Amarah mendorong Tagak Sikandung Batin mengembara sampai membelah laut dan mengawini paus. Keyakinan bahwa semua binatang bisa terbang menggerakkan para penyihir membuntungi kaki kuda-kuda. Kerugian karena tak bisa beroleh kuda-kuda berkaki utuh untuk ditukarkan dengan budak memantik Sigindo Rujumlamo memerangi para penyihir dengan pasukan gajah. Kegemaran pada perempuan bertubuh besar membuat Sultan Hayinam selalu mencari cara agar hasrat terpenuhi. Pencarian mendapatkan tuhan sejati menyebabkan Kaum Haret, yang pintar menyamar, berganti-ganti sesembahan, dan yang paling mereka sukai adalah yang bisa terbang.
Di tengah silang sengkarut, muncul Tuan Padam yang bisa memadamkan api yang menyala dari orang-orang yang membaca Kitab Tapak Kuda. Pula, seorang perempuan muda jelita turun dari langit dengan kuda terbang dengan satu tujuan, menghabisi laki-laki yang nantinya mengawininya.
Masuklah ke Lantak La, sebuah dunia di mana yang khayali dan yang sehari-hari bertabrakan dan membuatmu ingin bergabung dengan kaum penyihir.
Karya-karya awal Beri Hanna diterbitkan ketika berusia 22 tahun dalam majalah Makelar Bandit Tolchopo, Tuan Wokodjo Milik Kita Semua, Cerita Manusia Tanjung Pauh, Manuskrip Yang Terbakar, Dongeng Penelitian Nambuk Kubo, Tahun Batu Sumpah Batu, Lamaran, dan karya terkenal bertajuk Lantak Laa: Dramaturgi Anonim Anonim. WIKIPEDIA
Kisah berawal dari Sultan Hayinam yang kecewa dengan sapi pilihan Budak Tunjuk yang berkualitas buruk. Saking kesalnya ia memerintahkan pengawal untuk membunuh Budak Tunjuk, memotong-motong tubuhnya, lalu mengirimkan ke keluarganya.
Suzan Meralyevna, istri Budak Tunjuk tidak tahu bahwa daging dalam karung adalah mayat suaminya. Ia bangga, akhirnya suaminya bisa mengirimkan daging yang sangat banyak. Dengan segera ia memasak dan mengundang seluruh penduduk desa untuk menikmati daging tersebut.
Sesampainya di istana, pengawal Sultan Hayinam dengan terbahak melaporkan bahwa istri Budak Tunjuk yang gendut tidak tahu bahwa yang dimakan adalah daging suaminya. Sultan Hayinam tidak tertarik dengan laporan tersebut, sebagai penggemar wanita gendut, ia justru tertarik dengan kata gendut yang dilontarkan si pengawal. Singkat cerita, Suzan Meralyevna beserta bayinya yang bernama Tuan Tinggi dijemput dan dijadikan istrinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah Sultan bosan dengan Suzan Meralyevna, ia menyuruh pengawal melemparkan ke dalam kandang macan. Namun Tuan Tinggi, anak lelaki Suzan Meralyevna berhasil diselamatkan oleh Yavuz, pemuda yang sejak lama mencintai Suzan Meralyevna.
Tahun berlalu, Tuan Tinggi yang dibesarkan Yavuz di tempat rahasia telah beranjak dewasa dan ingin membalas dendam pada orang yang sudah membunuh ayah ibunya.
Percayalah, saya menceritakan kembali dengan sederhana, aslinya mbulet. Terus terang saya gagal paham dengan buku ini, sepanjang baca saya dibikin mumet dengan jalan ceritanya yang nggak fokus temtang apa. Belum lagi lokasinya yang berbeda-beda : Turki, Jambi, dan selat Malaka dengan kisah yang nggak nyambung satu sama lain.
Alurnya lompat-lompat nggak karuan, membuat saya pusing, ini alurnya mundur atau maju? Ada banyak tokoh yang dan sudut pandang yang berganti-ganti. Bahkan Tuan Tinggi pun punya 3 nama yang berubah-ubah dan membuat saya pusing.
Belum lagi kebingungan saya menjadi-jadi saat ditambah obyek-obyek aneh sebagai bumbu cerita, yang sebetulnya ya nggak gurih-gurih amat. Perempuan jelita turun dari langit dengan kuda tanpa kaki, manusia mengawini ikan paus, lelaki dengan kelamin ular piton, dan seabrek obyek absurd lainnya.
Sepanjang baca saya berusaha mencari benang merahnya. Akhirnya memang ketemu, itu pun setelah penulis membuat tokoh baru di akhir bab untuk menyambung benangnya. Di buku ini semua tokohnya culas, kalaupun ada yang baik, pasti ada rencana jahat dibaliknya. Tidak ada satupun yang berhati baik. Energi saya terkuras baca buku ini. Lelah. huhu.
Entah apa yang membuat dewan juri terkesima memberikan juara ke 3 pada sayembara novel DKJ. Saya mumet. Coba deh baca, mungkin teman-teman bisa menaklukkan dan menemukan keindahan buku ini.
Sebuah Novel pendek (atau novella) sekali duduk yang menyenangkan.
Jika ingin terkesima dengan imaji-imaji bak sebuah dongeng yang dikeluarkan lewat corong modern (dalam perbandingannya, mungkin, Raden Mandasia-nya Yusi) mungkin akan cocok.
Namun, jika selebihnya kaumengharapkan suatu hal yang menjadi 'standar sastra mutakhir' Indonesia, sepertinya anda tidak akan menemuinya di sini. Terasa biasa. Carvantes pada 407 tahun yang lampau telah melakukan apa yang telah dilakukan di sini, alias, tidak ada yang 'wah', gitu. Pun, juga ketika kita bergeser pada ide dari apa yang dituturkan di sini, macam hubungan paternal (yang mana mendominasi sekali), peletakkan "ketuhanan" di masyarakat, relasi kuasa dan lain-lainnya, terasa tercecer kurang rapi antar satu tema dengan yang lain.
Terlepas dari itu, sebagai bacaan yang seru, saya rasa, juga sudah menjadi alasan cukup untuk melahap buku ini
Sepanjang membaca buku ini, pembaca mendapati narasi dramatis lagi fantastis. Sebut saja cerita laki-laki yang kawin dengan ikan paus, laki-laki yang terobsesi dengan perempuan bertubuh besar, laki-laki berkelamin ular piton, penyihir yang gandrung memotong kaki-kaki kuda karena menganggap sejatinya binatang itu bisa terbang, sebuah kaum yang pintar menyamar sangat antusias mencari tuhan sejati, perempuan jelita turun dari langit dengan kuda tanpa kaki, dan seabrek objek absurd lainnya.
Selain balas dendam, pembaca juga menemukan ide-ide tentang paternal, ketuhanan, kekuasaan, sampai perempuan dan pernikahan.