Selama ini gue selalu memilih untuk membaca buku-buku terjemahan. Tapi akhir-akhir ini, gue sempat beberapa kali dikecewakan dengan hasil terjemahan yang menurut gue kurang pas dan kurang ciamik. Jadi aja gue setengah hati dalam mempertimbangkan untuk membeli dan membaca buku-buku terjemahan.
Beberapa buku yang udah kebeli pun, begitu gue baca dan gue menemukan terjemahan yang kurang pas di hati, ujung-ujungnya turn off. Ngga semangat pengen baca lagi.
Mungkin gue harus selektif juga milih buku sesuai dengan nama penerjemahnya ya? Lama-lama makin picky dong kalo kayak gitu sih :(
Lalu kenapa gue memilih meminjam buku ini di perpustakaan?
Karena judulnya yang berbahasa Inggris.
Gue pikir buku terjemahan. Tapi kemudian gue membaca endorsenya Primadonna Angela, semacam jadi tertarik pengen baca.
Eh maaf dong yah, kalo gue agak nyinyir dikit nantinya.
Ini buku terbitan tahun 2005 yang gue baca di tahun 2012. Jadi gue pake sudut pandang tahun 2012.
Ceritanya tentang Indonesia yang sudah lebih futuristik. Dimana manusia bisa berpindah tempat dalam waktu singkat menggunakan mesin teleport. Sial bagi salah satu user, hidungnya ketuker sama hidung orang lain saat dia menggunakan teleporter untuk pertama kalinya.
Oh. Jangan ketipu sama resume di belakang buku. Disitu dituliskan bahwa Dewey Decimal Classification memuja teleporter. Kesan apa yang tertangkap oleh pembaca? Bahwa Dewey pengguna tetap teleporter? Bolak-balik menggunakan teleporter? A sucker for hi-tech devices?
Muahahahahahahaha. Salah semuanya.
Menurut gue, si tokoh utama ini tidak memuja teleporter karena kecanggihannya. Dia juga baru pake teleporter sebanyak 2 kali. Yang pertama sukses. Yang kedua, bikin hidungnya ketuker sama hidung orang lain. Dan dia juga ngeluh karena ongkos pake teleporter itu muahal. Cuma tetep dipake karena dia butuh banget. Jadi apa yang bikin dia 'memuja' mesin teleporter itu? Suara rekaman operator teleport yang menurut dia sexy.
Kalo jaman sekarang, mungkin ibaratnya ada orang yang kesengsem sama suara mbak-mbak Trans Jakarta.
Next stop, Matraman Shelter.
OMG this is my shelter!!
Please check your belongings and step carefully.
Oh I gotta go. Bye, sexy voice. I'll hear you again tomorrow!!
Next.
Begitu Dewey sadar hidungnya ketuker sama hidung-entah-milik-siapa-untunglah-bukan-hidung-milik-Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut-Jadi-Ini-Sebenernya-Teleporter-Apa-Portkey-? dia buru-buru mendatangi headquarternya NatioTrans dan mengadukan perihal ini, yang ternyata merupakan kasus pertama yang terjadi cuma gara-gara eh.. bug?
Mukanya Farah begitu membaca kata 'bug' disebut-sebut di novel ini
>> ( -___________________-" )a
Bugnya kok ya fatal amat.
Terus argumennya Dewey ngga kuat disini. Dia ngancem mau mempublikasikan masalah ini dengan tujuan mencoreng nama baik company. Dan Meylana, meh. Sama aja lemahnya. Ngga pake pertimbangan, langsung setuju aja.
Kalo gue jadi si Dewey, bener sih, gue bakal ngancem mau mempublikasikan hal ini. Tapi gue akan lebih spesifik. Biar hasilnya lebih dramatis.
Gue akan menghubungi dokter THT paling top untuk memindai dan bikin rekam struktur muka gue *sok pakek istilah medis*, memastikan bahwa pernapasan gue ngga terganggu, hal yang berhubungan dengan medis, blablablabla, baru memperkarakan masalah ini ke pengadilan. MUAHAHAHAHAHAHA
Apa bakal kepikiran gue memastikan si Melyana ini punya darah campuran apa kagak? Ngga bakal lah. Wong gue pengen idung gue balik. Kan gue mau nikah!!
Nah itu masalahnya. Dewey ngga kepikiran mau ke dokter THT. Secara dia mungkin sibuk nabung buat nyiapin kawinannya.
Kemudian kalo gue jadi Melyana, gue akan terperangah, lalu berpikir keras, lalu menghubungi atasan-atasan gue untuk mengadakan rapat darurat untuk memutuskan langkah apa yang harus diambil, lalu menghubungi paralegal perusahaan untuk membuat kontrak yang sangat mengikat untuk si Dewey, kalo perlu dibawah sumpah samber geledek, dan tidak akan beramah-tamah sama si Dewey, dan selalu alert tingkat tinggi. Sepanjang cerita bawaannya curigatiooooon terus.
Iya dong, kan ini rahasia perusahaan dan nama baik yang dipertaruhkan. Kenapa sempet-sempetan suka sama orang yang ngga pinter, emosional, labil, moody, dan hidungnya ketuker sama orang lain kayak si Dewey ini?
Jadi semua chapter yang mengikuti jalan cerita setelah halaman 55 ngga akan valid.
Tapi masalah medis diatas sempet disebut-sebut sama paralegal di dalam cerita ini sih. Mungkin suatu bentuk kelegaan dari sudut pandang si paralegal karena si tokoh utama ngga kepikiran mau memperkarakan hal ini lebih lanjut?
Tapi buat gue justru menunjukkan betapa tidak cerdasnya si tokoh utama di cerita ini. Hahaha
Ada yang aneh saat pencarian pengguna teleporter yang menggunakan mesin pada hari yang sama dengan Dewey dilakukan.
Menurut gue sistem terkomputerisasi kayak gitu harusnya mudah aja ya dilacaknya. Kan salah satu metode pembayarannya pake kartu kredit. Kenapa ngga dicoba di cross-check ke database card centernya?
Ya balik lagi lah ya. Bukunya diterbitin di tahun 2005. Mungkin juga ngga kepikiran beberapa hal ini:
Logika gue sih, Jakarta tahun 2101, nilai inflasi mesti udah naik berapa puluh persen dari sekarang. Dan katanya pake mesin teleporter itu mahal banget. Ngga mungkin pake cash sih kayaknya. Karena pecahan terbesar mata uang negara kita aja 100,000 rupiah. Ngga tau ya kalo pada saat itu pecahannya udah ada yang 1,000,000 selembar. Atau dalam bentuk koin. Atau pake chip. Atau pake rekam pindai retina mata. *makin absurd*
Tapi minimal pake debit atau pake cc lah.
Toh e-ktp aja nanti denger-denger datanya bakalan bisa jadi satu sama data perbankan kita..
Etapikan saat novel ini diterbitkan, e-ktp belum kedengeran gaungnya…
Tapi alih-alih mau crosscheck ke card center bank, malah mengandalkan data di 108.
*Balik lagi pasang muka* >> ( -___________________-" )a
Degradasi tema futuristik, ah, kalo tahun 2101 aja masih mengandalkan database Telkom.
Udah gitu malah didatengin satu-satu juga ujung-ujungnya.
Oh. Fokus. Ini buku terbitan 2005. Baiklah.
Dan ceritapun berkembang sesuai kemauan si penulis.
Jadi kesimpulannya menurut gue sih, sebenernya buku ini menawarkan tema yang lumayan berbeda. Futuristik.
Dan istilah-istilah IT disini berhamburan dengan begitu ramainya. Keukeuh pengen menampilkan kesan canggih, tapi tetep tradisional.
Tapi ya gitu, gue paham sih kesulitannya membangun dunia teatrikal di dalam kepala kalau konsep yang ada sebenarnya masih setengah-setengah.
Kalo mau bilang Indonesia sudah sangat futuristik, kok ya di masa sekarang aja pemerintahnya ble'e. Nanti mesti menjelaskan revolusi besar-besaran kenapa Indonesia bisa jadi futuristik karena jujur aja, secara logis pasti bakal banyak banget yang akan diubah secara radikal. Ujung2nya nanti lari ke sejarah. Mau potong kompas, pembaca pasti ngga bakalan langsung menerima ide ini.
Mau bikin latar belakang fantasi, ya tapi pengennya latar belakangnya Indonesia, tapi ngga mau kehilangan unsur ke-Indonesiaannya juga. Makanya masih bawa-bawa nasi tutug oncom, dan beberapa daerah yang masih ada sawahnya.
Eh, yakin, tahun 2101 bakalan masih ada sawah?
Gue bagi-bagi info dikit disini deh. Kan sekarang bisa loh, menanam tanaman dengan metode hidroponik. Di pelajaran Humanities di sekolah gue diajarkan. Untuk menghemat lahan. Apa itu hidroponik? Silakan di Google sendiri.
Jadi ya gitu. Indonesia di tahun 2101 versi Dewey menjadi serba tanggung.
Mungkin itu juga sih cerminan negara kita di masa depan. Pemerintah kita kan bikin kebijakan emang serba tanggung.
Susah ya. Dalam fiksi, semua harus serba masuk akal. Sementara di dunia nyata, ngga masuk akal pun, masih bisa kita terima.
Tapi somehow gue paham banget seperti apa rasanya membaca buku terbitan tahun 2005 ini di tahun 2012. Persis sama seperti membaca buku teks geografi terbitan tahun 2009 yang ngomongin tentang kecanggihan Sistem Informasi Geografi di tahun 2009.
Sekarang? Dih anak-anak murid gue udah pada pake google maps di iPhone masing-masing, kali. Udah ngga kebayang alat-alatnya SIG yang segede-gede bagong di kepala mereka.
Tapi mari kita meluncur ke masa lalu sejenak.
Kalau buku ini gue baca di tahun 2005, gue bakalan masih ada di semester 6. Single, belom pernah pacaran yang beneran pacaran. Lalu dihadapkan sama tokoh Meylana yang sukses. Nilam yang manis. Rea yang ceriwis. Mungkin gue akan memuja buku ini. Dan terkagum-kagum sama isi jalan ceritanya. Penulisnya akan gue anggap visioner. Dan gue jadi pengen nulis buku sendiri. Karena gue bisa mengatur2 jalan hidup orang lain sesuka hati.
Jadi berapa bintang yang harus gue berikan untuk buku ini?
….
………
……………….
*mikir sampe tahun baru 2013*
ah baiklah. 2 bintang cukup.