Jump to ratings and reviews
Rate this book

"Aku Kesepian, Sayang." "Datanglah, Menjelang Kematian."

Rate this book
Rumah adalah semesta manusia. Semesta adalah rumah manusia. Suka atau tidak, manusia berumah dalam semesta, menjadikan rumah dan semesta sebagai dunianya-dan tiada tempat lain ke mana ia bisa pergi jika tidak bisa hidup di dalamnya. Lima belas cerita dalam buku ini berkisah tentang mereka yang harus hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga merasa terasing-seperti mungkin dialami setiap orang yang terlanjur lahir meski tidak meminta: mungkin saja seperti Anda.

202 pages, Paperback

First published July 1, 2004

25 people are currently reading
312 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

99 books840 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
69 (16%)
4 stars
111 (26%)
3 stars
164 (39%)
2 stars
65 (15%)
1 star
4 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 52 reviews
Profile Image for Toffan Ariefiadi.
Author 1 book10 followers
March 12, 2010
Rumah adalah semesta manusia. Semesta adalah rumah manusia. Suka atau tidak, manusia berumah dalam semesta, menjadikan rumah dan semesta sebagai dunianya -dan tiada tempat lain ke mana ia bisa pergi jika tidak bisa hidup di dalamnya. Limabelas cerita dalam buku ini berkisah tentang mereka yang harus hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga mereka terasing -seperti mungkin dialami setiap orang yang terlanjur lahir meski tidak meminta: mungkin saja seperti Anda.

Begitu-lah bunyi sinopsis yang melekat di cover belakang buku ini. Buku ini memuat (15) limabelas cerita tentang kesepian dan keterasingan, meski berada di rumah sendiri. SGA berusaha menceritakan kesepian dan keterasingan yang ia temui di tiap perjalanannya melancong ke berbagai kota (di Indonesia maupun di dunia). Berikut ke-limabelas cerpen dalam buku ini dan petikan tentang kesepian dan keterasingan tersebut (menurut saya tentu saja):

1. “Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian”

Malam adalah suatu akhir, namun bagi perempuan itu, malam adalah awal dari sebuah perjalanan yang panjang. (hal. 2)

2. “Hari Pertama di Beijing”

Saya tidak pernah melupakan tatapan itu, tatapan mata dua manusia yang masing-masing sebelah tangannya terborgol dan dikuncikan ke pagar, sementara orang-orang yang lewat hanya menoleh sejenak tanpa pernah menghentikan langkahnya. Termasuk saya. (hal. 22)

3. “Melodrama di Negeri Komunis”

"Di negeri ini, gagasan tentang ketidakjelasan adalah sesuatu yang harus dijauhi, atau dihapuskan sama sekali, seperti bagaimana menghapuskan apa yang kamu sebut Tuhan..." (hal. 44)

4. “Mmmwwwhhh!”

"Berapa lama kita akan berciuman sampai mati rasa?"
"Kenapa emang?"
"Jam berapa gitu aku mesti pulang."
"Kenapa mesti pulang?"
"Yah, tahu sendirilah..."
"Nggak, aku nggak tahu."
"Payah, kamu sendiri seorang istri, kan? Apa nggak pernah pura-puranya mengharap suamimu pulang?"
"Pura-puranya sih selalu."
"Hahahaha!" (hal. 55-56)

5. “Kyoto Monogatari”

Terbuat dari apakah kenangan? Bagaimanakah caranya melepaskan diri dari kenangan, dari masa lalu yang tiada pernah sudi melepaskan cengkeraman kepahitannya pada masa kini? (hal. 63)

6. “Legenda Wongasu”

"Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah," kata istrinya dahulu. (hal. 73)

7. “Topeng Monyet”

Apa maksud Tuanku memberi tugas seperti ini, mengikuti roh keluar masuk tubuh dari abad ke abad? (hal. 108)

8. “Layang-layang”

Bisakah kau bayangkan suatu perasaan apabila kita memegang benang dari layang-layang yang tidak kelihatan di langit malam, dengan pengetahuan bahwa benang itu menghubungkan kita dengan sesuatu yang belum kita ketahui di atas sana? (hal. 112)

9. “Avi"

"Aku ingin tetap berada di dalam dunia mimpi ini, dunia tempat aku bisa berpose dengan abadi, tanpa diganggu oleh kenyataan sama sekali. Biarlah aku tetap di sini, dunia mimpi yang indah dan abadi..." (hal. 134)

10. “Dua Perempuan dengan HP-nya”

Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Dua perempuan yang tampaknya matang, tampaknya dewasa, dan tampaknya tahu benar apa yang dikehedakinya. (hal. 136)

11. “Hhhhh…”

"Hidup kok seperti ini. Sepi. Sunyi seperti di bulan. Udara hampa. Sibuk berangan-angan. Tiada berkawan. Tiada berlawan. Hidup kok seperti ini. Lebih baik mati..." (hal. 147)

12. “Aku dan Bayanganku”

Aku makin jauh dari diriku. Menyatu dalam bayang-bayang gerak orang yang lalu lalang di jalan. (hal. 156)

13. “Dunia Gorda”

"Aku tak tahan lagi Ella, aku tak tahan, segalanya serba melelahkan...Dua kali terlalu banyak untukku Ella, aku mau hidup di satu alam saja, itu sudah cukup memusingkan dan cukup membahagiakan, aku tak menuntut terlalu banyak." (hal. 171)

14. “Penjaga Malam dan Tiang Listrik”

Ia selalu menjaga malam, agar malam tetap menjadi malam yang paling dimungkinkan oleh malam. Ia menjaga malam, agar bulan tetap menjadi rembulan seperti yang dipandang manusia di dari bumi setiap malam. (hal. 176)

15. “Komidi Putar”

Dari jendela dapur, ibunya memandang anak di kandang kuda yang kosong itu dengan sedih. "Lagi-lagi anak itu bicara dengan dirinya sendiri," gumamnya. (hal. 189)

Selamat membaca!
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
August 24, 2022
"Kamu memang tidak tahu, karena tidak boleh ada yang terlihat buruk di negeri kami. Aku dilarikan ke rumah sakit lewat pintu yang lain, karena mereka tahu aku berhubungan dengan seseorang yang tidak jelas identitasnya. Bahkan aku pun tidak tahu kamu itu siapa. Di negeri ini, gagasan tentang ketidakjelasan adalah sesuatu yang harus dijauhi, atau dihapuskan sama sekali, seperti bagaimana menghapuskan apa yang kamu sebut Tuhan..."


Saya menyukai sudut pandangnya ketika bercerita. Tipikal cerpen yang lebih pas dinikmati jika sedang kesepian.
Profile Image for Abi Ghifari.
109 reviews6 followers
January 20, 2014
Perkenalan saya dengan karya-karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah dari cerpen-cerpen terkininya di harian Kompas edisi Minggu. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, karya cerpennya hampir selalu masuk sebagai cerpen pilihan dan terkadang menjadi cerpen terbaik harian terbesar di Indonesia itu.

Apabila dibandingkan dengan karya-karya cerpennya dalam beberapa tahun terakhir yang selalu terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas seperti 'Cinta di Atas Perahu Cadik', 'Dodolitdodolitdodolibret', dan 'Mayat yang Mengambang di Danau', barangkali cerpen-cerpennya dalam buku ini terasa sedikit berbeda. Bahkan pada awalnya kesan saya saat membacanya bagaikan bukan karya SGA saja. Sebagian besar cerita dalam kumpulan cerpen ini terkesan seperti diary, jurnal, ataupun catatan perjalanan SGA menjelajahi sudut-sudut dunia, bahkan beberapa di antaranya terkesan seperti random thoughts seorang SGA.

Cerita-cerita tersebut juga terkesan kelam dan menampilkan sisi atau sudut pandang yang gelap terhadap apa yang dialaminya dan ia jadikan kenangan. Jujur saja saya jauh lebih menyukai cerpen-cerpen SGA yang terbaru dibanding kumpulan cerita yang sebagian besar ditulis pada awal tahun 2000-an ini.
Profile Image for Hadiwinata.
49 reviews
December 11, 2022
Dari 29 cerita yang terangkum di buku ini, saya bisa berkata bahwa tak sampai lima keping cerita yang bisa saya nikmati. Sisanya: hanyah racauan Seno semata.

Namun, cerita-cerita di buku ini adalah cerita-cerita yang terbit di awal 2000-an. Jadi wajarlah jika cerita-cerita ini tidak sebaik cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma di masa sekarang.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
December 28, 2020
Saya selalu suka gaya bercerita SGA, tapi di kumpulan cerpen ini terasa bukan seleraku.
Profile Image for Truly.
2,768 reviews13 followers
August 7, 2021
"Perasaan cemburu tidaklah pernah menjadi bagian yang diperhitungkan disiplin berpikir kami."
~hal 32~

Buntelan dari sahabat terkasih yang nyaris terlewatkan.

Secara garis besar, buku ini terbagi dalam tiga bagian. "Aku Kesepian, Sayang, Datanglah Menjelang Kematian" berisi 15 kisah antara lain Hari Pertama di Beijing, Avi, Dunia Gonda dan lainnya. Sementara dalam "Linguae" hanya terdapat 11 kisah, seperti Tong Setan, Gerobak, dan lainnya. Pada "Tiga Cerita" sesuai judulnya memang hanya terdapat 3 kisah.

"Melodrama di Negeri Komunis" mengisahkan tentang gadis pemain akrobat yang mengalami kecelakaan karena atasannya cemburu pada kisah cintanya dengan tokoh kita. Apalagi karena tokoh kita dianggap tidak jelas asal usulnya.

"Di negeri ini gagasan tentang ketidakjelasan adalah sesuatu yang harus dijauhi, atau dihapuskan sama sekali. Seperti bagaimana menghapuskan apa yang kamu sebut Tuhan." Demikian tercantum pada halaman 34.

Sabotase yang dilakukan oleh atasan, membuat gadis tersebut mengalami kecelakaan hingga kakinya cedera dan tak bisa bermain akrobat lagi. Masa depannya berubah karenanya.

Cinta, memang serba unik
Profile Image for Yuniar Ardhist.
147 reviews18 followers
February 11, 2023
Kumpulan cerpen SGA di buku ini agak berbeda dengan yang biasanya. Di sini SGA lebih terasa naratif, tidak terlalu terasa membuat suasana latar atau emosional intens.

Ada beberapa yang juga seperti sebuah cerita catatan perjalanan. Seolah SGA memang memotret dari belakang lensa kamera.

Yang menarik selalu dari SGA adalah permainan katanya, di cerpen-cerpen ini juga semacam itu. SGA menampilkan dirinya memang maestro dalam mengolah kata menjadi semacam permainan —bermain-main. SGA menunjukkan bahwa ia bisa membuat tulisan dari ide mana saja, menulis apa saja, dengan cara/gaya yang “suka-suka”.

Meski demikian, dan semua cerpen di buku ini juga telah terbit di banyak media, entah kenapa saya lebih menyukai cerpen-cerpennya yang selain di sini. Ada banyak cerpen lain yang lebih mengaduk emosi. Dengan gaya surealis yang sering ia tunjukkan itu, rasa cerpennya jadi nikmat sekali.
Profile Image for Anton.
157 reviews8 followers
March 30, 2024
Buku ini merangkum kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma dengan tema-tema yang sangat khas Seno: urban, orang-orang kecil yang kalah, romantika tak biasa, juga cerita-cerita absurd lainnya. Dari semua cerpen itu, rasanya memang terlalu banyak eksperimen SGA sehingga kadang kala terasa anehnya.

Ada beberapa cerpen yang enak banget untuk dibaca, seperti Hari Pertama di Beijing dan Legenda Wongasu, tetapi ada juga yang berisi gaya penulisan coba-coba, seperti Dua Perempuan dengan HP-nya. Ada pula penulisan yang terlalu absurd karena hanya berisi percakapan sepenuhnya sampai aku bingung sendiri ketika membacanya, ini soal apa sih?

Maka, cocoklah cerpen ini dibaca sambil leyeh-leyeh ketika ada waktu luang saja. Tidak usah terlalu serius karena memang ceritanya juga banyak tentang hal remeh temeh.

Profile Image for Sholikhah.
95 reviews
May 28, 2021
Dunia Seno dunia yang absurd. Cerpen favorit saya adalah Dunia Gorda.
Saya mau gak mau berpikir, sepertinya saya kurang menyukuri "satu" kehidupan yang saya punya saat ini.
Gorda punya dua dunia dan dia kelelahan menghadapinya.
Saya mulai mensyukuri nikmat tidur juga.


Cerpen-cepen lain, silakan sahabat ulas ya... (PS : Nama Sukab terpakai/dipakai berkali-kali)
Profile Image for Olive Hateem.
Author 1 book257 followers
December 23, 2022
One of the very few books of SGA’s that I’m not really fond of. Tidak semua cerpen dari kumpulan cerpen beliau kusuka, tapi biasanya mayoritas dari cerpen-cerpennya kusuka. Untuk yang satu ini kebalikannya. Hanya ada beberapa yang kusuka, sisanya nggak terlalu.
169 reviews
July 4, 2023
Really hard to finish this book even though it's just short stories. I think i'm just stupid since i dont understand and cant enjoy most of the stories. But then i read another reviews,and many people feel the same
14 reviews
October 24, 2017
trying so hard to understand, but...... :(
but i love the story about kissing lol
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews1 follower
April 17, 2021
Sejauh ini kumcer favoritku dari beliau masih tetap: Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.
Profile Image for Eva Siagian.
432 reviews6 followers
October 19, 2022
Aku sedih, Sayang. Kenapa buku ini tidak semenarik buku-bukumu yang sudah kubaca sampai saat ini..
Profile Image for ann.
86 reviews8 followers
June 30, 2024
Untukku yang tak mau di rumah dan tak mau di perantauan, sangat menggambarkan kegelisahan tak memiliki tempat untuk singgah.
Profile Image for Puspitasari.
7 reviews
July 13, 2024
Gak perlu diragukan lagi.

Buku ini keren...
Aku gak tahu kenapa ngefans sama tulisan tulisan Om Gumira. Ini salah satu karya terbaik.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
May 10, 2015
Judul: "Aku Kesepian Sayang." "Datanglah, Menjelang Kematian."
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 202 halaman
Terbitan: Juli 2004

Rumah adalah semesta manusia. Semesta adalah rumah manusia. Suka atau tidak, manusia berumah dalam semesta, menjadikan rumah dan semesta sebagai dunianya-dan tiada tempat lain ke mana ia bisa pergi jika tidak bisa hidup di dalamnya. Lima belas cerita dalam buku ini berkisah tentang mereka yang harus hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga merasa terasing-seperti mungkin dialami setiap orang yang terlanjur lahir meski tidak meminta: mungkin saja seperti Anda.

Review

Rasanya kalau bicara dunia sastra Indonesia, cepat atau lambat orang pasti akan bertemu dengan nama Seno Gumira Ajidarma, penulis yang terkenal lewat cerita-cerita pendeknya.

Ada 15 cerita pendek + satu komik pendek di buku ini. Cerita-ceritanya beragam. Ada yang surealis seperti di "Layang-Layang", yang bercerita tentang sebuah layang-layang yang mampu terbang hingga ke luar angkasa; atau "Avi" yang bercerita tentang seorang model yang terperangkap dalam klise foto.

Ada juga cerita yang terasa seperti personal literature/travel-lit, seperti di "Hari Pertama di Beijing" dan "Melodrama di Negeri Komunis".

Ada banyak cerita yang saya suka dari kumcer ini. Saya suka ""Aku Kesepian, Sayang." "Datanglah, Menjelang Kematian."", "Hari Pertama di Beijing", dan "Dua Perempuan dengan HP-nya" karena permainan sudut pandangnya. Saya juga suka dengan "Melodrama di Negeri Komunis" yang terasa sedih. "Layang-Layang" dan "Avi" juga saya suka.

Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Bukan hanya karena cerita-ceritanya bagus, tapi ada banyak teknik menulis yang saya pelajari dari sini. Ada banyak ide menarik yang patut dicoba.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Reads
Profile Image for Fertina NM.
103 reviews21 followers
May 8, 2013
Nggak tau kenapa, saya baca buku kumpulan cerita Seno kali ini berbeda dengan yg lain. Lebih sinis dan gelap. Gelap disini maksudnya lebih banyak menggunakan sisi perasaan yang dalam hingga menyerempet sisi gelapnya. Hingga akhirnya timbul dan terasa oleh pembaca sisi kesendirian dan kesepiannya.

* Malam selalu kelam, sunyi, dan sedikit banyak menekan
* Orang-orang tidak tahan tetap tinggal dalam kegelapan, orang-orang tidak tahan tetap tinggal dalam kesepian.
* Malam boleh saja sunyi, tapi aku tidak mau kesepian
Ia datang sendiri tanpa janji, ia mencari sesuatu yang tidak jelas, ia berharap akan sampai kepada sebuah kebetulan yang membahagiakan.
* Memang semua orang yang lewat tampaknya tidak terlalu tega untuk menonton mereka, tetapi melihat semua orang yang lewat tanpa usaha untuk terlihat peduli juga memberikan penderitaan tersendiri.
* Bisakah kau bayangkan suatu perasaan apabila kita memegang benang dari layang-layang yang tidak kelihatan di langit malam, denga pengetahuan bahwa benang itu menghubungkan kita dengan susetau yang belum kita ketahui di atas sana?
* memandang jalan dan kegelapan, aku merasa tenggelam dalam ketiadaan yang kelam.
Profile Image for Muhammad Helmi.
5 reviews3 followers
July 16, 2016
Dalam antologi cerpen ini, terdapat 15 judul cerita pendek yang ditulis Seno, salah satu dari kelimabelas cerpennya tersebut ada yang ditulis secara kolaboratif dengan rekannya, yaitu Avi Basuki. Tema besar cerpen-cerpennya dalam antologi ini, yaitu mengisahkan orang-orang yang kesepian, yang berjarak dengan lingkungan sekitarnya, yang hidup dalam alam kesendiriannya, dan yang terasing dari semestanya. Dari kelimabelas cerpen dalam antologi ini, ada tiga buah cerpen yang paling saya sukai, yaitu 1) Kyoto Monogatari, 2) Avi, dan 3) Dunia Gorda.

Dan seperti yang tertulis dalam cover bagian belakangnya, "rumah adalah semesta manusia. Semesta adalah rumah manusia. Suka atau tidak, manusia berumah dalam semesta, menjadikan rumah dan semesta sebagai dunianya-dan tiada tempat lain ke mana ia bisa pergi jika tidak bisa hidup di dalamnya". Dalam kelimabelas cerpen Seno ini, kesepian-berjarak-kesendirian adalah akar yang menjadi inti dari cerita yang dituliskan oleh Seno.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 22, 2015
Kumcer SGA yang menurut saya paling eksperimental. Seolah berusaha menulis dengan gaya baru, atau tema baru, atau cara penyajian yang baru. Beberapa hal saya tangkap dengan pendekatan yang penasaran tetapi biasa saja ketika cerita sudah tamat. Secara visual cover bukunya menarik tetapi dengan terlalu banyak visualisasi pada halaman pembuka judul cerpen rasanya tidak menarik. Cerita-cerita yang disuguhkan juga terasa asing dan tidak biasa, padahal saya berharap kisah-kisah yang sering menjadi langganan Seno sebelumnya. Tetapi sekali lagi saya masih mengagumi permainan diksi yang beliau suguhkan, meski suatu kali lelah membacanya karena kalimat yang panjang-panjang tanpa jeda seperti pada cerpen Mmwwwhh! atau Hhhhhh! yang juga menarik untuk dibaca. Sebagai penikmat karya SGA, pada akhirnya bintang tiga rasanya sesuai.
Profile Image for ran..
28 reviews3 followers
April 12, 2022
SGA membumbui novel ini dengan perasaan yang sangat dalam. Setiap ceritanya terasa sangat emosional. Perasaan haru, kesal, jengkel, komedi, hingga pemaknaan soal hidup dituliskan dengan gaya SGA yang sedikit banyak menggugah sisi lain kehidupan yang jarang kita sadari. Meski beberapa ceritanya terasa 'berat' dan sukar aku pahami, beberapa lainnya begitu ringan dan menarik untuk dibaca bahkan untuk diulang. Tak hanya bumbu pemaknaan hidup yang jelas dituliskan eksplisit, SGA juga membungkus cerita itu secara fantasi dan menyelipkan makna hidup secara implisit.

Karya yang sangat menarik, meskipun not my cup of tea. Cukup susah payah memahami maksud SGA dalam cerita-ceritanya yang 'berat', tetapi sangat menarik secara keseluruhan. Buku ini cocok dibaca oleh mereka yang menyenangi pesan-pesan implisit di balik sebuah cerita.
Profile Image for Irwan Bajang.
Author 11 books67 followers
June 8, 2009
Yang ini ungkin salah satu buku SGA yang terlalu banyak eksperimen. Beberapa cerpen terlalu ngebut dan minim deskripsi, sangat berbeda dengan Sepotong Senja, Negeri Kabut, Dunia Sukab atau yang lainnya.

Beberapa foto harusnya membuat buku ini bagus, sayang sekali layoutnya kurang sip menurut saya. Nah, tapi beberapa cerpen masih kelihatan sebagai cerpen SGA, salah satunya tentang monyet yang menjadi reinkarnasi seorang di masa lalu.

SGA selalu menawan, tapi di buku ini agak kurang. Bintang 3 deh untuk buku ini.
Profile Image for Ita Hm.
38 reviews
July 22, 2012
Membaca buku ini saat dalam perjalan ke luar kota dengan kereta api, sungguh menemani kesepian dalam keramaian.
Setelahnya, sepi itu kembali menyergap.. apa yang dapat dilakukan? terperangkap lagi dalam kenangan dan lamunan tak tenang! Apa lagikah selain kesendirian? memandang jalan dan kegelapan, aku merasa tenggelam dalam ketiadaan yang kelam. Tuutt..nguuuoonnggg...suaranya memecah malam, memecah sepi.
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
June 28, 2012
Emm.
Manusia adalah makhluk yang selalu dibayangi oleh kesepian dan keterasingan. Dimanapun, Kapanpun, dalam keadaan apapun.

Seno mencoba mengungkapkan rasa keterasingan itu lewat kumpulan cerpen ini.

3 Cerpen yang paling menarik dari kumcer yang menarik ini adalah

1) Dunia Gorda -> menggerikan...
2) Layang-layang -> wow... menarik untuk direnungkan.
3) Avi -> imajinatif!

nb: dapat waktu ada diskon di gramedia Malioboro. Menyenangkan ^_^
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
October 11, 2014
Aaaaaak aku jatuh cinta sama tulisan dan konsepnya si pencipta Sukab ini.

Yang cerita anjing, yang kentongan di tiang listrik, yang dua perempuan dengan hp, yang kuda, yang di korea utara, yang cerita mimpi jadi dua dunia gitu, yang semuanyalah pokoknya. Hahaha

Idenya bisa diterima sama kepala dan selalu ada batas-batas imajiner yang dijaga supaya kisah ceritanya tidak berlarut dan cocok untuk dapet ending.

Dengan senang hati menunggu untuk segera menikmati karya lainnya. XD
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
April 22, 2015
Ada yang absurd, macam "Mmmwwwhhh!", "Hhhhh.." dan "Komidi Puter" yg jelas-jelas bikin gw gagal paham. Ada juga yg surealis macam "Avi", "Layang-layang", "Legenda Wongasu"dan "Dunia Gorda" yg menarik.

Gw paling suka "Wongasu", "Layang-layang" dan "Melodrama di Negeri Komunis". Ada bonus komik-nya Bram Laksono dan cerita rakyat Kalimantan Tengah "Andjing Mendjadi Manusia".
Profile Image for Denna.
70 reviews28 followers
April 25, 2015
"Makanya ia agak benci dengan keharusan untuk tidur, ia lebih suka begadang sehingga masalah kantuk yang tak kunjung datang itu tidak terlalu menyiksanya. Lagipula sebagaimana biasanya bagi kaum begadangan, kantuk itu justru akan datang tanpa diundang." (Dunia Gorda)

Beberapa cerpen favorit:
1) Mmmwwwhhh!
2) Legenda Wongasu
3) Dua Perempuan dengan HP-nya
4) Dunia Gorda
Displaying 1 - 30 of 52 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.