Di sekolahnya yang baru, Lulu sering dijadikan kambing hitam oleh teman-temannya lantaran kondisi ekonominya tidak sama dengan temannya yang borju. Namun, Lulu berulang kali mampu melewati keusilan Oasa dan teman-temannya dengan bantuan sahabatnya. Ssst, sahabat baru Lulu kali ini spesial, hanya memperlihatkan diri kalau mereka berdua saja. Seperti apakah kelakuan Oasa dan teman gangnya?
Kalau aku membaca buku ini kala remaja puluhan tahun lalu, mungkin aku akan sangat menikmatinya. Namun, ketika aku membacanya saat ini di usia yang tak lagi muda, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi.
Pertama, apa yang dilakukan Oasa dan teman-temannya terhadap Lulu ini adalah perisakan, lo. Aku kesal sekali saat Oasa dan teman-temannya mengerjai Lulu dan meninggalkannya di tengah hutan saat mereka lokakarya. Woi, lah, itu bahaya!
Kedua, posisi Tuyul sebagai sahabat Lulu membuatku tidak nyaman. Ah, salahku juga, sih, ya, padahal judul dan sampulnya sudah jelas menunjukkan isi buku, tetapi aku tetap lanjut membaca. Beberapa hal tentang si Tuyul ini kubaca dengan cepat karena tak nyaman. Di sini diceritakan bagaimana Lulu membuat perjanjian untuk menyiapkan makanan seminggu sekali sementara Tuyul membantu Lulu dari keisengan temannya.
Membaca buku ini tentunya perlu pemahaman soal ketauhidan serta hubungan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Sehingga, menurutku, buku ini tidak bisa dibaca bebas oleh sembarang remaja agar tidak salah langkah.
Selain itu, aku mengharapkan aksi besar untuk menyelesaikan perisakan yang dialami Lulu. Sayangnya itu tidak ada. Entah apakah karena saat buku ini ditulis (tahun 90'-an) kita belum paham betul apa itu dan bagaimana menanggapi perisakan, atau ada alasan lain di baliknya.
Buku ini bisa dibaca oleh kamu yang ingin bernostalgia dengan karya Hilman dkk. Tentunya, dengan memperhatikan hal-hal yang telah kusorot di atas.
Lulu: Sohib Gaib • Hilman, Boim, Gusur • GPU • 2000 • 180 hlm. • iPusnas