Jump to ratings and reviews
Rate this book

Adam Hawa

Rate this book
Hawa bukan manusia pertama…

Maia merupakan perempuan pertama di sisi Adam. Namun dia memilih kabur dari rumah Adam di Taman Eden kerena tak mau terima atas perlakuan brutal Adam setelah menyekap dan memperkosakannya berpurnama-purnama lamanya di belakang matahari.

Di tengah kesendirian Adam yang hampir melumpuhkannya sebagai lelaki, Hawa muncul sebagai perempuan kedua yang sangat penurut, setia, dan pelayan yang cermat sebelum Adam mati terbunuh di tangan Marf’uah, putri Maia, di bawah pohon khuldi.

Dan sosok Hawa pas betul dengan sosok perempuan yang diangankan Adam. “Aku lahir dari doa dan harapanmu, Adam. Karena itu aku abdikan diriku sepenuhnya sebagai balas budi baikmu.”

Novel ini pernah mendapat somasi dari Majelis Mujahidin Indonesia. Pemicunya adalah ketika resensi Chavchay Syaifullah dimuat di Harian Media Indonesia, 6 November 2005. Berkisah tentang Adam Hawa yang tak ada dalam Kitab Suci.

Dalam resensi Endah Sulwesi dituliskan: “penulisnya menyajikan dua versi “unik” mengenai penciptaan Adam. Versi pertama, ia mengartikan secara harfiah Adam yang dibuat dari tanah. Versi kedua, Tuhanlah yang “melahirkan Adam”. Karena Tuhan tak memiliki rahim dan vagina, maka Adam lalu dikisahkan lahir lewat ketiak Tuhan yang dipenuhi bulu. Sungguh imajinasi yang, hmm, nakal. Saya bisa paham jika ada pembaca yang tidak berkenan dan misuh-misuh. Saya tidak tahu deh bagaimana reaksi FPI kalau membaca novel tipis ini.”

166 pages, Paperback

First published January 1, 2005

20 people are currently reading
183 people want to read

About the author

Muhidin M. Dahlan

38 books102 followers
Muhidin M Dahlan lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, pada tahun 1978. Sempat beberapa waktu mengampuh ilmu di Teknik Bangunan Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jogjakarta dan Sejarah Peradaban Islam IAIN Kalijaga Jogjakarta. Kedua-duanya tak selesai. Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Menulis empat novel dan terlibat sebagai tim editor buku-buku Pramoedya Ananta Toer di lentera Dipantara sejak 2003, spesial penulis "Pengantar Penerbit" dan sampul belakang.

Sekarang menjadi kerani menengah di Indonesia Buku (I:BOEKOE) dan pernah ditugasi sebagai koordinator penulisan riset, seperti Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Kronik seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008), 1001 Saksi Mata Sejarah Republik.

http://archive.ivaa-online.org/pelaku...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (30%)
4 stars
31 (32%)
3 stars
19 (20%)
2 stars
10 (10%)
1 star
5 (5%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Endah.
285 reviews159 followers
February 3, 2009
Adam dalam kitab-kitab suci agama langit, Islam, Nasrani, dan Yahudi, dipercaya sebagai manusia pertama ciptaan Tuhan. Makhluk berjenis kelamin lelaki ini, masih menurut kitab-kitab suci itu, dibuat dari tanah. Sebelum kemudian ia diusir dari Surga, Tuhan telah berbaik hari memberinya seorang kawan yang–sebagaimana tertulis dalam ayat-ayat Tuhan–diciptakan dari seruas tulang iga Adam sebelah kiri (barangkali dari sini berawal penempatan perempuan dalam saf salat berjamaah). Tersebab Adam melanggar larangan Tuhan untuk tidak menyentuh atau apa lagi sampai berani memakan buah khuldi–buah yang hanya tumbuh di Surga (ada juga versi yang menyebutnya apel)–ia pun dihukum Tuhan dengan dilemparkan ke bumi bersama "rusuk kirinya". Itulah sejarah yang selama ini diimani sebagai asal mula adanya manusia di bumi.

Oleh penulis "gemblung" Muhidin M. Dahlan, "sejarah" suci itu ditulis kembali dengan gaya kelakar yang bisa jadi bikin pembaca yang relijius akan merah kuping dan "berasap" kepalanya. Pasalnya Adam Hawa dalam versi Gus Muh atawa Gus Pengasap ini tampil dalam sosok yang "berbeda". Oh, bahkan Gus Sinting ini berani menuliskan bahwa Hawa bukanlah perempuan pertama, sebab yang pertama itu adalah Maia (ah..kenapa saya lalu jadi ingat Maia Ahmad, ya?)

Lantaran sebelumnya saya sudah sempat mencari kenal penulis muda yang banyak mendapat hujatan, terutama dari kelompok Islam karena keempat novelnya yang dianggap kelewat nyeleneh itu, maka saya sudah menyiapkan mental untuk bertemu dengan sebuah lakon yang "aneh".

Muhidin menyajikan dua versi "unik" mengenai penciptaan Adam. Versi pertama, ia mengartikan secara harfiah Adam yang dibuat dari tanah. Tuhan telah memerintahkan malaikat-malaikatnya yang setia untuk menemui kaum kurcaci yang terkenal mahir membuat patung. Pada orang-orang mungil ini, malaikat memesan sebuah patung lempung makhluk terbaru yang kelak dikenal sebagai manusia. Gambar dan rancangan patung tersebut dibuat sendiri oleh Tuhan dengan detail yang sangat sempurna. Ketika saatnya tiba, Tuhan menghembuskan kehidupan ke dalam tubuh patung lempung tersebut dan memanggilnya dengan nama Adam.

Versi kedua, Tuhanlah yang "melahirkan" Adam. Cuma karena Muhidin menafsirkan Tuhan berkelamin cowok (Ugh, mengapa harus ditafsirkan sebagai lelaki?) yang tidak memiliki rahim dan vagina, maka Adam lalu dikisahkan lahir lewat ketiak Tuhan yang dipenuhi bulu. Sungguh imajinasi yang, hmm, nakal. Saya bisa paham jika ada pembaca yang tidak berkenan dan misuh-misuh. Saya tidak tahu deh bagaimana reaksi FPI kalau membaca novel tipis ini.

Adam ternyata lebih suka dan sepakat dengan versi kedua. Sebab menurut hematnya versi pertama sangat tidak keren. Tercipta dari lempung? Oh, sungguh hina dan memalukan. Sebutan "putra Tuhan" tentu jauh lebih terhormat.

Setelah sekian lama sendiri di Taman Eden, pada suatu pagi Adam terkejut lantaran mendapati seorang makhluk lain yang sangat mirip dengan dirinya nangkring di batang pohon khuldi. Ah, tetapi setelah ia dekati, makhluk itu ternyata sedikit berbeda dengan dirinya. Bagian dadanya menggelembung, tidak rata seperti miliknya. Dan sebaliknya, di antara selangkangannya tidak terdapat gumpalan daging yang mirip akar tunjang seperti di tubuhnya. Makhluk itu menyebut dirinya Maia.

Lalu, tinggallah Maia bersama Adam di Taman Eden, di sebuah rumah batu (entah belajar dari mana Adam cara membuat rumah itu). Setiap detik mereka lewati dengan bercinta sampai kelelahan. Rupanya, Tuhan yang pandai itu telah melengkapi Adam dan Maia dengan hasrat berahi yang membuat keduanya saling tertarik dan bergairah satu sama lain. Tiada hari tanpa bercinta. Hingga pada suatu masa Maia tiba pada titik jenuh karena pasangannya kelewat dominan dan suka memerintah. Maia tak diperkenankan memiliki inisatif, bahkan dalam soal bercinta sekalipun. Ia harus selalu mematuhi kehendak Adam, tanpa boleh membantah sedikitpun. Maka, kemudian ia memutuskan minggat dari lelaki itu.

Nah, barulah setelah kepergian Maia entah ke mana, Tuhan memberikan Hawa sebagai penggantinya. Hawa yang penurut serta tak pernah menuntut. Disuruh apapun akan ia laksanakan dengan kepatuhan seorang budak kepada majikannya. Sebab, ia telah diperintahkan Tuhan untuk hanya mematuhi Adam. Ow..ow…inikah hulu sejarah masyarakat patriarkhi (male domination)?:D

Yah, saya cuma bisa mengatakan, sebagai sebuah novel, cara penggarapannya masih harus diamplas lagi supaya lebih halus. Untuk tema cerita, saya sama sekali tidak mempersoalkan. Saya pikir, demi kebebasan berkreasi, tema apapun boleh ditulis. Perkara mutu penulisannya, itulah yang perlu diperhatikan.

Untuk penerbitnya, sangat saya sarankan agar lebih memerhatikan ejaan. Saya menemukan banyak kekeliruan yang terkesan kebablasan. Misalnya, "memperoleh" ditulis "memeroleh", "memperlihatkan" ditulis "memerlihatkan", dll. Ini kan kebablasan, jangan mentang-mentang "memperhatikan" harus ditulis "memerhatikan". Sebab, kata dasar "memerhatikan" adalah "perhati", sedangkan "memperlihatkan", kata dasarnya adalah "lihat".

Komentar untuk Gus Muh : "Kau memang edan tenan, Gus!"

Profile Image for Gabby Allen.
14 reviews6 followers
June 13, 2022
Hampir semua novel karangan Pak Muhidin kayaknya bikin bumi gonjang ganjing ya? Sebelumnya saya baca judulnya ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur’ kemudian ‘Adam Hawa’.

Novel ini mengambil tema hubungan dua manusia pertama di bumi, Adam dan Hawa (konon kabarnya).

Beliau menampar logika pembaca dengan alur cerita yang nyrempet-nyrempet bunyi ayat suci. Misalnya perihal, suami dengan kuasanya sebagai pemimpin dimana istri harus tunduk, patuh, sendiko dawuh. Bahkan ada sindiran keras yang mengganbarkan realita struktur sosial dalam pernikahan, yakni, suami yang semena-mena terhadap istri berbekal potongan ayat tersebut.

Gila! Benar-benar gila! Pak Muhidin berani menantang respon sosial karena mungkin imajenasinya tentang novel Adam Hawa ini amat menyinggung suatu agama. Seakan-akan mengolok-olok Adam si Nabi yang disini digambarkan sebagai pria otoriter, pemaksa, pemerkosa, serakah, keras kepala, kasar, penuh nafsu dan bejat. Dia seorang tiran, bukan cuma bagi Hawa tapi bagi dirinya sendiri.

Walaupun sebegitu frontalnya, kita bisa kok berpikir begini.
‘Loh memang Adam di novel itu Nabi Adamnya umat agama A? Bisa saja to, Adam lainnya? Adam Suseno, Adam Sumarmo, Adam Dubidubidam? Misalnya begitu’

Jangan lekas tersindir, soalnya nanti lekas tersingkir juga. Pak Muhidin di kata pengantar Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur berkata : iman yang tidak pernah digoyangkan patut dipertanyakan.
Profile Image for Yunii Wahyuningsih.
8 reviews1 follower
August 19, 2020
Di halaman pertama buku ini saya disambut dengan kalimat "Kecerobohan terbesar Tuhan adalah menciptakan laki-laki". Singkatnya, dalam buku ini menceritakan bahwaHawa bukan perempuan pertama. Maia-lahperempuan pertama di sisi Adam. Namun, dia memilih kabur dari Taman Eden karena tak mau menerima perlakuan brutal Adam setelah menyekap dan memperkosanya berpurnama-purnama lamanya di belakang matahari. Ketika Maia pergi, diciptakanlah Hawa untuk Adam, dengan tugas tunduk patuh taat kepada Adam. Sebab ia memang diciptakan untuk itu.
Profile Image for Genut Wahyu.
34 reviews
January 3, 2026
Buku ini tidak bercerita tentang nabi nabi, bukan juga cerita tentang teologi. Buku yang pernah disomasi oleh majelis mujahidin ini terbilang cukup berani. Cerita yang kompleks, rumit, aneh, tapi seru, tidak untuk dipahami tapi cukup untuk dinikmati. Cerita satir tentang interaksi laki-laki dan perempuan dikisahkan dengan apik, nakal, tapi filosofis. Gus Muh sangat lihai memainkan kata-kata hingga hal tabu, menjadi layak diterima sebagai bunga dalam rangkaian cerita.

Buku bagus untuk memulai awal tahun.
#happy reading.
Profile Image for Irma Khairani.
4 reviews
September 19, 2018
Buku ini amat luar biasa, terutama satir nya. Buku ini menyinggung banyak manusia pada zaman ini yang terus menerus mewariskan mitos-mitos yang tidak benar, seperti bahwa perempuan terlahir dari tulang rusuk adam. Dan hal ini dipatahkan dengan cerita yang sangat menyenangkan. Buku ini juga menceritakan manusia yang banyak melakukan segala hal, yang padahal tidak benar tapi dilakukan dengan mengatasnamakan tuhan.
Profile Image for Avery.
17 reviews
July 18, 2021
banyak... banget... typonya 😩😩😩😩
Profile Image for DKay.
63 reviews1 follower
May 20, 2022
mirip cerita Lilith yang pernah aku baca entah darimana karna lupa hehe
Profile Image for Gabrielle.
39 reviews15 followers
January 8, 2016
Awalnya, ADAM dilukiskan sebagai manusia pertama yang memiliki kegalauan identitas. Setiap malam hanya ditemani oleh Si Penjaga Mimpi, yang selalu memberinya bermacam-macam cerita dalam tidur Adam. Maksudnya di sini adalah mimpi, bunga tidur. Pertanyaan terbesar Adam, tentang kelahirannya, diceritakan oleh Si Penjaga Mimpi ini dengan dua versi: Bahwa Adam lahir diciptakan dari tanah (yang kemudian akan diceritakan pada keturunan-keturunannya lewat kitab suci), dan versi keduanya Adam dilahirkan lewat ketiak Tuhan. Kesombongan pertama Adam dalam cerita ini nampak dari pilhan Adam yang lebih suka dengan ide cerita kedua karena dia tidak menyukai konsep tanah yang kotor dan hina. Dalam kesendiriannya pun, Adam juga berharap mendapatkan teman yang setara, karena selama ini dia selalu merasa asing diantara ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya di Taman Eden. Tuhan Yang Maha Baik sampai tiga kali mengabulkan permohonan Adam lewat kedatangan Maia, Idris, dan sampai pada akhirnya Hawa, namun tetap saja kesombongan Adam membuatnya tidak pernah bersyukur hingga ajalnya.

Buku yang cukup ringan dan menghibur dari sisi penceritaan ini mengandung pesan yang sangat tajam di dalamnya. Sosok Adam, sang Putera Tuhan, yang dengan segala kesombongannya merasa memiliki hak atas segala apapun di muka bumi beserta segala hukumnya, menurut saya tak jauh berbeda dengan kaum-kaum yang menyindir tulisan Gus Muh dan memberi label ‘sesat’ pada buku ini. Kita bisa membandingkan sosok ADAM dengan kaum-kaum yang merasa benar dan sudah menjadi wakil Tuhan di bumi ini, kaum-kaum yang bisa dengan mudahnya merendahkan dan memberi label ‘sesat’ pada mereka yang tidak sejalan. Lalu ada MAIA sebagai gambaran mereka yang memberontak dan tidak mau ditindas begitu saja, yang memiliki sakit hati mendalam pada Tuhan dan mereka yang terlalu tinggi merasa sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Dan ada HAWA, yang menggambarkan mereka yang benar-benar tunduk pada suami, yang di satu sisi bisa menunjukkan bahwa kekerasan bisa diimbangi oleh kelembutan, namun di sisi lain terlalu pasrah dan tidak punya keberanian bahkan untuk sedikit mempertahankan hak-haknya. Padat akan filsafat dan isu sosial bagi mereka yang mau membuka pikiran ketika membaca buku ini, namun bisa seketika menimbulkan judgement bagi mereka yang berpikiran sempit.
Profile Image for Aida Radar.
48 reviews2 followers
Want to read
November 30, 2014
Jangan bertanya tentang bagaimana bete'-nya saya karena belum berhasil membaca buku ini. Saya memang mengetahui sangat telat perihal penerbitan dan keberadaan buku ini. Informasi tentang buku ini juga baru saya dapatkan setelah membaca tulisan-tulisan penulisnya di blognya. Usaha saya mencari hingga ke loakan, belum juga sukses mempertemukan saya dengannya.

Di tengah keputuasaan, saya pernah memberanikan diri berkorespondensi dengan Gus Muh di Facebook. Namun katanya, buku ini sudah habis dan tidak diterbitkan lagi. Betapa kecewanya saya. Kekecewaan saya bertambah sebab ternyata salah satu penulis favorit saya ini orangnya "menjengkelkan". Tidak terlalu ramah saat berinteraksi dengan pembacanya. Atau mungkin itu hanya penilaian subyektifitas saya saja, sebab mungkin saja dia memang orang dengan karakter seperti itu. Hihi ^_^

Masih berharap bisa menemukan buku ini. Semoga.:D
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
July 20, 2007
novel yang berkisah tentang penciptaan.
Nyeleneh, ngawur, tapi asik dan kalimat2 sastrawi yg dipilih Gus Muh sangat sedap dibaca
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.