What do you think?


Pada Sebuah Beranda
Kumpulan 25 cerita pendek yang maknyusss...
228 pages, Paperback
First published January 1, 2005
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
May 15, 2011
Tak sengaja menemukan buku ini di Kopi Tiam Oey jalan Sabang pada hari Kamis, 12 Mei 2011. Buku ini dipajang di dekat meja kasir, disediakan untuk dibaca para pengunjung. Lalu saya bertanya, apakah bisa beli buku tersebut? Kasir tersenyum, lalu mengulurkan buku yang sama dalam kondisi masih tersegel plastik. Akhirnya saya punya buku ini ! :)
Setelah membaca 25 cerpen dalam buku ini, saya sepakat dengan apa yang dikatakan Goenawan Mohamad di sampul belakang buku ini, bahwa cerita-cerita Bondan Winarno memikat karena kecakapan bertuturnya dari awal sampai akhir.
Bagi saya, hal itu khususnya sangat terasa pada cerpen Pada Sebuah Beranda.Cerpen Pada Sebuah Beranda pertama kali saya baca dalam kumpulan cerpen Kompas "Riwayat Negeri yang Haru". Sejak membeli buku itu, entah sudah berapa kali cerpen Pada Sebuah Beranda saya baca. Saya terhanyut pada kisah tentang beranda, Dia, bougainville tujuh warna, hati yang kestabilan mantapnya sudah tercapai, dan the act of God. Tenang tapi menghanyutkan, itu pendapat saya tentang cerpen ini.
Setelah membaca 25 cerpen dalam buku ini, saya sepakat dengan apa yang dikatakan Goenawan Mohamad di sampul belakang buku ini, bahwa cerita-cerita Bondan Winarno memikat karena kecakapan bertuturnya dari awal sampai akhir.
Bagi saya, hal itu khususnya sangat terasa pada cerpen Pada Sebuah Beranda.Cerpen Pada Sebuah Beranda pertama kali saya baca dalam kumpulan cerpen Kompas "Riwayat Negeri yang Haru". Sejak membeli buku itu, entah sudah berapa kali cerpen Pada Sebuah Beranda saya baca. Saya terhanyut pada kisah tentang beranda, Dia, bougainville tujuh warna, hati yang kestabilan mantapnya sudah tercapai, dan the act of God. Tenang tapi menghanyutkan, itu pendapat saya tentang cerpen ini.
November 17, 2012
Ngga nyangka saya bisa juga baca cerpen. Karena sebelumnya agak susah baca cerpen, way too short, imajinasinya jadi suka kepotong karena pendek. Tapi pas baca buku pak bondan ini, saya suka!!! Dan finished it in a half day.
Suka tulisan pak bondan, ngga ada bau2 kulinernya, dan jauh dari tema kuliner. Berharap bisa baca tulisan pak bondan yg lain.
*thx to kopitiam oey surabaya yang kasih buku ini free pas makan disana.
Suka tulisan pak bondan, ngga ada bau2 kulinernya, dan jauh dari tema kuliner. Berharap bisa baca tulisan pak bondan yg lain.
*thx to kopitiam oey surabaya yang kasih buku ini free pas makan disana.
September 19, 2026
Bondan Winarno memang tak pernah main-main dalam menuliskan kisah-kisah pendek di sepanjang kariernya. Tanpa ampun, hampir semua kisah dalam Pada Sebuah Beranda merupakan tragedi yang rata-rata diakibatkan polah tingkah para tokohnya. Ada suami yang suka istri orang lain, ada seorang lelaki jatuh cinta pada perempuan dari keluarga yang menjadi musuh ayahnya atau ada sepasang kekasih beda agama dan suku yang berakhir tragis karena perang agama. Agaknya, dikarenakan ini cerita yang memang ditulis pendek-pendek, Bondan memang sengaja menaruh tokoh-tokoh problematik sehingga kita bisa segera masuk kemudian menghardik di dalam cerita hanya melalui dua balikan halaman saja.
Saya menandaskan halaman terakhir buku ini dengan susah payah bukan disebabkan tulisannya yang buruk, tetapi karena saya kehabisan tenaga yang biasanya dialokasikan membaca buku jadi terpaksa dialihkan ke membaca jurnal Scopus, kening pening dan berkerut memahami statistika multivariat serta seabrek keharusan menulis paper dalam studi magister. Namun, buku bagus memang akan selesai dengan sendirinya, walaupun dibaca lewat kepayahan.
Pada Sebuah Beranda, seperti judulnya, beranda akan selalu identik dengan bangunan paling depan dari lantai di atas lantai dasar. Di tempat ini saya membayangkan menyediakan dua kursi dan satu meja untuk bercengkerama syahdu atau membaca cerita pendek Bondan yang memikat.
Seingat saya, dari dua puluh lima cerpen yang disatukan dalam buku ini, hanya ada dua kisah yang berakhir bahagia (walaupun pada proses di tengahnya tetap ada kedukaan), yaitu Rudi dan Kami serta Nikodemus. Selebihnya adalah kisah tragis, bukan sedih lagi tapi tragis. Lenso Mera deng Lenso Putih menjadi yang paling tragis versi saya. Tak heran tulisan ini ditolak dua surat kabar karena isunya sensitif, yaitu mengambil latar kerusuhan akibat konflik agama di Poso.
Seperti Petang Panjang di Central Park, Bondan Winarno memang pandai membuat pembacanya tersenyum getir, sebab banyak cerita pendek yang layak untuk dipanjangkan menjadi satu buku tersendiri. Tapi, yah namanya juga cerpen maka ditulis pendek-pendek. Kita harus memaklumi itu sambil termangu sepi.
Saya menandaskan halaman terakhir buku ini dengan susah payah bukan disebabkan tulisannya yang buruk, tetapi karena saya kehabisan tenaga yang biasanya dialokasikan membaca buku jadi terpaksa dialihkan ke membaca jurnal Scopus, kening pening dan berkerut memahami statistika multivariat serta seabrek keharusan menulis paper dalam studi magister. Namun, buku bagus memang akan selesai dengan sendirinya, walaupun dibaca lewat kepayahan.
Pada Sebuah Beranda, seperti judulnya, beranda akan selalu identik dengan bangunan paling depan dari lantai di atas lantai dasar. Di tempat ini saya membayangkan menyediakan dua kursi dan satu meja untuk bercengkerama syahdu atau membaca cerita pendek Bondan yang memikat.
Seingat saya, dari dua puluh lima cerpen yang disatukan dalam buku ini, hanya ada dua kisah yang berakhir bahagia (walaupun pada proses di tengahnya tetap ada kedukaan), yaitu Rudi dan Kami serta Nikodemus. Selebihnya adalah kisah tragis, bukan sedih lagi tapi tragis. Lenso Mera deng Lenso Putih menjadi yang paling tragis versi saya. Tak heran tulisan ini ditolak dua surat kabar karena isunya sensitif, yaitu mengambil latar kerusuhan akibat konflik agama di Poso.
Seperti Petang Panjang di Central Park, Bondan Winarno memang pandai membuat pembacanya tersenyum getir, sebab banyak cerita pendek yang layak untuk dipanjangkan menjadi satu buku tersendiri. Tapi, yah namanya juga cerpen maka ditulis pendek-pendek. Kita harus memaklumi itu sambil termangu sepi.
July 15, 2021
Suka sama ending di beberapa cerpennya yang tidak terduga.
August 9, 2016
Saya benar-benar terpukau dengan keagungan Pak Bondan menulis cerita. Cerita Pak Bondan mengalir seolah tanpa pretensi ingin menyampaikan gagasan yang besar. Tapi sebagaimana aliran air, yang diam-diam menggerakkan, cerita-cerita Pak Bondan justru memikat karena keluwesan becerita Pak Bondan.
Dan jangan anggap remeh, cerpen2 di buku ini dimuat di media-media bergengsi: Kompas, Matra, Horison, Kharisma, Femina, menang sayembara Femina, dsb. So, cerpen Pak Bondan tidak bisa dianggap remeh, kalau ukuran cerpen serius itu dimuat di media-media besar tersebut.
Cerpen favorit saya, Doa Seorang Perawan, Abus, dan Santa
Mungkin karena Pak Bondan sering bepergian, setting cerita dalam buku ini kebanyakan luar negeri
Dan jangan anggap remeh, cerpen2 di buku ini dimuat di media-media bergengsi: Kompas, Matra, Horison, Kharisma, Femina, menang sayembara Femina, dsb. So, cerpen Pak Bondan tidak bisa dianggap remeh, kalau ukuran cerpen serius itu dimuat di media-media besar tersebut.
Cerpen favorit saya, Doa Seorang Perawan, Abus, dan Santa
Mungkin karena Pak Bondan sering bepergian, setting cerita dalam buku ini kebanyakan luar negeri
January 12, 2008
I think this is a very good book. Reading this book, story per story, I feel like I'm reading an international work of an author. Like, the diction and the settings of the stories make it perfectly clear that this compilation book was whole-heartedly made, it feels like everything is so fluently told, swaying the readers to a feeling we never have before. The book itself is not with me anymore, a friend borrowed it and make it gone, haha, but I remember this short story: Gazelle. Beautiful. I definitely recommend this book to literature enjoyers out there. I hope someday we'll be able to get the english version of this work.
December 17, 2012
Saya suka sekali gaya bertutur Pak Bondan di buku ini, seperti gaya tutur sastrawan lama. Diksinya, alurnya, yang memang gaya kesukaan saya. Semua berjalan apa adanya dan tidak berlebihan, sehingga mudah sekali bagi saya untuk larut dalam cerita dan mengimajinasikan diri saya dalam cerita itu, padahal cerpen lho... I am a new fans, Pak Bondan!!!
August 14, 2012
Inilah kenapa saya jadi berminat menjadi penulis cerpen..
February 4, 2017
Betapa senang dan indah menjadi seorang soliter...
Displaying 1 - 9 of 9 reviews










