Generasi terkini selalu melihat kota Jakarta sebagai pusat dijungkirbalikkannya segala nilai kehidupan. Dari mulai banjir, kemacetan, tingkat kriminalitas, sarang mafia, hingga Jakarta sebagai sarang bermulanya koruptor besar dan janji para Gubernurnya yang selalu membodohi masyarakat. Pokoknya tak ada yang manusiawi. Pokoknya semua nilai terjungkirbalikkan di sini. Namun sebenarnya Ibukota yang satu ini pernah menjadi sebuah tempat tinggal yang nyaman dan teratur. Memang ini cerita masa lalu, tapi seorang Ali Sadikin pernah menjawab berbagai permasalahan tantangan dengan satu jawaban yaitu BEKERJA dan bukan duduk di belakang meja. Ali Sadikin tak pandang bulu untuk membabat siapa saja yang berniat atau sudah menyimpang dari segala ketentuan. Karya legendaris Ramadhan K.H ini bukan saja menunjukkan sepak terjang beliau yang apik, tetapi juga menceritakan kepada kita bagaimana cara yang tepat untuk mengubah Jakarta. Membaca buku ini akhirnya hampir sama wajibnya dengan memiliki kartu penduduk DKI Jakarta. Semoga!
Ramadhan K.H. yang nama lengkapnya adalah Ramadan Karta Hadimadja (lahir di Bandoeng, 16 Maret 1927 – meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006 pada umur 79 tahun) adalah seorang penulis biografi Indonesia.
Ramadan pernah bekerja selama 13 tahun sebagai wartawan Antara. Lalu, dia minta berhenti karena tak tahan melihat merajalelanya korupsi waktu itu. Dia tercatat sebagai mahasiswa ITB dan Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, kedua-duanya tidak tamat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru.
Semasa hidupnya Ramadan terkenal sebagai penulis yang kreatif dan produktif. Ia banyak menulis puisi, cerpen, novel, biografi, dan menerjemahkan serta menyunting.
Kumpulan puisinya yang diterbitkan dengan judul "Priangan Si Djelita" (1956), ditulis saat Ramadan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa pada 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya, Jawa Barat, sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.
Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. "Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti," papar Sapardi.
Ramadan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain "Hadiah Sastra ASEAN" (Southeast Asia Write Award) pada 1993. Pada tahun 2001 ia diangkat menjadi anggota kehormatan Perhimpunan Sejarahwan Indonesia. Selain itu Ramadan juga merupakan salah seorang anggota Akademi Jakarta.
Membuka tahun dengan babat timbunan. Buku pertama yang dipilih adalah ini. Tidak ada alasan yang spesial, hanya timbunan ini yang paling dekat saja he he he. Sosok yang sangat keras dalam memegang prinsip namun juga lembut hati. Jakarta sungguh beruntung pernah memiliki beliau sebagai seorang pemimpin.
Saya heran dengan orang-orang di Goodreads yang hanya memberi 3 bintang untuk buku ini. Apa dia benar-benar telah membacanya sampai selesai, atau hanya kenal Bang Ali lalu memberi bintang 3 (seperti gelar kepangkatan Bang Ali) untuk buku ini? Entahlah.
Yang jelas, saya pribadi sesungguhnya ingin memberi bintang 6 untuk buku ini. Sayang Goodreads hanya memfasilitasi sampai 5 bintang.
Buku yang super sekali, sangat well-written. Sungguh menceritakan kisah hidup dan nilai hidup yang dipegang oleh Bang Ali semasa kepemimpinannya di Jakarta.
Saya sungguh tercengang, beliau sebagai pemimpin adalah pemimpin yang paripurna. Segala aspek kehidupan, mulai dari industri hingga kesenian dan olahraga (kecuali pertanian) difasilitasi. Beliau juga tanpa tedeng aling-aling, dan anti feodalisme.
Yang saya suka adalah beliau berkata, "Saya memang keras, tapi bukan berarti saya bebal." Beberapa bagian di buku ini juga sanggup bikin terbahak. Seperti perkataan beliau tentang 3 macam pengendara yang bikin kesal di Jakarta: 1. Sopir bus 2. Sopir becak dan bemo, serta 3. Sopir militer ataupun sipil yang menggunakan kendaraan militer. Haha! Padahal beliau adalah seorang KKO, tetapi berani sekali ia mengajukan pendapat seperti itu.
Sama seperti resensi Mochtar Lubis yang dimuat di belakang halaman, saya menganggap buku ini adalah buku wajib bagi seluruh rakyat Jakarta. Bahkan seluruh rakyat Indonesia.
Dia akan selalu diingat dengan banyaknya gelanggang remaja di setiap kota di DKI, dan banyak bangunan lain yang mengubah kampung Jakarta menjadi lebih metropol.
Bang Ali, kok yo njenengan pergi tho yo. Makin kurang donk orang baik di negeri ini. Kontan diam saya, ndenger berita njenengan pergi.
Bang Ali, tau ndak? Sebelum njenengan pergi, dulu ada teman saya yang wajahnya bulat dan kepalanya gundul persis mirip Ikyu San, pangeran dan pandito bijak dari negeri Jepun, bilang, "Ali Sadikin adalah sosok Mundingwangi yang hidup di Indonesia modern" Saya yang bertanya mengapa, kontan mengamini setelah penjelasan singkatnya.
Bang Ali, njenengan pasti sudah di surga sementara Jakarta tetap akan merindu njenengan. Bang Ali...tolong tanyakan pada Tuhan, kapan Sang Maha Beliau itu sudi mengirim pemimpin yang saling sayang dengan kaum negeri ini?
Bang Ali, saya rela njenengan pergi, karena saya yakin Tuhan sayang njenengan, seperti njenengan sayang sama semua warga Jakarta.
Ya Allah, beri kedamaian dan kelapangan buat Bang Ali!
Suatu maha karya dari Ramadhan K.H. dengan menulis biografi salah satu tokoh penting di kota saya lahir, yaitu kota Jakarta. Dalam buku ini saya lebih mengenal akan kota Jakarta, apa-apa yang Bang Ali kerjakan di masa jabatannya pun sampai sekarang masih tetap ada, seperti TIM, Karang Taruna, Gelanggang Olahraga, Gelanggang Remaja, Puskemas, PRJ, Balai Rakyat dan masih banyak lagi. Sulit sekali sepertinya menemui tokoh Gubernur di Jakarta yang akan sehebat Bang Ali dalam memimpin kota Jakarta ini. Apalagi sekarang banyak sekali intrik yang mudah di lontar kan di sosial media pada saat menjelang pemilihan gubernur. Semoga Alm. Bapak Ramadhan K.H, Alm. Bang Ali, dan Alm. Mpok Nani di tempatkan di tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Aamiin.
"Jika para kyai-kyai Jakarta menganggap judi itu haram, maka mereka hendaknya harus memiliki helikopter sebagai transportasi mereka, sebab semua jalan-jalan protokol di Jakarta dibangun dari uang judi."
Itu adalah kata-kata Bang Ali saat para pemuka agama Islam di Jakarta menentang dilegalkannya perjudian.
Membaca buku ini seperti baca LPJ Pak Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta selama 11 tahun. Menjadikan Pak Ali sebagai tokoh pertama. Emang kondisi (terutama masalah) Jakarta seperti udah ada sejak jaman 60an, jadi asa nggk kaget2 amat. Apalagi sekarang ada Gubernur yang juga berapi-api. hh Tapi, satu hal yang membanggakan "Pembangunannya" Luar Biasa!
Ini buku hampir komplit, tentang apa-apa saja yang sudah Bang Ali kerjakan selama memimpin Jakarta. Rasanya jauh lebih banyak dibanding apa yang dilakukan pemimpin masa kini. Tapi, satu hal yang kurang komplit adalah keterlibatan Bang Ali dalam petisi 50 nggak diulas secara gamblang disini. Tapi overall, recommended buku untuk dibaca khususnya anak muda.