Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lost In Teleporter: Kisah Cinta Abad Ke-22

Rate this book
Dewey tidak pernah menyangka bahwa teleporter - alat transportasi abad ke-22 - yang begitu dipujanya membuatnya kehilangan hidung. Siapa sangka teknologi supercanggih itu masih memiliki bug, yang - sialnya - baru ketahuan ketika ia yang menggunakannya.

Tetapi Dewey jadi bingung. Mungkinkah kejadian ini suatu berkah? Pertama, dia tidak pernah menyukai bentuk hidungnya yang lama. Kedua, dia berkenalan dengan si cantik yang jenius dari NatioTrans, Meylana, yang berhasil membuat hatinya jungkir-balik.

Atau, malah merupakan bencana? Pertama, karena wajahnya jadi aneh setelah hidungnya berubah. Kedua, bukankah dia sudah bertunangan dan sedang menyiapkan pernikahannya dengan Nilam?

www.gramedia.com

305 pages, Paperback

First published December 1, 2005

3 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Tria Barmawi

20 books37 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (7%)
4 stars
23 (20%)
3 stars
50 (43%)
2 stars
27 (23%)
1 star
6 (5%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Farah.
174 reviews32 followers
October 21, 2012
Selama ini gue selalu memilih untuk membaca buku-buku terjemahan. Tapi akhir-akhir ini, gue sempat beberapa kali dikecewakan dengan hasil terjemahan yang menurut gue kurang pas dan kurang ciamik. Jadi aja gue setengah hati dalam mempertimbangkan untuk membeli dan membaca buku-buku terjemahan.
Beberapa buku yang udah kebeli pun, begitu gue baca dan gue menemukan terjemahan yang kurang pas di hati, ujung-ujungnya turn off. Ngga semangat pengen baca lagi.

Mungkin gue harus selektif juga milih buku sesuai dengan nama penerjemahnya ya? Lama-lama makin picky dong kalo kayak gitu sih :(

Lalu kenapa gue memilih meminjam buku ini di perpustakaan?
Karena judulnya yang berbahasa Inggris.
Gue pikir buku terjemahan. Tapi kemudian gue membaca endorsenya Primadonna Angela, semacam jadi tertarik pengen baca.

Eh maaf dong yah, kalo gue agak nyinyir dikit nantinya.
Ini buku terbitan tahun 2005 yang gue baca di tahun 2012. Jadi gue pake sudut pandang tahun 2012.

Ceritanya tentang Indonesia yang sudah lebih futuristik. Dimana manusia bisa berpindah tempat dalam waktu singkat menggunakan mesin teleport. Sial bagi salah satu user, hidungnya ketuker sama hidung orang lain saat dia menggunakan teleporter untuk pertama kalinya.

Oh. Jangan ketipu sama resume di belakang buku. Disitu dituliskan bahwa Dewey Decimal Classification memuja teleporter. Kesan apa yang tertangkap oleh pembaca? Bahwa Dewey pengguna tetap teleporter? Bolak-balik menggunakan teleporter? A sucker for hi-tech devices?
Muahahahahahahaha. Salah semuanya.
Menurut gue, si tokoh utama ini tidak memuja teleporter karena kecanggihannya. Dia juga baru pake teleporter sebanyak 2 kali. Yang pertama sukses. Yang kedua, bikin hidungnya ketuker sama hidung orang lain. Dan dia juga ngeluh karena ongkos pake teleporter itu muahal. Cuma tetep dipake karena dia butuh banget. Jadi apa yang bikin dia 'memuja' mesin teleporter itu? Suara rekaman operator teleport yang menurut dia sexy.
Kalo jaman sekarang, mungkin ibaratnya ada orang yang kesengsem sama suara mbak-mbak Trans Jakarta.
Next stop, Matraman Shelter.
OMG this is my shelter!!
Please check your belongings and step carefully.
Oh I gotta go. Bye, sexy voice. I'll hear you again tomorrow!!

Next.
Begitu Dewey sadar hidungnya ketuker sama hidung-entah-milik-siapa-untunglah-bukan-hidung-milik-Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut-Jadi-Ini-Sebenernya-Teleporter-Apa-Portkey-? dia buru-buru mendatangi headquarternya NatioTrans dan mengadukan perihal ini, yang ternyata merupakan kasus pertama yang terjadi cuma gara-gara eh.. bug?

Mukanya Farah begitu membaca kata 'bug' disebut-sebut di novel ini
>> ( -___________________-" )a

Bugnya kok ya fatal amat.
Terus argumennya Dewey ngga kuat disini. Dia ngancem mau mempublikasikan masalah ini dengan tujuan mencoreng nama baik company. Dan Meylana, meh. Sama aja lemahnya. Ngga pake pertimbangan, langsung setuju aja.

Kalo gue jadi si Dewey, bener sih, gue bakal ngancem mau mempublikasikan hal ini. Tapi gue akan lebih spesifik. Biar hasilnya lebih dramatis.
Gue akan menghubungi dokter THT paling top untuk memindai dan bikin rekam struktur muka gue *sok pakek istilah medis*, memastikan bahwa pernapasan gue ngga terganggu, hal yang berhubungan dengan medis, blablablabla, baru memperkarakan masalah ini ke pengadilan. MUAHAHAHAHAHAHA

Apa bakal kepikiran gue memastikan si Melyana ini punya darah campuran apa kagak? Ngga bakal lah. Wong gue pengen idung gue balik. Kan gue mau nikah!!

Nah itu masalahnya. Dewey ngga kepikiran mau ke dokter THT. Secara dia mungkin sibuk nabung buat nyiapin kawinannya.

Kemudian kalo gue jadi Melyana, gue akan terperangah, lalu berpikir keras, lalu menghubungi atasan-atasan gue untuk mengadakan rapat darurat untuk memutuskan langkah apa yang harus diambil, lalu menghubungi paralegal perusahaan untuk membuat kontrak yang sangat mengikat untuk si Dewey, kalo perlu dibawah sumpah samber geledek, dan tidak akan beramah-tamah sama si Dewey, dan selalu alert tingkat tinggi. Sepanjang cerita bawaannya curigatiooooon terus.
Iya dong, kan ini rahasia perusahaan dan nama baik yang dipertaruhkan. Kenapa sempet-sempetan suka sama orang yang ngga pinter, emosional, labil, moody, dan hidungnya ketuker sama orang lain kayak si Dewey ini?
Jadi semua chapter yang mengikuti jalan cerita setelah halaman 55 ngga akan valid.

Tapi masalah medis diatas sempet disebut-sebut sama paralegal di dalam cerita ini sih. Mungkin suatu bentuk kelegaan dari sudut pandang si paralegal karena si tokoh utama ngga kepikiran mau memperkarakan hal ini lebih lanjut?
Tapi buat gue justru menunjukkan betapa tidak cerdasnya si tokoh utama di cerita ini. Hahaha

Ada yang aneh saat pencarian pengguna teleporter yang menggunakan mesin pada hari yang sama dengan Dewey dilakukan.
Menurut gue sistem terkomputerisasi kayak gitu harusnya mudah aja ya dilacaknya. Kan salah satu metode pembayarannya pake kartu kredit. Kenapa ngga dicoba di cross-check ke database card centernya?

Ya balik lagi lah ya. Bukunya diterbitin di tahun 2005. Mungkin juga ngga kepikiran beberapa hal ini:
Logika gue sih, Jakarta tahun 2101, nilai inflasi mesti udah naik berapa puluh persen dari sekarang. Dan katanya pake mesin teleporter itu mahal banget. Ngga mungkin pake cash sih kayaknya. Karena pecahan terbesar mata uang negara kita aja 100,000 rupiah. Ngga tau ya kalo pada saat itu pecahannya udah ada yang 1,000,000 selembar. Atau dalam bentuk koin. Atau pake chip. Atau pake rekam pindai retina mata. *makin absurd*
Tapi minimal pake debit atau pake cc lah.
Toh e-ktp aja nanti denger-denger datanya bakalan bisa jadi satu sama data perbankan kita..
Etapikan saat novel ini diterbitkan, e-ktp belum kedengeran gaungnya…
Tapi alih-alih mau crosscheck ke card center bank, malah mengandalkan data di 108.

*Balik lagi pasang muka* >> ( -___________________-" )a
Degradasi tema futuristik, ah, kalo tahun 2101 aja masih mengandalkan database Telkom.
Udah gitu malah didatengin satu-satu juga ujung-ujungnya.

Oh. Fokus. Ini buku terbitan 2005. Baiklah.

Dan ceritapun berkembang sesuai kemauan si penulis.
Jadi kesimpulannya menurut gue sih, sebenernya buku ini menawarkan tema yang lumayan berbeda. Futuristik.
Dan istilah-istilah IT disini berhamburan dengan begitu ramainya. Keukeuh pengen menampilkan kesan canggih, tapi tetep tradisional.
Tapi ya gitu, gue paham sih kesulitannya membangun dunia teatrikal di dalam kepala kalau konsep yang ada sebenarnya masih setengah-setengah.
Kalo mau bilang Indonesia sudah sangat futuristik, kok ya di masa sekarang aja pemerintahnya ble'e. Nanti mesti menjelaskan revolusi besar-besaran kenapa Indonesia bisa jadi futuristik karena jujur aja, secara logis pasti bakal banyak banget yang akan diubah secara radikal. Ujung2nya nanti lari ke sejarah. Mau potong kompas, pembaca pasti ngga bakalan langsung menerima ide ini.

Mau bikin latar belakang fantasi, ya tapi pengennya latar belakangnya Indonesia, tapi ngga mau kehilangan unsur ke-Indonesiaannya juga. Makanya masih bawa-bawa nasi tutug oncom, dan beberapa daerah yang masih ada sawahnya.
Eh, yakin, tahun 2101 bakalan masih ada sawah?
Gue bagi-bagi info dikit disini deh. Kan sekarang bisa loh, menanam tanaman dengan metode hidroponik. Di pelajaran Humanities di sekolah gue diajarkan. Untuk menghemat lahan. Apa itu hidroponik? Silakan di Google sendiri.

Jadi ya gitu. Indonesia di tahun 2101 versi Dewey menjadi serba tanggung.
Mungkin itu juga sih cerminan negara kita di masa depan. Pemerintah kita kan bikin kebijakan emang serba tanggung.

Susah ya. Dalam fiksi, semua harus serba masuk akal. Sementara di dunia nyata, ngga masuk akal pun, masih bisa kita terima.

Tapi somehow gue paham banget seperti apa rasanya membaca buku terbitan tahun 2005 ini di tahun 2012. Persis sama seperti membaca buku teks geografi terbitan tahun 2009 yang ngomongin tentang kecanggihan Sistem Informasi Geografi di tahun 2009.
Sekarang? Dih anak-anak murid gue udah pada pake google maps di iPhone masing-masing, kali. Udah ngga kebayang alat-alatnya SIG yang segede-gede bagong di kepala mereka.

Tapi mari kita meluncur ke masa lalu sejenak.
Kalau buku ini gue baca di tahun 2005, gue bakalan masih ada di semester 6. Single, belom pernah pacaran yang beneran pacaran. Lalu dihadapkan sama tokoh Meylana yang sukses. Nilam yang manis. Rea yang ceriwis. Mungkin gue akan memuja buku ini. Dan terkagum-kagum sama isi jalan ceritanya. Penulisnya akan gue anggap visioner. Dan gue jadi pengen nulis buku sendiri. Karena gue bisa mengatur2 jalan hidup orang lain sesuka hati.

Jadi berapa bintang yang harus gue berikan untuk buku ini?

….
………
……………….

*mikir sampe tahun baru 2013*

ah baiklah. 2 bintang cukup.
Profile Image for Euisry Noor.
150 reviews65 followers
June 17, 2008
Sebuah novel sci-fi yang mengambil setting futuristik, bercerita mengenai kisah cinta Dewey, seorang pemuda yang tengah menjelang masa pernikahannya. Ide cerita ini sungguh unik, kehilangan hidung! Ada-ada saja. Memang, cara penulis menyampaikan cerita juga kocak, ditulis dengan gaya santai dan rileks. Membaca novel ini membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Bahasa yang digunakan begitu mengalir, lancar, cerdas dan luwes sehingga tidak membosankan. Di samping itu, pemaparan mengenai sisi sains dan teknologinya juga ringan dan mudah diikuti. Rasanya pembaca yang tidak begitu familiar dengan istilah-istilah teknologi yang digunakan didalamnya juga tidak akan kesulitan mengikuti pemaparannya. Penulis juga menyertakan keterangan untuk istilah-istilah tersebut.

Fokus teknologi yang dipaparkan dalam novel ini, tentu saja teleporter, mesin canggih yang digunakan untuk transportasi objek dari suatu tempat ke tempat lain dalam beberapa detik. Selain teleporter, teknologi lain yang banyak disinggung yaitu mobile phone. Sayangnya, menurut saya akan lebih menarik lagi jika produk-produk teknologi lainnya juga ditampilkan, mengingat novel ini mengambil setting di tahun 2101. Apalagi ceritanya banyak mengambil setting di perusahaan tercanggih dalam negeri. Namun terlepas dari semua itu, deskripsi mengenai sisi IT di dalamnya menarik dan gamblang. Memang, penulisnya sendiri adalah orang IT yang mengerti sekali bidangnya itu.

Menurut saya, ada beberapa bagian pemaparan emosi yang kurang mengena pada konflik cerita. Mungkin karena gaya bahasanya yang easy going, dan kebanyakan hanya disampaikan lewat dialog. Padahal jika emosi ini dieksplor lebih jauh, tentu emosi pembaca akan lebih ikut teraduk. Tapi hal ini membuat kita tetap fresh membacanya. Di samping itu, hal ini memang cocok dengan karakter Dewey, tokoh utamanya.

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini. Bahasanya begitu ringan dan ceplas-ceplos, tapi dibalik itu tetap menyimpan nilai-nilai. Inti pesan yang saya tangkap dari novel ini antara lain, kita harus pandai bersyukur atas apa yang kita miliki. Di samping itu, kita jangan hanya terbuai oleh kecanggihan materi duniawi dan mengabaikan hal-hal spiritual yang dapat mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Selebihnya, tentang pendewasaan diri, bagaimana kita dapat lebih jujur terhadap diri sendiri, serta keterbukaan dan kepercayaan terhadap orang yang kita cintai.

Berikut ini adalah sinopsisnya:

Dewey kehilangan hidung! Itu terjadi ketika ia menggunakan teleport dalam perjalanan hendak menghadiri rapat pernikahannya. Siapa sangka teknologi supercanggih itu masih memiliki bug. Dewey sangat panik. Ia mendatangi perusahaan NatioTrans, perusahaan tercanggih Indonesia yang mengelola teleport tersebut untuk mengajukan komplain. Hal ini berbuntut panjang, membawa Dewey kepada hal-hal baru dalam hidupnya. Entah kejadian ini merupakan berkah ataukah bencana bagi Dewey. Dia bingung. Dia memang tidak pernah menyukai bentuk hidungnya yang lama, tapi wajahnya juga jadi terlihat aneh setelah hidungnya berubah. Selain itu, gara-gara kejadian ini, Dewey berkenalan dengan Meylana yang cantik dan jenius dari NatioTrans, yang berhasil membuat hatinya jungkir-balik. Masalahnya, bukankah dia sudah bertunangan dan sedang menyiapkan pernikahannya dengan Nilam?
Profile Image for Morningdew.
21 reviews7 followers
March 28, 2014
Saya kira kalau genrenya sudah sains dan hitech, kisah cinta di dalamnya akan dieliminir. Tetapi ternyata saya lagi-lagi keliru. Buku ini justru mengangkat tema cinta sebagai topik utama, tentunya dengan bumbu sains dan high-technology yang menggigit. Berkisah di abad ke-22, tepatnya di tahun 2101, buku ini memberi nuansa tersendiri bagi para pecinta buku.

Diceritakan seorang pecinta gadget dan maniak teknologi yang setelah menggunakan teleporter (alat transportasi paling canggih kala itu) kehilangan hidungnya secara tiba-tiba. Dewey kemudian mengunjungi kantor NatioTrans untuk meminta hidungnya kembali karena ia yakin kejadian tersebut disebabkan oleh teleportasi yang baru saja ia lakukan. NatioTrans adalah perusahan pencipta teleporter yang membuka cabang di setiap negara. Dengan bantuan mesin teleportasi, seseorang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang ia tuju dalam hitungan detik. Tanpa diduga, ternyata di NatioTrans bekerja juga seorang perempuan cantik bernama Meylana si pemimpin divisi riset yang seketika itu membuat Dewey jatuh cinta. Di sisi lain, Nilam calon istrinya telah mempersiapkan segala pernak-pernik untuk pernikahan mereka.

Dewey yang diam-diam jatuh cinta kepada Meylana tak menyadari jika sebenarnya Nilam yang lembut dan anggun memiliki kebiasaan yang aneh, yakni sering melakukan perjalanan astral. Perjalanan astral merupakan keluarnya jiwa dari raga seseorang untuk kemudian berkelana ke tempat manapun yang ia mau dan proses ini adalah hal yang terencana dengan matang. Singkatnya ini merupakan bentuk perjalanan seseorang dalam mimpi, namun ia sendirilah yang mengendalikan mimpi itu. Tidak semua orang memiliki kemampuan seperti ini. Dan untuk mencapainya, diperlukan latihan rutin seperti meditasi, yoga, solat, dan segala bentuk aktivitas penenang jiwa lainnya. Dalam mimpinya, Nilam bertemu Narada, seorang yang ternyata ia pun menaruh hati padanya. Namun dalam kehidupan nyata, Nilam dan Dewey adalah sepasang sejoli yang sempurna di mata orang-orang. Kedekatan mereka selama tiga tahun pun membuat mereka tak dapat mengindari hadirnya cinta di antara mereka.

Bagaimana kelanjutannya? Silakan sisanya Anda baca saja sendiri karena tak seru rasanya jika semua saya beberkan di sini.

Saya menemukan hal yang baru setelah membaca buku ini, dan saya pun senang ternyata buku ini menjadi salah satu dari sekian koleksi saya. Hanya saja, saya merasa buku ini kurang greget untuk dihadiahi lima bintang. Ceritanya meskipun sebenarnya sangat menarik, namun bagi saya masih kurang luas. Kemudian gambaran tentang tahun 2101 sepertinya masih tak jauh berbeda dengan tahun 2012 ini, yang menurut saya seharusnya sudah kontras. Empat bintang lumayan..
Profile Image for Ferina.
193 reviews33 followers
July 13, 2007
Pernah membayangkan gak, kalau Indonesia akan jadi negara yang super canggih? Gak akan ada lagi yang namanya KRL, tapi diganti Kereta Kecepatan Tinggi. Atau kalau mau lebih canggih dan lebih cepat lagi, silahkan menggunakan teleporter. Hanya dalam hitungan detik… bzzzz… kita bisa langsung sampai ke tempat tujuan. Tapi, kebayang juga gak, kalau si alat super canggih ini bisa bikin kita kehilangan hidung dalam arti yang sebenarnya. Bukan seperti kehilangan muka alias malu.. tapi benar-benar kehilangan hidung. Lho koq bisa??

Itu yang dialami Dewey ketika ber-teleport ke Bandung. Gara-gara tasnya ketinggalan, dia harus mengulang proses teleport yang membuat dia harus kehilangan hidung. Hidungnya sih ternyata gak benar-benar hilang, tapi tertukar sama hidung orang lain – yang celakanya gak rela kalau harus kembali ke hidungnya yang lama!

Kita akan dibawa berjalan-jalan ke sebuah kantor tempat teleport diciptakan, perusahaan yang namanya NatioTrans. Demi menemukan hidungnya, Dewey mendatangi kantor NatioTrans, ‘menuntut’ agar hidungnya dikembalikan. Selain dipusingkan karena gara-gara pencarian hidung, Dewey juga dipusingkan dengan persiapan pernikahannya dengan Nilam. Apa kata orang melihat ‘hidung’nya yang baru? Bisa-bisa dikira operasi plastik. Ditambah lagi, salah satu pegawai NatioTrans, Meylana, tiba-tiba menarik hatinya.

Jadi, disamping kita diajak ‘terombang-ambing’ dengan perasaan Dewey, kita juga disuguhi cerita bagaimana proses awal teleporter itu. Akan banyak ditemui istilah-istilah yang ‘ajaib’. Tapi, jangan takut, ada penjelasan di footnote biar pembaca gak bingung.

Berlatar belakang Indonesia abad 22, ketika semuanya sudah serba canggih, novel ini adalah sebuah novel tentang cinta yang dibungkus dalam nuansa science fiction. Seolah ingin ‘menggaet’ dua tipe pembaca yang berbeda, satu yang suka science fiction, satu lagi yang suka cerita cinta-cintaan. Menyentuh, lucu, dan informatif juga.

Silahkan berangan-angan… semoga kita bisa merasakan transportasi yang serba canggih dan nyaman itu suatu hari nanti… asal gak pakai ‘tukaran’ hidung atau yang lainnya…
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
July 21, 2010
Buku ini hadiah dari Nilla karena lagi obral, Nilla bilang jadi hadiah aja. Ga lama aku nemuin juga buku ini di obralan Gramedia.

Lucu awal ceritanya. Setting di abad ke 22 sekitar tahun 2100 gitu. Ceritanya alat transportasi jadi sangat maju sampe ada yang namanya teleporter alias alat untuk berpindah kemanapun kamu suka dengan hitungan detik saja. Keren banget ya. Saya harap alat seperti memang akan ada nantinya :D

Dewey, si tokoh utama akan ke Bandung untuk menghadiri rapat keluarga acara pernikahannya bersama Nilam. Kenapa namanya Dewey yah? Berasa kayak cewe, mungkin biar kedengeran canggih gitu ya. Eh si cewe di kasih nama Nilam yang sangat terdengar Indonesia :p mbok ya klo buat namanya canggih gitu, semua nama jangan satu2 ya :p

Karena pengen cepet, akhirnya dari Jakarta Dewey pake jasa teleporter itu tadi. Eh ga disangka setelah sampe di Bandung, hidung Dewey justru berubah. Hehehe emang rada aneh ceritanya, kayak ndak masuk akal, kok hidung yang dibawa-bawa :D

Karena hidungnya berubah, Dewey merasa perlu menuntut pihak NatioTrans yang punya Teleporter itu untuk mengembalikan hidungnya seperti sedia kala. Tentu saja hal itu ga mudah dan membawa Dewey bertemu Meylana seorang cewe cantik kepala divisi perangkat lunak NatioTrans.

Jatuh cinta deh tuh Dewey sama Meylana. Gimana dengan Nilam yang merupakan tunangannya? Nilam malah bertemu seseorang yang membawanya pada cinta sebenarnya dan terkait dengan hidungnya Dewey juga.

Ceritanya lucu, endingnya menarik. Tapi setting yang dibuat abad ke 22 cuma sekedar kecanggihan transportasi doang yang keliatan yang lainnya ga ada yang canggih. Jadi menurut saya kurang sempurna aja settingnya. Terlepas dari itu, ceritanya memang unik dan ga biasa.
Profile Image for Ophan Bunjos.
Author 8 books36 followers
October 23, 2012
apa yang aku boleh perkatakan tentang buku ini? tentang sains? tentang masa hadapan? atau tentang cinta? aku cuma habiskannya. di penghujung kisah aku lebih mengharap tipikal sebuah cerita cinta. happy ending.

alasan atau akibat untuk sebuah pertemuan dan pertautan rasa kasih begitu di luar jangka. gara-gara hidung yang tertukar sahaja maka kisah ini dipanjangkan. watak Dewey yang akhirnya keliru dengan perasaannya sendiri, tidak tetap pendirian dan kuanggap sebagai lelaki yang mudah tewas. begitu aku cuma teruja saat adegan bercumbuan di hadapan pintu rumah Mellyana, sedikit menghangatkan sekujur tubuhku. aku mau ia dilanjutkan ke peraduan. tapi sayang ia tertahan.

pada buku ini, aku mulai mengenal astral projection. aku mau khayal seperti itu. dan aku suka-suka mencipta lebih banyak ruang fantasi. bertemu dengan sang angel yang mengelus rambutku begitu lembut dan halus. yang mencumbuku dengan ghairah. aduh, penasaran! dan lanjutan dari setelah habiskan buku ini ada satu yang kekal di fikiranku:

"aku mau tiba pada saat itu."


Profile Image for Agi.
24 reviews
September 6, 2010
Yang paling gw inget dari buku ini adalah si tokoh utama yang hidungnya tertukar saat melakukan teleportasi. Dan dari proses tertukarnya hidung itulah cerita ini berawal. Ceritanya bersetting futuristik. Asyik juga kali ya kalo teleporter itu beneran ada.
Profile Image for Tezar Yulianto.
392 reviews38 followers
March 1, 2016
Ceritanya agak aneh. Kisah teleporter, memindahkan manusia dari suatu tempat ke tempat lain dalam waktu sekejap/kasat mata. Kalau memang ada yang menarik, bagi yang suka kisah-kisah ber-genre teknologi, banyak istilah hi-tech melimpah ruah di buku ini.
Profile Image for Dian Christy B. Saragih.
21 reviews5 followers
March 30, 2012
Baca novel ini bikin aku ngarep kalo ada teleporter beneran (minus bug-nya pastinya). Di jaman sekarang yang serba macet kalo kemana-mana, asik banget kalo teleporter does exist. Menurutku, Mbak Tria kreatif banget bisa kepikiran transportasi yang kaya begini :)
Profile Image for Rina Purwaningsih.
82 reviews1 follower
April 24, 2012
Waktu itu suka sih baca buku ini...
Perjalanan Jakarta - Bandung hanya perlu waktu beberapa detik, secepat kita mengirim e-mail. Ah andai masa itu sudah ada di jaman ini...gak perlu berpanas-panas naik Kopaja, Metromini atau ngepot sama Bajaj...
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.