Jump to ratings and reviews

Sajak-sajak Lengkap, 1961-2001

Paperback

First published January 1, 2001

Loading...
Loading...

About the author

Goenawan Mohamad

110 books509 followers
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (33%)
4 stars
50 (42%)
3 stars
21 (17%)
2 stars
3 (2%)
1 star
4 (3%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
January 30, 2008
kecemasan puisi adalah kecemasan dalam memandang tubuh kita sendiri. telanjang di depan cermin. menguliti dengan sadar keelokan liuk untuk kemudian bebas untuk menafsir atau ditafsir. dari tubuh itu kemudian muncul ragam suara yang mencekik rutinitas. kemudian lahirlah puisi.

roos adalah seorang therapis tapi juga menulis puisi. amang adalah seorang senior copywriter tapi juga menulis puisi. ronny adalah seorang penerjemah tapi juga menulis puisi. nanto adalah seorang peneliti tapi juga menulis puisi. dahlia adalah seorang karyawan perusahaan pelayaran tapi juga menulis puisi. dan kamu, perempuanku. kamu adalah puisi itu sendiri.

hingga pada akhirnya, apakah puisi hanya sederetan abjad yang berloncatan di sela angka jam yang menempel di dinding. apakah puisi serupa titik hujan yang rapuh menetes di sela pekarangan rumah. apakah puisi adalah cahaya yang luruh demi menyelingkuhi gelap. apakah puisi kemudian menjadi sup kaki sapi yang meninggalkan bau apek dan jadul. apakah puisi. puisi apakah. maka puisi. puisi maka.

tapi puisi tidak melulu kata. puisi juga bentuk. seperti lekuk tubuhmu itu. puisi juga bunyi. serupa racauanmu menghalau sepi.

ngomong opo tho? ra mudeng. mabok wae yuk. bir. bir. bir.
1 review1 follower
June 19, 2009
Membacanya, menyelaminya, memahaminya.. diketahuilah makna hidup dalam kehidupan yang sesungguhnya sebagai perkembangan sejarah pemikiran dari penulisnya..
Sayangnya ini buku sudah susah dicari.... di Gunung Agung: Kwitang, Orion, Margo City, Depok Plaza, Blok M, PIM, sampe Senayan City n warung-warung buku murah.. KOSONG.. di manakah bisa ditemukan??
Profile Image for Dimas Anggada.
62 reviews
April 21, 2024
Ini bukan pembacaan puisi-puisi Goenawan Mohamad yang pertama kali. Saya sudah berkali-kali, dan rasanya tak terhitung. Puisi-puisinya mampu melepaskan bahasa di dalam diri saya. Bahasa tak lagi utuh ketika berusaha mengungkapkan betapa magis puisi-puisinya. Kata-kata tenggelam di dalam ruang yang luas, dan bahkan angin, tak kedengaran lagi. Saya terhempas di dalam bangunan puitiknya.

Jika saya tak mengenal Goenawan Mohamad, mungkin saya tidak akan pernah peduli pada puisi. Ini karya terbaik sepanjang masa.
Profile Image for 霜降 。.
732 reviews
September 15, 2021
Puisi-puisi dalam buku ini disusun berdasarkan urut waktu. Dengan tajuk “sajak lengkap”, mudah-mudahan tidak ada yang tercecer.

Ada baiknya jika buku ini disusun berdasarkan sub bab: Parikesit, Interlude, Asmaradana, Misalkan Kita di Sarajevo. Membaca puisi dalam kumpulan sub bab demikian memberikan wacana kontekstual. Tetapi saya tahu, bukan untuk tujuan itu buku puisi ini diterbitkan. Buku ini lebih dimaksudkan sebagai dokumentasi.
Profile Image for Andika  Abdul Basith.
66 reviews13 followers
May 10, 2013
kumpulan sajak GM ini biasa aja menurut saya. mungkin selera pribadi. tapi layak dibaca dan dikoleksi.
sajak favorit saya:

Dingin Tak Tercatat

Dingin tak tercatat
pada termometer
Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai
mengusir, tetapi kita tetap saja

disana. seakan-akan
gerimis raib
dan cahaya berenang
mempermainkan warna.

Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?
Profile Image for Reyhan.
43 reviews11 followers
October 18, 2007
Sebuah kumpulan sajak yang wajib dimiliki (atau dibaca setidaknya...). Buku ini merangkum secara lengkap karya-karya Goenawan Mohamad. Secara tidak langsung kita terbawa oleh pandangan-pandangannya akan dunia dan kehidupannya melalui sajak-sajak. Favorit gw, Surat Cinta.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews