Ini akar ku, sebagai keturunan kuli kontrak dan tinggal di perkebunan yang dulunya punya kompeni, buku ini beneran membuka mata tentang sejarah kaum kami, sejarah keluarga besar ku, sejarah masyarakat sekitarku.
Satu hal yang kurasakan adalah betapa beruntungnya keluarga besar kami karena kakek kami adalah seorang yang bisa baca tulis, jadi beliau bukan sekedar kuli kontrak biasa yang terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan penderitaan buatan belanda, Karena kakek kami mengenal huruf dia dapat menjadi seorang juru tulis yang mendapatkan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih layak sehingga adik2 iparnya dan anak2nya yang lahir sebelum kemerdekaan, 2 orang pakde, bisa beroleh kesempatan lebih baik dari teman2nya anak kuli kontrak yang lain, dan kedudukan beliau, walau hanya sekedar juru tulis di sebuah afdelling, mampu menjamin kesejahteraan dan kesempatan itu bertahan hingga generasi ke-3, kami cucu2nya.
Terima kasih kakek, beliau kuli kontrak yang visioner, walau cuma lulus ongko loro (kelas 2 SD sekarang)
Kehidupan kuli kontrak yang diceritakan di buku ini sebenarnya bertahan hingga orde baru, kebiasaan mabuk, judi dan main perempuan masih bertahan setidaknya saat gajian dan pasaran berlangsung. Itu saya liat sendiri di masa2 SD dulu saat ada pasaran saat gajian (walau itu tersembunyi) tapi "saat ada anak kecil, tak ada yang bisa disembunyikan".
Buku2 dankajian tentang sejarah "Kuli Kontrak" dan "Perkebunan masa Kolonial" perlu diperbanyak