ini adalah sebuah ekspresi yang tiap bagian bisa mengandung getaran dan guncangan tanda bahwa sebuah pendapat telah jadi sikap. D isini, para pembaca dicoba di pikat, dirayu, dibujuk, diajak, tetapi tidak pernah diteror dan ditaklukkan. Kalau tak percaya, silakan baca. Goenawan Mohamad
Sitok SRENGENGE (poet, Indonesia; born 1965, Grobogan, Central Java) is Program Coordinator for the Utan Kayu Community in West Java; he is also a lecturer at the Jakarta Arts Institute, a literature teacher for Eksotika Karmawiggangga and editor of the Kalam Cultural Journal. His work has appeared in 2001: Secrets Need Words (ed. Harry Aveling, to be published by the Ohio University Press); the Nonsens Poetry anthology, and various poetry and short fiction anthologies in Indonesia. Last year, Mr. Srengenge was cited as one of his country's leaders in society in culture by Asiaweek magazine. The US Department of State is supporting his participation in the IWP.
Buku pertama dari Sitok Srengenge yang aku baca. Buku yang mengandungi serangkai esai dari Sitok berkenaan bermacam perkara dari cinta, kasih sayang, sifat kenegaraan, kebebasan dan bermacam hal umum yang lain. The thing tentang buku ini yang aku suka ialah cara ia membuat aku turut sama berfikir kerana esai-esainya berkaitan buah pikiran dan opinion-opinion Sitok. Tidak ada buah pikiran/ opinionnya yang berkesimpulan tepat, lebih kepada mengharap pembaca berfikir, menilai dan menghadam maksudnya sendiri.
Ada beberapa esainya yang aku suka- Abstain, Fitna Wilders, Gamalin dan Pensil Coelho (sekadar menyebut beberapa), bahasanya senang, segar dan kadang penuh misteri. Banyak ilmu baru juga (kerana teks-teks Sitok banyak menyebut tentang pendapat/ hasil kerja tokoh-tokoh ternama dunia seperti Plato, Stephen Hawking, James Joyce juga mitos-mitos terkenal yang lain). Satu hasil penulisan yang bagus!
Buku yang di tulis tanpa memaksakan pandangan kepada pembaca, bintang 5 tak salah diperolehnya. Suka sekali gaya penulisan essai macam ini, penuh ruang unrtuk memaknai apapun itu, entah sesuai atau tidak dengan harapan yang disandarkan penulis. Buku yang berisi 75 lebih esai tentang cinta, kebebasan ini sekarang menjadi salah satu buku essai favoritku selain caping-nya GM. Dari semua essai paling suka sama sepatu, yang pada intinya kritik terhadap pendidikan. Alasan saya menyukai essai ini daripada yang lainnya yang pertama, tema besarnya adalah pendidikan yang merupakan ladang saya sehari-hari dalam mencangkul. Yang kedua, adalah blora yaitu asal dari anak yg mengirimi surat ke pada sitok, blora adalah tempat kelahiran saya. Saya rasa dua alasan itu cukup, karena alasan gaya penulisan ak perlu kusebutkan pasti sudah jelas bagus!
membaca karya Sitok Srengenge itu selalu & selalu ada saja kalimat yg ingin dikutip ke sosmed :D Salah satu favorit di buku ini adalah : "....ia ibuku Sri Ratu Austria dan Yerusalem dan Hungaria dan seterusnya dan roknya berwarna merah cerah dan begitu besar dan aku bisa saja tinggal di dalam sana dan membawa serta 3 ekor anjingku dan kuda poniku dan semua bajuku.....Wajah ibuku berpaling, paham dirinya adl kekasih dan ayahku mengecupnya"
Bacaan yang mengungkap beragam pertanyaan tentang arti cinta dan kebebasan.Sangat bermanfaat.Terdiri dari sekitar 70 sketsa pendek, buku ini menurut saya berhasil membangkitkan jiwa nasionalisme tanpa berusaha menggurui pembacanya sama sekali. Sukses buat Mas Sitok dan karya-karyanya. Berharap ada sekuel buku ini...
Buku ini mencoba mengambil setiap pesan hikmah dari beberapa peristiwa sejarah dan kehidupan sekitar yang pernah terjadi, sebuah esai dengan penyajian bahasa yang lembut, tidak memaksakan atau mendoktrin pembacanya. Sarat gagasan dan indah dibaca.
Menarik buku ini dari 72 essay tentang cinta dan kebebasan...Saya sangat tertarik dibanyak topik diawal, tidak sedikit pula pemikiran Sitok yg bagi saya tidak sesuai. Topik yg menyentuh ada di judul : Alufiru, Cinta Ibu, Gamalin, Ibu Kota, Perahu Kecil, Sepatu, Waras san Yojana. :)
benar kata Goenawan Muhammad: "Tiap kata diletakkan dengan seksama, tetapi sekaligus tiap kalimat dijadikannya hidup, mengorak, meliuk, seperti tarian seorang koreograf."