusahaan gas Norsk Hydro di sebuah rig rakaksa di kawasan ladang gas dan minyak lepas pantai kawasan Troll West di Laut Utara Norwegia. Walau Kris sukses dalam kariernya namun ia terlunta diantara rasa bersalah dan prestasi gemilangnya. Ia senantiasa dihadapkan pada pilihan pelik; terus mengusung idealisme atau melupakan masa lalu dan kembali ke tanah air.
Di luar masalah idealisme Kris dan Nara juga sama-sama mengalami konflik lain yang memusingkan keduanya, cinta. Nara bertemu dengan Maria, anak seorang jenderal yang ternyata menunggunya sejak kedatangannya ke Amerika. Di acara Expo di Sevilla – Spanyol disaat Kris bekerja sebagai staf pengamanan stand Indonesia, Kris secara tak terduga bertemu dengan Sasti temannya satu almamater di Indonesia. Ketika cinta tumbuh diantara mereka Kris diperhadapkan pada dilema apakah ia harus ikut pulang dengan Sasti setelah Expo selesai atau meneruskan hidupnya di Eropa.
Dalam Epigram banyak hal-hal menarik yang akan pembaca temui dalam novel ini. Novel ini sarat dengan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru yang secara de facto dikuasai oleh militer. Dialog-dialog antar tokohnya secara jelas dan gamblang mengkritisi peran militer dimasa Orde Baru yang menguasai hampir seluruh lini pemerintahan mulai dari Presiden, menteri hingga gubernur hampir semua dijabat oleh pensiunan militer yang tentunya masih memiliki hubungan dengan petinggi militer yang masih aktif. Pembaca akan diajak berpikir secara kritis bahwa Indonesia, sebuah negara Republik tak ubahnya sebuah negara diktator yang diperintah militer.
Pembaca yang mengalami masa-masa mahasiswa di akhir 80-an tentunya akan segera mengetahui bahwa kisah demo mahasiswa yang menentang kehadiran seorang menteri yang pensiunan jenderal ke kampus UTT (Universitas Tralala Trilili) adalah kejadian yang pernah terjadi di sebuah Universitas Negeri di Bandung. Peristiwa penculikan aktivis dan kehidupan pelarian politik ke luar negeri adalah realita yang terjadi di negeri ini. Realita inilah yang diangkat oleh Jamal kedalam novelnya ini. Pembaca diajak menerobos batas fiksi dan non fiksi carut marutnya kehidupan politik dunia mahasiswa di bawah rezim Orde Baru. Uniknya sisi kelam bangsa ini tidak dituturkan dalam nuansa yang gelap, di tangan Jamal dunia aktivis politik mahasiswa yang kaku dan paranoid ini menjadi lentur, menghibur dan manusiawi lengkap dengan kisah cinta romantis para tokoh-tokohnya yang selalu merasa sepi, gundah, dan ragu.
Selain menyuguhkan kritik tajam terhadap militerisme di masa orde baru,. Novel ini juga mengungkap kehidupan dan konflik batin para pelarian politik yang dalam novel ini diwakili Kris dan Pak Agus, atasan Kris seorang pelarian yang tak bisa pulang dan harus menjadi warga negara Jerman, melalui novel ini juga pembaca diajak melintasi bola dunia mulai dari Bandung, Boston, Amsterdam, Expo di Sevilla Spanyol, Bremen hingga Laut Utara Norwegia. Tak ketinggalan, seperti di novel-novelnya terdahulu secara cerdas Jamal menyusupkan hal-hal seni, desain, museum, suasana Expo di Seville hingga filosofi kehidupan yang dituturkan secara ringan sehingga mencerahkan pembacanya dalam hal politik, seni, desain, dll.
Sayangnya kehidupan sosial Kris dan para pekerja rig hanya mendapat porsi yang kecil dibanding setting lainnya di novel ini. Jika saja hal ini digali lebih dalam oleh Jamal pastilah novel ini akan semakin menarik karena kehidupan para pekerja di rig Troll yang terasing pastilah bukan hal yang mudah. Padalah cover novel ini secara jelas menyajikan pemandangan di sebuah rig di laut lepas. Tentunya pembaca yang melihat novelnya akan berasumsi bahwa novel ini akan menyajikan kehidupan para tokohnya di sebuah rig lengkap dengan landskap sebuah rig dan tantangan yang dialami para pekerjanya
Selain itu kisah Kris ketika dalam penjara militer tampaknya kurang didramatisir oleh penulisnya, padahal ketika dalam penjara inilah Kris mengalami terpecahnya kerpibadiannya menjadi dua. Beberapa interogasi yang dilakukan oleh aparat terhadap Kris terkesan biasa-biasa saja dan siksaan fisik yang dialaminyapun tak terungkap dengan dramatis, padahal jika kita mendengar pengakuan dari para mantan aktivis yang pernah diculik aparat, pengalaman mereka sangat dramatis dan memilukan.
Namun dibalik kelebihan dan kekurangannya, novel ini tampaknya akan mengajak pembacanya melihat realita secara gamblang politik yang pernah terjadi di negeri ini, bahkan beberapa hal mungkin masih terjadi. Itulah mengapa Fadjroel Rachman mengatakan bahwa Jamal adalah penulis yang berbahaya. Batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur. Kritikan-kritikan terhadap militerisme dan kehidupan politik Indonesia disajikan secara tajam, suatu hal yang rasanya tak mungkin diungkapkan selama masa orde baru. Walau rezim sudah berganti dan era kebebasan diusung tinggi. Mungkin saja masih ada beberapa pihak yang akan merasa tersinggung dengan kritik sosial dan politik yang muncul di novel ini.
"Jamal Penulis yang berbahaya!" ~M. Fadjroel Rachman~
"Suatu Novel yang ambisius" ~Dr Mikhiro Moriyama. Professor of Indonesian Studies, Nanzan University, Nagoya~
Mahasiswa dan demonstrasi, sepertinya suatu keadaan yang otomatis. Kita tidak tahu apakah demonstrasi yang sering terjadi sekarang ini banyak diisi oleh mahasiswa-yang waras- tentunya.
Mengambil penokohan di dunia akademis, novel epigram menjadi lambang mahasiswa yang berjuang dengan jalur demonstrasi. Mereka sangat anti dengan kebijakan pemerintah yang hanya berpihak pada kelompok-kelompok tertentu. Bandung, adalah kota dimana Kristunov meniti studi di jurusan teknik geologi. Sekilas kita akan mengira Kristunov adalah nama Rusia. Pdahal nama itu berasal dari singkatan Krisis on Tuesday Seven November, peristiwa dimana ayahnya yang seorang militer berpangkat perwira menolak perintah atasannya, karena dinilai tidak sesuai dengan nurani ayahnya.
Seperti mahasiswa umumnya, komunitas adalah suatu hal yang wajar di dunia kampus. rasanya kehidupan kampus akan sangat membosankan jika tidak ada komunitas yang memberi warna di tengah kuliah profesor dan tugas-tugas. Big Camp, adalah nama komunitas Kris dan kawan-kawan. Bisa jadi itu adalah nama kos-kosan yang mereka beri gelar. Mungkin sama dengan Puri Lestari atau Pondok Karisma di Jurangmangu :). Tidak hanya sekedar tempat nongkrong, Big Camp menjadi tempat diskusi dan sarana untuk menghimpun kekuatan di kala mereka melakukan demo. Ada Nara, Alex, Adun, Bowie, Firman. Dua nama terakhir adalah teman mereka yang sangat tidak bisa ditebak perangainya jika berdemo, untuk itu Kris turun ke lapangan untuk mengantisipasi tindakan mereka ketika seorang Menteri berkunjung ke kampus mereka.
Naas, beberapa hari setelah demo atas kunjungan Menteri tersebut, Kris diculik oleh 4 orang yang berpakaian preman dan berambut cepak. Tiga minggu ia merasakan siksaan di penjara. Ia berharap ia dipenjara di penjara Sukamiskin, karena ia memang dari keluarga miskin. Untuk hidup saja susah, apalagi kuliah, mengapa ia harus merasakan peristiwa pahit itu?
Lewat bantuan teman-temannya, akhirnya Kris pergi ke Eropa. karena hubungan dekatnya dengan profesornya di kampusnya dulu, ia mendapat rekomendasi untuk mengambil kuliah master di bidang Geologi Eksplorasi di University di Bremen, Jerman. berkat kebaikan hati profesornya di Bremen, ia akhirnya mendapat pekerjaan di perusahaan minyak di Norwegia. Sebelumnya, ia melakukan perjalanan ke Spanyol, Madrid, dan Sevilla. Yah..ia menemukan cinta disana. Seperti seorang Spanish Lover, ia menemukan cinta dalam diri Maria, seorang gadis Spanyol, dan Sasti, mahasiswa jurusan seni rupa sekampusnya yang sedang mengikuti acara Expo di Sevilla.
Hidup adalah pilihan. Peristiwa masa lalu menyumbang kepahitan dan keindahan pada masa kini. Kris terombang ambing diantara dua pengalaman pahit sekaligus indah. Pahit, karena trauma disekap di penjara masih menyisakan ruang di pikiran bawah sadarnya. Indah, karena ia menemukan cinta dalam dua gadis yang berbeda.
Novel ini sangat lincah melompat-lompat dalam alur cerita. kadangkala Mang Jamal menceritakan Kris dengan sangat detil, namun tetap asyik diikuti. Bisa saya tebak, yang dimaksud UTT (kampus dimana tempat kuliah Kris di Bandung) adalah Institut Teknologi Bandung. Karena disitu ada jurusan Geologi dan Seni Rupa sekaligus, tidak ada kampus lain seperti itu di Bandung bukan?
dari Novel ini, sarat juga dengan beberapa pengetahuan yang tidak kalah penting. Saya sendiri setelah sekian lama tahu penamaan Sunda Besar adalah untuk Jawa, kalimantan, Sumatera, Sulawesi, sedangkan Sunda Kecil seperti untuk Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Tidak diketahui apakah Kris ini juga adalah penggambaran fiksi atas seorang tokoh nyata seperti Minke dalam Bumi Manusia..:)
Editor : Indah S. Pratidina Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, Mei 2006 384 hlm.; 20 cm.
Masih ingat peristiwa demonstrasi yang dilakukan sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Bandung, yang berbuntut penangkapan tokoh mahasiswa yang dianggap memotori aksi tersebut ? Novel Epigram karya Jamal, menjadikan peristiwa tersebut sebagai latar belakang kisah dari novel keempatnya itu.
Alkisah tersebutlah Kristunov, seorang pria Indonesia asal Lembang, Bandung, yang mendedikasikan hidupnya menjadi penyelia pengeboran di Ormen Lange, Norwegia. Karena lebih banyak hidup ditengah lautan, hubungan Kris dengan dunia luar lebih banyak melalui internet. Salah satunya adalah email.
Dari email yang dikirimkan Adun, kawannya semasa ia berkuliah di Universitas Tralala Trilili (UTT), Kris memutuskan untuk mengambil jatah liburannya, yang belum pernah sekalipun ia pergunakan. Kris ingin bertemu dengan teman-temannya yang sudah lama tidak pernah bertemu. Dan kenangan semasa kuliah di UTT pun menyeruak.
Kris dan Adun, dua orang sahabat berbeda karakter yang tinggal di Big Camp, rumah milik Adun, yang diberikan oleh seseorang bergelar oknum kepada bapaknya Adun - Ramijoed Wiranirsesa, ketika oknum itu terbebas dari segala tuntutan jaksa di pengadilan. Selain Kris, mahasiswa yang ikut tinggal di Big Camp adalah Yus, Bimo, Erentz dan Ebeth. Mereka semua aktif dalam Forum Mahasiswa (Forma).
Agustus 1989, Kris mahasiswa senior Jurusan Geologi, mengikuti aksi demonstrasi menentang kehadiran seorang menteri mantan jenderal ke kampusnya. Kris, sebenarnya tidak ingin mengikuti aksi tersebut karena merasa sudah tua dan tinggal menunggu wisuda. Selain itu, ia merasa mempunyai kewajiban untuk menjaga temannya, Erentz dan Monang.
Aksi demonstrasi itu berakhir rusuh. Setelah beberapa teman yang terlibat aksi ditangkapi aparat, Kris pun ikut terkena getahnya. Kris diculik empat aparat didepan mata Adun, sahabatnya. Kris dibawa ke suatu tempat yang tidak diketahuinya dan ditempat itulah ia mengetahui bahwa Nara, komandan lapangan aksi demonstrasi itu juga turut ditangkap. Kris dan Nara mengalami siksaan fisik dan bathin, namun itu tidak membuat Kris dan Nara menyerah pada keyakinan mereka.
Rupanya diluar tempat pengasingan Kris dan Nara, teman-teman mereka mencari jalan untuk membebaskan keduanya. Atas jasa seorang teman yang memiliki paman seorang jenderal, Kris dan Nara dibebaskan. Kris sempat terkejut ketika aparat yang mengeluarkannya adalah Adeng, seorang militer yang dikenal Kris di bus. Adeng menganggap Kris adalah adiknya.
Konsekuensi dari pembebasan itu adalah Kris harus melanjutkan hidupnya di Eropa, sedangkan Nara ke Amerika Serikat. Ternyata hidup jauh dari Indonesia, lebih mudah bagi Kris dan Nara. Kris dan Nara meraih kesuksesan disana. Bahkan mereka menemukan cintanya masing-masing di tanah orang. Berbeda dengan Nara, yang menjalin cinta dan menikah dengan Mira, anak jenderal yang membebaskan dirinya dan Kris dulu, Kris harus menelan pil pahit bahwa rasa cintanya kepada Sasti, teman kuliah yang ditemuinya di Sevilla, Spanyol, ternyata menikah dengan Adeng, aparat militer yang menganggap Kris sebagai adiknya.
Meski sampul depan novel ini, menampilkan suatu rig penambangan di laut, namun Epigram lebih banyak menyoroti kehidupan Kris di masa lalu. Masa yang membuatnya terbelit masalah pelik, kembali ke tanah air, melupakan masa lalu atau tetap idealis namun jauh dari tanah air dan melepaskan kewarganegaraan.
Cerita ini sendiri seperti kilas balik tentang kehidupan seorang bernama Kris, yang menjadi bekerja di lepas pantai Norwegia, di sebuah rig raksasa tempat pengeboran minyak dan gas Troll West milik Norsk Hydro. Email dari sahabatnya, Adun, membuat Kris seolah memutar kembali kenangan kehidupannya di masa lalu, ke tahun 1989.. awal dari perubahan kehidupan Kris. Kris adalah mahasiswa Geologi di UTT yang tinggal menunggu untuk wisuda kesarjanaannya, ‘dibuang’ karena dianggap terlibat demo ketika seorang menteri datang ke kampusnya. Sebenarnya Kris hanya sebagai pengamat dalam demo itu, tapi karena reputasinya sebagai seorang pimpinan dalam sebuah demonstrasi, Kris ikut-ikutan ‘diculik’ aparat. Selain Kris, ada Nara yang menjadi Korlap yang berbuah penculikan beberapa mahasiswa itu.
Buntutnya seorang jendral yang punya maksud tertentu, membebaskan Nara dan Kris. Tapi, mereka berdua untuk sementara harus menjauh dari Indonesia. Nara ‘diterbangkan’ ke Amerika, sementara Kris ke Jerman. Mereka berdua melanjutkan kuliah di dua negara itu.
Selebihnya, cerita kehidupan Kris lebih besar porsinya daripada kisah Nara di Amerika. Kris diceritakan berpindah-pindah negara, setelah lulus di Jerman, jadi turis di Sevilla, jatuh cinta dengan gadis Indonesia di Sevilla dan akhirnya memilih ‘menyepi’ di lepas pantai Norwegia, bekerja di sebuah perusaahan minyak.
Jauh dari tanah airnya, Kris bergulat dengan pikirannya sendiri tentang keadaan Indonesia, yang malah menjadikannya seolah punya dua kepribadian. Kesendiriannya membuat Kris menjadi sosok dengan pribadi yang matang, tapi terkadang jadi dingin.
Novel ini, sarat dengan muatan politik. Kalau novel ini terbit di jaman Orde Baru, bisa-bisa Mang Jamal atau akrab dipanggil MJ ini, jadi salah satu yang kena cekal karena novel ini penuh dengan kritikan terhadap pemerintah. Tapi, jangan salah, novel ini gak bikin kita jadi berasa kuliah politik yang membosankan, karena romantisme masih ada, dan latar belakang MJ yang orang desain tertuang dalam uraian tentang museum atau lukisan. Kegemaran MJ ‘ngebanyol’ juga tampak dari lelucon-lelucon yang terlontar di antara sesama mahasiswa UTT. Bahkan UTT adalah singkatan Universitas Tralala Trilili, rada gak matching dengan karakter universitas yang kerap dikatakan universitas yang kritis dan ‘sarang’ demonstran.
Kristunov=krisis tujuh november.itu adalah asal nama tokoh utama cerita ini.protes pada pemerintahan dengan tambahan humor ringan menjadi daya tarik novel ini. dan salah satunya dilekatkan dalam nama tokoh utama yang lebih pas untuk nama orang rusia.
aku tertarik pada buku ini karena 2 hal yang dekat dengan ku. Pertama tentang kehidupan aktivis, kedua, penulisnya adalah orang desain interior yang suka menulis. Menceritakan keterseretan Kris yang mantan aktivis dalam sebuah demonstrasi yang melemparnya keluar dari negeri kelahirannya. alur perjalanan kehidupan tokoh utama bukan titik tekan dari tujuan novel ini, tapi justru pada dialog tokoh2 yang mengkritisi pemerintahan.
ada kutipan menarik tentang arsitektur kolonial yang terselip di novel ini. kurang lebih begini:"Bangunan kolonial sebaiknya dihancurkan saja, karena orang-orang yang berada didalamnya juga cenderung bersikap kolonial"....hehehe..aku jadi penasaran terhadap tanggapan arsitek2 yang fanatik terhadap heritage.
Nah! Kalo novel ini aku temukan di rak buku abang sepupuku. Dari banyak CD dan kaset player band luar negeri, aku malah menemukan ini! Tak apa, aku memang suka buku.
Awalnya aku kira ini tentang cerita tempat pengeboran minyak di laut lepas dan sangkut-paut tentang itu. Tetapi tidak! Kisah ini diawali dengan kekejian Pemerintah di masa orde baru kepada rakyatnya sendiri. Para mahasiswa mencoba menyadarkan mereka dan membuat negara ini menjadi tidak menjadi sehina saat itu.
Dipenuhi rasa dendam yang amat sangat dari para mahasiswa, mereka mencoba memperbaiki semuanya. Tak semudah yang dibayangkan. Demo yang mereka rencanakan malah menjadi petaka. Hingga tidak sedikit di antara mereka dipenjara karena alasan yang tidak jelas. Hal itu membuat mereka semakin menjadi-jadi ingin membalas. Tapi bingung siapa yang mereka tuju?
Kisah ini juga disuguhi beberapa kisah tentang cinta dan persahabatan.
Pada akhirnya, mereka berpencar ke penjuru dunia, meninggalkan Indonesia dengan segala carut-marutnya. Mereka tak ingin kembali, mereka hanya ingin melihat negaranya dari jauh!
berlatar pergulatan para aktifis mahasiswa tahun 80-an, dengan bumbu cinta yg masih terasa sangat normatif. alur ceritanya enak sih. terbukti saya tak berhenti membacanya sampai tengah buku. baru setelah kisah masuk ke cerita sang tokoh bertualang di eropa/ perusahaan pengeoran, saya mulai jenuh membacanya.
Saya cinta buku ini. Saya menemukan buku ini di salah satu sudut rak perpustakaan sekolah zaman SMA, saya tidak rela mengembalikan buku ini, maka saya... mencurinya ya ampun, maaf, tapi saya suka sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. I have no words to say, amazing novel! Thank you, Kang Jamal. I hope someday, I could meet someone like Kristunov.
Konflik, alur, dan riset penulis dalam mengarang novel ini, membuat pembaca masuk ke dalam dimensi waktu yang diciptakan pengarang. Kris sebagai tokoh utama dibangun berdasarkan pengalaman dan ketidakadilan pemerintah orde baru terhadap mahasiswa dan masyarakat.
Kristunov dan Nara adalah mahasiswa dan juga aktivis demonstran pada tahun 1990-an. Ketika kehadiran seorang menteri yang juga mantan Jenderal ke kampus mereka disambut dengan demonstrasi, saat itulah garis nasib mereka ditentukan. Sang pembesar yang tak senang kehadirannya ditolak, kemudian menggunakan cara-cara militer untuk menculik pelaku dan pentolan demonstrasi. Kris dan Nara akhirnya tertangkap dan dipenjarakan di penjara militer. Setelah siksaan demi siksaan diterima, akhirnya berkat campur tangan seorang Jenderal, Kris dan Nara bisa dikeluarkan oleh teman-temannya dan seorang Kapten marinir.
Tetapi pelarian dari penjara militer bukan hal yang mudah diterima pada jaman Orde Baru. Mereka tak akan bisa lari jika masih ada di Indonesia. Satu-satunya cara adalah 'membuang' mereka ke luar negeri. Nara ke Amerika dan Kristunov ke Eropa. Dan kembali nasib mempertemukan mereka dengan orang-orang baik yang akhirnya membawa mereka pada masa depan yang lebih baik. Di Amerika dan Eropa Nara dan Kris melanjutkan sekolah hingga jenjang Master.
Tak hanya pendidikan, mereka juga menemukan cinta disana. Tetapi dengan jalan hidup yang akhirnya berbeda.
aku tertarik sama buku ini karena 'menawarkan' cerita yg berbeda..di tengah banjirnya chicklit,yang menuh2in rak toko buku,epigram dengan cerita berlatar pergerakan mahasiswa terasa menarik. saya suka bagian ketika kris dkk, masih jadi mahasiswa di UTT,pergolakan pemikiran dan idealisme mereka,menarik buat dibaca..sayangnya di bagian berikutnya,ceritanya jadi agak basi..penyelesaian2 masalah terasa dimudahkan,karakter2nya seolah jadi superhero,terlalu perfect,rasanya saya kehilangan kontak dan empati dgn karakter yang cukup berhasil dibangun di awal buku..yang paling bikin ilfil adalah bagian dimana kris berhasil keluar dari 'sel penjara'. buat aku, novel ini terasa 'garang' di awalnya..namun penyelesaiannya terkesan cari aman.sayang.
Ini buku sebenernya asik. Baik saat cerita tentang masa kuliah Kristunov (aktivis demo 1989), maupun saat dia ditangkap & dipenjara, dibebaskan teman-temannya, lalu kisahnya saat melanjutkan kuliah & lulus S2 di luar negeri dengan rekomendasi "dewa gila", dosennya di jurusan geologi, sampai kerja di pengeboran lepas pantai laut utara.
Cara bercerita kang Jamal, sang pengarang, juga semakin baik, dibandingkan Louisiana & Rakkaustrarina, lebih runtut dan teratur.
Sayang, ada cerita tentang Nara, yang nanggung banget, sebagai alur samping kok nggak tuntas, sebagai bumbu tambahan kok kepanjangan.
Ya-ya-ya bintang sempurna. Dan aku jarang sekali kasih bintang ini kesiapapun. Sama kaya aku kasih 1 bintang untuk beberapa tulisan. Aku melihat kang jamal menelisik jelas tentang apa-apa yang ia tulis. Mencoba menciptakan suasana perdetil di tiap katannya. Aku sudah baca novel ini 5 kali atau lebih. Awalnya kurang menarik tapi ketika sudah dibaca, bersiaplah untuk merasakan seperti apa menjadi 'terbuang'. Aku suka seekali endingnya, itu ga biasa. Bang Jamal mencoba menarik ending yang realistis. Terkadang, kita gatau hidup kita seperti apa dan Bang Jamal mencoba menyampaikannya. Good job ! Perfect stars
Novel ini saya baca ketika masih duduk di bangku SMA. Sebuah kisah yang kompleks, tentang catatan kehidupan mahasiswa. Perjuangan yang menyulitkan, ditangkap dan diasingkan. Kebencian tumbuh, namun cinta jua yang membawa batin rindu kampung halaman.
Suka filosofi di balik nama Kristunov. Ceritanya agak membosankan dan terasa lambat di tengah, tapi semakin mendekati halaman akhir, temponya semakin cepat.