GM Sudarta lahir di Klaten, 20 September 1945. Mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta tahun 1965-1967. Tahun 1967 bergabung dengan Harian Kompas, kemudian menciptakan tokoh Oom Pasikom dan mulai tampil pada April 1967.
Menerima penghargaan Hadiah Jurnalistik Adinegoro dan Tropi dari PWI (1983, 1984, 1985, 1986, 1987), Best Cartoon of Nippon (2000), Gold Prize Tokyo No Kai (2004).
Hingga kini masih menjadi kontributor untuk C&WS (Cartoonist & Writer Syndicate) dan beberapa media massa di Jepang.
Berisi 10 cerpen bertema tragedi 65. Seperti buku-buku lain yang menggambarkan peristiwa G30S/PKI, faktanya peristiwa ini sangat jauh berbeda dari film cekokkan doktrin pemerintah itu. Partai komunis yang dianggap sesat (tidak percaya tuhan) digambarkan melalui cerita-cerita pendek yang mengalir dan membekas.
Dua judul cerpen yang paling aku sukai dari buku ini yaitu berjudul Mbah Broto dan Merindu Jerit Kematian.
Mbah Broto menceritakan seorang Mbah bernama Broto mantan anggota Pe ka i. Beliau mengaku merupakan anggota partai yang didirikan oleh Semaun zaman Hindia Belanda. Partai ini berisi pergerakan protes sosial kepada pemerintah Hindia-Belanda karena sistem kapitalis yang membuat rakyat miskin. Mbah Broto ikut partai komunis untuk merebut hak-hak rakyat, tapi sayangnya di masa sekarang perjuangan Mbah Broto tidak ada harganya.
Yang kedua, Merindu Jerit Kematian menceritakan tentang penggambaran pembantaian jenderal pada saat tragedi itu terjadi. Banyak pihak yang tidak terlibat ikut terseret dan diberondol ke penjara, mereka diinterogasi dan disiksa layaknya hewan.
So far, aku suka penggambaran peristiwa-peristiwa di buku ini, meskipun tidak terlalu sadis, tapi tetap menyayat hati. Judul-judul cerpen lainnya yang belum aku sebutkan punya feel yang sama, miris dan membekas.
Kecamuk rasa tentang kekelaman tragedi 65 muskil tak terasakan ketika membaca cerita perceritanya. GM Sudarta menyusun kumcer ini melalui pengamatan dan pengalaman langsung serta investigasi terhadap para korban atau sanak-saudara korban kekerasan peristiwa berdarah tersebut. Pilu, masygul, jengkel, gidik, bercampur aduk dan tentunya sebetulnya banyak kisah yang lebih kompleks dan belum terceriterakan ceritanya.
Kita seperti dibawa ke peristiwa nyata karena penghayatan GM Sudarta yang piawai dan juga kepandaiannya meracik kata-kata. Kita akan merekonstruksi sendiri apa yang kita temukan, dan tentunya secuil pencerahan tentang duka yang tak berkesudahan.
Kumpulan cerita yang sangat menyentuh di balik tragedi 65' ,rangkaian kata nya dibuat sangat baik dan selalu membuat penasaran ! Sukses oom pasikom hahaha
Kumpulan kisah getir yang terjadi saat itu. Orang dengan mudah saling menghilangkan nyawa hanya bermodalkan desas-desus. Boroknya suatu sistem digambarkan dengan baik oleh Pak G. M. Sudarta.
Buku ini mengajak kita berpikir bahwa tragedi tahun 1965 itu gak melulu seperti versi pemerintah...
Banyak2 kepentingan2 yg dilakukan pejabat dengan menuduh orang sebagai pengikut partai terlarang hanya demi menggolkan keinginannya. Ada juga cerita tentang nasib orang yang keluarganya dituduh pengikut partai terlarang.
Buku ini bernuansa kelam, membuka pemikiran kita, ada sisi lain dari pedihnya tragedi 1965. Kumpulan cerpen di buku ini bener2 keren.
Terima kasih atas cerita-cerita pendeknya yang mengharukan dan kadang membuat miris. Terima kasih telah memberikan cermin kehidupan kepada kami yang sering sinis terhadap isu-isu tahun '65 dan kawan-kawannya. Semoga setiap orang yang difitnah bisa mendapatkan keadilan, setidak-tidaknya dengan merawat ingatan bahwa mereka bukanlah masyarakat kelas dua.
Cerita - cerita didalamnya memberikan saya banyak perspektif baru tentang kekejian tahun 65 yang tidak hanya sekedar pembunuhan, tapi lebih dari itu, kesengsaraan lahir dan batin yang tidak akan hilang dalam sekejap.
Kelam banget. Tiap cerpen punya kepiluan masing-masing dan penulis berhasil menghidupkan derita yang dirasakan setiap tokoh-tokohnya. Beberapa stigma masyarakat ditulis gamblang dan mau nggak mau, itu bikin miris.
Soal tragedi 1965 nggak melulu soal versi pemerintah, kan?