Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional

Rate this book
On character education in Indonesian schools.

224 pages, Hardcover

First published January 1, 2011

Loading...
Loading...

About the author

Masnur Muslich

5 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (37%)
4 stars
2 (25%)
3 stars
3 (37%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Wandi Suhendi.
172 reviews11 followers
January 14, 2020
Indonesia saat ini sedang menghadapi dua tantangan besar, yaitu desentralisasi atau otonomi daerah yang saat ini sudah dimulai, dan era globalisasi total yang akan terjadi pada tahun 2020. Hal 35.

Kenyataan ini memang terbukti benar adanya ketika Indonesia telah memasuki fase di mana teknologi telah mendarah daging terhadap masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat dalam maraknya smartphone yang telah menjadi kebutuhan sehari-hari dari usia anak kecil hingga dewasa. Tentu ini bukanlah hal yang salah, namun ini menjadi “PR” baru bagi kita sebagai seorang pendidik. Seperti halnya apa yang dikatakan oleh Ali Ibn Thalib bahwa “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya”. Ilmu Pendidikan karakter dan Akhlak di Era modern penting kiranya untuk terus di Upgrade oleh para praktisi pendidikan, baik itu bagi seorang guru, maupun kita selaku orang tua. Karena pendidikan karakter adalah fondasi terpenting bagi seorang anak.

Thomas lickona, Seorang pakar pendidikan karakter mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, berarti sebuah bangsa itu sedang menuju pada jurang kehancuran. 201

Ke-sepuluh tanda itu jika disimpulkan dalam dua kata maka bisa dikatakan penyebab utama kehancuran itu adalah “Krisis Akhlak” kurangnya etika atau degradasi moral. Jika kita lihat, Indonesia sekarang ini bukan kekurangan orang pintar, tetapi justru kekurangan orang yang berakhlak dan berkarakter. Bukan main, para koruptor yang ditahan oleh lembaga KPK itu merupakan orang-orang pintar semua, bahkan pendidikannya tidak sedikit yang berkualifikasi doktoral S3. Tetapi ternyata itu bukan jaminan jika kepintaran saja yang dijadikan acuan tanpa memperhatikan dimensi Akhlakul Karimah.

Menurut Penulis, terdapat banyak penyebab kejanggalan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Terutama dalam aspek kurikulum yang menuntun siswa untuk menjadi seorang Ilmuwan dan Filosof. Seluruh mata pelajarannya dirancang sedemikian rumitnya untuk menyiapkan siswa masuk ke perguruan tinggi. sedangkan potensi siswa itu berbeda beda. Tidak harus selalu mengejar IQ, banyak potensi lainnya berdasarkan teori Gardner tentang kecerdasan majemuk.

Sekedar Perbandingan, pendidikan di Jepang dan Jerman mempunyai strategi utama untuk mencetak tenaga kerja handal dengan mendidik 60% penduduk terbawah dengan pendidikan keterampilan. Hal 26

Hanya 15% khususnya di Jepang yang terpandai dan siap dimasukan ke perguruan tinggi untuk menjadi saintis. akibatnya Jepang dan Jerman terkenal dengan keterampilan yang handal sehingga produknya terkenal paling bagus kualitasnya. Bagaimana dengan pendidikan di Indonesia? Mayoritas siswa di Indonesia sejak usia SD sudah habis energinya mengikuti pelajaran yang dirancang supaya mereka tidak mampu mengikutinya. Selain itu, metode pembelajaran di Kelas banyak yang menyalahi teori-teori perkembangan anak. hasilnya adalah generasi percaya diri, sehingga sempurnalah pencetakan SDM Indonesia yang berada di urutan terbawah: tidak bisa bekerja, tidak terampil, tidak percaya diri dan tidak berkarakter. Mereka tumbuh dikondisikan oleh sebuah system yang salah.
Displaying 1 of 1 review