Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sedang Tuhan pun Cemburu: Refleksi Sepanjang Jalan

Rate this book
Salah satu bakat paling besar dalam diri manusia memang menjadi makhluk tingkat ketiga sesudah benda dan tetumbuhan. Binatang plus akal adalah kita. Binatang plus akal plus tataran-tataran lain dari spiritualisme adalah kesempurnaan yang seyogyanya diperjuangkan oleh manusia.

Akan tetapi, binatang nampaknya lebih beruntung dibanding manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari awal sampai akhir. Sedang dunia manusia, suka menjebak diri dengan kebebasan yang dimilikinya atau yang ia peroleh dari Tuhannya. Manusia merasa bebas untuk memilih, termasuk memilih bunuh diri atau melenyapkan standar-standarnya terhadap nilai kemanusiaan.

Esai-esai yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam buku ini, merefleksikan betapa panjang pertanyaannya atas hidup. Emha tak hanya melihat pola interaksi antara manusia dengan Tuhan yang semakin mengabur, tetapi juga semakin tersingkirnya manusia dari strata-strata sosial yang mereka bentuk sendiri.

320 pages, Paperback

First published January 1, 1994

77 people are currently reading
618 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books485 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
149 (43%)
4 stars
119 (34%)
3 stars
63 (18%)
2 stars
6 (1%)
1 star
9 (2%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
May 27, 2015
Lagi, Emha melontarkan kritik sosialnya. Selain budaya seks bebas yang mulai menjalar di kotanya, satu yang perlu saya cermati lagi adalah soal pemurnian agama Islam yang cenderung mematikan kreativitas dalam beragama. Emha rupanya tidak tahan pada proses pemurnian itu yang cenderung meniadakan kemesraan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Esai-esai yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam buku ini, merefleksikan betapa panjang pertanyaannya atas hidup. Emha tak hanya melihat pola interaksi antara manusia dengan Tuhan yang semakin mengabur, tetapi juga semakin tersingkirnya manusia dari strata-strata sosial yang mereka bentuk sendiri.

Harus diakui bahwa membaca buku ini tidak mudah. Selain jumlah halaman yang panjang, ada beberapa konteks peristiwa yang harus kita pahami. Untuk itu, memungkinkan beberapa tulisan perlu dibaca berulang kali. Judul buku ini adalah sama dengan sebuah artikel didalamnya. Emha melukiskan bagaimana cemburunya Tuhan kepada manusia. Masih sama dengan buku edisi pertama yang terbit tahun 1990-an.

Saya sedikit senang pada buku yang terbit setelah Anggukan Ritmis Pak Kiai ini, editor entah penulisnya sendiri menambahkan identitas pada akhir tulisannya. Bagi saya, waktu ketika tulisan itu dibuat adalah satu penanda zaman, agar tidak salah memaknai isi tulisan tersebut. Pun, dengan penamaan bab-bab yang unik. Tidak percaya, silahkan cermati sendiri. Saya yakin, ada muatan filosofis dibalik itu semua.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 3, 2015
Mungkinkah Tuhan cemburu? Jawabannya iya!
Tuhan akan cemburu bila kita membuat hal-hal lain menjadi tuhan baru bagi kita. Seperti suami yang cemburu kepada istri. Tapi sejatinya cemburu itu bukan bentuk lemahnya Tuhan, melainkan sebuah gaya penguat hubungan Tuhan. Tauhid!
Profile Image for Uthi.
112 reviews28 followers
January 30, 2011
funny I bumped into a religion/phylosophical book, right right? HAHAHAHA. I found this on my dad's bookshelf.
well, I like this one, that's it.
2 reviews2 followers
July 3, 2020
Sedang Tuhan pun Cemburu salah satu judul cerita pendek dari sekian judul-judul cerpen dari buku ini. Tulisan Cak Nun ini paparkan dengan kiasan penuh Satire, tentang kritik sosial berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang saat ini jauh dari nilai-nilai moral. Salah satunya ialah tulisannya yang bermakna bahwa secara perlahan manusia melewati batas-batas kodrat kemanusiaan karena pengaruh keadaan lingkungan. Perempuan yang menjajakan dirinya demi kebutuhan ekonomi, suami yang mengantarkan istrinya dimalam hari ketempat prostitusi dan dipagi hari ia jemput. Dan lain sebagainya.

Selain itu basic penulisanya dalam buku ini sangat dipengaruhi latar belakang kehidupan dimasa orde baru dan nilai-nilai sosial saat itu yang masih berhubungan erat dengan kehidupan sosial saat ini.

Buku ini sedikit membuat banyak perpikir karena rangkaian kalimat nya yang disusun dengan klise-klise Satir serta banyak kalimat dalam bahasa jawa yang buat bingung untuk dimengerti.

Sebuah kalimat yang saya sukai dalam tulisan nya ialah “Mubaligah ini mengisahkan juga “fabel” yang di antara beberapa binatang lainnya, babi termasuk terburuk dan terlaknat. “Tetapi nggak apa-apa kata”, sang babi. “saya masih mending dibanding orang yang tak sembahyang lima waktu, mereka masuk neraka dan saya tidak.”

“Binatang agak tampaknya lebih beruntung dibandingkan manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari awal sampai akhir, sedang dunia manusia suka menjebak diri dengan kebebasan yang dimilikinya atau yang ia peroleh dari Tuhannya. Manusia merasa bebas untuk memilih, termasuk memilih melebur dengan tatanan masyarakat atau bahkan melenyapkan standar-standar nya terhadap nilai kemanusiaan”.
Profile Image for cebs.
21 reviews
June 27, 2022
Rating bintang disini tidak ingin saya wakilkan untuk kualitas tulisan Cak Nun namun semata-mata pada ketidakmampuan saya untuk memahami sepenuhnya apa yang beliau tulis di beberapa judul. Mungkin karena beberapa tulisan ditulis dengan isu yang sangat erat pada zamannya yang kurang lebih sudah berjarak hampir 40 tahun lamanya.

Meski beberapa judul jadi tidak terasa relevansinya, tetap saja ada judul-judul yang membuat saya mbatin 'ternyata permasalahan ini sudah dimulai sejak lama'. Misalnya di tulisan yang berjudul "Transformasi Jalan Tol". Cak Nun menggunakan metafora 'Generasi Jalan Tol'. Metafora tersebut mengacu pada ritme hidup, tingkat percepatan, dan mobilitas pemuda yang dituntut untuk memiliki kapasitas dan kecepatan tertentu dalam mencapai sesuatu layaknya jalan tol yang hanya bisa dilalui kendaraan tertentu.

Selain senggol sana sini di urusan sosial budaya, fenomena keagamaan pun tak lepas dari pengamatan Cak Nun. Seperti yang beliau tulis; "shalat itu tiang agama dan tiang kita sudah demikian berdiri megah, cuma dalamnya keropos, penuh rayap-rayap busuk; tiang kita tidak menghunjam ke fundamen, tidak mengakar, tanpa jiwa, tanpa darah batin;"

Secara keseluruhan tulisan yang disuguhkan Cak Nun tetap menarik untuk dibaca saat ini; meski memang ada beberapa tulisan yang kehilangan relevansi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for pradnia pramitha.
91 reviews2 followers
May 23, 2017
Membaca buku ini saya jadi semacam menjalin hubungan antara benci dan cinta.

Bukan benci juga sih, lebih tepatnya pusing, karena banyak bagian rumit untuk saya cerna. Sekaligus karena banyaknya tulisan yang dibuat pada tahun 198x yang menyindir tokoh masyarakat pada era itu yang tidak saya kenali, membuat saya bertanya-tanya ketika membaca, "Ini bahas siapa ya?", "Ini permisalan kira-kira siapa yang dimaksud ya?"

Tapi sekalinya sedang cinta, saya jadi pingin koleksi semua karya tulisnya Cak Nun. Mengesampingkan kepahaman saya tentang siapa yang dimaksud dalam cerita, tulisan-tulisan Cak Nun ini sungguh menggugah, menyentil. Cocok sebagai prasarana untuk perenungan.

Buku ini terdiri atas bab-bab yang masing-masingnya terdiri atas judul-judul. Yang ada di antara judul-judul ini pernah dimuat pula pada warta berita di eranya. Jadi buku Cak Nun ini singkatnya bisa dibilang merupakan suatu kumpulan tulisan-tulisan dengan topik berdekatan yang dibendel menjadi satu.

Sangat menarik untuk dibaca, rekomendasi bagi penyuka bacaan berat.
Profile Image for Andika Lesmana.
463 reviews
March 1, 2020
Lima Bab

Trotoar: kritik budaya Orde Baru
Halte: kritik sosial perilaku
Traffic Light: kritik perilaku "biru"
Parkir: kritik budaya dakwah
Tikungan: budaya Amerika dan lainnya
Trayek: budaya-kesenian Jawa

..Kecemburuan adalah bagian dari cinta, bagian yang tidak saja penting, tapi juga memperindah proses cinta.. Tauhid kehidupan ialah mengelola segala perilaku hidup.. untuk dan menuju Yang Satu.
Profile Image for Noe.
120 reviews
September 29, 2017
I am always so picky over Indonesian author especially the one who talk about society. And Cak Nun succeed stolen me only with one book. I love how this book have such humorous and light storytelling. Cak Nun wittiness and sarcasm makes me laugh and think at the same time. What a great book to read. One of the worthed in Indonesia. Cant wait to read more of his books.
Profile Image for Ade Putri.
216 reviews
August 24, 2018
Saya suka dengan buku-buku yang memuat kritik-kritik sosial seperti ini. Seperti juga buku Seno Gumira Ajidarma. Rasanya kita seperti menyelami atau menyadari bahwa ternyata permasalahan di sekitar kita sangat kompleks.

Dan tidak banyak yang mampu menuliskannya secara gamblang seperti Cak Nun. So, bisa dibilang buku ini akan membuka mata kita. Bahwa segala permasalahan-permasalahan sosial dan bangsa kita, itu bukan saja ada di zaman sekarang. Tapi memang sudah ada dari dulu. Hanya saja, mungkin di zaman sekarang tantangan yang kita hadapi semakin berat lagi.

Selengkapnya di Delina Books
Profile Image for Diani Citra.
4 reviews
August 6, 2020
Bahasa yang dipakai cukup membuat kita dibawa google untuk mencari arti sebenarnya. Banyak istilah bahasa jawa yang sulit dimengerti. Selain itu latar yang dijelaskan juga zaman dahulu sehingga membuat pembaca memutar otak. Namun penggambaran masa lalu, penggambaran bahasa mikro menjadi makro terlihat jelas dan konkrit.
Profile Image for Shafina Marsha Talitha .
8 reviews1 follower
June 4, 2021
Refleksi Sepanjang Jalan menjadi pilihan subjudul yang benar-benar tepat untuk buku ini. Emha's way of words, with all his satire included, really made one reflect as they read the book. It was really entertaining to read, as it really shows Emha's value on seeing things. The downside is, there is quite a part where I couldn't catch anything. Dalam beberapa bagian, bacaan yang ada hanyalah seperti bongkahan teks tanpa arti. Tetapi, ini tidak mengurangi nilai-nilai lainnya, pun ketertarikan saya terhadap buku ini.
Profile Image for Mu'ammarin Ilma.
6 reviews
June 10, 2021
Buku pertama Cak Nun yang saya baca di penghujung umur belasan. Padahal kami berasal dari kampung yang sama. If you focus on what you left behind, you will never be able to see what lies ahead. Now go up and look around. Setelah membaca buku ini, saya mulai sensitif dan menulis hal-hal yang terjadi di sekitar saya. Reliable book.
Profile Image for Happy Daisy.
16 reviews
June 21, 2019
Terkagum kepada Cak Nun. Ketika melihat paragraf di akhir segmen tertulis tanggal saat dia menulis tulisan tersebut sudah terlampau puluhan tahun yang lalu. Dan fenomenanya masih ada yang relevan dengan zaman sekarang
Profile Image for Citra.
73 reviews1 follower
December 11, 2020
Pemikiran Emha yang dituliskan sekitar akhir tahun 80-an hingga tahun 90-an yang masih sangat relevan hingga sekarang pun.
Profile Image for ayumi.
8 reviews
May 19, 2021
sentilan berbobot, analogi yang pas untuk berbagai macam konflik, interest dan dinamika lainnya di masyarakat kita..
Profile Image for Iwan Harli.
9 reviews1 follower
March 20, 2022
‘Cak Nun’ secara konsisten menggulirkan gagasan dengan langgam satir bin akrobatik, seolah mendorong pembaca untuk terus tepuk tangan sekaligus bergumam, iya juga ya.
Profile Image for Putri.
10 reviews
August 26, 2025
Buku Cak Nun pertama yang saya baca. Mengulas tentang keresahan sebagai manusia, Indonesia khususnya. Bagus sebagai refleksi dan insight baru.
Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 8, 2017
435p. Kumpulan esai emha terbagi dalam enam babak yaitu trotoar, halte, traffic light, parkir, tikungan, trayek. Saya pribadi kurang mengerti kenapa lantas diklasifikasikan ke dalam sub tema demikian karena toh tidak diantarkan oleh penyusunnya sampai ke situ.

Saking banyaknya esai di dalamnya betapa sulitnya saya ingat dan cerna apa sesungguhnya keterikatan masing masing judul dalam sub tema itu. Saya sih bisa mafhum kepada diri sendiri dan barangkali bisa mengira ngira saja sampai sebatas ide.

Bahwa, jika trotoar diartikulasikan dengan pejalan kaki, maka judul judul dalam sub tema trotoar adalah menguliti soal kebiasaan, apa yang biasanya dijalani oleh masyarakat kita, orang orang indonesia baik kurang atau lebihnya, susah bahagianya, aneh dan lucunya.

Di halte kita biasa menunggu sesuatu entah bus entah pacar. Eh, maaf. Ya semacam transit. Bahasan sub temanya menelisik pergantian, pergeseran, atau perubahan terhadap zaman, paham, kebijakan, era.

Judul buku "Sedang Tuhan pun Cemburu" berada di naungan sub tema traffic light. Dimana segala aturan secara vertikal dan horizontal dianyam. Bobrok dan semrawutnya kehidupan ini pasti tak jauh jauh dari perkara aturan. Terobosan sekaligus penerobosan ikut mewarnai realitas masyarakat kita. Secara garis besar judul akan mengangkat penyakit sosial beserta akar dan efek sampingnya.

Nah ini sub tema yang paling gampang saya tarik konklusinya. Sub tema parkir cukup mengkritisi pola pola dakwah, relasinya dengan ketauhidan atau ketuhanan dan nggak lupa soal kekeliruannya. Awas, dai dai keselek di sini. "Jangan parkir di hatiku" seperti lirik lagu ya. Lah iya, ya jangan menitipkan pekerjaan lewat dagangan dakwah toh.

Emha nggak kurang pengalaman jalan jalan keluar negeri. Hal itu mewarnai tulisannya pada sub tema tikungan. Dikatakan tikungan barangkali sebab terkaget kagetnya ia pada situasi baru, issue dan highlight pemberitaan, serta pengalaman yang tak ditemui di negerinya. Atau perasaan simpati mendalam saat bergaul dengan masyarakat setempat. Diantaranya, amerika, jerman, filipina.

Demikian yang terakhir. Sepertinya saya terlalu bertele tele. Capek juga ya. Ah, baiklah kurang sedikit.

The last (samurai, eh bikan!) adalah trayek. Wah, ini soal setoran. Hahaha dikira naik angkot. Trayek itu jalan tempuh. Tempat tempat tujuan yang sudah disepakati. Dus, trayek merupakan penggambaran akan beranekanya bakat, pergulatan pekerjaan, atau ketrampilan mempertahankan yok opo carane tetep orip utowo ngurip ngiripi. Yap. Emha turut simpati, empati dalam pergelutannya di seni budaya. Kawan kawannya, orang orang yang dikaguminya dibicarakannya dengan kadar santai namun pelik. Kekhawatirannya serta kebahagiaanya, kebanggaannya juga ketatagannya. Semua dirisalahkan dalam tema ini. Pokoknya budaya.

Yah, demikianlah saja. Sepurone sing akeh. Yen mergo pegel bahasane jadi berubah suroboyoan.

It,
Profile Image for Aida Radar.
48 reviews2 followers
Read
January 2, 2016
"Di titik mana engkau meletakkan diri agar 'mripat'mu menatap kehidupan ini secara akurat? Pada jengkal mana engkau pijakkan kakimu agar garis lurus dari lensa matamu menyentuh makna tepat di titik pusatnya?"
(Zaman Sedang Memuisi, hlm. 61)

Selama beberapa hari ini setiap hendak tidur, membaca per satu judul tulisan cara Cak Nun memandang kehidupan di buku ini. Kumpulan tulisan lama tapi kontekstual sekali untuk segala cerita kehidupan hari ini. Sukak! d^_^b
Profile Image for Andre Widiartanto.
83 reviews3 followers
February 6, 2017
Satu kata saja untuk isi buku ini: BERAT! Yah, buku ini berisi berbagai kritik sosial dan kehidupan kebaragamaan di mata penulis di era 80-90-an. Namun ajaibnya, sebagian besar pesan yang disajikan masih relevan untuk permasalahan di era milenium masa kini! Kata-katanya disusun secara puitis, yang mampu menciptakan sedikit senyuman meski pembaca merasa tak mampu mencerna pesan dan maksud yang hendak dipaparkan.
Profile Image for Nuke.
32 reviews
July 17, 2007
I have to say that my (again, ex now!) boyfriend has managed to "form" my reading Emha's books hobby. It was not only hobby, it was an addiction, even obsession. He's teaching but not teaching, he's lecturing but not lecturing. In many ways you will feel a soft slap in your face by reading chapter by chapter of his books.
Too bad not all of his books are available in goodreads to link.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
899 reviews30 followers
August 3, 2015
sama seperti buku Cak Nun yang pernah saya baca sebelumnya. sik di awaal kemudian menuju ngebosenin, hehehe. esay esay nya cerdas. tapi saya agak ga nyambung, mungkin karena bahasa tingkat tingginya itu, yaa.
Profile Image for Dolly Putra.
6 reviews9 followers
November 19, 2014
Ini adalah buku Emha pertama yang saya baca, dan langsung jatuh cinta pada pemikirannya.
Displaying 1 - 23 of 23 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.