Novel ini merupakan hasil "reportase" singkat Pramoedya di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka diisap sedemikian rupa. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan.
Tubuh boleh disekap, ditendang, diinjak-injak, tapi semangat hidup tak boleh redup. Menurut Pram, semangat hidup itulah yang membuat sesorang bisa hidup dan terus bekerja. Bertolak dari situ Pram bertekad kuat engorbankan semangat untuk tidak ongkang-ongkang kaki menanti ajal melumat.
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.
Bibliography: * Kranji-Bekasi Jatuh (1947) * Perburuan (The Fugitive) (1950) * Keluarga Gerilya (1950) * Bukan Pasarmalam (1951) * Cerita dari Blora (1952) * Gulat di Jakarta (1953) * Korupsi (Corruption) (1954) * Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954) * Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957) * Hoakiau di Indonesia (1960) * Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) * The Buru Quartet o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980) o Jejak Langkah (Footsteps) (1985) o Rumah Kaca (House of Glass) (1988) * Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982) * Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995) * Arus Balik (1995) * Arok Dedes (1999) * Mangir (1999) * Larasati (2000)
--2018-- Sekarang saya mengerti mengapa buku Mas Pram dahulu kala sangat dilarang. Setiap kalimat dan ceritanya mengandung kekuatan untuk mendobrak semangat rakyat melawan. Semangat untuk mempersatukan bangsa dari semua golongan. Tanpa perlu dia mendeskripsikan nama, karakter, ras, suku. Cukup menyebut dia Komandan, atau Yang Pertama, atau yang Kedua. Cukup Pak Lurah atau Juragan. Dia mengajak kita bersatu. Keberaniannya mempublikasikan karya sastra seperti ini benar-benar mengagumkan.
Menarik, tapi tidak semenarik yang kubayangkan (gimana nih maksudnya bang?)
Kalau dibandingkan sama “Bukan Pasar Malam” atau Tetralogi Buru, ya jelas beda sih. Buku ini terasa seperti sebuah propaganda antara persatuan elemen masyarakat dengan unsur tentara (loh terdengar seperti Orba?)
Tapi mungkin di sini Pram membayangkan bagaimana sejatinya potensi pemimpin yang berasal dari masyarakat yang dipimpinnya. Hidup sebagaimana masyarakatnya, dan bekerja sebagaimana masyarakatnya. Dia akan mampu menggerakkan masyarakatnya ke arah yang lebih baik, didukung dengan tentara yang membantu dan melindungi.
Too idyllisch? Well I guess so. Setidaknya di masa Pram, dan di masa kini pun sama, idyllisch.
Meski begitu, ada bagian yang digambarkan Pram dengan menarik: Perasaan pasif dan mindernya masyarakat!
Maka jadi tidak mengherankan, si tokoh utama mengawali kisahnya menjadi pemimpin dengan satu kutipan yang juga menjadi kutipan pilihan yang dipajang di kata pengantar dari Lentera Dipantara untuk buku ini:
baru baca Pram lagi setelah bertahun-tahun absen. ada yang berbeda rasa membaca setelah tahun ini datang ke pameran NamaKu Pram. ini juga cerita paling tipis, dengan gaya berbeda seperti dialog drama pertunjukan. menemukan beberapa kosa kata baru lagi : aktentas, sice
Buku ini adalah buku pertama yang saya baca di 2020.
Seperti biasa, Pram selalu mengangkat topik yang "menggelitik". Reportase kali ini dari Banten Selatan. Walaupun judulnya reportase, Pram disini menggunakan sudut pandang orang ketiga dan menceritakannya dalam bentuk novel.
Buku ini bikin saya emosi sejujurnya. Ada pihak yang ditindas, tapi tetap baik terhadap si antagonis yang butuh pertolongan. Buku ini juga bercerita bahwa budaya KKN masih sangat kental.
Banyak nilai moral yang bisa diambil, yaitu tentang menjaga hasil kekayaan bumi, gotong royong, dan saling menghargai. Banyak kesederhanaan yang kita lupakan dari kehidupan, sangat berbeda dari kehidupan di buku ini.
Bagian yang saya suka dari buku ini adalah 1. Penulisan keadaan sekitar yang menggelitik 2. Bukunya tipis, tapi padat berisi 3. Walaupun sekarang Indonesia sudah merdeka, buku ini masih relevan tentang dengan keadaan si kaya vs si miskin 4. Ada beberapa dialog dengan istilah bahasa Sunda Banten, tapi masih bisa dimengerti
Bagian yang tidak saya suka adalah 1. Bahasanya kurang mengalir dibandingkan tetralogi Pulau Buru 2. Kurang ada klimaksnya, alurnya cenderung datar 3. Ada beberapa bagian dialog yang tidak ditandai dengan tanda apostrof " " sehingga saya harus membaca ulang
Kesimpulan: Buku ini bagus kalau tertarik topik politik dan sejarah, tapi bukan buku yang cocok dibaca untuk refreshing karena butuh mencerna style penulisannya.
Sekali Peristiwa di Banten Selatan adalah buku yang ditulis Pramoedya untuk mengkisahkan keadaan di Banten Selatan yang waktu itu direcoki oleh Darul Islam (DI) dimana orang-orang miskin itu dirampok, dibunuh, rumahnya dibakar. Setuju kalau buku ini disebut "reportase".
Saya suka dengan dialog antara Ranta (pak Lurah) dengan Rodjali tentang perumpamaan orang kaya yang diibaratkan binatang buas:
"Kalau kita semua tidak mau bersatu, kita semua akan berkelahi terus menerus satu dengan yang lain. Apa akhirnya? Akhirnya barangsiapa kuat, dia berubah menjadi binatang buas. Tiap hari dia mangsa hidup kita, rejeki kita, anak dan bini kita, kebahagiaan kita, semua-muanya. Binatang-binatang buas ini menarik diri, tidak mau bergaul dengan sesamanya. Mereka keluar dari sarang hanya untuk mencari mangsa. Tapi bila sekali waktu binatang buas ini bertemu dengan binatang buas lainnya, kita semua disuruhnya membantu. Orang-orang lemah yang tidak bisa jadi binatang buas, barang kemana pergi, dia tetap akan menjadi mangsa. Barang apa dikerjakannya, dia tetap akan jadi mangsa."
Lalu ada ucapan lain Ranta yang memang benar menurut saya: "Dimana-mana aku selalu dengar : Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar..."
Buku ini juga mengajarkan bahwa persatuan, kerjasama, gotong royong akan menghasilkan satu hal yang positif dan mengarah ke kebaikan.
Entahlah, saya merasa tidak menemukan klimaks ketika membaca buku Pram yang ini. Konflik berjalan dengan biasa saja. Mungkin karena saya sudah terlanjur menyayangi tetralogi Buru sehingga karya Pram yang lain tidak membuat saya begitu antusias. Tetapi biarbagaimanapun, buku Pram yang "Gadis Pantai" itu menjadi buku kesayangan saya juga. Dan banyak orang bilang "Arus Balik" itu juga keren. FYI, saya sudah mempunyai "Arus Balik" dan seperti biasa, masih senang memajangnya ketimbang mulai membacanya. Dasar penimbun!
Dalam buku ini, begitu banyak kata yang tidak diberi spasi seperti: sunyisenyap, gelapgulita, omongkosong, terusmenerus, gotongroyong, sertamerta, turuntemurun, kerjabakti, sampai moratmarit. Saya tidak tahu, apakah hal ini memang sengaja dilakukan oleh pihak penerbitnya agar keaslian tulisan terjaga? Atau mungkin karena Pram yang menulis, jadi oleh pihak penerbit dibuat wajar?
Isinya kurang lebihsama seperti buku Pram lainnya yang berani mendobrak pola pikir dan nilai-nilai yang telanjur ada di tengah-tengah masyarakat.
Walaupun di awal yang ditunjukkan berlatar kondisi waktu Darul Islam memberontak, tapi cerita nggak diberatkan dengan latar sejarah dan politik pemberontakan. Murni bercerita tentang sudut pandang masyarakat yang bahu-membahu meredam pemberontakan dan kelanjutan hidup sesudah pemberontakan berhasil diredam.
Diterbitkan pertama kali tahun 1958 dengan pola pikir perempuan dan lelaki punya kesempatan pendidikan yang setara, wajar kalau buku Pram akhirnya dibredel di zaman Orde Baru. Orde yang (kebetulan) lebih mengunggulkan lelaki dibandingkan perempuan.
Bagian kalimat terfavorit ada di halaman 124, menjelang cerita penutup.
Mengapa kami, wanita, tak dimintai jawaban?
Sebuah bacaan yang, kalau diniatkan, bisa tuntas dibaca dalam sehari.
Walaupun buku ini tipis, tetapi ia masih memiliki isi yang padat. Banyak nilai-nilai seperti gotong royong, si miskin vs si kaya, menjaga kelestarian kekayaan bumi, dan lain-lain yang coba disampaikan Pram dengan cara yang ‘menggelitik’. Tapi karena tipis juga, aku merasa ini kurang dapet klimaksnya karena mood ceritanya terlalu datar dari awal sampe akhir. Mungkin karena ditulis seperti naskah drama, sehingga penceritaan dibuat sederhana dan singkat untuk tiap ‘babak’nya.
But still, Pram never fails to amaze me with his work. Lagi-lagi meskipun settingnya jaman dulu, nilai yang dapat disadur masih sangat relevan dengan situasi sekarang dan rasanya memang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Buku Pram terpendek yang sejauh ini sudah aku baca. Alur jadi sangat simpel dan cepat. Tokoh-tokoh seperti hitam dan putih, tidak ada yang abu-abu sama sekali. Jadi terlalu simpel. Ya maklum mungkin karena memang halamannya sedikit.
cerita ini menemani perjalanan PP jogja-jakarta. dengan lampu temaram dan kereta yang bergoyang, seakan dibawa ke masa itu. masa saat yang kecil tak bisa bersuara, tak punya pendapat dan disingkirkan. berbeda dengan tulisan pram yang lain, ini hanyalah reportase. laporan tanpa kalimat langsung walau itu adalah suatu percakapan.
banten saat itu, yang warga na kebanyakan pendatang. kurang komunikasi satu dengan yang lain sehingga tidak ada sinergi untuk menyelesaikan sesuatu. tapi ketika batas-batas itu bisa dihilangkan, ketika bahu membahu mulai dibudayakan, maka yang ada adalah gotong royong untuk kepentingan bersama yang memepercepat terselesaikan na segala sesuatu. selain itu, hubungan antar individu juga semakin erat.
kembali ke hari di rentang membaca buku ini. apakah budaya yang akhir na dilaksanakan itu masih terpelihara hingga sekarang? ataukah sudah luntur dengan kebudayaan modern yang serba cepat alias instan?
teringat masa kecil ketika akan ada suatu acara di kampung halaman, warga sekitar datang membantu. mereka menyebut na 'rewang'. ada yang bantu tenaga, ada yang bawa bahan makanan seada na. namun sekarang, saat makanan bisa dipesan, saat usaha catering sudah menjamur, saat tenaga bisa dibayar. perlahan-lahan kebudayaan ini hilang. si punya gawe membayar orang untuk menyiapkan acara na, membayar jasa catering untuk makanan na. dan orang-orang yang rajin 'rewang' itu, perlahan memudar...
salah satu budaya desa yang mulai luntur oleh 'yang kata na' kemajuan jaman.
Sekali peristiwa di Banten Selatan menjadi sebuah buku yang menambah khasanah karya kesastraan dari Pram. Kisah yang menceritakan hasil reportase dari Pram yang melakukan kunjungan di daerah Banten Selatan, diterbitkan pertama kali pada tahun 1958 yang memilki inti sari cerita tentang kisah pergolakan, persatuan, dan perjuangan melawan penindasan. Penekanan kepada unsur gotong royong yang menjadi fokus pesan moral yang coba untuk disampaikan Pram melalui tulisannya. Memotret bagian sejarah Indonesia pada saat itu yang sedang dilanda insurgensi dari kelompok DI (Darul Islam) dan dampaknya terhadap keadaan masyarakat Indonesia pada saat itu.
Melalui karakter dan tokoh yang dikembangkan oleh Pram seperti Ranta, Musa, dan tokoh - tokoh lainnya, Pram berhasil mengungkapkan maksud dan pesan moral yang ingin dia sampaikan melalu novella singkat yang haya terdiri dari 126 halaman. Terlepas dari kontroversi yang merubungi novela ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Jakob Sumardjo dalam bukunya Pengantar Novel Indonesia (1991) sebagai sebuah "karya dengan unsur propaganda yang amat nampak" dikarenakan keterlibatan Pram dalam Lekra dan pergolakkan politik yang berlangsung kemudian dalam sejarah Indonesia. Namun, tidak mengurangi nilai sastra dan pesan dalam sudut pandang lain yang coba untuk disampaikan oleh Pram.
Buku ini direkomendasikan kepada anda yang mengaggumi pemikiran dan karya - karya dari Pram, mengetahui dan menelusuri lebih lanjut tulisan dan kepribadian yang tersirat dalam karyanya sebagai salah satu sastrawan terbesar yang dimiliki oleh Indonesa.
Membaca tulisan Pram memang selalu menyenangkan. Kepiawaian Pram menggambarkan latar mambuat pembaca sangat mudah membayangkan suasana ketika peristiwa ini terjadi.
Pram, melalui tokoh Ranta, mendefinisikan orang-orang kuat sebagai binatang buas. "Barangsiapa kuat, dia berubah menjadi binatang buas," katanya. "Tiap hari dia memangsa hidup, rejeki, kebahagiaan kita. Mereka keluar dari sarang hanya untuk mencari mangsa. Tapi bila sekali waktu binatang buas ini bertemu dengan binatang buas lainnya, kita semua disuruhnya membantu. Orang-orang lemah tidak bisa jadi binatang buas, barang ke mana pergi (dan apa yang dilakukannya), dia tetap jadi mangsa." (hlm. 76).
Kiasan binatang buas ini kemudian dijawab kembali di akhir cerita. "Binatang buas hidup sendiri-sendiri karena, kalau ia menemui sesama makhluk, ini berarti yang ditemuinya bakal jadi korban. Mereka hidup hanya dari pembunuhan. Tapi kita bukan binatang buas. Kita ini manusia. Kita tak perlu hidup dari pembunuhan." (hlm. 119).
Catatan Pram sebetulnya mengingatkan pembaca bahwa menjadi yang terkuat seharusnya bukan tujuan, tapi mengupayakan solusi masalah bersama-sama. This is a veery light reading. Tulisan lama yang bahasanya masih cukup mudah dicerna. Membaca ini membuat saya berpikir, kenapa ya bacaan semacam ini tidak masuk dalam bacaan wajib kurikulum Bahasa Indonesia?
📚 Judul : _*Sekali Peristiwa di Banten Selatan*_ ✏️ Penulis : Pramoedya Ananta Toer 🖨 Penerbit : Lentera Dipantara 📆 Tahun : 2003 📖 Tebal : 132 halaman 👩💻 Reviewer : Fionna Christabella
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃 Inilah kisah reportase PAT di Banten Selatan pada akhir 1957, seperti yang dikisahkannya sendiri di bagian pendahuluan, sehingga bbrp kisah di dalamnya tidak sepenuhnya fiksi. Kisah tentang penindasan yang menggulung orang - orang kecil. Tidak hanya dari kaum kolonial tapi juga kaum pemberontak yaitu Darul Islam (DI). Ranta, sebagai tokoh utama di buku ini digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai rasa percaya diri, sebuah keteguhan untuk melawan kemiskinan dan kemalangan dengan terus menerus menggalang rasa solider untuk melawan kekuatan Tirani. Rasa solider itulah yang saat ini akrab disebut gotong royong. . Bagi saya sendiri membaca buku ini terasa membosankan karena konflik yg ditata tidak menimbulkan greget dan banyak hal atau ide utama yaitu gotong royong yg diulang - ulang sehingga dapat dengan mudah ditebak alur ceritanya. Meski ditulis dalam bentuk novel, tetapi dapat pula dipentaskan di panggung. Dan banyak pesan - pesan moral yg bs diambil dari novel ini melalui penuturan tokoh utamanya.
Novel ini ditulis berdasarkan hasil ‘reportase’ yg dilakukan oleh Pramoedya di Banten Selatan pada tahun 1957. Novel ini menceritakan tentang penindasan yang dilakukan oleh DI/TII kepada masyarakat yg miskin dan lemah.
Gotong royong menjadi tema utama di novel ini. Pram menitipkan rasa semangat, persatuan, dan daya juang kepada tokoh Ranta selaku Lurah, dengan mengajak seluruh masyarakat bergotong royong memberantas para penindas.
Masyarakat pun bersatu padu untuk bertahan terhadap penindasan, menjadi manusia yg lebih baik dengan belajar baca tulis, dan kemauan untuk tetap bertahan menaklukan keadaan alam yg subur namun belum diolah secara merata.
Kesan yg aku peroleh saat membaca novel ini adalah alurnya yg cepat, sangat ringan, selayaknya jumlah halamannya yg hanya 126. Sayang, menurutku ceritanya datar, tidak menemukan klimaks, konfliknya pun biasa. Meskipun begitu, novel ini masih relevan untuk dibaca di masa sekarang.
Di akhir cerita, ada bagian yg menggelitik tentang pola pikir perempuan dan laki-laki perihal kesempatan pendidikan yg setara. Bagaimana menumpas hal tabu tentang laki-laki yg takut tersaingi apabila perempuan lebih pintar dari mereka. Mengapa kami, wanita, tak dimintai jawaban? (hal. 124)
Novel Pramoedya, tanpa mengira bagaimana sederhana, sentiasa sampai ke dasar hati paling dalam. Teringat kata Orwell dalam bukunya Esei-esei George Orwell, pengarang yang mempunyai kesedaran politik dan mengakui kecenderungan politiknya, akan dapat menghasilkan karya yang lebih berbekas. Mungkin Pak Pramlah salah seorang pengarang seperti itu.
Temanya adalah kebangkitan pertiwi bertopangkan semangat gotong royong, masing-masing saling berdiri dengan kudrat sendiri, seiring dan bergandingan - mengalahkan musuh, mengerjakan tanah, membangunkan watan. Berlawanan dengan semangat kerjasama, adalah keinginan untuk menjadi 'binatang buas' yang tamak, khianat dan ingin menindas. Sempat diselitkan tentang kuasa baca-tulis dan peranan para wanita.
Namun pertanyaan yang belum hilang sejak awal, siapa Darul Islam yang dikatakan membuat onar dalam kisah ini. Tanda tanya yang perlu dihapuskan melalui lebih banyak pembacaan ke depan hari.
Ini Novel tersingkat yang pernah saya baca. Novel ini menceritakan sebuah penindasan orang-orang kecil, tidak hanya dari kaum kolonial namun juga kaum pemberontak yang mana kala itu ialah DI, di wilayah Banten Selatan yang kaya dan subur tapi rentan akan penjarahan.
Yang saya suka dari novel ini adalah gaya penulisan Pram yang apik dan mengalir sehingga bisa dibaca sekali duduk, kemudian cerita ini kiranya bisa dipentaskan di pangggung karena dialog antar tokohnya seperti sebuah drama. Seperti biasa ketika membaca karya-karya Pram saya menemukan beberapa kosakata baru, seperti: potlot, saluir, kombor, tule, sice dan masih banyak lagi. Adapun nilai moral yang dapat saya petik di novel ini adalah dengan bergotongroyong masyarakat menjadi kuat, bisa membangun apa saja dengan lebih mudah, cepat dan efisien. Dan juga bisa menambah rasa solidaritas antar sesama.
Tak salah rasanya jika saya merekomendasikan novel ini bagi teman-teman yang kiranya menyukai juga genre sastra, bisa dibaca sekali duduk, apalagi ditulis oleh Pram.
The very first book I finished in 2020. Buku kedua Pram yang saya baca setelah Bumi Manusia. Membahas perihal gerakan Darul Islam (DI) di Banten kala itu, buku ini bukan saja membeberkan apa-apa yang tertulis di buku sejarah masa sekolah dulu; tentang ideologi yang bertentangan dan keinginan mengubah negara menjadi berideologi yang dianut mereka. Lebih dari itu, buku ini juga menyajikan banyaknya perbuatan-perbuatan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan gerakan ini. Sebut saja penjarahan, perkosaan sembarang perempuan, adu domba, dan banyak perbuatan keji lainnya.
Ideologi 'Islam' yang dianut DI digambarkan menyimpang oleh Pram melalui setiap pembicaraan antartokohnya. Buku ini tidak banyak, hanya berkisar 120 halaman, namun sedikit banyak cukup untuk memberi gambaran bahwa gerakan ini tak beda jauh dengan kolonialisme orang kulit putih dahulu, dengan kesamaan kejamnya dan setannya perbuatan-perbuatan mereka.
"... Dengar. Aku sudah pernah lihat Palembang, Surabaya, Jakarta, Bandung. Di mana-mana sama saja. Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar..."
"Apa salahnya? Mengapa mesti apa salahnya? Kita tahu, kita mesti melawan. Kalau tidak melawan seperti selama ini, kita dibunuhi, dibakari, seperti kucing! Melawan atau tidak, mereka mau binasakan kita. Karena itu kita mesti melawan! Kalau kita susun perlawanan kita baik-baik, kita pasti menang...."
"...Mengkhianati pengkhianat bukan pengkhianatan..."
"Dengar! Kepintaran harus dicari sendiri. Tak ada orang bisa jadi pandai dengan mewakilkan kepada orang lain..."
"Begini Djali, kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan."
Ini tentang DI yang seenaknya. Tokohnya banyak. Mulai dari pasangan suami istri yang ternyata si suami DI, sampai Ranta dan istrinya yang mula-mula dijadiin maling sampai akhirnya keadaan terbalik. Itu pun karena keberanian Ranta dan kepayahan DI. Tokoh Ranta ini penuturannya bagus-bagus. Yakin, juga bisa diterjemahin sebagai kata tenang.
Di buku ini, masyarakat sekitar Banten Selatan mulai diberi pemahaman tentang apa dan pentingnya gotong royong. Berangkat dari pemahaman yang sama, mereka mulai pukul mundur kelompok pemberontak itu.
"Ada waktunya, Reng, kita akan hidup baik dan senang. Nanti."
Membaca buku ini di tengah gempuran perkuliahan rasa-rasanya adalah pilihan yang salah. Karena buku ini sangat berat bahasanya! Belum lagi ditambah dengan adanya diksi-diksi dan deskripsi yang nggak umum digunakan untuk menjelaskan sesuatu. Ditambah dengan novel ini mempunyai ciri khas berupa tidak adanya tanda petik untuk semua dialog di sini yang semakin membuat aku pusing tujuh keliling.
Tema yang disodorkan juga lumayan berat dan dikemas dengan bahasa yang berat pula sehingga beratnya jadi kuadrat. Aku baca buku ini juga di minggu-minggu ujian jadi lumayan ada gap yang jauh untuk ngeskip baca novel ini.
Long story short, aku berhasil menamatkan buku yang tebalnya nggak sampai 130 halaman ini dalam kurun waktu hampir satu bulan. Aku masih berbaik hati memberikan 2 dari 5 bintang~
Ini buku Pram pertama yang saya baca, dulu pernah membaca buku nya yang berjudul bumi dan manusia, tapi tak sampai selesai karena tebal. Buku ini tipis jadi bisa selesai dibaca dalam waktu sehari saja. Saya suka novel yang berlatar belakang sejarah, cerita nya tidak terlalu berat, isinya tentang kemiskinan, penindasan dan pemberontakan DI, yang kemudian berhasil ditumpas oleh rakyat yang bersatu dibantu aparat. Pram bercerita lewat lurah yang membawa semangat baru “gotong royong” kepada masyarakat, Ranta, saya suka dengan apa yang disampaikan oleh beliau. Percakapannya dengan Djali.. “Dimana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar…”
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saudara-saudara, dengar! Kita ini bukan binatang buas. Kalau binatang buas hidup sendiri-sendiri. Kalau dia menemui sesama makhluk, ini berarti, yang ditemuinya bakal jadi korbannya. Karena itu dia terpaksa hidup sendiri-sendiri. Tidak mau bergaul. Mereka cuma hidup dari pembunuhan. Pada suatu kali pun dia akan dibunuh. Tapi kita bukan binatang buas. Kita ini manusia. Kita tak perlu hidup dari pembunuhan. Tetapi lebih baik lagi kalau kita hidup rukun, gotong-royong, kerjasama, bersatu, bersaudara. Dulu kita tak berani berkumpul-kumpul semacam ini, karena ganasnya gerombolan. Lihat, sesudah kita bersatu, gerombolan dapat kita musnahkan.
Kisah Ranta si miskin yang di peras dan dianiaya oleh Juragan Musa. Dan bagaimana akhirnya Juragan Musa tertangkap bersekongkol dengan pengganas dan menganiaya orang kampung. Pihak tentera mengangkat Ranta sebagai ketua kampung sementara. Dan dengan kesungguhan dan semangat yang ada pada Ranta. Kampung menjadi aman dan selamat.
Inti dari naskah ini adalah, bagaimana rapuhnya sesuatu kelompok andai berpecah belah dan ada duri dalam daging. Bersatu, bekerjasama akan menghasilkan masyarakat yang lebih bermanfaat kepada sesama.
Seperti biasa, bagiku buku-bukunya Pak Pram memiliki level dan tempat tersendiri diantara semua buku yang pernah kubaca. Tidak bermaksud untuk “mendiskriminasi” buku, tapi aku yang sejak awal jatuh cinta dengan karya-karya beliau menilai bahwa tidak ada yang bisa disejajarkan dengan karya beliau.
Termasuk buku ini, ceritanya tak se panjang tetralogi buru, tapi tak kalah meninggalkan kesan atas nilai-nilai yang ada dalamnya, serta seperti biasa membaca buku-buku fiksi Pak Pram bukan hanya mendapatkan penghiburan, tapi juga pelajaran, nilai, dan pengetahuan baru.
Khas PAT. Ia bicara tentang suatu kampung di Banten Selatan di mana warganya hidup di tengah alam yang subur tapi penuh praktik penindasan dan ketidakadilan. Hanya persatuan yang bisa membawa mereka keluar dari lingkar sesat ketidakadilan dan eksploitasi kolonial. Buku yang masih relevan dibaca sampai sekarang. Kisah yang abadi
Dengan kalimat sederhana, namun mengguncangkan! Semangat gotong royong yang sudah lama bangsa Indonesia tinggalkan. Dengan membaca buku ini, bisa membangkitkan optimisme kita terhadap kemajuan dan kejayaan Indonesia kelak. Jangan menunda pembangunan bersama.. tapi sekarang, dan ingat, secara bersama-sama!
Sepenggal kisah perlawanan rakyat di Banten Selatan terhadap DI yang gemar membunuh dan membakar rumah orang miskin, menggunakan modal yang bernama persatuan dan gotong royong.
... yang benar selalu menang... tetapi kebenaran tidak datang dari langit. Ia harus diperjuangkan agar menjadi benar. -Lurah Ranta.
Buku Pramoedya Ananta Toer pertama yang saya baca. Sebuah novel yang masih relevan sampai saat ini meskipun telah terbit 66 tahun yang lalu. Bagaimana kekuatan rakyat ketika bersatu dapat membangun sebuah daerah menjadi lebih hidup. Ini pengingat bagi seluruh rakyat Indonesia saat ini yang masih terbelah-belah karna "binatang buas".
Membaca novel tipis ini untuk membuat terlelap. Nyatanya saya kebablasan sampai tamat. Lagi, saya melihat Indonesia pasca kemerdekaan lewat tulisan Pram. Saya pikir novel ini akan berisi penindasan tuan tanah pada pribumi. Namun, nyatanya bukan. Menyenangkan sekali membacanya!