Nadja Sinka Suwita seorang perempuan mungil yang smart, fun, dan optimis dalam melihat segala sesuatu. Apalagi ketika Obi, sahabat Nadja, memperkenalkannya dengan Budiarsyah Nasution, cowok penting yang membuat Nadja semakin optimis. Sampai suatu hari, Nadja harus menghadapi kenyataan bahwa dia bersaing dengan seorang perempuan MAHA CANTIK, MAHA INDAH slash model, DANIA SOEDJONO, untuk mendapatkan cinta Budi. Nadja mulai mempertanyakan sikap optimisnya. Namun Nadja mulai menyadari bahwa dunia ini adalah ajang beauty contest yang sesungguhnya.
Is it always like that? Does beauty still rule? Apa yang dilakukan Nadja? Menyerah? Atau berjuang melawan kekuatan kecantikan maha dahsyat Dania Soedjono yang ternyata dijaga ketat oleh ksatria pengagum setianya, Max? Bisakah Nadja membuktikan bahwa beauty no longer RULES?
Sedikit bumbu dari dunia politik membuat chicklit ini memiliki nuansa berbeda, yang mungkin tak terpikirkan penulis chicklit dalam negeri lainnya. Layak dibaca jika kita mengharapkan membaca sebuah chicklit. Tidak lebih, dan tidak perlu berharap lebih.
Tapiii... sisipan catatan "renungan" Icha tentang kecantikan yang dicetak di atas kertas tebal berwarna, walaupun menarik karena memuat ide2 tentang makna kecantikan, menjadi mengganggu karena muncul di hampir setiap bab. Foto2 Icha yang terpampang di sana nyaris mengesakan betapa Icha ingin "tampil"dan bukan hanya untuk menjadi orang di belakang layar, tepatnya di belakang monitor komputer penulisan buku ini.
Somehow I can relate myself to Nadja. Gue emang nggak secerewet, segaul, se-emosional dan se-impulsif Nadja :P. Tapi gue memiliki semua sifat2 itu walaupun dalam kadar yang lebih rendah (emm.. tepatnya, klo dibandingin ama Nadja sih gue sangat gak gaul :D).
Then, she's short. Tingginya 153 cm, tapi selalu ngaku2 155 cm, dan suka pake sepatu hak tinggi. Gue selalu bilang bahwa tinggi gue 151 cm, karena terakhir diukur ya segitu itu. Tapi karena di paspor lama gue (yang biru dgn jilidan yg gampang lepas itu) tinggi gue 149 cm, Adek gue keukeuh bahwa gue cuma 149 cm, dan I just pretend to be 151 cm tall. Whatever you say lah hai...
Lalu, SMS Budi sang Pangeran Idaman tentang Nadja, cantik banget ya, sayang keriting ya..
Uh oh.. Gue nggak cantik banget ya, hello.. Tapi gue KITIIIINNNGGG!!!!! Dan gue kadang merasa, salah satu faktor yang makin mempersulit orang untuk bilang gue cantik adalah krn rambut gue yang awul2an itu.. hehehe...
Semestinya tak ada yang salah dengan Nadja Sinka Suwita. Dia cantik berwajah oval dengan rambut ikal sedikit keriting. Di usianya yang 25 tahun, dia bekerja sebagai konsultan desain interior. Gajinya lumayan nutup, buat Nadja yang senang berbelanja barang-barang mahal tanpa rencana (dia menyebut dirinya impulsive buyer). Apalagi dia tak perlu mengeluarkan uang buat tempat tinggal, sebab tinggal bersama Shana kakaknya, dan Chika keponakannya.
Nadja ini punya dua teman baik, Dian dan Obi. Bekerja di sebuah firma hukum, tugas utama Dian malah menyembunyikan aib bosnya (yak betul! yang berselingkuh dengan model) dari pengetahuan istri si bos. Sedangkan Obi, menangani hubungan publik dan promosi di sebuah radio swasta di ... Jakarta (tentu). Obi banyak bertindak sebagai 'makelar' Nadja untuk beberapa proyek. Nadja menyebut laki-laki berpipi tembem ini sebagai germonya. Tentu, dalam tanda kutip.
Saya gak baca Cintapucino sampe selesai karena ngerasa boring. Tapi pas Beauty Case keluar, saya pengen banget baca. Waktu itu Icha lagi beken-bekennya karena Cintapucino dibikin film. Baca Beauty Case ini saya terkesan banget. Gak ngerasa bosen. Ngalir, seru, dan saya jadikan salah satu referensi menulis chicklit yang enerjik ^^
Nemuin buku ini di 2023 dan dapet cetakan tahun 2005. Berasa nemu harta karun aja, selain suka novel lawas ternyata buku ini selera aku banget!✨️
Berasa punya bestie selama baca buku ini, ngalir banget. Bahasa nya pun kaya novel yang di cetak tahun sekarang² (hampir ga percaya novel ini cetakan 2005).
Persahabatan Nadja, Obi, sama Dian bikin envy banget. I wish i have that kind of friends too huhu. Next aku bakal nyobain baca Cintapuccino karna udah terlanjur suka banget sama tulisan kak Icha🫶🏻
Jujur saya kurang menikmati membaca buku ini dibanding karya penulis sebelumnya. Sudut pandang yang digunakan adalah POV 1, tetapi banyak banget pengulangan isi pikiran Nadja yang itu lagi itu lagi. Alurnya kadang lompat ke sana lompat ke sini, dan penokohannya masih kurang kuat dibahas satu demi satu, begitu juga interaksi di dalamnya. Isinya cuma lagi-lagi pikiran si Nadja ini. Temanya sebenarnya bagus, cuma kurang didalami menurut saya.
aku punya kesan tersendiri sama novel teh icha yang beauty case ini. bahasa yang digunakan teh icha sangat enak buat di baca. bener2 jatuh cinta sama sosok nadja saat itu. hahahha mungkin karena ini novel pertama di usia remaja ku saat itu. sayang banget setelah itu teh icha gak lanjut novel2 gini lagi 😕
I can relate with this book since Nadja and I share the same problem regarding insecurity towards self beauty. Ringan, bahasanya sangat mengalir, dan bisa bikin gemes pembacanya.
Lupa kapan bacanya. Yang jelas, sekitar tahun 2006 an gt. Setelah si cintapuccino booming. For me, buku ini adalah buku yang menarik dan bagus. Penulisannya pun menyenangkan (ringan, lucu dan mudah)
Rachel Maryam (aktris) “Tema yang sederhana tapi dikemas dengan cantik n very smart. Salut buat Icha, she really knows how to make people smile, laugh, then cry dalam jeda waktu yang sangat singkat…”
Enda Nasution (Blogger, books reader,pekerja kreatif) “You put Politics in Chicklit!? Hehe.. Kalo boleh gue sebut groundbreaking idea nya kamu ya ini. Kamu membuat politik jadi trendi dan kekuasaan jadi cool. Keren-keren. :) Kesimpulannya? Asik kok. :) Bagian paling menyentuh dan gue bisa relate kata gue yg pas kamu cerita ttg Rifky. Gue menyebutnya "the always there" feeling. For some reasons ada beberapa orang yg selalu ada bareng kita dan jadi bagian dari hidup kita selamanya. :) Nostalgia emang paling asik dan it always make us wonder kenapa harus berakhir.”
Tommy Tjokro, Metro TV “Cermin dari kehidupan dan detail aktivitas sehari-hari yang bisa kita sebut ‘anak gaul’ Jakarta, membuat cerita ini sangat gampang dicerna dan membuat tersenyum pembacanya. Coz it seems like we can really picturee d scene in our head and 4 d girls… if um not mistaken, I think they can picture themselves in diz story. Benar-benar potret anak muda yang apa adanya. Dari tempat tongkrongan such as Upstairs dan botol-botol wine yang berjejer untuk dibuka saat mereka hang out, baju-baju yan dipakai, lengkap dengan style dan merek kalangan atas, membuat buku ini semakin menarik untuk terus dibaca. Gaya penulis sangat kreatif dan detail, setipe dengan gaya Carrie Bradshaw yang memiliki kolomnya di Serial Sex & The City. Mungkin dari sisi laki-laki saya bisa mengatakan kurang lebih menjadi satu informasi yang berguna sekali untuk lebih mengerti apa sebenarnya yang ada di benak para perempuan metropolitan jaman sekarang, juga untuk mendefinisikan apa arti dari ‘kecantikan’ sebetulnya. This book is really fun to read, courageous, and the most important thing is truly inspiration 4 d girls on how to be an elegant smart female! To add more more a guy’s point of view : beautiful girl doesn’t always get the best and the most eligible man. I think a girl with an amazing & interesting character is definitely having more chance!”
Yulian Firdaus ( internet junker, blogger, http://yulian.firdaus.or.id ) “Apa itu cantik? Baca buku ini. Bagaimana menjadi cantik? Baca buku ini. Kamu perempuan? Baca buku ini. Kamu laki-laki? Harus baca buku ini! Sekedar merenungi, menguji segala definisi kecantikan di otak kita, dan melihat apa yang perempuan pikirkan tentang kecantikan itu.”
Fauzi Baadila ( aktor, pemeran Damar di film Mengejar Matahari ) “Sepertinya cowok2 hrs baca nih buku juga. ALASANNYA = kalo cewek suka baca buku ini berarti sedikit banyak mewakili perasaan dan pikiran mereka, jadi utk memahami "mereka" baca; wanita (yg terkadang sulit dipahami) ini buku penting buat "masukan" ,intip mereka dari bacaan nya. Boys,man,oom...everything’s good. Gw sempat terbawa 5 jam ke alam beauty case. Nice work cha.....journey to the past-nya............menabrak tombol2 perasaan di otak gw. Gw suka gaya penulisan elo.”
Syahmedi Dean (Wartawan fashion, penulis ) “Icha Rahmanti. Ia tak suka berada dalam tradisi penulisan cerita yang stereotipe. She’s having fun with her imagination and writing talents. Icha tak akan butuh waktu lama untuk bisa menjejakkan kaki di arena cerita-cerita semacam ‘Uptown Girls’.”
Nadja Sinka Suwita. Smart, Funny, and a Wonderful woman. Jatuh cinta pada seorang cowok, Budiarsyah Nasution yang terpandang di dunia politik, ganteng dan punya segalanya. Ketika, Nadja mulai punya harapan tinggi pada cowok ini, ga disangka2 ternyata Nadja punya seorang pesaing kuat, dengan embel2 model slash duta majalah wanita [dan berbagai slash2 lainnya ;p] yang MAHA cantik, MAHA sempurna….. Trus gimana dong caranya Nadja untuk mengalahkan pesaingnya? Mengandalkan brain dan inner beaty kah? Are you sure? Are u really sure kalo hal itu bener2 bisa mengalahkan kecantikan yang MAHA cantik?...think twice…..
Beauty Rules. Itu yang mau dibahas oleh sang pengarang, Icha Rahmanti [Cintapuccino]. Kalo pada kenyataanya Beauty Still Rulles. Bahwa dengan kecantikan kita seseorang dapat memiliki yang “terbaik”…the most eligible man… bahwa dunia itu sebenernya adalah sebuah real-life beauty contest. Dimana banyak wanita berlomba untuk fit to the standard of beauty…karena semua wanita ingin diakui cantik. Karena, ‘toh end-up2nya penampilan kita duluan yang dinilai masyarakat. Pantas-tidak pantas. Keren-tidak keren. Trendy-tidak Trendy. Masyarakat mulai mengelompokkan seseorang berdasarkan penampilan menjadi kasta2…. Bahwa seseorang dengan penampilan ‘lebih’ sudah seperti piala, diperebutkan, dikejar…tapi ketika muncul piala baru yang ‘lebih bagus’ orang cenderung meninggalkan piala lama, dan ikut berkompetisi mengejar yang baru, untuk mendapatkan yang ‘terbaik’…. Trophy-chaser syndrome….
Overall? Gw kasih nilai 7. Gaya bahasa Icha yang ringan mudah diikuti, tapi berisi kalimat2 yang smart, dan yang pasti berwawasan luas… it’s soooo ‘Icha banget’…. Buku Cintapuccino sendiri gw sih kurang suka…ga berkesan untuk gw, mungkin karena topiknya waktu itu bukan ‘gw bgt’, mungkin saat itu gw belum menemukan ‘Nimo’ gw..makanya ga ‘nampol’ buat gw… ga kayak buku Beauty Case ini…. Kali ini ‘nampar’ dengan sukses..mungkin karena gw lagi mengalami permasalahan yang sama…membaca buku ini, gw kayak dapet jawaban….Thumbs for Icha… dia bisa mengulas permasalahan yang sering dialami wanita jaman sekarang menjadi sebuah novel yang mengalir….. Tapi…. Then again, seperti yang sebelumnya, there’s no chemistry…gw ga bisa merasa connected dengan cerita…dan ada beberapa bagian yang agak ‘kepanjangan’ menurut gw…. Sempet ngantuk sih… dan endingnya ketebak kok…yah namanya juga chicklit…. =P
[i know...ini buku emang udah lama bgt... tp mo gmn lagi, baru sempet baca =P]
Pernahkah kamu merasa bahwa dunia sedang tidak adil padamu hanya karena kecantikan, penampilan, dan lainnya? Dinilai dengan hanya melihat postur tubuh, wajah, jenis rambut? Seseorang interior desainer yang super-kreatif bernama Nadja sering mengalami ini. Nadja Sinka Suwita, cewek mungil dengan rambut (yang diakuinya) ikal, mempunyai sifat utama pelupa (gw banget, amnesia akut hahaha!!). Sebagai teman, Nadja adalah pemegang friendship yang oke, walaupun kadang pernah lepas kendali karena deep-depression akibat beauty rules. Sebagai mitra kerja, Nadja adalah seorang desainer yang oke banget, kreatif banget dan penuh ide-ide (walau kadang2 perlu dipicu oleh sesuatu yang bisa membangkitkan emosi hahaha). Tapi Nadja selalu mempunyai sindrom “i-have-nothing-to-wear” dan panik pada saat itu, terutama setelah ia bertemu dengan seorang perempuan maha cantik, maha indah,seorang model sekaligus Duta Gals Indonesia (majalah favorit Nadja), Dania Soedjono, untuk mendapatkan cinta the most eligible man, drop deep gorgeous-man, Budiarsyah Nasution :D Mengapa? Di pikirannya selalu terpatok bahwa beauty does rules. Seseorang dinilai dari penampilan, etc etc.. Such a boring thought, isn’t it? f(-_-); Anyway, di sini Nadja, yang awalnya sempat drop abis gara-gara kalah bersaing dengan Dania, kemudian menjadi tegar, dan berjuang melawan peraturan seleksi alam yang ada. Dia berjuang untuk membuktikan bahwa penampilan dan kecantikan bukan akhir dari segala penilaian terhadap diri seseorang. Dan dia dapat membuktikan bahwa, the most eligible man tidak selamanya yang terbaik. Yeah sebuah buku lagi dari mbak Icha Rahmanti. Seems familiar huh? Tentunya untuk penggemar chicklit masih ingat kisah Rahmi dan Nimo-nya serta Danang Raka Sudiro (alias Raka) dalam Cintapuccino. Gw pernah review bukunya dulu di blog ini juga, waktu itu masih layout yang lama :p~ Anyway, this book so incridible for me, dengan gaya penulisan mbak Icha banget deh :) Te-O-Pe!!! Banyak kata-kata bijaknya pula: “…Tapi, sometimes, untuk menerima suatu kebenaran, kamu perlu sangat terluka dulu sebelumnya.” (BEAUTY CASE, hal 120) “…kita nggak pernah bisa 100% mengontrol apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Things happens. S**t happens. That’s the way life is, right? So, all we can do is … do our best.” (BEAUTY CASE, hal 277) Hmmm sumpah gw jadi super-romantic-mood-sensitive-feeling reading this chicklit. Pake nangis pula Image hosted by Photobucket.com
Bintang 1: Gebrakan yang terpuji, tepat seperti komentar Enda: Mengemas POLITIK dalam chicklit; sang tokoh sempat turut memikirkan posisi dirinya di dalam kancah politik kenegaraan... walaupun ujung-ujungnya cuma jadi tempelan di sana-sini saja, dan yang ada malah politik tarik-ulur perebutan 'cinta'... Sempat juga dapat bocoran tentang beberapa sumber inspirasi ceritanya, yang sebagai bahan gosip cukup mengejutkan, hua ha ha.
Ini juga salah satu dari buku yang merintis perjuangan harkat martabat kaum keriting ya, kalau gak salah terbitnya sebelum Laskar Pelangi?
Bintang 2: Niat banget membuat tampilan bab demi bab yang menarik a la friendster yang sedang 'happening' saat itu, a la majalah fashion kitab rujukan kaum wanita metromini itu pula. Lalu siap juga dengan segudang 'merchandise' berlabel yang siap dimanfaatkan baik untuk promosi maupun sebagai ladang penghasilan baru.
Semula akhir ceritanya mau dibuat 'twist ending' yang muncul di halaman tambahan berbentuk tabloid infotainment, tapi dibatalkan, dengan pertimbangan repot dari segi artistik dan ongkos penerbitan, juga namanya chicklit gak boleh bikin bingung, harus yang senang-senang saja. Sayang juga, padahal menarik tuh idenya.
Bintang 3: Harga teman dah. Karena sempat juga ikut iseng mengoprek-oprek drafnya, sampai kebagian kaos promosi. Ingin saya sih menekan sedapat mungkin penggunaan bahasa Inggris yang diobral secara semrawut itu... Tapi menurut pengarang, memang begitulah gaya bahasa sosialita, jadi harus dipertahankan apa adanya. Apa boleh buat, dari judulnya saja sudah tidak memakai Bahasa asli kita, seakan tak ada padanannya, sudah tecerminlah bagaimana isinya. Halah... Sedemikian rendahkah kemampuan masyarakat (termasuk pengarang) mencerna bahasa Indonesia rata-rata? (eits saya belum mempermasalahkan baik dan benar loh.)
Dan kok ya "kejiwaan"nya (spiritualitas, maksud saya) masih belum cukup mendalam. Ketika yang dipermasalahkan adalah 'beauty', mengapa sumpah serapah, kecemburuan, kekuasaan, konsumerisme masih dihargai sebagai 'value' positif di sini, rancu... Tapi itu kan kenyataan yang jujur dan manusiawi, katanya. Itulah chicklit, katanya.
Mestinya sih ini difilmkan dekat-dekat pemilu, kok belum ada kabar ya.
Ini adalah buku nyebelin pertama yang saya baca di 2014.
Pernah dengar dari temen kalau ini lebih bagus dari Cintapuccino. Jadi penasaran kan. Minggu lalu akhirnya dpt juga deh novel ini dan langsung saya baca.... sambil marah-marah.
Tokoh utama novel ini, Nadja, umur 25 tahun tapi kelakuannya mirip ABG banget. Oh, bahkan kayak beberapa ABG pun bisa tersinggung kalau disamakan dengan Nadja yang kayaknya terobsesi banget pingin diakui kecantikannya - -; Kenapa? Karena menurut Nadja hidup ini itu semacam kontes kecantikan, yang paling cantik yang akan berkuasa dan mendapatkan pria super charming, tajir, pinter nan eligible.
Mungkin saya ga sepaham kali ya sama Nadja makanya saya susah banget untuk relate ke pemikirannya si Nadja di Beauty Case ini. Ga paham juga kenapa bisa-bisanya Nadja jatuh hati setengah mati sama si Budi... Lha, baru juga ketemu sekali kok udah ngebet banget. Gila deh, bacanya udah males banget. Ada sisipan juga soal politik, tapi kesannya ga terarah dan kok yaaa agak pretensius gitu Ga masalah deh endingnya agak nggantung atau gimana, karena buat saya masalahnya itu di sepanjang ceritanyaaa yang bikin pengen lempar piring karena kesel sendiri.
Kalau nggak gara-gara kalimat-kalimat saktinya si Max di bagian belakang buku, saya kasih satu bintang aja deh. Jadi ya udahlah, mari sudahi review tak karuan ini dan kasih aja 1.5 dari 5 bintang.
Ketika kamu mencari pasangan hidup, mana yang kamu pilih: Partner or Trophy? Damn, frase ini gak pernah saya lupa sampai saat ini. Padahal saya membaca ini ketika masih kuliah, dengan pengalaman percintaan nol dan pemikiran masih dangkal. Namun sekarang, ketika saya telusuri maknanya...wow....
Kamu memilih rekan hidup yang mengerti kamu, menemanimu, tertawa denganmu, memaafkan kesalahanmu, dan menyanjungmu? atau seseorang yang bisa kamu banggakan seperti trophy saja? indah namun tidak ada bedanya dengan pajangan di pojok ruangan saja?
saya selalu suka karya-karya Icha. menurut saya meskipun ditulis dalam gaya bahasa yang nyantai banget, tapi cerita2 icha selalu bermakna. ceritanya sederhana, tentang seorang nadja, perempuan 20 tahunan sekian yang sedang mencari cinta. tentu, dia ingin yang terbaik. dan pilihan jatuh pada seorang budiarsyah nasution, keponakan petinggi negeri, aktivis partai yang tidak hanya tampan tapi juga cerdas. gambaran calon suami ideal impian banyak wanita :p. bibit, bobot, dan bebet yang baik. tapi, apa iya budi sesempurna itu? lalu, bagaimana dengan Max? cowok yang kelihatan dari luar gak banget, ternyata mempunyai kepribadian kebalikan... buku ini mengajarkan kepada kita(para wanita) untuk tidak melihat segala sesuatu dari luar, khususnya yang menyangkut pria idaman. kalau kebanyakan pria terjebak melihat wanita dari segi fisik(cantik,putih,tinggi,dan blah...). wanita juga sering melihat pria dari segi kemapanan. iya kan? :p... and afterall love your self, and you will find your love :)
ehemm, lumayan sih novelnya. tp jujur lebih suka yang @cintapuccino . mungkin karena disni rada sdkit complex kali ya, yah there's love, friendship, foe, even politics .
mnurut gw sendiri tokoh utama (si nadja) ini polos dan naive. yah dia menganggap everything is about beauty case. nggak pd banget ama diri sendiri.
"sebagai seorang trophy chaser, selalu ada trophy2 lain yang menantang untk di raih. kalo lo berpikir sbg seorang trophy chaser lo ngkn akan susah pyah mnerima kyataan kalo 'piala' lo itu jg mnusia, punya kekurangan. kecuali karna terlalu narsis buat ngingetin kehebatan dri sndiri karna berhasil menangin piala itu, biasanya orang gak prnh lagi pegang lagi piala yg didpet. piala itu cma dpajang dan akhirnya berdebu..." WOW suka banget ama theory max yng ini !
well, where do you belong to? a trophy chaser or partner ?
Sebenarnya, ga bisa dibilang review juga sih apa yang mau aku tulis tentang buku ini. Karena ni buku udah lama banget aku baca nya, jadi agak-agak lupa juga dengan para tokohnya. Tapi cerita dari novel ini benar-benar berkesan cuz ngena banget dengan realita yang sebenarnya terjadi di kehidupan nyata.
Cara nulisnya mbak Icha juga keren sangat. Lugas dan ciamik. Gaya bahasanya juga gaul banget tapi tetap bagus alias ga asal. Dan lebih suka nya lagi. kadang mbk Icha nulis dengan Englishnya yang expert gituuu.. Hehehe.. Jadi berasa enjoy banget baca nya cuz ya itu tadi, cerita n cara nulis nya ngena banget.
Membuatku berpikir bahwa Beauty stills a rules although not as powerful as before but I think it stills...
Waktu baca cintapuccino, aq ngeliat sisi kepolosan, obsesi dan kejujuran dari seorang Icha Rahmanti tapi di buku ini aq bener2 ngeliat sisi yang beda bgt dari Icha,,,ternyata dia pinter bgt ya,,,ternyata dia good story teller ya,,,tenyata wawasan nya luas bgt ya,,,ternyata cara dia memandang segala sesuatu bener2 luar biasa ya,,,sampe,,,koq nyampe ya pikirannya sampe kesitu? Tapi sayangnya ternyata dia narsis bgt ya,,,huehehehe,,,becanda koq, mbak,,,(yah, agak sih,,,wuakakakakak,,,)
Buku ini bikin gw pinter,,,bikin wawasan gw nambah,,,bikin gw lebih memandang hidup terutama kecantikan dari segi yang lebih luas,,,dan bikin gw bisa bahasa inggris,,,huahahahaha,,,
Buku ini terbit sebelum Choky datang setiap weekend dengan Take Me Out dan Take Him Out-nya. Agak terlalu high-level untuk selera saya, tapi yang ngeh kalau H&M itu toko baju versi IKEA (mengutip penulisnya lho!), dan masih single, urban dan belum 30, ini buku ok lah buat dibaca di busway. Agak lawas untuk ukuran 2009, mungkin kalah ditulis jaman sekarang, Icha bisa menyisipkan dengung-dengung Twitter atau wall update di Facebook (yang terakhir ini mah sangat 2007 kali yak!).
Ada yang tertarik untuk barter, ato mau beli dengan harga obral? Let me know ya!
Saya baca buku ini atas rekomendasi temen. Baru beberapa bab...bosen. Mungkin masalah selera ya karena teman saya suka sekali buku ini. Konfliknya saya pikir tadinya tentang tokoh utama yang mau mandiri. Ternyata tidak juga. Tentang percintaan...kurang juga. Serba nanggung menurut saya. Nyaris tidak saya selesaikan membaca tapi karena teman saya meyakinkan kalau keseluruhan bagus, saya tamatkan. Sayangnya saya berbeda pendapat dengan dia. Tapi ada satu perkataan tokoh Max yang saya setuju. Itu satu yang berkesan bagi saya dari keseluruhan buku ini..
dari dua bukunya yang udah gue baca, gue lebih cinta CINTAPUCINO ketimbang ini. Tapi yang ini juga bagus dan simpel. Dan ada bagian yang gue banget, yang pas Nadja dengan bingung mikir, dolly? tracking? ... itu GUE BANGET! Hihihihihi .. tapi agak bingung dengan timing soal impiannya dia tentang perkawinannya putri Diana. Emang dia udah umur berapa sih waktu Putri Diana nikah ama Pangeran Charles. Kalo liat umur tokohnya, harusnya sih dia belum tau soal pernikahan itu.
pertama kali baca buku ini saya masih abg ( hmmm 20an lah hehehe) dan rasanya emang bisa relate, tapi semakin dewasa dan semakin dibaca lagi, memang nadja tuh so annoying, heran juga kok temen -temennya kuat sama dia...yang saya yakin, banyak perempuan feminis yang akan menghujat cara pandang nadja tentang kehidupan seorang perempuan (termasuk saya), because her point of view is shallow and pathetic
novel lama, tapi baru baca kemarin hihi. thanks to Amel yang rak bukunya rela dibongkar :P cantik emang bukan segalanya. cantik bukanlah jaminan hidup kita bakal bahagia, dan semua berjalan sesuai dengan keinginan kita, termasuk menginginkan orang yang kita cinta juga mencintai kita. ceritanya banyak dialami cewek di dunia, rela berkorban apa saja demi memikat si pujaan hati, even doing the silly things! well, ga salah lah kalo aku sebut novel ini agak menyindir aku hehe.
novel-novel yang meng-exaggerate kehidupan metropolitan,,,lengkap beserta persaingan di sgala bidang, termasuk trying to be the fairest of them all cukup menghibur karena perjalanan kata dan deskripsi yang mengalir dan memaksa untuk melibatkan emosi just like the first chicklit from the author, tapi i like cintappuccino better untuk ceritanya,,,:)
Buku yang cewek banget. Ga munafik kadang kita ( cewek2) maniak ma baju-baju lucu, assesoris dll dan rela ngirit2 buat dapetinnya dan kadang itu semua hanya demi ego kita sendiri kadang juga demi cowok... Disini belajar bahwa semua perempuan tuh dah cantik koq jadi gak perlu maksa buat jadi orang lain... I don't want to be a throphy
Satu lagi novel ringan yang cerdas dari icha rahmanti! This book is simply talking about a woman who's interested of a man, but she's not as pretty as her competitor (haha). DI dalam buku ini juga ada pemikiran2 kita tentang kecantikan yang dianggap berbanding terbalik dengan kepintaran, dsb. Well Icha Rahmanti, I like the way you write about your opinion..