Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon tak saling SMS BBM-an dan lain lain tak saling namun diam diam keduanya saling mendoakan
*** Bicara tentang cinta selalu tak berkesudahan. Kali ini Sujiwo Tejo, budayawan yang dikenal dengan gaya nyentrik, akan berbagi rasa tentang cinta dan bermacam hal yang dekat dengan kesehariannya lewat kata-kata. Berbicara tentang perempuan, kebudayaan, kemacetan kota, hingga filosofi sederhana kehidupan.
Jiwo J#ncuk mengemas pemikiran-pemikiran dan ungkapan rasa Sujiwo Tejo dalam berbagai bentuk, mulai dari prosa, puisi, hingga kumpulan kicauannya di dunia virtual dengan akun @sudjiwotedjo. Hasil observasinya terhadap detail kehidupan disampaikan dengan bahasa yang santai, namun tetap sarat nilai dan kerap “menyentil”.
Pemikirannya laksana bola liar. Loncat ke sana kemari, tapi selalu memberi ruang bagi para pembaca untuk ikut tenggelam dalam kata. Bahwa sejatinya kehidupan itu adalah terus bertanya di tiap kejadian, bahkan lewat tulisan yang tersampaikan.
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Seru juga baca unek-uneknya Sujiwo Tejo. Tapi aku kurang suka sama yang bagian pertama, yang tentang cinta. Yang lainnya aku suka banget. Bisa dijadikan bacaan untuk memperkaya pengetahuan dan persepsi hidup.
J#ncuk telah berkamuflase menjadi kata yang tidak tabu sekaligus ambigu (aku lebih doyan menyebutnya multitafshit). Padahal dulu waktu SD, bilang j#ncuk aja sudah dianggap dosa (bisa ditempeleng guru dan dijauhi teman sekelas), eh sekarang j#ncuk malah jadi Trending Topic. Sama halnya dengan buku ini, isinya juga multitafshit. Beberapa halaman awal cukup membosankan, bahkan aku hampir nyerah untuk ngelanjutin baca. Eh ternyata halaman-halaman selanjutnya sampai halaman akhir (setelah 2 hari rehat baca buku ini), sungguh WOW. Bahkan di beberapa bab seolah-olah bisa mendeskripsikan apa yang pernah aku alami, apa yang ingin aku alami, dan apa yang aku lihat dan dengar (Mau tahu apa-apa-apa itu? Baca aja sendiri, and you will find the answer(s)) Secara keseluruhan, buku ini wajib dibeli (setelah dapat pinjaman, besok bertekad untuk beli buku ini) dan bisa dibaca berulang-ulang (rasanya tulisan Mbah J#ncuk ini sifatnya uptodate terus). Happy Reading.
"Membaca tulisan Sujiwo Tejo tentang cinta di buku ini rasanya... jancuk!" -Moammar Emka, penulis Dear You.
Ketika membaca endorsemen penulis di atas, saya pikir buku ini adalah buku romance, ternyata... jancuk! lebih dari itu. Buku dibagi menjadi empat bab: Amor, Metropolitan, Ceplas Ceplos, dan Twit Wayang. Mari kita tenggok satu per satu.
Amor, di bab pertama ini, budayawan yang berpenampilan nyentrik dan tidak jarang bicara ceplas ceplos ternyata bisa menulis bahasa yang biasa, nyantai tapi romantis. Sewaktu kuliah dulu, penulis bekerja sebagai penyiar radio, tiap kali dia siaran dia menceritakan orang yang disukainya, bagaimana perasaanya, bagaimana rupa di wanita tersebut, juga salah seorang teman laki-lakinya. Puncaknya ada di cerpen Retno Kusumawardani :). Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon tak saling sms bbm-an dan lain-lain tak saling namun diam-diam keduanya saling mendoakan Selain itu, dalang edan ini juga bercerita tentang perempuan lewat prosa dan puisi, hahaha menyentil sekali :). Bahwa perempuan suka es krim dan coklat, tapi lebih suka kepastian, alasan seorang istri tiba-tiba meminta cerai kepada suaminya, seorang perempuan yang pertama kali pisah dengan anak-anaknya, melihat cinta dari sorot mata seorang perempuan. Bahwa perempuan lebih canggih dari makhluk angkasa luar. UFO cuma bisa naik piring terbang, perempuan bisa menyebabkan piring-piring berterbangan ke para suami yang nyebelin. Lebih dari itu, perempuan bisa mengajukan gugatan cerai. Perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala lukuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman. Bagi saya, kalau sampeyan ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan sampeyan bisa menjawab tuntas, berarti sampeyan bukan sedang jatuh cinta. Bukan itu namanya. Itu itung-itungan. Cinta tak pakai alasan-alasan. Metropolitan, berbicara tentang Jakarta tidak akan ada habisnya, macetnya lah, banjirnya lah, sumpeknya lah, semua ada. Di sini penulis menyentil tentang pelecehan seksual yang ada di angkutan umun, banyaknya Mal yang ada di Jakarta, kebiasaan baca koran saat di WC, merenung tentang angka kendaraan roda empat yang membludak, silaturahmi, dan dunia otomotif.
Ceplas ceplos, berisi pendapat-pendapat dia, pemikirannya tentang masa lalu dan sekarang. Dulu para artis hampir tidak mempunyai privasi, beda dengan artis sekarang kita bisa cuek ketika dia berada di samping kita. Ucapan selamat lebaran yang dikirim lewat SMS atau BBM broadcast, di mana dulunya lewat katu pos, walau pun sama-sama copas yang paling membedakan adalah di kartu pos ada nama orang yang dituju. Para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan putra-putrinya ke sekolah internasional, Padahal, menurut Einstein, logika cuma sanggup mengantarmu dari A ke B. Sementara imajinasi sanggup membawamu dari A ke tak terhingga... makna seorang guru, perempuan dan multitasking, komodo dan intra penciumannya, demokrasi, agama, pentingnya bernyanyi, dendam dan membalas dendam, mudik, kesehatan, komunikasi merubah banyak hal, ujian nasional, dan yang terakhir, salah satu pertanyaan besar ketika saya membaca twitnya @sudjiwotedjo yaitu pengertian Jancuk! #JANCUK tuh ungkapan beragam dari kemarahan sampai keakraban, tergantung sikon seperti FUCK. tapi orang munafik langsung nyensor. #jancuk ketika kita disuruh bangga jadi Indonesia tapi buku sejarah gak direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang! #jancuk tuh ketika teroris boleh ditembak tanpa sidang, tapi koruptor harus disidang dulu berbelit-belit dan abis itu gak jadi di-dor pula. #jancuk itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan seminar di Surabaya, bukan umpatan, cuma salam. Contoh: #Jancuk! Nang endi ae koe? (ke mana aja loe?) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut ketemu teman. Kalo bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan jorok, tapi suprised. Twit wayang, nah, bagian yang saya suka nih, ingin tahu si dalang edan berbicara tentang filosofi hidup lewat wayang? di sinilah jawabannya. Kita akan tahu kenapa penulis sangat mengidolakan #Semar, bercerita tentang #DewaRuci, #Wisanggeni, #Yudistira, #Panakawan, #Petruk. Gareng itu lambang keintelektualan dalam dirimu. Ketika kamu kritis mempertanyakan berbagai hal, kamu sedang meng-Gareng. Ketika kamu sedang easy going dan take easy terhadap apa pun, kamu sedang mem-Petruk. Ketika kamu sedang ingin memberontak terhadap apa pun, maka kamu sedang mem-Bagong. Namun, biarlah #Semar dalam dirimu yang akan memoderatori kemunculan Panakawan dalam batinmu secara situsional. Petruk: lambang kehendak, berhati-hati dalam menentukan keinginan, harus tetap rendah hati, dan waspada. Bagian yang saya suka adalah bercerita tentang Yudistira :)
Ketika kita membaca pemikiran Sujiwo Tejo dengan berbagai hal di sekitar kehidupannya, kesehariannya, kita akan mikir: ternyata benar juga ya pendapatnya, terlebih tentang perempuan itu dan tentang lainnya :p. Lalu kita juga akan merasakan bagaimana seorang Sujiwo Tejo sangat membenci korupsi, berbicara sinis tentang pemerintahan tapi juga bisa romantis soal cinta. Saya juga suka pemikirannya tentang tidak ada aturan untuk tiap pagi sarapan, makan sehari tiga kali yang benar ya makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang, pemikirannya sederhana tapi bermakna. Buku ini menarik, seperti yang tertulis di belakang sampul buku: observasinya terhadap detail kehidupan disampaikan dengan bahasa yang santai, namun tetap sarat nilai dan kerap "menyentil". Padahal, kalau saya nggak salah ingat, setiap agama punya semangat sosial. Malah ada yang bilang, sembahyang yang sebenarnya ialah berbuat kebajikan buat orang banyak. Sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Saya sering ngetwit seperti ini: "Sujud tertinggi adalah membahagiakan orang lain. Itu nggak ada jadwalnya. Itu sepanjang waktu. Ajaran ini juga kerap dibilang dalam wayang. Sembahyang formal yang ada jadwal-jadwalnya terhadap Tuhan baru punya dilai di depan-Nya kalau sembahyang itu makin kuat menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan bagi sesama. Sembahyang individual menjadi laksana generator yang membangkitkan energi sosial. Baru kali ini saya membaca karya full dari budayawan nyentrik ini, sebelumnya pernah membaca salah satu cerpennya di kumcer 1 Perempuan 14 Laki-Laki, belum mengenal gaya penulisannya dan kali ini saya suka, bagaimana dia bercerita dengan 'halus', mengalir, dan mengena, ada beberapa bagian di endingnya ada efek kejutnya, eksekusinya pas sekali. Ada juga sisipan lukisan karya penulis yang nyleneh, saya nggak pinter mengintepretasikan sebuah lukisan yang jelas lukisan Sudjiwo Tejo ini nggak jauh-jauh dari wayang dan Semar :). Minim typo. Suka banget sama covernya, kayak sebuah permainan apa itu namanya? Boneka yang ada talinya trus digerak-gerakkan dengan tangan. Buku ini tidak hanya berisi kisah cinta tapi pemikiran-pemikiran dan perasaannya terhadap kehidupan sekitarnya.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa Timur, kata j#ncuk adalah sebuah umpatan yang tabu dan sangat kasar. Tapi, Sujiwo Tejo dengan kenyentrikannya mampu mengubah persepsi ini. Kata j#ncuk kini seakan melekat erat pada sosok budayawan satu ini.
Berbeda dengan bukunya yang berjudul Lupa Endonesa yang berkisah mengenai Indonesia melalui analogi pewayangan, buku ini menampilkan sisi romantis dari seorang Sujiwo Tejo. Saya tidak menyangka dibalik topi fedora dan keunikannya, ternyata tersembunyi keromantisan tiada tara. Jujur saja, saya bukan tipe orang yang pandai merangkai kalimat cinta dan gemar membaca puisi, apalagi puisi cinta. Tapi buku ini mampu membuat saya tergila-gila dengan setiap huruf yang sarat cinta. Kalimat-kalimat puitis nan romantis yang ditulis Sujiwo Tejo jauh dari kesan picisan; sebuah prosa cinta yang 'pintar'.
Menurut saya, buku ini adalah salah satu buku yang harus Anda baca.
Saya tertarik membeli dan membaca buku ini karena ada beberapa kutipan mengenai cinta yang seringkali disebut oleh akun @sudjiwotedjo. saya tertarik ingin baca buah pemikiran Don Corleoncuk ini mengenai cinta, dan, ya, saya tidak kecewa membacanya. sajaknya mengenai cinta, kisah kasihnya semasa kuliah dan menjadi penyiar radio, juga pemikirannya mengenai banyak hal saya rasa sangat menarik; terutama mengenai hal-hal yang njancuk'i. filosofis, urakan, sastrawi. saya suka.
"... jangan cuma kau peluk badan dan diriku karena aku bukan agama setubuhilah aku sejiwai agar bisa kutuang airmata di puncak tawamu yang lebih asin dari lautan yang tak terasing dalam tautan"
Mbah Jancuk ngomongin cinta tuh ibarat pengamat sepak bola bicara tentang tim kesayangannya. Mantap!!
Buku ini juga ibarat paket lengkap, ada sajak, ada cerita2 pendek, ada kumpulan tweet, ada hasil lukisan juga, ada pemikiran dia tentang sehari2 yang diceritakan dengan versi wayang. Pokoknya the best!
Kutipan yang paling diinget adalah kutipan yang dia tulis di sinopsisnya :
Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon, tak saling SMS, BBM-an, dan lain lain tak saling. Namun diam diam keduanya saling mendoakan.
When it started with several "private poems" (since most of it reflected from Om Tejo's own major romances throwback). This whole petite works were still quitr fresh and relevants though esix years passed already since its first publication. . As a former journalist, Om Tejo's still showed his "skills" on making tight and efficient lexical arrangements on structuring his urban reflections. Most of his "blitzkrieg essays" on Jakartans showed this kinds of writing style. . The contents of "What is J#ncuk" were nakedly written as what it was written in his timeline on Twitterland. This was was truly precious, when you may see "porn words" without any hypocrisy yet hesitations. Yeah, hypocrisy already banalized our minds in dozes of extents. . His prologue verses are still as beautiful as I read it for the first time six years ago: "Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon, tak saling sms, bbm-an, dan lain-lain tak saling namun diam-diam keduanya saling mendoakan".
Tulisan-tulisan Jiwo di buku ini seperti es campur. Ada sajak, ada tuangan pemikiran-pemikiran dia tentang suatu hal, ada kisah beberapa tokoh wayang yang ditafsirkan ala Jiwo, dan--ini yang paling menarik--segelintir kisah-kasih mahasiswa yang merangkap sebagai penyiar radio.
Di suatu radio, satu tokoh menyiarkan program "Kisi-kisi Hati", yaitu program khusus untuk membacakan surat cinta, yang dikirim dari penggemar kepada siapa saja yang mereka tujukan di surat itu.
"Atau kamu sudah tenang dalam selimut di ketinggian Dago Utara, mendengarkan siaran radioku? Kau dengarkan suaraku dengan jendela kamar sedikit terbuka sehingga nun di bawah sana tampak Bandung selatan kerlap-kerlip bagai taburan mutiara menyala."
Asunya, pada suatu waktu satu tokoh si penyiar radio menulis dan membacakan sendiri surat yang ia buat kepada seseorang. Jiwo adalah sosok yang tak perlu bermenye-menye untuk jadi romantis.
Mengintip buah-buah pemikiran Sujiwo Tejo dalam buku ini sangat menarik. Pada awalnya saya membaca buku ini semata karena penasaran dengan sosok penulis yang permainan katanya seringkali muncul di lini masa akun Twitter saya. Beberapa teman saya rupanya senang dengan jejak pemikirannya sehingga beberapa kali dibagikan kepada saya, salah satu penikmat kicauan mereka. Bagi saya, kicauan penulis di Twitter berkesan nyeleneh, meskipun beberapa kali saya temukan menggugah.
Lewat buku ini, penulis mendapat keleluasaan untuk menjelaskan kicauannya secara elaboratif. Gaya penulisannya dinamis. Kadang puitis, lalu kemudian tegas, lugas, tak lupa nyeleneh. Ide dan pesan yang disampaikan lewat tulisannya menghadirkan sosok penulis yang segar, pintar, dan jujur. Pembaca yang mencari sudut pandang baru tentang cinta, kota metropolitan, kehidupan, dan nilai-nilai budaya dapat dengan mudah jatuh cinta pada tulisan dalam buku ini. Mungkin juga terhadap sosok penulis.
Seperti biasa, Sujiwo Tejo dengan segala kejancukannya menjelaskan peritiwa di sekitar kita. Kali ini dengan bahasa cinta. Yang saya suka dari buku ini tetap style Sujiwo Tejo yang ceplas-ceplos. Memang arahnya suka nggak jelas juntrungannya. Namanya juga seniman. Tapi seenggaknya kita sebagai pembaca bisa menangkap ide yang dipaparkan olehnya.
Buku ini juga update dalam membahas gejala sosial masyarakat. Wayangan pake twitter, menyinggung BBM dari pada surat cinta jadul, dan macem-macem.
Yang jadi kurangnya, buku ini nggak menimbulkan greget. Kalo udah baca ya udah. Seperti kentut. Bau sih, tapi kalau hilang kan nggak ada bekasnya lagi. Tapi saya tetap apresiasi usaha Sujiwo Tejo untuk tetap aktif menyuarakan akal sehat di negeri ini.
Buku ini sarat akan nilai kehidupan dan bahasanya kerap 'menyentil'. Tapi, jujur saya kurang bisa menikmati buku ini. Mungkin karena rada kurang ngerti apa maknanya, terutama pada puisi-puisinya.
Poin plus dari buku ini (cerita yang saya suka) yaitu yang arti dari kata jancuk itu sendiri, yang ditulis kaya timeline twitter gitu. Dan buku ini juga membuka cakrawala kita akan cinta & kehidupannya yang 'ajaib'. Cocok dibaca untuk kita yang bosan akan cerita drama-picisan di novel-novel dan menginginkan buku yang real-life.
Setelah sekian lama menimbang-nimbang mau beli buku ini atau nggak, akhirnya saya beli dan saya baca, bukunya bagus!
Syarat makna dengan bahasa yang lugas dan nggak belibet. Love it!
Apalagi di bagian Ada Sajadah Panjang Terbentang dan Pak Jiwo tulis "Sujud tertinggi adalah membahagiakan orang lain" dan kalimat-kalimat lainnya yang waw iya banget.
dan konsepnya itu mirip-mirip pemikiran saya di #anotherlovestory cerita cinta itu bukan hanya tentang cerita seorang laki-laki dan kekasihnya (atau kita sering sebut perempuan).
Awalnya saya kira ini sebuah buku fiksi karena sebelumnya saya baca novel misteri dan bab awal buku ini bercerita tentang cinta. Tapi setelah tiga bab, kekayaan Jiwo j#ncuk ini mulai menguar. Pembahasan ringan tentang tema yang menurut saya super berat disajikan khas sekali. Enak banget diikuti dan membuat tak bisa berhenti sampai halaman terakhir. Baca buku ini bikin saya penasaran tentang cerita pewayangan.
Di sinilah kita bisa melihat bagaimana Sujiwo Tejo bicara cinta. Bukan cuma cinta terhadap kekasihnya, tapi juga pada negara dan apapun yang patut di cintai, termasuk Tuhan. Tapi, jangan bayangkan bahwa akan menemui kaliamt-kalimat puitis yang mendayu-dayu, semua hal tetap pada ciri khas seorang Presiden Jancukers, Sijiwo Tejo. ~~salam Jancukers~~
bab awal, saya kagumi puisi (atau sajak?) ya semacam itu deh, sempat dipause beberapa hari karena mood yang naik turun, dan akhirnya, buku ini memaksa saya untuk mencapai final halaman akhir dengan kisah terakhir mengenai petruk salah satu tokoh panakawan. dan yeah, buku ini aga sembarangan bahasanya, tapi sekaligus filosofis. keren.
Jelas lebih indah kalo baca buku ini dulu sblm baca Rahvayana, mengenal perjalanan mbah Tejo selama "sekolah" di Bandung di perguruan ternama di Indonesia. Namun yang paling penting di sini bisa yaa minimal mengenal para tokoh wewayangan, Yudistira, Bima, dan Ponokawan tentunya (yg hampir keempatnya berdasar bahasa arab penamaanya)
Jiwo J#ncuk mbah @sudjiwotedjo ini emang j#ncuk tenan. bahasanya nyentrik, nyeleneh. suka sama sajak-sajaknya, pemikiran tentang hal-hal di sekitar yang jarang kita perhatikan tapi sangat mengena. ada lagi unsur pewayangan yang termasuk juga di dalamnya.
Baca buku ini membuka wawasan lain tentang arti cinta, kehidupan hari-hari, dendam..yg ditulis secara Jancuk!! menurut penulisnya, buku ini diperuntukan bagi mereka yg punya IQ melati..hahaha...terserah lah!
penuturan khas dari mbah tejo yg "nyeleneh dan "nyentil" banget, memaparkan segala hal yg terjadi di Indonesia dengan cinta sebagai topik besarnya, membuat kita berpikir ulang tentang hal-hal yang terjadi di sekeliling kita (Indonesia)