Alysa adalah seorang anak bungsu. Karena ketidakadilan urutan lahir dengan sendirinya dia merasa menjadi sosok yang paling tidak dianggap di rumahnya. Namun, ia akhirnya menemukan eksistensinya di sekolah dengan menjadi ketua redaksi MACMading Anak Cendekia. Ambisinya lumayan gede. Pengin membuat MAC menjadi juara bertahan dalam lomba mading tahunan. Dengan panik Alysa mencari nama-nama baru untuk menambah anggota redaksi. Pilihan jatuh pada sepasang kembar siam dan seorang murid baru.
Ghifa, sang murid baru, rupanya cukup cerdas dan mampu mengimbangi cara berpikir Alysa, padahal dia tumbuh di kampung yang jauh dari kehidupan serba modern. Di sisi lain, kehadiran Ghifa juga melahirkan persoalan-persoalan baru dalam hidup Alysa. Peristiwa demi peristiwa terangkat. Mengantarkan merekan pada sebuah simpul. Dunia selalu memiliki keterhubungan yang tidak bisa diduga.
Her debut novel RUMAH TUMBUH (GROWING HOME) is a winner of Teenage Literature Competition 2005-held by Grasindo and Radio Netherland Wereldomroep, this book also won Adikarya Ikapi Award 2006, for young people's literature.
Rumah Tumbuh bercerita tentang dua semesta. Semesta Alysa yang penuh dengan usahanya untuk membuktikan diri sebagai anak bungsu dan semesta Ghifa, seorang murid madrasah yang pindah ke kota karena suatu alasan. Pertemuan di sekolah dan di redaksi majalah dinding membuat dua semesta yang terpaut jauh ini mulai mendekat. Apa jadinya kalau kedua semesta ini saling berbenturan?
Pas pertama baca judulnya, saya agak bingung maksudnya rumah tumbuh ini apa rumah yang bertumbuh atau rumah tempat kita tumbuh? Kalau dipikir-pikir, yang masuk akal tentu yang ke-2, tapi insting pertama saya malah maksud yang pertama.
Penggunaan bahasa oleh pengarang patut diacungi 2 jempol. Bahasa yang dipakai variatif dan mengalir dengan indah. Sayangnya bahasa yang bagus itu tidak seimbang dengan tokohnya. Kedua tokoh utamanya, Alysa dan Ghafi kurang dapat disukai. Alysa yang terlalu ambisius dan Ghafi yang, menurut saya, kurang memiliki kepribadian.
Yang paling mengecewakan adalah di bagian akhir novel ini. Permasalahannya tidak terselesaikan dengan baik. Semuanya terasa menggantung di tempat yang salah. Yeah, tokoh yang kurang menyenangkan dan akhir yang enggak banget? Terima kasih.
keren. Aku suka gaya bahasanya farah hidayati yang indah, mudah dipahami, mendayu - dayu. Bisa membuatku tersenyum, tertawa, dan sedih, mengikuti perasaan tokoh utamanya. Kisahnya remaja banget, tapi nggak klise kayak teenlit - teenlit biasanya. Salut buat Farah Hidayati dan terus berkarya! :D
pernah baca karena surprise yang nulis urang Banjar (kebetulan pas waktu itu saia stay di Banjar), apresiatif banget dan ya...pantas jadi juara satu...
kalimat yang tertata rapi dalam novel ini menghindarkan sakit dari mata bahasa. semoga banyak anak muda Indonesia seperti Alysa, yang hidupnya bersih jauh dari pencemaran. bravo Farah. i can see why this book won an award.
I loved this book when I was 13, truly feeling seen because I too was a journalistic extracurricular member and also having a crush on certain poetic and quiet kid lol. But yeah, it was so great to see how both POVs portrayed.
Setelah baca novel ini, yang ada di pikiranku cuma 1. Apakah jika aku baca saat pertama kali diterbitkan (2005, artinya aku masih "remaja") maka penilaianku terhadap novel ini akan berubah? hmmm no idea.
Yang jelas, aku agak tertatih menyelesaikan novel tipis ini. Ide dasarnya mengenai mading unik padahal. Jadi inget dulu jadi anak mading juga (dan kayaknya nggak se-drama anak mading di novel ini). Ada juga nyangkut isu-isu lingkungan dan KKN walaupun eksekusi akhirnya lemah.
Gaya penceritaannya hmm, bisa jadi bagus, tapi bukan tipe yang aku suka. Gak masalah diambil dari 2 sudut pandang berbeda (jadi ketika baca, kita harus memposisikan jadi tokoh si A dan si B secara bergantian), namun ntah mengapa saat baca, aku merasa tiba2 gaya bahasanya rancu, tiba2, merasa ada tokoh lain yang jadi sudut pandang, padahal dari awal sampe akhir, yang bercerita ya si tokoh A dan B saja.
Well, buku ini juara 1 lomba menulis. Aku jadi penasaran gimana yang juara 2 dan 3nya :p
Cukup menarik; Mencoba memasukan pemikiran mengenai masyarakat dan arsitektur pada buku remaja. Bila saya pencinta Teenlit mungkin saya akan memberi rating 4bintang.
oh.. buku ini mengingatkan saya; ingin mengetahui tentang rumah tumbuh lebih jauh. hehe konsep rumah tumbuh awalnya mau saya ambil untuk studio perancangan 2 saya.