Cwen, a poor weaver struggling to make a living at Whitby Abbey, is accused of possessing a valuable necklace; if found guilty she could be hanged. Wulfrun, Cwen’s daughter, sets out to prove her mother’s innocence.
Set in turbulent Anglo-Saxon times, this is the story of a resourceful dauntless heroine, determined and clever as the wolf that she is named for.
Though I was born in the South of England - my parents moved back to the North when I was one year old, and I have lived in Yorkshire ever since. I spent a few years as an infant teacher, but when my children were young I started making picture books for them and became hooked on writing. I love drawing and painting, but my main love is writing, often using the legends and history around me as inspiration.
Thoroughly enjoyable YA book on Anglo Saxon England. Lots of period detail and a focus on the domestic. A little slow in places and a bit predictable but in general a page turner. Just enough intrigue to hold attention. Wulfrun was a great heroine.
Anglo-Saxon adalah sebuah wilayah yang menarik. Nama Anglo-Saxon, sejak abad ke-8 lazim dipakai untuk menyebut penduduk Britania Raya, yakni bangsa Germania yang berasal dari suku-suku Anglia, Saks, dan Yut. Konon, pada tahun 400 M mereka menyeberang dari Jerman Timur dan Skandinavia Selatan untuk menaklukkan bangsa Kelt, lantas mendirikan 7 kerajaan kecil yang disebut Heptarchi. Mereka dinasranikan antara 596-655 M. *)
Sejarah Anglo-Saxon ini, oleh Theresa Tomlinson, diangkat menjadi latar cerita dalam novel Gadis Serigala, sebuah fiksi remaja tentang seorang gadis pemberani bernama Wulfrun. Wulfrun anak seorang penenun, Cwen. Mereka tinggal di wilayah kekuasaan Biara Whitby yang dikepalai oleh Suster Hild. Setiap hari, Wulfrun bertugas menggembalakan angsa-angsa mereka bersama sahabatnya, Cadmon, seorang penggembala sapi.
Cwen anak-beranak hidup sangat miskin. Saking miskinnya, dia terpaksa menjual putra sulungnya, Sebbi, sebagai budak. Pada masa tersebut, perbudakan masih menjadi sesuatu yang lazim terjadi. Barangkali akibat perang yang terus berlangsung antara daerah-daerah yang saling berseteru. Rakyat di sana terbagi menjadi dua: kaum bebas dan kaum tak bebas.
Sebetulnya, Cwen memiliki seuntai perhiasan indah berbentuk kalung yang terbuat dari batuan permata. Jika saja ia mau menjual kalung itu, tentu Sebbi tak perlu menderita sebagai budak. Kalung tersebut pasti berharga mahal, akan sanggup membuat Cwen kaya-raya tanpa perlu bekerja keras seperti sekarang ini. Namun, Cwen mempunyai alasan tersendiri untuk tidak menjual kalung tersebut yang ia peroleh dari seseorang yang pernah ia selamatkan jiwanya. Tetapi, kalung itu juga yang di kemudian hari membuat dirinya diancam hukuman gantung.
Pasalnya, Wulfrun kedapatan sedang mengenakan kalung tersebut oleh Irminburg, salah seorang kerabat dekat kerajaan yang berkuasa di Biara Whitby selama Suster Hild bepergian. Tak ayal, Wulfrun dituduh sebagai pencuri dan harus diadili. Lantaran Wulfrun masih di bawah umur, maka Cwen-lah yang harus bertanggungjawab. Sambil menunggu Suster Hild yang akan mengadili, Wulfrun berusaha sekuat tenaga untuk dapat membebaskan sang bunda dari segala tuduhan, sebab ia yakin ibunya bukanlah pencuri.
Tanpa diduga-duga, Wulfrun yang tengah bersedih dan kebingungan mencari cara untuk menyelamatkan sang ibu, mendapat bantuan yang amat simpatik dari Elfled, gadis kecil putri Raja Oswy yang telah diserahkan kepada biara dan diasuh oleh Suster Hild. Mereka berdua dengan didampingi oleh Adfrith, seorang pria muda calon biarawan, kemudian bergegas mencari upaya untuk mengungkap misteri di balik kalung yang ternyata adalah milik Ratu Ianfleda, ibu Elfled.
Maka, kita akan mendapatkan sebuah suguhan kisah petualangan dengan seorang tokoh bocah perempuan pemberani. Ini memang novel untuk anak-anak dan remaja. Alurnya tak sulit diikuti meskipun sering harus bolak-balik ke masa lampau.Unsur petualangan, misteri, dan persahabatan menjadi bumbu utamanya. Beberapa tokoh, nama tempat, serta peristiwa di dalam buku ini, menurut keterangan penulisnya, benar-benar ada. Sejatinya, Theresa Tomlinson ingin menyampaikan sejarah Anglo-Saxon dalam kemasan fiksi. Theresa yang menghabiskan masa kecilnya di Cleveland dan North Yorkshire memang amat menggandrungi sejarah dan mitologi selain hobi utamanya menggambar dan melukis.
Di situs peribadinya, Theresa mengungkapkan, bahwa ia sudah suka menulis sejak kecil. Bahkan, gurunya di sekolah menganjurkannya untuk menulis cerita. Buku favoritnya adalah Anne The Green Gables. The Secret Garden, serta The Lion, The Witch, And The Wardrobe.
Ketika anak-anaknya lahir, ia mulai membuat sendiri buku-buku cerita bergambar untuk anak-anaknya yang berjumlah tiga orang itu. Hingga akhirnya ia menyadari bakatnya dan lalu memutuskan untuk serius menulis buku anak-anak. Gadis Serigala (Wolf Girl) ditulisnya tahun 2006.
Menurut saya, buku ini bacaan yang baik untuk anak-anak dan remaja. Di samping kisahnya yang menghibur, melalui buku ini anak-anak akan mendapat pengetahuan tentang sejarah Anglo-Saxon. Ah….tetapi bukan cuma anak-anak sih, saya juga kok.***
Buku ini sepaket dengan delapan buku lain saat gue memenangkan sebuah kuis yang diselenggarakan oleh Penerbit Serambi bulan Desember 2008 lalu. Akhirnya dibaca juga. Ngaruh ya, kalo covernya ga menarik bacanya juga males? Beneran, covernya malesin. Terus, judulnya juga nipu, yang kebayang adalah semacam serigala jadi-jadian, werewolf, gadis yang berubah jadi serigala kalau bulan sedang purnama. Taunya oh, gue salah total. Salah total.
Cerita ini sama sekali bukan tentang serigala jadi-jadian. Enggak ada satupun werewolf muncul dalam buku ini. Mengambil setting di Biara Hild di Whitby pada masa Anglo Saxon, buku setebal 486 halaman ini bercerita tentang Wulfrun, gadis berumur sebelas tahun, putri seorang penenun.
Suatu hari, karena kesalahan dan kecerobohannya, ia telah membuat ibunya dituduh mencuri perhiasan milik keluarga raja Edwin. Jika terbukti bersalah, Cwen, ibu Wulfrun, terancam hukuman mati; digantung, dibakar, atau dirajam. Wulfrun berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa ibunya tidak bersalah. Namun itu tidak mudah, sulit melacak dari mana asal usul kalung kerajaan itu. Wulfrun memang menemukannya dalam tempat rahasia di peti pernikahan ibunya, dan ia yakin bahwa ibunya tidak mencurinya dari siapapun, tetapi ia tak tahu bagaimana caranya membuktikan kalau ibunya bukan pencuri.
Dengan bantuan Putri Elfled, cucu mendiang raja Edwin; Adfrith, pemuda-calon-biarawan yang merupakan guru menulis Elfled; dan Cadmon si gembala sapi, mereka berempat berusaha untuk menyelidiki semuanya dan menggagalkan rencana perang saudara yang digagas oleh Lady Irminbrugh, pengasuh Elfled.
Hmmm, awal-awal emang agak membosankan. Mungkin pengaruh cover yang nggak asik itu, mungkin karena emang lagi ga seneng baca buku. Tapi lama-lama sih ngalir, lancar bacanya. Lagian sayang kan ada buku enggak dibaca, apalagi waktu dapetinnya seneng banget. Masa udah ada dicuekin?
Jadi, masih berapa buku yang belum selesai dibaca dari paket hadiah itu? Lolita, Honeymoon with my Brother, apa lagi ya? Males nerusinnya. Aaaah….penurunan kuantitas dalam membaca buku nih tahun ini.
Yang menarik buat gw adalah, buku ini menggabungkan sejarah kerajaan Northumbria dengan fiksi, dan secara berani menggunakan tokoh-tokoh yang benar-benar ada, seperti Suster Kepala Hild dan Putri Elfeld.
Dengan latar belakang sejarah yang begitu kaya, agak mengherankan juga kenapa bukunya tidak terlalu tebal dan ceritanya terasa begitu sederhana. Tapi mungkin di situlah kelebihan penulis, yang dengan mahir tidak membuat kisahnya menjadi rumit sehingga tetap mudah dicerna pembaca muda yang menjadi sasarannya.
Buku ini juga cukup 'menenangkan' bagi gw karena tokoh utama si gadis serigala tidak pernah harus berjuang sendirian. Bantuan datang begitu cepat di bab-bab awal, sehingga gw yakin sampai akhir cerita pun dia akan selalu ditolong dan tidak perlu terlunta-lunta.
Bagi penyuka kisah tegang mungkin alurnya kurang seru, tapi ceritanya sendiri sudah indah jadi gw puas membacanya.
Awal-awal baca buku ini, gue mikir, Ya Tuhaaann.. ga bisa deh gue baca buku yang nama tokohnya aneh-aneh pisan kayak gini.. Ga bisa ga bisa ga bisaaa.
Tapi, segera setelah gue menyelesaikan bab mengenai ibunya Wulfrun yang ditahan karena dianggap mencuri, dan Wulfrun memulai petualangannya mencari kebenaran, gue JATUH HATI sama ceritanya.
Pada akhirnya, buku ini memiliki beberapa unsur yang menjadikannya salah satu buku kesukaan gue: 1. Latar belakangnya yang medieval. Gue suka cerita-cerita yang agak kuno. Dengan latar belakang abad pertengahan. 2. Nama-nama tokoh yang pada akhirnya gue sadari begitu indah. Maklum lah ya, kan tokoh2nya berlatar belakang jaman Anglo-Saxon gitu. Jadi namanya rada2 ngga familiar di lidah. 3. Jalan ceritanya yang smooth. Pokoknya tema ceritanya baguss..
This is one of the best books I read in 2006. Exciting, adventurous and a richly woven story that brings Anglo-Saxon Northumbria vividly to life. The characters are warm and engaging, the plot is intriguing and the journey of self-discovery will appeal to all young readers as they join Wulfrun in trying to unravel the mystery of the necklace. The underlying message is to trust in yourself and not to judge a book by its cover, as help can come from the most unlikely places!
Theresa Tomlinson is a highly talented storyteller and this story will appeal to older readers and young adults.
Wolf Girl melengkapi kegilaanku tentang sejarah anglo-saxon setelah Pope Joan. Bedanya, setting Wolf Girl tahunnya lebih tua dari Pope Joan. Masih seputar kehidupan biara, tetapi dengan konflik yang jauh berbeda.
Di Wolf Girl diceritakan sejarah masa-masa awal Kristen di Inggris. Rakyatnya menerima ajaran Kristen tapi masih mempertahankan kepercayaan lama yang bersifat pagan. Seru abis!
This book is a really good Historical Novel. Set in the time when Abbess Hild was in charge of Whitby Abbey, while the Abbess is away all sorts of trouble breaks loose, the woman who she has left in charge of the Princess is very ambitious and is only looking out for herself and does not have the best interests of the Abbey in mind.
Jujur, ini diadopsi karena kesian. Dipajang lama tapi ga ada yg mau juga. Mungkin karena sampulnya juga. Well, ternyata ini harta karun. Thanks ya Anisa DimDzim Bookaholic sudah merelakannya untuk diadopsi.
Tomlinson openly admits her debt to other authors - and who cares? She has woven a story that gripped me and should engage my pupils next term.
The characters are hugely likeable, the prose style tight and the plot sufficiently tortuous to keep me turning pages. I actually cried at moments (which may say more about my tired and emotional state than the book's literary qualities).
I would only question some of the explanatory passages, which may end up being quietly dropped when I read this aloud. They'll provide good research exercises...
In short, a worthy fictional introduction to the Saxon world for children.
In seventh-century Northumbria, a poor weaver at Whitby Abbey is accused of stealing royal jewels. The weaver’s daughter, fourteen-year-old Wulfrun, sets out to solve the mystery of the jewels and clear her mother’s name, and is soon drawn into dangerous political undercurrents that threaten to embroil the kingdom in civil war. Review: http://www.carlanayland.org/reviews/w...
This entire review has been hidden because of spoilers.
One of the best books I've ever read... Like The Forestwife Trilogy it was magical and enchanting, beautifully written with a brave female main character. Theresa Tomlinson is now one of my favourite writers!