This book is the most comprehensive and ambitious study of the Javanese and their society since Raffles's 1817 The History of Java. It includes detailed accounts of Javanese history, peasant and urban culture, religion, and values and symbols.
buku yang menjadi bacaan wajib anak program studi Jawa UI ini begitu detil dalam menggambarkan masyarakat Jawa pada masa lampau, dimana pada zaman sekrang masyarakat Jawa sendiripun tidak mengetahui banyak tentang budaya, tradisi dan adat-istiadat mereka sendiri. di buku ini, tidak hanya menceritakan budaya Jawa di sekitar Negarigung (jogja-solo) saja, tapi daerah-daerah lain yang mencakup jawa tengah, jawa timur juga diulas sangat rinci.
Kebudayaan Jawa (Javanese Culture) is very complicated culture in Indonesia. Everywhere in Indonesia, there are Javanese. The history of why Javanese spread all over Indonesia and also in Suriname, Africa, or other country, why they still live with their Javanese-culture in their new home? This book tells all about Javanese: culture, history, genius loci, people (rural & urban), language, arts, architecture, religion & traditional religion, how they live with nature, etc. It's very good read for me as part of Javanese that I know nothing about Javanese nowadays.
bagus, belum banyak telaah sistematis yang begitu berbobot mengenai jawa dalam berbagai hal yang dilakukan oleh sarjana indonesia. dan buku ini menjadi satu bagian dari yang tidak banyak itu.
Buku karangan Koentjaraningrat ini sudah lama ingin saya baca, tetapi baru saat ini akhirnya selesai saya baca. Sebagaimana judulnya, buku ini membahas kebudayaan Jawa. Saya beri bintang lima karena alasan berikut ini.
Pembahasan buku ini tentang kebudayaan Jawa termasuk menyeluruh, mulai dari bahasa, sistem kekerabatan, kelompok sosial, kesenian, hingga kepercayaan orang Jawa, termasuk gerakan-gerakan kebatinan. Secara khusus, buku ini membedakan kebudayaan orang Jawa di perdesaan dengan kebudayaan orang Jawa dari keluarga kerajaan.
Gaya bahasa buku ini seperti gaya bahasa karya-karya ilmiah berbahasa Inggris yang saya ketahui, yaitu kalimat-kalimatnya cenderung panjang, tetapi masih dapat dipahami karena subjeknya jelas. Di samping itu, istilah-istilah bahasa Jawa yang digunakan ditulis dengan baik, yaitu dengan dipertahankan ejaan aslinya dan dicetak miring (italic). Meski demikian, beberapa istilah bahasa Jawa yang dipilih adalah kosakata yang tidak umum seperti "krami" (yang umum "krama").
Dari segi tata letak, ada satu kesalahan yang sangat mengganggu, yaitu antara halaman 213-215. Isi pada halaman 214 dan 215 tertukar, sehingga kita harus membaca dengan urutan berikut ini: 213, 215, lalu 214.
Ada banyak topik yang saya sukai dari buku ini yang saya ringkas sebagai berikut: (1) gerakan Djawa Dipo yang ingin menghapuskan tingkatan bahasa Jawa dan hanya menggunakan ngoko (hlm. 22); (2) orang Using dibedakan dengan orang Blambangan, tanpa penjelasan lebih lanjut (hlm. 29); (3) raja-raja Hindu di Tanah Jawa adalah orang Jawa (bukan orang India) dengan nama-nama India dan mengundang para Brahmana dari India sebagai konsultan di istananya (hlm. 38); (4) penyebaran Islam di Aceh dan Cirebon banyak terpengaruh aliran mistik sufi, sedangkan di Malaka dan Demak tidak (hlm. 54); (5) sistem pendidikan Eropa pertama di Indonesia muncul di Ternate dengan berdirinya sekolah Katolik Portugis pada 1536 (hlm. 69); (6) Boedi Oetomo memutuskan pada kongres keduanya tahun 1909 bahwa bahasa pengantar resmi yang digunakan untuk selanjutnya adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa (hlm. 87); (7) Nini Thowok merupakan permainan anak pada saat malam terang bulan (hlm. 113); (8) orang tua Jawa cenderung berpandangan pesimis bahwa dunia penuh kesulitan dan kesengsaraan sehingga perlu mengajarkan éling dan prihatin pada anak mereka (hlm. 122); (9) dalam pandangan orang Jawa, padi gaga tidak termasuk dalam golongan palawija (hlm. 184); (10) lurah dibantu oleh staf 10-15 orang yang disebut perabot dhusun (hlm. 203); (11) lurah tidak menerima gaji, tetapi berhak menggunakan tanah yang dipinjamkan selama ia menjabat (hlm. 204); (12) sarasèhan adalah salah satu kegiatan rekreasi kalangan priyayi berupa perkumpulan 5-8 orang dengan perhatian intelektual yang sama (hlm. 287); (13) orang Jawa mengenal enam jenis pertunjukan wayang (hlm. 290); (14) tari wanita menggambarkan kepribadian dan sifat wanita yang ideal Jawa, yaitu sopan-santun dan lemah-lembut (hlm. 302); (15) Bersih Dhusun adalah salah satu upacara penting dalam agama Jawa (hlm. 343); (16) gerakan-gerakan kebatinan yang berorientasi pada juru selamat (Imam Mahdi/Ratu Adil) dianggap mempunyai potensi untuk berkembang menjadi gerakan pemberontakan (hlm 410); (17) masyarakat sekitar Kota Yogyakarta percaya akan kesaktian bendera Kyai Tunggul Wulung untuk menghilangkan wabah pada 1930-an (hlm. 414).