Paling suka pas penjelasan dr tokoh novel All quiet on the western front karya erich maria.Ketika sang tokoh utama bertemu dengan musuh perangnya yg sekarat dlm parit berjarak beberapa meter saja dgn dirinya. Sang tokoh utama merasakan ancaman yg seakan-akan nyata.Membayangkan bagaimana ia akan mati jika tidak membunuh lawannya.Lalu di dasari ketakutan tersebut ,sang tokoh utama membunuh lawan perangnya yg sdh sekarat tsb.
Pikirnya " Untuk pertama kalinya aku membunih dengan tanganku sendiri, org yg aku lihat dr dekat, yg kematiannya adl akibat perbuatanku.Setiap usahanya utk menarik nafas membuat hatiku semakin terasa kosong.Orang sekarat ini memiliki waktu yg tersedia baginya ,IA MEMILIKI PISAU TAK KELIHATAN YG DIPAKAINYA UTK MENUSUKKU,WAKTU,DAN PIKIRANKU."
Sesudah serdadu musuh meninggal, saar ia tinggal sebuah jasad saja, kemanusiaannya mulai menampakkan diri kpd tokoh utama.Barulah wajah orang lain dibiarkan memperlihatkan diri apa adanya.
Dalam hatinya sang toko utama mengatakan lagi " Sebelumnya kamu hanyalah sebuah gagasan saja bagiku, sebuah abstraksi yg hidup dlm kepalaku dan menuntut jawaban yg sesuai.ABSTRAKSI ITULAH YG KU TUSUK DENGAN PISAUKU.Tetapi sekarang , untuk pertama kalinya, aku melihatmu sbg manusia spt aku.Sebelumnya aku hanya melihat granatmu,bayonetmu,dan senapanmu.Kini aku melihat istrimu,wajahmu, dan persaudaraan kita."
Reka adegan dl novel tersebut sangat mencerminkan pandangan levinas ttg apa itu "yang etis".Sang tokoh berhasil menyadari imanesi nya saat dipertemukan dengan "Yang lain".Walaupun sudah terlambat.Levinas menganggap "Yang lain di dalam yang sama".Melampaui yang ada.Yang lain sudah menjadi hakikat subjektivitas manusia bahkan sebelum ia dilahirkan.Tanggung jawab terhadap Yang Lain ekuivalen dengan tannggung jawab "Yang tak terbatas".Tetapi ia menekankan untuk membedakan yang ilahi dan yang tak terbatas.Yang tak terbatas merupakan kebenaran intersubjektif antar manusia , ia tidak ingin membawanya ke ranah teologi ttp tetap di ranah filsafat.