Bunga, si mungil cantik 29 tahun ini, tiba-tiba harus bertemu lagi dengan Aria, mantan pacar yang telah menjadikannya single parent. Masa lalu yang susah payah dikubur tiba-tiba menghantui kembali.
Zerlin, lajang yang masih perawan pada usia 34 tahun, merasa menemukan pria idaman yang diharapkannya akan menjadi calon jodohnya: Nandaz. Si pesolek dan penggemar aktivitas after-hours ini pun melakukan bermacam upaya agar bisa menarik perhatian Nandaz.
April, penggiat teater dan penulis novel yang produktivitasnya angin-anginan, gelisah dengan pencariannya. Beberapa nama cinta tak juga menjawab kegelisahannya.
Seiring perjalanan waktu dan interaksi tiga sahabat itu dengan pria-pria yang masuk dalam kehidupan mereka, persahabatan yang dulunya menyerupai oase sekarang tak lagi nyaman.
Sebab mereka menyadari ternyata persahabatan itu kini justru menjadi tirani. Mengekang perasaan dan menghambat gerak, bagi cinta yang tumbuh di luar rencana.
Ini menggelisahkan. Melelahkan. Membuat hampir gila!
Lahir di Cirebon pada 22 Maret, suka sekali membaca buku. Tetapi dari sekian banyak buku yang dibacanya, buku-buku resep masakan dan kuelah yang paling membuatnya seolah kesetrum. Retni memang hobi masak, apalagi memasak untuk keluarga kecilnya yang telah membuatnya merasa menjadi perempuan istimewa.
Alumnus Komunikasi Fisipol UGM ini sempat menjadi copywriter dan account executive selama beberapa tahun di perusahaan periklanan di Jakarta.
novel ini mengisahkan tentang persahabatan antara 3 orang perantau yang hidup di Jakarta. Persahabatan mereka layaknya oase di keruwetan dan kejamnya ibu kota. 3 orang itu adalah Zerlin, Bunga dan April. pertama di ceritakan adalah Zerlin seorang wanita karir umur 33 yang sedang gencar2nya mencari jodoh. April adalah seniman edan yang kocak dan cuek, sedangkan Bunga adalah gadis single parent tanpa pernikahan yang berjuang mencari uang demi anaknya di Ibu kota.
Pada awal kisah ini dimuali dengan menceritakan kehidupan Zerlin, April lalu Bunga yang terakhir. saya membacanya berasa seprti mesin yang dinyalakan akan semakin panas. ketika membahas Zerlin, saya merasa ...ahh.. ini apa yang istimewa dari seorang single yang tiba2 ketemu cowok impiannya di jalan. Lalu, kisah April dimulai. wah kocak juga ini karakternya (di sini saya mulai tertarik), lalu Bunga, yang diceritakan masih kulitnya saja, lalu berlanjut dengan masa lalunya yang dihamili oleh pacarnya yang malah menyuruhnya aborsi. itulah sebab dia menjadi single parent.
Pada awalnya, saya sangat tertarik dengan Bunga, ketika masalalu yaitu si Arya sang pacar yang sudah sukses, kembali dalam kehidupannya ingin bertanggung jawab. jujur awalnya saya skip-skip cerita Zerlin dan April karena sangking penasarannya. setelah sadar, bahwa center cerita inia dalah Bunga. Yahh.. saya jadi balik ke awal membaca lagi cerita mereka dan saya beralih tokoh favoritnya ke Zerlin. saya suka cara sarkas Zerlin ternyata...
entahlah mungkin di sini saya merasa, kenapa harus Bunga saja?? ini tidak adil, tetapi seperti poenjual kan, dikasih porsi sedikit biar rasanya terngiang2 dan berkesaq, tidak semuanya diberikan. haha
Membaca buku tahun 2006 di tahun 2018 ini membuat saya merasakan 'angin segar' kembali, mengingat maraknya buku bermunculan tanpa melalui proses penyuntingan yang layak. Saya suka ceritanya, meski sedikit mencubit hati dan bikin baper. kosa kata yang kaya yang diberikan mbak Retni, saya suka lah.. pokoknya salah satu penulis lampau yang favorit. layak ini ceritanya menang sayembara..hehe
Zerlin, April dan Bunga adalah tiga orang wanita yang menjalani hidup di Jakarta. Delapan tahun yang lalu mereka bertemu dan akhirnya menjadi sahabat. Meski rutinitas mereka berbeda, persahabatan mereka adalah oase di tengah kesulitan menghadapi hidup keras di Jakarta.
Semuanya baik-baik saja sampai ketika Aria, mantan kekasih Bunga kembali muncul dan menjadi atasan di kantornya. Aria yang dulu meninggalkannya saat sedang hamil, memintanya untuk melakukan aborsi, dan menghilang tanpa jejak. Bunga memilih untuk resign dari kantornya agar tidak harus bertatap muka setiap hari dengan Aria. Untunglah Zerlin memperkenalkan dirinya kepada Nandaz, kecengan Zerlin yang sedang mencari karyawan untuk usaha furniture-nya. Persahabatan mereka teruji ketika April malah menyukai Aria dan membiarkan pria itu mengetahui semua tentang Didit, anak Bunga. Lalu Bunga merasakan getaran berbeda saat berhadapan dengan Nandaz dan meyakini Nandaz juga punya perasaan yang sama. Oase persahabatan mereka mulai tandus dan tidak lagi menyenangkan.
Saya membeli buku preloved ini ketika mengikuti Tantangan Membaca Metropop tahun 2019 lalu. Novel ini boleh dibilang metropop angkatan awal yang terbit tahun 2006. Wow... 15 tahun yang lalu. Dan membaca novel ini membuat saya memahami betapa metropop adalah sebuah lini novel GPU yang konsisten sekaligus mengalami perubahan.
Kisah yang diangkat oleh mbak Retni berupa cerita tentang wanita urban yang bertahan hidup di Jakarta, lengkap dengan liku-liku karir dan percintaannya memang khas metropop. Saya selalu suka karya mbak Retni, dan mungkin ini debutnya di lini metropop. Tulisan beliau ringan, lucu, menghibur sekaligus open ending.
Metamorfosa Oase berkisah tentang persahabatan 3 wanita dewasa—Bunga, Zerlin dan April. Sudah hampir 8 tahun mereka bersahabat, dan persahabatan mereka bagaikan sebuah oase di tengah gersang dan kerasnya kehidupan di Jakarta. Persahabatan mereka yang sebelumnya adem ayem jadi meruncing sejak hadirnya pria dalam hidup mereka—saling jatuh cinta dengan pria yang salah, dan sulit memilih antara persahabatan dan cinta.
Meski ada tiga tokoh utama dalam buku ini, tapi Bunga merupakan sentral dalam cerita. Jadi, bisa ditebak siapa yang mendapat happy ending dan siapa yang harus berlapang dada.
Membaca buku terbitan 2006 di akhir tahun 2019 merupakan pengalaman tersendiri karena latarnya yang sudah terlewat lebih dari satu dekade. Banyak hal dalam cerita Metamorfosa Oase ini bikin nostalgia. Aku sendiri lumayan menikmatinya, meski ada juga paragraf-paragraf yang membuat bosan.
Buku ini adalah buku yang sama dengan tema yang aku baca juga dalam waktu yang bersamaan. Dan sama-sama metropop. Tapi entah kenapa aku membelinya. Padahal sehari sebelumnya aku baru saja menyelesaikan membaca buku “Dilema”.
Tapi ga masalah, selama akhirnya aku menikmati buku ini.
Dibandingkan dengan Dilema karya Mia Arsjad, aku memberikan nilai 4 untuk buku ini.
Karena apa? Karena pengarangnya satu almamater dengan aku. Hahaha.. ga ya. Alasannya karena buku ini lebih ringan, tidak bertele-tela dan indah kata-katanya. Mbak Retni menulisnya dengan gaya bahasa yang tidak berlebihan, memakai cara bicara yang menyenangkan dan lucu.
Ceritanya sama tentang 3 wanita kali ini bernama Bunga, April dan Zerlin. Sama-sama kisah single yang sudah memasuki usia kepala tiga tapi belum menemukan sosok Mr. Right dalam hidupnya. Karakter masing-masing begitu berbeda tapi bisa disatukan dengan yang namanya persahabatan.
Konflik antara ketiganya meruncing sampai suatu ketika sosok laki-laki masuk ke dalam persahabatan ketiganya. Tapi untunglah semuanya berakhir dengan tidak bertele-tele seperti novel metropop pada umumnya.
Semua berakhir dengan ketiga sosok ini menemukan bahwa semuanya harus mengikuti takdirnya. Mereka tidak bisa mengingkari apabila cinta sudah masuk ke hati, yang akhirnya harus memilih antara persahabatan dan cinta.
As info, buku ini sedang diskon gede di Gramedia Pasar Baru. Apabila tertarik, masih banyak stoknya tuh. Hahaha…
Karena habis baca pink project yang bagus, jadi semangat baca novel ini buat lanjuta. Tetapi banyak hal yang bikin kecewa juga sih. Yaitu : 1. Scene awal menceritakan tentang Zerlin, dan aku sudah jatuh cinta sama karakter heboh tokoh ini. Ternyata.... dia bukan karakter utama dan semakin ke sono karakternya semakin dibunuh sebelum akhirnya dibikin bagus lagi di akhir kisah. 2. April, harusnya ini novel bercerita tentang dia yang super duper unik dan asyik. Sayaaannnggg... banget April porsinya kecil banget. Padahal kalo dia sebagai fokus cerita utama pasti seru banget. Eksekusi tentang karakter Made juga seadanya. Buru-buru dan ga terasa. 3. Bunga, aku ga suka Bunga ini, tapi dipaksa suka oleh karena Bunga ini tokoh central di cerita ini. Kecewa banget aku karena Bunga jadi sumber utama tulisa. 4. Kenapa Rudi Salam sih???? ilpil duluan deh dengan deskripsi ini. Makanya karakter Nandaz jadi enggak banget gara-gara disebutin Rudi Salam. weks!!!
Kesimpulan : - Novel terlalu tipis untuk tokoh sebanyak itu - Ini novel binging mau dibawa kemana karena pasti dibatasi jumlah halaman oleh penerbit :D - Good Ide Bad Execusion... ini gambaran yang tepat untuk cerita ini So??? Just so...so...
Bunga, si mungil cantik 29 tahun ini, tiba-tiba harus bertemu lagi dengan Aria, mantan pacar yang telah menjadikannya single parent. Masa lalu yang susah payah dikubur tiba-tiba menghantui kembali.
Zerlin, lajang yang masih perawan pada usia 34 tahun, merasa menemukan pria idaman yang diharapkannya akan menjadi calon jodohnya: Nandaz. Si pesolek dan penggemar aktivitas after-hours ini pun melakukan bermacam upaya agar bisa menarik perhatian Nandaz.
April, penggiat teater dan penulis novel yang produktivitasnya angin-anginan, gelisah dengan pencariannya. Beberapa nama cinta tak juga menjawab kegelisahannya.
Seiring perjalanan waktu dan interaksi tiga sahabat itu dengan pria-pria yang masuk dalam kehidupan mereka, persahabatan yang dulunya menyerupai oase sekarang tak lagi nyaman.
Sebab mereka menyadari ternyata persahabatan itu kini justru menjadi tirani. Mengekang perasaan dan menghambat gerak, bagi cinta yang tumbuh di luar rencana.
Ini menggelisahkan. Melelahkan. Membuat hampir gila!
Bunga, Zerlin dan April adalah tiga sahabat yang saling mengenal ketika sama-sama menempati satu rumah kost. Cerita diawali ketika mereka bertiga akan merayakan delapan tahun persahabatan mereka. Meskipun punya latar belakang yang berbeda, keceriaan dan kebersamaan mengisi hari-hari mereka.
Tapi, dibalik keceriaan mereka, sebenarnya mereka adalah perempuan-perempuan yang kesepian, yang mendambakan seorang lelaki untuk mengisi rasa sepi itu.
Dan ketika akhirnya para lelaki itu datang, kisah persahabatan mereka malah di ambang kehancuran.
Tapi, gimana jadinya kalau di antara mereka malah menyukai laki-laki milik sahabatnya? Haruskah mereka mempertahankan rasa suka mereka tapi menghancurkan persahabatan mereka, atau, mereka harus menekan rasa di hati mereka demi menjaga perasaan masing-masing?
Secara tidak langsung, novel ini terkesan berpusat pada Bunga, karena sepertinya lebih banyak latar belakang Bunga yang dijelaskan secara detai
Gaya berceritanya jadi ngingetin gue sama novel-novel Mira W dan cerpen-cerpen majalah femina tahun 80-an yang dibundel sama nyokap gue. Dan.. bilang cowok ganteng mirip Rudy Salam? OMG HELOO!!!! Oke deh mungkin dulu Rudy Salam emang ganteng, idola remaja. Tapi buat pembaca novel bahkan pada tahun 2006, bukan 2013, pada saat novel ini terbit.. Denger nama Rudy Salam mah yang kebayang bapak-bapak di sinetron-sinetron. Kumisan, tua, wibawa.. Paling banter, kalo gue nyoba ngorek-ngorek kenangan pertama (apaan seh?) gue melihat Rudy Salam yaa.. bapak-bapak di sitkom Ada-Ada Saja, barengan si Abud ituuu... Mendingan Rudy Wowor deh (eh? jadi ngaco). Ya udahlah, Rudy Salamnya gengges.
Tapi dari segi cerita saya suka sih, menggambarkan persahabatan di tengah kehidupan ibu kota yang serba sulit. Kehidupan 3 sahabat Bunga, April, dan Zerlin juga terasa nyata.
“Apa yang kamu tahu di ujung – ujung hatiku, Zer? Nggak ada. Kamu Cuma bisa komentar. Kamu nggak tahu gimana aku susah payah kesakitan membuat cinta salah tempat ini jadi milikku sendiri........” ~April~
Bunga, Zerlin dan April. Tiga wanita lajang, dengan masalahnya masing – masing, telah membangun persahabatan sejak delapan tahun yang lalu ditengah – tengah kota metropolitan yang penuh dengan kelicikan ini. Namun, persahabatan yang dulu bagai oase itu kini justru berubah menjadi tirani yang menghalangi gerak cinta yang tengah tumbuh dalam diri mereka bertiga.. Novel yang memenangkan juara II dalam lomba novel metropop ini adalah buah karya Retni SB. Bukan hanya isinya yang menggerakan jiwa, cover depannya pun menarik hati.
Sebuah persahabatan yang dimana cinta datang selayak badai yang memorak porandakan kehidupan mereka yang adem ayem.
Zerlin yang jatuh cinta kepada pria yang mencintai Bunga. Sementara April jatuh cinta dengan mantan suami Bunga.
Di sini Bunga menghadapi pilihan yang teramat sulit. Bukan menentukan dimana cintanya akan berlabuh melainkan bagaimana mempertahankan persahabatannya yang dulunya bagai oase.
Ups, bagus sekali novel ini. Setidaknya memaknai arti persahabatan yang sesungguhnya. Tante Retni SB memang hebat menarik pembaca dalam ceritanya.
mungkin terlambat baru baca buku ini hehehh. buku ke 3 dari penulis yang saya baca setelah Dimi is Married dan Cinta Satu Paket. ceritanya tentang 3 orang sahabat yang dengan latar belakang dan masa lalu masing-masing dipertemukan dalam kemelutnya Jakarta. dibagian endingnya kok rasanya gak sreg ya. mereka jadian sama cowok yang dari awal unexpected, tapi koq zerlin kayak ga ada endingnya ya.. heheh ada perasaan janggal pas baca buku ini, mungkin karena buku lama dan situasinya beda dengan zaman sekarang jadi feelnya kurang pas. tapi overall menghibur.
Saya merasa novel ini ada beberapa bagian yang di skip, atau karena memang awalnya cerita ini hanya seputar Bunga, sehingga bagaimana hubungan April dan Aria tidak diceritakan. Bahkan nasib si jomblo Zerlin juga tidak jelas.
Akhirnya ketiga sahabat ini memang akhirnya bersahabat kembali, tapi rasanya masih ada yang belum selesai dari cerita ini.
Dari awal halaman pertama udah nggak suka sama gaya kepenulisannya. Novel ini nggak beda jauh sama cerita pendek sekali duduk sih... Tapi cocoklah buat seumuran anak SMP buat hilangin jenuh.
"Doa dan dukungan tak selalu cukup untuk urusan jodoh. Terlalu banyak kemungkinan yang sengaja dimunculkan, untuk membuat hidup tidak selalu mudah dan indah..." ~ halaman 132, see... siapa yang setuju!? :)
Persahabatan yang diuji dengan konflik percintaan. Alurnya di awal begitu lambat. Saya sampai skimming terus dan terus. Klimaks baru terjadi di halaman 220 dari total 248 halaman. Euw! Bikin nggak sabaran.