Jump to ratings and reviews
Rate this book

Berjuta-juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract

Rate this book
Percayakah Anda, pada awal abad XX harga seorang manusia Indonesia tidak lebih mahal dari harga seekor sapi? Perdagangan manusia benar-benar terjadi (dan diiklankan!) pada masa itu. Berlomba-lomba para makelar memasang advertensi mencari dan menyalurkan tenaga kerja ---orang Jawa, Sunda, madura dan Cina---- untuk mengurus pohon di sebuah perkebunan. Bukan sembarang pohon, tapi konon, pohon berdaun uang. Orang pun berbondong-bondong pergi ke tanah yang bernama Deli itu. Sampai di sana, bukan pohon uang yang ditemukan tetapi para tuan kebun Belanda yang menjadikan mereka kuli kontrak.

Perbudakan terjadi di balik rimbunnya daun-daun tembakau. Tak banyak yang tahu bahwa tembakau Deli yang terkenal di seluruh dunia, akarnya telah menyerap keringat, air mata, dan darah para kuli. Kolusi terjadi antara penguasa daerah dengan tuan kebun. Poenale Sanctie menjadi tameng yang melegalkan kekejaman mereka. Tak ada hukum yang dapat melindungi para kuli. Sampai seorang advokat mengungkapkan perbudakan yang keji itu dalam sebuah tulisan berjudul Millioenen uit Deli. Sebuah tulisan yang menggemparkan negeri Belanda pada tahun 1902.

262 pages, Paperback

First published January 1, 2006

4 people are currently reading
82 people want to read

About the author

Emil W. Aulia

1 book7 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (37%)
4 stars
22 (37%)
3 stars
11 (18%)
2 stars
2 (3%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Pera.
231 reviews46 followers
March 4, 2013
Tak banyak novel yang menceritakan sejarah Deli, cikal bakalnya kota Medan. Dan Novel ini salah satunya, yang dengan baik menggambarkan nasib kehidupan Koeli Contract perkebunan tembakau Deli yang termasyur itu.

Sebulan lalu melewati jalanan desa Klumpang, daerah Hamparan Perak, masih tersisa rumah-rumah perkebunan, gudang-gudang bekas penyimpanan tembakau yang hampir rubuh. Sudah hampir tak terlihat perkebunan tanaman ajaib yang berdaun uang itu. Tembakau hanya ada terukir di Museum, dan logo sepak bola kebanggan daerah yang bernama PSMS.
Kudengar di daerah Marelan, bekas ladang tembakau itu kini hanya berupa tanah tandus tak ditanami apa-apa lagi. Bank Mandiri di lapangan Merdeka itu ternyata dulunya adalah hotel pertama di Medan yang dibangun untuk mendukung perkembangan perkebunan yang kian pesat.

Karena inilah aku menyukai novel-novel sejarah. Setelah membacanya, bangunan-bangunan reot itu lebih berbicara. Ada darah disana, ada ribuan cerita yang tenggelam dan hanya terselamatkan melalui tangan penulis, ada jejak-jejak peradaban. Semakin memahami ada sistem yang terbentuk sejak lama dan masih tersisa hingga sekarang. Konflik dengan bangsa Cina, kenapa perempuan Jawa dianggap begitu rendah, dan suku Batak yang suka menangkap kuli kontrak yang melarikan diri , dan suku Melayu yang mendadak kaya raya karena sewa tanahnya, pedagang Arab, India dan suku Minang yang mengambil kesempatan membuka lapak dagang.

Novel ini penggalan kisah beberapa kuli kontrak berdasarkan brosur seorang advokat Belanda bernama Van den Brant berjudul Millioenen uit Deli. Konon merupakan tulisan yang menggemparkan Belanda di tahun 1902.
Tapi tak banyak orang Deli masa ini yang mengenal siapa dia. Saya sendiri baru tau dari novel ini.

Seharusnya sejarah ini direkam dalam Museum Daerah. Agar jadi pecut generasi Mudanya agar lebih baik.
Tapi mungkin banyak lebih ingin melupakan sejarah mengerikan ini ya...


Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
November 2, 2012
Tembakau Deli yang termashur ke seluruh dunia menyimpan cerita duka. Perkebunan tembakau yang dibangun oleh Belanda dijalankan dengan keringat dan darah koeli kontrak. Perkebunan Tembakau di Sumatera Utara sebagai tempat asal tembakau deli mempekerjakan kuli dari Pulau Jawa. Hal ini menjadi latar belakang hijrahnya masyarakat keturunan Jawa bermukim di Sumatera Utara secara besar-besaran. Dapat dilihat dari struktur jumlah masyarakat keturunan Jawa yang ada di kabupaten Simalungun yang jumlahnya cukup banyak terutama didaerah perkebunan.

Pengiriman kuli ke tanah Sumatera - orang Jawa, Sunda,Madura dan Cina- dilakukan dengan cara penipuan, berbagai angin surga ditiupkan untuk menarik minat. Orang berbondong-bondong ingin pergi ke tanah Deli untuk mengurus pohon berdaun uang. Apa yang mereka jalani selanjutnya adalah perbudakan, tidak ada hukum yang melindungi mereka. Kesusahan dan keputus asaan mewarnai mempengaruhi terhadap cara mereka menjalani kehidupan.


Profile Image for Berliana Pasaribu.
12 reviews4 followers
October 19, 2010
JIka perbudakan terjadi maka hukum tidak berlaku
Menolong orang lain adalah baik, tapi jika menghilangkan kemanusiaan mereka menjadi tak baik
Profile Image for Agung.
48 reviews9 followers
June 10, 2011
Secuil sejarah Indonesia dapat ditemukan dalam buku ini.

Harga manusia Indonesia di jaman kolonial tak ubahnya seperti hewan ternak. Deli. Sebuah daerah yang menjual mimpi-mimpi indah akan adanya pohon berdaun uang. Banyak orang tertipu akan janji manis para makelar dan bromocorah. Begitu meneken kontrak yang mereka sendiri tak tahu apa isinya karena buta aksara, hilang sudah kemerdekaan akan diri sendiri. Mereka adalah orang-orang kontrak yang bekerja memeras keringat hingga berdarah-darah. Mereka yang membabat hutan dan menanam tembakau tapi para Belanda pemilik kebun lah yang menikmati kerja keras mereka. Konon katanya tembakau dari Deli adalah tembakau paling lezat sedunia.

Seorang Belanda bernama J. Van Den Brand tergerak hatinya setelah melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan ketidakadilan yang dialami manusia-manusia pribumi menuliskan sebuah berita yang benar-benar mengguncang negeri Belanda. Millionen uit Deli . Banyak kontroversi yang terjadi setelah berita itu beredar. Hingga akhir hayat Tuan Van Den Brand masih berjuang demi kemerdekaan kaum buruh di Hindia-Belanda.
Profile Image for Windry.
Author 12 books824 followers
Want to read
May 21, 2008
sebelum dibeli, buku ini sudah saya scanning dulu. saya tipe yang tidak malu-malu merobek plastik pembungkus buku di toko. hey, i pay this so i just want to sure that i dont buy a junk. dan beberapa paragraf yang saya intip sangat kuat. well, penulis yang mahir nampaknya :). cant wait to read this but i still have to finish books recommended by Yusi.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
May 12, 2009
Persoalan kaum buruh dan pengusaha sepertinya tak pernah berakhir. Kaum buruh selalu menuntut agar mereka memperoleh upah dan fasilitas yang layak, sementara para pengusaha berusaha membayar tenaga kerja buruh seminimal mungkin untuk menekan ongkos produksi mereka.

Jika kita menarik ke belakang ternyata sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda masalah buruh sudah menjadi persoalan, apalagi pada saat itu hampir dikatakan tidak ada lembaga-lembaga atau serikat-serikat buruh yang peduli dan memperjuangkan nasib mereka. Seperti apa nasib kaum buruh pada masa itu ? Novel ini memberikan sebagian dari apa yang dialami para buruh Jawa ketika mereka dijadikan kuli kontrak di Deli-Sumatera Timur.

Berjuta-juta dari Deli adalah novel yang ditulis berdasarkan sebuah brosur yang ditulis oleh Johanes Van den Brand pada awal abad ke-20. Van den Brand adalah tokoh pembela kaum pribumi di masa kolonial Belanda. Namanya masih kalah populer dibanding Multatuli (Douwes Dekkker) dan Van de Venter. Namun sejarah mencatat bahwa di awal abad 20 Ven den Brand pernah menggegerkan pemerintahan Belanda melalui tulisannya yang mengungkap perlakuan tak manusiawi para pengusaha perkebunan tembakau di Deli terhadap para kuli kontraknya. Tulisan ini dikemas dalam sebuah brosur berjudul " Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli).

Van den Brand adalah seorang advokat yang tinggal di Medan dan melihat secara langsung derita kuli-kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli. Berdasakan apa yang dilihatnya dan didukung oleh data-data tertulis yang ia kumpulkan dari berbagai media yang terbit dimasa itu, Van Den Brand dengan penuh keberanian menentang sengit penale sanciate (aturan hukum bagi kuli-kuli yang bekerja di perkebunan) yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Ia melihat bahwa aturan ini hanya menguntungkan pemilik-pemilik perkebunan secara sepihak dan menyengsarakan kuli-kuli kontrak yangmenyebabkan mereka kehilangan kebebasan dan harkat manusianya selama menjadi kuli kontrak.

Brosur Millioenen uit Deli setebal 71 halaman diterbitkan pada tahun 1902 di Belanda. Brosur yang memprotes diberlakukannya penale sanciate dan juga mengurai derita dan skandal perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa yang berkerja di perkebunan tembakau milik swasta Belanda di Deli – Sumatera Timur ini tentu saja menggegerkan kedamaian negeri Belanda. Brosur ini mendapat perhatian dari Majelis Rendah Belanda (Tweede Kamer) yang langsung membahasnya dalam sidang-sidangnya. Pihak oposisi menjadikan isu kekerasan yang dialami kuli untuk menekan pemerintah. Hubungan Belanda dengan negara-negara tetangganya juga terganggu, beberapa negara mengecam kekerasan yang terjadi di Deli dan mengancam akan memutuskan hubungan dengan Belanda jika isi dari brosur itu benar adanya.

Perjuangan Van den Brand tidaklah mulus, pihak-pihak yang merasa kedudukannya terancam akibat terungkapnya kebobrokan di Deli tidak tinggal diam. Tuan-tuan perkebunan di medan dan pejabat-pejabat Belanda bersatu mengucilkan dirinya. Mereka menuding Van den Brand menyebar fitnah, tidak patriotik, hanya mencari popularitas dan melawan pemerintahan Belanda. Meski demikian Van den Bran tetap pada pendiriannya, ia kembali menulis brosur: Nogs Een : Millioenen uit Deli (Sekali Lagi : Berjuta-juta dari Deli : 1903). Di brosur keduanya ini Van den Brand menyerang balik pihak-pihak yang menentangnya. Akhirnya kegigihannya membuahkan hasil, pemerintah kolonial melahirkan sejumlah perubahan yang walau mungkin tak seusai dengan yang diharapkannya, namun setidaknya suara kaum kuli kontrak yang selama ini tak terdengar menjadi menggaung dimana-mana. Karena jasa-jasanya surat kabar "Harian Batak" yang terbit di Tapanuli menyebut Van den Brand sebagai "Bapak Kuli Kontrak". Sayangnya nama Van den Brand tampaknya terlupakan oleh masyarakat Indonesia bahkan namanya bisa dikatakan tidak tercatat dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Perjuangan Van den Brand yang terlupakan ini rupanya menggugah jurnalis kelahiran Kubang Putih, Bukittinggi, Sumatera Barat , Emil W. Aulia, untuk menuliskan sebuah novel berdasarkan brosur De Millioenen uit Deli. Walau dikemas dalam bentuk novel yang tentu saja tak terlepas dari kebebasan imajinasi penulisnya, novel ini layak dijadikan sumber rujukan untuk mengetahui nasib kaum kuli kontrak di awal abad 20 yang sarat dengan derita.

Bisa dikatakan novel ini adalah gambaran yang lebih detail dari apa yang dituangkan oleh Ven den Brand dalam brosurnya. Novel setebal 259 halaman ini dibagi kedalam 26 bab plus prolog dan epilog. Pembagian bab-babnya dibuat secara sistematis sehingga pembaca akan diajak menelusuri jejak pengalaman kelam para kuli kontrak mulai dari bujuk rayu makelar pencari kerja, derita kuli kontrak dalam kesehariannya, kehidupan para pengelola perkebunan hingga perjuangan Van den Brand dalam memperbaiki nasib kuli kontrak.

Para kuli kontrak yang bersal dari Jawa umumnya terbujuk oleh mulut manis makelar pencari kerja yang dengan mahir mempengaruhi penduduk desa agar mau dijadikan kuli kontrak. Mereka diming-imingi hal yang menarik bahwa di Deli mereka akan menemukan , pohon yang berdaun uang, ronggeng, wayang kulit, dll. Para penduduk desa yang miskin tentu saja tertarik untuk dijadikan kuli kontrak. "Deli mengganggu tidur malam mereka…Tak sabar mereka ingin melihat langsung, merasakan, meraba, merengkuh semua pesona negeri ajaib itu. Uang yang berlimpah, wayang kulit…arak…emas…perempuan-perempuan ronggeng…Ah, apa yang lebih penting dari semua ini?…hlm 10. Ironisnya apa yang dijanjikan dan mereka impikan itu tak menjadi kenyataan, mereka malah menemui berbagai penderitaan di Deli.

Seluruh proses mulai dari keberangkatan, situasi di kapal dan kedatangan para kuli kontrak itu di perkebunan terekam dengan jelas di novel ini. Sesampai di pelabuhan mereka segera diharuskan membubuhkan cap jempol mereka pada secarik kertas yang isinya tidak mereka mengerti karena toh mereka tidak bisa membaca. Seketika itu mereka dihadapkan pada kenyataan yang pedih, mereka bertemu dengan sosok-sosok asing yang menggenggam kehidupan mereka. Jiwa dan raga para kuli-kuli kontrak itu telah ikut tergadai!.

Di perkebunan derita para kuli kontrak semakin menjadi, kehidupan mereka diatur oleh bunyi suara kentongan. Kentongan bangun pagi, istirahat siang, tidur malam, dll. Novel ini secara memikat mengungkap apa yang terjadi selama waktu-waktu terebut. Di sela-sela kerja dan istirahat para kuli kontrak, kerap terjadi tindak kekerasan yang tak manusiawi baik dari para mandor maupun Tuan Besar perkebunan. Setiap kuli yang melakukan kesalahan akan mendapat pukulan, tendangan, cambukan. Tak peduli kuli pria ataupun wanita, semua mendapat hukuman keji. Seorang kuli wanita yang tak mau diajak ‘main’ oleh Tuan Asisten Perkebunan harus mendapat siksaan disalib seperti Kristus. Dijemur dalam keadaan telanjang selama berhari-hari dari matahari terbit hingga terbenam. Tidak hanya itu saja "Opas-opas pribumi itu mencambuki pinggulnya dengan tali sanggurdi. Tentu, perempuan itu meruang-raung kesakitan. Belum puas, opas-opas itu kemudian menggosok kemaluannya dengan lada yang ditumbuk halus. Raung perempuan itu semakin menjadi-jadi." (hlm 73).

Selain mengungkap derita para kuli kontrak, novel ini juga mengungkap praktek pelacuran, perjudian, dan madat yang terjadi di perkebunan. Setiap akhir bulan setelah masa gajian para kuli dibiarkan terpikat ke dalam perjudian, masuk dalam bilik-bilik pelacuran dan rumah candu agar mereka menghabiskan upah mereka hingga harus meminjam uang kepada mandor perkebunan dengan bunga yang mencekik. Dengan begitu para kuli akan terbelit oleh hutang yang tak terbayarkan sehingga mau tidak mau mereka harus terus memperpanjang kontrak kerja mereka. Jika mereka kabur, para penduduk asli siap menangkap mereka untuk memperoleh imbalan yang besar dari pengelola perkebunan. Para kuli yang kabur diburu bak binatang buruan, ketika tertangkap mereka akan diikat dan dibawa ke perkebunan dengan tangan dan kaki diikat pada sebilah kayu layaknya seekor babi hutan.

Upah yang diterima para kuli wanita lebih kecil dibanding kuli pria. Secara teoritis upah yang diterimanya tak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal inilah yang membuat praktek pelacuran mau tak mau harus mereka jalani. Yang mungkin agak beruntung adalah mereka yang memiliki wajah yang cantik dan terpilih oleh Tuan Besar untuk menjadi Nyai. Dengan menjadi Nyai mereka bisa merasakan kehidupan yang mewah, namun masa depan merekapun tak pasti karena begitu ketahuan hamil, maka merekapun akan terusir dari hadapan Tuan Besar.

Setelah diajak melihat derita para kuli kontrak, pembaca akan diajak melihat bagaimana kehidupan kaum para Tuan Kebun. Mereka bak raja kecil, hidup dalam pesta pora dan hidup yang mewah. Ketika mereka sedang beristirahat di beranda istana kecilnya dan lewatlah sekelompok kuli, maka "serentak mereka menurunkan badan-berjongkok dan kepala menekuk. Dengan lutut hampir menyentuh dada, pelan-pelan mereka menyeret langkah. Semua berlangsung dalam kepasrahan yang utuh…."hlm 207). Setelah mereka melewati sang Tuan Besar barulah para kuli itu berdiri kembali dan menegakkan punggung mereka.

Para Tuan Besar pengelola perkebunan memang dididik untuk menjadi raja kecil yang otoriter, mereka tak harus mengetahui seluk beluk menanam dan merawat tembakau. Hal terpenting bagi mereka adalah : Bagaimana membuat kuli-kuli itu tunduk! Karena bagi mereka bahasa yang dimengeri oleh para kuli adalah bentakan dan makian. "Yang diperlukan bukan kata-kata menjelaskan, melainkan memerintah. Lengkap dengan bentakan dan makian. Hanya bahasa macam itu yang mereka mengerti"…(hlm. 155)

Setelah menyelami derita para kuli kontrak barulah di bab-bab terakhir pembaca akan diajak mengikuti sepak terjang Van den Brand dalam memperjuangkan misinya untuk mengungkap derita kaum kuli kontrak dan menegaskan bahwa kebijakan Poenale Sanciete tidak boleh dipertahankan karena aturan itu melegalkan terjadinya perbudakan dan membuat tindakan-tindakan tidak manusiawi menimpa para kuli kontrak.

Di bagian ini akan terungkap bagaimanaVan den Brand yang banyak mendapat tantangan dari pengelola perkebunan dan pejabat kolonial Belanda tak menyerah begitu saja, namun terus berjuang untuk kepentingan kaum kuli kontrak yang sebenarnya tak ada sangkut paut dengan kehidupannya.

Walau sebagian besar novel ini berisi kisah-kisah yang memilukan dan banyak mengungkap kekerasan yang dialami kaum kuli kontrak, novel ini dikemas dalam kalimat-kalimat yang indah, ketepatan penulis dalam memilih kalimat yang memukau untuk mengungkap derita para kuli kontrak membuat novel ini menjadi seimbang karena muatan kekerasan dalam novel ini diimbangi dengan untaian kalimat-kalimat yang indah.

Nama tokoh-tokoh Belanda yang muncul dalam novel ini bukanlah fiktif, mereka pernah pernah hidup dan menjadi pelaku sejarah. Selain itu kutipan-kutipan dari berbagai literatur di awal abad ke-20 membuat aroma sejarah novel ini sangat terasa sekaligus menyatakan bahwa novel ini bukanlah kisah fiksi semata, namun dikerjakan berdasarkan penggalan peristiwa sesungguhnya yang diperoleh dari riset literatur yang serius.

Beberapa ilustrasi yang memuat iklan/selebaran tenaga kerja di awal abad 20 juga turut menghiasi novel ini. Sayangnya novel ini tak menyertakan foto para kuli kontrak, scan cover atau beberapa halaman asli dari brosur De Millioenen uit Deli yang dijadikan sumber buku ini. Walau bukan buku teks sejarah namun pemuatan repro beberapa halaman brosur dan foto-foto tentunya bukan hal yang tabu dan tentunya akan menambah bobot sejarah dari novel ini.

Akhirnya usaha Emil W. Aulia dalam menulis novel ini patut dihargai setinggi-tingginya baik oleh kalangan sejarahwan maupun oleh kalangan pembaca umum karena berhasil mengungkap perjuangan seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda "Bapak Kuli Kontrak" yang selama ini namanya terlupakan dan terkubur dalam buku-buku sejarah Indonesia.

@h_tanzil

http://bukuygkubaca.blogspot.com/


Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews9 followers
March 19, 2021
Millioenen uit Deli adalah sebuah brosur yang ditulis oleh Van den Brand seorang advocat di Deli pada tahun 1902. Brosur Millioenen uit Deli adalah karya tulis kedua setelah Max Havelaar yang mampu mengguncang Belanda dan pemerintahan kolonial Hindia Belanda, memberikan sebuah gambaran kekerasan yang diterapkan para pemilik modal eropa terhadap kuli kontrak yang didatangkan dari Jawa dan daratan cina.

Merujuk pada brosur itu pula novel Berjuta-juta dari Deli ini ditulis, layaknya novel fiksi sejarah lainnya novel ini pun sarat dengan data sejarah. Gaya penulisannya sederhana dan lugas namun terkadang terselip diksi puitis yang indah.

Novel ini berkisah tentang kehidupan kelam para kuli kontrak di Deli yang tertipu iming-iming hidup enak, dari Jawa mereka direkrut dengan licik oleh para agen kuli. Kongkalingkong para Sultan Deli dan Pemilik perkebunan melanggengkan praktik perbudakan terhadap para kuli kontrak, tak disangka Istana-istana megah para Sultan Deli nyatanya dibangun dari keringat dan darah para kuli kontrak di ladang tembakau Deli.

Agak mengherankan bila novel fiksi sejarah ini tidak terlalu populer di kalangan penggemar fiksi sejarah, bahkan untuk mendapatkannya pun agak sulit. Tampaknya hanya dicetak satu kali tanpa cetak ulang.

Untuk para penggemar fiksi sejarah silahkan berburu buku ini, agar lengkap rangkaian kisah awal abad 20 di Hindia Belanda.
Profile Image for Howkey Dota.
1 review
April 15, 2018
Kalo boleh jujur, nama Emil W. Aulia cukup asing bagi saya. Ekspetasi saya juga tidak terlalu tinggi dengan buku ini, terlebih saat membaca bagian awal-awal yang terasa kaku. Namun, semakin jauh lembaran yang dilewati, saya sadar bahwa bung Emil adalah penulis berbakat. Meskipun dalam beberapa bgian trdpt transisi mnoton yang menggmbrkan latar. Catatan lain adlh penggmbran Bung Emil tentang Belanda yang tidak menampakan sosok Belanda seutuhnya. Sisanya boleh diacungkan jempol, yang mengherankan justru kenapa karya sebaik ini, tidak mendapat sorot yang tajam.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
May 7, 2015
Membaca buku ini berasa nonton film tentang perbudakan (dengan setting Deli pada abad 20). Kekejaman demi kekejaman pemilik perkebunan digambarkan dengan gamblang demi menegakkan poenale sanctie atau arti harfiahnya perbudakan yg dibungkus aturan hukum. Meskipun para Koeli Contract yg didatangkan dari Jawa, Madura, Batak dan berbagai daerah lain di Indonesia dibuat seolah-olah datang ke Deli karena kemauan sendiri, mereka semua tak lain ditipu para agen agar bekerja di perkebunan tembakau milik tuan-tuan Belanda. Buku ini ditulis dengan bumbu-bumbu investigasi sehingga menarik untuk disimak (meski ngilu-ngilu juga pas baca bagian hukuman).

Kenapa gw bilang buku ini kayak film? Karena di bab-bab akhir, ada seorang pengacara Belanda bernama Van den Brand melancarkan protes keras pada Pemerintahan Daerah Koloni atas terjadinya perbudakan tersebut lewat brosurnya De Millioenen Uit Deli . Kayak tokoh protagonis di sebuah film gitu. Tentu saja protes tersebut dibantah oleh Pemerintah Belanda karena menurut mereka hal tersebut hanyalah cara "mengedukasi" orang-orang biadab. Jadi, menurut Pemerintahan Belanda masa itu, orang-orang di Indonesia yg akhirnya menjadi kuli tak ada bedanya dengan hewan yg hanya tahu bahasa makian dan pukulan (sedih bacanya). Maka bab-bab terakhir banyak berisi tentang perjuangan Van der Brand dalam membebaskan para kuli dari perbudakan.

Salut dengan Emil W. Aulia dalam mendalami topik ini dan berbagai risetnya untuk bahan penulisan buku ini. Sampai-sampai beliau bisa mendapatkan iklan koran tahun 1902 yg berisi tentang penawaran 'para calon pekerja' tersebut. Belum lagi kutipan-kutipan dari harian yg terbit tahun 1886 dan 1898. Angkat topi buat beliau! Hanya satu aja yg mengganjal. Surat edaran Asisten Residen Medan E.K.M Kühr tertanggal 5 Juni 1899, namun kenapa tata bahasa dan ejaannya malah kayak surat jaman sekarang ya? Atau mungkin anggap saja surat tersebut sudah disesuaikan dengan gaya penulisan surat jaman sekarang untuk kepentingan penulisan buku ini? Who knows! :)
Profile Image for Ki's Page.
3 reviews1 follower
January 9, 2024
Manusia-manusia kampung yang selama hidupnya dikungkung tembok padi dan rumput, tergiur dengan cerita orang-orang berjas dan bercelana rapi yang sementara mereka memakai pakaian lusuh--mengenai pohon berdaun uang; mengenai wayang kulit, pertunjukan perempuan ronggeng, sementara di desa hanya ada pertunjukan pantat kerbau membajak sawah.

Cerita-cerita itu kemudian menjadi kenyataan yang dijanjikan. Penduduk desa ditawari pekerjaan mengurusi pohon-pohon berdaun uang-- di Deli, tempat yang kata orang berjas rapi ibarat surga duniawi. Mampusnya lagi belum bekerjapun sudah diberi persekot. Hingar bingar kota tampak melambai-lambai di mata mereka.

Namun ucapan orang-orang yang memberi janji persis seperti rokok yang mereka hisap, hanya nikmat di mulut-- janji itu indah di angan-angan. Sampai di Deli hingar bingar itu hanyalah sebuah omong kosong. Orang-orang kampung yang datang dengan penuh harap, berandai-andai menjadi seorang kaya raya yang lebih kaya dari orang berjas rapi, tak lebih hanya seorang kuli--kenyaatannya mereka tak lain adalah seorang budak.

Di Deli pada awal abad 20 yang katanya surga duniawi itu, manusia dijadikan barang dagangan yang bahkan harganya lebih murah dari seekor sapi. Perbudakan diiklankan. Tidak ada hukum yang dapat melindungi para kuli berkat 'setan poenale sanctie'. Hingga seorang advokat--yang berkat buku ini aku jadi kagum pada beliau-- menulis sebuah tulisan berjudul millioenan Uit Deli yang mengguncang Belanda pada tahun 1902.

Bedankt, barangkali dari para kuli untuk Van Den Brand.

...
NOTE
* Bersama buku ini, kamu akan dijejali kesakitan-kesakitan dibalik kemasyhuran tembakau Deli yang dialami para kuli.
* Bersama buku ini, kepalamu tidak akan keberatan mencerna, karena penulis--Emil W. Aulia-- sudah menguraikan benang yang kusut, disajikan kepadamu dengan rapih dan bisa dikantongkan dengan mulus ke saku.
* Selamat berdo'a.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Bivisyani Questibrilia.
Author 1 book23 followers
October 12, 2015
Jujur saja, sebelum saya membaca buku ini, saya tidak pernah mendengar tentang Deli sebelumnya - baik sebagai suatu daerah di Indonesia (yang mungkin kini telah berubah nama) maupun sebagai suatu tempat bersejarah. Saya juga belum pernah mendengar nama Van den Brand sebelumnya. Namun lalu saya menemukan buku ini dan membacanya, hingga mata saya terbuka. Awalnya saya pikir ini hanyalah kisah penjajahan Belanda seperti yang dituturkan di buku-buku sejarah yang sudah kenyang saya baca dari SD hingga jenjang SMA. Namun saya salah besar! Buku ini menggambarkan perasaan orang-orang yang terlibat, baik bangsa pribumi, bangsa Tiongkok hingga orang kulit putih dari berbagai negara. Ia juga menguak suatu fakta yang tidak akan pernah diajarkan di buku-buku sejarah pada umumnya: penjajahan Belanda atas Indonesia (dahulu Hindia Belanda) bukanlah mutlak perlakuan Belanda semata, melainkan juga dari campur tangan bangsa pribumi, sultan-sultan Melayu maupun pedagang-pedagang Cina; semua pihak yang bisa mendapatkan keuntungan dari kerjasama dengan bangsa penjajah. Kisahnya yang dituturkan dengan apik, meski berganti-ganti pemeran dan disisipkan berbagai bahan dari arsip-arsip dokumen bersejarah yang berhubungan dengan Deli, sungguh memukau saya sebagai pembaca dan membuat saya jadi geram dengan semua kejadian yang dijabarkan. Hanya satu saja yang kurang: sampul bukunya kurang menarik dan tampak seperti asal comot saja dari berbagai sumber di internet (atau minimal penyuntingannya yang jelek).
Profile Image for Ariefmai Rakhman.
143 reviews25 followers
December 5, 2012
Ini akar ku, sebagai keturunan kuli kontrak dan tinggal di perkebunan yang dulunya punya kompeni, buku ini beneran membuka mata tentang sejarah kaum kami, sejarah keluarga besar ku, sejarah masyarakat sekitarku.

Satu hal yang kurasakan adalah betapa beruntungnya keluarga besar kami karena kakek kami adalah seorang yang bisa baca tulis, jadi beliau bukan sekedar kuli kontrak biasa yang terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan penderitaan buatan belanda, Karena kakek kami mengenal huruf dia dapat menjadi seorang juru tulis yang mendapatkan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih layak sehingga adik2 iparnya dan anak2nya yang lahir sebelum kemerdekaan, 2 orang pakde, bisa beroleh kesempatan lebih baik dari teman2nya anak kuli kontrak yang lain, dan kedudukan beliau, walau hanya sekedar juru tulis di sebuah afdelling, mampu menjamin kesejahteraan dan kesempatan itu bertahan hingga generasi ke-3, kami cucu2nya.

Terima kasih kakek, beliau kuli kontrak yang visioner, walau cuma lulus ongko loro (kelas 2 SD sekarang)

Kehidupan kuli kontrak yang diceritakan di buku ini sebenarnya bertahan hingga orde baru, kebiasaan mabuk, judi dan main perempuan masih bertahan setidaknya saat gajian dan pasaran berlangsung. Itu saya liat sendiri di masa2 SD dulu saat ada pasaran saat gajian (walau itu tersembunyi) tapi "saat ada anak kecil, tak ada yang bisa disembunyikan".

Buku2 dankajian tentang sejarah "Kuli Kontrak" dan "Perkebunan masa Kolonial" perlu diperbanyak
Profile Image for nanina ninana.
8 reviews6 followers
December 17, 2009
Saya mengenal Bang Emil di sebuah komunitas peduli tontonan anak. Saya sangat kagum atas usahanya menulis buku ini. Ratusan jam dia lalui bersusah payah mengumpulkan data, kalimat, dan semangat agar buku ini akhirnya terwujud.

Sebuah fiksi sejarah yang akan membuat kita berpikir bahwa ternyata sama sekali tidak mudah hidup di zaman kolonial, apalagi kalau kita terlalu bodoh untuk mempertahankan harta yang kita miliki. Beberapa kritikus berpendapat menganggap tulisannya sebagai penerus Pramoedya, walau menurut saya Pramoedya selalu jauh lebih lihai mengaduk fakta sejarah dengan cerita fiksi, dari penulis Indonesia manapun.

Profile Image for Ivan.
79 reviews26 followers
Want to read
September 12, 2011
Bagaimana kehidupan kaum para Tuan Kebun di perkebunan Tembakau Deli Awal abad 20. Mereka bak raja kecil, hidup dalam pesta pora dan hidup yang mewah. Ketika mereka sedang beristirahat di beranda istana kecilnya dan lewatlah sekelompok kuli, maka "serentak mereka menurunkan badan-berjongkok dan kepala menekuk. Dengan lutut hampir menyentuh dada, pelan-pelan mereka menyeret langkah. Semua berlangsung dalam kepasrahan yang utuh…."hlm 207). Setelah mereka melewati sang Tuan Besar barulah para kuli itu berdiri kembali dan menegakkan punggung mereka.

WTF.. Ternyata begitu dulu para kuli diperlakukan. Ya Allah Lindungilah seluruh keluarga saya dari bentuk tindakan seperti itu.
Profile Image for Anisa Nisa.
6 reviews1 follower
September 15, 2010
Setelah saya membaca buku ini, detik ini pun saya tidak bisa berenti berfikir bagaimana rasa kemanusiaan pada zaman tsb.
Dan saya salut kepada "Van den Brand" satu"nya advokat yg berani membeberkan prilaku keji Belanda,.
keadilan & keadilan yg selalu di junjung beliau hingga akhir usianya,
Kepada E.W.A terima kasih karena anda telah memberi bayangan seperti apa kehidupan dulu,
dan semoga para pembaca buku ini semakin bersemangat lagi mengejar kehidupan yg lbh baik,.
Tidak mudah di tipu daya oleh POHON BERDAUN UANG tentunya.. ^_^
Profile Image for Wayan.
29 reviews2 followers
September 27, 2007
Membaca buku cuma bikin perasaan jadi MARAH, SEDIH, KESAL DAN TERHINA. seharusnya buku2 seperti ini yang diwajibkan baca anak sekolah, biar mengendap kesadaran bahwa kita bangsa yang KERDIL, TERJAJAH, terbelit hutang DAN BODOH. Sudah cukup nina bobo yang mengagungkan kita negara kaya, akan jadi negara dengan perekonomian no. 5 di dunia tahun sekian, dan gombal-gombal omongan para pecundang bla bla lainnya. aaaarrrrggggh.... MAJOELAH BANGSAKOE...
Profile Image for Dendy Hardian.
21 reviews1 follower
December 31, 2009
salah satu laporan paling menggemparkan ketika zaman penjajahan perkebunan tembakau dan cerita sedih dibaliknya dideskripsikan dengan baik oleh penulisnya. Bukunya cukup bagus tapi sampai sekarang saya masih bingung ini buku novel apa laporan dokumenter
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.