Jump to ratings and reviews
Rate this book

Boulevard de Clichy: Agonia Cinta Monyet

Rate this book
Banyak pelukis sejak abad ke-19 melukis kehidupan di Boulevard de Clichy. Termasuk Van Gogh, Bonnard, Cezanne, Pissaro, Renoir, Seurat, Severini, Signac.

Apa yang menarik dari nama jalanan di Paris ini?
Di situ, dalam novel ini, ada Anugrahati, panggilannya Nunuk, penyanyi dan penari telanjang yang dijuluki Meteore de Java. Dia terbuang namun tak menyerah, terlaknati namun terberkati. Cinta dan tanggungjawab pada kehidupan membuatnya kokoh.

Demikian teladan seorang wanita yang ibu kontemporer dalam potret manusia - manusia Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru. Ditulis menurut realitas dengan pelbagai kemungkinan oleh pengarang mbeling Remy Sylado, yang pada tahun 2005 memperoleh anugrah Satya Lencana Kebudayaan oleh negara RI atas kepeloporannya di bidang sastra.

672 pages, Paperback

First published March 1, 2006

3 people are currently reading
86 people want to read

About the author

Remy Sylado

36 books146 followers
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.

Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (11%)
4 stars
79 (34%)
3 stars
94 (41%)
2 stars
24 (10%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
June 13, 2009
KLISE!!!
Itulah kata yang muncul dalam pikiran saya ketika seorang teman menceritakan sekilas jalan cerita buku ini. Seperti judulnya “Boulevard de Clichy – Agoni Cinta Monyet”. Cerita diawali dengan Nunuk dan Budiman yang saling jatuh cinta dalam balutan cinta monyet masa SMA. Dan saking monyetnya (oopppsss…), nafsu yang menggebu-gebu telah membuat keduanya sepakat melanjutkan hubungan cinta mereka ke jenjang yang lebih tinggi, memang ya cuma setinggi tempat tidur sih... Apa mau dikata, darah muda (seperti kata Bang Haji Oma) Nunuk dan Budiman akhirnya berujung pada kehamilan di luar nikah. Dari sinilah konflik mulai terjadi, dan akan saya coba terjemahkan dalam sebuah dialog sinetron dengan ekspresi yang sangat standar itu (sambil dibayangkan ya…)

Yani : Putuskan hubunganmu dengan perempuan itu!!!

Budiman : Tidak bisa, Ma…

Yani : Kenapa tidak bisa???!!! Pokoknya, Mama tidak suka kamu berhubungan dengan anak gembel itu! Nazis tralalala…!!

Budiman : Tapi aku tidak bisa, Ma…

Waluyojati (sok bijak mode on) : Kenapa tidak bisa? Alasannya apa?

Budiman : Pokoknya aku ngga bisa, Pa…

Waluyojati (masih sok bijak mode on) : Tapi harus ada alasannya dong…

Budiman : ……Nunuk hamil, dan aku akan bertanggung jawab…

Yani (dengan mata melotot sebesar jengkol, gambar close up) : Apa??? Hamil???

Waluyojati (ikut molotot) : Gugurkan!!!


Pffuuiiihhh, capek ngga sih membaca dialog yang begituan, namanya juga cerita sinetron, jadi harap maklum. Tapi, begitulah kisah awal dari buku ini. Yani, ibu Budiman, tidak rela anaknya berhubungan dengan Nunuk. Pasalnya, dia punya dendam kesumat dengan Ellen, ibunya Nunuk. Masalahnya apa? Tidak jauh beda kok, masih soal rebut-rebutan cinta masa muda dulu. Tapi Budiman bersikeras akan bertanggung jawab dengan menikahi Nunuk, dia sudah berjanji kepada Suhardi, ayah Nunuk yang bekerja sebagai supir metromini, akan datang melamar. Sehingga Yani bersama Waluyojati, suaminya yang ketua DPRD, memutuskan untuk menggunakan tenaga dukun langganannya untuk memutuskan hubungan cinta Budiman dengan Nunuk.

Simsalabim!!! Abrakadabra!!! Dilkodilkodil!!! Dengan kekuatan gaib sang dukun, Budiman pun lupa dengan orang yang bernama Nunuk. Nunuk sakit hati. Sakit sesakit-sakitnya! Dia pun pergi ke Belanda, sekolah teater demi mengejar impiannya untuk menjadi seorang penampil a.k.a artis. Renata, anak hasil hubungannya dengan Budiman, pun lahir.

Budiman dikirim orangtuanya ke Perancis untuk kuliah di bidang arsitektur, namun dia lebih tertarik dengan seni rupa, dan malah banyak bergaul dengan pelukis jalanan daripada menimba ilmu di kampus. Cerita terus berlanjut, sampai akhirnya Nunuk pun tiba juga di Perancis, tertipu oleh seseorang bernama Albeni, yang mengaku sebagai pencari bakat dari Perancis. Sialnya, Nunuk pun terpaksa bekerja di sebuah tempat yang terkenal sebagai “red light district” di Perancis, yang terletak di kawasan Boulevard de Clichy. Nunuk menjadi seorang penari telanjang, yang kalau harga cocok kadang-kadang bisa juga berlanjut ke kamar hotel. Mau tidak mau, Nunuk harus menikmati pekerjaannya itu, walau tetap banyak persoalan yang menghadang silih berganti.

KLISE!!!

Memang, ceritanya tetap klise. Tapi untungnya Remy Silado, penulis buku ini, meramunya dengan ramuan Madura….hehehe… Dia mengangkat kelakuan anggota DPR, yang suka jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding, ke dalam cerita yang klise ini. Ada juga tokoh-tokoh pendukung cerita yang merupakan eksil-eksil PKI yang terpaksa lari dari tanah airnya dan tinggal di Perancis. Dan masih banyak hal-hal lain yang dimasukkan sebagai bumbu cerita dalam buku ini, yang membuat rasa sinetronnya berkurang sangat banyak. Dengan jumlah halaman yang enam ratusan lembar, tidak serta merta membuat saya bosan membaca buku ini. Ceritanya malah mengalir dengan santai, tidak lambat, namun tidak pula melompat-lompat ngga jelas.

Akhirnya, saya harus bilang, ceritanya memang pasaran, tapi tidak murahan. Bisalah direkomendasikan, karena buku ini memang cukup menghibur. Buku ini banyak menggunakan istilah yang tidak seharusnya dibaca oleh anak-anak, jadi direkomendasikan khusus untuk yang 17 tahun ke atas ya.

Sebenarnya sih saya memberikan tiga setengah bintang untuk buku ini, tapi karena bintangnya tidak mau dipotong, jadi empat bintang..layaklah.
Profile Image for Ivan.
133 reviews24 followers
May 26, 2008
Boulevard de Clichy adalah nama sebuah jalan di sudut kota Paris. Banyak pelukis ternama mengabadikan tempat ini dan kehidupan yang berlangsung di sana dalam lukisan, seperti Van Gogh, Bonnard, Cezanne, Picasso, Renoir, atau Severini.

Nah, Remy Sylado mengabadikannya dalam fiksi berjudul sama, Boulevard de Clichy. Di sini, hiduplah seorang perempuan Indonesia bernama Anugrahati yang mencari jati diri dan melangsungkan hidup untuk survive di kota Paris. Ia bekerja sebagai penari telanjang dengan julukan Meteore de Java. "Dia terbuang, namun tak menyerah, terlaknati namun terberkati." Cinta dan tanggung jawab membuatnya tegar.

Remy, yang dijuluki penulis 'mbeling', gila, seperti biasanya menulis dengan gaya 'urakan', dengan kosakata yang tanpa malumalu, bahkan cenderung vulgar. Novel ini bercerita mengenai konflik-konflik hidup manusia, terutama setelah tumbangnya Orde Baru, ketika setiap orang jadi 'kebablasan.' Adonannya adalah seputar cinta remaja, politik, gap miskin dan kaya, politik buta, bahkan sampai ajian guna-guna menjadikan novel ini tidak hanya lucu, namun bisa membuat haru.
Profile Image for Christian.
Author 31 books841 followers
September 4, 2008
masih baca sampe halaman 319. Sejauh ini sih... LOVE IT! Gue udah punya tokoh idola baru (as usual): si mbak 'Cempedak Jambi'. Hihihihihi
Profile Image for Erna Yuli.
46 reviews
January 27, 2017
Seperti drama sinetron dengan detail mendalam dan ya berasa entahlah.
Hanya itu sih yang ada di kepala setelah membaca buku ini.

Author 1 book7 followers
Read
December 9, 2012
No bintang for this book. Direkomendasikan bagi mereka yang: 1. membaca karena kagum pada nama besar pengarangnya. 2. kepingin dianggap pintar karena menyukai dan berhasil menyelesaikan buku ini. 3. kepingin tau kata-kata baru. 4. ingin tau arti sesungguhnya dari peribahasa: easy reading comes from hard labored full edited writing.

Tidak direkomendasikan untuk: Mereka yg ingin membaca fiksi yg keren.

Selesai membaca dan (terus-terang) melongkap dan melongkap berhalaman-halaman Boulevard de clichy, kisah cinta masa SMA antara Nunuk dan Budiman, Nunuk hamil, ortu Budiman tidak menyetujui hubungan mereka, mereka dipisahkan secara paksa, petualangan mereka masing-masing saat merantau di Eropa, ditutup dengan pembunuhan orangtua Budiman yang menjadi titik balik bersatunya cinta mereka yg terputus.

Selain kosa kata tidak biasa yang dipertontonkan oleh Remy Silado, juga informasi-informasi yang mempertontonkan luasnya pengetahuan, saya nggak merasa 'klik' dengan novel ini. Mungkin karena novel ini memang tidak ditulis untuk menggugah rasa melainkan untuk memprovokasi logika, tetapi di situpun saya terganggu dengan intervensi terus-menerus dari narator yang terus-terusan 'mendikte' secara detil bagaimana saya harus berpikir. Ada hal-hal yang ditanyakan lalu dijawab sendiri, padahal tanpa dijawab pun, hanya dengan melemparkan adegan berikut, pembaca sudah dapat memahami apa yang terjadi.

Gaya bahasanya sangat mengganggu. Seakan-akan pengarangnya tidak bisa memutuskan apakah dia ingin menulis sebuah kamus tesaurus, atau menulis sebuah cerita. Kritik-kritik yang dilemparkan dengan sangat frontal, menjadikan novel ini mirip ungkapan kekesalan penulisnya terhadap situasi dan kondisi saat ini. Novel ini jadi lebih mirip komedi slap stick. Sebagai pembaca saya tidak menangkap perkembangan karakter tokoh-tokoh, mereka terasa dangkal karena apa yg terjadi terhadap mereka, bahkan apa yg mereka pikirkan dan rasakan, tidak berasal dari mereka sendiri melainkan kesimpulan sepihak dari narator.

Saya tidak bisa memberi bintang untuk novel ini, walaupun penulisnya Remy Silado. Bagi saya, ini lebih mirip draft kasar daripada sebuah cerita yang sudah jadi. Apakah nggak ada editor yang bisa memolesnya sehingga menjadi cerita yang lebih enak untuk dinikmati? Apa nggak ada editor yang bisa memangkas banyaknya kata-kata berbeda dengan arti yang sama yang dijajarkan begitu rupa padahal tidak ada gunanya untuk jalan cerita itu sendiri. Saya kok yakin kalau dipangkas yang tidak penting2, tebal buku ini nggak bakalan lebih dari 300-an halaman saja.

Ok ok, not my cup of tea and never will be. Lanjooot petualangan desember dengan Jazz, Parfum dan Insiden, Seno Gumira Ajidarma.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
January 22, 2009
Duh, pingin deh ngereview novel ini dengan bahasa yang rada intelektual, seperti yang biasa aku liat di blog-blog resensi yang lain. Bukannya apa-apa, karena untuk mereview buku ’sekelas’ Om Remy ini, dengan bahasa aku yang rada nyeleneh, rasanya nggak pas aja, walaupun hal ini bukan suatu alasan. Tapi okelah, berusaha jadi diri sendiri aja deh.

Om Remy selalu menempatkan dirinya kedalam novel sebagai orang yang serba tahu, kali ini ia bercerita mengenai kehidupan Nunuk yang serba likaliku. Nunuk terlahir hampir sempurna kalau saja tidak berbibir sumbing. Ia memiliki tubuh yang indah dan wajah yang cantik –lagilagi apabila tidak berbibir sumbing. Karena bibirnya yang sumbing itu, hidupnya selalu menjadi bahan tertawaan, karena itupula ia selalu bercita-cita menjadi artis agar tidak terhina lagi. Singkat cerita, ayahnya rela merampok perempuan poruh baya, dan menggunakan uang tsb untuk mengoperasi Ninung. Ninung kini benar-benar sempurna.

Kesempurnaan yang pada akhirnya membawa ia kedalam pelukan Budiman, anak ketua DPRD yang tamak. Karena hubungan yang kelewat batas, Ninung menjadi hamil. Dan sialnya, ibu Budiman yang memiliki masa lalu buruk terhadap ibunya Ninung tidak merestui, sehingga Budiman “dibuatnya“ lupa terhadap Ninung dengan bantuan Opo-Opo (Dukun), selanjutnya agar benar-benar melupakan Nunuk, Budiman di depak ke Paris. Dengan uang hasil korupsi, Waluyojati –ayah Budiman, mampu berbuat seperti itu.

Nunuk sendiri, akibat tercampakan lantas memilih meneruskan cita-citanya untuk menjadi artis. Ia beruntung memiliki keluarga di Belanda, yang masih merupakan saudara ibunya –Ellen, yang memang asli dari sana. Ia belajar seni peran, hingga pada akhirnya ia melahirkan anaknnya di sana. Berberapa tahun kemudian, ia terpikat oleh tawaran seseorang pria berkebangsaan Turki yang menawarinya pekerjaan sebagai artis terkenal di Perancis, di sebuah teater terkenal di sebuah jalan di sana, Boulevard De Clichy. Karena ingin sukses, Nunuk menerima tawaran tersebut. Sialnya ternyata di sana ia dijadikan penari striptis dan pelacur tingkat tinggi hingga ia dijuluki Meteore de Java. Selanjutnya, Nunuk berjuang keras terhadap hidupnya.
Sebetulnya kisah semacam klise –apalagi berakhir dengan heppy ending, namun itulah hebatnya Om Remy, di tangannya, suatu yang klise menjadi sebuah mahakarya.
Profile Image for Ferina.
193 reviews33 followers
July 13, 2007
Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan yang harus melewati pahitnya hidup yang sepahit-pahitnya dan sesakit-sakitnya sebelum akhirnya dia mencapai kebahagiaan. Novel ini mungkin sebenarnya ‘hanya’ cerita cinta biasa, tapi dengan bumbu dan intrik-intrik yang rumit.

Novel ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Anugrahati, yang disapa Nunuk. Nunuk terlahir sebagai anak seorang supir metromini, Suhardi. Terlahir dengan bibir sumbing membuatnya sering minder. Hingga akhirnya sang ayah berjanji kalau dapat uang banyak, akan membiayai operasi untuk Nunuk. Dan memang akhirnya, Hardi mendapat uang dari hasil merampok rumah seorang wanita di Kelapa Gading.

Nunuk pun jadi primadona setelah bibirnya tidak lagi sumbing. Dia memikat laki-laki di sekolahnya, salah satunya adalah Budiman. Budiman pada dasarnya adalah pemuda pemalu, anak orang kaya, ketua DPRD, Waluyojati.

Singkat kata, akhirnya Nunuk hamil di luar nikah. Budiman ingin bertanggung jawab. Tapi, karena campur tangan orang tua Budiman yang sombong, Nunuk pun harus menahan sakit hati.

Nunuk punya cita-cita menjadi artis. Kebetulan ibunya, Ellen, yang masih keturunan Belanda, punya kakak di Belanda. Nunuk pun berangkat ke negeri Belanda bersama anaknya, Renata. Nunuk sekolah seni peran dan ia berhasil menarik seorang pencari bakat, Albeni yang mengajaknya ke Paris.

Tapi, apa daya, di Paris, ternyata Nunuk hanya menjadi penyanyi dan penari telanjang di sebuah klub di Boulevard de Clichy dengan nama Météoré de Java.
Seperti novel-novel sebelumnya, Remy Sylado memasukkan unsur-unsur politik di dalam ceritanya. Terkadang malah seperti dipanjang-panjangkan. Misalnya, cerita tentang ‘kerja kotor’ Waluyojati yang dibantuk pengusaha Bing Wijaya. Lalu, ada tokoh Suko Jiwandono yang menjadi kunci terungkapnya berbagai kasus kejahatan. Semua tokoh benar-benar hitam-putih. Yang jahat pasti berakhir tragis. Sementara yang baik harus menempuh jalan berliku untuk mencapai kebahagiaan.
Profile Image for Helene Koloway.
Author 4 books5 followers
August 15, 2010
Di awal membaca novel ini, akan berkesan picisan. Tapi, membuka halaman demi halaman berikutnya kesan itu akan berubah karena itulah gaya Remy Sylado yang menuliskan dengan gaya bahasa yang apa adanya.

Boulevard de Clichy menceritakan seorang wanita dengan tokohnya yang bernama Nunuk, yang berasal dari keluarga miskin, hamil di luar nikah dengan seorang laki-laki dari keluarga kaya. Terbuang dari kemiskinan, ketidakberdayaan, dan terdampar di negeri yang akan kebudayaannya, Perancis. Dan menjadi penari di daerah « merah »nya Perancis.

Di sinilah dia harus berjuang mempertahankan hidup dari kerasnya hidup, dengan menjadi seorang penari dengan julukan « Meteor de Java . » Di tengah kegalauan hidupnya, Remy Sylado mengungkapkan dengan dalam dengan mempertanyakan keberadaannya dan keberadaan Tuhan, di halaman 47.

Seperti di novel-novelnya, Remy Sylado selalu menggunakan kata-kata sehari-hari, tapi sangat dalam artinya. Dengan memakai peribahasa-peribahasa juga filosofi kehidupan. Seperti perumpaan « bambu », di mana bambu tidak akan pernah patah dibandingkan dengan kayu.

Di novel inipun sindiran-sindiran akan keboborokan penguasa yang duduk di pemerintahan ditulis dengan gamblang dan apa adanya.

Membaca novel ini, bukan hanya sekedar membaca sebuah novel biasa, tapi novel yang penuh dengan kesan moral tanpa menggurui, dengan selipan kata-kata yang ada kalanya berkesan vulgar, tapi bukan kampungan. Oleh sebah itulah Remy Sylado menjadi penulis favorit saya, dengan karya-karya sastranya tanpa susah dimengerti. Sastrawan « mbeling » yang karya-karyanya penuh dengan filosofi kehidupan….. !!!
Profile Image for Alfian.
3 reviews
July 26, 2007
pertama liat bukunya, aku nggak begitu tertarik. Selain karena covernya biasa banget dengan warna kuning dan seorang penari kabaret.
Tepi setelah membaca bukunya, ternyata luar biasa. Banyak kejutan kejutan. Dan sudah menjadi ciri remy silado, dia selalu membuat detail lokasi yang luar biasa. Aku yang belum pernah mengunjungi kota Paris, seakan berada di lokasi dengan detail gang dan jalan yang ada serta suasana.

Dibalut intrik percintaan dan sedikit menyentuh politik, buku ini wajib di baca.....

Hidup Remy Silado!!!!!!!
Profile Image for Eko.
15 reviews
February 4, 2010
dibeli karena harganya yang terlalu murah untuk buku setebal itu. nggak nyesel juga bacanya. walaupun kata2 yang dipake terlalu vulgar buat gw. itu mungkin krn pengarangnya cowok kali yah?

tapi ceritanya begitu nyata, tokoh2nya seakan memang ada di dunia kita dengan nama yang berbeda. dan cara dia menceritakannya bikin gw seperti nonton film di kepala gw.

paling suka sama tokoh wartawan super n temennya polisi jujur. hubungan mereka mirip kaya batman n inspektur polisi kota gotham si gordon.

jadi nggak nyesel beli bukunya. layak dibaca. paling meringis2 dikit baca kata2 yg vulgar.
Profile Image for lita.
440 reviews68 followers
April 6, 2009
ngebutz..!!! besok harus selesai nih :P

-----------------
Boulevard de Clichy, cerita yang klise. Cinta monyet yang terpisahkan karena egoisme orang tua, perpisahan yang mengharuskan si perempuan mengembara menjual diri dan harga dirinya sampai akhirnya ia bertemu lagi dengan laki-laki pujaannya. Agaknya Remy Sylado tidak bisa lari jauh dari kisah serupa seperti yang ia tulis dalam Ca Bau Kan dan Kembang Jepun.
Profile Image for Dina P..
194 reviews10 followers
December 23, 2009
Tulisan Remy Sylado ini tentang seorang perempuan Indonesia yang menjadi korban keangkuhan harta dan tahta. Dan dia pun bertualang ke Belanda dan sampai di Paris.

Secara keseluruhan alurnya mudah dimengerti dan mudah juga ditebak ending-nya. Menampilkan Paris yang lain dari yang sering aku dengar/baca/lihat di film-film. Tapi aku tidak suka dengan pemakaian beberapa "kata kotor" walaupun memang secara alur kata-kata tadi harus dipakai.

Lumayanlah...
Profile Image for Wuwun Wiati.
Author 3 books8 followers
November 30, 2010
Khas Remy, detail cerita teliti, dari background, karakter tokoh tokohnya, pertalian kejadian yang saling mengaitkan mereka. sehingga seorang anak supir metromini, bisa berada di Paris dan disana pula mantan pacar yang menghamilinya berada. belum lagi sosok si ketua DPRD itu. Kocak dan menarik karena pembaca tidak tahu dibawa ke mana cerita ini menuju akhir. Meski khas Remi lagi, bahasanya masih agak jadul hihi.
Profile Image for Dyah.
182 reviews8 followers
November 20, 2013
Menurut saya novel ini rame. Saya merasa terhibur membacanya, saya betah membacanya, saya ketawa membacanya. Saya nyaman membacanya.
Buku ini bukan ditulis oleh pengarang yang saking mau ninggi, jadinya ketinggian dan ga ada yang ngerti apa yang dia tulis.
Alurnya mudah dimengerti, paduan alur maju-mundur. Bahasanya juga tidak rumit, cuma ditulis dengan unik saja.
Kalau suka Ca Bau Kan, harusnya suka buku ini. Ini bacaan yang jauh lebih ringan (buat saya) daripada Ca Bau Kan.
Profile Image for Yohanna.
35 reviews
April 26, 2013
Berbeda dengan buku Remy Sylado yang lain. Buku ini sedikit terkesan mudah ditebak, bahasanya kurang menarik, dan terlalu ke-sinetron-an. Banyak hal di buku ini yang membuat dia menjadi klise. Remy terkesan marah dalam penulisan buku ini.
Namun, di buku ini banyak terdapat pribahasa yang jarang didengar, bagus juga buat ingin belajar. Dan daerah-daerah di Eropa yang membuatku semakin tahu.
Dua bintang untuk buku ini.
Profile Image for Jeng Nana.
38 reviews2 followers
February 16, 2009
Beuh.. call me shallow, tapi gw nggak dapet 'percikan' yang cukup untuk kasi lebih dari 2 bintang buat novel Remy Silado yang satu ini. Mungkin gw yang salah ekspektasi. Kalo kata temen gw, daripada berpanjang2 ngeripiu malah ketahuan kedogolannya, mendingan langsung bilang: this is not my cup of tea :)
Profile Image for Putu.
37 reviews4 followers
December 5, 2009
Yup, an agony indeed. Sebenarnya suatu kisah yang tidak lazim terjadi di Indonesia - ya kecuali soal bagaimana si tokoh cewenya bisa segitu terkenalnya di Boulevard de Clichy. Agak klise memang menurut gw, tapi alurnya yang rame (penuh kejutan) dan detail ceritanya yg apik membuat gw ngga bosan membacanya.
Profile Image for Octavia.
32 reviews5 followers
September 21, 2009
i like places in this book so much!!!!!!

rawamangun, gereja keluarga kudus rawamangun, arion, jalan pemuda, cipinang, kelapa gading, penjara, warakas, tanjung priok, ancol, daannn.........

FRANCE!!! oMG!!

Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
September 17, 2015
Novel pertama Remy Sylado yang gue baca dan jadinya suka banget. Baca novel ini kayak nonton pertunjukan teater.

Selera ya. Gue nikmatin kok baca cerita ini meskipun klise banget. Ya, seperti biasa, gue suka eksekusinya.
Profile Image for Sondang.
203 reviews18 followers
August 9, 2007
bosyen.
Ceritanya klise, dan menurutku terlalu dangkal karakterisasinya.
Aih, I'm still expecting him to write the characters like he did in Ca Bau Kan. Big mistake for putting too much hope :(
Profile Image for ristyad.
17 reviews
August 1, 2010
Booooooring.

I've decided not to finish this one. so after two-hundred-something pages i went straight to the last page. Sorry about that, Pak Remy Sylado..
Displaying 1 - 30 of 34 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.