Di Indonesia, mau wanita karier atau bukan, sukses atau nggak, kalo belum menikah tetep aja dibilang "wanita dengan nilai nol". Umur saya belum 30 tahun, tapi prihatin dengan realita: angka 30 jadi angka keramat bagi mayoritas wanita di Indonesia, khusunya mereka yang berasal atau tinggal di kampung dengan status lajang. Beberapa kali ketemu sama temen-temen yang usianya hampir dan sudah 30 tahun, mengaku stress dengan tekanan sosial yang mereka hadapi. Pertanyaan-pertanyaan "Kapan nikah?" nggak hanya terlontar dari orang tua, saudara bahkan masyarakat. Prasangka-prasangka negatif pun muncul bersama pertanyaan, "Kebanyakan milih, terlalu sibuk sama kerjaan" dan lain-lain. Cerita tentang Monica memang menggambarkan nasib perempuan-perempuan Indonesia yang sudah matang namun masih berstatus lajang.
Setelah membaca buku ini saya pun jadi belajar bahwa "life is not a race". Hidup bukan tentang cepet-cepetan ngedapetin sesuatu: gelar sarjana, menikah, hamil, punya anak, jadi orang sukses dan lain-lain. Tentang nikah, toh kalau sudah waktunya juga bakal ketemu jodoh kok, pasti menikah juga. Dalam Al-Qur'an jelas bukan, "Tiap-tiap manusia ditakdirkan untuk berpasangan-pasangan." Lalu kenapa si lajang harus khawatir? Dan kenapa mereka si penanya, bertanya tentang sesuatu diluar dari kuasanya. Kalau kata Monita di lagunya yang berjudul "168", "Cinta bukan tentang menanti dan menunggu, tetapi memang sudah waktunya untuk bertemu." Percayalah ... cinta akan menemukan jalannya ;)