s one of a survivor, I can say that this book is exactly like what my therapist has taught me 🥹
Niat awal baca buku ini cuma sebatas referensi untuk nulis. Tapi rupanya, aku malah seriously reading this book. Stephanie Moulton Sarkis menjabarkan setiap langkahnya secara step-by-step. Nggak tau berapa kali aku merasa bahwa “I relate with this.”
Misalnya saja bagian tentang mengidentifikasi toxic relationship melalui three characteristic stages: idealization, devaluing, and discard.
Setelah pembaca diajak mengenali tanda-tanda toxic relationship, penulis mulai satu per satu melalui bab-bab selanjutnya menjelaskan bagaimana “healing” bisa dilakukan. Not by walking away or denying. But facing it, secara perlahan-lahan.
Salah dua yang membekas sekaligus align dengan saran psikologku:
✅ (For)get closure
✅ Volunteer
No need to ask for closure karena toh nggak akan mengubah apapun. Jadi, lebih baik energinya dialihkan saja ke aktivitas yang lebih positif. Misalnya, go for volunteering, which I did!
Selain penjabaran, Healing from Toxic Relationship juga punya lembar “Check In” dan “Journaling Prompt”. Pembaca nggak cuma baca teori tapi juga bisa latihan dikit-dikit (which is awesome).
Ohya, buku ini nggak cuma ngebahas soal pacaran ya. Tapi juga pernikahan, bahkan pertemanan dan hubungan kerja profesional. Well, toxic relationship bisa terjadi di luar konteks relasi romantis, kan?
If you ask me what book you should read after going thru a toxic relationship, aku bisa rekomendasikan buku ini.
But if you have access to Mental Health Professional, you better go see them too.