Hidup adalah rangkaian persimpangan Tempat manusia bertemu dan berpisah
Indah, seorang diplomat yang bekerja di KBRI Korea. Dia menikmati kesendiriannya. Tanpa ikatan, tanpa teman. Kala sebuah tugas mewajibkannya menjaga Abi, seorang pelaut Indonesia yang jatuh sakit di Korea, Indah keberatan. Apalagi, Abi seorang pria yang menyebalkan, rewel, susah didekati dan banyak tuntutan. Indah melakukan tugasnya setengah hati. Mencatat kondisi kesehatan Abi, berkonsultasi dengan dokter, dan mengawasi asupan obatnya. Bisa dibilang Indah sebagai babysitter Abi yang tak mau mendengar semua saran dari dokter dan dari dirinya. Seakan pria itu ingin mati.
Indah tak sabar menunggu kedatangan kapal yang akan membawa Abi pergi dari hidupnya. Namun, lambat laun kedua hati yang beku itu meleleh. Memunculkan luka-luka yang tersembunyi. Luka-luka yang mereka bagi dalam kesunyian. Dan tatkala hati mulai tertambat, perpisahan pun tak terelakkan …. Akankah hidup mereka bersimpangan kembali? Ataukah perjumpaan mereka hanya persimpangan sementara yang takkan kembali?
Kebanyakan karyanya adalah fiksi romance dan selalu mengambil tema yang ringan. Sebab, menulis untuknya adalah salah satu caranya bersenang-senang. Selain fiksi romance, ia juga menulis novelisasi dari beberapa film dan novel biografi. Selepas studi komunikasi di Universitas Indonesia, penulis bekerja sebagai editor di salah satu penerbit buku di Jakarta. Novel "Frenemy" adalah pemenang lomba penulisan teenlit "30 hari 30 buku" Bentang Pustaka
2.5 bintang untuk novel adaptasi naskah film yang diperankan oleh Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan ini.
Ide ceritanya boleh juga, nice. Tapi, memang sangat membosankan dan klise. Banyak sudah novel atau film yang bercerita tentang pertemuan dan perpisahan seperti novel ini.
Meskipun demikian, Ayuwidya cukup baik dalam menuliskan bahasa film ke dalam novel.
1. Alurnya terlalu cepat majunya. 2. Banyak sekali quote yang tersebar dalam 150 halaman novel ini. Khas Titien Wattimena, penulis skenario asalnya. Tapi, ciro khas Ayuwidya sendiri tidak serta merta hilang, karena di berbagai bagian masih menggunakan bahasa dan celetukan batin yang menggelitik. 3. Karakter tokoh Indah kurang tereksplor. Padahal, dialah tokoh utama sekaligus sudut pandang pertama yang dipakai dalam bercerita. 4. Hubungan Indah dengan Mbak Puri, Seno, dan Gustav juga kesannya hanya tempelan. 5. Deskripsi latar cukup bisa dibayangkan. 6. Saya suka prolognya, hanya saja epilognya terlalu mainstream. :D . Endingnya pun gak se-wow feel di pertengahan cerita. Gak dijelasin bagaimana kelanjutan Mbak Puri dan yang lain.
Overall, saya kurang puas. Tapi, mengadaptasi naskah film memang butuh kemampuan tersendiri. Dan... saya yang memang gak gandrung korean style ini gak perlu sampai muntah dengan cerita fan fiction yang selalu hanya bisa dimengerti oleh para fans, karena Hello Goodbye memberikan nuansa tersendiri untuk K-Romance. Selain karena sudut pandang orang Indonesia, setting tempat di Busan pun bukan tempat untuk hiburan/berlibur. :) .
Saya tetap akan menunggu novelnya Miss Ayuwidya yang lebih cetar! dan juga masih mencari novel-novel lamanya. :)
Sebenarnya mau kasi 2,5 star aja sih, tapi karna cover book nya ada rio dewanto jadi di buletin 3. :) Nemu buku ini di pesta bukunya gramedia, dan saya blm pernah ntn filmnya. Tapi saya inget bbrp waktu lalu ini film lumayan heboh promosinya. Karna syutingnya yang di korea dan ada si eru, penyanyi asal korea yg ikutan ambil peran di film ini. Pikir saya, wah, kalo sebuah film niat banget bikinnya sampe ke korea segala.. Dan setelah itu malah dibikinin bukunya (biasanya kan buku dlu baru film, ini malah film dlu baru buku) saya nya jadi penasaran kayak apa cerita yg ditawarkan. Dan... Eng ing eng, ini buku tipis banget. Cerita nya juga kurang dalem. Saya gak tau deh di film itu, adegan per adegan dibuat seperti apa. Yang jelas dibuku kok rasanya rada kurang dalem aja.. Banyak chapter-chapter yang dihabiskan dirumah sakit hanya dengan diam-diaman ataupun marah-marah. Lalu tokoh utama, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Eh di ending malah jatuh cinta.. Haduh, ga dapet nih feel nya. Apa saya nya yang kurang romantis? Kesimpulannya, ini buku kalo dibaca sebagai selingan dan bacaan utk membunuh waktu boleh juga (saya baca sebagian besar di pesawat utk ngabisin waktu diperjalanan). Setelah baca gak akan dapat feel abis baca bakal begini begitu sih. Biasa aja. Oh, mungkin bisa dapat sedikit feel sambil bayangin abang rio dewanto, hehehe..
Tertarik novel ini karena sudah difilmkan. Ternyata ceritanya biasa aja. Mungkin jika nonton filmnya akan lebih terhibur karena adanya suguhan pemandangan Busan.