Tak pernah terlintas di benak Kana bahwa dia harus pindah ke Negeri Kiwi. Itu berarti dia harus meninggalkan Yogyakarta, kota asalnya, dan Rudy, cowok yang dicintainya. Tapi apa boleh buat, mau tak mau Kana harus menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya: ayah yang dikenalnya setelah usianya lima belas tahun, teman-teman baru, sekolah baru, kebiasaan baru, dan yang lebih penting pengalaman baru.
Untung ada Jyotika. Gadis imigran India yang cantik jelita ini langsung menjadi teman baik Kana. Namun di tahun keduanya di Negeri Kiwi, Kana mulai merasakan berbagai perubahan. Banyak masalah yang membuatnya pusing. Berat badan yang naik, tugas-tugas yang menumpuk, obsesinya pada Rudy yang tidak pernah berakhir, dan lebih parah lagi Jyotika, yang selalu diandalkan sebagai tempat curhat, tiba-iba menjauh. Jyotika menjadi cepat tersinggung dan selalu menghindar. Apa yang terjadi? Bosankah dia menjadi temannya? Ataukah karena akhir-akhir ini Kana sering jalan bareng Tsunehisa, cowok Jepang kece di sekolahnya, yang juga cowok favorit Joy?
Mungkin salah satu teenlit lokal terbaik yang pernah saya baca. Tak heran bisa menang Juara 1 Lomba Novel Teenlit. Barangkali banyak yang protes kenapa latar tempatnya di Selandia Baru, dan enggak mengangkat lokalitas. Eeewww! Really hate that kind of assertion . Saya sangat menikmati latar Selandia Baru dan saya masih inget Tsunehisa, nama cowok Jepang yang ditaksir Kana :v Konflik yang diusung juga sangat jarang diangkat dalam novel teenlit lokal pada tahun itu: adaptasi dengan lingkungan baru di luar negeri, pelecehan seksual teman Kana oleh ayahnya sendiri, dan aktualisasi diri.
"The Distance from Failure to Succes is Never Longer than The Bridge of Hope."
Masalah apa yang sering dialami para remaja? Kalau kau bertanya pada Kana Woodfield, maka dia akan bercerita panjang lebar bahkan membuatkan daftar saking banyaknya permasalah hidup yang dia alami. Masalah pertama adalah diputus oleh cinta pertamanya, Rudy. Tepat seminggu sebelum Kana pindah ke Selandia Baru, cowok paling kece tersebut mematahkan hati Kana menjadi berkeping-keping. Mungkin masih diterima kalau alasannya Rudy tidak ingin berhubungan jarak jauh, tapi yang membuat Kana terpukul dan tidak bisa melupakan, dia diputus karena gemuk.
Masalah kedua tentu berhubungan dengan kepindahannya. Awalnya Kana tidak rela harus meninggalkan Yogyakarta, tapi hubungannya yang buruk dengan ibunya, serta kenyataan ibunya akan menikah lagi, meminta Kana tinggal dengan ayahnya, membuat Kana merasa terbuang, tidak diinginkan. Beradaptasi dengan lingkungan, kebudayaan serta pertemanan mungkin bukan hal yang terlalu sulit. Lain halnya harus tinggal dengan ayah yang sebelumnya hanya dia lihat lewat foto, seseorang yang asing walau ayahnya sendiri.
Untung saja kehidupan baru Kana terselamatkan berkat kehadiran Jyotika Talwar, cewek imigran India yang cantik dan pandai, sejak berkenalan di kelas ESL, mereka berteman akrab. Joy, begitu panggilannya menjadi tempat curhat akan segala masalah yang dialami Kana, salah satunya tentang berat badannya, apalagi mereka akan memasuki tahun senior, Form 7, Kana semakin tidak percaya diri.
Karena memiliki minat yang berbeda akan pelajaran, di tahun senior Kana dan Joy harus berpisah. Mereka tentu masih sering menjalin komunikasi, entah lewat telepon atau Kana mengunjungi Joy ketika makan siang. Namun, lambat laun hubungan mereka merenggang, Joy cepat marah pada Kana, semakin aneh, bahkan sulit ditemui. Apakah gara-gara dia meminta bantuan membuatkan lagu pada Tsunehisa, cowok yang ditaksir Joy?
Kana di Negeri Kiwi akan membawa pembaca pada permasalahan remaja yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
"Kadang batas antara cinta sejati dan kebodohan memang benar-benar tipis."
"Ingat baik-baik, Kana, nilai A bukan segalanya. Ada banyak hal yang lebih berarti dari hidup."
"Kau harus tahu, Kana. Kadang hidup memang tidak berjalan sesuai dengan yang kauinginkan. Dalam perjalanan hidupmu akan ada banyak orang yang meninggalkanmu dan menyakiti perasaanmu, tapi bersamaan dengan itu juga akan ada banyak orang yang memasuki hidupmu. Semuanya terus berputar."
Untungnya ayahku beranggapan bahwa sekolah itu bukanlah tempat untuk mengejar nilai, tapi tempat untuk mengejar ilmu. Dia pernah berkata bahwa tidak masalah baginya apakah aku mendapat nilai bagus atau tidak, yang terpenting baginya adalah aku menikmati proses belajar tersebut.
"Aku ingin dihargai karena kepribadianku, bukan karena bentuk tubuhku."
Kali kedua saya membaca Kana di Negeri Kiwi, buku yang pernah menyabet juara pertama Lomba Novel Teenlit Writer pada tahun 2005 silam, membaca dengan kemasan baru, dengan perspektif yang berbeda. Dulu ketika membaca pertama kali, saya ingat betul alasan kenapa buku ini bisa menjadi juara menurut saya pribadi, karena tema yang diambil masih asing, belum banyak penulis yang mengangkat isu pelecehan seksual, apalagi untuk pembaca remaja. Membaca kedua kali setelah bertahun-tahun, semakin maraknya genre mental illness, membuat buku ini tetap layak dinikmati lintas jaman, karena permasalahan serupa ternyata masih banyak terjadi sampai sekarang.
Kana di Negeri Kiwi memang hanya terdiri dari 200 halaman, tapi apa yang coba dituangkan penulis di dalamnya menyangkut banyak hal, mulai dari proses adaptasi, penerimaan diri, body shaming, sampai masalah yang cukup berat dan serius, sexual abuse. Dijelaskan secara padat tapi dengan bahasa yang ringan khas remaja, serta ada penyelesaian untuk semua masalah, membuat buku ini kaya makna.
Pertama tentang adaptasi. Pada bagian ini penulis tidak hanya menceritakan bagaimana galaunya Kana harus memulai kehidupan baru di Selandia Baru, jauh dari teman-teman dan harus tinggal dengan orang asing. Penulis menyisipkan berbagai hal baik itu kebudayaan atau lingkungan yang ada di negara yang terkenal dengan buah kiwinya itu. Membuat latar luar negeri begitu menempel erat dengan cerita, serasa terjemahan.
Misalkan saja kalau kita dapat undangan makan, maka wajib membawa apa pun, jangan sampai datang dengan tangan kosong. Di kelas senior atau Form 7 para murid boleh mengambil lima mata pelajaran yang paling disukai, tentu disesuaikan dengan nilai di kelas sebelumnya. Ada pertukaran pelajar, seperti Riverdale Collenge, sekolah Kana tiap tahun mengadakan pertukaran pelajar dengan sekolah Santa Maria di Rio de Jenairo, Brasil. Selandia Baru memang memiliki banyak etnik, penulis memperkenalkan lewat tokoh dari berbagai negara, seperti India, Indonesia, Jepang, Taiwan, sampai Maori, suku asli Selandia Baru.
Bukannya aku tidak memiliki rasa nasionalisme, aku juga tidak bermaksud mengingkari tempat asalku sendiri, tapi anak-anak Indonesia di sini cenderung membentuk kelompok yang eksklusif. Mereka selalu berkumpul dengan orang Indonesia dan bicara dengan bahasa Indonesia. Hal itu tidak salah sih, hanya saja banyak orang yang jadi merasa tidak nyaman. Aku sendiri berpendapat bahwa bila kau tinggal di negeri orang, maka berbaur akan lebih baik, karena selain memperlancar bahasa Inggris, kau juga bisa mengenal kebudayaan lain.
Penerimaan diri dan body shaming, diperlihatkan melalui diri Kana yang tidak percaya diri akan tubuhnya. gara-gara dikatakan gemuk oleh Rudy, membuat Kana berpikir kalau saja dia kurus maka dia tidak akan diputuskan, karena kurus berarti seksi dan cantik. Di sekolah pun Kana memiliki julukan 'Koala Gendut' oleh cewek populer di sekolah. Menambah beban pikiran pada diri Kana, membuatnya sering memperhatikan penampilan, mencoba berbagai macam diet. Padahal Joy selalu bilang kalau Kana tidak gendut, tubuhnya proposional, dan dia harus bersyukur karena tubuhnya adalah miliknya sendiri. Penerimaan di sini tidak hanya menyangkut akan masalah berat bada, tapi juga masalah Kana dengan ibunya dan obsesinya untuk rujuk kembali dengan Rudy.
Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa pelecehan seksual dan diskriminasi jender sangat diperhatikan di Selandia Baru, bahkan merupakan bentuk pelanggaran terhadap undang-undang dan tidak bisa diterima di Selandia Baru. Iklan lowongan pekerjaan harus menggunakan kata-kata netral, tempat kerja dan institusi pendidikan harus memiliki pedoman yang jelas untuk mencegah dan menangani pelecehan seksual dalam bentuk apapun.* Entah apakah terinspirasi dari fakta tersebut atau mungkin pernah tinggal di Selandia Baru, yang jelas permasalahan yang ditunjukkan penulis sampai detail tentang negara tersebut sangat pas dan jelas.
Lewat Kana di Negeri Kiwi, pembaca akan mengenal berbagai bentuk sexual abuse atau pelecehan seksual. Mulai dari bentuk sederhana, misalkan saja cewek bertubuh seksi juga memiliki masalah, mereka sering mendapatkan komentar melecehkan, bahkan tidak jarang melebar tidak hanya secara verbal, tetapi melalui sentuhan. Sampai bentuk paling traumatis seperti pemerkosaan, bahkan bisa berdampak bunuh diri.
Dari permasalahan tersebut, buku ini memberikan pesan bahwa mereka butuh ditolong, mereka butuh didengar, mereka butuh tempat mengadu. Sexual abuse tidak hanya melukai tubuh korban, tapi juga psikis, akan ada trauma yang sulit disembuhkan, dan merupakan kejahatan yang sangat serius dan harus dihentikan. Kalau melihat kejadian serupa, segera laporkan, beri dukungan secara moril pada korban bahkan ajak untuk bergabung dengan support group, tidak perlu malu dan takut. Mereka tidak sendirian, mereka berhak ceria kembali.
Buku ini sangat bagus sekali, kalau ditanya novel teenlit dalam negeri apa yang harus dibaca, saya akan menyodorkan Kana di Negeri Kiwi sebagai salah satunya. Bacalah, sebarkan nilai positif di dalamnya, agar banyak remaja yang tahu bertapa bahayanya sexual abuse, agar tidak merajalela.
Menurutku kehidupan seperti buah kiwi. Dari luar memang tampak tidak menarik. Namun setelah kau mengupas dan mencicipinya, ada kesegaran istimewa dari buah itu, yang membuatmu ingin memakannya lagi dan lagi. Hidup memang terkadang sulit dan membosankan, tapi jika kau selalu bersyukur, maka lambat laun kau pun akan menikmatinya.
Hanya karena Daniel, aku mau membaca teenlit yang terbit pada 2005 ini. Masa ketika Oprah Winfrey dan reality show-nya sedang digandrungi, ketika Jennifer Aniston dan Brad Pitt berpacaran, dan ketika harga sebuah kiwi di Indonesia berkisar sembilan ribu rupiah.
Aku setuju dengan Daniel yang mengatakan bahwa buku ini adalah satu-satunya novel remaja yang mengangkat isu pelecehan seksual. Isu yang sebenarnya amat berat bila ditelusuri lebih lanjut menjadi begitu mudah dimengerti di sini. Yakin bahwa pembaca remajanya dapat mengantisipasi isu tersebut yang barangkali terjadi pada orang-orang di sekitar mereka lebih-lebih diri mereka sendiri. Sejauh mata memandang, belum ada lagi novel remaja lokal yang mengangkat isu ini. (Kalau ada, tolong beri tahu ya.)
Kana harus tinggal bersama ayahnya di Selandia Baru setelah ibunya memaksanya untuk melakukannya. Padahal ia sangat tidak ingin meninggalkan Yogyakarta karena teman-temannya ada di sana, terutama karena pacarnya, Rudy, ada di sana. Dengan berat hati, ia membawa semua kekecewaan terhadap ibunya dan Rudy--yang malah memutuskannya sesaat sebelum Kana pergi dengan mengatainya gendut (wtf dude? wut yo problem?)--dan melanjutkan studinya di Auckland. Untungnya, di sana ia bertemu dengan Joy, murid pindahan asal India, yang amat ramah kepadanya. Dan dimulaikan kisah mereka berdua yang semakin dekat dan jadi sahabat.
Plotnya amat sederhana. Bahasa yang dibawakan ringan. Namun, tema yang diangkat melalui isu pelecehan seksualnya menjadi penting bagi para remaja.
Walaupun begitu, tata bahasanya masih acak-adut. Paragraf-paragrafnya panjang-panjang dengan penjabaran yang sebenarnya bisa dibagi-bagi. Dan beberapa sisi teknis lain yang bikin kurang mulus untuk dinikmati.
Aku membutuhkan dua belas tahun untuk mengatakan buku ini BAGUS (pakai huruf kapital). Bukan berarti dulunya buku ini tidak bagus, atau bukan karena dulu aku tidak sempat membacanya.
Beruntung bagiku dalam masa remajaku dulu mengenal seorang teman yang hobinya membaca dan membeli buku (sementara aku, cuma bisa bertahan dengan membaca dan meminjam buku darinya, ehehehe), sehingga aku tidak ketinggalan bacaan teenlit yang sedang booming saat itu. Tentu saja aku membaca ini, novel juara satu lomba teenlit.
Sebagai pembaca aktif (aku melahap Cewek-nya Esti Kinasih, Dua Kepiting Melawan Dunia, Fairish, Dealova, Eiffel I'm in Love, dan beberapa novel yang masih kuingat plotnya tapi lupa judulnya), rasanya dulu aku bingung kenapa novel ini bisa menjadi juara satu. Karena bagiku dulu, novel ini kurang "nendang" dengan gaya penulisan yang tidak biasa. Oke, baru kurasakan setelah dua belas tahun berselang, kalau gaya penulisan yang seperti inilah yang kusuka. Bukan berarti dulu aku tidak suka, aku justru masih ingat beberapa plot dalam cerita ini. Novel bagus meninggalkan kesan mendalam yang tak lekang dimakan waktu. Hanya saja, aku yang terbiasa membaca teenlit dengan gaya santai "gue-elo" dan kisah rumit cinta-cintaannya, agak kagok sewaktu membaca ini. Dulu. Kalau sekarang, tentu aku bisa mengetahui di mana letak istimewanya buku ini dan mengamini keputusan menjadikannya juara pertama, ahaha. (Berarti, bagus atau tidaknya suatu buku itu tidak mutlak, mengikuti perkembangan pembacanya—Nisa, 2017)
Mengejutkan, ternyata aku masih ingat beberapa bagian ini:
1. Kana si cewek blasteran yang menurutnya tidak cantik. Dulu, sewaktu membacanya pertama kali, aku mengasosiasikan Kana dengan salah seorang artis yang menurutku tidak cantik, padahal blasteran 😅 2. Kana punya prinsip tidak mau mengakrabkan diri dengan sesama anak Indonesia di Negeri Kiwi. 3. Si cowok Jepang tidak mau naik mobil karena idealis 😂 Oke, karakter begini memang mengesankan.
Dan setelah membacanya kembali, aku merasa bahwa novel ini benar-benar bergizi. Tidak hanya menyajikan cerita cinta ala remaja, tapi ada muatan pesan yang tersaji di dalamnya. Bagus. Kisahnya tak lekang oleh waktu, meskipun nama-nama idolanya tidak lagi relevan dengan idola remaja saat ini, wkwkw, meskipun kau sepertinya masih akan familier dengan Avril Lavigne, Michelle Branch, Brad Pitt, Jennifer Aniston, Shakrukh Khan, Salman Khan, dan satu lagi band yang sempat kusuka dulu tapi aku lupa namanya yang muncul di novel ini 😅
Yup, buku jadul yang nggak bosen dibaca. Salah satu love-at-the-first-sight book yang bikin saya koleksi buku ini (padahal awalnya boleh minjem temen, hehe).
Bercerita tentang Kana, cewek koala imut yang nggak bisa move on. PLIS KANA COWOK-COWOK BULE KAN BANYAK YANG GANTENG. Begitu yang saya pikirkan sebelum selesai membaca. Juga sahabatnya, Joy, yang cantik banget tapi tahu-tahu jadi aneh. Gara-gara cowok? Rasanya bukan. Dan bener aja, masalahnya jauh lebih kompleks dari itu.
Karena tema dan latarnya yang nggak mainstream (Selandia Baru, ketika semua orang terpana dengan Eiffel) saya langsung suka. Saya benar-benar merasa Kana dan kawan-kawannya itu nyata. Keren banget.
Ini adalah teenlit jadul yang dicetak ulang oleh Gramedia dengan penampilan baru yang lebih menarik. Di Goodreads rating-nya cukup bagus, jadi aku memberanikan diri untuk membacanya. Berkisah mengenai Kana yang awalnya tinggal di Jogja, lalu berpindah tinggal ke New Zealand setelah ibunya mau menikah lagi. Ia tinggal bersama ayahnya di sana. Untuk beradaptasi di negara baru dan bertahan di sana, Kana memiliki Jyotika (Joy) sebagai satu-satunya teman dekatnya. Tapi ia masih "dihantui" oleh masa lalunya dulu yang berbentuk kecintaannya yang tidak pernah hilang kepada Rudy, mantan pacarnya yang memutuskannya karena dinilai Kana kurang sempurna, terlalu gemuk. . Aku cukup menyukai teenlit ini. Ceritanya memang dominan mengenai masalah-masalah standar remaja. Tapi ada beberapa tema yang penting, yang membuat buku ini "berisi". Misalnya tentang pelecehan seksual, pentingnya mencintai diri sendiri, butuhnya awareness kita kepada orang-orang sekitar yang kiranya punya masalah. Perjalanan Kana selama bersekolah di New Zealand digambarkan dengan cukup baik. Hanya saja, aku merasa kurang dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis. Aku merasa transisi satu masalah ke masalah lainnya kurang mulus, jadi aku kurang menangkap fokus ceritanya. Namun cocok dibaca untuk remaja karena "isi" bukunya mudah dimengerti.
Jujur, saya hampir saya DNF buku ini karena sebal dengan Kana–sang karakter utama–yang terus menerus mengeluhkan perasaannya akan si mantan pacar. Untunglah saya bertahan dan memutuskan membaca ceritanya sampai akhir, karena ternyata isu yang dibahas beralih menjadi lebih "berat"; self-image dan sexual abuse. Bahkan sebetulnya saya bisa ngasih bintang yang lebih tinggi kalau ceritanya terfokus ke situ. Salut untuk setting Selandia Baru nya yang terasa sangat hidup dan resolusi ceritanya yang manis.
Kana selalu merasa dirinya dibuang oleh ibunya. Selepas perceraian kedua orang tuanya, Kana tinggal dengan ibunya sedangkan ayahnya kembali ke Selandia Baru. Hingga ketika Kana SMA, ibunya hendak menikah lagi. Tidak ingin direpotkan oleh Kana yang selalu membantahnya, Kana dikirim ke Selandia Baru untuk tinggal bersama ayahnya.
Perpindahan ini membuat Kana sedih. Apalagi sebelum dia pindah dia diputuskan pacarnya dengan alasan badannya gemuk. Kana menjadi tidak percaya diri. Sesekali dia akan meminta pendapat sahabatnya, Jyotika, untuk memastikan dirinya tidak gemuk. Berkali-kali juga Jyotika mengatakan bahwa Kana seharusnya lebih menghargai tubuhnya, dan dia tidak gemuk sama sekali. Tapi Kana tidak sepenuhnya mendengarnya. Dia selalu sibuk mencari cara biar bisa baikan lagi dengan mantan pacarnya. Kesibukan Kana dengan dirinya sendiri akhirnya membuatnya mengabaikan sahabatnya, sampai dia tahu bahwa sahabatnya ternyata mengalami hal yang lebih parah dari dirinya.
Saya membaca novel teenlit ini karena rekomendasi dari Daniel. Seandainya saya tidak membaca timeline twitternya saya bahkan tidak tahu ada novel yang mendapatkan Juara 1 Lomba Novel Teenlit Writer 2005. Dan setelah saya membacanya, saya bisa berkata novel ini adalah teenlit rasa original. Ada beberapa problematika remaja yang diangkat di dalam novel ini, mulai dari rasa tidak percaya diri karena verbal abuse, bahkan sampai ke sexual abuse. Gaya berceritanya khas dengan kalimat-kalimat singkat. Dan ada solusi yang ditampilkan atas semua problem di dalam novel ini. Meski terkesan sederhana, tapi saya rasa mudah dipahami oleh remaja.
Penggambarannya tentang Selandia Baru bener-bener detail. Topik dan konflik yang diangkat juga bagus dan nuansa Teenlitnya berasa. Walaupun ada banyak nama artis atau band yang disebut tapi ngga familiar di saya karna novel ini terbit waktu saya masih TK hehe. Satu lagi, cover cetak ulangnya saya suka.
Sudah lama nggak membaca teenlit, sekalinya mulai membaca lagi langsung dapat yang bagus meskipun terbitan lama (tahun 2005). Buku ini berkisah tentang Kana yang tinggal di Negeri Kiwi. Membaca judul “Kana Di Negeri Kiwi” bayangan yang muncul di benak saya adalah buku ini semacam cerita fantasi, soalnya mengingatkan saya pada judul “Alice In Wonderland”. Ternyata buku ini jauh dari hal-hal yang berhubungan dengan fantasi. Yang dimaksud Negeri Kiwi adalah negeri Selandia Baru, yang memang dijuluki Negeri Kiwi.
Sebelum pindah ke Selandia Baru, Kana tinggal di Yogyakarta. Orang tua kana sudah bercerai sejak Kana masih kecil. Ibunya asli Solo, sementara ayahnya adalah seorang antropolog berwarga negara Selandia Baru. Dikarenakan suatu hal, ibu dan ayah memutuskan untuk bercerai saat Kana masih sangat kecil. Ayahnya pulang ke Selandia Baru, sementara Kana tetap tinggal bersama ibunya. Hubungan Kana dan ibunya tidak bisa dibilang mesra, bahkan, cukup buruk. Setiap hari mereka selalu bertengkar. Saat Kana berusia 15 tahun, ibunya menikah lagi, dan Kana dikirim ke Selandia Baru untuk tinggal bersama ayahnya yang selama ini hanya dikenalnya lewat foto dan kartu-kartu yang dikirim ayahnya setiap kali Kana berulang tahun.
Kepindahan Kana ke Selandia Baru meninggalkan kenangan pahit. Dia diputuskan oleh Rudy, pacar sekaligus cinta pertama yang amat dicintainya, dengan alasan tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Meski begitu, yang paling diingat Kana adalah kata-kata terakhir Rudy, yang menyebut Kana "gendut". Ini benar-benar membuat Kana menjadi parno soal berat badan. Selama di Selandia Baru, ia masih belum bisa melupakan Rudy. Malahan, ia rela diet mati-matian dengan harapan agar ia bisa kembali menjadi kekasih Rudi jika tubuhnya telah langsing.
Galau karena tidak bisa melupakan Rudi serta gelisah soal berat badan, Kana menjadi remaja pengeluh. Untung ada Joy, gadis imigran India yang menjadi sahabat Kana selama tinggal di Selandia Baru. Joy berparas cantik, bertubuh langsing, serta rajin belajar. Hebatnya, sahabat Kana ini ini selalu mampu menghibur dan menenangkan Kana saat gadis itu mulai mengeluhkan permasalahannya. Namun, belakangan ini sikap Joy berubah. Gadis India itu seperti menarik diri. Kana bingung, jangan-jangan Joy sudah bosan berteman dengannya yang selalu mengeluh. Hubungan Kana dan Joy semakin memburuk setelah Joy mengetahui Kana dekat dengan Tsunehisa, cowok Jepang yang selama ini ditaksir Joy. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Joy?
Buku ini adalah pemenang Lomba Novel Teenlit Writer 2005. Wajar saja novel ini menjadi juara 1, sebab meskipun buku ini adalah novel teenlit dengan gaya bercerita yang ringan dan terkesan ceria, namun tema yang diangkat ternyata tidak biasa (pada saat itu), yaitu tentang sexual harassment. Buku ini juga sarat dengan pesan moral. Lewat Kana yang selalu merasa diri tidak sempurna karena memiliki tubuh yang (menurutnya) gendut, kita diajak untuk selalu mensyukuri apa yang kita miliki. Terkadang (atau malah sering), kita selalu mengeluhkan hal-hal yang sebenarnya remeh, tanpa menghiraukan orang lain yang menjadi tempat kira curhat. Bisa jadi orang-orang di sekitar kitalah yang justru lebih membutuhkan pertolongan kita.
Gaya tulisan dalam novel ini membuat saya nyaris lupa bahwa novel ini adalah novel lokal. Saya malah merasa seperti membaca novel terjemahan. Tapi ini bukan masalah, justru malah baik. Sebab jika dipikir-pikir lagi, obrolan Kana dan teman-temannya kan sebenarnya menggunakan bahasa Inggris. Jangan lupa, setting cerita ini di Selandia Baru, dan murid-murid di sekolah Kana tidak hanya warga negara Selandia Baru saja, tapi juga imigran dari berbagai negara, jadi wajar jika gaya bahasa dalam obrolan mereka tidak sama dengan obrolan sehari-hari remaja Indonesia.
Untuk ukuran novel teenlit yang tipis sehingga bisa selesai dibaca dalam sekali duduk saja, novel ini jelas sangat berbobot. Tema yang cukup serius diceritakan dengan bahasa yang ringan. Dalam novel ini, penulis juga memasukkan unsur humor yang bisa membuat pembaca terseyum. Selain itu, penulis tampaknya sangat mengenal Selandia Baru (mungkin malah pernah tinggal beberapa waktu di sana), sehingga pembaca seolah diajak jalan-jalan gratis ke negeri tempat syuting film The Lord Of The Rings itu. Setiap setting tempat dalam cerita ini cukup kaya dengan detail, sehingga pembaca benar-benar bisa merasakan suasana Selandia Baru, tepatnya di Riverdale, kota tempat tinggal Kana.
Saya hampir memberi buku ini 5 bintang, hanya saja ada bagian cerita yang deskripsinya cukup panjang dan minim dialog. Sebenarnya saya tak bermasalah dengan paragraf panjang yang minim dialog. Akan tetapi, menurut saya akan lebih menarik jika penulis menceritakan bagian tersebut lewat dialog dan adegan. Overall, ini novel teenlit yang berbobot. Isinya tidak melulu cinta-cintaan atau bully-membully khas sinentron abg Indonesia belakangan ini.
Ada quote favorit saya di novel ini: "The Distance from Failure to Success is Never Longer than The Bridge Of Hope" (Jarak dari Kegagalan ke Kesuksesan Tidak Lebih Panjang dari Jembatan Harapan) -hlm 164
- This is a very old review, from back when I just read the book. Spoilers!
One of the best Indonesian teenlits I’ve ever read. Nggak heran kepilih jadi pemenang pertama lomba teenlit. Entah mengapa bego banget deh gue, kok baru sempet baca sekarang. Yang lebih heran lagi, kalo pemenang pertama novelnya sebagus ini, kenapa pemenang kedua novelnya jelek?
Nevermind that.
Serius, bukunya asli keren deh. Tipis banget sih, tapi setelah dipikir-pikir, tulisannya kan lebih kecil daripada teks Teenlit umumnya, Book Antiqua ukuran 13pt yang gede banget dan kadang bikin sakit mata. Justru gue suka yang tulisannya agak kecil dan line spacingnya lumayan jauh. Nggak penting yah?
Oke, langsung ke ceritanya deh. Kana Woodfield adalah cewek 17 tahun yang sekolah di Riverdale College, NZ. Ini tahun keduanya di sana. Masa lalunya sih kurang baik, dia tinggal lama ama kakek-nenek, lalu dua tahun tinggal bareng ibunya yang nggak punya kasih sayang, lalu didepak ke NZ karena ibunya mau nikah lagi. Dan itu hal terbaik yang pernah terjadi padanya, menurut gue.
Kana, seperti cewek remaja pada umumnya, punya banyak insecurities yang dideskripsikan secara hidup di sini, kayak kegemukan, dan obsesinya pada sang mantan. Kana punya temen baek, orang India, namanya Jyotika. Joy ini selalu jadi curahan hati Kana, dan orangnya bijak gitu deh. Kana juga kenalan sama cowok Jepang yang menurut gue keren abis, Tsunehisa, yang juga gebetannya si Joy.
Puncak cerita tuh waktu Kana mengetahui alasan Joy jadi dingin sama dia akhir-akhir ini. Joy ternyata korban pelecehan seksual berulang-ulang ayah tirinya. Temanya emang agak berat, tapi penulisnya berhasil membuatnya nggak terlalu menyeramkan sih. Meskipun gue ngebayanginnya juga agak merinding. Ekstrem banget, gituh.
Kana akhirnya sadar kalo masalahnya sendiri tuh nggak ada apa-apanya dibanding masalah temennya ini. Dia juga akhirnya mendapat keberanian untuk melepaskan masa lalunya, dan membuang kenangan-kenangan nggak gunanya tentang Rudy, si ex-BF. Perkembangan karakternya berasa banget deh, dan gue pikir ini juga dijelaskan dengan baik, dan sangat mudah dipercaya.
Yang makin keren, Kana menjadi seorang aktivis! Dia mempelopori suatu organisasi bernama R.A.S.A, Riverdale Against Sexual Abuse. Jarang banget loh ada Teenlit yang mengangkat tema kemanusiaan kayak gini—biasanya kan cinta-cinta-cinta-monyet doang. Pokoknya dalem gitu deh, tapi enteng juga—jadi gampang dimengerti remaja.
Gaya penceritaan Rosemary juga gue suka banget. Nggak seperti Teenlit Indo, deh. Kesannya tuh... kata-katanya mengalir lancar, dengan bahasa sehari-hari tapi rapi dan nggak penuh dengan bahasa Jakarta—yah emang settingnya beda, sih—tapi begitulah, gue lebih suka kalo novel tuh agak serius lah dalam narasinya. Biar ga terkesan terlalu cetek.
Trus apa lagi yah? Jujur, udah agak lama sejak gue baca bukunya, kira-kira seminggu, lah, jadi memori gue udah rada pudar gitu. Tapi nggak rugi deh baca buku ini. Pelajaran yang bisa diambil juga banyak, dan jauh lebih bermakna dibanding teenlit berjudul makanan yang cuma bisa diidamkan kaum remaja putri karena ancaman kalori yang membahayakan bentuk tubuh.
Judul: Kana di Negeri Kiwi Penulis: Rosemary Kesauly Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 208 halaman Terbitan: Mei 2005
Kepindahan Kana ke Selandia Baru diiringi oleh rasa sakit hati. Sakit hati karena dia dibuang oleh ibunya yang akan menikah lagi, juga karena Rudy, pacarnya di Indonesia, memutuskannya karena dia gendut.
Untungnya dia bertemu dengan Jyotika, gadis imigran India, yang menjadi teman baik Kana di Negeri Kiwi itu. Hanya saja suatu hari Jyotika bertingkah aneh dan menjauhi Kana. Apa ini gara-gara Kana sekarang sedang dekat dengan Tsunehisa, cowok Jepang yang disukai Jyotika?
Tema yang diangkat cukup mengejutkan. Awalnya waktu Jyotika, alias Joy, bilang ke Kana bahwa Kana beruntung karena tubuhnya adalah miliknya sendiri, saya kira itu karena si Joy ini mau dinikahkan dengan seorang pria India. Ternyata tema yang diangkat malah soal kekerasan seksual O_o
Secara keseluruhan buku ini layak jadi juara 1 lomba teenlit. Tema yang diangkat menarik, latar tempatnya bagus, dan saya bisa tangkap nuansa remajanya.
Apa yang sering dikeluhkan remaja putri usia 16-17 tahun? Penampilan? Pacar? Ujian?
Kana, remaja pindahan dari Yogyakarta ke Selandia Baru sepertinya memiliki hampir semua remaja putri keluhkan dalam hidupnya. Kisah cintanya yang gagal dengan Rudi, pacar pertamanya di Yogya, menjadi kisah cinta paling membosankan bagi para teman barunya di sekolah Riverdale. Belum lagi kebawelannya tentang penampilannya yang terasa gendut, menjadikan Jyotika alias Joy, sahabatnya menjadi kesal. Masalahnya yang sepele terasa menjadi masalah kaliber super berat yang membutuhkan perhatian seluruh dunia. Dia abai dengan masalah orang lain yang bisa saja lebih serius dibanding masalah penampilannya.
Untunglah, kisah selanjutnya bukan lagi seputar Kana dengan segala komplainnya. Keputusannya move on menjadi angin segar dan cerita menjadi menarik tentang akan apa yang terjadi pada Kana yang baru, Kana yang tanpa masa lalunya dengan Rudi.
Bisa dibilang, cerita seputar Joy adalah masalah serius, yang bisa jadi mewakili banyak isu yang terjadi pada remaja putri dimana pun mereka berada. Menjadi korban pelecehan seksual adalah trauma sepanjang hidup. Mendirikan sebuah support group bagi Kana, yang sempat tak bisa move on dari mantan pacar, yang melakukan body shaming terhadapnya, adalah suatu pencapaian tersendiri. Sayangnya, masalah ini tidak terlalu detil dalam penceritaannya. Jika saja novel ini lebih tebal dengan fokus tersbut, mungkin saya akan menmbah bintang untuk rating buku ini :D
Hubungannya dengan Tsunehisa, cook Jepang yang manis berbakat itu juga cukup manis. Untung tidak berakhir seperti drama roman umunya--ketika si cewek sudah berhasil move on, mantan cowok muncul dengan memintanya kembali. Hahahaha... tipikal sekali. Dan sangat menyebalkan :(
Baiklah, perkenalan saya dengan penulis ini cukup lumayan. Bisa nanti saya mencari karya berikutnya.
Jujurly ini salah satu novel yang udah ada di TBR sejak lama, tapi baru kesampean baca sekarang. Harapannya lumayan tinggi sih sama novel ini, cuma sepanjang cerita aku justru dapet hal yang setengah-setengah (kecuali riset ttg New Zaeland of course).
Well, ini memang cerita kehidupan Kana di Negeri Kiwi. Gmn keseharian dia digambarin cukup detail serta hal-hal ttg Auckland di sana. Berdasarkan latar yang diambil, penulis kece parah dengan risetnya^^
But, konfliknya nanggung-nanggung:) awal bahas gagal move on, terus body positivity dan insecuritas, terus pelecehan, ada kisah romance tipis-tipis yang timbul-muncul. Karena konflik segambreng itu dan semuanya (terkesan) wajib diselesaiin, jadinya nggak begitu fokus dan intens. Belum lagi setiap Kana nyelesaiin masalah, kesannya kayak menggurui bgttt.
Character Developmentnya juga agak tiba-tiba dan membingungkan:" serta beberapa percakapan cheesy bgtt. Jadi sepanjang cerita aku agak bingung sama konflik yang tumpang tindih dan silih berganti.
But, cara penulis menarasikan cerita lumayan bagus dan detail serta nuansa NZ berhasil banget dibangun secara baik^^
Audiobook pertama yang didengar di Storytel dan BAGUSSS 😭 Naratornya enak dan di kecepatan 2x masih enak juga didengar.
Ceritanya sendiri seperti review yg kudengar. Teenlit tapi ternyata isinya nggak seceria suara Kana di novel ini. Meski karakter Tsunehisa yah tipe cowok cool era teenlit 2000an sih. Tipe yang gak terlalu aku suka. Cuma kisah Kana sendiri khas remaja banget. Konfliknya mulai dari masalah persahabatan, hubungan orang tua, kisah cinta yang kandas, insecure soal masalah berat badan, hingga isu-isu berat soal kekerasan seksual.
Untuk teenlit 2000an, isu yang diangkat tergolong berat dan eksekusinya cukup baik. Worth to read 👍
Dengan cuma 200an halaman tapi pesan yg ingin disampaikan buku ini lumayan insightful and inspiring, khususnya untuk para remaja. Salah satu topik yg diangkat di buku ini berat, tapi berhasil dibawakan dengan ringan.
Tempat2 di New Zealand yg dinarasikan juga jadi nilai plus dari buku ini ;)
Suka sama karakter Kana, tulus, high-caring, tapi tetap manusiawi, insecure dan bucin dengan mantannya, lol. Tapi bagian hubungan Kana dengan ibunya kinda heartbreaking.
Aaaa aku suka banget. Cerita yang ringan dan page turner abisss. Emang tipis tapi, aku justru merasa kurang dan nggak sadar udah di halaman terakhir aja
Kisah Kana di Negeri Kiwi ini fresh dan relate dengan kehidupan anak2 remaja. Dan plot twist yg dialami jyotika aku sempat shock. Ah, Kana dia ternyata amat sangat peduli dengan lingkungannya. Walau dia lebih sering mengeluh tentang dirinya dan kehidupannya.
Pokoknya menghibur, bagus, dan recomended. Nyesal sih baru baca sekarang hehe
Sudah lama sekali aku tidak membaca novel-novel kategori teenlit. Entah sejak kapan aku selalu melewati rak-rak berisi buku tipe ini setiap ke toko buku atau perpustakaan. Sudah lama sekali.
Kalau dipikir-pikir karena apa juga tetap tidak ketemu sebabnya. Tapi kemarin jiwaku kosong sekali, aku mati rasa. Akhirnya ku cari-cari buku yang mungkin bisa aku jadikan tempat lari dari kehidupan yang biasa-biasa ini.
Menemukan buku tulisan Rosemary Kesauly dengan judul Kana di Negeri Kiwi membuatku mengeluarkan sedikit air mata, memberiku kupu-kupu kecil di dalam perut (ah, geli sekali 😄), dan berbagai dentuman ringan yang menyadarkanku ini dan itu. Agaknya aku terlalu memandang remeh novel kategori ini.
Permasalahan riil di lapangan diangkat melalui cerita seorang Kana bersama keluarganya, sahabatnya, mantan pacarnya, musuh-musuh SMAnya, dan gurunya yang sepertinya mostly jutek 😄 bullying diangkat tipis-tipis disini, yang berat terkait isu keluarga dan kekerasan seksual, dipadukan dengan polosnya remaja yang terus bergantung dengan kenangan masa lalu.
Kana, sepertinya aku harus belajar darimu. Belajar "membunuh" suatu bagian yang tidak penting dari hidupku agar aku bisa memasukkan bagian-bagian yang lebih seru. Pesan dari teman-teman Kana juga akan aku jadikan sebagai pengingat untuk diriku. Terima kasih ya sudah ajak aku jalan-jalan ke Auckland. Semoga suatu saat aku bisa menyusuri pantai-pantai yang katamu punya air yang hangat itu langsung dari sana.
Ps. Aku agak kecewa karena akhirnya kamu hanya menjadi sahabat Tsunehisa 🥲
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kover Kana yang baru terlihat fresh meskipun rambut Kana yang katanya ikal dipotong, ia jadi berkacamata, dan sekarang memakai ransel. Cerita dibuka dengan adegan Kana mencari Joy di pasar hanya untuk bertanya apakah ia gendutan. Jadi, Kana ini pindah dari Jogja ke Selandia Baru karena ibunya yang tidak terlalu menginginkan anak itu mau menikah lagi. Sudah merasa sedih karena 'dibuang' ibunya dan ia makin merana diputuskan Rudi karena gendut. Beruntung, Kana mendapatkan teman sebaik Joy, anak India yang akhir-akhir ini jadi aneh. Joy jadi menjauh dan sensi. Sampai suatu hari, Kana ke rumah Jyotika dan menemukan mengapa akhir-akhir ini Joy berubah. . Aku suka novel ini, ngalir, ga kerasa baca dan tahu-tahu sudah selesai. Selain itu, isu yang dibawa juga penting. Ada isu pelecehan seksual yang diangkat di sini. Termasuk Kana yang akhirnya membuat semacam support group untuk mengatasi pelecehan seksual. Ringan tetapi berisi, berpesan tapi tak menggurui. Sekian dan aku tunggu novel barunya kakak!
“Kadang hidup memang tidak berjalan sesuai dengan yang kau inginkan. Dalam perjalanan hidupmu akan ada banyak orang yang meninggalkanmu dan menyakiti perasaanmu, tapi bersamaan dengan itu juga akan ada banyak orang yang memasuki hidupmu.” — page 106
“Kadang orang-orang yang kita sayangi memang melakukan sesuatu yang menyakiti kita, tapi kau harus menyadari bahwa itu karena mereka bermasalah. Jadi tidak selalu berarti mereka membuang kita.” — page 107
•••
Cerita yang berlatar belakang Selandia Baru alias negeri Kiwi menurutku menarik banget. Menceritakan tentang Kana yang bersekolah di Riverdale College yang memiliki berbagai macam murid dari berbagai kultur, budaya, dan ras. Aku bener-bener highligh Riverdale karena menarik.
Masalah yang dihadapi pun sebenernya cukup realistis. Kana yang sibuk dengan masalah berat badan, tidak bisa move on dari mantan pacar. Adapula Jyotika yang mengalami masalah lebih berat.
Menurutku buku ini seru. Bahasanya juga enak banget!
this book blew me away! must-read for fans of deep friendships, cultural dives, and teenlit with a punch. its not just teenlit, its a rollercoaster of friendship and growth. i truly enjoyed this book, and its possibly one of the best teen-lit ive ever read.
i love how the stories center not only around kana's life but also on her friendship with jyotika. at first, i didn't like kana's character since she seemed ungrateful and full of herself every time she spoke to jyotika. but im delighted that there is character development for her. i love how, at the end, she creates a community for people at her school who have been sexually abused.
among all the characters in this novel, i love jyotika the most. i adore how she always reassures kana when she is feeling uneasy about herself. she always prioritized others (particularly kana) over herself. and i love how the writer explains new zealand; it is so precise and makes it easier to visualize new zealand.
Kana, pindah ke New Zealand untuk tinggal bersama sang ayah setelah sang ibu memutuskan untuk menikah lagi dan tidak lagi berkeinginan untuk mengurusnya. Intinya, tentang kehidupan Kana bersama teman-temannya di New Zealand. Kana yang masih belum bisa melupakan sang mantan pacarnya di Indonesia, Kana yang selalu merasa gemuk akibat perkataan sang mantan pacar, kehidupan sahabatnya, Jyotika -gadis dari India, yang tidak sebaik kehidupannya, juga persahabatannya dengan Tsunehisa -pemuda Jepang- yang dulunya disukai Jyotika.
Ceritanya lumayan, cuma terkesan cepat sekali selesai. Disini diajarkan untuk melawan kekerasan seksual, yang percaya atau tidak, dekat sekali dengan kehidupan kita.
Kana merasa terbuang. Sejak kecil ia dititipkan di rumah neneknya, sementara sang ayah yang asli New Zealand kembali ke sana. Ketika Kana sudah remaja, dia dikirim ke NZ karena sang ibu akan menikah lagi.
Di NZ Kana stress karena habis didepak oleh Rudy, mantan pacarnya di Indonesia. Apalagi ketika Joy, sahabatnya menjauh.
Ternyata Joy hamil! Apa yang harus Kana lakukan?
Teen lit ini bagus dan tidak hanya berkutat pada urusan cinta-cintaan remaja. Namun menggambarkan bahwa ABG seperti Kana bisa melakukan hal yang positif untuk lingkungannya.
Aku suka interaksi antara Kana dengan Tsunehisa (namanya susah ditulis, ugh). Paling sebal waktu Kana ngomongin tentang Rudy, beuh, pengen aku tikam dia.
Latar tempat antara Yogyakarta dan Selandia Baru tergambar jelas, dengan detail tempat serta makanannya juga. Bikin pengen ke Selandia Baru :(
Novel yang memenangkan juara 1 lomba novel teenlit 2005 . Jadi, nggak usah diragukan lagi soal ceritanya, karena udah pasti bagus. Intinya novel ini aku rekomendasikan buat kita yang takut dengan perubahan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Untuk ukuran 'teenlit', pesan yang dibawakan menurut saya cukup menampar. Jalan ceritanya memang cenderung klise dan terkesan agak cepat. Tapi, pesan yang dibawakan sangat saya sukai. Cintai dirimu sendiri apa adanya. Bacaan ringan tapi pesannya menampar bagi saya.