Anand Krishna (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 September 1956; umur 57 tahun) adalah seorang spiritualis lintas agama, nasionalis, humanis, budayawan dan penulis yang tinggal di Jakarta, Indonesia. Walaupun berdarah keturunan India, tapi semangat kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangatlah tinggi. Kepeduliannya itu dituangkan dalam membentuk organisasi-organisasi yang peduli dalam berupaya membangun jiwa-jiwa manusia Indonesia lewat upaya-upaya pemberdayaan diri. Salah satunya adalah National Integration Movement atau Perkumpulan Gerakan Integrasi Nasional, 11 April 2005, yang sangat peduli dengan kondisi persatuan dan kesatuan NKRI.
Kepeduliannya terhadap kondisi jiwa spiritual masyarakat tidak hanya berhenti pada masyarakat Indonesia, tapi juga pada masyarakat dunia yang dituangkan dituangkan dengan pendirian Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa – Department of Public Information sejak 15 Desember 2006) sebagai Centre for Holistic Health and Meditation sejak tahun 1991.
Love is the Only Solution adalah satu-satunya cara yang digunakan Anand Krishna dalam menyikapi hidup di dunia ini untuk mewujudkan masyarakat yang tercerahkan melalui Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony dalam Satu Bumi, Satu Langit dan Satu Umat Manusia (One Earth One Sky, One Humankind)
Judul: Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan dan Cara Mengatasinya. Penulis: Anand Krishna Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama Cetakan: I, Juni 2007 Tebal: vi + 314 halaman
Kelahiran terlanjur terjadi dan kematian ialah keniscayaan masa depan. Di antara dua proses ini manusia eksis. Lantas apa bekal kita dalam ziarah hidup ini?
Dalam buku Life Workbook, Anand Krishna menuturkan hampir di setiap lokakarya, para peserta mengacu pada identitas luaran yang diperoleh paska kelahiran. Misalnya pendidikan, pengetahuan, agama, nama baik keluarga, warisa, dll (hal 65). Padahal menurut tokoh spiritual lintas agama Nusantara ini ada 3 "anugerah Keberadaan", yakni: waktu, ruang, dan nafas.
Manusia terlahir pada saat tertentu. Mati pun dalam pelukan Sang Maha Kala. Ada tiga matra imaginer dalam kontinuitas waktu, yakni masa lalu (past), depan (future), dan kini (now). Prof S Radhakisnan yang pernah menjabat sebagai Presiden India berpesan, "Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan, rajutlah masa depan tanpa kekhawatiran." Dan last but not least," Sekarang ialah saat untuk berkarya!" tandas pujangga besar tersebut (hal 72-73). Suatu kali penulis juga melihat kaos berlogo kijing (nisan), tulisannya menarik, "Gunakan hidupmu sebelum matimu!"
Menurut Anand Krishna dalam buku ini, seni managemen waktu amatlah penting. Bagaimana caranya? mudah, yaitu dengan membagi 24 jam sehari dalam tiga kudran. Delapan jam pertama untuk bekerja mencari nafkah, 8 jam kedua untuk pengembangan diri dan bercengkrama bersama keluarga, misalnya membaca, nonton film, tamasya guna membuka cakrawala pandang. Sisanya delapan jam ketiga untuk makan, minum, tidur, seks dan MCK. Namun yang utama ialah disiplin pemanfaatan waktu karena setiap saat itu unik dan berharga.
Sejak keluar dari gua garba hangat Ibunda, Keberadaan menganugerahi tubuh bagi manusia. Ruang rumah bisa porak-poranda digoyang gempa, ambruk diamuk angin puting beliung, tenggelam diterjang lumpur Lapindo...tapi badan ini menjadi "milik" manusia selagi bernafas. Nafas ialah pertanda kehidupan. Manuasia rata-rata bernafas 21.600 kali dalam sehari. Ini proses dahsyat tapi acapkali tak disadari. Menjelang maut menjemput, baru kita paham signifikasi tarik-buang nafas.
Dalam situasi kacau, nafas menjadi cepat seperti monyet yang siklus nafasnya mencapai 32-36 permenit. Sedangkan manusia normal bernafas 15 siklus permenit. Rumus matematisnya sederhana, siklus nafas bebanding lurus dengan keberhasilan manusia. Menurut Anand Krishna semakin pelan dan ritmis nafas kita semakin sehat, sukses dan bahagia hidup ini. Karena kadar oksigen di neuron otak memadai sehingga mampu mencerna informasi secara jernih. Inilah magnet alami yang niscaya menarik keberhasilan mencium kaki Anda.
Lantas apa ukuran keberhasilan? Apakah jumlah rekening di bank? Ya dan tidak. Karena hak milik tersebut baru bermakna jika berfungsi secara sosial. Sebaliknya bagaimana bisa berbagi dengan sesama bila belum mampu berdiri di atas kaki sendiri? Berikut ini beberapa kriteria umum seputar keberhasilan ala Anand Krishna, penulis 140-an buku laris ini.
Keberhasilan utama ialah pengendalian diri. Keberhasilan itu sungguh bermakana tatkala kita rayakan dengan sesama. Selain itu keberhasilan bukanlah pengakuan dari dunia melainkan kepuasan batin. Keberhasilan yang diraih dengan menjegal orang lain bersifat ilusif, keberhasilan manipulatif macam itu terasa hampa. Keberhasilan sejati justru mendorong kita berbagi bersama putra-putri Ibu Pertiwi, warga dunia dan segenap titah ciptaan yang kurang atau belum berhasil (hal 85-96).
Life Workbook ialah saripati materi workshop seputar seni pengolahan hidup secara efektif dan efisien. Bahasanya sederhana, gaul, dan fungky sehingga mudah dicerna. Buku ini merupakan sarana untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan penuh percaya diri.
Buku ini menuliskan dengan jelas bagaimana cara mengenali diri sendiri, apa halangan yang mungkin dihadapi dan bagaimana mengatasinya. Seperti mendapat pegangan dalam menghadapi situasi kehidupan di masa sekarang ini.