Allah begitu sabar terhadap manusia, cinta dan romantisme-Nya tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Allah pun mempunyai rasa "memiliki" terhadap manusia. Dengan setia Allah tetap menerbitkan matahari tanpa peduli apakah manusia mensyukuri atau tidak.
Allah tetap memancarkan cahaya matahari tanpa memperhitungkan berbagai pengkhianatan manusia terhadap-Nya. Allah "berpuasa" menahan diri dari murka-Nya terhadap manusia.
Puasa adalah "milik khusus" di haribaan-Nya. Sampai-sampai Ia mengorbankan diri-Nya seakan-akan Ia butuh sesuatu dari ibadah manusia, padahal puasa merupakan proses dasar pembebasan dan penyelamatan manusia atas dirinya sendiri. Cak Nun dengan sangat jernih memandang semua "puasa" dari berbagai sisi yang mampu menjernihkan batin dan mencerahkan pikiran kita.
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.
Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.
Ngeriiiikk! Pemaknaan puasa Cak Nun sangatttt ngeriik. Puasa tidak disempitkan maknanya secara fisik seperti menahan lapar dan dahaga, atau secara psikis seperti menahan amarah, dan tidak terbatas pada waktu seperti Ramadhan atau hari-hari tertentu (senin kamis, hari asyuro, dll).
Tetapi pemaknaan puasa diluaskan pada nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Disebut juga puasa adalah menahan diri dari ketamakan, dari haus akan kekuasaan. Dan sangat tidak dibatasi waktunya. Kita bisa kapan saja ber-"puasa". Karena itu pula, menurut cak nun, kita bisa "riyaya" setahun penuh.
Bahasanya sangat intelek. Semacam tulisan hamka. Saya butuh berulang-ulang membaca, agar mengerti maksudnya. Tetapi tetap saja, keren!! saya bahkan berencana mulai mengoleksi bukunya. :)
Aku merasa buku ini tidak bersahabat, seperti mendengarkan seorang bapak yang memarahi dan menceramahi anaknya, dan aku secara terpaksa harus menjadi anaknya itu. Entah memang gaya penulisnya yang memang begitu dan aku saja yang tidak nyaman, atau bagaimana.
Mungkin aku perlu membacanya lagi lain kali secara lebih objektif.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, mengingatkan istimewanya Puasa, banyak cerita yang mengelitik dan kritik-kritik sosial yang diceritakan dalam buku ini. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca.
Baca ini di bulan puasa, rasanya jadi kontekstual banget. Ga cuma urusan tahan lapar haus marah, dll, puasa juga soal mengenali batasan diri, mempetakan mana yang benar2 perlu, mana yang diprioritaskan dan mana yang perlu ditahan. Sebelum baca ini, di tengah Ramadhan, bulan puasa nggak tau kenapa, rasanya kayak 'beban'. Terus pas baca ini, tiba2 sudut pandang jadi berubah, jadi penasaran pengen ngerasain momen reflektifnya buat diri sendiri. Buat ngecek, 'isi' diriku sendiri tu kayak apa, sekecil/sebesar apa, serewel apa, se-hambur apa, seberapa remeh kualitasnya, toh kesimpulannya ga ada yang liat ini selain diri sendiri hahaha. Jadi inget lagi bahwa eling2 itu ga perlu nunggu di situasi2 kondisi besar, tp harus jadi pilihan tiap waktu di keseharian. Dan bikin sadar juga, bahwa rendah hati itu beda sama rendah diri ❤
Aku merasa buku ini tidak bersahabat, seperti mendengarkan seorang bapak yang memarahi dan menceramahi anaknya, dan aku secara terpaksa harus menjadi anaknya itu. Entah memang gaya penulisnya yang memang begitu dan aku saja yang tidak nyaman, atau bagaimana.
Mungkin aku perlu membacanya lagi lain kali secara lebih objektif.
Membaca judulnya saja, kita akan tertarik untuk mengetahui makna dari Tuhanpun berpuasa. Cak Nun membuat analogi yang menarik atas analisa situasi yang sedang terjadi pada kita (orang Indonesia). melalui buku ini, Cak Nun mencoba menggambarkan makna Puasa secara holistik, tidak hanya sebatas puasa wajib di Bulan Ramadhan yang menahan lapar dan haus serta mengontrol nafsu. Pemaknaan puasa secara holistik dapat memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa segala aktifitas keduniaan ini membutuhkan jeda (puasa)guna memikirkan akhirat. Sehingga melalui jeda tersebut, kita dapat terhindar dari golongan yang mengakhiratkan dunia, seakan-akan dunialah yang menjadi tujuannya hidup. Buku ini membuat saya merenung atas semua tingkah polah yang telah saya lakukan selama ini dan istilah berlebihan ternyata menjadi kata yang banyak merepresentasikan tingkah polah saya selama ini. Semoga kita yang telah membaca buku ini tetap dilimpahkan rahmat dan berkahNya. Buku ini membuat saya berkata "kita hanya orang asing di dunia ini karena rumah kita yang sebenarnya adalah di akhirat (surga atau neraka)".
Belinya pas puasa 1998 kali yah. Jaman kisaran itu masih gandrung baca Emha. Sampe pernah diceletukin sama dosen, "kamu kayak Emha!" Whuaaa...sejauh itu kah keracunan saya? Kalo "kayaknya" dapat mBak Novia yah gak papa. :D
Brenti baca Emha pas nemu bukunya yang isinya gak lebih "gerundelan" pasca dia ketemu sama Pak Harto. Kalo pas jaman itu dah ada blog, mendingan tuh buku jadi bahan blog aja deh.
Ngaten lon Mas Emha, getun aku moco bukumu sing kui..ora ono akrobatik bahasa gaya sampeyan.
Maka, sesungguhnya Tuhan pun berpuasa, untuk menahan diriNya, agar tidak ada satu pun bala musibah menimpa manusia. Tuhan mengambil hakNya untuk berpuasa karena sudah hak prerogatif Tuhan untuk menimpakan musibah bagi manusia
Selama saya membaca buku ini, rasa-rasanya saya sebagai mahasiswa yang sedang mendengarkan kuliah dari seorang dosen. Pemaparan tentang makna "puasa" memang dikupas tuntas secara terperinci, baik secara umum maupun secara khusus. Hanya saja, banyak ditemukan gaya bahasa dan kosakata yang terkesan "akademis" sehingga membuat saya harus "mengernyitkan dahi" untuk memahami makna tulisan dalam setiap bab. Selain itu, mungkin penggunaan jenis huruf atau desain tata letaknya bisa diperbaiki lagi supaya buku ini tidak terkesan "kaku". Meskipun begitu, buku ini sangat "peka" dalam membahas masalah sosial-politik-budaya di negerinya. Buku ini sangat cocok dibaca dan lebih "meresap" pesan atau amanatnya ketika bulan Ramadan.