Sebagai ormas keislaman, Muhammadiyah kini tumbuh pesa dengan ribuan amal usaha; mulai dari amal pendidikan, sosial maupun bidang perekonomian. Lembaga pendidikan serta kesehatan adalah sekian dari ribuan amal paling menonjol. Di bidang ini, Muhammadiyah jelas bisa dikatakan sebagai pioner, atau pelopor bagi kesejahteraan masyarakat dan pencerdasan umat.
NAmun, apakah kemajuan pesat di bidang-bidang tersebut juga dialami Muhammadiyah dalam aspek pembaharuan pemikiran? Pertanyaan ini kerap mengemuka, utamanya di kalangan aktivis Muhammmadiyah. Tak sedikit yang menyebut Muhammadiyah kini berhenti 'bertajdid' dalam masalah pemikiran keagamaan. Yang lain lagi menyatakan, Muhammadiyah telah mengalami erosi pembaharuan pemikiran akibat kurangf diperhatikannya aspek ini oleh elit-elit Muhammadiyah. Yang tak kalah senitnya, Muhammadiyah kini telah menjelma bak perusahaan profesional, dengan ribuan amal usaha yang cenderung mementingkan aspek komersil. Masih banyak lagi argumrn-argumrn lainnya.
Buku ini mencoba menjawab benarkah modernitas Muhammadiyah telah layu atau bahkan lenyap digerus kemewahan badan usaha milik Muhammadiyah. Semua ini menarik diperbincangkan semata kecintaan terhadapMuhammadiyah dan demikemajuan ormas ini sebagaimana dikehendaki pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Buku ini terdiri empat bahasa, al: bagian satu (menggugat modernitas Muhammadiyah); bagian dua (masalah pemihakan sosial Muhammmadiyah); bagian ketiga (Muhammadiyah dan masa depan intelektualisme Islam Indonesia); bagian keempat (Muhammadiyah dan pertarungan identitas kontemporer).
Memasuki abad ke-2 Muhammmadiyah, tantangan dan rintangan ke depan semakin berat. Ini harus menjadi perhatian serius para elit dan warga Muhammadiyah. Sebagai kado indah Satu Abad Muhammadiyah, buku ini jelas sangat penting dan menarik dibaca.